Chapter Thirty Five
Epilog — Folder Draf, Kosong
POV: Renata
Aku bangun karena bau setrika.
Bukan alarm. Bukan cahaya. Bukan Bi Asih mengetuk pintu dengan nampan teh. Bau setrika panas di atas kain katun, sedikit hangus di ujungnya, bercampur pelembut pakaian yang wanginya seperti bunga yang tidak ada di alam.
Aku membuka mata. Lampu tidur masih menyala kuning. Tirai belum dibuka. Jam di nakas menunjukkan 06.12.
Sisi ranjang di sebelahku kosong, tapi masih hangat. Bantalnya penyok dengan bentuk kepala seseorang yang tidur sangat lurus, sangat rapi, seperti orang yang takut menghabiskan tempat. Di atas bantal itu ada sehelai kertas kecil, dilipat dua.
Aku membukanya.
Tulisan tangan kecil dan rapi seperti cetakan.
Selamat pagi. Aku di bawah. Tehnya sudah kubuat, madu satu sendok, ada di termos supaya tidak dingin. Kamu tidak perlu bangun. Tapi kalau kamu bangun, aku ingin bertanya sesuatu. — B.
P.S. Ini bukan draf. Ini sudah kukirim. Ke bantal.
Aku tertawa sendirian di kamar yang setengah gelap, dengan kertas kecil di tangan dan rambut yang berantakan dan melati layu yang masih tersangkut di beberapa helai rambutku dari semalam.
Aku tertawa sampai mataku basah.
Aku turun tangga dengan kemeja putihnya.
Bukan karena aku tidak punya baju. Lemariku penuh. Tapi kemeja putihnya tergantung di sandaran kursi di sudut kamar, dengan lengan yang masih tergulung sampai siku seperti semalam, dan kemeja itu wangi sabun murah dan kertas fotokopi dan sesuatu yang hangat yang hanya ada pada dirinya. Dan aku tiga puluh dua tahun dan sudah menikah dua kali dan aku tahu persis apa yang terjadi pada seorang laki-laki ketika ia melihat istrinya turun tangga pukul enam pagi memakai kemejanya, tanpa apa pun lagi kecuali kaus kaki tebal.
Aku ingin melihatnya terjadi pada Bima.
Ia berdiri di ruang tengah, di depan papan setrika yang ia temukan entah dari mana, karena aku tidak ingat kami punya papan setrika. Ia memakai kaus abu-abu yang sudah pudar dan celana training biru tua dengan garis putih di samping. Kacamatanya merosot sedikit. Di papan setrika, sebuah kemeja biru muda, setengah licin.
Ia mendengar langkahku di tangga. Ia mengangkat kepala.
Ia melihatku.
Setrika di tangannya berhenti bergerak.
Aku turun anak tangga terakhir dengan sangat pelan. Aku tidak berjalan ke arahnya. Aku bersandar di pegangan tangga, menyilangkan tangan di dada, membiarkan kemeja putihnya jatuh di pahaku, dan menatapnya dengan kepala sedikit miring.
“Selamat pagi, Pak Bima,” kataku.
Ia tidak menjawab. Ia menatapku. Matanya turun ke kaus kaki tebal, naik ke lututku, naik ke ujung kemeja, naik ke kerah yang tidak kukancingkan sampai atas, naik ke wajahku, lalu turun lagi dengan cepat ke papan setrika, seperti orang yang baru saja melihat langsung ke matahari.
Telinganya merah.
Aku senang sekali.
“Bim,” kataku.
“Iya.”
“Setrikamu.”
Ia menatap ke bawah. Setrikanya masih menempel di kemeja biru muda, tidak bergerak, sudah terlalu lama di satu tempat. Asap tipis naik dari kainnya.
“Oh,” katanya. “Waduh.”
Ia mengangkat setrika itu. Di punggung kemeja biru muda, sekarang ada bekas berbentuk setrika berwarna cokelat muda, sempurna, dengan tepi yang sangat rapi.
Aku tertawa sampai harus duduk di anak tangga.
“Itu kemeja kantor kamu, lho,” kataku di sela tawa.
“Itu kemeja kantorku satu-satunya yang biru,” katanya, menatap bekas setrika itu dengan wajah orang yang menatap selisih empat koma tujuh miliar. “Udah aku pakai empat tahun. Hari Kamis. Selalu hari Kamis.”
“Aku tahu.”
Ia menoleh. “Kamu tahu?”
“Bima.” Aku menopang dagu dengan tangan, di anak tangga, dengan kemejanya. “Kamu pakai kemeja biru muda di kelas Akuntansi Manajemen tiap hari Kamis, satu semester penuh. Kamu pakai waktu pertama kali datang ke lantai delapan belas. Kamu pakai di Lumière, di ruang kaca Pak Darto, di gang belakang Pasar Wage.” Aku tersenyum. “Aku juga udah meriksa. Bukan cuma kamu yang ngitung.”
Ia menatapku lama.
Lalu ia mematikan setrika, mencabut kabelnya, berjalan ke anak tangga, dan berlutut di depanku, sehingga matanya sejajar dengan mataku.
“Renata,” katanya.
“Hm?”
“Aku mau nanya sesuatu.”
“Di kertas tadi kamu bilang gitu.”
“Iya.”
“Tanya.”
Ia menarik napas. Telinganya masih merah. Ia menatapku dengan mata cokelat yang sangat jernih di balik kacamata bingkai tipis yang sedikit miring.
“Hari ini kamu capek, nggak?”
Aku menatapnya.
Pertanyaan itu. Pertanyaan yang ia tanyakan dalam diam selama empat tahun, di belakang kertas, di samping lift, di bawah lampu kantor yang redup. Pertanyaan yang ia tanyakan dengan suara untuk pertama kalinya di ruang Saba, dengan termos kecil dan madu satu sendok. Pertanyaan yang ia simpan di ujung lidahnya di ambang pintu kamar hotel di Purwokerto, ketika ponselku berdering dengan video call dari Ibu soal ukuran beskap.
Hari pertama kami menikah, pukul enam lewat dua puluh pagi, ia berlutut di anak tangga dan menanyakan itu lagi.
“Enggak,” kataku.
Ia mengangguk. Serius. Seperti orang yang mencatat jawaban di kolom yang tepat.
“Kalau gitu,” katanya, “boleh aku bikinin kamu sarapan?”
Aku menjulurkan tangan dan merapikan kacamatanya yang miring. Lalu aku membiarkan tanganku turun ke rahangnya, ke lehernya, ke kerah kaus abu-abunya yang pudar.
“Boleh,” kataku. “Nanti.”
Telinganya, yang tadinya merah, menjadi sangat merah.
Sarapannya terlambat dua jam.
Nasi goreng dengan telur ceplok yang kuningnya sedikit terlalu matang, karena juru masaknya terlalu sering menoleh ke meja makan tempat istrinya duduk dengan kemeja putih dan rambut yang belum disisir. Teh dari termos, madu satu sendok, masih hangat. Kerupuk udang yang ditemukan Bima di lemari dapur Bi Asih.
Aku makan semuanya. Lalu aku makan setengah nasi goreng di piringnya.
“Katanya kamu nggak lapar,” katanya.
“Aku bohong.”
Ia tersenyum, dan mendorong sisa piringnya ke arahku tanpa berkata apa-apa.
Setelah sarapan, ia mencuci piring. Aku duduk di meja makan dengan cangkir teh kedua dan membuka laptopnya, karena laptopku masih di tas tangan di lantai atas dan aku malas naik tangga, dan karena aku ingin membalas pesan Tasya yang sejak subuh mengirim empat puluh tiga stiker kucing menangis bahagia.
Laptopnya tidak dikunci kata sandi. Tentu saja tidak. Laki-laki yang menyimpan surat cinta di folder draf selama empat tahun tidak merasa perlu mengunci laptopnya, karena ia tidak pernah mengira ada orang yang ingin membacanya.
Aplikasi surel kantornya terbuka di layar.
Aku tidak berniat membacanya. Aku hanya ingin membuka peramban. Tapi mataku jatuh ke kolom kiri, ke daftar folder di bawah kotak masuk.
Kotak Masuk (12)
Terkirim
Draf (0)
Nol.
Aku menatap angka itu lama.
Empat tahun lalu, di folder itu, ada sebuah surel tanpa nomor yang tidak pernah dikirim. Tiga bulan lebih yang lalu, di folder itu, ada draf yang terkirim ke dua ribu orang karena sebuah tombol yang salah. Dua bulan lalu, di folder itu, ada sebuah surat pengunduran diri dan sebuah pengakuan, berdampingan, satu terkirim dan satu tidak.
Sekarang nol.
Aku menyentuh angka nol itu di layar dengan ujung jariku, seperti menyentuh foto.
“Renata?” Bima menoleh dari bak cuci piring, dengan tangan penuh busa sabun. “Kenapa?”
“Folder draf kamu kosong.”
Ia mengeringkan tangannya di celana training, berjalan ke meja makan, dan berdiri di belakang kursiku. Ia menatap layar laptopnya dari atas bahuku. Lalu ia membungkuk dan meletakkan dagunya di atas kepalaku, sangat pelan, seperti meletakkan sesuatu yang mudah pecah.
“Aku hapus semua,” katanya. “Kamis kemarin. Sebelum berangkat ke masjid.”
“Semuanya?”
“Yang udah terkirim nggak perlu disimpen di draf. Yang belum terkirim,” ia diam sebentar, “aku udah mutusin nggak mau punya lagi.”
Aku menatap angka nol itu.
“Gimana kalau suatu hari kamu mau bilang sesuatu,” kataku, “tapi kamu takut?”
Ia diam lama. Dagunya masih di atas kepalaku. Aku merasakan napasnya di rambutku.
“Kalau aku takut,” katanya akhirnya, “aku bilang ke kamu kalau aku takut. Terus kamu bilang tanya dulu. Terus aku nanya.”
Aku menutup laptop itu.
Aku tidak membalas pesan Tasya. Empat puluh tiga stiker kucing menangis bahagia bisa menunggu.
Hidup ternyata tidak berhenti setelah pintu kamar tertutup.
Hari Senin, dua minggu kemudian, aku kembali ke lantai delapan belas. Dewan menunjukku sebagai Pelaksana Tugas Direktur Utama sampai RUPS bulan Juni. Ibu Laksmi yang mengusulkan. Mama Lies yang mendukung. Aku menerimanya dengan satu syarat: Divisi Kepatuhan diperkuat, dan Pasal 7 Kode Etik direvisi sehingga hubungan antara dua karyawan di garis pelaporan yang berbeda diatur dengan keterbukaan, bukan larangan.
Bima kembali ke lantai tujuh. Ia menolak tawaran Pak Darto untuk naik menjadi supervisor. Ia bilang ia belum siap. Ia bilang, dengan telinga merah di depan seluruh tim AP, bahwa ia tidak ingin siapa pun mengira jabatannya naik karena istrinya.
Seminggu kemudian, Pak Darto mengajukannya lagi. Kali ini lewat jalur resmi, dengan evaluasi dari tiga atasan berbeda yang tidak satu pun adalah aku, dan dengan satu lampiran: daftar empat puluh tujuh selisih yang ditemukan Bima dalam dua tahun terakhir, termasuk satu yang bernilai empat koma tujuh miliar.
Bima menerimanya.
Dodi menempelkan papan baru di pantry lantai tujuh, menggantikan papan taruhan Kapan Bima Nembak? yang sudah dipensiunkan dengan upacara kecil dan sepiring mendoan.
Papan barunya bertuliskan: KAPAN BU RENATA HAMIL? Minimal Rp10.000. Bandar: Dodi. Bebas pajak.
Aku menyuruh Mbak Sarah mencopotnya.
Mbak Sarah menyampaikannya kepada Dodi. Dodi meminta maaf dengan sangat tulus. Papan itu dicopot.
Dua hari kemudian, papan itu muncul lagi di pantry lantai delapan belas. Dengan tulisan tangan yang berbeda. Dan nama bandar yang berbeda.
Bandar: Pak Komar.
Aku membiarkannya.
Folder draf Bima tetap nol selama tiga minggu.
Aku tahu, karena aku memeriksanya. Bukan karena aku tidak percaya. Karena aku senang melihat angka nol itu, seperti orang yang senang melihat saldo utang yang sudah lunas.
Lalu suatu malam, hari Kamis, pukul sebelas, aku turun ke dapur untuk mengambil air dan menemukan laptopnya terbuka di meja makan. Ia sudah tidur di atas. Ia tertidur di sofa ruang tengah sepulang lembur, dan aku membangunkannya dan menyuruhnya naik, dan ia naik dengan kacamata masih di kepala dan langsung tertidur sebelum kepalanya menyentuh bantal.
Laptopnya masih menyala. Aplikasi surelnya masih terbuka.
Draf (1)
Aku menatap angka itu.
Jantungku turun sedikit. Hanya sedikit. Kebiasaan lama. Tiga tahun menunggu seseorang yang tidak pulang meninggalkan bekas di tempat-tempat yang tidak terduga, dan salah satunya ternyata adalah angka satu di samping kata Draf.
Aku tahu aku tidak seharusnya membukanya.
Aku tahu aturannya. Tanya dulu. Berlaku dua arah.
Aku menutup laptop itu tanpa membukanya. Aku naik tangga. Aku membangunkannya.
Ia membuka mata dengan sangat pelan, dengan wajah bingung, dengan kacamata yang masih di kepala dan rambut yang berdiri di satu sisi.
“Renata?” suaranya serak. “Ada apa? Kamu capek? Kamu sakit? Migrain?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Bima.” Aku duduk di tepi ranjang. “Folder draf kamu satu.”
Ia menatapku. Sepuluh detik. Dua puluh. Aku menunggu telinganya memerah, menunggu ia mengalihkan pandangan, menunggu ia berkata bukan apa-apa.
Ia tidak melakukan satu pun dari itu.
Ia tersenyum. Senyum yang mengantuk dan sangat lembut, dengan mata yang setengah tertutup.
“Kamu nggak buka, ya,” katanya.
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena aku mau tanya dulu.” Aku menarik napas. “Boleh aku baca?”
Ia diam sebentar. Lalu ia bangun, mengambil kacamata dari kepalanya, memakainya dengan benar, dan mengulurkan tangannya kepadaku.
“Ayo,” katanya. “Kita baca bareng.”
Kami duduk di meja makan pukul sebelas lewat dua puluh malam, dengan dua cangkir teh yang dibuat Bima dalam keadaan setengah tidur, satu dengan madu satu sendok dan satu tanpa gula sama sekali.
Ia membuka laptopnya. Ia membuka folder draf.
Satu surel. Tanpa penerima. Subjek: Untuk Renata (dikirim setiap hari).
Ia memutar laptop itu ke arahku.
Renata,
Ini bukan draf yang takut dikirim. Ini daftar. Aku menyimpannya di sini karena ini satu-satunya tempat yang selalu kubuka setiap pagi, dan aku butuh pengingat, karena aku pelupa untuk hal-hal yang tidak berbentuk angka.
Ini pertanyaan-pertanyaan yang akan kutanyakan kepadamu. Setiap hari. Sampai kamu bosan, lalu setelah kamu bosan juga.
1. Hari ini kamu capek, nggak?
2. Kamu sudah makan? (Kalau kamu bilang kenyang, aku akan tetap memesan dua makanan penutup.)
3. Ada yang ingin kamu ceritakan tapi belum sempat?
4. Ada yang sedang kamu putuskan sendirian, yang seharusnya kita putuskan berdua?
5. Kamu kangen Hendra hari ini? (Boleh. Selalu boleh. Aku tidak akan cemburu. Aku akan membelikan melati.)
6. Ada yang kulakukan hari ini yang membuatmu tidak nyaman, tapi kamu tidak bilang karena takut aku sedih?
7. Ada yang kulakukan hari ini yang kamu suka? (Aku ingin tahu supaya bisa kulakukan lagi.)
8. Boleh aku menciummu?
Pertanyaan nomor delapan tidak perlu ditanyakan setiap hari kalau kamu tidak mau. Tapi aku akan tetap bertanya. Karena dulu, aku membiarkan satu pertanyaan menunggu selama empat tahun di tempat seperti ini, dan aku tidak mau ada pertanyaan lain yang menunggu satu hari pun.
Daftar ini tidak akan pernah kukirim. Karena aku tidak perlu mengirimnya. Aku akan menanyakannya langsung, dengan suara, di depanmu.
Satu-satunya draf yang kusimpan sekarang adalah yang isinya pertanyaan, bukan jawaban.
— B.
Aku membacanya dua kali.
Lalu aku menutup laptop itu dan menatap laki-laki di seberang meja. Laki-laki dua puluh delapan tahun dengan kaus abu-abu pudar dan rambut yang berdiri di satu sisi dan kacamata bingkai tipis. Laki-laki yang empat tahun lalu duduk di barisan ketiga kelas hari Kamis dan tidak pernah menelepon nomor di pojok kertasnya. Laki-laki yang menulis saya tidak mengharapkan apa-apa di surel yang tidak pernah ia kirim, lalu mengirimnya ke dua ribu orang karena tombol yang salah, lalu memilih untuk tetap tinggal ketika semua orang menertawakannya.
Laki-laki yang sekarang bertanya.
“Bima,” kataku.
“Iya.”
“Pertanyaan nomor satu.”
Ia tersenyum. Ia sudah tahu. Tapi ia tetap bertanya, karena itu janjinya, dan janjinya selalu ia tepati dengan ketelitian orang yang mencocokkan faktur satu per satu.
“Hari ini kamu capek, nggak?”
Aku memikirkannya. Rapat dewan pukul delapan pagi. Audit kuartal. Tiga panggilan dari Ibu Laksmi. Satu papan taruhan di pantry lantai delapan belas yang bandarnya satpam malam.
“Capek,” kataku. Jujur. Untuk pertama kalinya, aku menjawab pertanyaan itu dengan jujur tanpa harus berpikir dua kali apakah jawaban itu akan membebani seseorang.
Ia mengangguk. Serius. Ia berdiri, berjalan ke sisi mejaku, dan mengulurkan tangannya.
“Kalau gitu,” katanya, “kita tidur, ya.”
“Pertanyaan nomor delapan belum kamu tanyain.”
Telinganya merah.
“Boleh aku menciummu?” tanyanya.
Aku berdiri. Tanpa heels, dengan kaus kaki tebal di lantai dapur yang dingin, aku sedikit lebih pendek darinya. Aku harus mendongak sedikit. Aku tidak keberatan.
“Boleh,” kataku.
Ia menciumku di dapur, di bawah lampu kecil di atas bak cuci piring, dengan dua cangkir teh yang mulai dingin di meja makan dan sebuah laptop tertutup dengan satu draf di dalamnya yang tidak akan pernah dikirim karena tidak perlu dikirim.
Di luar, hujan Maret mulai turun di atas atap-atap Kebayoran Baru.
Di dalam, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, tidak ada yang menunggu.
Folder Draf: 1
Subjek: Untuk Renata (dikirim setiap hari)
Status: Tidak perlu dikirim. Sudah ditanyakan.
TAMAT
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong reading