Chapter Fourteen
Nomor untuk Konsultasi
POV: Bima
Jumat pagi, Dodi menungguku di depan lift lantai tujuh dengan wajah orang yang tidak tidur semalaman.
“Bim,” katanya. “Adiknya.”
“Pagi, Dod.”
“Adiknya Bu Renata. Yang bawa lampu ring.” Ia mengikutiku sampai ke meja. “Gue liat dia di lobi waktu gue turun. Dia lari ke lift kayak orang dikejar debt collector. Terus dia nanya ke Mas Yanto, ‘Pak, pantry lantai tujuh di mana?’ Terus Mas Yanto nunjuk. Terus dia teriak ‘MAKASIH PAK’ dan lari lagi.” Dodi duduk di kursinya yang rusak pegasnya dan oleng ke kiri. “Bim. Dia ngomong apa ke lo?”
“Katanya aku kayak lemari.”
“Lemari?”
“Lemari yang sopan.”
Dodi menatapku selama tiga detik. Lalu ia menoleh ke arah pantry dan berteriak, “MBAK WINA! ADIKNYA BILANG BIMA KAYAK LEMARI YANG SOPAN!”
Dari pantry terdengar jeritan Mbak Wina.
Pukul sembilan lewat dua belas, ponselku bergetar.
Kamu ingat kelas hari Kamis?
Aku menatap pesan itu. Jariku berhenti di atas stabilo kuning.
Tidak ada salam. Tidak ada konteks. Tidak ada penjelasan kelas hari Kamis yang mana, di mana, kapan. Tapi aku tahu. Hanya ada satu kelas hari Kamis dalam hidupku yang bisa membuat seseorang mengirim pesan seperti ini pukul sembilan lewat dua belas pagi.
Aku mengetik: Ingat, Bu.
Aku menghapusnya. Aku mengetik: Ingat, Bu. Semua.
Aku menatap kata terakhir itu. Semua. Itu benar. Aku ingat semua. Aku ingat ruang kuliah lantai dua dengan AC yang separuh rusak. Aku ingat papan tulis putih yang bekas spidolnya tidak pernah hilang. Aku ingat termos perak dengan karet yang aus. Aku ingat cara ia menyelipkan rambut ke belakang telinga kiri, empat kali di minggu pertama, enam kali di minggu kedua, tiga kali di minggu ketiga. Aku ingat minggu keempat, ketika ia tersenyum sepanjang dua jam dan aku tidak bisa mengangkat tangan karena aku tidak sanggup bertanya apa pun selain Ibu kenapa?
Aku mengirimnya.
Balasannya datang dalam sebelas detik.
Lembar tugas terakhir. Kalau masih ada, bawa ke ruangan saya pukul 12.00.
Tanganku, yang memegang stabilo, berhenti bergerak. Stabilo kuning itu menyentuh faktur nomor 0688 dan tinta kuningnya mulai menyebar perlahan di atas kertas, membentuk lingkaran kecil yang makin lama makin besar.
Lembar tugas terakhir.
Aku tidak perlu membuka laci. Aku tidak perlu mencarinya. Aku tahu persis di mana kertas itu. Di buku catatan cokelat, di halaman paling belakang, terlipat dua kali, di sebelah catatan kecil dari Ayu dan di bawah daftar faktur bulan Oktober. Aku memindahkannya ke sana tiga minggu lalu, malam setelah email itu terkirim, karena aku tidak ingin meninggalkannya sendirian di lantai tujuh.
Kenapa Bu Renata menanyakan kertas itu?
Aku menatap pesan itu sampai layar ponselku meredup dan mati sendiri.
“Bim,” kata Dodi dari sebelah. “Stabilo lo bocor.”
Aku menunduk. Lingkaran kuning di faktur nomor 0688 sudah sebesar koin lima ratus rupiah.
Pukul dua belas kurang dua menit, aku berdiri di depan pintu kaca buram di ujung koridor lantai delapan belas.
Mbak Sarah tidak menatapku saat aku lewat di depan mejanya. Ia hanya mengangkat satu jari ke arah pintu tanpa mengalihkan pandangan dari tablet, seperti petugas parkir yang menunjuk tempat kosong.
Aku mengetuk.
“Masuk.”
Bu Renata berdiri di dekat jendela, membelakangiku. Ia memakai kemeja putih dan rok panjang berwarna abu-abu tua yang jatuh sampai ke betis. Rambutnya digerai. Cahaya siang dari jendela membuat siluetnya terlihat seperti potongan kertas di atas kaca yang terang: tinggi, ramping, dengan bahu yang tegak dan leher yang panjang. Ia tidak berbalik saat aku masuk.
“Tutup pintunya,” katanya.
Aku menutup pintu.
“Kamu bawa?”
“Bawa, Bu.”
Ia berbalik.
Riasannya kembali, hari ini. Maskara, bibir merah bata, semuanya kembali di tempatnya seperti benteng yang dibangun ulang dalam semalam. Tapi matanya tidak. Matanya masih sedikit merah di bagian tepi, sedikit sembap di kelopak bawah, seperti orang yang tidak tidur nyenyak. Dan ada sesuatu di tatapannya, sesuatu yang sama seperti kemarin sore saat ia memegang sapu tangan kotak-kotak biru dengan dua tangan. Sesuatu yang besar dan berat dan sangat hati-hati.
“Tunjukin,” katanya.
Aku mengeluarkan buku catatan cokelat dari bawah lenganku. Aku membukanya dari belakang. Halaman terakhir. Kertas HVS yang sudah kekuningan di bagian tepi, terlipat dua kali.
Aku membuka lipatannya. Pelan-pelan, seperti membuka bungkus sesuatu yang rapuh.
Aku meletakkannya di mejanya.
Bu Renata berjalan dari jendela ke meja. Ia tidak duduk. Ia berdiri di sisi meja dan menunduk, menatap kertas itu, dan aku melihat tangannya bergerak ke arah kertas lalu berhenti di udara, seperti tangan seseorang yang ingin menyentuh sesuatu tapi takut sesuatu itu akan menghilang begitu disentuh.
Di bagian atas kertas itu ada tulisan tanganku sendiri, empat tahun lebih muda. Tugas Akhir — Analisis Biaya-Volume-Laba. Bima Wicaksono. Lalu NIM-ku. Lalu angka-angka yang sudah tidak penting lagi, ditulis dengan pulpen biasa, rapi dan kecil. Di pojok kanan atas, huruf A besar dilingkari dengan tinta merah.
Dan di pojok kanan bawah, dengan tinta merah yang sudah sedikit pudar oleh waktu dan oleh ibu jariku yang terlalu sering menyentuhnya, ada tulisan miring yang ditulis dengan cepat:
Kalau mau diskusi.
Dan di bawahnya, dua belas angka.
Bu Renata menatap tulisan itu lama sekali. Ia tidak bicara. Ia tidak bergerak. Hanya ujung jarinya, perlahan, akhirnya menyentuh tinta merah yang pudar itu. Menelusurinya. Huruf demi huruf. Angka demi angka. Seperti orang yang membaca huruf braille.
“Kamu simpan,” katanya. Suaranya sangat pelan.
“Saya simpan, Bu.”
“Empat tahun.”
“Empat tahun dan satu bulan, Bu. Tepat hari ini.”
Ia mengangkat wajah dan menatapku.
“Kenapa?”
Aku memikirkan jawabannya. Aku sudah memikirkannya selama empat tahun, dan jawabannya selalu sama, dan aku sudah mengucapkannya kepada diriku sendiri begitu sering sampai jawaban itu terdengar seperti kebenaran.
“Karena itu nomor dari Ibu,” kataku. “Buat konsultasi skripsi. Saya simpan buat kenang-kenangan, Bu. Nggak pernah saya pakai, soalnya skripsi saya udah selesai. Saya... nggak punya alasan buat diskusi.”
Telingaku terasa panas.
Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak sedang berbohong. Itu yang selalu kukatakan kepada diriku sendiri. Itu jawaban yang sudah kuhafal. Tapi telingaku memanas, pelan, dari cuping ke atas, seperti termometer yang naik sedikit demi sedikit.
Bu Renata memperhatikan telingaku. Aku melihat matanya bergeser ke sana, sebentar, lalu kembali ke wajahku. Ia tidak mengatakan apa-apa tentang itu.
Lalu ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, di kedua sisi kertas, dan mencondongkan badannya sedikit ke arahku.
“Bima,” katanya. “Itu bukan buat konsultasi.”
Ruangan itu sangat sunyi.
AC berdengung. Di luar dinding kaca buram, aku melihat bayangan Mbak Sarah berhenti mengetik. Di jendela di belakang Bu Renata, gedung-gedung Sudirman berdiri diam di bawah langit siang yang terang dan tidak peduli.
“Saya enggak pernah,” lanjut Bu Renata pelan, “nulis nomor saya di kertas siapa pun tanpa diminta. Sebelum hari itu, enggak pernah. Sesudahnya juga enggak. Saya nulis di kertas kamu karena cuma kamu di kelas itu yang enggak menatap saya kayak orang lain menatap saya. Kamu menatap saya kayak kamu bisa lihat saya capek.”
Aku tidak bisa bergerak.
“Saya enggak butuh diskusi soal analisis biaya-volume-laba, Bima. Nilai kamu A. Kamu enggak perlu diskusi apa-apa.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Saya nungguin telepon kamu tiga minggu,” katanya. “Tiap malam HP saya di samping bantal.”
Dunia berhenti.
Bukan seperti di film, ketika semuanya melambat dan musik berhenti. Dunia berhenti seperti angka yang tiba-tiba tidak cocok di kolom saldo, angka yang sudah kau periksa tiga kali dan kau yakin benar, lalu seseorang menunjukkan bahwa sejak awal kau membaca baris yang salah.
Sebelum nikah sama Hendra, saya nunggu seseorang.
Seseorang yang saya temuin sebentar, beberapa minggu aja.
Saya kasih dia kesempatan buat datang. Dengan cara yang jelas banget.
Dia enggak pernah datang.
Bukan Satrio Hadikusumo.
Bukan laki-laki dengan mobil hitam dan uban di pelipis dan buket mawar merah.
Aku.
Orang yang ditunggunya, selama tiga minggu, dengan ponsel di samping bantal. Orang yang membuat Pak Hendra menulis semoga tahun ini dia sudah berhenti menunggu di kolom keterangan klaim jamuan. Orang yang tidak pernah datang.
Aku.
Dan kemarin sore, di pantry lantai tujuh, dengan gelas kopi sachet dingin di tangan, aku menatap wajahnya dan berkata, dengan sangat tulus, semoga orang itu menyesal, Bu. Setiap hari.
Aku mendoakan diriku sendiri.
“Bima,” kata Bu Renata.
Aku menatap kertas di mejanya. Tinta merah yang pudar. Dua belas angka. Kalau mau diskusi. Empat tahun dan satu bulan, tepat hari ini. Setiap malam aku melihat kertas ini, di map plastik di kos Depok, lalu di laci meja lantai tujuh, lalu di buku catatan cokelat. Setiap malam aku menyebutnya nomor konsultasi. Setiap malam.
“Bima.”
“Permisi, Bu,” kataku.
Suaraku terdengar sangat jauh, seperti suara orang lain di ruangan sebelah.
“Bima, tunggu—”
“Permisi, Bu. Maaf.”
Aku berbalik. Aku membuka pintu. Aku tidak mengambil kertas itu dari mejanya. Aku tidak mengambil buku catatan cokelatku, yang masih tergeletak terbuka di kursi tempatku berdiri tadi. Aku hanya berjalan keluar, melewati Mbak Sarah yang berdiri dari kursinya dengan mulut terbuka, melewati lift yang sedang terbuka dan berisi dua orang dari Legal yang langsung menatapku, menuju pintu tangga darurat di ujung koridor.
Aku turun.
Delapan belas lantai. Aku tidak menghitung anak tangganya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menghitung apa pun.
Toilet laki-laki lantai tujuh punya tiga bilik. Bilik paling ujung, yang pintunya sedikit macet dan harus didorong dengan bahu, adalah bilik yang tidak pernah dipakai siapa pun karena lampunya berkedip.
Aku duduk di sana, di atas tutup kloset yang tertutup, dengan siku di lutut dan wajah di kedua tangan.
Aku tidak menangis. Aku tidak tahu harus menangis atau tidak. Aku hanya duduk, dan bernapas, dan mendengarkan lampu di atas kepalaku berdengung dan berkedip.
Pintu toilet luar terbuka dengan keras.
“Bim?”
Aku tidak menjawab.
“Bim. Gue tahu lo di sini. Bu Yuyun liat lo masuk. Dia bilang muka lo kayak orang abis liat kuntilanak di tangga darurat.” Langkah kaki mendekat. Berhenti di depan bilikku. “Bim. Ini gue.”
“Aku tahu, Dod.”
“Lo nggak apa-apa?”
Aku tidak menjawab.
Hening sebentar. Lalu aku mendengar bunyi gesekan, seperti seseorang yang duduk di lantai dan menyandarkan punggung di pintu bilik. Bayangan sepatu Dodi muncul di celah bawah pintu.
“Oke,” katanya. “Oke. Gue di sini. Lo nggak usah ngomong. Gue tunggu.”
Kami diam. Lampu berkedip. Dari wastafel di luar bilik, keran yang tidak tertutup rapat menetes. Satu. Dua. Tiga.
“Dod,” kataku akhirnya.
“Hm.”
“Kamu inget kemarin di pantry? Waktu Bu Renata cerita soal orang yang dia tunggu sebelum nikah?”
“Gue nggak di sana, Bim. Gue kabur. KRL pribadi.”
“Oh. Iya.”
“Tapi gue nguping dari balik dispenser lantai delapan sebelum lift dateng.”
“...Dod.”
“Gue denger dikit. Yang ‘semoga orang itu menyesal’. Gue sempet mikir, keren juga lo ngomong gitu. Tegas. Laki.”
Aku menutup mataku.
“Dod,” kataku. “Orang itu aku.”
Hening.
“Hah?”
“Orang yang ditunggu Bu Renata. Sebelum nikah. Yang nggak pernah datang. Itu aku.”
Hening lebih panjang. Keran menetes. Lampu berkedip.
“Lo,” kata Dodi pelan. “Maksud lo. Empat tahun lalu. Dosen tamu. Lo.”
“Hari terakhir kelas, beliau nulis nomornya di lembar tugasku. Kalau mau diskusi.”
“Terus?”
“Aku nggak pernah nelepon.”
“Kenapa?”
“Soalnya aku kira itu nomor buat konsultasi skripsi.”
Hening yang sangat, sangat panjang.
Lalu aku mendengar bunyi buk yang keras, seperti seseorang yang membenturkan kepalanya ke pintu bilik dari luar. Sekali. Dua kali.
“BIMA,” kata Dodi, dengan suara yang tidak pernah kudengar darinya, suara antara tertawa, marah, dan menangis sekaligus. “Bima Wicaksono. Lo serius?”
“Serius, Dod.”
“Cewek. Cewek paling cakep yang pernah lo liat. Cewek yang lo pantengin empat minggu dari bangku depan. Dia nulis nomor HP pribadinya di kertas lo, pake pulpen merah, terus nulis kalau mau diskusi, di hari terakhir kelas, setelah nilai lo keluar A. Dan lo pikir itu buat diskusi skripsi?”
“Iya, Dod.”
“DISKUSI APAAN, BIM? Skripsi lo udah kelar! Nilai lo udah A! Itu kode, Bim! Itu kode keras! Itu kode yang lebih keras dari tembok bilik ini!” Buk. “Gue aja yang nggak ganteng, nggak tinggi, nggak bisa nyetrika, kalau ada cewek nulis nomornya di kertas gue, gue langsung telepon malam itu juga! Gue telepon sambil lari! Gue telepon sambil nangis!”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa membantahnya.
“Empat tahun,” kata Dodi. Suaranya sudah tidak keras lagi. Pelan, hampir seperti bisikan. “Empat tahun lo nyimpen kertas itu. Lo nulis surat yang nggak dikirim. Lo masuk ke kantor ini cuma buat liat dia dari pilar lobi tiap pagi. Dan selama itu dia nungguin lo?”
“Tiga minggu, Dod. Dia nunggu tiga minggu. Terus dia nikah.”
“Dan lo yang bilang ke dia, ‘semoga orang itu menyesal’.”
“Iya.”
Dodi diam lama sekali.
“Bim,” katanya akhirnya. “Gue mau ngomong sesuatu, dan gue mau lo dengerin baik-baik.”
“Iya, Dod.”
“Lo tolol.”
Aku menghembuskan napas yang ternyata kutahan sejak tadi. Napas itu keluar dengan bunyi aneh, seperti tawa yang patah di tengah.
“Lo tolol banget, Bim. Lo orang paling tolol yang pernah gue kenal, dan gue kenal Pak Darto.” Bayangan sepatu Dodi bergeser di celah bawah pintu. “Tapi lo tolol yang paling ganteng di lantai tujuh. Dan lo tolol yang paling baik. Dan sekarang lo udah tahu. Jadi lo nggak bisa tolol lagi.”
Aku menatap pintu bilik yang tertutup. Ada coretan pulpen di sana, sangat kecil, ditulis oleh seseorang bertahun-tahun lalu: Semangat, besok gajian.
“Dod.”
“Hm.”
“Buku catatanku ketinggalan di ruangan beliau. Kertasnya juga.”
“Lo ninggalin buku cokelat lo? Buku yang nggak pernah lepas dari tangan lo? Yang lo bawa ke toilet, ke musala, ke kantin?”
“Iya.”
“Ya Allah, Bim.”
Ponselku bergetar di saku celana. Satu kali.
Aku mengeluarkannya. Layar ponselku menyala di bilik yang lampunya berkedip. Satu pesan.
Buku catatanmu ada di meja saya. Kertasnya juga. Saya tidak membuka halaman lain, saya janji.
Lalu, saat aku masih menatap pesan itu, satu pesan lagi masuk.
Dan Bima. Jangan kabur ke toilet lebih dari lima belas menit. Ada faktur.
Aku menatap kalimat terakhir itu.
Ada faktur. Kalimatku sendiri. Alasan paling bodoh yang pernah kuucapkan, di tangga darurat, hari Rabu, dua hari lalu. Ia mengembalikannya kepadaku, seperti mengembalikan sapu tangan yang sudah dicuci dan disetrika dan dilipat dua kali.
Dan tiba-tiba, di bilik toilet paling ujung lantai tujuh, dengan lampu berkedip dan keran menetes dan Dodi duduk di lantai di balik pintu, aku tertawa.
Aku tidak tahu dari mana tawa itu datang. Rasanya seperti bendungan yang retak. Aku menutup mulut dengan tangan dan tertawa sampai bahuku bergetar, dan di tengah tawa itu ada sesuatu yang lain, sesuatu yang panas dan basah di sudut mataku, dan aku tidak bisa membedakan mana yang mana.
“Bim?” Dodi mengetuk pintu. “Bim, lo ketawa atau nangis?”
“Nggak tahu, Dod.”
“Dua-duanya?”
“Mungkin.”
“Oke.” Bayangan sepatunya tidak bergerak. “Oke. Itu wajar. Gue juga gitu waktu tahu mantan gue nikah sama tukang parkir.”
Aku mengusap mataku dengan punggung tangan. Kacamataku berembun. Aku melepasnya dan mengelapnya dengan ujung kemeja. Lalu aku sadar aku tidak punya sapu tangan. Sapu tanganku ada di lantai delapan belas, di tangan seseorang yang menunggu teleponku tiga minggu dan tidak pernah mendapatkannya.
Aku memakai kacamataku kembali. Aku menatap ponselku.
Jangan kabur ke toilet lebih dari lima belas menit.
Aku menatap jam di sudut layar. Aku sudah di sini dua belas menit.
Aku berdiri. Aku mendorong pintu bilik dengan bahu, dan pintu itu terbuka dengan bunyi derit, dan Dodi, yang bersandar di sana, jatuh ke belakang dan terlentang di lantai toilet seperti kura-kura terbalik.
“Aduh,” katanya dari lantai.
“Maaf, Dod.”
“Nggak apa-apa.” Ia menatapku dari bawah. “Lo mau ke mana?”
“Ke lantai delapan belas.”
Dodi menatapku selama dua detik. Lalu, masih terlentang di lantai toilet, ia mengangkat jempolnya tinggi-tinggi.
“Gue pasang taruhan baru,” katanya. “Seratus ribu. Hari ini.”
Aku melangkahi kakinya dan berjalan ke wastafel. Aku mencuci muka dengan air dingin. Aku merapikan kemejaku di depan cermin. Telingaku merah, merah sekali, merah dari cuping sampai ke ujung atas.
Untuk pertama kalinya, aku tidak berusaha menyembunyikannya.
Aku tidak naik dengan lift. Lift penuh dengan orang yang akan menatapku. Aku naik lewat tangga darurat, sebelas lantai, menaiki anak tangga satu per satu dengan napas yang makin berat dan jantung yang makin cepat, dan kali ini aku menghitung semuanya.
Seratus delapan puluh tujuh anak tangga.
Empat belas menit.
Aku belum tahu apa yang akan kukatakan saat sampai di sana. Aku hanya tahu satu hal, dengan kepastian yang biasanya hanya kumiliki terhadap angka di kolom saldo akhir:
Empat tahun lalu aku tidak naik.
Hari ini aku naik.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi reading
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong