← Masih di Folder Draf

Chapter Eleven

Bu Renata Kecewa

POV: Renata

Senin pagi, pukul 07.38, aku menyuruh Pak Rahmat berhenti di depan lobi.

“Basement-nya kenapa, Bu?”

“Enggak kenapa-kenapa, Pak. Saya mau lewat lobi aja.”

Pak Rahmat melirikku dari kaca spion dengan alis yang terangkat sedikit, lalu menepikan mobil di depan pintu putar tanpa bertanya lagi. Enam tahun bekerja denganku sudah mengajarinya bahwa ada pertanyaan yang lebih baik disimpan.

Aku turun. Angin pagi Sudirman meniup rambutku ke satu sisi. Aku merapikannya dengan satu tangan, berjalan melewati pintu putar, dan mengangguk kepada Pak Yanto yang memberi hormat dengan dua jari di pelipis.

“Pagi, Bu Renata. Lobi wangi lagi, Bu.”

“Pagi, Pak Yanto.”

Aku melirik ke kiri. Ke pilar di samping pintu putar.

Pilar itu kosong.

Aku memperlambat langkahku sedikit, cukup untuk memastikan. Tidak ada kemeja biru muda. Tidak ada buku catatan cokelat. Tidak ada seseorang yang pura-pura membaca layar kunci ponselnya. Hanya pilar marmer abu-abu dan sebuah pot tanaman yang sedikit miring, sepertinya ditabrak troli hari Jumat.

“Pak Yanto,” kataku, berhenti di depan posnya. “Sepupu Bapak udah datang?”

Pak Yanto langsung berdiri lebih tegak. Wajahnya berubah menjadi wajah orang yang memegang rahasia negara dan tidak yakin apakah boleh membukanya. “Sudah, Bu. Jam tujuh kurang sepuluh. Langsung naik.”

“Langsung naik?”

“Langsung naik, Bu. Lewat tangga darurat. Delapan lantai.” Ia menurunkan suaranya. “Saya tanya kenapa nggak nunggu di sini kayak biasanya, Bu. Katanya, ‘Mulai hari ini nggak lagi, Mas.’ Terus dia naik.”

Aku mengangguk perlahan.

“Bu,” kata Pak Yanto, ragu-ragu. “Kalau boleh saya bilang, Bu. Jumat sore, waktu Ibu dijemput bapak yang mobilnya hitam itu, Bima lihat. Dia berdiri di pilar itu, Bu. Bawa kotak mendoan dari ibunya. Terus bapak itu ngomong ke dia.”

“Ngomong apa?”

Pak Yanto menatap ke kiri dan ke kanan, lalu mendekat sedikit. “‘Terima kasih sudah membantu Renata. Sisanya biar saya yang urus,’ Bu. Gitu katanya.”

Aku diam.

“Habis itu kupingnya Bima nggak merah, Bu,” lanjut Pak Yanto pelan. “Biasanya merah. Hari itu nggak. Saya kenal dia dari kecil, Bu. Kalau kupingnya nggak merah, artinya dia udah mutusin sesuatu.”


Pukul sembilan, Sarah meletakkan sebuah kotak di mejaku.

Kotak plastik bening, tutupnya diikat karet gelang. Di dalamnya, berjajar rapi di atas daun pisang yang sudah agak layu, ada dua puluh potong mendoan. Sudah dingin. Tepungnya sedikit lembek, tapi wangi daun bawang dan kencurnya masih tercium samar saat tutupnya kubuka.

“Dititipkan tadi pagi pukul tujuh lewat lima belas, Bu,” kata Sarah. “Pesannya, dan saya kutip, ‘Untuk tim lantai delapan belas.’ Tanpa nama.”

“Siapa yang nitip?”

“Ibu sudah tahu, Bu.”

“Saya mau denger kamu yang bilang.”

Sarah menghela napas sangat pelan, napas yang hampir tidak terdengar. “Bima Wicaksono, Bu. Dia menyerahkannya di depan lift, lalu turun lagi lewat tangga. Dia tidak menatap saya waktu menyerahkannya. Dia menatap lantai.”

Aku menatap mendoan itu. Ibu Bima menjanjikannya di layar ponsel hari Kamis lalu, di kantin, dengan suara yang tiba-tiba sangat halus dan sopan. Mengko tak kirimi. Mendoan ini dikirim untukku. Dari Purwokerto, melewati tangan satpam lobi, sampai ke lantai tujuh.

Dan di lantai tujuh, seseorang memutuskan bahwa mendoan ini untuk tim lantai delapan belas.

“Ada catatan?” tanyaku.

“Tidak ada, Bu.”

Aku mengangkat daun pisangnya sedikit. Di bawahnya, menempel di dasar kotak plastik, ada bekas selotip. Seseorang pernah menempelkan kertas di sana, lalu mencabutnya dengan hati-hati. Sisa lemnya masih membentuk persegi panjang kecil.

Aku meletakkan daun pisang itu kembali.

“Bagi ke pantry aja,” kataku. “Sisain dua.”

“Dua, Bu?”

“Dua.”


Hari Senin, Bima tidak mengirim apa pun.

Dokumen dari divisi AP untukku datang melalui kurir internal, dalam map biru dengan stempel Dari: Accounts Payable dan tanda tangan Pak Darto. Biasanya aku tidak memperhatikan siapa yang mengantar dokumen. Hari ini aku memperhatikannya. Kurirnya laki-laki paruh baya bernama Pak Udin, yang mengetuk pintu ruanganku dengan sangat takut seolah aku akan memakannya.

Hari Selasa, aku mengirim pesan pukul delapan malam. Pertanyaan kerja. Saldo uang muka perjalanan dinas yang belum dipertanggungjawabkan per akhir Oktober.

Balasannya datang dalam empat menit.

Rp312.450.000, Bu. 23 karyawan. Rincian di Rekon_UM_Okt.xlsx, sheet 2.

Hanya itu. Tidak ada selamat malam. Tidak ada penjelasan tentang apa yang sedang ia setrika. Tidak ada pertanyaan apakah aku sudah makan.

Empat menit. Minggu lalu empat puluh tiga detik.

Aku menatap pesan itu lebih lama dari yang seharusnya. Lalu aku mengetik: Terima kasih. Kamu sedang apa?

Aku menghapusnya. Aku mengetik: Terima kasih.

Aku mengirimnya. Tidak ada balasan. Tentu saja tidak ada balasan. Terima kasih tidak membutuhkan balasan.

Hari Rabu pagi, aku turun ke ruang Saba untuk rapat bulanan dengan kepala divisi. Bukan hari tutup buku, jadi lampu-lampunya menyala semua. Sepuluh panel LED. Terang seperti ruang operasi. Tidak ada termos di kursiku. Tidak ada kertas tempel kuning di saklar.

Aku tidak migrain hari itu. Tidak ada alasan untuk lampunya diredupkan.

Tapi aku menatap saklar itu selama rapat, beberapa kali, dan Pak Darto, yang duduk di sebelahnya, mulai gelisah seolah-olah aku sedang menatapnya.

“Bu,” katanya akhirnya, berbisik di sela presentasi kepala divisi Treasury. “Lampunya mau saya matikan, Bu?”

“Enggak usah, Pak Darto.”

“Soalnya Ibu lihatin terus, Bu.”

“Saya enggak lihat lampunya.”

“Oh.” Pak Darto berhenti sebentar. “Ibu lihatin saklarnya, Bu.”

Aku memalingkan pandangan ke layar presentasi dan tidak melihat ke arah saklar itu lagi selama sisa rapat. Tapi aku bisa merasakan Pak Darto meliriku dari samping, dengan wajah orang yang sedang menghitung ulang taruhan lima puluh ribu rupiahnya.


Aku tidak pernah dihindari laki-laki.

Aku mengatakannya bukan untuk menyombong. Itu fakta, sama seperti fakta bahwa matahari terbit di timur dan tagihan jatuh tempo tidak pernah lupa jadwalnya. Sejak umur tujuh belas, laki-laki mendekatiku, atau menatapku dari jauh, atau pura-pura tidak menatapku sambil menatapku. Aku yang menentukan jaraknya. Aku yang menentukan kapan mendekat dan kapan menjauh. Aku yang memutuskan kapan permainan selesai.

Bahkan Satrio, yang paling pandai menghilang di antara semua laki-laki yang pernah kukenal, menghilang dengan cara yang memastikan aku tahu ia sedang menghilang. Menghilangnya Satrio adalah bagian dari permainan. Ia pergi supaya aku memikirkannya.

Bima Wicaksono tidak sedang bermain.

Itu yang membuatku gelisah sejak hari Senin. Laki-laki itu tidak sedang menarik dan melepas. Ia tidak menghilang supaya aku mencarinya. Ia benar-benar pergi. Ia mengambil keputusan, sendirian, di kamar kosnya dengan kipas angin yang mengeluh, dan ia menjalankannya dengan ketelitian yang sama seperti ia mencocokkan empat puluh tujuh transaksi secara manual. Pilar kosong. Kurir internal. Balasan empat menit tanpa salam. Mendoan untuk tim lantai delapan belas, dengan bekas selotip di dasar kotak tempat ia mencabut catatan dari adiknya.

Ia mundur, dengan sangat rapi, seperti menutup buku di akhir bulan.

Dan aku tidak tahu kenapa itu membuatku begitu marah.

Bukan, aku tahu. Aku hanya tidak suka jawabannya.

Aku marah karena ia memutuskannya tanpa bertanya kepadaku. Seperti empat tahun lalu, ketika ia tidak menelepon. Seperti dua tahun lalu, ketika ia masuk ke perusahaan ini dan memilih duduk di lantai tujuh selama dua tahun tanpa sekali pun naik. Laki-laki itu terus-menerus mengambil keputusan tentang apa yang terbaik untukku, dari jauh, tanpa pernah sekali pun menanyakan pendapatku.

Sisanya biar saya yang urus. Satrio mengatakannya. Dan Bima, laki-laki paling teliti yang pernah kukenal, laki-laki yang memeriksa semuanya tiga kali, menerima kalimat itu begitu saja. Tanpa memeriksa. Tanpa bertanya kepadaku apakah itu benar.

Aku memutuskan bahwa itu tidak bisa dibiarkan.


Rabu siang, pukul dua belas lewat lima belas, aku menunggu di tangga darurat antara lantai tujuh dan lantai delapan.

Sarah yang memberitahuku. Aku tidak memintanya, tapi ia meletakkan selembar kertas tempel di mejaku pukul sebelas dengan tulisan tangan yang sangat rapi: Bima turun ke kantin pukul 12.15 setiap hari. Sejak Senin, lewat tangga darurat, bukan lift. Saya tidak tahu kenapa saya tahu ini. — S.

Aku tidak berterima kasih kepadanya. Sarah tidak suka diberi terima kasih untuk hal-hal yang tidak pernah ia akui telah ia lakukan.

Tangga darurat gedung Wiraguna adalah tempat paling tidak menyanjung di seluruh bangunan. Dindingnya beton bercat abu-abu, lantainya berdebu, lampunya neon putih yang berkedip setiap beberapa detik, dan udaranya pengap dan berbau semen basah. Aku berdiri di bordes antara dua lantai dengan blazer hitam, rok pensil merah anggur, dan heels yang membuat setiap gerakan kecilku bergema di tangga yang kosong.

Pukul dua belas lewat empat belas, pintu tangga lantai delapan di atas kepalaku terbuka.

Langkah kaki. Sepatu pantofel. Ritme yang teratur, tidak tergesa-gesa, menuruni anak tangga satu per satu.

Lalu ia muncul di tikungan bordes, dan berhenti.

Bima berdiri tiga anak tangga di atasku dengan dompet di satu tangan dan buku catatan cokelat di tangan lain. Kemejanya hari ini putih. Kacamatanya sedikit melorot di hidung. Ia menatapku dengan wajah orang yang baru saja membuka lemari dan menemukan harimau di dalamnya.

“Bu,” katanya.

“Bima.”

“Ibu... lagi ngapain di sini, Bu?”

“Nungguin kamu.”

Telinganya tidak langsung merah. Aku memperhatikannya. Selama satu detik, dua detik, telinganya tetap berwarna normal, dan aku hampir kecewa. Lalu, perlahan, seperti fajar yang terlambat, merah itu mulai merambat dari cuping ke atas.

“Kenapa sekarang lewat tangga?” tanyaku.

“Olahraga, Bu.”

“Telingamu merah.”

Ia menyentuh telinga kirinya. Ia tidak membantah.

“Kamu enggak berdiri di pilar lagi,” kataku. “Kamu kirim dokumen lewat kurir. Kamu balas pesan saya dalam empat menit, padahal minggu lalu empat puluh tiga detik. Kamu kasih mendoan ibu kamu buat tim lantai delapan belas, dan kamu cabut catatan dari adik kamu sebelum ngirim.” Aku melangkah naik satu anak tangga. “Bekas selotipnya masih ada, Bima. Di dasar kotak. Kamu lupa bersihin lemnya.”

Ia diam. Kacamatanya makin melorot.

“Jelasin,” kataku.

“Nggak ada yang perlu dijelasin, Bu.”

“Ada. Kamu tiba-tiba menghilang. Saya mau tahu kenapa.”

“Saya nggak menghilang kok, Bu. Saya masih di lantai tujuh. Saya cuma... balik ke tempat saya.”

“Tempat kamu.”

“Iya, Bu.”

Aku naik satu anak tangga lagi. Sekarang hanya ada satu anak tangga di antara kami. Dengan heels-ku, mata kami nyaris sejajar. Aku bisa melihat bulu matanya di balik kacamata, pendek dan lurus. Aku bisa melihat setitik kecil bekas luka di dagunya yang belum pernah kuperhatikan sebelumnya. Aku bisa mencium sabun cuci yang ia pakai untuk kemejanya, sesuatu yang murah dan bersih dan wangi seperti matahari.

“Terus siapa yang mutusin tempat kamu di mana?” tanyaku pelan.

Ia membuka mulut. Menutupnya.

“Kamu,” kataku. “Kamu yang mutusin. Sendirian. Enggak nanya ke siapa-siapa.”

“Bu—”

“Empat tahun.” Aku memiringkan kepala sedikit, dan seutas rambut jatuh ke depan bahuku. Aku membiarkannya di sana. Matanya mengikuti rambut itu, lalu buru-buru kembali ke wajahku. “Empat tahun kamu simpan surat itu, Bima. Kamu tulis jam sebelas lewat empat puluh delapan malam, kamu hapus enam kali, kamu kasih judul jangan dikirim. Dan setelah semua itu, kalimat paling berani di surat itu cuma Ibu kelihatan capek?”

Telinganya sudah merah sepenuhnya sekarang. Merah sampai ke leher. Merah sampai ke kerah kemeja putihnya.

“Saya kecewa, Bima,” kataku.

Ia menatapku seperti orang yang baru saja ditembak dan belum yakin di bagian mana pelurunya masuk.

“Saya kecewa,” ulangku, lebih pelan, “karena kamu nulis surat sepanjang itu buat ngomong sesuatu yang enggak pernah benar-benar kamu omongin. Dan sekarang kamu ngulangin lagi. Kamu mundur tanpa bilang apa-apa.”

“Saya nggak mundur, Bu. Saya cuma—”

“Kalau kamu mau bilang sesuatu, bilang.” Aku mengangkat tangan dan, dengan ujung telunjuk, mendorong kacamatanya yang melorot kembali ke pangkal hidungnya. Sentuhan itu hanya sepersekian detik. Aku merasakan ia berhenti bernapas. “Jangan disimpan lagi di folder draf.”

Lalu aku tersenyum. Senyum yang sudah kulatih bertahun-tahun, senyum yang membuat laki-laki di lobi hotel melupakan nama istri mereka sendiri. Aku tahu persis apa yang dilakukan senyum itu. Aku menggunakannya dengan sengaja.

“Kirim, Bim,” bisikku.

Ia menatapku selama tiga detik. Tiga detik penuh. Wajahnya memerah, pucat, lalu memerah lagi, seperti lampu lalu lintas yang rusak.

Lalu ia berkata, “Maaf, Bu. Ada faktur.”

Dan ia turun.

Bukan berjalan. Turun. Melewatiku di tangga yang sempit dengan menempelkan punggungnya ke dinding beton supaya tidak menyentuhku, lalu menuruni anak tangga dua sekaligus dengan langkah panjang dari kaki yang sangat panjang, buku catatan cokelat di satu tangan, dompet di tangan lain. Bunyi sepatu pantofelnya bergema makin jauh, lantai tujuh, lantai enam, lantai lima, terus ke bawah, sampai pintu tangga di suatu lantai terbuka dan menutup dengan bunyi berdebum.

Aku berdiri sendirian di bordes, di bawah lampu neon yang berkedip.

Lalu aku tertawa.

Pelan. Tanpa suara, mula-mula. Lalu dengan suara, sedikit, bergema di dinding beton. Aku menutup mulut dengan punggung tangan dan tertawa sampai bahuku bergetar, di tangga darurat yang pengap dan berdebu, dengan heels sembilan sentimeter dan blazer hitam yang harganya lebih mahal dari motor.

Maaf, Bu. Ada faktur.

Tidak ada laki-laki yang pernah kabur dariku. Mereka bisa pergi, bisa menghilang, bisa menyerah. Tapi tidak ada yang pernah benar-benar kabur, menuruni tangga dua anak sekaligus, dengan telinga semerah cabai dan alasan paling tidak masuk akal yang pernah kudengar.

Ada faktur. Pukul dua belas lewat lima belas. Jam makan siang.

Aku berhenti tertawa. Aku menyandarkan punggung ke dinding beton yang dingin, dan menyadari bahwa aku sedang tersenyum, sungguhan tersenyum, dengan cara yang tidak kulatih dan tidak kurencanakan.

Ia kabur. Tapi ia tidak menyangkal apa pun.

Ia tidak bilang aku salah. Ia tidak bilang suratnya tidak berarti apa-apa. Ia tidak bilang ia hanya mengagumiku sebagai atasan. Ia tidak bilang ia tidak punya perasaan. Bima Wicaksono tidak bisa berbohong, dan karena itu, saat terpojok, satu-satunya pilihan yang ia punya adalah kabur.

Itu informasi. Informasi yang sangat, sangat berguna.


Aku kembali ke lantai delapan belas lewat lift. Sarah menatapku saat aku lewat di depan mejanya.

“Bu,” katanya. “Ada debu di rok Ibu. Di bagian belakang.”

“Saya nyender di dinding.”

“Di tangga darurat, Bu?”

Aku tidak menjawab. Aku masuk ke ruanganku dan menutup pintu.

Di mejaku, di samping laptop, ada sebuah piring kecil berisi dua potong mendoan. Sarah menyisihkannya seperti yang kuminta. Sudah dingin, tepungnya lembek, daun bawangnya layu.

Aku mengambil satu dan menggigitnya.

Rasanya asin, gurih, dan wangi kencur. Rasanya seperti dapur seseorang di kota yang belum pernah kukunjungi, dengan wajan yang bunyinya terdengar di latar belakang pesan suara tiga menit dua belas detik. Rasanya seperti sesuatu yang dibuat untukku oleh orang yang belum pernah bertemu denganku, hanya karena anaknya pernah menulis surat yang tidak pernah dikirim.

Aku menghabiskan kedua potong mendoan itu, dingin dan lembek, sendirian di ruanganku. Lalu aku mengambil ponsel dan membuka percakapan terakhirku dengan Bima. Terima kasih. Tidak ada balasan.

Aku mengetik.

Mendoan ibumu enak. Tolong sampaikan terima kasih saya. Bukan dari tim lantai delapan belas. Dari saya.

Aku menekan kirim.

Empat puluh tiga detik kemudian, aku tidak menghitungnya, ponselku bergetar.

Baik, Bu. Akan saya sampaikan.

Lalu, satu menit kemudian, satu pesan lagi:

Ibu saya pasti senang sekali. Beliau sudah tanya setiap hari sejak Senin.

Aku menatap pesan kedua itu. Ia tidak perlu mengirimnya. Pesan pertama sudah cukup sopan, sudah cukup selesai. Tapi ia mengirim pesan kedua, satu menit kemudian, dengan sesuatu yang tidak diminta.

Laki-laki yang sedang mundur dengan rapi tidak mengirim pesan kedua.

Aku meletakkan ponsel di meja dan menyelipkan rambut ke belakang telinga kiri.

Kali ini aku melakukannya dengan sengaja.