Chapter Four
Klaim Yatim
POV: Bima
Setiap akhir Oktober, divisi Accounts Payable melakukan sesuatu yang oleh Dodi disebut bersih-bersih gudang dan oleh Pak Darto disebut masa paling berbahaya dalam hidup saya.
Namanya rekonsiliasi pra-audit. Semua tagihan yang belum dibayar, semua klaim yang belum disetujui, semua uang muka yang belum dipertanggungjawabkan, ditarik keluar dari sistem dan diperiksa satu per satu. Setiap angka yang menggantung harus punya alasan. Setiap alasan harus punya bukti. Auditor eksternal datang awal Desember, dan mereka tidak suka angka yang menggantung.
Aku menyukai minggu ini. Aku tidak pernah mengatakannya kepada siapa pun, karena Dodi akan menganggapku sakit jiwa, tapi aku menyukainya. Ada sesuatu yang menenangkan dalam mengambil hal-hal yang berantakan dan membuatnya rapi kembali. Seperti menyetrika kemeja. Seperti melipat sarung setelah salat.
Hari Rabu, dua hari setelah email itu, aku sedang menyusun daftar klaim karyawan yang statusnya masih menunggu persetujuan lebih dari sembilan puluh hari. Biasanya isinya membosankan: klaim bensin yang lupa ditandatangani manajer, klaim makan siang yang kuitansinya buram, klaim taksi dari karyawan yang sudah resign dan tidak bisa dihubungi.
Aku mengurutkan daftar itu berdasarkan tanggal pengajuan. Yang paling lama ada di paling atas.
EXP-2023-0712
Pemohon: Hendra Wiraguna — Direktur Pengembangan Bisnis
Tanggal pengajuan: 03 Juli 2023
Kategori: Jamuan (Pribadi — Akan Dipotong dari Tunjangan)
Nominal: Rp4.850.000
Status: Menunggu persetujuan
Penyetuju: —
Keterangan: Deposit Lumière, Menteng. Anniversary pert…
Kolom keterangannya terpotong. Sistem kami hanya menampilkan empat puluh karakter pertama, dan untuk membaca sisanya aku harus membuka rincian klaim.
Aku tidak membukanya.
Aku tahu nama itu. Semua orang di gedung ini tahu nama itu, walaupun tidak ada yang menyebutnya keras-keras. Hendra Wiraguna. Keponakan Pak Gunawan. Direktur termuda dalam sejarah perusahaan. Suami Bu Renata, selama tujuh bulan, sampai suatu pagi di bulan Agustus tiga tahun lalu, ketika ia tidak bangun lagi.
Aku belum bekerja di sini waktu itu. Aku membacanya di berita, di kamar kos Depok, di layar ponsel retak: Direktur Wiraguna Group Meninggal Mendadak di Usia 35 Tahun, Diduga Aneurisma Otak. Ada fotonya di artikel itu. Laki-laki tinggi berkemeja putih dengan senyum lebar, berdiri di samping seorang perempuan berkebaya krem yang wajahnya dibuat buram oleh redaksi, karena ia bukan tokoh publik.
Aku tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu siapa dia. Aku mengenali cara ia menyelipkan rambut ke belakang telinga kiri.
Malam itu aku duduk di kamar kos dan tidak bisa tidur sampai subuh, padahal aku tidak punya hak untuk sedih. Aku hanya mahasiswa yang pernah duduk di bangku paling depan kelasnya selama empat minggu. Aku bahkan tidak pernah mengiriminya surat.
“Bim. Bim. Lo bengong lagi.”
Aku menoleh. Dodi sedang mengintip layarku dari atas sekat, kepalanya miring seperti burung kakaktua.
“Lo lagi liat apa? Kok muka lo kayak abis liat setan— Oh.”
Ia membaca layarku. Wajahnya berubah.
“Oh,” ulangnya, lebih pelan. “Itu. Klaim itu.”
“Kamu tahu?”
“Semua orang AP tahu, Bim. Itu klaim yatim. Udah tiga tahun nongkrong di situ.”
“Klaim yatim?”
“Ya, yatim. Nggak ada bapaknya. Yang ngajuin udah nggak ada, yang harusnya nyetujuin juga nggak jelas siapa, soalnya direktur kan nyetujuinnya ke CEO, tapi Pak Gunawan nggak mau sentuh. Mau ditolak, nggak ada yang berani. Mau disetujuin, nggak ada yang berani. Mau dihapus, apalagi.” Dodi menghela napas. “Tiap tahun auditor nanya. Tiap tahun Pak Darto jawab, ‘Sedang dalam proses, Pak.’ Tiga tahun ‘sedang dalam proses’.”
“Kok nggak ada yang bilang ke Bu Renata?”
Dodi menatapku seperti aku baru saja bertanya kenapa tidak ada yang memberi tahu ikan bahwa ia basah.
“Bim,” katanya sabar. “Siapa yang mau naik ke lantai delapan belas, ketok pintu janda yang suaminya meninggal mendadak, terus bilang, ‘Permisi, Bu, almarhum suami Ibu punya utang reimburse empat juta delapan ratus lima puluh ribu yang belum kelar, mohon arahannya’?”
Aku diam.
“Nggak ada,” jawab Dodi sendiri. “Nggak ada yang mau. Makanya namanya klaim yatim.”
Pukul sepuluh pagi, Pak Darto keluar dari ruang kacanya dengan wajah orang yang baru saja ditelepon dari rumah sakit.
“Semua,” katanya. “Rapikan meja. Bu Renata turun.”
Seluruh lantai tujuh membeku.
“Turun ke sini?” tanya Mbak Wina.
“Ke sini. Rapat persiapan audit, di ruangan ini.” Pak Darto melirikku, lalu buru-buru melirik ke tempat lain. “Beliau minta staf yang pegang rekonsiliasi klaim ikut rapat.”
Staf yang pegang rekonsiliasi klaim adalah aku.
Dua puluh pasang mata menoleh ke arahku. Dari arah Treasury, seseorang bersiul pelan. Dari pojok, seseorang memutar nada dering notifikasi email keras-keras, dan disambut tawa yang langsung dibungkam Pak Darto dengan tatapan yang mengatakan cicilan Cibubur.
Empat menit kemudian, pintu lift terbuka.
Aku sudah melihat Bu Renata ratusan kali selama dua tahun. Dari jauh. Dari balik kaca mobil di basement. Dari ujung lobi saat ia berjalan menuju lift eksekutif. Dari baris paling belakang saat town hall tahunan. Tapi aku belum pernah melihatnya berjalan melintasi lantai tujuh, dan ternyata itu pengalaman yang sama sekali berbeda. Seperti melihat burung bangau putih berjalan di tengah pasar ikan.
Hari ini ia memakai blazer krem dengan kemeja sutra putih di dalamnya, rok pensil berwarna cokelat tua, dan heels nude yang membuat kakinya terlihat lebih panjang dari yang secara anatomis masuk akal. Rambutnya diikat rendah di tengkuk, dan beberapa helai yang lepas jatuh di sisi wajahnya. Bibirnya tetap merah bata. Ia membawa satu map tipis dan satu pulpen merah, dan ia berjalan seolah lantai tujuh adalah karpet merah yang dibentangkan khusus untuknya, padahal karpet lantai tujuh berwarna biru tua dan ada noda kopi di dekat dispenser yang sudah tiga tahun tidak hilang.
Lantai tujuh tidak bersuara sama sekali. Bahkan printer di pojok, yang biasanya berbunyi seperti orang batuk, berhenti mencetak.
Saat ia lewat di depan mejaku, aku menunduk ke layar. Aku tidak berani menatapnya. Tapi wanginya sempat lewat: melati, kayu manis, dan sesuatu yang seperti sabun mahal.
Ia masuk ke ruang kaca Pak Darto. Pintu tertutup.
Di sebelahku, Dodi menghembuskan napas yang ternyata ia tahan sejak lift terbuka.
“Gila,” bisiknya. “Bu Renata lewat, Wi-Fi lantai ini langsung lemot. Semua orang berhenti kerja. Liat. Liat Mbak Wina. Dia masih megang gorengan di udara.”
Aku melihat. Mbak Wina memang masih memegang bakwan setengah gigit, persis di depan mulutnya, membeku seperti patung lilin.
“Bim,” bisik Dodi lagi. “Lo ditunggu.”
Ruang kaca Pak Darto kecil. Ada satu meja, tiga kursi, satu lemari arsip, dan satu pot tanaman lidah mertua yang sudah setengah kering karena Pak Darto lupa menyiramnya sejak Lebaran. Bu Renata duduk di kursi Pak Darto. Pak Darto duduk di kursi tamu. Aku berdiri, karena tidak ada kursi ketiga, sampai Bu Renata menatapku dan berkata, “Ambil kursi,” dan Pak Darto buru-buru keluar mengambilkan kursi lipat dari pantry.
Selama empat puluh detik Pak Darto pergi, kami hanya berdua di ruangan itu.
Bu Renata membuka mapnya. Ia tidak menatapku. Ia menatap kertas di depannya, dan menggaris bawahi sesuatu dengan pulpen merah.
“Satu hal sebelum kita mulai,” katanya tanpa mengangkat kepala.
“Ya, Bu.”
“Surat itu tidak dibahas di kantor. Enggak di rapat, enggak di koridor, enggak di lift. Di gedung ini, kamu staf AP dan saya CFO. Itu aja. Jelas?”
“Jelas, Bu.”
“Bagus.”
Pak Darto kembali membawa kursi lipat yang salah satu kakinya sedikit pendek. Aku duduk dan bergoyang sedikit ke kiri. Rapat dimulai.
Selama dua puluh menit pertama, rapat berjalan normal. Bu Renata bertanya, Pak Darto menjawab, aku membacakan angka. Jumlah tagihan terbuka per vendor. Jumlah uang muka yang belum dipertanggungjawabkan. Selisih antara buku besar dan laporan bank, yang menurut catatanku tinggal satu koma dua juta dan bisa dijelaskan dengan biaya administrasi transfer luar negeri.
“Satu koma dua juta,” ulang Bu Renata. “Dari total berapa?”
“Dari total dua ratus empat belas miliar enam ratus juta, Bu.”
“Kamu yakin itu biaya transfer?”
“Yakin, Bu. Saya cocokin manual. Empat puluh tujuh transaksi. Rata-rata dua puluh lima ribu per transaksi.”
Ia menatapku untuk pertama kali sejak rapat dimulai. “Kamu cocokin manual empat puluh tujuh transaksi?”
“Iya, Bu.”
“Kenapa enggak pakai sistem?”
“Sistemnya bisa salah, Bu. Mata saya juga bisa salah. Tapi kalau dua-duanya bilang angka yang sama, saya lebih tenang.”
Sudut bibirnya bergerak. Hampir tidak kelihatan.
“Teliti,” katanya. “Kayak yang kamu tulis sendiri.”
Pak Darto menoleh ke arahku dengan bingung. Aku menatap lurus ke depan dan berusaha keras untuk tidak membiarkan telingaku melakukan apa yang sudah mulai mereka lakukan.
Rapat berlanjut. Bu Renata bertanya tentang tagihan vendor yang jatuh tempo bulan depan. Aku menjawab. Ia mencatat sesuatu, lalu mengetuk-ngetukkan pulpen merah di dagunya.
“Saya pakai pulpen merah, ya?” katanya sambil lalu, kepada siapa pun. “Enggak pernah hitam. Menarik, ada yang merhatiin hal kayak gitu.”
Pak Darto menatap pulpennya, lalu menatapku, lalu menatap pulpennya lagi, dengan wajah orang yang merasa sedang ketinggalan satu episode sinetron.
“Pulpen merah bagus, Bu,” katanya ragu. “Kelihatan di kertas.”
“Terima kasih, Pak Darto.”
Lima menit kemudian, saat aku menjelaskan jadwal pembayaran vendor kuartal empat, ia menyelipkan rambut yang lepas ke belakang telinga kirinya.
Lalu berhenti. Tangannya masih di telinga. Ia menatapku.
“Ini angka penting?” tanyanya.
“Maaf, Bu?”
“Saya barusan nyelipin rambut ke belakang telinga kiri. Kata seseorang, saya begitu kalau mau ngejelasin angka yang penting. Jadi saya tanya, ini angka penting?”
Telingaku terbakar. Aku bisa merasakannya, panas yang menjalar dari cuping sampai ke tengkuk.
“Itu bukan angka penting, Bu,” jawabku. “Itu cuma jadwal.”
“Oh.” Ia menurunkan tangannya. “Kalau gitu saya salah.”
Pak Darto memandangi kami bergantian. Mulutnya sedikit terbuka. “Saya tidak mengerti,” katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi di ruangan saya.”
“Enggak ada yang terjadi, Pak Darto,” kata Bu Renata dengan tenang. “Lanjut, Bima.”
Aku melanjutkan. Suaraku sedikit lebih tinggi dari biasanya. Kursi lipatku bergoyang ke kiri.
Lalu tibalah daftar klaim karyawan yang menunggu persetujuan lebih dari sembilan puluh hari.
Aku membacanya dari atas. Klaim bensin. Klaim taksi. Klaim makan siang. Aku melewati baris pertama dengan sengaja, karena baris pertama tidak bisa dibacakan begitu saja di ruangan sempit dengan lidah mertua setengah kering. Aku membaca baris kedua, ketiga, keempat.
Bu Renata mengangkat tangan.
“Kamu ngelewatin satu.”
Aku berhenti. Di sebelahku, Pak Darto menegang seperti kucing yang mendengar bunyi plastik.
“Baris pertama,” kata Bu Renata. “Kamu lompatin.”
“Bu,” kata Pak Darto cepat. “Itu, eh, itu sedang dalam proses—”
“Pak Darto, saya enggak nanya ke Bapak.” Suaranya tidak keras. Tidak perlu keras. “Bima. Baris pertama.”
Aku menatap layar laptopku. Aku menatapnya lama, seolah-olah huruf-hurufnya bisa berubah kalau aku menatapnya cukup lama. Mereka tidak berubah.
“EXP-2023-0712,” bacaku pelan. “Pemohon: Hendra Wiraguna. Tanggal pengajuan tiga Juli dua ribu dua puluh tiga. Kategori jamuan pribadi. Nominal empat juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah. Status menunggu persetujuan.”
Ruangan itu sangat sunyi.
Aku tidak menatap Bu Renata. Aku menatap layar. Tapi dari sudut mata, aku melihat tangannya yang memegang pulpen merah berhenti bergerak. Pulpen itu menempel di kertas, dan setitik tinta merah mulai menyebar perlahan di bawah ujungnya, membentuk lingkaran kecil yang makin lama makin besar.
“Lumière,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Iya, Bu. Menteng.”
Lingkaran tinta merah itu makin besar.
Pak Darto membuka mulut, menutupnya, lalu membukanya lagi. “Bu, kalau Ibu mau, kami bisa langsung hapus dari sistem. Saya yang tanda tangan. Supaya Ibu tidak perlu—”
“Jangan.”
Satu kata. Pelan. Tapi Pak Darto langsung diam seolah-olah mulutnya dijahit.
Bu Renata mengangkat pulpennya dari kertas. Ia menatap lingkaran tinta itu sebentar, lalu menutup mapnya.
“Biarin dulu,” katanya. “Jangan dihapus. Jangan disetujui. Jangan ditolak. Biarin aja begitu.”
“Baik, Bu,” jawab Pak Darto dan aku bersamaan.
“Kita lanjut minggu depan.” Ia berdiri. Pak Darto ikut berdiri begitu cepat sampai kursinya menabrak lemari arsip. Aku berdiri juga, dan kursi lipatku jatuh ke kiri dengan bunyi keras yang memalukan.
Bu Renata berjalan ke pintu. Lalu berhenti dengan tangan di gagang pintu, punggung menghadap kami.
“Pak Darto,” katanya. “Boleh saya ngomong sama Bima sebentar? Dua menit.”
Pak Darto menatapku dengan wajah orang yang menyerahkan anaknya ke dokter gigi. “Tentu, Bu. Tentu. Silakan. Saya, eh, saya mau cek pantry. Martabak. Ada martabak.”
Ia keluar. Aku memang mendengar, dari kejauhan, suara Jordi yang ceria berteriak, “MAS BIMA, TELUR BEBEK EMPAT!” disusul suara seluruh lantai tujuh yang menyuruhnya diam.
Pintu tertutup. Bu Renata masih berdiri membelakangiku.
“Surat itu tidak dibahas di kantor,” kataku pelan, sebelum aku sempat mencegah mulutku sendiri. “Ibu yang bilang.”
Ia menoleh. Ada sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat. Bukan marah. Bukan geli. Sesuatu yang lebih lelah dari keduanya.
“Saya yang bilang,” katanya. “Dan saya juga yang ngelanggar. Empat kali, dalam satu rapat. Kamu ngitung?”
“Tiga kali, Bu. Yang soal teliti, pulpen merah, dan rambut.”
“Empat. Tadi waktu saya bilang ‘Lumière’, saya juga lagi mikirin surat itu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Ia bersandar di pintu dan melipat tangan. Dengan kemeja sutra putih dan cahaya neon ruang kaca Pak Darto yang sama sekali tidak menyanjung, ia tetap terlihat seperti orang yang salah masuk dari majalah ke laporan keuangan.
“Satu pertanyaan,” katanya. “Kenapa kamu masuk ke Wiraguna?”
“Karena gajinya cukup buat adik saya kuliah, Bu.”
“Itu alasan pertama. Kemarin kamu udah bilang. Saya nanya alasan yang kedua.”
Aku menatapnya. Aku memikirkan semua jawaban yang bisa kuberikan. Jawaban yang aman. Jawaban yang sopan. Jawaban yang tidak akan membuat telingaku menyala.
Tapi aku sudah memutuskan, dua hari lalu, di ruangannya, bahwa aku tidak akan mengatakan isi surat itu bohong kalau ada yang bertanya.
“Karena nama Ibu ada di laporan tahunannya, Bu,” kataku. “Halaman empat belas. Struktur organisasi. VP Finance, waktu itu.”
Bu Renata tidak bergerak.
“Saya nggak ada niat apa-apa,” lanjutku cepat. “Saya nggak pernah naik ke lantai delapan belas. Nganter dokumen sendiri juga nggak pernah. Saya cuma ingin tahu Ibu baik-baik saja. Dari jauh. Itu saja, Bu. Saya tahu itu aneh.”
“Dua tahun,” katanya.
“Dua tahun, tiga bulan, tiga belas hari, Bu.”
“Terus selama dua tahun itu, menurut kamu, saya baik-baik saja?”
Aku diam.
Ia menunggu.
“Tidak, Bu,” jawabku akhirnya.
Bu Renata menatapku untuk waktu yang sangat lama. Di luar dinding kaca, aku bisa melihat seluruh lantai tujuh pura-pura bekerja sambil melirik ke arah kami. Mbak Wina akhirnya menggigit bakwannya. Dodi memegang ponsel secara horizontal, yang berarti ia sedang merekam, dan aku membuat catatan mental untuk menghapus ponselnya nanti.
Lalu Bu Renata membuka pintu.
“Klaim itu,” katanya tanpa menoleh. “Jangan disentuh sampai saya bilang.”
“Baik, Bu.”
Ia keluar. Lantai tujuh kembali membeku saat ia lewat. Heels nude-nya mengetuk karpet biru tua, melewati noda kopi dekat dispenser, melewati meja Dodi yang langsung menyembunyikan ponselnya di laci, melewati Jordi yang berdiri dengan kotak martabak terbuka dan wajah penuh harap. Ia tidak berhenti. Pintu lift terbuka dan menutup.
Aku duduk kembali di kursi lipat yang kakinya pendek, dan kursi itu bergoyang ke kiri.
Di laptopku, baris pertama daftar klaim masih menyala.
Keterangan: Deposit Lumière, Menteng. Anniversary pert…
Aku tidak membukanya. Aku hanya mengambil buku catatan cokelat dan menulis satu baris di halaman paling belakang, di bawah daftar faktur bulan Oktober, di atas selembar kertas lama yang terlipat dua kali.
EXP-2023-0712. Jangan disentuh sampai beliau bilang.
Lalu, setelah ragu cukup lama, aku menambahkan satu baris lagi di bawahnya.
Beliau tidak baik-baik saja.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim reading
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong