Chapter Twenty Four
Pesan Pertama
POV: Renata
Kamis pagi pukul enam lewat tiga puluh, ponselku bergetar di meja samping tempat tidur.
Aku sudah bangun. Demamku turun semalam, tepat setelah Bima pulang dan Bi Asih memaksaku menghabiskan sisa sop ayam yang ia simpan di kulkas. Tiga puluh enam koma delapan, kata termometer pukul sebelas malam. Aku memotretnya dan hampir mengirimkannya kepada Bima, lalu aku sadar bahwa mengirimkan foto termometer kepada seseorang pukul sebelas malam adalah hal yang hanya dilakukan oleh perempuan yang sedang jatuh cinta seperti anak SMA.
Aku mengirimkannya.
Ia membalas dalam empat puluh tiga detik: Normal. Alhamdulillah. Tidur, Renata.
Pagi ini, pukul enam lewat tiga puluh, layar ponselku menyala dengan namanya.
Aku tidak langsung membukanya. Aku berbaring di tempat tidur dan menatap namanya di layar selama beberapa detik, karena sesuatu terasa berbeda. Selama tiga minggu terakhir, setiap pesan Bima adalah balasan. Balasan atas pertanyaanku, atas perintahku, atas pesan yang kukirim lebih dulu. Bima tidak pernah mengirim pesan lebih dulu. Ia menunggu. Selalu menunggu.
Pesan pukul enam lewat tiga puluh ini bukan balasan.
Aku membukanya.
Selamat pagi, Renata.
Aku mau tanya dulu, sesuai syarat kemarin: boleh aku bilang sesuatu? Kamu tidak perlu jawab.
Aku tersenyum ke layar ponsel. Aku mengetik: Boleh.
Empat puluh tiga detik.
Hari ini kamu cantik.
Aku belum lihat kamu. Tapi datanya sudah konsisten empat tahun, jadi aku cukup yakin.
Itu saja. Semoga hari ini tidak terlalu berat. Jangan lupa makan siang.
Aku membaca pesan itu tiga kali. Lalu aku menarik selimut sampai menutupi wajah dan tertawa di bawahnya seperti anak kecil, sampai Bi Asih mengetuk pintu kamar dan bertanya apakah aku baik-baik saja.
Aku kembali ke kantor pukul delapan.
Sarah menyambutku di depan lift lantai delapan belas dengan tablet di pelukan dan wajah datar yang sempurna.
“Selamat pagi, Bu. Selamat datang kembali. Suhu badan?”
“Normal.”
“Tiga puluh enam koma delapan semalam,” kata Sarah. “Pak Rahmat yang bilang. Pak Rahmat dapat dari Bi Asih.” Ia mengetuk tabletnya. “Jadwal hari ini: pukul sembilan, rapat direksi bulanan di lantai dua puluh, sampai pukul sebelas. Pukul sebelas tiga puluh, auditor eksternal, rapat yang digeser dari kemarin. Pukul dua, saya kosongkan. Ibu ada janji pribadi di luar kantor, sesuai permintaan Ibu kemarin malam pukul sembilan lewat dua belas.”
“Terima kasih.”
“Bu,” kata Sarah, mengikutiku ke ruanganku. “Teh.”
“Madu satu sendok.”
“Sudah, Bu.” Ia meletakkan cangkirnya. Lalu ia tidak langsung keluar. Ia berdiri di depan mejaku, menatapku dengan wajah datar selama lima detik penuh.
“Apa?” tanyaku.
“Ibu tersenyum, Bu.”
“Saya enggak senyum.”
“Ibu tersenyum dari lift sampai ke kursi. Empat puluh tiga langkah. Saya hitung.” Sarah mengangkat tabletnya. “Saya mencatatnya di kalender, Bu. Sebagai insiden.”
“Insiden apa?”
“Insiden bersejarah, Bu.” Ia menunjukkan layar tabletnya. Di kalender hari Kamis, di slot pukul delapan, ada entri baru berwarna hijau muda: 08.02 — CFO tersenyum di koridor. Durasi: ±40 detik. Penyebab: tidak diketahui (diketahui).
Aku menatap entri itu. Aku menatap Sarah.
“Hapus,” kataku.
“Tidak bisa, Bu. Kalender ini tersinkronisasi dengan server. Jordi yang bilang. Sekali disimpan, tersimpan selamanya.”
“Sarah.”
“Ya, Bu.” Ia berbalik ke pintu. Di ambang pintu, ia berhenti. “Bu. Saya senang Ibu sudah sembuh.”
Ia keluar sebelum aku bisa menjawab. Aku menatap pintu yang tertutup, lalu menyesap teh dengan madu, dan menyadari bahwa aku masih tersenyum.
Rapat direksi bulanan di lantai dua puluh adalah rapat yang paling kubenci dalam sebulan.
Ruang rapat lantai dua puluh berdinding panel kayu jati gelap dan berkarpet merah anggur, dengan meja oval panjang dari kayu mahoni yang bisa menampung dua puluh orang. Di dinding tergantung lukisan cat minyak pendiri Wiraguna Group, kakek Hendra, dengan jas tiga potong dan kumis tebal, menatap ke bawah dengan wajah yang tidak setuju dengan apa pun. Lampu gantung kristal. Kursi kulit berwarna cokelat tua yang sandarannya terlalu tinggi, seperti singgasana.
Om Gunawan duduk di ujung meja, di bawah lukisan ayahnya.
Aku duduk di sisi kanannya, di kursi CFO. Kursi yang sama yang dulu, selama tujuh bulan, diduduki Hendra di rapat ini, di sisi kiri Om Gunawan, sebagai direktur pengembangan bisnis. Kursi Hendra sekarang diduduki direktur lain. Tapi setiap bulan, saat aku duduk di ruangan ini, aku masih melihat Hendra di kursi itu. Bersandar terlalu santai. Mengedipkan mata kepadaku saat Om Gunawan bicara terlalu lama.
Hari ini, saat aku duduk, aku tidak melihat Hendra di kursi itu.
Aku menyadarinya setelah lima menit. Kursi di seberangku hanya kursi. Direktur yang duduk di sana hanya direktur. Tidak ada bayangan siapa pun.
“Renata,” kata Om Gunawan, membuka rapat. Senyumnya hangat dan kebapakan, seperti biasa di depan direksi lain. “Sudah sembuh? Sarah bilang kamu demam kemarin.”
“Sudah, Om. Terima kasih.”
“Kamu kelihatan segar.” Ia menatapku sedikit terlalu lama. “Lebih segar dari biasanya. Seperti orang yang sedang jatuh cinta.”
Beberapa direktur tertawa kecil. Direktur Operasional, laki-laki enam puluhan yang selalu menganggap dirinya lucu, menambahkan, “Bu Renata memang selalu bikin rapat direksi jadi lebih indah, Pak. Saya sampai nggak konsen baca angka.”
Lebih banyak tawa.
Aku tersenyum dengan senyum yang sudah kulatih tiga belas tahun untuk ruangan seperti ini. “Kalau Bapak tidak konsentrasi membaca angka, Bapak bisa minta tim saya merangkumnya. Saya senang membantu.”
Tawa berubah menjadi batuk-batuk kecil. Direktur Operasional menatap laporannya dengan sangat serius.
Om Gunawan tidak tertawa. Ia hanya tersenyum, memutar pulpen emas di antara jarinya, dan menatapku dengan mata yang menghitung.
“Hati-hati, Renata,” katanya pelan, dengan nada yang terdengar seperti nasihat seorang paman. “Jatuh cinta bisa membuat orang lengah.”
Pukul sembilan lewat lima belas, saat Direktur Pemasaran sedang mempresentasikan anggaran kampanye tahun depan dengan dua puluh tiga slide yang semuanya berisi grafik batang berwarna pelangi, ponselku bergetar di pangkuanku.
Aku tidak pernah membuka ponsel di rapat direksi. Itu peraturanku sendiri, peraturan yang kubuat sejak menjadi CFO, karena aku tidak ingin siapa pun di ruangan ini punya alasan untuk mengatakan bahwa aku tidak serius.
Aku membukanya di bawah meja.
Maaf mengganggu. Aku tahu kamu di rapat direksi.
Aku tanya dulu: boleh aku kirim satu hal lagi? Kalau tidak boleh, abaikan saja.
Aku melirik ke arah layar presentasi, di mana grafik batang berwarna pelangi sedang menunjukkan proyeksi pertumbuhan pengikut media sosial perusahaan sebesar dua ratus persen. Aku mengetik di bawah meja dengan satu ibu jari.
Boleh.
Empat puluh tiga detik.
Tadi pagi Dodi melihat aku senyum-senyum di depan lift dan bertanya kenapa. Aku bilang, “Aku kirim pesan duluan ke dia.” Dodi menjatuhkan mug-nya lagi. Kali ini pecah.
Lalu Mbak Wina tanya isinya apa. Aku tidak mau bilang. Lalu Dodi bilang, “Pasti cuma ‘selamat pagi’. Bima nggak bakal berani lebih.”
Aku mau membuktikan Dodi salah.
Kamu cantik di rapat direksi. Aku tidak lihat, tapi aku tahu. Om Gunawan pasti iri karena kursinya tidak secantik kursimu.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Aku menutupnya dengan cepat, sangat cepat, tapi tidak cukup cepat. Dari tenggorokanku keluar bunyi kecil, bunyi yang separuh tawa dan separuh batuk, di tengah ruangan rapat direksi yang sunyi kecuali suara Direktur Pemasaran yang sedang menjelaskan strategi konten video pendek.
Direktur Pemasaran berhenti bicara.
Seluruh ruangan menoleh ke arahku.
“Bu Renata?” kata Direktur Pemasaran. “Ada pertanyaan?”
Aku menurunkan tanganku. Aku memasang wajah CFO. Aku menatap layar presentasi, di mana grafik batang berwarna pelangi masih bersinar.
“Proyeksi dua ratus persen itu,” kataku dengan suara yang sangat tenang, “berdasarkan asumsi apa?”
Direktur Pemasaran menatap slidenya sendiri. “Eh. Berdasarkan tren tahun ini, Bu. Kita naik seratus persen tahun ini.”
“Kita naik seratus persen tahun ini karena seorang staf AP mengirim surat cinta ke dua ribu orang dan foto dia memperbaiki sepatu saya menjadi stiker yang viral,” kataku. “Saya ragu kita bisa mengulangi itu tahun depan. Tolong revisi asumsinya.”
Hening.
Lalu Direktur Keuangan Anak Perusahaan, perempuan lima puluhan yang biasanya tidak pernah bicara di rapat ini, tertawa keras. Lalu Direktur Operasional. Lalu Direktur SDM. Seluruh ruangan rapat direksi lantai dua puluh tertawa, di bawah lukisan pendiri Wiraguna yang menatap dengan wajah tidak setuju.
Hanya Om Gunawan yang tidak tertawa.
Aku menunduk ke ponselku di bawah meja. Jempolku bergerak di atas layar.
Kamu membuatku hampir tertawa di rapat direksi.
Lalu aku memang tertawa. Satu ruangan ikut tertawa. Om Gunawan tidak.
Empat puluh tiga detik.
Maaf. Aku tidak bermaksud.
Jangan minta maaf.
Aku menatap layar. Aku menatap nama di bagian atas percakapan. Nama yang tiga minggu lalu belum ada di daftar kontakku. Nama yang empat tahun lalu kutunggu dengan ponsel di samping bantal, dan tidak pernah datang.
Sekarang nama itu mengirim pesan lebih dulu. Tanpa disuruh. Tanpa menunggu. Dengan bertanya dulu, seperti yang kuminta, tapi tetap mengirim.
Aku mengetik, dan aku tersenyum saat mengetiknya, di ruang rapat lantai dua puluh, di depan semua direksi, dengan pulpen emas Om Gunawan berhenti berputar di ujung meja.
Kamu kirim duluan. Tanpa kusuruh.
Kirim, Bim. Lagi.
Ia mengirim lagi.
Ia mengirim pukul sepuluh, satu foto: papan tulis putih di pantry lantai tujuh, dengan baris baru yang ditulis Dodi dengan tangan gemetar: Bima kirim pesan duluan — TERCATAT — saksi: mug pecah.
Ia mengirim pukul sebelas, saat aku sedang menunggu auditor eksternal di ruang Saba: Lampunya terang. Mau kumatikan setengah? Tanya dulu. Aku membalas: Tidak perlu. Aku tidak migrain hari ini. Ia membalas: Baik. Aku simpan izinnya untuk hari Senin tutup buku.
Ia mengirim pukul dua belas lewat lima: Sudah makan siang? (Tanya, bukan mengingatkan. Kamu bilang aku harus tanya.)
Aku menatap pesan itu dan tertawa sendirian di ruang Saba, dan auditor eksternal yang baru masuk, dua laki-laki muda dengan kemeja putih dan laptop, berhenti di ambang pintu dan menatapku dengan wajah ngeri, seperti melihat CFO tertawa adalah tanda bahwa laporan keuangan perusahaan ini sangat bermasalah.
Pukul dua siang, aku tidak sedang menunggu siapa pun yang bisa membuatku tertawa.
Aku duduk di sebuah ruang tamu di lantai tiga sebuah rumah tua di Menteng, tidak jauh dari rumah Mama Lies, dengan secangkir teh yang tidak kusentuh dan sebuah map plastik tebal di pangkuan.
Di seberangku duduk Ibu Laksmi Dharmawangsa, Komisaris Independen Wiraguna Group dan Ketua Komite Audit. Perempuan enam puluh delapan tahun dengan rambut putih yang disanggul rapi, kebaya kutubaru berwarna abu-abu, dan mata yang tajam di balik kacamata berbingkai emas. Ia mantan hakim agung. Ia satu-satunya orang di dewan komisaris yang tidak diangkat oleh Om Gunawan, dan satu-satunya orang yang pernah membuat Om Gunawan berkeringat di rapat umum pemegang saham.
Ia membaca isi map itu selama empat puluh menit tanpa berkata apa pun. Enam pasang tagihan. Nomor seri faktur pajak yang disorot kuning. Alur persetujuan. Akta PT Sinar Karya Mandiri. Foto pernikahan dari majalah gaya hidup sepuluh tahun lalu, dengan satu wajah dilingkari pulpen biru. Dan rekonsiliasi faktur fisik empat puluh delapan lembar, dengan catatan tangan kecil dan rapi seperti cetakan di setiap halaman.
Ia menutup map itu.
“Siapa yang menyusun ini?” tanyanya.
“Staf Accounts Payable, Bu. Namanya Bima Wicaksono.”
“Staf?”
“Staf, Bu. Dua tahun bekerja. Dia menemukannya sendiri saat mencocokkan nomor seri faktur pajak. Prosedur yang tidak diwajibkan siapa pun.”
Ibu Laksmi menatapku dari balik kacamata emasnya. “Dan dia membawanya kepadamu.”
“Kepada saya, Bu. Bukan ke Pak Darto, bukan ke audit internal. Dia bilang saya satu-satunya orang di gedung itu yang tidak takut ke lantai dua puluh.”
“Apakah dia benar?”
Aku tidak langsung menjawab. “Saya mulai tidak takut, Bu.”
Ibu Laksmi tersenyum sedikit. Senyum seorang mantan hakim yang sudah mendengar ribuan kesaksian dan bisa membedakan kebenaran dari kalimat yang disusun dengan baik.
“Ini bagus, Renata,” katanya. “Ini sangat bagus. Tapi belum cukup.”
“Saya tahu, Bu.”
“Gunawan akan bilang tagihan dengan akhiran -R itu adalah revisi sah atas pekerjaan tambahan. Dia akan bilang itu kesalahan administrasi. Dia akan bilang staf AP-mu salah menafsirkan. Dan karena persetujuannya ada di lantai dua puluh, dokumen aslinya juga ada di lantai dua puluh.” Ibu Laksmi meletakkan tangannya di atas map. “Kita butuh lembar persetujuan aslinya. Yang ditandatangani. Dan kita butuh itu sebelum rapat dewan komisaris bulan Januari.”
“Akses ke arsip lantai dua puluh hanya bisa melalui sekretaris CEO, Bu.”
“Saya tahu.” Ibu Laksmi menatapku. “Dan satu hal lagi, Renata. Sesuatu yang harus kamu pikirkan baik-baik.”
Aku menunggu.
“Kode Etik Wiraguna Group, Pasal Tujuh. Benturan kepentingan. Hubungan pribadi antara atasan dan bawahan dalam satu garis pelaporan.” Ia mengucapkannya pelan, seperti membacakan pasal di ruang sidang. “Saya dengar dari beberapa orang. Tentang lift. Tentang makan siang di lantai tujuh. Tentang stiker yang viral.”
Aku tidak bergerak.
“Saya tidak menghakimi, Nak,” kata Ibu Laksmi lebih lembut. “Saya juga pernah muda. Dan janda. Dua kali.” Ia tersenyum sedikit. “Tapi Gunawan pasti juga sudah mendengarnya. Dan kalau Gunawan tahu bahwa saksi utama dalam kasus ini adalah laki-laki yang sedang menjalin hubungan dengan CFO yang mengajukan kasus itu, dan laki-laki itu berada di garis pelaporan CFO tersebut...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak perlu.
“Dia akan bilang ini balas dendam pribadi,” kataku. “Dia akan bilang saya dan Bima mengarang semuanya karena saya ingin menjatuhkan dia.”
“Dan dia akan menggunakan Pasal Tujuh untuk menyingkirkan salah satu dari kalian sebelum Januari.” Ibu Laksmi menatapku. “Atau keduanya.”
Aku menatap map di pangkuanku. Di halaman pertama, di bagian bawah, ada catatan tangan kecil dan rapi: Diperiksa tiga kali. B.W.
“Saya akan memikirkannya, Bu,” kataku.
“Pikirkan dengan cepat, Renata. Gunawan tidak berpikir lambat.”
Pukul lima sore, di mobil, dalam perjalanan kembali ke kantor, aku membuka ponsel.
Ada satu pesan baru. Pukul empat lewat lima puluh.
Tanya dulu: hari Sabtu dan Minggu ada offsite divisi Finance di Lembang. Kamu ikut?
Pak Darto bilang kamu tidak pernah ikut selama tiga tahun. Dia bilang biasanya kamu kirim video sambutan saja.
Kalau kamu ikut, aku senang. Kalau tidak, aku juga mengerti. Aku cuma mau tahu.
Aku menatap pesan itu.
Offsite divisi Finance. Dua hari satu malam di sebuah vila di Lembang. Lomba-lomba konyol, makan malam di sekitar api unggun, karaoke yang selalu berakhir dengan Pak Darto menyanyikan lagu Broery Marantika dengan mata terpejam. Aku tidak pernah ikut. Tahun pertama, aku masih berduka. Tahun kedua, aku masih berduka dan juga takut orang akan membicarakanku. Tahun ketiga, aku sudah terbiasa tidak ikut.
Aku memikirkan Ibu Laksmi. Pasal Tujuh. Lift. Makan siang di lantai tujuh. Om Gunawan yang memutar pulpen emasnya dan bilang jatuh cinta bisa membuat orang lengah.
Aku seharusnya tidak ikut. Itu langkah yang benar. Itu langkah yang akan dipilih oleh Renata yang menghitung delapan orang di restoran. Jaga jarak sampai Januari. Jangan beri Om Gunawan amunisi apa pun.
Aku menatap pesan Bima. Kalau kamu ikut, aku senang.
Aku menatap jendela mobil. Jalan Sudirman sore hari, macet, abu-abu, dengan lampu-lampu rem yang menyala merah di sepanjang jalan seperti telinga seseorang.
Lalu aku mengetik.
Aku ikut.
Tapi kamu harus tanya dulu sebelum mengajakku karaoke.
Empat puluh tiga detik.
Baik. Aku catat.
Lalu, satu menit kemudian:
Renata. Dodi barusan tanya isi pesannya apa. Aku bilang kamu ikut offsite. Dodi berdiri di atas kursi dan berteriak ke seluruh lantai tujuh. Mbak Wina menjatuhkan gorengan. Pak Darto keluar dari ruangannya dan bertanya apakah ada kebakaran.
Satu lantai sekarang tahu.
Maaf. Aku seharusnya tanya dulu sebelum bilang ke Dodi.
Aku tertawa sendirian di kursi belakang mobil, dan Pak Rahmat melirikku dari kaca spion, dan kali ini aku tidak pura-pura tidak melihatnya.
“Pak Rahmat,” kataku.
“Ya, Bu?”
“Sabtu pagi kita ke Lembang.”
Pak Rahmat menatapku dari kaca spion lebih lama dari biasanya. Lalu, untuk pertama kalinya dalam enam tahun, ia tersenyum lebar sampai giginya kelihatan.
“Siap, Bu,” katanya. “Saya bawa jaket. Lembang dingin.”
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama reading
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong