← Masih di Folder Draf

Chapter Twenty Two

Dua Kali

POV: Renata

Sabtu pagi, aku meminta Bima mengajakku ke tempat makan favoritnya.

“Tempat makan favorit saya itu warung soto, Renata,” katanya di telepon, dengan suara yang jelas sedang panik. “Di gang dekat kos. Bangkunya kayu panjang. Nggak ada AC. Kipas anginnya bunyi.”

“Kayak kipas angin kamu.”

“Lebih parah. Kipas angin Pak Dul bunyinya kayak motor mogok.”

“Jam sebelas,” kataku. “Kirim lokasinya.”

Ia mengirim lokasinya dalam empat puluh tiga detik. Lalu, satu menit kemudian, ia mengirim satu pesan lagi:

Pakai baju yang tidak apa-apa kena kuah soto. Bangkunya agak berminyak.


Aku tidak punya baju yang tidak apa-apa kena kuah soto. Itu kusadari pukul sembilan pagi, berdiri di depan lemari dengan Bi Asih di ambang pintu kamar.

“Bu, mau ke mana?”

“Warung soto, Bi.”

Bi Asih menatapku, lalu menatap isi lemariku: deretan blazer, kemeja sutra, gaun, rok pensil, semuanya berwarna netral dan berharga lebih dari gaji bulanannya. “Warung soto, Bu? Yang pinggir jalan?”

“Di gang, katanya. Bangkunya berminyak.”

Bi Asih menatapku dengan wajah orang yang baru mendengar majikannya akan mendaki Gunung Everest pakai sandal jepit. Lalu ia berbalik, berjalan ke kamarnya di belakang, dan kembali dengan sebuah kantong plastik.

Di dalamnya ada celana jins yang sudah pudar, kemeja linen putih kebesaran, dan sepasang sepatu kets kanvas berwarna krem.

“Punya Mbak Tasya, Bu. Ketinggalan waktu nginep bulan lalu. Ibu coba.”

Aku mencobanya. Celana jinsnya sedikit kependekan di bagian mata kaki, karena Tasya lebih pendek lima sentimeter dariku. Kemeja linennya kebesaran dan jatuh longgar di bahu. Sepatunya pas.

Aku menatap diriku di cermin. Rambut digerai tanpa ditata, hanya disisir dengan jari. Wajah hampir tanpa riasan: pelembap, maskara tipis, dan bibir merah bata, karena aku tidak pernah keluar rumah tanpa itu. Kemeja putih kebesaran dengan lengan yang digulung sampai siku. Celana jins pudar. Sepatu kets.

Aku terlihat seperti orang lain. Seperti perempuan tiga puluh dua tahun yang tidak sedang memikul apa pun.

“Ya Allah, Bu,” kata Bi Asih dari ambang pintu. “Ibu kok malah kelihatan kayak mahasiswi.”


Warung Soto Betawi Pak Dul ada di mulut sebuah gang sempit di Bendungan Hilir, di antara toko pulsa dan bengkel tambal ban. Warungnya hanya terdiri dari gerobak kaca berisi tumpukan daging dan jeroan, satu panci besar berisi kuah santan yang mengepul, tiga meja kayu panjang dengan bangku tanpa sandaran, dan kipas angin dinding yang berputar dengan bunyi ngeek-ngeek-ngeek seperti sedang protes.

Bima sudah menunggu di bangku paling ujung. Ia memakai kaus polo abu-abu dan celana bahan cokelat. Tanpa kemeja yang disetrika, tanpa buku catatan cokelat, ia terlihat lebih muda. Lebih santai. Seperti mahasiswa yang dulu duduk di bangku paling depan.

Ia berdiri saat melihatku turun dari mobil. Lalu ia membeku di tempat.

Aku berjalan mendekat. Ia masih membeku.

“Kamu kenapa?” tanyaku.

“Ibu... kamu...” Ia berhenti. Menelan ludah. “Kamu pakai jins.”

“Punya Tasya.”

“Kamu pakai sepatu kets.”

“Juga punya Tasya.”

Ia menatapku dari ujung rambut sampai ujung sepatu, lalu kembali ke wajahku, dengan ekspresi orang yang baru saja menemukan bahwa angka yang sudah ia hafal selama empat tahun ternyata masih bisa naik.

“Kamu cantik,” katanya. “Lebih dari biasanya. Saya nggak tahu kok bisa. Saya kira udah mentok.”

Di belakangnya, Pak Dul, laki-laki enam puluhan dengan kaus singlet dan handuk kecil di leher, berhenti mengiris daging dan menatapku dengan pisau di udara.

“Bim,” kata Pak Dul pelan. “Itu siapa?”

“Teman saya, Pak.”

“Teman?” Pak Dul menatapku lagi. Lalu menatap mobil putih di mulut gang, dengan Pak Rahmat di kursi sopir. Lalu menatap Bima. “Bim. Lo nggak usah bohong sama gue. Gue liat lo dari jaman lo masih makan soto ngutang. Itu bukan temen. Itu bidadari turun di Benhil.”

“Pak Dul.”

“Neng.” Pak Dul mengarahkan pisaunya ke arahku dengan hormat, seperti ksatria mengangkat pedang. “Duduk, Neng. Soto spesial. Gratis. Pake babat, pake paru, pake kikil. Lo mau pake emping juga?”

“Boleh, Pak.”

“Emping dua!” teriak Pak Dul kepada istrinya, yang sedang menggoreng di belakang gerobak. Istrinya menoleh, melihatku, dan menjatuhkan sendok penggorengan ke dalam minyak panas.


Soto Pak Dul enak. Kuahnya kental dan gurih, dengan santan dan susu yang dicampur sampai warnanya kuning pucat. Dagingnya empuk. Emping-nya renyah dan sedikit pahit. Aku memakannya dengan sendok bebek di bangku kayu yang memang berminyak, di bawah kipas angin yang berbunyi seperti motor mogok, dan kuah soto menetes sedikit di kemeja linen Tasya.

Bima menatapku makan seperti orang yang sedang menonton pertunjukan yang sangat penting.

“Kamu enggak makan,” kataku.

“Saya lagi makan.”

“Sendok kamu udah di udara dari tadi.”

Ia menatap sendoknya. Sendok itu memang di udara, berisi kuah dan nasi, setengah jalan antara mangkuk dan mulutnya. Ia memasukkannya ke mulut dengan cepat dan tersedak.

Di meja sebelah, dua anak SMA yang sedang makan soto sambil memegang ponsel berbisik-bisik keras. “Itu yang di TikTok bukan sih? Yang cewek CFO? Yang dikirimin surat cinta?” “Masa sih? Kok makan soto?” “Liat cowoknya. Itu Pangeran Lem Sepatu. Gue yakin.”

Bima menunduk sangat dalam di atas mangkuknya.

Aku menatap kedua anak SMA itu dan tersenyum. Mereka langsung pura-pura sibuk dengan ponselnya.

“Aku viral di TikTok?” tanyaku pelan.

“Tasya ngunggah video, Renata. Hari Kamis. Judulnya ‘Kakakku dan Pangeran Lem Sepatu: Sebuah Saga’. Wajah Ibu nggak ada kok. Cuma punggung. Sama stiker lem sepatu. Dua juta penonton.”

Aku menutup mata.

“Aku bakal bunuh Tasya,” kataku.

“Dia udah minta maaf ke saya lewat DM, Renata. Katanya nggak bisa nahan diri. Katanya ini lebih bagus dari drama Korea.”


Pukul dua belas lewat sepuluh, Bima berdiri untuk membayar dan membeli kerupuk untuk dibawa pulang.

“Pak Dul bilang gratis,” kataku.

“Pak Dul memang selalu bilang gratis, Renata. Terus tiga hari kemudian istrinya nagih saya di depan gang.” Ia tersenyum. “Saya bayar sekarang aja, biar Bu Dul nggak usah nagih.”

Ia meninggalkan ponselnya di meja, di sebelah mangkuk sotonya yang sudah kosong, dan berjalan ke gerobak.

Lima detik kemudian, ponselnya bergetar.

Aku melirik layarnya. Ibu (Purwokerto). Panggilan video.

Aku menatap ke arah gerobak. Bima sedang berdiri di depan Pak Dul, menghitung uang di dompetnya dengan sangat teliti, sementara Bu Dul membungkus kerupuk ke dalam plastik dan berusaha menolak uangnya dengan suara keras.

Ponselnya bergetar lagi.

Aku sudah pernah mengangkat telepon dari Bu Sumiati. Di kantin, di depan dua ratus orang. Bu Sumiati menyebutku seperti artis sinetron jam tujuh dan menawariku mendoan. Mendoan yang kemudian dikirim untuk tim lantai delapan belas.

Aku mengangkatnya.

“BIM—” Wajah Bu Sumiati memenuhi layar, sangat dekat, seperti biasa. Hidung, sebagian kacamata, kerudung cokelat yang miring. Lalu ia melihat wajahku, dan suaranya berhenti di tengah kata.

“Selamat siang, Bu,” kataku. “Ini Renata. Bima lagi bayar soto.”

Hening tiga detik.

“YA ALLAH,” kata Bu Sumiati. Lalu, menjauh dari ponsel: “AYU! AYU! BU RENATA! BU RENATA NANG HAPE NE MASMU!”

(Artinya: “BU RENATA ADA DI HP MASMU!”)

Dari jauh terdengar suara langkah berlari dan sesuatu yang jatuh, mungkin panci. Lalu wajah Ayu muncul di sebelah wajah Bu Sumiati, terdesak masuk ke layar. Ayu ternyata gadis berkerudung pink dengan wajah bulat dan mata yang mirip sekali dengan mata Bima: cokelat gelap, dengan bulu mata pendek dan lurus.

“BU RENATA! HALO! AKU AYU! AKU ADIKNYA MAS BIMA! AKU YANG NULIS CATATAN DI MENDOAN!”

“Halo, Ayu. Saya udah makan mendoannya. Enak banget.”

Ayu menjerit. Bu Sumiati menutup mulutnya dengan tangan. Di layar, aku melihat dapur di belakang mereka: dinding yang menghitam karena asap, wajan besar di atas kompor, radio kecil di atas lemari. Persis seperti yang diceritakan Bima di lift.

“Bu Renata,” kata Bu Sumiati, dengan suara halus yang ia pakai di pengajian. “Panjenengan sehat? Wis maem? Kok soto? Kok nggak ning restoran?”

(Artinya: “Ibu sehat? Sudah makan?” … “Kok nggak di restoran?”)

“Bima yang ajak, Bu. Katanya ini tempat favoritnya.”

“Lha iyo. Soto Pak Dul. Wis ket kuliah. Wong mlarat, soto sing murah.” Bu Sumiati menggeleng-geleng. Lalu wajahnya berubah, menjadi wajah seorang ibu yang sangat bahagia dan tidak bisa menahannya. “Bu Renata. Ibu seneng banget. Bima wis cerita kabeh. Kalian akhire.”

(Artinya: “Lha iya.” … “Sudah dari zaman kuliah. Orang nggak punya, ya soto yang murah.” … “Ibu senang banget. Bima sudah cerita semuanya. Kalian akhirnya.”)

“Bima cerita?”

“Cerita, Bu. Kemis wingi. Telpon jam sepuluh bengi. Nangis. Wong lanang umur rong puluh wolu nangis neng telpon.” Bu Sumiati tertawa. “Ibu yo nangis. Ayu yo nangis. Pakdene ngguyu meneh.”

(Artinya: “Cerita, Bu. Kamis kemarin. Telepon jam sepuluh malam. Nangis. Laki-laki umur dua puluh delapan nangis di telepon.” … “Ibu juga nangis. Ayu juga nangis. Pakdenya malah ketawa lagi.”)

Aku tersenyum. Aku tidak tahu ia menelepon ibunya hari Kamis. Hari Kamis adalah malam setelah lift. Malam setelah aku menceritakan tujuh menit di lift rumah sakit.

“Ibu ngerti ket mbiyen, Bu Renata,” lanjut Bu Sumiati, dengan suara yang tiba-tiba lebih pelan, lebih lembut, seperti ibu yang sedang membuka rahasia anaknya kepada calon menantu dengan penuh sayang. “Ket patang taun kepungkur. Bima mulih seko Depok, akhir minggu, nggowo kertas. Kertas tugas. Ono tulisan abang neng pojoke. Nomor telpon.”

(Artinya: “Ibu tahu dari dulu, Bu Renata,” … “Sejak empat tahun lalu. Bima pulang dari Depok, akhir minggu, bawa kertas. Kertas tugas. Ada tulisan merah di pojoknya. Nomor telepon.”)

Senyumku berhenti.

“Bima cerito, ono dosen ayu banget, menehi nomor. Ibu ngomong, Lha telpon toh, Bim. Wong ayu kok dianggurke.” Bu Sumiati tertawa kecil. “Eh, Bima ngeyel. Jare, Ora, Bu. Dosennya pantas dapat yang lebih baik. Bima iki sapa.”

(Artinya: “Bima cerita, ada dosen cantik banget, ngasih nomor. Ibu bilang, ‘Lha, telepon dong, Bim. Perempuan cantik kok dianggurin.’” … “Eh, Bima ngeyel. Katanya, ‘Nggak, Bu. Dosennya pantas dapat yang lebih baik. Memangnya Bima ini siapa.’”)

Aku tidak bergerak.

“Ibu nganti jengkel, Bu Renata. Ibu ngomong, kowe ki ngerti ora, wong wedok menehi nomor iku artine opo? Bima ngomong, Bima ngerti, Bu. Mulane Bima ora telpon.” Bu Sumiati menghela napas panjang, napas seorang ibu yang sudah menyimpan sesuatu terlalu lama. “Patang taun, Bu. Patang taun kertas iku disimpen. Ibu ngerti dheweke getun. Saben bengi. Ning ora tau ngomong.”

(Artinya: “Ibu sampai jengkel, Bu Renata. Ibu bilang, kamu itu ngerti nggak, perempuan ngasih nomor itu artinya apa? Bima bilang, ‘Bima ngerti, Bu. Makanya Bima nggak telepon.’” … “Empat tahun, Bu. Empat tahun kertas itu disimpan. Ibu tahu dia menyesal. Tiap malam. Tapi nggak pernah bilang.”)

Di sebelahnya, Ayu tiba-tiba menatap ke arah kamera dengan mata yang membesar. Ayu, adik yang lebih peka dari kakaknya, menatap wajahku di layar ponselnya, dan aku melihat ia membaca sesuatu di sana.

“Bu,” kata Ayu cepat, menyikut ibunya. “Bu, Bu Renata lagi makan. Udah, Bu. Nanti lagi.”

“Lho, Ibu durung rampung—”

(Artinya: “Lho, Ibu belum selesai—”)

“Udah, Bu! Daaah, Bu Renata! Salam buat Mas Bima!”

Layar menjadi hitam.

Aku duduk di bangku kayu berminyak di warung Pak Dul, dengan ponsel Bima di tangan, di bawah kipas angin yang berbunyi ngeek-ngeek-ngeek, dan aku tidak bisa bergerak.

Bima ngerti, Bu. Mulane Bima ora telpon.

Bima mengerti, Bu. Makanya Bima tidak menelepon.


Bima kembali dengan kantong plastik berisi kerupuk dan wajah yang tersenyum.

“Bu Dul akhirnya mau terima uangnya,” katanya. “Tapi dia maksa ngasih kerupuk dua bungkus. Satu buat kamu. Katanya—”

Ia berhenti. Ia melihat wajahku.

Lalu ia melihat ponselnya di tanganku.

Senyumnya menghilang. Pelan-pelan, seperti lampu yang diredupkan. Kantong plastik di tangannya berhenti berayun.

“Ibu kamu nelepon,” kataku.

Ia tidak menjawab.

“Ibu kamu cerita,” lanjutku. Suaraku terdengar sangat tenang di telingaku sendiri, tenang dengan cara yang membuatku takut. “Soal kamu pulang ke Purwokerto empat tahun lalu, bawa kertas tugas. Soal ibu kamu nyuruh kamu nelepon. Soal kamu bilang dosennya pantas dapat yang lebih baik.”

Ia berdiri di depan meja. Ia tidak duduk.

“Soal kamu bilang, Bima mengerti, Bu. Makanya Bima tidak menelepon.”

Telinganya merah.

Merah sekali. Merah sampai ke leher, sampai ke kerah kaus polo abu-abunya, merah dengan warna yang belum pernah kulihat sebelumnya, warna yang lebih gelap dari merah bata. Dan ia tidak menyentuhnya. Ia tidak mencoba menyembunyikannya.

“Kamu tahu,” kataku.

“Saya tahu,” katanya pelan.

“Dua minggu lalu, di ruanganku, aku tunjukin kertas itu. Kamu bilang kamu kira itu nomor untuk konsultasi skripsi.”

“Saya tahu.”

“Kamu bohong.”

“Saya...” Ia menelan ludah. “Udah empat tahun saya bilang begitu ke diri saya sendiri, Renata. Tiap malam. Sampai saya hampir percaya. Telinga saya merah waktu itu. Kamu lihat sendiri.”

Aku melihatnya. Tentu saja aku melihatnya. Aku melihat telinganya memerah di ruanganku saat ia bilang nomor untuk konsultasi, dan aku memilih untuk tidak bertanya. Aku memilih untuk percaya bahwa ia polos, karena itu lebih mudah. Karena kalau ia polos, maka tidak ada yang salah. Hanya nasib. Hanya dua orang yang tidak mengerti satu sama lain di waktu yang salah.

“Kenapa?” tanyaku. Suaraku tidak lagi tenang. “Kalau kamu tahu. Kenapa kamu enggak nelepon?”

Bima menatap kantong kerupuk di tangannya.

Lalu ia duduk di bangku di seberangku, perlahan, seperti orang tua yang lututnya sakit. Ia meletakkan kantong kerupuk di meja. Ia melipat kedua tangannya di atas meja kayu yang berminyak. Ia tidak menatapku. Ia menatap tangannya.

“Hari itu,” katanya pelan, “kamu ninggalin pulpen merahmu di meja saya. Saya ngejar kamu ke tempat parkir, mau ngembaliin.”

Aku diam.

“Saya lihat kamu di tempat parkir. Di sebelah mobil hitam. Ada laki-laki yang bukain pintu mobil buat kamu. Tinggi. Kemeja putih. Senyumnya lebar. Matanya nyipit.” Bima menelan ludah. “Dia bawain termos baru buat kamu. Termos perak. Kecil. Soalnya termosmu yang lama bocor.”

Dunia di sekitarku berhenti.

Aku ingat. Tentu saja aku ingat. Hari itu Hendra menjemputku di kampus untuk mengantarku ke rumah sakit, karena ayahku baru dipindahkan ke kamar rawat biasa dan Pak Rahmat sedang mengantar ibuku. Hendra membawa termos baru. Ia bilang, Termosmu bocor waktu rapat kemarin. Aku perhatikan. Ia tidak tahu bahwa termos itu sudah dikencangkan tutupnya oleh seorang mahasiswa dengan sapu tangan kotak-kotak biru tiga hari sebelumnya.

Aku memakai termos dari Hendra selama dua tahun. Sampai ia meninggal. Lalu aku menyimpannya di lemari dapur dan tidak pernah menyentuhnya lagi.

“Kamu lihat Hendra,” kataku. Itu bukan pertanyaan.

“Waktu itu saya nggak tahu namanya. Sepuluh bulan kemudian, saya lihat fotonya di berita.” Bima menatap tangannya. “Saya pikir... saya pikir kamu udah punya seseorang. Orang yang bisa bukain pintu mobil yang mengilap. Yang bisa bawain termos baru. Yang udah lulus kuliah, udah kerja, udah punya sesuatu buat dikasih. Saya cuma punya sapu tangan. Sama tahu kalau karet termos harganya dua ribu lima ratus.”

“Jadi kamu mutusin sendiri.”

“Saya mutusin kamu pantas dapat yang lebih baik.”

“Tanpa bertanya kepadaku.”

Ia tidak menjawab.

“Tanpa bertanya laki-laki itu siapa-siapa atau bukan,” kataku. Suaraku bergetar. “Dia belum siapa-siapa, Bima. Waktu itu dia belum siapa-siapa. Aku udah nolak dia dua belas kali. Dia cuma nganter aku ke rumah sakit karena ayahku sakit. Kalau kamu nelepon. Kalau kamu nelepon malam itu, atau minggu itu, atau bulan itu...”

Aku berhenti. Aku tidak sanggup menyelesaikan kalimat itu. Karena kalimat itu berakhir di tempat yang tidak boleh kudatangi. Tempat di mana aku tidak menikah dengan Hendra. Tempat di mana Hendra tidak menungguku selama tujuh bulan. Tempat di mana aku tidak memegang tangannya di lift rumah sakit selama tujuh menit.

Aku tidak boleh menyesali Hendra. Aku tidak akan menyesali Hendra.

Tapi aku juga tidak bisa memaafkan laki-laki di depanku, malam ini, untuk keputusan yang ia buat sendirian di kamar kos di Depok, empat tahun lalu, tentang hidupku.

“Ada satu lagi,” kata Bima.

Aku menatapnya.

Ia mengambil ponselnya dari tanganku, pelan, tanpa menyentuh jariku. Ia membuka sesuatu di layarnya. Lalu ia memutar ponsel itu dan meletakkannya di meja di depanku.

Itu percakapan kami. Di bagian paling bawah, di kolom ketik, ada sebuah pesan yang belum terkirim. Di atasnya, tulisan kecil berwarna abu-abu: Draf.

Renata. Ada yang harus aku ceritakan. Tentang kenapa aku tidak menelepon.

Tanggal draf: Sabtu, 28 November, 01.20.

Seminggu yang lalu.

Aku menatap pesan itu. Seminggu yang lalu. Setelah ciuman pertama di ruanganku. Sebelum lift. Ia menulis ini pukul satu pagi, dan ia menyimpannya, dan ia tidak mengirimnya. Lalu hari Senin ia membereskan invoice Satrio. Lalu hari Rabu ia menggenggam tanganku di lift yang gelap dan menempelkannya di dadanya dan bilang saya masih hangat, saya tidak ke mana-mana. Lalu ia menciumku sampai Pak Darto harus berbicara kepada dinding.

Dan selama itu, pesan ini ada di sini. Di kolom ketik. Di folder draf.

“Kenapa enggak kamu kirim?” tanyaku. Suaraku nyaris tidak terdengar di bawah bunyi kipas angin.

“Karena kamu capek,” katanya. “Karena kamu baru seminggu lepas cincinnya. Karena kamu baru mulai ketawa lagi. Karena malam di lift kamu cerita soal rumah sakit, dan saya nggak sanggup bikin kamu sedih lagi. Saya pikir... nanti aja. Abis kamu nggak terlalu capek. Abis urusan Pak Gunawan beres. Abis kamu bener-bener bahagia.”

“Kamu pikir.”

“Saya pikir itu yang terbaik buat kamu.”

Aku tertawa. Tawa yang pendek, pecah, dan tidak lucu sama sekali.

Lalu aku menatapnya. Aku menatap laki-laki di depanku, laki-laki dengan telinga semerah darah dan tangan terlipat di atas meja warung soto yang berminyak, laki-laki yang memperbaiki sepatuku dan menyetrika blazerku dan menyelamatkan rendang suamiku dan memastikan hadiah terakhir Hendra sampai kepadaku. Laki-laki yang paling baik yang pernah kukenal.

Laki-laki yang terus-menerus memutuskan apa yang terbaik untukku tanpa pernah bertanya.

“Kamu memutuskan hidupku tanpa bertanya padaku,” kataku pelan. “Dua kali.”

Ia menunduk.

“Empat tahun lalu, kamu mutusin aku pantas dapat laki-laki yang lebih baik. Kamu enggak nanya aku maunya apa. Kamu enggak nanya laki-laki di tempat parkir itu siapa-siapa atau bukan. Kamu cuma mutusin, dan aku nunggu tiga minggu dengan ponsel di samping bantal, dan Hendra nulis di klaim jamuannya semoga tahun ini dia sudah berhenti menunggu.”

Suaraku pecah di tengah. Aku tidak peduli. Pak Dul di gerobaknya sudah berhenti mengiris daging. Bu Dul sudah berhenti menggoreng. Dua anak SMA di meja sebelah sudah menurunkan ponselnya.

“Dan minggu ini, kamu mutusin aku terlalu rapuh buat dengar kebenaran. Kamu mutusin kapan aku boleh tahu. Kamu mutusin aku harus bahagia dulu, baru boleh sedih.” Aku menunjuk ponsel di meja. “Kamu simpan di draf, Bima. Lagi. Kayak empat tahun lalu.”

Ia tidak bicara. Ia tidak membela diri. Ia hanya duduk di sana, dengan kepala tertunduk, dan aku melihat setetes air jatuh dari dagunya ke atas meja kayu, di sebelah kantong kerupuk.

Aku berdiri.

“Aku butuh waktu,” kataku.

Ia mengangkat wajah. Matanya basah di balik kacamata.

“Jangan telepon aku,” kataku. “Jangan kirim pesan. Jangan datang ke lantai delapan belas. Jangan nyalain AC, jangan matiin lampu, jangan naruh termos di kursiku.” Napasku bergetar. “Biar aku yang memutuskan kapan. Sekali ini aja, biarin aku yang mutusin sesuatu soal hidupku sendiri.”

Ia menatapku lama. Lalu ia mengangguk. Sekali.

Aku berbalik dan berjalan keluar dari warung. Sepatu kets Tasya tidak berbunyi di jalan aspal gang yang retak. Di belakangku, aku tidak mendengar Bima berdiri. Aku tidak mendengar ia memanggilku. Aku tidak mendengar apa pun selain kipas angin Pak Dul yang terus berputar, ngeek-ngeek-ngeek, seperti tidak ada apa pun yang terjadi.

Pak Rahmat membukakan pintu belakang mobil. Ia menatap wajahku. Ia tidak bertanya.

Aku masuk. Pintu tertutup. Mobil melaju keluar dari mulut gang.

Aku tidak menoleh.


Di jalan Sudirman, aku mengeluarkan ponselku.

Ada satu pesan baru. Dari Ayu, adik Bima. Nomor yang tidak kusimpan, tapi aku tahu itu dia dari foto profilnya: gadis berkerudung pink yang tersenyum lebar di depan sawah.

Bu Renata, maaf. Maafin Ibu. Ibu nggak tahu Bu Renata belum tahu. Ibu kira Mas Bima udah cerita semuanya.

Mas Bima itu orangnya begitu, Bu. Dari kecil. Kalau Ibu sakit, dia nggak bilang dia nggak punya uang jajan seminggu karena uangnya dibeliin obat. Kalau aku butuh bayar kuliah, dia nggak bilang dia makan mi instan sebulan. Dia selalu mutusin sendiri apa yang terbaik buat orang lain. Nggak pernah nanya.

Itu salahnya Mas Bima. Tapi Mas Bima nggak jahat, Bu. Dia cuma nggak pernah diajarin kalau orang yang dia sayang juga berhak milih.

Bapak dulu juga begitu, kata Ibu.

Aku membaca pesan itu sampai mobil berhenti di depan rumahku.

Lalu aku duduk di kursi belakang lama sekali, dengan kemeja linen Tasya yang kena kuah soto dan sepatu kets yang tidak berbunyi, dan aku menangis untuk pertama kalinya bukan karena Hendra.