← Masih di Folder Draf

Chapter Twenty

Satrio Lagi

POV: Renata

Satrio Hadikusumo tidak pernah datang tanpa alasan. Itu salah satu hal yang dulu kusukai darinya, dan salah satu hal yang akhirnya membuatku pergi.

Senin pagi, pukul sembilan, ia datang ke lantai delapan belas dengan alasan yang sangat sah: rapat persiapan penerbitan obligasi Wiraguna Group senilai dua triliun rupiah, di mana banknya ditunjuk sebagai penasihat keuangan utama. Rapat itu sudah dijadwalkan tiga bulan lalu. Aku sendiri yang menandatangani surat penunjukannya, jauh sebelum email apa pun terkirim ke dua ribu orang.

Ia datang dengan dua analis muda yang membawa laptop dan map tebal, dan dengan setelan biru dongker yang jatuh di tubuhnya seperti dibuat oleh penjahit yang mencintainya. Rambutnya disisir ke belakang dengan sempurna, uban di pelipis berkilau di bawah lampu koridor. Ia menyapa Sarah dengan nama depannya. Ia memuji anting Sarah. Sarah, yang tidak pernah dipuji siapa pun karena tidak ada yang berani, menatapnya dengan wajah datar dan berkata, “Terima kasih, Pak. Ruang Saba di sebelah kiri.”

Rapat itu berjalan tiga jam. Satrio sangat baik dalam pekerjaannya. Aku tidak pernah meragukan itu. Ia menjelaskan struktur obligasi, kondisi pasar, peringkat kredit, dan jadwal penawaran dengan cara yang membuat direktur keuangan dari divisi anak perusahaan, yang biasanya tertidur di rapat seperti ini, terus mencatat dengan mata terbuka.

Dan selama tiga jam itu, ia menatapku tepat lima kali. Aku menghitungnya. Tidak lebih, tidak kurang. Lima kali, masing-masing tepat dua detik, di saat-saat yang tepat. Saat ia menyebutkan angka penting. Saat ia membuat lelucon tentang Bank Indonesia. Saat ia menyimpulkan.

Langkah yang sangat bagus. Aku yang mengajarinya.

Pukul dua belas, rapat bubar. Para analis dan kepala divisi keluar. Satrio tidak keluar. Ia merapikan dokumen di mejanya dengan sangat pelan, seperti orang yang sengaja menunggu ruangan kosong.

“Renata,” katanya, saat pintu ruang Saba tertutup dan kami tinggal berdua. “Lima menit.”

“Aku ada rapat jam satu.”

“Kamu tidak ada rapat jam satu. Aku melihat jadwalmu di tablet Sarah. Kamu kosong sampai jam dua.” Ia tersenyum. “Kamu dulu tidak pernah bohong soal jadwal. Dan dua analisku tidak berani menatapmu selama tiga jam. Yang satu salah menulis angka dua kali karena kamu menyelipkan rambut ke belakang telinga.” Ia menggeleng pelan. “Tiga tahun, Renata, dan kamu masih membuat orang lupa cara menulis angka.”

Aku duduk kembali. Aku melipat tangan di atas meja.

“Lima menit.”

Satrio duduk di kursi di seberangku. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, jari-jarinya bertaut, dalam posisi yang ia pakai saat menegosiasikan sesuatu yang penting. Wajahnya serius. Matanya hangat.

“Aku dengar sesuatu,” katanya.

“Kamu selalu dengar sesuatu.”

“Aku dengar dari tiga mantan analisku yang bekerja di sini. Aku dengar kamu makan siang di lantai tujuh. Dari satu kotak bekal. Dengan satu sendok.” Ia memiringkan kepala sedikit. “Aku dengar ada orang yang melihatmu turun lift jam satu pagi bersama anak itu. Aku dengar kamu tidak pakai kalung lagi.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak menyentuh leherku, walaupun tanganku ingin.

“Renata.” Suaranya melunak, menjadi suara yang dulu ia pakai di telepon pukul dua pagi saat kami masih pacaran dan aku tidak bisa tidur. “Aku tidak cemburu. Aku sudah bilang. Tapi aku khawatir.”

“Khawatir apa?”

“Kamu baru keluar dari tiga tahun yang sangat berat. Kamu kesepian. Kamu lelah. Dan tiba-tiba ada anak muda yang polos dan manis dan menyetrika blazermu dan menulis surat yang dibaca dua ribu orang. Itu sangat romantis. Aku mengerti kenapa itu menarik.” Ia mencondongkan badan sedikit. “Tapi itu bukan kamu, Renata. Kamu tidak cocok dengan anak itu. Kamu cocok dengan seseorang yang bisa berdiri di sebelahmu. Yang mengerti duniamu. Yang tahu bagaimana rasanya duduk di rapat direksi dan tidak boleh kalah.”

“Orang kayak kamu.”

“Aku tidak bilang begitu.” Ia tersenyum. “Tapi kalau kamu bilang begitu, aku tidak akan membantahnya.”

Aku menatapnya. Satrio Hadikusumo. Tiga puluh enam tahun. Laki-laki paling pandai yang pernah kukencani. Laki-laki yang tahu semua langkah, dan tahu kapan memakainya, dan tidak pernah sekali pun lupa di mana tangannya harus berada.

Ia benar tentang beberapa hal. Aku memang lelah. Aku memang pernah kesepian. Dan Bima memang tidak mengerti dunia ini, dunia rapat direksi dan obligasi dua triliun dan senyum yang harus dipakai di depan orang yang ingin menjatuhkanmu.

Tapi ia salah tentang hal yang paling penting.

“Satrio,” kataku. “Waktu kita makan malam dua minggu lalu, kamu menghitung berapa orang yang natap aku waktu aku masuk restoran.”

“Tujuh. Kamu bilang delapan.”

“Delapan. Dan kamu bangga, soalnya aku masih menghitung. Kamu bilang, ‘Itu Renata yang aku kenal.’”

“Itu memang kamu.”

“Itu memang aku,” kataku. “Dulu. Selama tiga belas tahun. Perempuan yang menghitung berapa orang yang menatapnya. Perempuan yang tahu kapan harus menyentuh lengan selama dua detik. Perempuan yang menang di setiap meja makan dan setiap rapat dan setiap pemakaman.” Aku menatapnya lurus. “Kamu cinta sama perempuan itu. Dari dulu kamu cinta sama perempuan itu. Soalnya dia mirip kamu.”

Satrio tidak menjawab.

“Dia enggak menghitung berapa orang yang natap aku,” kataku. “Dia enggak peduli. Dia menghitung berapa sendok madu di tehku. Dia menghitung berapa kali aku nguap di antrean kantin. Dia menghitung berapa lampu yang harus dimatiin di ruang rapat biar migrainku enggak kambuh. Dia menghitung hal-hal yang enggak pernah dihitung siapa pun, karena enggak ada orang lain yang nganggap hal-hal itu penting.”

Aku berdiri.

“Kamu benar, aku enggak cocok sama dia. Dia enggak tahu satu pun langkah yang aku tahu. Dia bilang terima kasih di saat yang salah dan lupa namanya sendiri. Dia bakal bikin aku malu di depan orang, mungkin berkali-kali.” Aku mengambil map dari meja. “Tapi dia enggak lagi main catur sama aku, Satrio. Enggak pernah. Dan aku capek main catur.”

Satrio menatapku lama. Wajahnya tidak berubah. Ia terlalu pandai untuk membiarkan wajahnya berubah. Tapi aku mengenal Satrio cukup lama untuk melihat satu hal kecil: ujung jempolnya bergerak di atas punggung tangan yang lain, mengusap, mengusap, seperti orang yang mencari sesuatu di saku yang ternyata kosong.

“Kamu yakin?” tanyanya pelan.

“Aku yakin.”

Ia diam sebentar. Lalu ia tersenyum, senyum yang sangat profesional dan sangat sopan dan sama sekali tidak sampai ke matanya.

“Oke,” katanya. “Oke. Kalau begitu aku tidak akan—”

Ponselnya bergetar di atas meja.

Ia meliriknya. Lalu meliriknya lagi. Lalu wajahnya, yang tadi begitu terkontrol, berubah sedikit. Alisnya berkerut.

“Maaf,” katanya. “Ini kantor. Darurat.”

Ia mengangkat telepon. Aku mendengar suara panik di seberang, suara perempuan yang bicara sangat cepat. Satrio mendengarkan. Kerutan di alisnya makin dalam.

“Faktur pajaknya kenapa?” tanyanya. “...NPWP salah? Siapa yang input? ...Tutup buku kuartal kita hari Rabu, Nadia. Kalau invoice itu tidak dibayar Wiraguna sebelum Rabu, fee advisory kuartal ini tidak masuk, dan target tim kita jebol. ...Ya, saya tahu nilainya. Empat koma dua miliar. Saya tahu.”

Ia menutup mata sebentar.

“Siapa yang pegang di Wiraguna? ...AP? Oke. Kamu sudah telepon mereka? ...Belum? Kenapa belum?” Ia mendengarkan. Lalu ia membuka mata dan menatapku, dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya: ekspresi orang yang baru saja menyadari bahwa ia harus meminta sesuatu kepada seseorang yang baru saja menolaknya.

“Renata,” katanya, menutup ujung ponsel dengan telapak tangan. “Invoice advisory fee kami ke Wiraguna tertahan di AP. Faktur pajaknya salah input NPWP. Kalau tidak diproses sebelum Rabu, kuartal kami—”

“Aku dengar.”

“Bisakah kamu—”

“Enggak.” Aku menatapnya. “Aku enggak akan nekan AP buat proses invoice yang dokumennya salah. Kamu tahu itu.”

“Aku tidak minta kamu menekan. Aku minta kamu—”

“Telepon AP. Ngomong sama orang yang pegang.” Aku berjalan ke pintu dan membukanya. “Kayaknya kamu tahu siapa.”


Aku tidak mengikutinya ke lantai tujuh. Aku tidak perlu. Sarah melaporkan semuanya kepadaku dalam waktu empat puluh menit, karena Sarah tahu segalanya dan karena Bu Yuyun dari cleaning service ternyata sepupu ibu mertua Sarah.

Satrio Hadikusumo turun ke lantai tujuh pukul dua belas lewat dua puluh.

Ia berdiri di depan lift lantai tujuh dengan setelan biru dongker, jam tangan seharga mobil, dan wajah yang sedang berusaha keras untuk tidak terlihat seperti orang yang terpaksa. Seluruh lantai tujuh yang sedang makan siang di meja masing-masing membeku. Dodi, menurut Sarah, menjatuhkan sendoknya ke dalam mangkuk bakso dan kuahnya memercik ke kemeja Mbak Wina.

Satrio berjalan ke meja Bima.

Bima sedang makan dari kotak bekal biru. Nasi, sayur bayam, tempe orek. Ia mendongak saat bayangan Satrio jatuh di mejanya, dan ia berdiri, otomatis, seperti orang yang diajari ibunya untuk berdiri saat tamu datang.

“Selamat siang, Pak,” katanya.

“Kamu Bima.” Itu bukan pertanyaan.

“Iya, Pak.”

Satrio menatapnya. Bima menatapnya balik. Menurut Sarah, yang mendapat cerita dari Bu Yuyun, yang menyaksikan dari balik troli pelnya di dekat pantry, kedua laki-laki itu berdiri saling menatap selama lima detik penuh, dan seluruh lantai tujuh menahan napas seperti menonton adegan duel di film koboi.

Lalu Satrio berkata, dengan suara yang sangat tenang dan sangat terkontrol, “Saya ada invoice yang tertahan di bagianmu. Nomor SAH/INV/2026/1147. Faktur pajaknya salah NPWP. Tim saya sudah—”

“Sudah saya lihat, Pak,” kata Bima.

Satrio berhenti.

“Tadi pagi jam sepuluh, Pak. Waktu saya cek antrean invoice.” Bima duduk kembali, membuka laptopnya, dan memutar layarnya ke arah Satrio. “NPWP yang diinput itu NPWP kantor cabang Bapak di Surabaya, bukan kantor pusat. Digit kesembilan sampai kelima belas beda. Kesalahan kayak gini sering terjadi kalau tim Bapak masih pakai templat faktur lama.”

Satrio menatap layar itu.

“Saya udah telepon tim keuangan Bapak jam sepuluh lewat lima belas,” lanjut Bima. “Ngobrol sama Mbak Nadia. Beliau panik banget, Pak. Saya bilang nggak apa-apa, faktur pajak kan bisa diganti pakai faktur pengganti. Langkah-langkahnya saya kirim lewat email, pakai tangkapan layar. Mbak Nadia sudah kirim faktur penggantinya jam sebelas lewat empat puluh. Udah saya verifikasi di sistem pajak. Sudah valid.”

Bima menekan sesuatu di laptopnya.

“Invoice-nya sudah saya ajukan ke Pak Darto buat persetujuan, lima menit yang lalu, Pak. Kalau Pak Darto setuju hari ini, pembayarannya bisa masuk batch transfer hari Selasa. Jadi masih sebelum tutup buku kuartal tim Bapak hari Rabu.”

Lantai tujuh hening.

Satrio Hadikusumo, menurut Bu Yuyun, berdiri diam di depan meja Bima dengan mulut sedikit terbuka. Sesuatu yang belum pernah dilihat siapa pun, kata Sarah, karena Satrio Hadikusumo tidak pernah berdiri diam dengan mulut terbuka di depan siapa pun.

“Kenapa,” kata Satrio akhirnya, pelan. “Kenapa kamu melakukan itu?”

Bima menatapnya dengan bingung. “Ngelakuin apa, Pak?”

“Menelepon tim saya. Mengirim langkah-langkahnya. Memverifikasi. Kamu tidak harus melakukannya. Kamu bisa saja mengembalikan invoice itu dengan catatan ‘dokumen tidak lengkap’ dan membiarkan tim saya mengurusnya sendiri. Itu prosedur. Itu yang dilakukan staf AP mana pun.”

Bima memikirkannya. Ia benar-benar memikirkannya, kata Sarah. Bu Yuyun melihatnya menatap langit-langit sebentar, seperti orang yang mencari jawaban di antara panel-panel lampu.

“Soalnya Mbak Nadia kedengarannya panik banget, Pak,” katanya akhirnya. “Kalau saya kembalikan pakai catatan, beliau harus nunggu dua hari dulu baru tahu salahnya di mana. Terus harus ngulang dari awal. Terus mungkin nggak keburu sebelum Rabu. Terus target tim Bapak nggak tercapai.” Ia mengangkat bahu sedikit. “Kan nggak adil buat Mbak Nadia, Pak. Kesalahannya kecil. Cuma beberapa digit.”

Satrio menatapnya.

“Terus Bapak kan teman Bu Renata,” tambah Bima, lebih pelan. “Saya nggak mau Bu Renata sampai harus ngurusin masalah teman lamanya. Beliau udah capek.”

Menurut Sarah, di titik itu, Mbak Wina, yang kemejanya masih basah oleh kuah bakso, menutup mulutnya dengan dua tangan.

Satrio berdiri di depan meja Bima untuk waktu yang lama.

Lalu ia melakukan sesuatu yang menurut Bu Yuyun tidak pernah ia lakukan di hadapan orang lain sepanjang ingatan siapa pun di Sudirman. Ia tertawa. Bukan tawa yang dilatih di ruang rapat dan lapangan golf. Tawa yang pendek, tidak percaya, dan sedikit patah di tengah, seperti tawa orang yang baru saja kalah dalam permainan yang ia kira sudah ia menangkan.

“Terima kasih, Bima,” katanya.

“Sama-sama, Pak. Semoga target kuartal tim Bapak tercapai.”

Satrio menatapnya sekali lagi. Lalu ia berbalik dan berjalan ke lift. Di tengah jalan ia berhenti di depan papan tulis putih di dinding pantry, yang bisa terlihat dari lorong. Ia membaca judulnya. KAPAN BIMA NEMBAK? Ia membaca seluruh daftarnya.

Lalu, menurut Bu Yuyun, ia mengeluarkan dompet kulit dari saku dalam jasnya, mengambil selembar uang seratus ribu, dan memasukkannya ke kaleng Khong Guan di meja Dodi.

“Untuk taruhan,” katanya kepada Dodi yang membeku dengan sendok di tangan. “Tulis nama saya di baris Pak Komar. Bu Renata yang nembak duluan.”

Lalu ia masuk ke lift dan pergi.


Pukul satu lewat sepuluh, Satrio meneleponku dari mobilnya.

“Renata.”

“Satrio.”

Hening sebentar. Aku mendengar bunyi lampu sein di latar belakang, dan suara radio yang sangat pelan.

“Dia sudah memproses invoice-ku,” katanya. “Sebelum aku turun. Sebelum aku minta. Dia menelepon timku jam sepuluh pagi dan membimbing mereka mengganti faktur pajak. Langkah demi langkah. Dengan tangkapan layar. Nadia hampir menangis waktu menceritakannya.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Sarah yang kasih tahu aku.”

Satrio tertawa pendek. “Tentu saja Sarah memberitahumu.” Jeda. “Renata, aku turun ke sana dengan niat untuk... aku tidak tahu niatku apa. Mengintimidasinya, mungkin. Sedikit. Memastikan dia tahu siapa aku. Lalu dia memutar layar laptopnya dan menjelaskan digit kesembilan sampai kelima belas NPWP kantor cabangku di Surabaya, dan bilang dia tidak mau kamu harus menangani masalah teman lamamu karena kamu sudah capek.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Aku tidak bisa membenci orang yang membereskan invoice-ku,” kata Satrio. Suaranya terdengar lelah. “Aku sudah mencoba di lift. Tidak bisa.”

“Dia enggak minta kamu benci dia.”

“Itu yang paling menyebalkan.” Lalu, setelah jeda yang panjang: “Dia benar, kan? Kamu capek.”

“Iya.”

“Aku tidak pernah bertanya.”

“Enggak ada yang pernah bertanya, Satrio. Itu bukan salah kamu.”

Ia diam lama. Bunyi lampu sein berhenti. Mobilnya pasti sudah berbelok.

“Satu hal lagi,” katanya, dengan suara yang tiba-tiba berubah. Bukan lagi suara mantan pacar. Suara bankir. “Ini bukan soal kamu dan dia. Ini soal kamu. Minggu lalu, seseorang dari kantor Gunawan Wiraguna menghubungi divisi private banking di bankku. Menanyakan informasi soal posisi keuangan pribadimu. Aset, utang, rekening. Tentu saja kami tidak memberikan apa pun. Itu ilegal. Tapi dia bertanya.”

Aku berhenti bernapas.

“Renata, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di lantai dua puluh. Tapi Gunawan sedang mencari sesuatu tentangmu. Dan orang yang mencari-cari sesuatu biasanya sedang takut ditemukan.”

“Terima kasih, Satrio.”

“Hati-hati,” katanya. “Dan bilang ke anak itu juga hati-hati. Dia terlalu jujur untuk kantormu.”

Ia menutup telepon sebelum aku sempat menjawab.


Pukul tujuh malam, aku mengirim pesan.

Satrio meneleponku. Dia bilang kamu membereskan invoice-nya sebelum dia minta.

Empat puluh tiga detik.

Invoice-nya memang perlu dibereskan, Renata. Mbak Nadia panik sekali.

Dia juga bilang dia tidak bisa membencimu.

Satu menit. Titik-titik muncul dan menghilang.

Saya tidak tahu dia mau membenci saya.

Kamu tidak sadar dia datang untuk mengintimidasimu?

Dua menit.

Dia memang kelihatan tegang waktu datang, Renata. Saya kira dia stres soal targetnya. Orang bank biasanya stres di akhir kuartal.

Aku menatap pesan itu. Lalu aku tertawa sendirian di ruanganku yang gelap, di lantai delapan belas, dengan suara yang memantul di dinding kaca.

Bima.

Iya?

Satrio memasukkan seratus ribu ke kaleng taruhan Dodi. Dia pasang taruhan bahwa aku yang nembak duluan.

Hening sangat lama. Titik-titik muncul. Menghilang. Muncul. Menghilang. Muncul.

Tapi kamu memang yang nembak duluan, Renata. Empat tahun lalu. Pakai pulpen merah.

Aku berhenti tertawa.

Aku menatap pesan itu. Lalu aku menatap pulpen merah di mejaku, yang kubeli selusin setiap awal tahun di toko alat tulis yang sama di Blok M, merek yang sama, warna yang sama, sejak aku masih staf junior di firma audit.

Kamu benar, ketikku. Aku yang nembak duluan.

Dan kamu yang tidak menelepon.

Balasannya tidak datang.

Satu menit. Dua menit. Lima menit. Titik-titik kecil di layar muncul dan menghilang dan muncul lagi, berkali-kali, lebih banyak dari biasanya. Aku menunggu. Aku membayangkannya duduk di kamar kosnya, di depan papan setrika atau di atas kasur atau di lantai, mengetik dan menghapus dan mengetik dan menghapus.

Sepuluh menit kemudian, satu pesan masuk.

Iya. Aku yang tidak menelepon.

Hanya itu.

Aku menatap pesan itu lama. Ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang tidak ada di kata-katanya. Sepuluh menit untuk lima kata. Bima Wicaksono, laki-laki yang membalas pesan dalam empat puluh tiga detik dan menuliskan nominal dengan angka dan huruf sekaligus, butuh sepuluh menit untuk mengetik lima kata yang sederhana.

Aku tidak tahu apa yang ia hapus dalam sepuluh menit itu.

Aku memutuskan untuk tidak bertanya malam ini. Ia capek, mungkin. Aku capek. Ada lantai dua puluh dan seorang paman yang sedang mencari-cari sesuatu di rekening pribadiku.

Selamat malam, Bima, ketikku.

Selamat malam, Renata. Istirahat.

Aku meletakkan ponsel. Lalu aku mengambilnya lagi dan membaca lima kata itu sekali lagi.

Iya. Aku yang tidak menelepon.

Telinganya pasti merah, pikirku. Di kamar kos yang gelap, tanpa ada yang melihat.

Aku tidak tahu kenapa aku memikirkan itu.