← Masih di Folder Draf

Chapter Thirty

Purwokerto

POV: Bima

Pesannya masuk pukul tujuh lewat empat menit, saat kereta baru saja melewati Stasiun Jatinegara.

Aku tidak membukanya.

Aku melihat namanya di layar, di atas notifikasi yang terpotong: Bima. Ada yang harus aku ceritakan. Tentang lantai dua puluh... Lalu layar ponselku meredup, lalu mati, dan aku duduk di kursi dekat jendela di gerbong ekonomi dengan ponsel di pangkuan dan tidak membukanya sampai Cikampek.

Aku takut.

Aku tidak tahu apa yang kutakuti. Mungkin aku takut ia marah. Mungkin aku takut ia menyuruhku kembali, dan aku akan kembali, dan semua yang kulakukan selama empat hari akan sia-sia. Mungkin aku takut ia tidak marah sama sekali, dan hanya bilang baik, dan itu artinya ia sudah selesai denganku.

Di Cikampek, kereta berhenti sepuluh menit. Seorang penjual pecel berjalan di sepanjang gerbong dengan bakul di pinggang. Seorang anak kecil di kursi di depanku tertidur di pangkuan ibunya. Di luar jendela, lampu-lampu stasiun menyala kuning di peron yang basah.

Aku membuka pesannya.

Aku membacanya sekali. Pelan. Satu kalimat demi satu kalimat.

Aku menulis kalimat di atas hari Senin pukul sepuluh pagi. Lalu aku menyimpannya di draf. Lima hari.

Aku berhenti di kalimat itu dan menatapnya lama.

Jadi aku melakukan hal yang sama denganmu. Aku memutuskan sendiri apa yang terbaik untukmu. Lalu aku menyimpannya di draf.

Kereta mulai bergerak lagi. Lampu-lampu stasiun Cikampek bergerak mundur.

Aku tidak mengejarmu karena aku ingin, kali ini, kamu yang memutuskan untuk kembali. Bukan karena aku menyuruhmu. Karena kamu yang memilih. Dengan bertanya dulu kepadaku.

Aku di sini. Lantai delapan belas. Aku menunggu.

Kali ini karena aku memilih.

Aku membacanya sampai P.S. Lalu aku membacanya lagi dari awal. Lalu lagi.

Pada bacaan ketiga, di antara Cikampek dan Purwakarta, di gerbong ekonomi dengan AC yang terlalu dingin dan bau kacang rebus dari kursi sebelah, aku menangis.

Aku tidak tahu sejak kapan aku menangis. Aku hanya menyadarinya saat anak kecil di kursi depan, yang ternyata sudah bangun, menoleh dari balik sandaran kursi dan menatapku dengan mata bulat.

“Om nangis,” katanya kepada ibunya.

“Hus,” kata ibunya. “Jangan dilihatin.”

“Om nangis, Bu. Kenapa?”

Ibunya menatapku dengan wajah prihatin. Lalu ia mengeluarkan sebungkus tisu dari tasnya dan menyodorkannya melewati sandaran kursi.

“Mas,” katanya pelan. “Ini.”

“Makasih, Bu.”

Aku tidak punya sapu tangan. Sapu tangan kotak-kotak biru yang terakhir masih di saku celanaku, tapi aku tidak ingin memakainya. Yang satu lagi ada di laci meja seseorang di lantai delapan belas.

Aku mengambil satu lembar tisu dan mengusap mataku di bawah kacamata. Anak kecil itu masih menatapku.

“Om kenapa nangis?”

Aku menatap anak itu. Lima tahun, mungkin. Rambutnya dikuncir dua dengan karet berwarna pink.

“Om baru dapet surat,” kataku.

“Surat sedih?”

Aku memikirkannya.

“Bukan,” kataku. “Surat yang Om tunggu empat tahun.”


Kereta tiba di Stasiun Purwokerto pukul dua belas lewat dua puluh malam.

Ibu menungguku di pintu keluar stasiun. Ibu, dengan kerudung cokelat yang miring dan jaket parka kebesaran milik Pakde Narto, berdiri di bawah lampu jalan di depan stasiun dengan tangan terlipat di dada. Di sebelahnya, Ayu, dengan kerudung pink dan wajah yang sangat marah.

Aku berjalan ke arah mereka dengan tas di bahu.

Ibu tidak memelukku. Ibu menatapku dari ujung kepala sampai ujung sepatu pantofel yang solnya sudah tiga kali lepas. Lalu Ibu mengangkat tangan dan menjewer telinga kiriku.

Keras.

“Aduh. Bu.”

“Kowe ki,” kata Ibu, dengan jari yang masih menjepit telingaku. “Kowe ki bocah paling bodho sak Banyumas.”

(Artinya: “Kamu ini,” … “Kamu ini anak paling bodoh se-Banyumas.”)

“Bu, ini di stasiun.”

“Ben! Biar semua orang tahu anak Sumiati paling bodoh se-Banyumas!” Ibu menjewer lebih keras. “Kerja enak di Jakarta. Gaji cukup buat Ayu kuliah. Punya pacar ayu kayak artis sinetron. Bosnya sendiri! CFO! Terus apa? Resign! Tanpa pesangon! Pulang naik kereta ekonomi! Kowe kerasukan opo, Bim?”

(Artinya: “Biar!” … “Kamu kesurupan apa, Bim?”)

“Bu—”

“Mas Yanto wis cerita kabeh nang grup!” Ayu menyela, dengan suara yang sama kerasnya dengan Ibu. “Satu grup Trah Wicaksono tahu, Mas! Pakde Narto sampai telpon jam sepuluh bengi! Bulik Har nangis! Bulik Har takon terus, ‘Bima dipecat gara-gara janda kaya, po?’”

(Artinya: “Mas Yanto sudah cerita semua di grup!” … “jam sepuluh malam” … “Bulik Har nanya terus” … “Bima dipecat gara-gara janda kaya, ya?”)

“Aku ora dipecat, Yu. Aku ngundurin diri.”

(Artinya: “Aku nggak dipecat, Yu. Aku mengundurkan diri.”)

“PODHO WAE!”

(Artinya: “SAMA SAJA!”)

Ibu melepaskan telingaku. Telinga kiriku sekarang merah, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, merahnya bukan karena aku menyembunyikan sesuatu.

Lalu Ibu memelukku.

Keras. Lebih keras dari jewerannya. Di bawah lampu jalan di depan Stasiun Purwokerto, pukul dua belas lewat dua puluh lima malam, Ibu memelukku dengan dua tangan, dengan wajah yang menempel di dadaku karena aku terlalu tinggi, dengan jaket parka Pakde Narto yang berbau kamper.

“Kowe kurus,” kata Ibu di dadaku. Suaranya bergetar. “Pitung minggu ora mulih. Kowe kurus.”

(Artinya: “Kamu kurus,” … “Tujuh minggu nggak pulang. Kamu kurus.”)

“Aku makan kok, Bu.”

“Mi instan.”

“Kadang nasi rames.”

Ibu memukul punggungku dengan kepalan tangannya. Pelan. Lalu ia melepaskan pelukannya, mengusap matanya dengan ujung kerudung, dan menatapku dengan wajah yang sudah kembali galak.

“Muleh,” katanya. “Ibu wis nggoreng mendoan.”

(Artinya: “Pulang,” … “Ibu sudah menggoreng mendoan.”)


Rumah kami di Purwokerto masih sama.

Rumah kecil dengan dinding setengah bata setengah papan di gang sempit di belakang Pasar Wage. Dua kamar tidur, satu ruang tamu yang juga ruang makan, dan dapur di belakang dengan dinding yang menghitam karena asap tungku. Di atas lemari dapur, radio kecil masih memutar siaran wayang kulit dalam bahasa Jawa yang tidak pernah kumengerti. Di dinding ruang tamu, foto Bapak dalam bingkai kayu yang catnya sudah mengelupas: laki-laki kurus dengan kumis tipis dan punggung yang sedikit bungkuk, tersenyum kaku ke arah kamera di studio foto di depan pasar.

Ibu menyuruhku duduk di kursi kayu di dapur. Ia meletakkan sepiring mendoan di depanku, masih panas, dengan sambal kecap di cawan kecil.

Aku makan. Ibu duduk di seberangku dan menatapku makan. Ayu duduk di bangku pendek di sebelah tungku, memeluk lutut, dan menatapku juga.

“Ceritakno,” kata Ibu.

(Artinya: “Ceritakan,”)

Jadi aku bercerita.

Aku menceritakan semuanya, pukul satu pagi, di dapur yang dindingnya menghitam, sambil makan mendoan. Foto-foto dari Lembang. Lantai dua puluh. Dua pilihan. Riko di lift. Pertanyaanku kepada Renata hari Senin malam, dan jawabannya. Aku yang urus. Pak Ruslan dan flash disk hitam. Map plastik untuk Ibu Laksmi. Surat pengunduran diri. Pak Gunawan dan surat pernyataan yang tidak kutandatangani. Email yang kusimpan di draf.

Lalu aku mengeluarkan ponselku dan menunjukkan pesan Renata kepada Ibu.

Ibu tidak bisa membaca huruf kecil tanpa kacamata, dan kacamatanya ada di kamar. Jadi Ayu yang membacakannya. Pelan. Dengan suara yang makin lama makin bergetar. Sampai di P.S., Ayu berhenti membaca dan menutup mulutnya dengan tangan.

Ibu duduk diam di kursinya untuk waktu yang lama.

“Bim,” katanya akhirnya. Suaranya pelan. “Kowe ngerti kenapa Bapakmu mati?”

(Artinya: “Kamu tahu kenapa bapakmu meninggal?”)

Aku menatap Ibu. “Jantung, Bu. Kata dokter puskesmas.”

“Iyo. Jantung.” Ibu menatap ke arah ruang tamu, ke foto Bapak di dinding. “Ning kowe ngerti ora, Bapakmu wis lara dada ket enem sasi sakdurunge?”

(Artinya: “Iya.” … “Tapi kamu tahu nggak, bapakmu sudah sakit dada sejak enam bulan sebelumnya?”)

Aku tidak bergerak.

“Enam bulan, Bim.” Ibu menggeleng pelan. “Bapakmu sakit dada enam bulan. Tiap malam dia pegang dadanya kalau dikira Ibu sudah tidur. Ibu lihat. Ibu tanya, Pak, kowe loro? Bapakmu bilang, Ora, Bu. Kesel tok. Kakehan ngangkat. Ibu bilang, Ayo nang puskesmas. Bapakmu bilang, Ora sah. Duit e nggo seragam e Bima. Bima mlebu SMA. Ayu butuh sepatu.”

(Artinya: “Pak, kamu sakit?” … “Nggak, Bu. Cuma capek. Kebanyakan ngangkat.” … “Ayo ke puskesmas.” … “Nggak usah. Uangnya buat seragam Bima. Bima masuk SMA. Ayu butuh sepatu.”)

Ibu berhenti. Tangannya, yang terletak di atas meja dapur, gemetar sedikit.

“Bapak sing ngurus, katanya. Kowe ra sah mikir. Lalu dia ambil kerja dua giliran. Pagi angkut di pasar, malam bongkar muat truk di terminal. Supaya seragammu bisa dibeli. Supaya sepatu Ayu bisa dibeli. Dia tidak bilang ke siapa-siapa dadanya sakit. Dia pikir dia bisa mengurus semuanya sendiri.”

(Artinya: “Bapak yang urus,” … “Kamu nggak usah mikir.”)

Ayu menangis tanpa suara di bangku pendek, dengan wajah di lutut.

“Lalu satu pagi dia tidak bangun,” kata Ibu. “Seragammu sudah dibeli. Sepatu Ayu sudah dibeli. Dia sudah mengurus semuanya.”

Ibu menatapku.

“Nek Bapakmu takon,” katanya, “‘Bu, aku lara. Piye iki?’ Ibu iso milih. Ibu bisa bilang, sudah, seragamnya beli yang bekas saja. Sepatu Ayu pakai yang lama dulu. Kita ke puskesmas. Ibu bisa milih, Bim. Tapi Bapakmu tidak pernah kasih Ibu kesempatan milih. Dia milih sendiri. Untuk Ibu. Untuk kamu. Untuk Ayu.”

(Artinya: “Kalau bapakmu tanya,” … “‘Bu, aku sakit. Gimana ini?’ Ibu bisa memilih.”)

Ibu meletakkan tangannya di atas tanganku, di atas meja dapur.

“Dan kamu,” katanya, “kowe persis Bapakmu.”

(Artinya: “kamu persis bapakmu.”)

Aku menatap tangan Ibu di atas tanganku. Tangan yang keriput dan kasar karena tiga puluh tahun menggoreng mendoan. Tangan yang dulu menyelipkan sapu tangan kotak-kotak biru di setiap celana yang ia setrika.

“Ibu lihat dari kamu kecil,” kata Ibu. “Kamu tidak jajan seminggu supaya bisa beli obat Ibu. Kamu tidak bilang. Kamu makan mi instan sebulan supaya kuliah Ayu cukup. Kamu tidak bilang. Kamu dapat nomor dari dosen ayu, kamu tahu artinya, kamu tidak telepon. Karena kamu pikir dia pantas dapat yang lebih baik. Kamu tidak tanya dia.” Ibu meremas tanganku. “Kamu selalu mengurus semua sendiri, Bim. Seperti Bapakmu. Dan kamu pikir itu cinta.”

“Itu bukan cinta, Bu?”

“Itu cinta,” kata Ibu. “Tapi cinta yang tidak percaya.”

Aku menatapnya.

“Kowe ora percoyo,” kata Ibu pelan. “Kamu tidak percaya bahwa orang yang kamu sayang bisa memilih sendiri. Kamu pikir kamu harus memilihkan untuk mereka. Kamu pikir kalau mereka tahu yang sebenarnya, mereka akan memilih yang salah.” Ibu menggeleng. “Bapakmu juga begitu. Dia tidak percaya Ibu bisa memilih antara seragammu dan dadanya. Dia pikir Ibu akan memilih seragam.”

(Artinya: “Kamu nggak percaya,”)

“Terus Ibu bakal milih apa, Bu?”

Ibu menatapku dengan mata yang basah.

“Dadane,” katanya. “Ibu akan memilih dadanya, Bim. Setiap kali. Kamu bisa pakai seragam bekas. Ayu bisa pakai sepatu lama. Tapi Ibu tidak bisa beli Bapak bekas.”

Aku tidak bisa bicara.

“Dan perempuan itu,” lanjut Ibu, menunjuk ponselku di meja, di mana pesan Renata masih terbuka di layar. “Perempuan itu juga akan memilih kamu. Dia sudah bilang. Dia tidak mengejarmu karena dia ingin kamu yang memilih. Dia menunggu kamu bertanya.” Ibu menghela napas. “Dia lebih pintar dari kamu, Bim. Dia sudah belajar. Kamu belum.”

Di bangku pendek di sebelah tungku, Ayu mengangkat wajahnya dari lutut. Matanya merah.

“Mas,” katanya serak. “Aku sudah bilang ke Bu Renata. Lewat WA. Waktu kalian bertengkar di warung soto. Aku bilang Mas Bima itu nggak jahat. Cuma nggak pernah diajarin kalau orang yang Mas sayang juga berhak milih.” Ia mengusap hidungnya dengan lengan baju. “Aku bilang Bapak dulu juga begitu.”

“Kowe bilang gitu ke Renata?”

(Artinya: “Kamu bilang gitu ke Renata?”)

“Iya, Mas. Maaf. Aku nggak tanya Mas dulu.” Ayu tersenyum kecil, basah. “Kayaknya itu nurun di keluarga kita.”


Aku tidak tidur malam itu.

Pukul tiga pagi, aku mendengar Ibu bangun dan pergi ke dapur. Aku menyusulnya. Ibu sedang menyalakan kompor, menuang minyak ke wajan besar, dan menyiapkan adonan tepung untuk mendoan pesanan pasar.

Aku menggulung lengan kaus. Aku mengambil pisau dan mulai mengiris tempe.

Ibu menatapku. Lalu tidak berkata apa-apa. Kami bekerja berdua dalam diam, seperti dulu, sebelum aku pergi ke Depok, sebelum aku pergi ke Jakarta. Ibu mencelupkan tempe ke adonan. Aku menggorengnya. Ibu mengangkatnya dari minyak. Aku menyusunnya di atas daun pisang di baskom. Radio di atas lemari memutar wayang kulit. Di luar, ayam tetangga mulai berkokok, terlalu cepat seperti biasa.

Pukul empat lewat dua puluh, Ibu berhenti dan menatapku.

“Bim. Kowe arep piye?”

(Artinya: “Kamu mau gimana?”)

Aku menatap minyak di wajan yang mendesis. Aku menatap mendoan yang perlahan berubah warna dari pucat menjadi kuning keemasan.

“Aku arep balik, Bu.”

(Artinya: “Aku mau balik, Bu.”)

“Untuk apa? Kamu sudah resign. Bosmu yang jahat itu sudah tanda tangan.”

“Bukan buat kerja, Bu.” Aku mengangkat mendoan dari minyak dengan saringan kawat. “Buat tanya.”

Ibu diam.

“Empat tahun lalu aku nggak nanya,” kataku. “Tujuh minggu lalu juga nggak. Hari Senin aku nanya, tapi aku nggak nunggu jawaban yang sebenarnya. Aku ambil jawaban yang pengin aku denger, terus mutusin sendiri.” Aku meletakkan mendoan di atas daun pisang. “Kali ini aku mau nanya. Terus nunggu jawabannya. Apa pun jawabannya.”

“Tanya apa?”

Aku tidak menjawab. Telingaku mulai panas.

Ibu menatap telingaku. Lalu, perlahan, wajahnya berubah. Dari galak menjadi kaget menjadi sesuatu yang sangat lembut, sangat basah, sangat bahagia.

“Bim,” bisik Ibu. “Kowe arep...”

(Artinya: “Kamu mau...”)

“Aku belum tahu caranya, Bu.”

“Ya Allah.” Ibu menutup mulutnya dengan tangan yang masih berlumuran adonan tepung. Tepung menempel di dagunya. “Ya Allah, Bim.”

“Aku ora duwe cincin, Bu. Nggak punya kerjaan. Nggak punya pesangon. Aku nggak punya apa-apa.”

(Artinya: “Aku nggak punya cincin, Bu.”)

“Kowe duwe ati,” kata Ibu. “Kowe duwe ati sing gedhe banget, nganti ora muat nang dadamu.”

(Artinya: “Kamu punya hati,” … “Kamu punya hati yang besar sekali, sampai nggak muat di dadamu.”)

“Itu ora bisa dipakai beli cincin, Bu.”

(Artinya: “Itu nggak bisa dipakai beli cincin, Bu.”)

Ibu tertawa. Tawa yang basah dan bergetar, dengan tepung di dagu dan mata yang berkaca-kaca. Lalu ia mengusap tangannya di celemek, berjalan ke kamarnya, dan kembali dengan sesuatu di genggamannya.

Ia membuka genggamannya di atas meja dapur, di sebelah baskom mendoan.

Sebuah cincin. Emas kuning, tipis, polos, sedikit penyok di satu sisi. Di bagian dalamnya, ukiran yang hampir hilang karena aus: S & W.

“Cincin Bapakmu,” kata Ibu. “Dia beli di toko emas depan pasar. Tahun sembilan puluh tujuh. Tiga bulan gajinya. Dia kasih ke Ibu di depan gerobak mendoan Mbah Putri, pakai kaus singlet dan sandal jepit. Dia bilang, Sum, aku ora duwe opo-opo. Ning aku duwe iki.”

(Artinya: “Sum, aku nggak punya apa-apa. Tapi aku punya ini.”)

Ibu meletakkan cincin itu di telapak tanganku.

“Ini bukan cincin mahal,” katanya. “Bosmu pasti punya cincin yang lebih bagus dari ini. Puluhan. Tapi ini cincin dari laki-laki yang mencintai istrinya sampai mati. Ibu mau kamu kasih ke perempuan yang kamu cintai. Dengan satu syarat.”

“Apa, Bu?”

“Jangan seperti Bapakmu soal yang satu itu.” Ibu menatapku lurus. “Kalau kamu sakit, bilang. Kalau kamu takut, bilang. Kalau kamu mau memutuskan sesuatu yang besar, tanya dia dulu. Biarkan dia memilih. Jangan mati sambil bilang aku yang urus.”

Aku menatap cincin di telapak tanganku. Emas kuning yang sedikit penyok. S & W. Sumiati dan Wicaksono.

“Aku janji, Bu,” kataku.

“Jangan janji ke Ibu. Janji ke dia.”


Pukul delapan pagi, setelah mendoan diantar ke pasar dan Ibu kembali dengan baskom kosong dan uang tiga ratus dua puluh ribu di dompet kain, aku duduk di teras rumah dengan ponsel di tangan.

Hari Sabtu. Pukul sembilan pagi, di Jakarta, akan ada rapat gabungan luar biasa dewan komisaris dan direksi. Renata tidak memberitahuku. Aku tahu dari Pak Ruslan, yang mengirim pesan semalam: Rapat luar biasa Sabtu pagi. Bu Laksmi yang memanggil. Bukti sudah sampai. Doakan.

Aku membuka percakapan dengan Renata. Pesannya masih di sana, panjang, dengan P.S. di akhirnya. Aku belum membalasnya. Lima belas jam, dan aku belum membalasnya.

Aku membuka aplikasi email. Folder Draf. Angka satu.

Aku membuka draf itu. Untuk Renata (jangan dikirim). Enam poin. Aku hanya menyesal empat tahun lalu aku tidak menelepon.

Aku membacanya. Lalu aku menyadari bahwa email itu tidak benar lagi. Bukan isinya yang salah. Tapi email itu ditulis oleh laki-laki yang sudah memutuskan. Laki-laki yang pergi lebih dulu supaya tidak perlu bertanya. Laki-laki yang menulis aku tidak bisa mengirimnya sekarang dan memberinya judul jangan dikirim, untuk kedua kalinya dalam hidupnya.

Aku bukan laki-laki itu lagi. Atau setidaknya, aku tidak ingin menjadi laki-laki itu lagi.

Aku menekan tombol Hapus Draf.

Sebuah kotak dialog muncul: Draf ini akan dihapus secara permanen. Lanjutkan?

Aku menekan Ya.

Di daftar folder, angka di sebelah tulisan Draf berubah dari satu menjadi nol.

Ibu muncul di ambang pintu teras dengan dua gelas teh manis. Ia meletakkan satu di sebelahku dan duduk di bangku kayu dengan gelas yang lain. Ia melirik layar ponselku.

“Kowe ngapain?”

(Artinya: “Kamu ngapain?”)

“Ngapus draf, Bu.”

“Draf opo?”

(Artinya: “Draf apa?”)

“Surat yang ora jadi aku kirim.”

(Artinya: “Surat yang nggak jadi aku kirim.”)

Ibu menyesap tehnya. “Terus?”

“Terus aku mau tulis yang baru.”

“Untuk dia?”

“Untuk dia.”

“Kapan dikirim?”

Aku menatap ponselku. Aku menatap percakapan dengan Renata. Aku tahu apa yang harus kutulis. Aku tidak tahu apakah aku berani.

Aku mengetik.

Renata.

Aku sudah baca pesanmu. Lima belas jam yang lalu. Di Cikampek. Aku menangis di depan anak kecil berumur lima tahun yang rambutnya dikuncir dua. Ibunya memberiku tisu.

Aku mau tanya dulu. Sesuai kesepakatan. Dan kali ini aku akan menunggu jawabanmu, apa pun jawabannya.

Boleh aku kembali hari Senin?

Bukan sebagai staf AP. Aku sudah bukan staf AP. Sebagai aku.

Aku ingin bertanya sesuatu. Di depan semua orang. Karena semua orang sudah membaca surat pertamaku. Rasanya tidak adil kalau mereka tidak membaca yang terakhir.

Aku menatap pesan itu.

Jariku melayang di atas tombol kirim.

Aku tidak menekannya.

Aku menatap pesan itu lama sekali. Lima menit. Sepuluh. Teh manis di sebelahku mulai dingin. Ibu sudah selesai minum dan sekarang hanya duduk menatapku, dengan gelas kosong di pangkuan.

Lalu Ibu bicara. Dengan suara yang sangat santai. Seperti sedang membicarakan harga cabai.

“Kirim, Bim.”

Aku menoleh dan menatapnya.

Ibu menatapku balik dengan wajah polos. Lalu sudut bibirnya bergerak naik.

“Mas Yanto kirim stikernya ke grup,” katanya. “Tujuh minggu lalu. Yang kamu di depan lift. Kupingmu merah. Ibu lihat terus. Ibu ngerti artinya opo.” Ibu mengangkat bahu. “Bulik Har juga sudah bisa. Pakde Narto kemarin pakai buat nyuruh Mas Yanto kirim duit arisan.”

(Artinya: “Ibu tahu artinya apa.”)

Aku menatap Ibu. Ibuku, perempuan lima puluh tujuh tahun dengan kerudung cokelat yang miring dan tepung yang masih menempel sedikit di dagunya, di teras rumah papan di gang belakang Pasar Wage, baru saja mengucapkan meme kantor yang lahir dari mulut Dodi di tangga darurat lantai tujuh setengah.

Aku tertawa.

Aku tertawa sampai harus memegang perutku, di teras rumah, dengan ponsel di tangan dan mata yang masih basah dari semalam. Ibu ikut tertawa. Ayu muncul di ambang pintu dengan wajah bingung, lalu melihat kami tertawa dan ikut tertawa tanpa tahu kenapa.

“Kirim,” kata Ibu lagi, di sela tawanya. “Ojo didrafke meneh.”

Jangan didraf lagi.

Aku menekan tombol kirim.

Di bawah pesan itu, muncul tanda centang satu. Abu-abu. Terkirim.

Pukul delapan lewat tiga puluh tujuh pagi, hari Sabtu. Setengah jam sebelum rapat gabungan luar biasa dimulai di lantai dua puluh, di bawah lukisan pendiri Wiraguna yang menatap dengan wajah tidak setuju.

Ia mungkin tidak akan membacanya sampai rapat selesai. Mungkin sampai siang. Mungkin sampai malam.

Aku akan menunggu.

Aku meletakkan ponsel di bangku kayu, layar menghadap ke atas. Aku mengambil gelas teh manis yang sudah dingin dan meminumnya. Di saku celanaku, cincin emas kuning yang sedikit penyok terasa hangat, seperti sesuatu yang hidup.

Ibu menepuk lututku dua kali dan berdiri.

“Ibu mau nggoreng lagi,” katanya. “Pesanan Bu RT. Kowe ngewangi.”

(Artinya: “Ibu mau goreng lagi,” … “Kamu bantuin.”)

“Iya, Bu.”

“Ponselmu ditinggal.”

“Iya, Bu.”

Aku meninggalkan ponselku di bangku teras, dengan layar menghadap ke atas, dan mengikuti Ibu ke dapur. Aku tidak menatap ponselku. Aku menggoreng mendoan bersama Ibu, di dapur yang dindingnya menghitam, dengan radio yang memutar wayang kulit dan Ayu yang bernyanyi sumbang di kamar mandi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sudah bertanya, dan aku tidak memutuskan apa pun.

Aku hanya menunggu jawabannya.

Telingaku tidak merah. Tidak ada yang kusembunyikan.