Chapter Six
Telinga Merah
POV: Bima
Aku punya kebiasaan yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun: setiap pagi aku tiba di lobi kantor dua puluh menit lebih awal dari jam masuk.
Bukan karena rajin. Dodi menyangka aku rajin, dan Pak Darto pernah memujiku di depan seluruh divisi sebagai teladan kedisiplinan. Aku tidak membantah, karena membantah pujian itu berarti harus menjelaskan alasannya, dan alasannya tidak bisa diucapkan di depan Pak Darto.
Alasannya adalah mobil putih yang masuk ke basement setiap pagi pukul 07.38. Kadang 07.36, kalau Jalan Sudirman lengang. Kadang 07.45, kalau hujan.
Aku tidak pernah melihat siapa yang ada di dalamnya. Kacanya gelap. Aku hanya berdiri di samping pilar dekat pintu putar, pura-pura membaca berita di ponsel, sampai mobil itu lewat dan menghilang ke jalur turun basement. Lalu aku naik ke lantai tujuh dengan perasaan tenang, seperti orang yang baru saja memastikan kompor di rumah sudah mati.
Hari Kamis itu, mobil putih tidak masuk ke basement.
Mobil itu berhenti di depan lobi.
Pukul 07.41 pintu belakangnya terbuka, dan Bu Renata turun sambil menempelkan ponsel di telinga. Ia memakai setelan berwarna biru dongker: blazer dengan potongan tajam di bahu, celana panjang lurus, kemeja putih berkerah tinggi. Rambutnya digerai, dan angin pagi Sudirman yang membawa debu dan asap knalpot entah bagaimana membuatnya terlihat seperti sedang syuting iklan sampo. Heels-nya hitam mengilap. Tingginya sepuluh sentimeter, kuperkirakan dari sudut kakinya.
“Basement-nya kenapa?” tanya seseorang di sebelahku. Mas Yanto, sepupuku, satpam lobi pagi, yang sejak hari Senin selalu menatapku dengan wajah orang yang menyimpan rahasia negara.
“Ora ngerti, Mas.”
(Artinya: “Nggak tahu, Mas.”)
“Katanya ada rapat direksi jam delapan di lantai dua puluh. Mungkin Ibu buru-buru.” Mas Yanto merapikan seragamnya dan menegakkan badan. Saat Bu Renata melewati pintu putar, ia memberi hormat dengan dua jari di pelipis, seperti di film. “Pagi, Bu Renata. Hari ini lobi jadi wangi lagi.”
Bu Renata menurunkan ponselnya sedikit dan tersenyum tipis ke arah Mas Yanto. “Pagi, Pak Yanto.”
Lalu matanya bergeser satu meter ke kiri, ke pilar tempatku berdiri, dan senyumnya berubah sedikit. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Senyumnya tidak bertambah lebar atau berkurang. Hanya berubah, seperti angka yang sama ditulis dengan pulpen yang berbeda.
Aku menunduk ke ponselku. Ponselku menampilkan layar kunci. Aku tidak sedang membaca berita apa pun.
Bu Renata melangkah menuju lift eksekutif. Satu langkah. Dua. Tiga.
Pada langkah keempat, terdengar bunyi krak yang kecil dan sangat jelas, seperti ranting kering diinjak.
Bu Renata oleng. Tubuhnya miring ke kiri, tangannya terangkat refleks mencari pegangan, dan ponselnya terlepas. Aku sudah bergerak sebelum otakku sempat memutuskan apa pun. Aku tidak berlari, tepatnya. Aku hanya tiba-tiba sudah berada di sebelahnya, dan tangannya yang mencari pegangan menemukan lenganku.
Ponselnya jatuh ke lantai marmer. Layarnya tidak retak. Aku memeriksanya kemudian, tiga kali.
“Hak sepatu saya,” kata Bu Renata pelan. Ia berdiri dengan satu kaki, berpegangan pada lenganku, dan menatap ke bawah. Hak sepatu kirinya bengkok ke samping dengan sudut yang tidak wajar, dan setengahnya sudah terlepas dari sol.
Seluruh lobi menoleh. Resepsionis. Dua karyawan yang sedang antre di depan lift. Mas Yanto, yang setengah berlari dari pos jaganya. Seorang kurir makanan di pintu putar yang masih memegang kantong plastik berisi bubur ayam.
“Rapatnya jam delapan,” kata Bu Renata. Ia tidak sedang bicara kepadaku, lebih kepada dirinya sendiri. Ia melirik jam tangannya. Pukul 07.43. “Enggak ada waktu pulang. Sarah belum datang. Toko di mal belum buka.”
“Boleh saya lihat, Bu?”
Ia menatapku. Kami berdiri sangat dekat; tangannya masih mencengkeram lenganku, dan aku bisa mencium wangi melati dan kayu manis yang sekarang terasa jauh lebih kuat dari biasanya karena tidak ada lift atau koridor di antara kami.
“Kamu bisa benerin sepatu?”
“Sepatu saya sendiri sih, Bu. Udah sering.”
Ia diam selama dua detik, lalu dengan gerakan yang sangat anggun untuk ukuran seseorang yang berdiri dengan satu kaki di tengah lobi, ia melepas sepatu kirinya dan memberikannya kepadaku.
Aku berlutut di lantai marmer.
Aku tahu bagaimana kelihatannya. Aku tahu, karena aku mendengar resepsionis menahan napas dan salah satu karyawan di antrean lift berbisik ya ampun. Tapi aku tidak sedang memikirkan bagaimana kelihatannya. Aku sedang memikirkan sudut hak yang bengkok, dua paku kecil yang tercabut dari sol, dan isi tas kerjaku.
Di saku depan tas kerjaku selalu ada dua benda yang tidak pernah kuceritakan kepada Dodi: satu tube lem sepatu ukuran kecil, dan sekotak klip kertas. Lem itu kubeli di toko sepatu dekat kos karena sol sepatu pantofelku sudah tiga kali lepas sejak tahun lalu dan sepatu baru harganya setara uang kuliah Ayu satu bulan. Klip kertas itu kebiasaan dari zaman kuliah. Klip kertas bisa memperbaiki banyak hal.
Aku meluruskan klip kertas menjadi kawat. Aku menyelipkannya ke dua lubang paku yang kosong, menekuknya untuk mengunci hak ke sol, lalu mengoleskan lem di sepanjang sambungannya. Aku menekannya dengan dua ibu jari, kuat, dan menghitung dalam hati.
Satu. Dua. Tiga.
Di atas kepalaku, Bu Renata berdiri dengan satu kaki. Tangannya, yang tadi mencengkeram lenganku, sekarang tidak punya pegangan. Aku melihatnya dari sudut mata: tangan itu terangkat sedikit, turun, terangkat lagi, seperti tidak tahu harus ditaruh di mana. Akhirnya tangan itu mendarat di bahuku.
Aku hampir menjatuhkan sepatunya.
Dua puluh. Dua puluh satu.
“Berapa lama?” tanyanya. Suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya.
“Tiga puluh detik, Bu. Biar lemnya ngikat.”
Tangannya masih di bahuku. Aku bisa merasakan setiap jarinya melalui kain kemeja. Ia tidak meremas, tidak juga menekan. Hanya menumpang, seperti burung yang hinggap sebentar di dahan.
Dua puluh delapan. Dua puluh sembilan. Tiga puluh.
Aku melepas tekanan dan mengetuk-ngetuk hak itu dengan buku jariku. Kokoh. Tidak bergerak. Aku mengangkat sepatu itu dan, karena tidak ada cara lain yang lebih sopan, aku memegangnya di depan kakinya yang terangkat.
“Silakan, Bu.”
Ia memasukkan kakinya ke sepatu. Aku tidak menyentuh kakinya. Aku memastikan itu. Aku memegang sepatunya di bagian tumit dengan dua jari, dan ia menyelipkan kakinya masuk, dan selama satu detik ujung jari kakinya yang terbungkus stoking tipis menyentuh punggung tanganku, dan aku harus menunduk sangat dalam supaya tidak ada yang melihat wajahku.
Bu Renata menapak. Ia memindahkan berat badannya ke kaki kiri, perlahan, lalu dengan lebih yakin.
“Tahan sampai jam dua belas, Bu,” kataku sambil berdiri. Aku membersihkan lutut celanaku yang berdebu. “Abis itu lemnya mulai lemah. Terus… sebaiknya Ibu tidak lari dulu.”
“Saya tidak pernah lari, Bima.”
“Saya tahu, Bu. Tapi tadi Ibu hampir.”
Ia menatapku. Dari jarak sedekat ini, dengan heels yang sudah diperbaiki, mata kami hampir sejajar. Aku bisa melihat tahi lalat kecil di bawah mata kirinya. Aku bisa melihat bulu matanya yang panjang dan sedikit melengkung, dan setitik maskara yang luntur di sudut luar mata kanan karena angin tadi. Aku bisa melihat bibirnya yang merah bata, sedikit terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu yang tidak jadi diucapkan.
Lalu ia mengulurkan tangan dan memungut ponselnya dari tanganku. Aku bahkan tidak sadar aku memungutnya.
“Terima kasih,” katanya.
“Sama-sama, Bu.”
Ia berbalik dan berjalan ke lift eksekutif. Langkahnya teratur. Heels-nya mengetuk lantai marmer. Tidak ada bunyi krak. Pintu lift terbuka, ia masuk, berbalik, dan selama dua detik sebelum pintunya menutup, ia menatapku dari dalam lift dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
Pintu tertutup.
Lobi diam. Lalu, seperti bendungan jebol, semua orang bicara sekaligus.
“Mas Bima,” kata resepsionis, menatapku dengan mata berbinar. “Mas bawa lem di tas?”
“Mas,” kata karyawan di antrean lift. “Mas yang di email itu, kan? Yang ‘jangan dikirim’?”
“Bim,” kata Mas Yanto, yang sudah berdiri di sebelahku dengan ponsel di tangan. “Aku wis moto. Arep tak kirim nang grup.”
(Artinya: “Aku udah motret. Mau kukirim ke grup.”)
“Mas Yanto, jangan.”
“Wis kekirim.”
(Artinya: “Udah terkirim.”)
Pukul sembilan pagi, foto itu sudah menjadi stiker.
Bukan stiker yang lama. Stiker yang lama adalah aku di depan lift dengan telinga merah. Stiker yang baru adalah aku berlutut di lantai marmer lobi, memegang sepatu hak tinggi hitam dengan dua tangan, kepala menunduk, sementara di atasku hanya kelihatan sepotong celana panjang biru dongker dan sebuah tangan yang menumpang di bahuku. Seseorang di tim Marketing menambahkan efek kilau berbintang di sekelilingnya dan tulisan merah muda bergaya huruf sambung: Kirim, Bim — Edisi Pangeran Lem Sepatu.
Pukul sembilan lewat lima belas, stiker itu sudah beredar di grup Finance, grup Legal, grup Procurement, grup HR, grup karyawan lantai sebelas sampai dua puluh, dan grup alumni sebuah SMA di Bekasi yang entah bagaimana ada anggotanya yang bekerja di sini. Mbak Wina mencetaknya dan menempelkannya di dinding kubikelku dengan selotip, tepat di sebelah kalender meja.
“Biar semangat, Bim,” katanya.
“Mbak, tolong dicopot.”
“Nggak bisa, Bim. Udah viral.”
Dodi berdiri di belakangku, membaca grup WhatsApp di ponselnya dengan suara keras.
“‘Pangeran lem sepatu.’ ‘Cinderella versi CFO.’ ‘Gue juga mau dong dibenerin heels-nya, Mas Bima.’ ‘Mas Bima ada adeknya nggak.’ Ini dari grup lantai lima belas, Bim. Lantai lima belas. Itu lantai Legal. Orang Legal nggak pernah ngirim stiker. Orang Legal ngirim somasi.”
“Dodi.”
“Bim, lo sadar nggak sih lo udah jadi orang paling terkenal di gedung ini? Lebih terkenal dari Pak Gunawan. Lebih terkenal dari tukang bubur depan.”
“Ya tukang bubur depan emang terkenal, Dod. Buburnya enak.”
“Itu bukan poinnya!”
Pukul dua belas kurang lima, aku turun ke kantin di lantai dasar membawa buku catatan, dompet, dan perasaan ingin menghilang.
Kantin Wiraguna adalah ruangan besar dengan dua puluh meja panjang, enam konter makanan, dan langit-langit tinggi yang membuat suara siapa pun memantul ke mana-mana. Biasanya aku makan di meja paling pojok, dekat dispenser air, sendirian atau dengan Dodi. Hari ini, saat aku masuk, seluruh kantin menoleh, dan meja paling pojok tiba-tiba sudah diisi empat orang dari tim Treasury yang tersenyum lebar kepadaku seolah mereka sudah memesan tempat duduk untuk menonton.
Aku memesan nasi rames di konter Bu Tini. Sayur lodeh, tempe goreng, telur balado. Empat belas ribu. Aku mencari meja kosong.
Tidak ada meja kosong. Kantin hari ini penuh, padahal biasanya pukul dua belas kurang lima masih lengang.
Aku berdiri di tengah ruangan dengan nampan di tangan, seperti murid baru di hari pertama sekolah.
Lalu seluruh kantin mendadak sunyi.
Aku tahu artinya sebelum aku menoleh. Aku sudah mempelajari pola itu sejak hari Senin. Ada satu orang di gedung ini yang bisa membuat ruangan seramai pasar mendadak sunyi seperti masjid saat khotbah.
Bu Renata berdiri di pintu kantin.
Ia sudah mengganti sepatunya. Sekarang ia memakai flat shoes hitam yang sederhana, dan itu membuatnya terlihat sedikit lebih pendek dan sedikit lebih manusiawi, seperti dewi yang sedang menyamar menjadi warga biasa. Tapi blazer biru dongker dan rambutnya yang tergerai tetap sama, dan sudah cukup untuk membuat seorang karyawan IT di meja dekat pintu menjatuhkan sendoknya ke lantai.
Bu Renata tidak pernah makan di kantin. Semua orang tahu itu. Makan siangnya diantar Sarah ke ruangannya, dan isinya selalu salad, menurut gosip lantai delapan belas yang sampai ke lantai tujuh melalui jalur yang tidak pernah bisa dilacak.
Ia mengamati ruangan itu sekali, dari kiri ke kanan, seperti CFO yang mengamati laporan laba rugi. Lalu matanya berhenti padaku.
Ia berjalan menghampiriku. Flat shoes-nya tidak berbunyi di lantai, dan entah kenapa itu lebih menakutkan daripada bunyi heels.
“Bima,” katanya. “Saya ada beberapa pertanyaan soal jadwal pembayaran vendor kuartal empat. Bisa kita bahas sambil makan?”
Seisi kantin menahan napas. Aku bisa mendengarnya. Dua ratus orang menahan napas bersamaan, dan itu menghasilkan bunyi yang aneh, seperti AC yang tiba-tiba mati.
“Bisa, Bu,” jawabku. “Tapi… mejanya nggak ada yang kosong, Bu.”
Bu Renata menoleh ke meja paling dekat. Meja itu diisi enam orang dari tim Procurement yang sedang makan bakso. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap mereka.
Dalam waktu delapan detik, keenam orang itu sudah berdiri, membawa mangkuk bakso masing-masing, dan pindah ke meja lain dengan kecepatan tim evakuasi.
“Ada,” kata Bu Renata. “Duduk.”
Ia memesan nasi rames dari konter Bu Tini. Sayur lodeh, tempe goreng, telur balado. Sama persis dengan pesananku. Bu Tini, yang sudah dua puluh tahun berjualan di kantin ini, melayaninya dengan tangan gemetar dan menolak dibayar.
“Ibu mau pakai sambal?” tanya Bu Tini.
“Sambalnya pedas, Bu?”
“Pedes banget, Bu.”
“Kalau gitu sedikit aja.”
Bu Tini memberinya satu sendok penuh. Bu Renata tidak protes.
Kami duduk berhadapan di meja panjang yang tadi diisi tim Procurement. Masih ada sisa kuah bakso di ujung meja, dan seseorang meninggalkan sebotol saus tomat yang sudah setengah kosong. Di sekeliling kami, dua ratus orang pura-pura makan. Mereka mengunyah dengan sangat pelan dan sangat sunyi, dan tidak ada satu pun yang menoleh langsung, tapi aku bisa merasakan tatapan mereka di tengkukku seperti hawa panas dari kompor.
“Jadwal pembayaran vendor,” kataku, membuka buku catatan. “Kuartal empat itu ada empat puluh dua vendor, Bu, totalnya—”
“Saya enggak mau bahas jadwal pembayaran vendor.”
Aku berhenti. “Tapi tadi Ibu bilang—”
“Saya bohong.” Ia menyendok nasi dengan sedikit lodeh. “Saya mau tahu beberapa hal. Anggap aja ini audit.”
“Audit apa, Bu?”
“Audit kamu.”
Ia mengunyah dengan tenang. Lalu, seolah-olah sedang membacakan daftar pertanyaan dari map, ia mulai bertanya.
“Makanan favorit?”
“Mendoan, Bu. Buatan ibu saya.”
“Dari mana?”
“Purwokerto, Bu.”
“Hobi?”
“Menyetrika, Bu.”
Ia berhenti mengunyah. “Menyetrika.”
“Iya, Bu. Bikin tenang.”
“Kamu nyetrika biar tenang.”
“Sama biar kemejanya rapi, Bu.”
Di meja sebelah, seseorang tersedak teh manisnya.
“Pernah pacaran?”
“Belum, Bu.”
“Sama sekali?”
“Sama sekali, Bu.”
“Kenapa?”
Aku memikirkan pertanyaan itu dengan serius. Itu pertanyaan yang adil, dan pertanyaan yang adil layak dijawab dengan jujur.
“Belum ada yang mau, Bu,” kataku. “Dan saya juga… belum pernah nanya ke siapa-siapa, mereka mau atau nggak.”
“Kenapa enggak pernah nanya?”
“Soalnya saya takut mereka bilang iya cuma karena kasihan, Bu.”
Bu Renata meletakkan sendoknya. Ia menatapku dengan alis sedikit terangkat, dan untuk pertama kalinya sejak ia duduk, ia terlihat tidak sedang memimpin percakapan.
“Itu,” katanya pelan, “alasan paling aneh yang pernah saya dengar.”
“Maaf, Bu.”
“Jangan minta maaf.” Ia mengaduk lodehnya pelan, seperti sedang memikirkan sesuatu yang lain. “Kamu tahu apa yang paling saya benci dari pekerjaan saya?”
“Nggak, Bu.”
“Hari pertama tutup buku. Senin depan. Kepala saya selalu migrain dari pagi, sejak dulu, dan lampu ruang rapat lantai delapan belas terlalu terang. Enggak ada yang tahu itu.” Ia menatapku. “Sekarang kamu tahu. Jangan disebar.”
“Nggak akan, Bu.”
Aku tidak menulisnya di buku catatan. Aku tidak perlu.
Ia mengambil sendoknya lagi. Ia menyuap tempe goreng dengan sambal Bu Tini yang pedas sekali, dan aku melihat matanya sedikit berair. Ia tetap mengunyah dengan wajah datar. “Pertanyaan berikutnya. Apa yang kamu perhatiin dari saya hari ini?”
Aku tahu ini jebakan. Aku tahu, karena ia menanyakannya dengan nada yang sama seperti hari Senin, ketika ia bertanya apa yang kulihat. Tapi aku sudah memutuskan untuk tidak berbohong, dan aku tidak tahu cara menjawab pertanyaan dengan setengah jujur.
“Ibu ganti sepatu jam sebelas lewat empat puluh,” kataku. “Sebelum lemnya lemah. Itu bagus, Bu. Terus Ibu pesan nasi rames yang sama kayak saya, padahal Ibu nggak suka tempe. Soalnya tadi tempenya Ibu sisihin dulu ke pinggir piring, baru akhirnya dimakan. Ibu juga nggak tahan pedas, tapi Ibu nggak mau Bu Tini ngerasa sambalnya ditolak. Terus… Ibu semalam kurang tidur. Tadi waktu antre Ibu nguap dua kali, ditutupin pakai punggung tangan.”
Bu Renata berhenti dengan sendok di udara.
“Dan?” tanyanya. Suaranya sedikit serak.
“Dan Ibu tetap yang paling cantik di ruangan ini, Bu. Padahal pakai flat shoes. Padahal ada sambal di sudut bibir.”
Tangannya bergerak cepat ke sudut bibir kanannya. Tidak ada apa-apa di sana.
“Kiri, Bu,” kataku.
Ia mengusap sudut bibir kirinya dengan tisu. Ada setitik sambal merah di tisu itu. Ia menatapnya, lalu menatapku, lalu tiba-tiba ia tersedak, bukan karena sambal, bukan karena nasi, tapi karena sesuatu yang lain. Ia menutup mulut dengan tisu dan terbatuk-batuk pelan, dan matanya berair, dan bahunya bergetar.
Butuh beberapa detik bagiku untuk menyadari bahwa ia sedang tertawa.
Bu Renata tertawa. Di kantin Wiraguna. Di depan dua ratus orang. Dengan tisu menutupi mulut dan mata yang basah karena sambal dan karena sesuatu yang lain, ia tertawa tanpa suara sampai bahunya terguncang, dan dua ratus orang di sekeliling kami berhenti pura-pura makan dan menatap terang-terangan.
Aku menyodorkan gelas es teh manisku. Ia meminumnya. Ia meminumnya sampai setengah, lalu meletakkannya, lalu menatapku dengan wajah yang masih memerah.
“Kamu,” katanya, “sangat berbahaya.”
“Saya, Bu?”
“Kamu enggak tahu apa yang kamu lakuin. Itu yang bikin kamu berbahaya.”
Aku tidak mengerti. Tapi aku mencatat kalimat itu di kepalaku, untuk dipikirkan nanti malam.
Ponselku bergetar di atas meja.
Layarnya menghadap ke atas, dan Bu Renata bisa melihatnya sejelas aku. Ibu (Purwokerto). Panggilan video.
Aku menekan tombol tolak. Ponselku langsung bergetar lagi. Ibu (Purwokerto). Aku menekan tolak lagi. Ponselku bergetar untuk ketiga kalinya.
“Angkat,” kata Bu Renata.
“Nanti aja, Bu.”
“Ibu kamu udah nelepon tiga kali. Kalau ibuku nelepon tiga kali terus enggak diangkat, dia bakal telepon polisi.”
Aku mengangkatnya. Aku mengangkatnya dengan niat untuk mengatakan Bu, Bima lagi rapat, nanti Bima telepon, lalu menutupnya dengan sopan. Tapi Ibu tidak pernah memberi orang lain kesempatan bicara lebih dulu.
Wajah Ibu memenuhi layar. Sangat dekat. Ibu selalu memegang ponsel terlalu dekat dengan wajahnya, sehingga yang terlihat hanyalah hidung, sebagian kacamata, dan kerudung cokelat yang sudah agak miring.
“BIM. Kowe neng ngendi? Kok rame?”
(Artinya: “BIM. Kamu di mana? Kok ramai?”)
“Bu, Bima lagi—”
“Mas Yanto kirim foto meneh. Kowe lagi ndandani sepatune Bu Bos? Lha kok iso? Kowe ki apa sih, tukang sol? Ibu wis bilang toh, lem kuwi ojo digowo-gowo, isin—”
(Artinya: “Mas Yanto kirim foto lagi. Kamu lagi benerin sepatunya Bu Bos? Lho kok bisa? Kamu itu apa sih, tukang sol? Ibu kan udah bilang, lem itu jangan dibawa-bawa, malu-maluin—”)
“Bu—”
“—terus Ibu arep takon. Wis ketemu calon mantu durung? Kok ora kirim foto? Ibu penasaran. Pakdemu yo penasaran. Bulik Har—”
(Artinya: “—terus Ibu mau tanya. Udah ketemu calon menantu belum? Kok nggak kirim foto? Ibu penasaran. Pakdemu juga penasaran. Bulik Har—”)
Tangan Bu Renata terulur melewati meja dan mengambil ponselku.
Aku tidak sempat mencegahnya. Aku hanya bisa menatap, beku, saat ia memutar ponsel itu ke arah wajahnya sendiri dan tersenyum. Senyum yang benar-benar tersenyum. Senyum yang bisa membuat dua ratus orang di kantin lupa bahwa mereka sedang makan.
“Selamat siang, Bu,” katanya dengan suara yang hangat dan sopan, suara yang sama sekali berbeda dari suara yang ia pakai di rapat. “Saya Renata. Atasan Bima.”
Di layar, Ibu diam.
Ibuku. Diam. Selama tiga detik penuh, Ibu tidak bicara, dan aku tidak ingat kapan terakhir kali itu terjadi. Mungkin waktu Bapak meninggal.
Lalu suara Ibu terdengar, kecil sekali: “Ya Allah.”
“Bima anaknya baik sekali, Bu,” lanjut Bu Renata. “Tadi pagi dia nyelamatin saya dari rapat direksi pakai satu sepatu. Ibu yang ngajarin dia bawa lem ke mana-mana?”
“Ora, Bu,” jawab Ibu, otomatis, dengan suara yang tiba-tiba sangat sopan dan sangat halus. Suara yang Ibu pakai di pengajian. “Eh, mboten, Bu. Itu dia sendiri. Saking pelite. Ora gelem tuku sepatu anyar.”
(Artinya: “Tidak, Bu,” … “Eh, tidak, Bu. Itu dia sendiri. Saking pelitnya. Nggak mau beli sepatu baru.”)
Bu Renata tertawa kecil. “Hemat itu bagus, Bu.”
“Inggih, Bu. Inggih.” Jeda. Lalu, dengan keberanian yang hanya dimiliki ibu-ibu dari Banyumas: “Bu Renata. Panjenengan ayu tenan. Luwih ayu tinimbang foto. Kok kayak artis sinetron jam pitu.”
(Artinya: “Iya, Bu. Iya.” … “Bu Renata. Ibu cantik sekali. Lebih cantik daripada di foto. Kok kayak artis sinetron jam tujuh.”)
“Terima kasih, Bu.”
“Bu Renata seneng mendoan?”
(Artinya: “Bu Renata suka mendoan?”)
Aku menutup wajah dengan dua tangan.
“Saya belum pernah makan mendoan buatan Ibu,” jawab Bu Renata. “Tapi kata Bima, itu makanan favoritnya.”
“Mengko tak kirimi! Tak kirim lewat Mas Yanto! Mas Yanto bali minggu ngarep, tak gawekke sing akeh—”
(Artinya: “Nanti Ibu kirimi! Ibu kirim lewat Mas Yanto! Mas Yanto pulang minggu depan, Ibu bikinin yang banyak—”)
“Bu,” kataku dari balik tanganku. “Bu, wis ya. Bima kudu kerja.”
(Artinya: “Bu, udah ya. Bima harus kerja.”)
Bu Renata memutar ponsel kembali ke arahku. Ibu sudah tidak menatapku. Ibu menatap ke arah yang tadi diisi wajah Bu Renata, dengan wajah orang yang baru melihat bidadari turun dari langit di pasar Wage.
“Bim,” bisik Ibu, dalam bahasa Jawa yang sangat cepat dan sangat pelan, seolah-olah Bu Renata tidak bisa mendengar. “Iki tenanan to? Bosmu? Ayu ne koyo ngono? Kowe kok wani?”
(Artinya: “Ini beneran, kan? Bosmu? Cantiknya kayak gitu? Kamu kok berani?”)
“Bima tutup ya, Bu.”
“Ojo lali bengi telpon! Ojo lali—”
(Artinya: “Jangan lupa nanti malam telepon! Jangan lupa—”)
Aku menutup telepon. Aku meletakkan ponsel di meja dengan layar menghadap ke bawah. Aku tidak berani menatap Bu Renata.
Di meja sebelah, seseorang bertepuk tangan pelan. Lalu orang lain ikut. Lalu, selama lima detik yang paling panjang dalam hidupku, sebagian kantin bertepuk tangan, sampai seseorang dari tim Treasury berdiri dan berteriak, “KIRIM, BIM!” dan seluruh kantin tertawa.
Bu Renata tidak tertawa. Ia mengambil tisu, mengusap sudut bibirnya sekali lagi meskipun sudah tidak ada sambal di sana, lalu berdiri.
“Terima kasih waktunya, Bima. Auditnya selesai.”
“Hasilnya apa, Bu?”
Ia menatapku dari atas. Lalu, dengan suara yang hanya cukup keras untuk kudengar, ia berkata, “Masih perlu pemeriksaan lanjutan.”
Ia berbalik dan pergi. Flat shoes-nya tidak berbunyi di lantai. Dua ratus orang menatap punggungnya sampai ia menghilang di balik pintu kantin.
Lalu dua ratus orang menoleh ke arahku.
Aku menatap piringnya yang tertinggal di meja. Nasi ramesnya habis. Semuanya habis, termasuk tempe goreng yang ia sisihkan di pinggir piring dan sambal Bu Tini yang pedas sekali.
Kecuali telur baladonya. Telur baladonya masih utuh, ditaruh di sisi piring yang paling dekat denganku.
Aku tidak tahu apa artinya.
Aku memakannya juga, karena Ibu mengajariku untuk tidak membuang makanan, dan karena, entah kenapa, aku tidak ingin orang lain yang memakannya.
Telingaku merah sampai jam lima sore.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah reading
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong