← Masih di Folder Draf

Chapter Sixteen

Restoran yang Dipesan

POV: Renata

Kertas kecil yang ditinggalkan Bima di meja dapur rumah Menteng berisi empat baris, ditulis dengan tulisan tangan kecil dan rapi seperti cetakan.

Lumière, Jl. Cik Ditiro, Menteng.
Bpk. Yusuf (manajer), 0812-xxxx-xxxx.
Deposit a.n. Hendra Wiraguna masih aktif. Meja no. 7.
Buka Selasa–Minggu, 18.00–22.30. Ibu cukup telepon satu jam sebelumnya.

Aku membacanya di mobil pada malam pengajian, di bawah lampu kabin yang kuning. Lalu aku membacanya lagi di kamar sebelum tidur. Lalu aku melipatnya dan menyelipkannya di dompet, di antara kartu identitas dan kartu kredit, di tempat yang biasanya kupakai untuk menyimpan hal-hal yang tidak boleh hilang.

Aku tidak menelepon hari Rabu. Aku tidak menelepon hari Kamis. Hari Jumat aku memegang ponsel selama sepuluh menit di ruanganku dengan nomor Pak Yusuf sudah terketik di layar, dan menutupnya lagi ketika Sarah mengetuk pintu untuk mengantar dokumen.

Hari Sabtu pukul lima sore, aku menelepon.

“Lumière, selamat sore,” kata suara laki-laki dengan aksen yang berusaha terdengar Prancis tapi tetap Betawi di ujung kalimat.

“Selamat sore. Saya mau bicara dengan Pak Yusuf.”

“Dengan saya sendiri, Madame.”

“Saya Renata Halim. Saya mau pakai reservasi atas nama Hendra Wiraguna. Malam ini. Untuk satu orang.”

Hening sebentar di seberang. Lalu suara Pak Yusuf berubah. Tidak lagi berusaha terdengar Prancis. Hanya pelan, dan sangat sopan.

“Madame Renata,” katanya. “Meja nomor tujuh siap untuk Ibu. Pukul tujuh?”

“Pukul tujuh.”

“Kami tunggu, Madame.” Jeda. “Dan Madame, kalau boleh. Kami turut berduka. Sudah lama. Tapi kami turut berduka.”


Aku menghabiskan satu jam untuk memilih pakaian. Aku tidak pernah menghabiskan satu jam untuk memilih pakaian, bahkan untuk rapat dengan investor dari Singapura.

Akhirnya aku memilih gaun hijau zamrud dengan lengan panjang dan potongan leher bulat. Gaun yang Hendra belikan di Singapura dua bulan sebelum ia meninggal. Ia membelinya tanpa bertanya ukuranku, dan ukurannya tepat. Aku belum pernah memakainya. Tiga tahun gaun itu tergantung di lemari dengan label harga masih menempel, karena setiap kali aku menyentuhnya, aku tidak sanggup.

Aku memotong labelnya dengan gunting kuku. Aku memakainya. Ukurannya masih tepat.

Rambutku kugerai dengan gelombang yang lembut. Bibirku merah bata. Anting mutiara nenekku. Dan di leherku, di balik kerah gaun yang bulat, rantai emas tipis dengan cincin kecil di ujungnya.

Bi Asih berdiri di ambang pintu kamarku saat aku sedang memakai sepatu.

“Ya Allah, Bu,” katanya pelan. “Itu gaun yang dari Bapak?”

“Iya, Bi.”

Bi Asih menatapku lama. Matanya berkaca-kaca. “Ibu cantik sekali, Bu. Bapak pasti senang.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya mengangguk, mengambil tas tangan, dan berjalan keluar sebelum Bi Asih melihat mataku juga.


Lumière tidak berubah.

Rumah tua bergaya kolonial di Jalan Cik Ditiro dengan teras berpilar dan lampu gas di kiri-kanan pintu. Di dalam, lantai tegel bermotif kembang, dinding berwarna krem pucat, dan lampu-lampu gantung kuning yang membuat semua orang terlihat lebih muda dan lebih bahagia dari sebenarnya. Musik piano pelan dari pengeras suara di sudut. Bau mentega, bawang putih, dan roti yang baru dipanggang.

Pak Yusuf menyambutku di pintu. Ia laki-laki lima puluhan dengan kumis tipis, rompi hitam, dan dasi kupu-kupu merah anggur, persis seperti yang kuingat empat tahun lalu. Ia membungkuk dalam-dalam.

“Madame Renata. Selamat datang kembali.”

“Terima kasih, Pak Yusuf.”

Ia menatapku sebentar, dengan mata yang terlalu lama berhenti di wajahku untuk seorang manajer restoran profesional. Lalu ia berdeham.

“Maaf, Madame,” katanya. “Saya hanya... Ibu tidak berubah. Masih secantik malam itu. Waktu Ibu duduk di meja tujuh dan semua tamu lupa memotong steak mereka.”

Seorang pelayan muda di belakangnya, yang sedang membawa nampan berisi gelas air, berhenti di tengah jalan dan menatapku dengan mulut sedikit terbuka. Pak Yusuf menoleh dan memelototinya. Pelayan itu buru-buru berjalan lagi, dan menabrak kursi.

“Mohon maaf, Madame. Anak baru,” kata Pak Yusuf. “Silakan. Mejanya sudah siap.”

Meja nomor tujuh ada di sudut ruangan, dekat jendela besar yang menghadap ke taman kecil di samping restoran. Mejanya bundar, untuk dua orang, dengan taplak putih, dua set peralatan makan perak, dan sebatang lilin di dalam gelas kaca. Persis seperti malam itu.

Dua set peralatan makan.

Aku berhenti di depan meja.

“Pak Yusuf,” kataku. “Saya cuma sendiri.”

“Saya tahu, Madame.” Pak Yusuf menarik kursi untukku. Kursi yang menghadap jendela. Kursi yang sama yang kududuki empat tahun lalu. “Tapi reservasinya untuk dua orang. Kami menyiapkannya sesuai reservasi. Pak Hendra sangat spesifik.”

Aku duduk.

Pak Yusuf meletakkan menu di depanku, lalu, setelah ragu, meletakkan sesuatu yang lain di sebelahnya. Selembar kartu kecil, berwarna krem, dengan tulisan tangan yang sudah sedikit pudar.

“Ini catatan reservasinya, Madame,” katanya pelan. “Pak Hendra menitipkannya waktu membayar deposit. Kami simpan di buku reservasi. Tiga tahun.” Ia berhenti. “Kami tidak tahu harus diapakan. Jadi kami simpan saja.”

Lalu ia membungkuk dan pergi, meninggalkanku sendirian dengan lilin, dua set peralatan makan, dan selembar kartu krem.

Aku tidak langsung membacanya. Aku menatap jendela. Di taman kecil di luar, lampu-lampu kecil menggantung di cabang pohon kamboja, dan beberapa bunganya yang putih jatuh di rumput.

Lalu aku membacanya.

Untuk meja 7, 14 Januari 2024:
1. Siapkan dua makanan penutup. Yang satu untuk dia. (Dia akan bilang kenyang. Dia bohong.)
2. Jangan putar lagu sedih. Dia akan pura-pura tidak menangis, tapi dia menangis.
3. Kalau saya terlambat, bilang saya sedang cari parkir. Saya pasti sedang cari parkir.
— H.W.

Aku membaca kartu itu satu kali.

Lalu aku meletakkannya di atas taplak putih, di sebelah piring yang kosong di seberangku, dan menutup mulutku dengan tangan.

Dia akan bilang kenyang. Dia bohong.

Ia tahu. Selalu tahu. Setiap kali aku bilang kenyang, setiap kali aku menolak makanan penutup, setiap kali aku berpura-pura tidak menginginkan sesuatu. Ia tahu, dan ia tetap memesan dua, dan memberikan satu kepadaku, dan aku selalu memakannya.

Kalau saya terlambat, bilang saya sedang cari parkir.

Kamu tidak terlambat, Hen. Kamu tidak datang sama sekali.

Aku menunduk. Aku tidak menangis. Tidak di restoran, tidak di depan Pak Yusuf dan pelayan baru yang menabrak kursi. Aku menunduk dan menarik napas dalam-dalam, sekali, dua kali, tiga kali, dan menghitungnya, seperti menghitung langkah di koridor.

Pelayan baru itu datang dengan sebotol air. Ia menuangkannya ke gelasku dengan tangan gemetar, dan sedikit air tumpah ke taplak.

“Maaf, Madame,” bisiknya. “Maaf. Saya baru seminggu.”

“Enggak apa-apa.”

“Madame mau pesan apa?”

Aku menatap menu. Lalu aku menatap kartu di sebelah piring yang kosong.

“Saya pesan apa yang dipesan untuk meja ini,” kataku. “Kalau ada catatannya.”

Pelayan itu menatapku dengan bingung. Lalu Pak Yusuf, yang ternyata berdiri tidak jauh dari meja, melangkah maju.

“Ada, Madame,” katanya. “Pak Hendra memesan menu malam itu juga. Saat membayar deposit. Kami bisa menyiapkannya.”

“Kalau gitu, itu yang saya pesan.”


Makanannya datang satu per satu.

Sup bawang dengan roti panggang dan keju leleh di atasnya. Hendra memesannya di malam pertama kami, karena katanya sup bawang adalah satu-satunya makanan Prancis yang bisa ia eja. Ikan kakap dengan saus mentega lemon. Steak wagyu, tingkat kematangan medium rare, karena ia tahu aku tidak suka daging yang terlalu matang.

Aku memakannya perlahan. Setiap suap.

Dan aku bicara kepadanya.

Tidak keras-keras. Tidak dengan suara. Hanya di dalam kepalaku, seperti dulu, ketika kami duduk di meja makan apartemen kami dan aku sedang memikirkan sesuatu tapi tidak mengatakannya, dan ia menatapku dari seberang meja dan berkata, Kamu lagi ngobrol sama dirimu sendiri lagi, ya?

Aku menceritakan semuanya kepadanya.

Aku menceritakan tiga tahun terakhir. Rapat-rapat dengan Om Gunawan. Lembur sampai jam sebelas malam. Mama Lies yang menggelar pengajian setiap tahun dan menatapku setiap tahun dengan mata yang sama dengan matanya. Bi Asih yang masih menyiapkan dua cangkir teh setiap pagi selama enam bulan pertama, sampai aku memintanya berhenti. Aku menceritakan cincin di kalungku. Aku menceritakan bahwa aku tidak pernah melepasnya, bahkan saat mandi.

Lalu aku menceritakan kelas hari Kamis.

Aku menceritakan seorang mahasiswa di bangku paling depan dengan sapu tangan kotak-kotak biru dan telinga yang memerah. Aku menceritakan pulpen merah dan dua belas angka di pojok lembar tugas. Aku menceritakan tiga minggu menunggu dengan ponsel di samping bantal.

Kamu tahu, kan, Hen, kataku di dalam kepalaku. Kamu tahu aku menunggu seseorang. Kamu tulis di klaim jamuan. Kamu tidak pernah bertanya siapa.

Itu dia. Namanya Bima. Dia staf AP di kantor kita sekarang. Dia masuk dua tahun lalu, setelah kamu pergi. Dia masuk karena namaku ada di halaman empat belas laporan tahunan.

Dia menyelamatkan rendangmu minggu lalu, Hen. Rendang kesukaanmu. Di dapur Mama. Dengan kerisik. Kata Mama, kamu selalu bikin rendangnya gosong.

Dan dia yang memberitahuku bahwa hadiahmu belum sampai.

Aku meletakkan garpu.

Dia tidak mencoba menggantikanmu, Hen. Dia malah memastikan hadiahmu sampai kepadaku.

Aku tidak tahu harus bilang apa tentang itu.

Lilin di dalam gelas kaca berkedip. Di luar jendela, sebuah bunga kamboja putih jatuh dari pohon dan mendarat di rumput tanpa suara.


Pukul delapan lewat empat puluh, Pak Yusuf sendiri yang mengantar makanan penutup.

Dua piring. Ia meletakkan satu di depanku, dan satu di depan kursi kosong di seberangku.

Crème brûlée di piring kecil berwarna putih, dengan lapisan gula karamel yang keras dan berkilau di atasnya, dan dua buah stroberi yang dipotong setengah. Di depan kursi kosong, piring kedua berisi tarte au citron, tart lemon dengan meringue yang dibakar ujungnya.

“Pak Hendra memesan dua, Madame,” kata Pak Yusuf pelan. “Sesuai catatan.”

“Terima kasih, Pak Yusuf.”

Ia membungkuk dan pergi. Di sudut ruangan, pengeras suara memutar lagu piano yang ringan, bukan lagu sedih. Seseorang di dapur sudah membaca kartu krem itu dengan teliti.

Aku menatap dua piring itu.

Lalu aku mengulurkan tangan dan menarik piring tart lemon dari seberang meja ke depanku.

Dia akan bilang kenyang. Dia bohong.

“Aku enggak kenyang, Hen,” bisikku. Kali ini dengan suara. Sangat pelan, nyaris tidak terdengar, tapi dengan suara. “Aku enggak pernah kenyang.”

Aku memecahkan lapisan karamel crème brûlée dengan sendok. Bunyinya renyah dan memuaskan, seperti es yang pecah di musim semi. Aku memakannya. Lalu aku memakan tart lemon yang asam dan manis dan meninggalkan rasa getir di ujung lidah.

Aku menghabiskan keduanya.

Lalu aku duduk dengan dua piring kosong di depanku dan menatap jendela. Pantulanku di kaca: perempuan dengan gaun hijau zamrud dan rambut tergerai, sendirian di meja untuk dua orang, dengan lilin yang sudah hampir habis.

Tanganku bergerak ke leher.

Ke rantai emas tipis. Ke cincin kecil di ujungnya.

Aku tidak memutarnya. Aku menemukan pengait rantai di tengkukku, kecil dan licin, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku membukanya.

Butuh beberapa kali percobaan. Jariku gemetar. Pengait itu sudah lama tidak dibuka, dan mekanismenya sedikit kaku. Tapi akhirnya terbuka, dengan bunyi klik yang sangat kecil, dan rantai itu meluncur dari leherku ke telapak tanganku seperti air.

Cincin itu tergeletak di telapak tanganku. Emas putih polos. Tanpa permata. Di bagian dalamnya ada ukiran kecil, tanggal pernikahan kami, dan dua huruf: H & R.

Aku menatapnya lama.

“Terima kasih, Hen,” bisikku. “Buat nungguin aku. Buat enggak pernah nanya. Buat dua makanan penutup.”

Aku melepaskan cincin itu dari rantainya. Aku mengeluarkan kantong kecil dari beludru hitam yang selalu kubawa di tas tangan untuk menyimpan anting kalau telingaku sakit. Aku memasukkan cincin itu ke dalamnya. Lalu rantainya. Lalu aku menarik talinya sampai kantong itu tertutup rapat.

“Aku sudah berhenti menunggu,” bisikku. “Aku udah lama berhenti. Maaf aku enggak sempat bilang.”

Aku memasukkan kantong beludru itu ke dalam tas.

Leherku terasa sangat ringan. Seperti ada yang hilang. Seperti ada yang dilepaskan. Aku menyentuh tulang selangkaku dengan ujung jari, di tempat cincin itu biasa menggantung, dan kulitnya terasa dingin dan aneh dan baru.

Aku tidak menangis.

Aku pikir aku akan menangis. Aku sudah menyiapkan diri untuk itu sejak pukul lima sore, sejak memilih gaun, sejak memotong label harganya. Tapi saat duduk di meja nomor tujuh dengan dua piring makanan penutup yang kosong dan leher yang telanjang, aku tidak menangis.

Aku hanya merasa selesai.


Saat aku meminta tagihan, Pak Yusuf datang tanpa membawa apa pun.

“Tidak ada tagihan, Madame,” katanya. “Depositnya sudah menutup semuanya. Bahkan ada sisa.”

“Sisa?”

“Sedikit, Madame. Sekitar satu juta dua ratus.” Ia tersenyum di balik kumis tipisnya. “Kalau Madame mau datang lagi. Dengan siapa pun.”

Aku menatapnya. Pak Yusuf menatapku balik, dengan wajah seorang laki-laki yang sudah tiga puluh tahun bekerja di restoran dan sudah melihat ratusan pasangan datang dan pergi dari meja-meja ini.

“Madame,” katanya pelan. “Hari Selasa, ada laki-laki muda yang menelepon. Menanyakan deposit ini. Sopan sekali. Dia bertanya apakah depositnya masih berlaku, apakah mejanya masih ada, apakah bisa dipakai oleh Ibu tanpa Pak Hendra. Saya tanya dia siapa. Dia bilang, ‘Saya cuma staf AP di kantor Bu Renata, Pak. Saya cuma mau memastikan.’”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Dia bertanya satu hal lagi, Madame. Dia bertanya apakah ada makanan penutup di reservasi itu. Saya bilang ada dua. Dia diam lama sekali di telepon. Lalu dia bilang, ‘Tolong pastikan yang satu sampai ke Bu Renata, Pak. Beliau suka bilang kenyang, padahal nggak.’”

Aku menatap Pak Yusuf.

“Saya sudah tiga puluh tahun kerja di sini, Madame,” kata Pak Yusuf, sambil menarik kursiku saat aku berdiri. “Saya bisa membedakan laki-laki yang ingin terlihat baik dan laki-laki yang memang baik. Yang pertama bertanya apa yang bisa ia dapat. Yang kedua bertanya apa yang bisa ia pastikan sampai.”

Ia membungkuk.

“Selamat malam, Madame Renata. Meja tujuh selalu ada untuk Ibu.”


Di mobil, Pak Rahmat sedang makan martabak dari kotak kertas di pangkuannya. Saat aku masuk, ia buru-buru menutup kotaknya dan menyimpannya di bawah kursi.

“Maaf, Bu. Lapar.”

“Enggak apa-apa, Pak. Habisin aja.”

Pak Rahmat menatapku dari kaca spion. Matanya berhenti di leherku. Di tulang selangka yang telanjang di balik kerah gaun hijau zamrud.

Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menyalakan mesin dan menjalankan mobil dengan sangat pelan keluar dari halaman Lumière.

Di Jalan Diponegoro, aku mengeluarkan ponsel.

Ada sebelas pesan dari Tasya, semuanya dengan huruf kapital dan emoji menangis. KAK GIMANA. KAK UDAH SAMPE. KAK KAMU NANGIS NGGAK. KAK AKU KHAWATIR. KAK BALES. Aku membalas satu kata: Baik. Lalu Tasya membalas dengan empat puluh emoji hati.

Lalu aku membuka percakapan dengan Bima.

Pesan terakhirnya masih yang hari Rabu, saat aku bilang mendoan ibunya enak. Ibu saya pasti senang sekali. Beliau sudah tanya setiap hari sejak Senin. Sejak itu ia tidak mengirim apa pun. Ia menungguku, seperti yang kuminta. Ia tidak mundur, tapi juga tidak maju. Ia hanya ada, di lantai tujuh, menunggu.

Kali ini aku yang tidak membuatnya menunggu.

Aku mengetik.

Besok.

Aku berhenti. Besok hari Minggu. Kantor tutup.

Aku menghapusnya. Aku mengetik ulang.

Senin. Ke ruangan saya.

Aku menatap pesan itu. Lalu aku menekan kirim sebelum aku sempat berubah pikiran.

Empat puluh tiga detik kemudian, aku tidak menghitung, ponselku bergetar.

Baik, Bu. Jam berapa?

Aku tersenyum ke layar ponselku. Di kaca spion, Pak Rahmat melihatnya, dan aku melihat Pak Rahmat melihatnya, dan kami berdua pura-pura tidak saling melihat.

Jam berapa pun kamu sampai, ketikku. Saya sudah di sana.

Kali ini balasannya tidak datang dalam empat puluh tiga detik. Balasannya datang dalam tiga menit, setelah titik-titik kecil di layar muncul dan menghilang dan muncul lagi berkali-kali. Aku membayangkannya duduk di kamar kosnya, di depan papan setrika, dengan telinga yang memerah, mengetik dan menghapus dan mengetik lagi.

Saya akan datang jam tujuh, Bu. Sebelum orang lain datang.

Dan Bu. Ibu sudah makan malam?

Aku menatap pertanyaan itu. Pertanyaan yang sudah lama tidak ia kirimkan sejak ia memutuskan untuk mundur. Pertanyaan yang tidak diminta, tidak perlu, dan tidak ada hubungannya dengan angka apa pun.

Sudah, ketikku. Dua makanan penutup.

Hening sebentar. Lalu:

Syukurlah, Bu.

Itu saja. Dua kata. Ia tidak bertanya di mana. Ia tidak bertanya dengan siapa. Ia tidak bertanya apakah aku pergi ke Lumière. Ia hanya bilang syukurlah, karena itu yang ingin ia pastikan sejak hari Selasa: bahwa yang satu sampai kepadaku.

Aku menyandarkan kepala di jendela mobil. Jalan Diponegoro, lalu Jalan Sudirman, lalu jalan menuju rumah. Lampu-lampu jalan melintas. Di leherku, tidak ada apa-apa.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak menyentuh tempat kosong itu sepanjang perjalanan pulang.