Chapter Thirty One
Restu
POV: Renata
Sabtu pagi pukul enam, sebelum rapat yang akan menentukan segalanya, aku pergi ke Menteng.
Bukan ke rumah Ibu Laksmi. Ke rumah tua bergaya Belanda dengan pilar putih di teras dan dua pohon beringin yang umurnya lebih tua dari Republik. Ke rumah tempat Hendra dibesarkan.
Mama Lies membukakan pintu sendiri. Ia sudah bangun, tentu saja. Ia selalu bangun pukul empat untuk salat tahajud, kebiasaan yang ia mulai sejak suaminya meninggal dua puluh tahun lalu dan tidak pernah ia hentikan. Ia memakai daster batik berwarna hijau tua dan kerudung instan berwarna krem, dan ia menatapku di ambang pintu dengan mata yang sama dengan mata Hendra.
“Nduk,” katanya. “Pagi sekali.”
“Ma. Boleh Renata masuk?”
Mama Lies menatapku lama. Lalu ia mundur selangkah dan membukakan pintu lebih lebar.
Kami duduk di ruang tengah, di sofa rotan tua di bawah foto Hendra yang masih tergantung sejak pengajian tujuh belas November. Hendra tersenyum dari dalam bingkai kayu jati, dengan mata yang menyipit karena terlalu bahagia. Mbok Darmi membawakan dua cangkir teh dan sepiring kue lapis, lalu menghilang ke dapur dengan kepekaan seorang perempuan yang sudah tiga puluh tahun bekerja di rumah orang kaya.
Aku mengeluarkan kantong kecil dari beludru hitam dari tasku. Aku meletakkannya di meja di antara kami.
Mama Lies menatap kantong itu. Ia tidak menyentuhnya.
“Itu...” katanya.
“Cincin Hendra, Ma.” Suaraku lebih tenang dari yang kuduga. “Renata pakai di kalung tiga tahun. Renata lepas sebulan yang lalu. Di Lumière. Di meja nomor tujuh.”
Mama Lies menutup mulutnya dengan tangan.
“Renata pengin Mama yang simpan,” lanjutku. “Ini cincin anak Mama. Mama yang paling berhak.”
Tangan Mama Lies terulur perlahan. Ia mengambil kantong beludru itu. Ia membuka talinya dengan jari yang sedikit gemetar, dan mengeluarkan isinya ke telapak tangannya: rantai emas tipis, dan cincin emas putih polos dengan ukiran kecil di bagian dalamnya.
Ia menatap cincin itu lama sekali. Lalu ia mendekatkannya ke matanya dan membaca ukirannya. Tanggal pernikahan kami. H & R.
“Dia memilih ukiran ini sendiri,” kata Mama Lies pelan. “Di toko perhiasan di Pasar Baru. Dia bertanya kepada Mama, ‘Ma, kalau namanya ditulis lengkap terlalu panjang, ya? Renata kan suka yang sederhana.’ Mama bilang, tulis inisialnya saja.” Ia tersenyum, matanya basah. “Dia bolak-balik ke toko itu tiga kali. Katanya hurufnya kurang miring.”
Aku tidak bisa menjawab.
Mama Lies menggenggam cincin itu di telapak tangannya. Lalu ia menatapku.
“Nduk. Kamu ke sini bukan cuma untuk ini.”
“Enggak, Ma.”
“Ceritakan.”
Jadi aku menceritakan semuanya. Foto-foto. Lantai dua puluh. Dua pilihan dari Om Gunawan. Bima yang mengundurkan diri tanpa pesangon dan tidak menandatangani surat pernyataan. Pak Ruslan dan flash disk hitam. Rapat gabungan luar biasa pukul sembilan pagi ini. Aku menceritakannya dengan suara CFO, tenang, berurutan, seperti membacakan laporan.
Lalu, di bagian akhir, suaraku tidak lagi seperti CFO.
“Dan dia nanya ke Renata, Ma,” kataku. “Hari Senin. Dia nanya, apa benar kamu akan mundur, aku tanya dulu, aku tidak akan memutuskan apa-apa sebelum kamu jawab. Dan Renata enggak jawab. Renata bilang, aku yang urus.” Aku menatap cangkir teh di tanganku. “Renata ngelakuin persis hal yang Renata benci dari dia. Mutusin sendiri apa yang terbaik buat dia. Dan dia pergi.”
Mama Lies diam lama.
“Dan Om Gunawan,” kataku, “pasti bilang di rapat nanti kalau ini semua balas dendam pribadi. Janda keponakannya, sama staf AP. Om bakal bilang Renata bikin malu nama Hendra. Om bakal bilang keluarga Wiraguna enggak setuju.” Aku mengangkat wajah. “Renata enggak tahu harus bilang apa, Ma, kalau Om ngomong gitu. Karena mungkin Om benar. Mungkin keluarga Wiraguna memang enggak setuju.”
Mama Lies meletakkan cincin Hendra di meja, di atas kantong beludru hitam.
Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuatku tidak bisa bernapas.
“Nduk. Hendra pernah bilang sesuatu ke Mama. Di malam pernikahan kalian. Waktu kami berdansa di resepsi. Lagu yang lambat itu, yang kamu pilih.”
Aku menatapnya.
“Dia bilang, Ma, Rena pernah menunggu seseorang. Lama sekali. Aku tidak tahu siapa. Aku tidak mau tanya.” Mama Lies menatap foto Hendra di dinding. “Mama tanya, kenapa kamu tidak mau tanya? Dia bilang, Karena kalau aku tanya, dia harus bohong, atau dia harus jujur. Dua-duanya akan menyakitinya.”
Mama Lies menghela napas. Lalu ia menatapku lagi.
“Lalu dia bilang satu hal lagi. Sambil dansa. Sambil ketawa, seperti dia bercanda. Ma, kalau aku pergi duluan, jangan biarkan Rena menunggu lagi. Dia sudah cukup menunggu.”
Cangkir teh di tanganku bergetar.
“Mama kira dia bercanda, Nduk,” kata Mama Lies. Suaranya pecah. “Dia tiga puluh lima tahun. Sehat. Mama kira dia cuma romantis. Mama marahin dia, Mama bilang jangan ngomong begitu di hari pernikahan, pamali.” Ia mengusap matanya dengan ujung kerudung. “Tujuh bulan kemudian, dia pergi duluan.”
Aku meletakkan cangkir teh di meja. Aku tidak bisa memegangnya lagi.
“Selama tiga tahun Mama lihat kamu menunggu,” kata Mama Lies. “Menunggu entah apa. Di lantai delapan belas sampai jam sebelas malam. Di pojok ruang tengah ini, setiap pengajian. Di dapur, membantu Mbok Darmi supaya tidak perlu bicara dengan siapa pun. Kamu menunggu, Nduk. Mama tidak tahu menunggu apa. Mungkin menunggu Hendra pulang. Mungkin menunggu dirimu sendiri berhenti merasa bersalah.”
Ia mengulurkan tangannya dan menggenggam tanganku.
“Mama sudah gagal menjalankan pesan Hendra selama tiga tahun,” katanya. “Mama tidak mau gagal lagi.”
“Ma—”
“Lalu bulan lalu, di pengajian, Mama lihat anak itu di dapur ini. Menyelamatkan rendang Hendra. Pakai kerisik. Lalu dia cuci kuali sampai bersih. Lalu dia bilang ke kamu, di depan Mama, bahwa hadiah Hendra belum sampai.” Mama Lies tersenyum, dengan air mata di pipinya. “Laki-laki yang memastikan hadiah dari laki-laki lain sampai ke perempuan yang ia cintai, Nduk. Mama sudah enam puluh tiga tahun. Mama belum pernah lihat yang seperti itu.”
“Mama enggak marah?”
“Marah kenapa?”
“Karena Renata... karena belum genap tiga tahun... karena dia staf AP, karena dia empat tahun lebih muda, karena Om Gunawan—”
“Gunawan bukan Wiraguna yang paling tua di keluarga ini, Nduk.” Suara Mama Lies tiba-tiba berubah. Lebih tegas. Lebih tajam. Suara yang belum pernah kudengar darinya. “Mama yang paling tua. Mama janda kakaknya. Dan Mama pemegang saham terbesar kedua di perusahaan itu, setelah Gunawan, sejak suami Mama meninggal.”
Aku menatapnya.
“Mama tidak pernah datang ke rapat,” kata Mama Lies. “Dua puluh tahun. Mama titipkan suara Mama ke Gunawan. Karena dia adik suami Mama. Karena Mama percaya.” Ia meraih cincin Hendra dari meja dan menggenggamnya. “Tapi pagi ini, Mama mau datang.”
Pukul sembilan tepat, ruang rapat lantai dua puluh penuh.
Untuk pertama kalinya sejak aku menjadi CFO, kursi-kursi di sekeliling meja mahoni oval terisi semua. Tujuh anggota dewan komisaris. Tujuh direktur. Pak Haji Rasyid dari Legal. Pak Fauzan dari Compliance. Pak Ruslan dari Treasury, dengan kemeja batik terbaiknya dan wajah orang yang sudah tidak tidur dua malam.
Dan di ujung meja, di bawah lukisan pendiri Wiraguna yang menatap dengan wajah tidak setuju, duduk Ibu Laksmi Dharmawangsa dengan kebaya abu-abu dan kacamata berbingkai emas. Di kursi Om Gunawan.
Om Gunawan duduk di sisi kanannya. Di kursi yang biasanya kududuki.
Ia memakai kemeja putih dan jas abu-abu gelap. Tasbih kayu cendana di pergelangan tangan. Ia tersenyum dengan senyum kebapakan yang sama seperti biasa, tapi ada sesuatu di sudut matanya yang tidak biasa. Sesuatu yang menghitung terlalu cepat.
Lalu pintu ruang rapat terbuka, dan Mama Lies masuk.
Ia memakai kebaya hitam dengan selendang batik cokelat dan kerudung putih. Di lehernya, di atas kebaya hitam, tergantung sebuah rantai emas tipis dengan cincin emas putih polos di ujungnya.
Seluruh ruangan berdiri.
Om Gunawan berdiri paling lambat. Senyumnya membeku di wajahnya seperti topeng yang retak di bagian tengah.
“Mbak Lies,” katanya. “Mbak tidak perlu datang. Saya pegang kuasa suara Mbak—”
“Kuasa itu Mama cabut tadi pagi, Gun,” kata Mama Lies dengan tenang. Ia meletakkan selembar kertas di meja, di depan Pak Haji Rasyid. “Sudah ditandatangani di depan notaris pukul tujuh. Notarisnya teman almarhum kakakmu. Dia buka kantor hari Sabtu khusus untuk Mama.”
Ia berjalan ke kursi di sebelahku. Kursi yang kosong. Ia duduk di sana. Lalu, di bawah meja, tangannya menemukan tanganku dan menggenggamnya.
“Silakan, Bu Laksmi,” katanya. “Mama mendengarkan.”
Rapat itu berlangsung empat jam.
Ibu Laksmi membukanya dengan membacakan pasal anggaran dasar yang memberinya hak memanggil rapat gabungan luar biasa. Lalu ia meletakkan dua benda di atas meja mahoni: flash disk hitam dari Pak Ruslan, dan map plastik dari Bima.
Pak Ruslan memberi kesaksian selama empat puluh menit. Suaranya bergetar di awal, lalu makin mantap. Ia menceritakan enam kali menandatangani berkas transfer. Enam lampiran memo persetujuan bertanda tangan Om Gunawan. Enam malam ia pulang dan tidak bisa tidur. Ia menunjukkan semuanya di layar proyektor: berkas transfer bank, bukti konfirmasi, memo yang dipindai dengan tanda tangan pulpen emas yang cepat dan yakin.
Ruangan itu sunyi seperti pemakaman.
Lalu Ibu Laksmi membuka map plastik dari Bima. Ia membacakan halaman pertama dengan suara mantan hakim agung:
Untuk Ibu Laksmi Dharmawangsa, Ketua Komite Audit. Disusun oleh Bima Wicaksono, staf Accounts Payable. Bukti pendukung diserahkan terpisah oleh Bapak Ruslan Hakim, Kepala Divisi Treasury. Ibu Renata Halim tidak terlibat dalam penyusunan dokumen ini.
Ia meletakkan map itu dan menatap seluruh ruangan.
“Saya sudah memeriksa setiap halaman,” katanya. “Empat puluh delapan faktur fisik. Setiap halaman diberi catatan tangan. Setiap angka dicocokkan dengan nomor seri faktur pajak, dengan data rekening koran, dan dengan berkas transfer Treasury. Tidak ada satu pun yang tidak cocok.” Ia melepas kacamatanya. “Selama tiga puluh tahun sebagai hakim, saya jarang menerima berkas yang disusun serapi ini. Bahkan dari kejaksaan.”
Om Gunawan berdiri.
“Ini fitnah,” katanya. Suaranya tenang, tapi tasbih di tangannya berputar terlalu cepat. “Tagihan dengan akhiran -R adalah revisi sah untuk pekerjaan tambahan. Staf AP itu tidak memahami prosedur. Dan semua orang di ruangan ini tahu bahwa staf AP itu menjalin hubungan pribadi dengan CFO yang sejak tiga tahun lalu ingin menyingkirkan saya. Ini balas dendam. Ini—”
“Pak Gunawan,” kata Pak Fauzan dari Compliance.
Seluruh ruangan menoleh. Pak Fauzan tidak pernah bicara di rapat direksi. Ia hanya duduk di pojok dengan wajah orang yang menelan sesuatu yang asam.
Ia berdiri. Ia meletakkan dua lembar formulir di atas meja mahoni.
“Formulir pelaporan benturan kepentingan,” katanya. “Yang pertama dari saudara Bima Wicaksono. Diserahkan sendiri pada hari Senin, empat belas Desember, pukul tujuh lewat empat puluh pagi. Sebelum saya dipanggil ke ruangan ini oleh Pak Gunawan pukul sembilan untuk mendengar bahwa hubungan itu tidak dilaporkan.” Ia menyentuh formulir kedua. “Yang kedua dari Bu Renata Halim. Diserahkan hari Rabu.”
Ia menatap Om Gunawan.
“Saudara Bima meminta agar sanksi atas keterlambatan pelaporan dijatuhkan kepada dirinya, bukan kepada Bu Renata. Saya mencatatnya. Dengan tanggal dan jamnya.” Pak Fauzan berhenti sebentar. “Saya juga ingin mencatat satu hal lagi untuk notulen rapat ini. Pada hari Senin malam, pegawai Audit Internal atas nama Riko menyampaikan kepada saudara Bima di dalam lift, secara tidak resmi, bahwa Bu Renata akan memilih mengundurkan diri. Itu tidak benar. Bu Renata tidak pernah menyatakan hal tersebut. Informasi itu disampaikan untuk mendorong saudara Bima mengundurkan diri lebih dulu.”
“Dari mana Bapak tahu?” tanya salah satu komisaris.
“Riko sendiri yang memberitahu saya, Pak,” kata Pak Fauzan. “Kemarin sore. Di ruangan saya. Dengan surat pengunduran dirinya sendiri.” Ia mengeluarkan selembar kertas lagi dan meletakkannya di meja. “Ia bilang ia memeriksa tas saudara Bima di lobi hari Jumat. Ia menemukan sebatang pulpen merah yang tutupnya tergigit, yang disimpan saudara Bima selama empat tahun. Ia bilang ia tidak bisa tidur setelahnya.”
Aku berhenti bernapas.
Di bawah meja, Mama Lies meremas tanganku.
Om Gunawan menatap surat pengunduran diri Riko di atas meja. Tasbihnya berhenti berputar.
Lalu tiba giliranku.
Ibu Laksmi menatapku dari ujung meja. “Bu Renata. Anda ingin menyampaikan sesuatu?”
Aku berdiri.
Aku sudah menyiapkan pidato. Tiga halaman. Aku menyusunnya bersama Pak Haji Rasyid hari Kamis, dengan argumen hukum dan kutipan anggaran dasar dan usulan restrukturisasi garis pelaporan Accounts Payable dari CFO ke Financial Controller. Aku sudah menghafalnya.
Aku tidak membacanya.
“Saya menjalin hubungan dengan Bima Wicaksono,” kataku. “Saya tidak menyesalinya. Saya sudah melaporkannya ke Compliance, terlambat, dan saya menerima sanksi apa pun yang dewan anggap pantas.”
Seluruh ruangan diam.
“Saya mengusulkan restrukturisasi,” lanjutku. “Accounts Payable dipindahkan dari garis pelaporan CFO ke Financial Controller. Itu menyelesaikan benturan kepentingan sesuai Pasal Tujuh. Usulan lengkapnya ada di berkas yang disiapkan Pak Haji Rasyid.” Aku menatap seluruh ruangan, satu per satu. “Dan kalau dewan menilai bahwa saya tidak layak lagi duduk di kursi CFO karena hubungan ini, saya akan mundur. Hari ini.”
Om Gunawan mengangkat wajahnya.
“Tapi saya tidak akan mundur karena ancaman,” kataku. “Dan saya tidak akan membiarkan laki-laki yang menemukan empat koma tujuh miliar rupiah uang perusahaan yang hilang dipecat karena ia membuka lemari arsip dengan kunci dari kaleng biskuit.”
Seseorang di ujung meja, mungkin Direktur Operasional, tertawa kecil, lalu cepat-cepat menutupnya dengan batuk.
“Dia mengundurkan diri tanpa pesangon,” kataku. Suaraku mulai bergetar. Aku membiarkannya. “Dia menolak menandatangani surat pernyataan yang akan memberinya enam bulan gaji dan surat rekomendasi. Karena angkanya tidak salah. Dia pulang ke Purwokerto hari Jumat dengan kereta ekonomi, membawa stabilo kuning, klip kertas, lem sepatu, dan nasi rames dari kantin.” Aku menatap Om Gunawan. “Dan dia melakukannya karena dia diberitahu bahwa saya akan mundur. Dia mengundurkan diri untuk melindungi saya. Tanpa bertanya kepada saya dengan benar. Karena saya juga tidak menjawabnya dengan benar.”
Aku berhenti. Aku menarik napas.
“Kami berdua salah,” kataku. “Kami berdua memutuskan sendiri apa yang terbaik untuk orang lain. Itu kesalahan kami. Bukan kesalahan perusahaan. Tapi pengunduran dirinya diperoleh dengan informasi palsu yang disampaikan oleh pegawai perusahaan atas penugasan Direktur Utama. Dan itu kesalahan perusahaan.”
Aku duduk.
Mama Lies, di sebelahku, tidak melepaskan tanganku.
Pemungutan suara dilakukan pukul dua belas lewat lima belas.
Usul pertama: Direktur Utama Gunawan Wiraguna dinonaktifkan sementara, menunggu audit forensik independen atas pembayaran kepada PT Sinar Karya Mandiri. Tiga belas setuju. Satu tidak setuju. Suara Om Gunawan sendiri.
Mama Lies mengangkat tangannya untuk setuju. Ia mengangkatnya dengan cincin Hendra yang tergantung di lehernya, berkilau di bawah lampu kristal.
Om Gunawan menatap kakak iparnya. Lama. Wajahnya, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tidak menyembunyikan apa pun.
“Mbak,” katanya pelan.
“Cukup, Gun,” kata Mama Lies. Tidak keras. Hanya sangat jelas. “Hendra sudah tiga tahun di Karet. Jangan pakai namanya lagi untuk menutupi empat koma tujuh miliar.”
Usul kedua: restrukturisasi garis pelaporan Accounts Payable dari CFO ke Financial Controller, berlaku segera. Empat belas setuju.
Usul ketiga: pengunduran diri saudara Bima Wicaksono dinyatakan batal demi hukum karena diperoleh di bawah tekanan dan informasi yang menyesatkan. Saudara Bima Wicaksono dipersilakan kembali bekerja dengan seluruh hak yang melekat, apabila ia menghendaki.
Ibu Laksmi membacakan usul itu, lalu menambahkan, dengan suara yang lebih lembut: “Apabila ia menghendaki. Keputusan itu ada padanya. Bukan pada dewan. Bukan pada CFO.”
Ia menatapku saat mengatakannya.
Empat belas setuju.
Om Gunawan berdiri, mengambil jas abu-abunya dari sandaran kursi, dan berjalan keluar dari ruang rapat lantai dua puluh tanpa berkata apa-apa. Tasbih kayu cendana tertinggal di atas meja mahoni, di bawah lukisan ayahnya.
Aku tidak membuka ponselku sampai pukul satu siang.
Aku duduk di mobil di basement, dengan Pak Rahmat di kursi sopir dan Mama Lies di sebelahku, karena aku bersikeras mengantarnya pulang. Mama Lies menyandarkan kepala di jendela dengan mata terpejam dan cincin Hendra di genggamannya.
Aku menyalakan ponsel.
Ada empat puluh tiga pesan. Tasya, dua puluh sembilan, semuanya huruf kapital. Sarah, empat, semuanya dengan satu titik. Dodi, tujuh, termasuk satu foto papan taruhan yang sudah dipasang kembali di pantry lantai tujuh dengan baris baru: Dewan komisaris — menang telak — saksi: Pak Ruslan. Pak Darto, dua, berisi doa.
Dan satu dari Bima.
Pukul delapan lewat tiga puluh tujuh pagi. Setengah jam sebelum rapat dimulai.
Aku membukanya.
Renata.
Aku sudah baca pesanmu. Lima belas jam yang lalu. Di Cikampek. Aku menangis di depan anak kecil berumur lima tahun yang rambutnya dikuncir dua. Ibunya memberiku tisu.
Aku mau tanya dulu. Sesuai kesepakatan. Dan kali ini aku akan menunggu jawabanmu, apa pun jawabannya.
Boleh aku kembali hari Senin?
Bukan sebagai staf AP. Aku sudah bukan staf AP. Sebagai aku.
Aku ingin bertanya sesuatu. Di depan semua orang. Karena semua orang sudah membaca surat pertamaku. Rasanya tidak adil kalau mereka tidak membaca yang terakhir.
Aku membaca pesan itu sekali.
Lalu aku menutup mulutku dengan tangan, dan di kursi belakang mobil putih di basement gedung Wiraguna, dengan Pak Rahmat di depan dan Mama Lies di sebelahku, aku menangis.
Mama Lies membuka matanya. Ia tidak bertanya. Ia hanya menatap layar ponselku dari samping, membaca pesan itu, dan tersenyum. Lalu ia menepuk lututku dua kali dan memejamkan matanya lagi.
Ia bertanya.
Bima Wicaksono, laki-laki yang empat tahun lalu tidak menelepon. Laki-laki yang tujuh minggu lalu mundur tanpa bertanya. Laki-laki yang empat hari lalu memutuskan sendiri untuk pergi. Laki-laki itu duduk di Purwokerto, di rumah ibunya, dan ia bertanya.
Dan ia bilang ia akan menunggu jawabanku, apa pun jawabannya.
Ia sudah menunggu lima jam.
Aku mengusap mataku. Aku menatap layar. Aku memikirkan semua hal yang bisa kukatakan. Pengunduran dirimu sudah dibatalkan. Om Gunawan sudah dinonaktifkan. AP sudah dipindah ke Financial Controller. Pak Fauzan membela kita. Riko mengundurkan diri karena pulpen merahku. Mama Lies memakai cincin Hendra di lehernya dan mengangkat tangan untuk kita. Semuanya sudah kuurus.
Aku tidak mengatakan satu pun dari itu.
Itu bukan jawaban atas pertanyaannya. Itu informasi. Dan ia tidak bertanya tentang informasi. Ia bertanya apakah ia boleh kembali.
Aku mengetik satu kata.
Boleh.
Aku mengirimnya.
Empat puluh tiga detik kemudian, ponselku bergetar.
Terima kasih.
Lalu, satu menit kemudian:
Aku tanya satu lagi. Jam berapa kamu ada di ruanganmu hari Senin?
Aku tersenyum ke layar. Aku tahu jawaban yang ia harapkan. Aku tahu, karena aku juga mengingatnya.
Jam berapa pun kamu mau, ketikku. Kamu yang pilih.
Satu menit. Dua menit. Titik-titik kecil muncul dan menghilang dan muncul lagi.
Lalu:
09.14.
Aku menatap angka itu.
Pukul 09.14 hari Senin, delapan minggu yang lalu, sebuah sistem migrasi email mengirim surat yang tidak pernah ia kirim ke dua ribu orang tanpa izinnya. Pukul 09.31, aku membalasnya dengan empat kata yang membuat seisi lantai tujuh memutar lagu Gugur Bunga.
09.14, ketikku. Aku akan ada di sana.
Lalu, setelah ragu sebentar, aku menambahkan satu kalimat lagi. Kalimat yang bukan informasi. Kalimat yang bukan aku yang mengurus apa pun.
Pulanglah. Aku menunggu.
Pak Rahmat menyalakan mesin. Mobil putih itu melaju keluar dari basement, ke jalan Sudirman yang terang di bawah matahari siang hari Sabtu, menuju Menteng.
Di sebelahku, Mama Lies tertidur dengan kepala di jendela dan cincin anaknya di genggaman tangan. Di pangkuanku, ponselku menyala dengan dua kata yang baru masuk.
Aku pulang.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu reading
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong