Chapter Fifteen
Pengajian 17 November
POV: Renata
Jumat siang itu, pukul dua belas lewat dua puluh sembilan, pintu ruanganku terbuka tanpa diketuk.
Bima berdiri di ambang pintu. Napasnya terengah. Keningnya basah oleh keringat. Rambutnya, yang biasanya tersisir rapi ke samping, berantakan di bagian depan seperti habis diterpa angin. Kemeja putihnya menempel di dada, dan ada noda basah kecil di kerah. Kacamatanya berembun di satu sisi. Telinganya merah, sangat merah, dan ia sama sekali tidak berusaha menyembunyikannya.
Di belakangnya, Sarah berdiri dari kursinya dengan tangan setengah terangkat, seperti ingin menghentikannya tapi terlambat setengah detik.
“Bu,” kata Bima. Suaranya serak. “Maaf. Saya nggak ngetuk.”
“Kamu naik tangga?”
“Dari lantai tujuh, Bu. Seratus delapan puluh tujuh anak tangga.”
“Kamu sampai ngitung.”
“Saya hitung, Bu.”
Aku berdiri dari kursi. Di mejaku masih ada buku catatan cokelat yang ia tinggalkan, tertutup, dan di atasnya kertas lembar tugas yang sudah kulipat kembali dua kali, persis seperti lipatan aslinya. Di sebelahnya, sapu tangan kotak-kotak biru, terlipat juga.
Sarah, di belakangnya, menatapku. Aku mengangguk sedikit. Sarah menurunkan tangannya, mundur, dan menutup pintu ruanganku dari luar dengan sangat pelan.
Bima tidak bergerak dari tempatnya berdiri, satu langkah di dalam pintu. Dadanya masih naik-turun. Ia menatapku seperti orang yang baru saja berlari sangat jauh untuk mengatakan sesuatu, lalu sampai di tujuan dan lupa apa yang ingin ia katakan.
“Bu,” katanya. “Saya—”
Ia berhenti. Menelan ludah. Mencoba lagi.
“Maaf, saya tidak menelepon.”
Kalimat itu sederhana. Lima kata. Diucapkan oleh laki-laki dua puluh delapan tahun dengan keringat di pelipis dan kacamata berembun, di ambang pintu ruangan CFO, tepat empat tahun dan satu bulan terlambat.
Dan kalimat itu menghantam sesuatu di dadaku yang selama ini kukira sudah lama mengeras.
“Kenapa?” tanyaku pelan. “Kenapa kamu enggak nelepon?”
Ia membuka mulut. Lalu menutupnya. Telinganya, yang sudah merah, menjadi lebih merah lagi.
“Saya...” Ia menatap lantai. “Saya selalu bilang ke diri sendiri kalau itu nomor buat konsultasi, Bu.”
Bukan jawaban. Aku tahu itu bukan jawaban. Ia juga tahu. Telinganya mengatakannya lebih jelas dari mulutnya. Tapi aku melihat wajahnya, dan aku melihat sesuatu di sana yang belum siap dibuka, seperti lemari arsip yang kuncinya masih disimpan di kaleng biskuit.
Aku tidak mendesaknya.
“Bima,” kataku. “Hari Selasa, pengajian ulang tahun Hendra. Di rumah ibunya. Yang ketiga.”
Ia mengangkat wajah.
“Saya belum selesai,” kataku. Suaraku lebih pelan dari yang kumaksudkan. “Sama Hendra. Sama semuanya. Kemarin saya baca catatan di klaimnya, dan saya baru tahu kalau dia tahu, dan saya... saya perlu nyelesaiin sesuatu dulu sebelum bisa ngomongin apa pun yang lain. Kamu ngerti?”
Ia menatapku lama. Lalu ia mengangguk.
“Saya ngerti, Bu.”
“Jadi saya minta satu hal.”
“Apa pun, Bu.”
“Jangan pergi ke mana-mana.” Aku mengambil buku catatan cokelat, kertas lembar tugas, dan menyodorkannya kepadanya. Sapu tangan itu tetap di mejaku. “Jangan mundur lagi. Jangan balik ke pilar, atau ke kurir, atau ke pesan empat menit tanpa salam. Jangan mutusin sendirian apa yang terbaik buat saya. Tunggu.”
Ia menerima buku dan kertas itu dengan dua tangan. Matanya bergeser sebentar ke sapu tangan di mejaku, lalu kembali ke wajahku. Ia tidak memintanya.
“Saya nggak ke mana-mana, Bu,” katanya. “Saya di lantai tujuh.”
Lalu, setelah jeda, dengan suara yang lebih pelan:
“Kali ini saya bisa menunggu.”
Rumah keluarga Wiraguna di Menteng adalah rumah tua bergaya Belanda dengan pilar putih tinggi di teras, jendela-jendela besar berdaun kayu, dan halaman depan yang dinaungi dua pohon beringin yang umurnya lebih tua dari Republik. Hendra dibesarkan di sini. Ia pernah menunjukkanku kamar masa kecilnya di lantai dua, dengan poster pemain sepak bola Italia yang masih menempel di dinding dan rak buku berisi komik yang disusun berdasarkan nomor seri.
Selasa sore, pukul empat, rumah itu sudah penuh.
Tenda putih didirikan di halaman. Seratus lima puluh kursi lipat berjajar rapi. Ibu-ibu pengajian dari masjid dekat rumah sudah datang dengan kerudung seragam berwarna hijau toska. Keluarga besar Wiraguna berdatangan dalam mobil-mobil gelap yang diparkir berjajar di sepanjang jalan. Di ruang tengah, di dinding di atas meja panjang berisi nasi kuning dan tumpeng, tergantung sebuah foto besar dalam bingkai kayu jati: Hendra, berkemeja putih, tersenyum lebar ke arah kamera dengan mata yang menyipit karena terlalu bahagia.
Aku berdiri di depan foto itu selama satu menit sebelum ada yang menyapaku.
Aku memakai gamis hitam sederhana dan kerudung putih gading yang kulilitkan longgar. Tanpa perhiasan, kecuali satu: rantai emas tipis di balik kerah, dengan cincin kecil di ujungnya. Bibirku dipoles warna yang lebih lembut dari biasanya, hampir seperti warna bibir asliku. Aku tidak ingin terlihat terlalu cantik di rumah ini. Aku sudah belajar, sejak pengajian pertama, bahwa janda yang terlihat terlalu cantik di acara peringatan suaminya akan menjadi bahan pembicaraan di antara ibu-ibu pengajian selama tiga bulan.
Ternyata itu tidak berhasil.
“Ya Allah, Nak Renata,” kata seorang ibu berkerudung hijau toska saat aku lewat di serambi. Ia menggenggam tanganku dengan dua tangan. “Makin ayu saja. Pakai kerudung begini kayak bidadari. Nggak ada yang nyangka sudah tiga tahun sendiri.”
“Terima kasih, Bu.”
“Kapan nikah lagi, Nak? Sayang, cantik begini sendirian.”
Aku tersenyum dengan senyum yang sudah kulatih tiga tahun untuk pertanyaan itu. “Doain aja, Bu.”
Ibu itu mengangguk-angguk penuh pengertian, lalu berbisik kepada ibu di sebelahnya dengan suara yang cukup keras untuk kudengar: “Cantik begitu, tapi kasihan. Suaminya meninggal muda. Katanya ada yang bilang janda begitu bawa—”
Ibu di sebelahnya menyikutnya keras.
Aku terus berjalan. Aku sudah mendengar kalimat itu tiga tahun berturut-turut. Ternyata kalimat itu tetap tajam, bahkan setelah tiga tahun.
Sarah sudah mengatur perwakilan divisi seperti tahun lalu. Satu orang dari setiap divisi utama di bawahku: Treasury, Tax, Controller, dan Accounts Payable. Dari AP, seharusnya Pak Darto.
Pukul empat lewat lima belas, aku melihat Pak Darto masuk melalui gerbang depan dengan langkah terpincang-pincang. Kaki kanannya dibalut sandal karet, bukan sepatu. Di sebelahnya, berjalan dengan kemeja batik cokelat dan peci hitam, membawa sekotak kue sebagai buah tangan, adalah Bima.
Pak Darto menghampiriku dengan wajah yang sangat, sangat bersalah.
“Bu,” katanya. “Mohon maaf. Asam urat saya kambuh tadi pagi. Kaki kanan. Bengkak, Bu. Saya cuma bisa sebentar. Jadi saya bawa Bima. Untuk perwakilan. Supaya AP tetap hadir.”
Aku menatap kaki kanannya. Lalu kaki kirinya.
“Pak Darto,” kataku. “Tadi Bapak pincang di kaki kiri.”
Pak Darto membeku. Ia menatap kakinya sendiri. Lalu, dengan gerakan yang sangat lambat dan sangat tidak meyakinkan, ia memindahkan berat badannya ke kaki kiri dan mulai pincang di kaki kanan.
“Dua-duanya, Bu,” katanya. “Asam urat saya pindah-pindah.”
Di belakangnya, Bima menatap langit-langit teras dengan wajah orang yang berusaha sangat keras untuk tidak tertawa dan tidak menatapku.
Aku menghela napas. “Silakan masuk, Pak Darto. Kursinya di bawah tenda.”
“Terima kasih, Bu.” Pak Darto berjalan menuju tenda dengan langkah yang sekarang pincang bergantian, kadang kiri, kadang kanan, seperti orang yang tidak bisa memutuskan kaki mana yang sedang sakit. Saat lewat di sebelahku, ia berbisik tanpa menggerakkan bibir: “Bu. Taruhan saya lima puluh ribu. Saya mau kalah.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku tidak menjawab.
Bima berdiri di depanku dengan kotak kue di tangan.
Ia terlihat berbeda dengan batik dan peci. Lebih tenang, entah bagaimana. Lebih seperti seseorang yang tahu di mana tempatnya. Batiknya bermotif parang cokelat tua, disetrika dengan lipatan lengan yang tajam seperti pisau. Pecinya hitam beludru, sedikit kebesaran. Ia tidak memakai kacamata hari ini; mungkin memakai lensa kontak, atau mungkin hanya tidak ingin kacamatanya berembun di bawah tenda yang panas. Tanpa kacamata, wajahnya terlihat lebih muda dan matanya terlihat lebih jelas: cokelat gelap, dengan bulu mata pendek dan lurus.
“Selamat sore, Bu,” katanya. “Ini dari AP. Kue lapis. Saya beli di Pasar Senen tadi pagi.”
“Terima kasih.”
“Bu.” Ia ragu sebentar. “Ibu cantik pakai kerudung.”
Aku menatapnya.
“Maaf, Bu. Saya tahu ini acara peringatan. Harusnya saya nggak bilang gitu.” Telinganya mulai memerah di bawah peci. “Tapi kalau Ibu tanya, saya kan selalu jujur.”
“Saya enggak nanya.”
“Belum, Bu. Tapi biasanya Ibu tanya.”
Aku menunduk supaya tidak ada yang melihatku tersenyum di rumah almarhum suamiku.
Masalah dimulai pukul lima lewat sepuluh.
Ustaz dari masjid datang sepuluh menit lebih awal, dan seluruh rumah panik menyambutnya. Ibu-ibu pengajian berhamburan dari dapur ke tenda untuk mengambil tempat duduk. Mama Lies sibuk menyalami tamu di serambi. Mbok Darmi, juru masak keluarga Wiraguna yang sudah melayani keluarga ini selama tiga puluh tahun, berlari dari dapur ke halaman membawa nampan teh.
Tidak ada yang tinggal di dapur.
Pukul lima lewat dua puluh lima, saat ustaz sedang membuka acara dengan tilawah, aku mencium bau gosong.
Bukan bau gosong yang samar. Bau gosong yang tebal, pahit, dan berasap, yang merambat keluar dari pintu dapur ke ruang tengah seperti kabut. Seorang ibu di barisan belakang mengendus-endus udara. Lalu ibu lain. Lalu Mbok Darmi, yang sedang berdiri di sudut tenda, mendadak pucat dan berbisik, “Gusti. Rendangnya.”
Rendang. Dua puluh kilo daging sapi dalam dua kuali besar, yang sudah dimasak sejak pukul enam pagi, untuk seratus lima puluh tamu. Hidangan utama pengajian setiap tahun, karena rendang adalah makanan kesukaan Hendra.
Mbok Darmi berlari ke dapur. Aku menyusulnya. Di belakangku, aku mendengar langkah kaki lain, dan aku tahu siapa tanpa perlu menoleh.
Dapur rumah Menteng penuh asap. Dua kuali besar di atas dua tungku gas, apinya masih menyala. Mbok Darmi mematikan kompor dengan tangan gemetar dan mengaduk isi kuali pertama dengan sendok kayu panjang. Bunyi kerak yang terkelupas dari dasar kuali terdengar seperti pasir digaruk.
“Gosong, Bu,” kata Mbok Darmi dengan suara yang hampir menangis. “Gosong bawahnya. Dua-duanya. Ya Allah. Seratus lima puluh orang. Rendang kesukaan Mas Hendra.”
Aku menatap kuali itu. Aku tidak bisa memasak rendang. Aku tidak bisa memasak apa pun yang lebih rumit dari mi instan. Aku CFO. Aku bisa menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan, tapi aku tidak bisa menyelamatkan dua puluh kilo rendang.
“Mbok,” kata suara di belakangku. “Boleh saya lihat?”
Bima sudah melepas pecinya. Ia menggulung lengan batiknya sampai ke siku, dengan dua lipatan yang rapi, seolah-olah ia sedang bersiap mencocokkan faktur.
Mbok Darmi menatapnya dengan curiga. “Mas siapa?”
“Bima, Mbok. Dari kantor. Ibu saya jualan nasi rames di Purwokerto. Dari kecil saya udah bantu masak rendang kalau ada hajatan.”
Mbok Darmi menatapku. Aku mengangguk. Mbok Darmi menyerahkan sendok kayunya.
Bima tidak langsung mengaduk. Ia menunduk dan menatap isi kuali itu lama, seperti membaca laporan keuangan. Lalu ia mengendus. Lalu ia mencelupkan ujung sendok ke kuah yang masih di bagian atas dan mencicipinya.
“Belum sampai ke atas, Mbok,” katanya. “Gosongnya baru di dasar. Kalau diaduk, pahitnya malah naik. Jangan diaduk dulu.” Ia menoleh. “Ada kuali kosong lagi, Mbok? Atau panci besar?”
“Ada. Di gudang belakang. Dua.”
“Tolong ambilin, Mbok. Terus santan. Santan masih ada sisa?”
“Ada, satu liter.”
“Kelapa parut?”
“Ada.”
“Daun jeruk, serai, lengkuas?”
“Ada, Mas.”
Dalam lima menit, dapur rumah Menteng berubah menjadi markas komando.
Bima memindahkan rendang dari kuali pertama ke kuali kosong, menyendoknya dengan sangat hati-hati dari bagian atas, dan berhenti setiap kali sendoknya mendekati dasar yang gosong. Ia tidak menyentuh dasar. Ia meninggalkan kerak hitam di kuali lama dengan sedikit daging di atasnya sebagai korban yang dikorbankan. Lalu ia melakukan hal yang sama dengan kuali kedua.
Tiga ibu pengajian berkerudung hijau toska, yang tadi masuk ke dapur karena mencium bau gosong, sekarang berdiri di sekeliling kompor dan menonton dengan tangan di pinggang.
“Mas, kelapanya disangrai dulu, Mas?” tanya salah satu dari mereka.
“Disangrai, Bu. Sampai cokelat. Terus ditumbuk kasar. Buat nutup pahitnya.”
“Wah, kayak kerisik.”
“Iya, Bu. Kerisik.”
Ibu itu langsung mengambil wajan dan mulai menyangrai kelapa. Ibu kedua mengambil cobek. Ibu ketiga mulai memotong daun jeruk dan serai tanpa diminta. Mbok Darmi berdiri di sebelah Bima, mengawasi setiap gerakannya dengan mata yang berangsur-angsur berubah dari curiga menjadi kagum.
Aku berdiri di ambang pintu dapur dan menonton.
Aku menonton laki-laki itu bergerak di dapur keluarga almarhum suamiku dengan lengan batik tergulung dan keringat di pelipis. Ia tidak gugup. Ia tidak canggung. Ia tidak meminta izin untuk setiap hal kecil. Ia bekerja seperti orang yang sudah melakukannya ratusan kali, dengan tangan yang tahu takaran tanpa perlu mengukur, menambahkan santan sedikit demi sedikit, mencicipi, menambahkan kerisik, mencicipi lagi, menambahkan sejumput garam dan sepotong gula merah yang diserut dengan pisau.
“Gula merah, Mas?” tanya Mbok Darmi.
“Sedikit aja, Mbok. Biar pahitnya imbang. Kata ibu saya, kalau rendang gosong, jangan dilawan pahitnya, tapi diajak ngobrol.”
Ibu-ibu pengajian tertawa. Mbok Darmi tertawa. Bahkan aku, berdiri di ambang pintu dengan gamis hitam dan kerudung putih, tertawa tanpa suara.
Lalu aku merasakan seseorang berdiri di sebelahku.
Mama Lies.
Ia memakai gamis putih dan kerudung hitam, kebalikan dari pakaianku. Ia perempuan enam puluh tiga tahun dengan wajah yang lembut dan mata yang sama dengan mata Hendra: menyipit saat tersenyum, seperti selalu terlalu bahagia untuk dibuka penuh. Ia berdiri di sebelahku dan menatap ke dalam dapur, ke arah Bima yang sedang mengaduk kuali dengan gerakan pelan dan teratur.
“Itu siapa, Nduk?” tanyanya pelan.
“Bima, Ma. Staf AP. Perwakilan divisi.”
Mama Lies menatap Bima lama. Lalu ia menatapku. Lalu ia menatap Bima lagi.
“Hendra dulu juga suka di dapur,” katanya. “Kalau ada pengajian, dia selalu ngumpet di sini. Katanya lebih tenang daripada salaman sama tamu. Dia suka ngaduk rendang. Tapi dia nggak bisa masak. Rendangnya selalu dia bikin gosong.”
Aku tidak menjawab.
“Anak itu,” kata Mama Lies pelan, “bisa masak.”
Pukul enam lewat tiga puluh, rendang dihidangkan.
Seratus lima puluh tamu makan dengan lahap. Tidak ada satu pun yang mengeluh. Seorang bapak dari keluarga besar Wiraguna bahkan menambah tiga kali dan bertanya kepada Mbok Darmi resep baru apa yang dipakai tahun ini, karena rendangnya ada rasa gurih kelapa sangrai yang tidak biasa. Mbok Darmi, dengan wajah bangga, menunjuk ke arah dapur dan berkata, Itu Mas Bima, dan dalam waktu sepuluh menit, seluruh tenda tahu bahwa staf AP dari kantor Bu Renata menyelamatkan rendang ulang tahun Mas Hendra.
Tasya, yang datang bersama Papa dan Mama setelah magrib, langsung menemukanku di serambi dan mencengkeram lenganku.
“Kak. KAK. Kenapa semua ibu-ibu ngomongin Mas Bima? Katanya dia nyelametin rendang? Pake kerisik? Kak, dia bisa masak juga?”
“Tasya, pelanin suara kamu. Ini pengajian.”
Tasya memelankan suaranya menjadi bisikan yang tetap terdengar sampai ke tenda. “Kak. Dia nyetrika, dia benerin sepatu, dia nyimpen nomor kamu empat tahun, dan sekarang dia bisa masak rendang? Kak. Kamu nunggu apa lagi?”
Aku menatap ke arah tenda. Di salah satu meja di pojok, Bima sedang duduk bersama Mbok Darmi dan tiga ibu pengajian berkerudung hijau toska. Mereka sedang memaksanya makan rendang yang sudah ia selamatkan. Salah satu ibu menuangkan nasi ke piringnya, sudah tiga kali. Bima mencoba menolak dengan sopan dan gagal setiap kali.
Lalu aku melihat seseorang berjalan ke meja itu.
Om Gunawan.
Ia memakai kemeja koko putih dan peci, dengan tasbih kayu cendana di pergelangan tangan. Ia berjalan dengan langkah tenang, tersenyum ramah kepada ibu-ibu pengajian, dan berhenti di belakang kursi Bima.
“Kamu yang menyelamatkan rendangnya?” kata Om Gunawan. Suaranya hangat dan bersahabat, cukup keras untuk didengar seluruh meja.
Bima berdiri. “Iya, Pak. Saya Bima.”
“Dari kantor?”
“Dari Accounts Payable, Pak.”
“Accounts Payable.” Om Gunawan mengangguk perlahan. Tangannya memutar tasbih kayu cendana, satu butir demi satu butir. “Yang sering lembur sampai tengah malam, ya? Saya dengar dari satpam malam, ada staf AP yang rajin sekali. Sampai buka-buka lemari arsip jam sepuluh malam.”
Bima tidak menjawab. Aku melihat bahunya menegang di bawah batik cokelat.
“Rajin itu bagus,” lanjut Om Gunawan dengan senyum yang sama sekali tidak berubah. “Tapi hati-hati, ya. Lemari arsip itu banyak debunya. Bisa bikin sesak napas.”
Aku sudah berjalan sebelum menyadarinya. Aku melewati Tasya, melewati serambi, melewati barisan kursi lipat di bawah tenda, dan berhenti di sebelah Bima. Aku tidak menatap Bima. Aku menatap Om Gunawan.
“Om,” kataku. “Mama nyariin Om. Mau mulai doa penutup.”
Om Gunawan menoleh kepadaku. Senyumnya tetap di tempatnya, seperti senyum yang dilukis di topeng. Ia menatapku selama dua detik, lalu menatap Bima, lalu menatapku lagi, dan aku melihat sesuatu bergerak di balik matanya. Sesuatu yang menghitung.
“Tentu,” katanya. “Terima kasih, Renata.” Ia menepuk bahu Bima dua kali, ringan, seperti menepuk kepala anjing. “Rendangnya enak, Nak.”
Lalu ia pergi, memutar tasbihnya, satu butir demi satu butir.
Bima menatapku. Aku menatapnya. Tidak ada yang perlu dikatakan. Kami berdua tahu apa yang barusan terjadi.
“Duduk,” kataku pelan. “Habisin makanan kamu. Ibu-ibu itu udah nuangin nasi tiga kali.”
Doa penutup selesai pukul delapan malam. Tamu-tamu mulai pulang satu per satu. Tenda di halaman mulai sepi. Di ruang tengah, foto besar Hendra dalam bingkai kayu jati masih tergantung di dinding, tersenyum ke arah meja panjang yang sekarang hanya berisi sisa-sisa tumpeng dan piring-piring kosong.
Aku berdiri di depan foto itu lagi.
Dari tempatku berdiri, melalui pintu ruang tengah yang terbuka ke arah dapur, aku bisa melihat Bima. Ia sedang membantu Mbok Darmi mencuci kuali besar, kuali yang dasarnya gosong. Ia menggosoknya dengan sabut kelapa dan abu gosok, lengan batik masih tergulung, pundaknya bergerak teratur. Mama Lies duduk di kursi kayu di sudut dapur, mengupas jeruk, dan bicara kepadanya. Aku tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan, tapi aku melihat Mama Lies tertawa. Tertawa sungguhan, dengan mata yang menyipit seperti mata Hendra.
Aku sudah tiga tahun tidak melihat Mama Lies tertawa di rumah ini pada tanggal tujuh belas November.
Aku menatap foto Hendra. Senyumnya yang lebar. Matanya yang menyipit karena terlalu bahagia.
Biasanya, setiap tahun, berdiri di depan foto ini membuat dadaku sesak. Ada rasa bersalah yang selalu muncul, rasa bersalah yang tidak pernah bisa kujelaskan kepada siapa pun. Bersalah karena aku masih hidup. Bersalah karena aku masih cantik. Bersalah karena aku menikahinya saat hatiku masih menunggu orang lain, dan aku tidak pernah sempat bilang bahwa aku sudah berhenti.
Malam ini, aku menunggu rasa bersalah itu datang.
Ia tidak datang.
Aku berdiri di depan foto suamiku, dengan laki-laki yang dulu kutunggu sedang mencuci kuali di dapur ibu mertuaku, dan aku tidak merasa bersalah. Aku hanya merasa... tenang. Seperti ruangan yang akhirnya dirapikan setelah lama berantakan. Seperti kolom yang akhirnya seimbang.
Semoga tahun ini dia sudah berhenti menunggu.
“Aku sudah berhenti, Hen,” bisikku kepada foto itu. “Sudah lama. Aku cuma lupa bilang.”
Foto itu tetap tersenyum.
Aku tidak menangis. Aku hanya berdiri di sana sedikit lebih lama, lalu berbalik dan berjalan ke dapur.
Bima mendongak saat aku masuk. Tangannya masih memegang sabut kelapa. Ada abu gosok di lengannya dan di ujung hidungnya.
“Bu,” katanya.
“Ada abu di hidung kamu.”
Ia mengusap hidungnya dengan punggung tangan. Abu itu malah menyebar ke pipi.
Mama Lies, di sudut dapur, tertawa lagi.
Aku berdiri di sebelah kuali dan menatap Bima. Mbok Darmi, dengan kepekaan perempuan yang sudah tiga puluh tahun bekerja di rumah orang kaya, tiba-tiba ingat ada piring yang harus diangkat dari tenda dan menghilang. Mama Lies tetap duduk di kursinya, mengupas jeruk, pura-pura tidak mendengar apa pun.
“Bima,” kataku pelan. “Hari Kamis. Kamu bilang deposit itu masih bisa dipakai.”
“Iya, Bu.”
“Kenapa kamu kasih tahu saya?”
Ia menatap kuali di depannya. Ia menggosoknya sekali lagi, perlahan, di bagian dasar yang masih menghitam.
“Karena Pak Hendra mesennya buat Ibu,” katanya. “Meja yang sama. Enam bulan sebelumnya. Biar nggak kehabisan.” Ia berhenti menggosok. “Saya nggak tahu banyak soal Pak Hendra, Bu. Tapi orang yang mesen meja enam bulan sebelumnya... itu orang yang pengin hadiahnya sampai.”
Aku tidak bisa bicara.
“Hadiahnya belum sampai, Bu,” katanya pelan. “Masih di restoran itu. Tiga tahun.”
Di sudut dapur, tangan Mama Lies berhenti mengupas jeruk.
Aku menatap laki-laki di depanku. Laki-laki dengan abu di pipi, lengan batik tergulung, dan sabut kelapa di tangan. Laki-laki yang empat tahun lalu tidak menelepon. Laki-laki yang tiga minggu lalu mengirim surat ke dua ribu orang tanpa sengaja. Laki-laki yang empat hari lalu naik seratus delapan puluh tujuh anak tangga untuk meminta maaf dengan lima kata.
Dan sekarang, di dapur rumah ibu mertuaku, ia sedang memberitahuku bahwa hadiah dari almarhum suamiku belum sampai.
Ia tidak mencoba menggantikan Hendra. Ia tidak mencoba membuatku melupakan Hendra. Ia mencoba memastikan hadiah Hendra sampai kepadaku.
“Tadi siang saya udah telepon Lumière, Bu,” lanjutnya, lebih pelan lagi, dengan telinga yang mulai merah. “Maaf kalau saya lancang. Kata mereka depositnya masih tercatat. Meja nomor tujuh masih ada, yang dekat jendela. Mereka bisa siapin kapan aja Ibu mau.”
Ia meletakkan sabut kelapa di tepi bak cuci. Ia mengeringkan tangannya di lap. Lalu, dengan hati-hati, seperti meletakkan dokumen penting di meja atasan, ia mengeluarkan selembar kertas kecil yang dilipat dari saku batiknya dan meletakkannya di tepi meja dapur, di sebelahku.
Aku tidak membukanya. Aku tahu isinya. Nomor telepon restoran. Nama manajer yang dihubungi. Mungkin jam buka. Ditulis dengan tulisan yang kecil, rapi, nyaris seperti cetakan.
“Saya nggak ikut, Bu,” katanya. “Itu bukan tempat saya. Itu meja Ibu sama Pak Hendra.”
Lalu ia mengambil pecinya dari kursi, memakainya kembali, menurunkan lengan batiknya, dan membungkuk kepada Mama Lies.
“Bu, terima kasih jeruknya. Saya pamit.”
Mama Lies tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berdiri dari kursinya, berjalan menghampiri Bima, dan, dengan tangan yang masih wangi jeruk, menepuk pipinya. Pipinya yang ada abunya.
“Nak,” kata Mama Lies. “Hati-hati di jalan.”
Bima pergi melalui pintu belakang dapur, seperti seseorang yang tahu bahwa pintu depan bukan untuknya.
Aku berdiri di dapur rumah Menteng, di sebelah kuali yang sudah bersih dan selembar kertas kecil yang terlipat, dan aku tidak bergerak untuk waktu yang lama.
“Nduk,” kata Mama Lies di belakangku.
Aku tidak menoleh.
“Mama suka anak itu,” katanya.
Lalu ia kembali duduk di kursi kayunya dan melanjutkan mengupas jeruk, seolah-olah ia tidak baru saja mengatakan sesuatu yang membuat dinding di dalam dadaku retak dari ujung ke ujung.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November reading
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong