← Masih di Folder Draf

Chapter Twenty Five

Offsite Lembang

POV: Bima

Bus pariwisata yang disewa divisi Finance berangkat dari basement gedung Wiraguna pukul enam pagi hari Sabtu, dengan empat puluh dua penumpang, satu karaoke bus yang mikrofonnya rusak sebelah, dan satu orang yang duduk di kursi paling depan dengan pengeras suara toa di pangkuannya.

“SELAMAT PAGI, KELUARGA BESAR FINANCE WIRAGUNA!”

Itu Dodi. Pak Darto menunjuknya sebagai MC offsite tahun ini, karena tahun lalu MC-nya adalah Pak Darto sendiri dan ia tertidur di tengah sambutan. Dodi menganggap tugas itu dengan sangat serius. Ia memakai kaus seragam offsite berwarna oranye menyala dengan tulisan Finance Family Gathering 2026: Balance Sheet, Balance Life, topi pet putih, dan kacamata hitam, padahal matahari belum terbit.

“SAYA DODI SAPUTRA, MC ANDA HARI INI DAN BESOK! SEBELUM KITA BERANGKAT, SAYA MAU ABSEN DULU!”

“Dod, nggak usah pake toa, kita di dalem bus,” kata Mbak Wina dari kursi ketiga.

“MBAK WINA, HADIR! TERIMA KASIH ATAS PARTISIPASINYA!”

Aku duduk di kursi paling belakang, di sebelah jendela, dengan tas ransel di pangkuan dan buku catatan cokelat di dalamnya. Aku memakai kaus seragam oranye yang sama dengan semua orang. Warnanya membuat kulitku terlihat seperti terkena penyakit kuning. Tidak ada yang terlihat bagus memakai kaus ini, kecuali mungkin Jordi, yang ikut sebagai perwakilan IT karena katanya ia punya utang moral kepada divisi Finance dan juga karena Pak Hardi tidak mau ikut.

Bu Renata tidak naik bus.

Aku sudah tahu itu. Ia memberitahuku hari Jumat: ia akan berangkat dengan Pak Rahmat dan menyusul ke vila pukul sembilan, setelah sesi pembukaan dimulai, supaya tidak ada yang merasa canggung duduk satu bus dengan CFO selama tiga jam. Itu pertimbangan kesejahteraan karyawan, tulisnya. Bukan karena aku tidak mau duduk di bus dengan Dodi dan toanya.

Aku tidak menyebutkan bahwa ia mengirim pesan itu pukul sebelas malam, dengan tiga emoji tertawa.

“DAN SEKARANG,” teriak Dodi lewat toa, “ABSEN PALING PENTING HARI INI! BIMA WICAKSONO!”

Seluruh bus menoleh ke belakang.

“Hadir,” kataku.

“BIMA WICAKSONO, APAKAH ANDA SIAP MENGHADAPI OFFSITE PALING BERSEJARAH DALAM SEJARAH DIVISI FINANCE?”

“Dod.”

“SAYA ANGGAP ITU IYA!” Dodi menurunkan toanya, lalu mengangkatnya lagi. “Dan untuk informasi semua: papan taruhan sudah saya bawa. Ada di bagasi. Akan dipasang di vila. Taruhan baru dibuka. Kategori: OFFSITE.”

Bus bersorak.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan menatap jalan tol Cipularang lewat celah jari.


Vila tempat offsite itu berada di atas bukit di daerah Cikole, dikelilingi kebun teh dan pohon pinus yang batangnya lurus dan tinggi seperti tiang listrik yang ditanam terlalu rapat. Bangunan utamanya rumah kayu besar dengan teras luas dan perapian batu di ruang tengah. Di sekelilingnya ada enam bungalo kecil untuk menginap, masing-masing untuk enam sampai delapan orang. Udaranya dingin, sangat dingin untuk orang yang sudah dua tahun tinggal di kos Bendungan Hilir dengan kipas angin yang mengeluh. Kabut tipis masih menggantung di antara pohon pinus saat bus tiba pukul sembilan kurang sepuluh.

Pukul sembilan lewat tiga, mobil putih memasuki halaman vila.

Aku sedang membantu Mbak Wina menurunkan kardus gorengan dari bagasi bus. Aku tidak sedang menatap gerbang. Aku memastikan aku tidak menatap gerbang. Tapi aku mendengar mesin mobil itu, dan aku mengenalinya, karena aku sudah dua tahun mendengarnya setiap pagi pukul 07.38 dari balik pilar.

Pintu belakang mobil terbuka.

Bu Renata turun.

Ia memakai celana jins biru tua yang pas di kakinya, sepatu bot kulit cokelat setinggi mata kaki, dan sweter rajut tebal berwarna krem dengan leher tinggi yang menutupi setengah dagunya. Di atasnya ia memakai mantel panjang berwarna unta yang terbuka di bagian depan. Rambutnya diikat ekor kuda rendah, dengan beberapa helai yang lepas di sisi wajah dan bergerak karena angin gunung. Ia memakai kacamata hitam besar, yang ia lepas saat menapak tanah, dan wajahnya di bawah cahaya pagi yang berkabut terlihat bersih dan segar dan sedikit merah di pipi karena dingin.

Bibirnya merah bata. Bahkan di Lembang. Bahkan di antara pohon pinus dan kebun teh dan empat puluh dua orang berkaus oranye.

Halaman vila berhenti bergerak.

Mbak Wina, yang sedang mengangkat kardus gorengan bersamaku, melepaskan sisinya. Kardus itu miring dan aku harus menangkapnya dengan dua tangan.

“Ya Allah,” bisik Mbak Wina. “Itu Bu Renata? Pakai jins?”

“Iya, Mbak.”

“Kok kayak foto katalog musim dingin di Korea.”

Di teras vila, Jordi menjatuhkan laptopnya ke kursi rotan. Di dekat bus, Pak Darto, yang sedang mengenakan jaket parka tebal dan kupluk rajut bergambar beruang, berhenti di tengah langkah dan membuka mulut. Dodi, yang berdiri di tangga teras dengan toa di tangan, menurunkan kacamata hitamnya perlahan sampai ke ujung hidung.

Lalu ia mengangkat toanya.

“HADIRIN,” katanya, dengan suara yang tiba-tiba sangat formal, seperti pembawa acara pernikahan. “MOHON BERDIRI. KITA SAMBUT, CHIEF FINANCIAL OFFICER WIRAGUNA GROUP, IBU RENATA HALIM.”

Empat puluh dua orang berkaus oranye, entah kenapa, berdiri. Beberapa bertepuk tangan. Seseorang dari Treasury bersiul.

Bu Renata berhenti di tengah halaman, menatap empat puluh dua orang berkaus oranye yang berdiri dan bertepuk tangan di bawah kabut, dan menatap Dodi dengan toa di tangga teras.

“Dodi,” katanya. “Itu enggak perlu.”

“MOHON MAAF, BU. SAYA TERBAWA SUASANA.”

Bu Renata menghela napas. Lalu ia tersenyum, sedikit, dengan sudut bibir yang terangkat. Lalu ia berjalan menuju teras, melewati Mbak Wina yang membeku, melewati Pak Darto yang masih membuka mulut, melewatiku yang sedang memeluk kardus gorengan dengan dua tangan.

Ia tidak berhenti. Ia tidak menatapku. Tapi saat ia lewat, satu sentimeter dari bahuku, aku mencium melati dan kayu manis di antara bau pinus dan kabut, dan aku mendengar suaranya, sangat pelan, cukup pelan untuk hanya kudengar:

“Kaus oranyenya jelek banget.”

“Iya, Bu.”

“Di kamu tetap kelihatan bagus.”

Ia terus berjalan. Aku hampir menjatuhkan kardus gorengan.


Sambutan pembukaan Bu Renata berlangsung tujuh menit. Ia berdiri di depan perapian batu di ruang tengah vila, dengan mantel unta yang sudah dilepas dan sweter krem yang membuat lehernya terlihat sangat panjang, dan berbicara tentang tahun yang berat, tentang target yang tercapai, tentang terima kasih kepada setiap divisi.

Lalu, di menit keenam, ia berhenti dan menatap ruangan.

“Saya tidak pernah ikut offsite selama tiga tahun,” katanya. “Kalian semua tahu kenapa. Saya tidak perlu menjelaskannya.”

Ruangan hening. Beberapa orang menunduk.

“Tahun ini saya ikut,” lanjutnya. “Karena seseorang bertanya apakah saya mau ikut. Dan karena saya sadar bahwa selama tiga tahun, tidak ada yang bertanya. Semua orang hanya berasumsi saya tidak akan datang.” Ia tersenyum tipis. “Jadi, terima kasih kepada siapa pun yang bertanya. Dan untuk semua orang: tahun depan, tanya saja. Saya mungkin bilang tidak. Tapi tanya.”

Ia tidak menatapku. Ia menatap seluruh ruangan, merata, profesional, seperti CFO yang menatap auditorium.

Tapi empat puluh satu orang di ruangan itu menoleh ke arahku.

Aku menatap lantai kayu dan merasakan telingaku terbakar di udara dingin Lembang, sampai uap tipis hampir keluar dari kedua sisinya.


Lomba dimulai pukul sepuluh.

Dodi memimpin dengan toa dan peluit. Lomba pertama adalah estafet karet gelang dengan sedotan, di mana setiap tim harus memindahkan karet gelang dari satu sedotan ke sedotan berikutnya menggunakan mulut. Tim Treasury menang karena kepala divisinya ternyata pernah juara lomba tujuh belasan tingkat RT tiga tahun berturut-turut.

Lomba kedua adalah Tebak Saldo. Dodi membacakan serangkaian transaksi fiktif, dan peserta harus menghitung saldo akhirnya di kepala tanpa kalkulator. Aku menang. Aku menang tujuh ronde berturut-turut, sampai Dodi menyatakan aku didiskualifikasi karena tidak adil untuk manusia normal.

Lomba ketiga adalah balap karung.

Pak Darto ikut balap karung.

Ia sudah menolak tiga kali. Ia bilang asam uratnya kambuh. Ia bilang punggungnya sakit. Ia bilang ia sudah terlalu tua untuk melompat-lompat di dalam karung beras. Lalu Bu Renata, yang duduk di kursi rotan di teras dengan secangkir teh jahe di tangan, berkata dengan suara yang cukup keras untuk didengar seluruh halaman:

“Pak Darto, kalau Bapak ikut dan finis, saya traktir makan malam satu divisi AP di restoran mana pun yang Bapak pilih.”

Pak Darto melepas jaket parkanya dalam empat detik.

Balap karung itu berlangsung di halaman berumput yang sedikit miring dan basah oleh embun. Ada enam peserta. Pak Darto, dengan kupluk beruang masih di kepala, melompat dengan semangat yang luar biasa selama tujuh meter pertama. Ia memimpin. Ia memimpin dengan selisih satu lompatan dari kepala divisi Treasury yang juara lomba tujuh belasan.

Pada meter kedelapan, kakinya tersangkut di dalam karung.

Ia jatuh ke depan dengan sangat lambat, seperti pohon yang ditebang, dan berguling dua kali di rumput basah, dan berhenti terlentang dengan kupluk beruang yang lepas dan karung yang masih membungkus kakinya sampai pinggang.

Seluruh halaman hening.

“PAK DARTO!” teriak Dodi lewat toa. “PAK DARTO, ANDA MASIH HIDUP?”

Dari rumput, dengan napas terengah dan mata menatap langit berkabut, Pak Darto mengangkat satu jempol.

“Saya mau... finis,” katanya.

Lalu, di depan empat puluh dua orang, Pak Darto berguling ke posisi merangkak dengan karung masih di kakinya, dan merangkak sepanjang dua belas meter sisanya menuju garis finis, sementara seluruh divisi Finance berteriak menyemangatinya dan Dodi memutar lagu kemenangan dari ponselnya lewat toa.

Ia finis terakhir. Ia finis dengan rumput di rambut, lumpur di lutut, dan wajah orang yang baru saja memenangkan Piala Dunia.

Bu Renata berdiri dari kursi rotannya dan bertepuk tangan.

“Pilih restorannya, Pak Darto,” katanya.

Pak Darto, masih terlentang di garis finis, menatap langit dan berkata, dengan sangat jelas dan sangat tulus: “Soto Pak Dul, Bu. Benhil. Katanya enak.”

Aku tersedak teh jaheku.


Malam tiba dengan cepat di Lembang. Pukul enam, langit sudah gelap, dan udara turun ke suhu yang membuat napas berubah menjadi uap. Api unggun dinyalakan di tengah halaman. Jagung bakar dan sate ayam dibagikan. Seseorang mengeluarkan gitar. Seseorang lain mulai menyanyikan lagu-lagu lama yang hanya diingat setengah liriknya.

Aku duduk di bangku kayu di sisi terjauh api unggun, dengan jaket tipisku yang tidak cukup tebal untuk Lembang, dan sebatang jagung bakar di tangan.

Di seberang api, di antara Pak Darto dan Mbak Wina, Bu Renata duduk di kursi lipat dengan mantel unta yang dirapatkan dan selimut kotak-kotak merah di pangkuannya. Cahaya api menari di wajahnya. Ia sedang mendengarkan Mbak Wina bercerita tentang anaknya yang baru bisa berjalan, dan ia tertawa di bagian yang tepat, dan ia menatap Mbak Wina seolah-olah tidak ada yang lebih penting di dunia ini dari bayi Mbak Wina yang baru bisa berjalan.

Aku menatapnya lewat api.

Ia tidak menatapku. Ia sangat konsisten tidak menatapku sepanjang hari. Di lomba, di makan siang, di api unggun. Ia menatap semua orang kecuali aku, dengan cara yang sangat merata dan profesional.

Tapi setiap kali aku mengalihkan pandangan, aku bisa merasakan ia menatapku.

“Mas.”

Aku menoleh. Seorang laki-laki muda duduk di sebelahku di bangku kayu. Kurus, berkacamata tebal, dengan jaket hitam di atas kaus oranye. Aku pernah melihatnya di kantor beberapa kali. Ia dari lantai sembilan belas, kalau tidak salah.

“Riko,” katanya, mengulurkan tangan. “Audit Internal.”

“Bima. AP.”

“Saya tahu.” Ia tersenyum. Senyumnya sopan dan biasa saja. “Semua orang tahu, Mas. Stiker itu.”

“Oh.”

“Mas ikut lomba tebak saldo tadi. Hebat sekali. Tujuh ronde.” Ia menatap api unggun. Ponselnya ada di tangannya. Sejak tadi pagi aku memperhatikan bahwa ponselnya selalu ada di tangannya, layar menyala, seperti orang yang sedang menunggu pesan penting. “Mas memang suka angka, ya? Suka cocokin hal-hal kecil?”

“Itu kerjaan saya.”

“Pekerjaan yang bagus.” Ia mengangguk-angguk. “Kadang orang yang suka cocokin hal-hal kecil menemukan hal-hal besar. Ya kan, Mas?”

Aku menatapnya. Ia tersenyum ke arah api unggun. Ponselnya masih menyala.

“Mungkin,” kataku.

“Mungkin,” ulangnya. Lalu ia berdiri. “Saya ke dalam dulu, Mas. Dingin.”

Ia berjalan pergi. Aku menatap punggungnya sampai ia menghilang di balik pintu vila utama.

Aku tidak tahu kenapa, tapi tengkukku terasa dingin. Lebih dingin dari angin Lembang.


Pukul sembilan malam, karaoke dimulai di ruang tengah vila.

Pak Darto membuka dengan lagu Broery Marantika, dengan mata terpejam dan tangan di dada, persis seperti yang dikatakan semua orang. Lalu Mbak Wina dan tim Treasury menyanyikan lagu dangdut koplo sambil berjoget. Lalu Jordi menyanyikan lagu rock tahun sembilan puluhan dengan suara yang membuat jendela vila bergetar.

Aku keluar diam-diam lewat pintu samping dan berjalan ke bungalo nomor enam, tempatku menginap bersama Dodi, Jordi, dan tiga orang dari Treasury.

Bungalo itu kosong. Semua orang di karaoke. Aku masuk ke kamar kecil di lantai dua yang kubagi dengan Dodi, melepas sepatu, dan berdiri di balkon kecil yang menghadap ke kebun teh yang gelap. Bulan setengah. Kabut tipis turun lagi di antara deretan tanaman teh, berwarna perak di bawah cahaya bulan. Udaranya sangat dingin dan sangat bersih, dan aku bisa melihat napasku sendiri.

Aku tidak mendengar pintu kamar terbuka.

Aku hanya mendengar suara di belakangku, pelan, rendah:

“Kamu kabur dari karaoke.”

Aku berbalik.

Bu Renata berdiri di ambang pintu balkon. Ia sudah melepas mantelnya. Ia hanya memakai sweter krem berleher tinggi dan celana jins dan kaus kaki tebal, tanpa sepatu bot. Di tangannya ada selimut kotak-kotak merah dari api unggun. Rambutnya sudah dilepas dari ikatan ekor kuda, dan jatuh tergerai di bahunya, sedikit berantakan karena angin.

“Kok kamu bisa masuk?” bisikku.

“Pintu bungalonya enggak dikunci. Dodi ninggalin kuncinya di pot bunga depan.” Ia melangkah ke balkon. “Semua orang lagi karaoke. Pak Darto lagi nyanyi lagu Broery yang kedua. Artinya kita punya sebelas menit sebelum lagu ketiga.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Sarah ngasih aku daftar lagu Pak Darto. Dia dapat dari Bu Yuyun.” Ia tersenyum. “Aku udah tanya dulu, tadi. Lewat pesan. Kamu enggak bales.”

Aku mengeluarkan ponselku dari saku. Satu pesan, pukul delapan lewat lima puluh delapan: Boleh aku ke bungalomu? Tanya dulu.

“Maaf,” kataku. “Aku nggak lihat.”

“Kalau gitu aku tanya sekarang.” Ia berdiri di depanku di balkon yang sempit, dengan selimut merah di tangannya. “Boleh aku di sini?”

“Boleh.”

Ia mengangkat selimut merah itu dan membungkuskannya di bahuku. Lalu, tanpa melepaskan ujung-ujung selimut itu, ia melangkah masuk ke dalamnya. Ke dalam selimut, bersamaku. Ke depanku. Selimut itu sekarang membungkus kami berdua, dan punggungnya menempel di dadaku, dan kepalanya bersandar di bahuku, dan kami berdiri di balkon bungalo nomor enam menatap kebun teh yang diselimuti kabut perak di bawah bulan setengah.

“Kamu dingin,” katanya.

“Sedikit.”

“Jaket kamu kelewat tipis buat Lembang.”

“Aku nggak punya yang lebih tebal.”

“Aku tahu.” Ia menarik tanganku dari bawah selimut dan melingkarkannya di pinggangnya, di atas sweter krem yang lembut dan hangat. “Sekarang enggak dingin lagi.”

Aku tidak bisa bicara. Aku hanya berdiri dengan tangan di pinggangnya dan dagu di atas kepalanya, dan mencium rambutnya yang wangi melati dan kayu manis dan asap api unggun, dan menatap kebun teh, dan menghitung napasnya. Aku tidak sengaja menghitung. Aku tidak bisa berhenti.

“Tadi pagi,” katanya pelan. “Waktu aku bilang makasih ke siapa pun yang bertanya.”

“Iya.”

“Empat puluh satu orang noleh ke kamu.”

“Empat puluh.”

“Empat puluh satu. Kamu enggak ngitung diri kamu sendiri. Kamu nunduk.”

Ia berbalik di dalam selimut. Pelan. Sekarang ia menghadapku, dengan wajah satu jengkal di bawah wajahku, dengan bulan di matanya dan kabut di belakangnya.

“Bima.”

“Iya.”

“Tanya dulu.”

“Tanya apa?”

Ia tersenyum. Senyum yang sangat berbahaya. Senyum yang membuatku mengerti kenapa Satrio Hadikusumo menunggu tiga tahun.

“Boleh aku menciummu?” tanyanya.

Aku menatapnya. Lalu, karena aku tidak bisa berbohong dan tidak ingin, aku menjawab:

“Boleh.”

Ia menciumku.

Ini bukan ciuman di lift. Ini juga bukan ciuman di ruangannya. Ini ciuman yang pelan dan dalam dan tidak tergesa-gesa, di bawah bulan, di dalam selimut kotak-kotak merah yang membungkus kami berdua seperti satu orang. Ini ciuman yang membuat dinginnya Lembang hilang. Tangannya naik ke leherku, dingin, lalu hangat. Tanganku di pinggangnya bergeser, sendiri, tanpa izin dariku, ke punggungnya, ke bawah sweter krem, ke kulit punggungnya yang hangat dan halus.

Ia menarik napas tajam di bibirku.

Aku membeku. “Maaf—”

“Jangan.” Suaranya serak. “Jangan berhenti.”

Ia mundur selangkah. Lalu satu langkah lagi. Menarikku bersamanya. Keluar dari balkon. Ke dalam kamar yang gelap, dengan dua tempat tidur kecil dan lampu tidur yang belum dinyalakan. Selimut merah jatuh di ambang pintu balkon. Punggungnya menyentuh dinding kamar. Tangannya di tengkukku. Tanganku di punggungnya, di bawah sweter. Napasnya cepat. Napasku tidak ada.

“Bima,” bisiknya di telingaku.

Aku tidak bisa menjawab. Aku tidak bisa berpikir. Aku tidak bisa menghitung. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, di kepalaku tidak ada satu angka pun.

Tangannya turun dari tengkukku ke kerah kausku. Kaus oranye yang jelek. Balance Sheet, Balance Life. Jari-jarinya meraih ujung bawahnya.

Lalu pintu bungalo di lantai bawah terbuka dengan keras.

“BIM! BIIIIM!”

Kami membeku.

Langkah kaki berat menaiki tangga kayu. Dua anak tangga sekaligus. Bunyi toa yang terbentur dinding.

“BIM, LO DI ATAS? KARAOKE, BIM! LO DIPANGGIL! LAGU DANGDUT! PAK DARTO NANTANG LO DUET! LO WAJIB, BIM! WAJIB!”

Renata menatapku dengan mata yang membesar.

Aku menatap Renata.

Lalu, dengan kecepatan dan ketenangan seorang CFO yang sudah tiga belas tahun menghadapi audit mendadak, Renata merapikan sweternya dalam satu gerakan, mendorongku dua langkah ke belakang, dan menyelinap ke balik tirai balkon yang tebal, berwarna cokelat, dan panjang sampai ke lantai.

Tirai itu bergoyang sekali. Lalu diam.

Pintu kamar terbuka.

Dodi berdiri di ambang pintu dengan toa di satu tangan dan sebotol teh botol di tangan yang lain. Ia memakai kupluk beruang milik Pak Darto. Wajahnya merah karena udara dingin dan karena semangat.

“BIM! Lo ngapain gelap-gelapan?”

“Aku... aku mau tidur, Dod.”

“Tidur? Jam sembilan? Di offsite?” Dodi menyalakan lampu kamar. Ia menatapku. “Bim. Rambut lo kenapa?”

Aku menyentuh rambutku. Berantakan. Sangat berantakan, di bagian belakang, di tempat tangan seseorang tadi meremasnya.

“Angin, Dod. Di balkon.”

“Kaus lo kenapa naik sebelah?”

Aku menurunkan kausku.

Dodi menyipitkan mata. Ia menatap kamar. Dua tempat tidur kecil yang masih rapi. Tas ranselku di lantai. Pintu balkon yang terbuka, dengan angin dingin yang masuk dan menggoyangkan tirai cokelat panjang.

Lalu matanya turun ke lantai di ambang pintu balkon. Ke selimut kotak-kotak merah yang tergeletak di sana.

Selimut yang sama yang tadi menutupi pangkuan Bu Renata di api unggun.

Lalu matanya bergeser sedikit lagi, ke bagian bawah tirai cokelat panjang. Di sana, di antara ujung tirai dan lantai kayu, tersembul dua ujung kaus kaki tebal berwarna krem.

Dodi menatap kaus kaki itu selama tiga detik.

Lalu ia menatapku.

Aku menatapnya. Telingaku, aku yakin, saat itu berwarna seperti lampu darurat.

Dodi menarik napas sangat dalam. Ia mengangkat toanya ke mulut. Aku menutup mata, siap untuk mati.

Lalu Dodi menurunkan toanya lagi.

“Bim,” katanya, dengan suara yang sangat pelan dan sangat normal. Suara yang tidak pernah kudengar darinya selama dua tahun. “Pak Darto nantang lo duet. Lagu Rhoma Irama. Gue bilang ke dia lo lagi sakit perut. Lo nggak usah turun.”

“...Makasih, Dod.”

“Gue juga bakal bilang ke semua orang di karaoke kalau Bu Renata udah balik ke bungalo VIP. Capek. Mau tidur.” Dodi menatap ujung kaus kaki krem di bawah tirai. “Tidur yang nyenyak. Sendirian. Di bungalo VIP.”

“Iya, Dod.”

Dodi mengangguk. Lalu ia mematikan lampu kamar. Lalu ia mundur ke ambang pintu.

“Satu hal lagi, Bim,” katanya dari kegelapan.

“Apa?”

“Taruhan kategori offsite. Gue pasang sendiri tadi pagi.” Jeda. “Gue baru menang lima ratus ribu.”

Pintu tertutup.

Langkah kakinya turun tangga. Pelan, kali ini. Pintu bungalo di lantai bawah terbuka dan menutup. Lalu, dari kejauhan, dari arah vila utama, terdengar suara toa:

“HADIRIN! BIMA SAKIT PERUT! BU RENATA SUDAH TIDUR DI BUNGALO VIP! LAGU BERIKUTNYA, PAK DARTO SOLO!”

Seluruh vila bersorak.

Tirai cokelat panjang bergoyang. Renata keluar dari baliknya dengan rambut berantakan, sweter yang sedikit miring, dan wajah yang merah dari dahi sampai ke leher.

Kami saling menatap di kamar yang gelap.

Lalu ia menutup wajah dengan kedua tangan, merosot duduk di tempat tidur Dodi, dan tertawa sampai seluruh tubuhnya bergetar, tanpa suara, sampai air mata keluar dari sudut matanya.

“Kaus kaki,” katanya dari balik tangannya. “Dia lihat kaus kakiku.”

“Iya.”

“Aku CFO. Aku ngumpet di balik tirai. Di offsite. Dan staf AP lihat kaus kakiku.”

“Dia menang lima ratus ribu,” kataku.

Renata tertawa lebih keras. Ia jatuh ke samping di tempat tidur Dodi, memeluk bantal, dan tertawa sampai napasnya habis.

Aku duduk di tempat tidurku sendiri, di seberangnya, dengan rambut berantakan dan kaus oranye yang sudah kuturunkan dan napas yang belum kembali normal. Aku memungut selimut kotak-kotak merah dari lantai dan menyerahkannya kepadanya.

Ia menerimanya. Ia berhenti tertawa. Ia menatapku dari tempat tidur Dodi, dalam cahaya bulan yang masuk dari pintu balkon yang terbuka.

“Kita hampir,” katanya pelan.

“Iya.”

“Kamu enggak ngehentiin aku kali ini.”

“Nggak,” kataku. Aku menatap lantai. “Kalau Dodi nggak datang, aku nggak tahu aku bakal bisa apa nggak.”

Ia diam lama.

“Itu,” katanya akhirnya, “hal paling jujur yang pernah dibilang laki-laki ke aku.”

Lalu ia berdiri, membungkus dirinya dengan selimut merah, dan berjalan ke pintu kamar. Di ambang pintu, ia berhenti.

“Tanya dulu,” katanya.

“Tanya apa?”

“Boleh aku balik ke bungalo VIP sekarang? Sebelum aku berubah pikiran dan enggak balik?”

Aku menatapnya. Aku memikirkan jawabannya. Aku memikirkan bahwa aku ingin bilang tidak. Aku memikirkan bahwa aku belum menikahinya. Aku memikirkan Ibu, yang akan menjewer telingaku sampai merahnya permanen.

“Boleh,” kataku. “Aku antar sampai pintu.”

“Kalau kamu antar, aku enggak bakal masuk.”

“...Aku antar sampai tangga.”

Ia tersenyum. Lalu ia pergi, turun tangga dengan kaus kaki tebal yang tidak berbunyi di kayu, dan aku mendengar pintu bungalo terbuka dan menutup dengan sangat pelan.

Aku berdiri di balkon dan menatapnya berjalan menyusuri jalan setapak di antara pohon pinus menuju bungalo VIP di ujung bukit, dengan selimut merah di bahu, di bawah cahaya bulan setengah.

Lalu aku melihat sesuatu.

Di antara pepohonan pinus, tidak jauh dari jalan setapak, ada cahaya kecil. Bukan senter. Lebih kecil. Lebih putih. Cahaya layar ponsel, yang menyala selama dua detik, lalu mati.

Aku menatap tempat itu. Tidak ada apa-apa lagi. Hanya pohon pinus dan kabut.

Kunang-kunang, mungkin. Di Lembang ada kunang-kunang.

Aku masuk ke kamar dan menutup pintu balkon.

Tapi tengkukku terasa dingin lagi. Lebih dingin dari angin Lembang. Seperti tadi, di api unggun, saat seorang laki-laki muda dari Audit Internal duduk di sebelahku dengan ponsel yang selalu menyala dan bertanya apakah orang yang suka mencocokkan hal-hal kecil kadang menemukan hal-hal besar.