← Masih di Folder Draf

Chapter Two

Lantai 18

POV: Renata

Aku tahu persis apa yang terjadi pada sebuah ruangan ketika aku masuk. Sudah sejak umur tujuh belas aku tahu.

Percakapan berhenti setengah kalimat. Laki-laki yang tadinya bersandar mendadak duduk tegak. Perempuan memperhatikan sepatuku dulu, lalu blazerku, lalu bibirku, dan aku bisa melihat mereka menghitung berapa harga semuanya. Seseorang selalu menjatuhkan sesuatu: pulpen, sendok, kesempatan untuk bicara lebih dulu.

Dulu aku menikmatinya. Lalu aku menggunakannya. Sekarang, di umur tiga puluh dua, aku hanya mencatatnya, seperti mencatat cuaca. Itu informasi. Informasi berguna.

Pukul 09.14 hari Senin, aku sedang duduk di ruang rapat kecil di sebelah ruanganku, mendengarkan Pak Gunawan Wiraguna menjelaskan mengapa anggaran perjalanan dinas direksi harus naik dua puluh persen tahun depan. Pak Gunawan adalah CEO perusahaan ini. Beliau juga paman almarhum suamiku. Dua fakta itu membuat setiap rapat dengannya terasa seperti makan malam keluarga yang dihadiri auditor.

“Kita perlu memperluas jaringan di Asia Tenggara, Renata,” katanya. “Hubungan bisnis dibangun di meja makan, bukan di Zoom.”

“Hubungan bisnis juga bisa dibangun di kelas ekonomi, Om,” jawabku. “Menurut data tahun lalu, enam puluh persen perjalanan direksi tidak menghasilkan kontrak apa pun dalam dua belas bulan setelahnya.”

Pak Gunawan tersenyum dengan cara yang tidak sampai ke matanya. Itu senyum yang sudah kukenal sejak hari pernikahanku. Senyum orang yang menganggapku tamu di rumah yang seharusnya miliknya.

Lalu pintu ruang rapat terbuka sedikit. Sarah masuk tanpa mengetuk.

Sarah Anggraini, asisten eksekutifku selama tiga tahun terakhir, tidak pernah masuk tanpa mengetuk. Ia perempuan dua puluh sembilan tahun dengan potongan rambut bob yang presisi dan wajah yang tidak pernah menunjukkan apa pun, bahkan saat kebakaran latihan. Satu-satunya cara mengetahui suasana hatinya adalah melalui jumlah titik di akhir pesan WhatsApp-nya.

Hari ini wajahnya tetap datar. Tapi ia meletakkan ponselnya di depanku dengan cara yang sangat hati-hati, seperti meletakkan bom.

“Bu,” katanya. “Maaf. Ini perlu Ibu lihat sekarang.”

Layarnya menampilkan sebuah email.

Untuk Bu Renata (jangan dikirim).

Aku membacanya.

Aku membacanya di depan Pak Gunawan, yang memperhatikan wajahku dengan saksama karena beliau selalu mencari celah. Jadi aku memastikan tidak ada celah. Aku membaca dengan wajah yang sama dengan yang kupakai untuk membaca laporan arus kas: tenang, sedikit bosan, siap menemukan kesalahan.

Saya mahasiswa yang duduk di bangku paling depan.

Ada tanggal di bagian atas. Kamis, 13 Oktober 2022.

Aku membaca tanggal itu dua kali. Lalu aku memutuskan untuk tidak memikirkannya. Belum. Tidak di depan Pak Gunawan, tidak di ruang rapat yang dindingnya kaca, tidak hari Senin pukul sembilan pagi.

Ibu selalu menyelipkan rambut ke belakang telinga kiri sebelum menjelaskan angka yang penting.

Tanganku, yang sedang setengah terangkat ke arah telinga kiri, berhenti di udara. Aku menurunkannya ke meja.

Ibu kelihatan capek.

Aku mengunci layar ponsel Sarah dan mengembalikannya.

“Ada masalah?” tanya Pak Gunawan.

“Tidak ada yang tidak bisa saya tangani, Om.” Aku berdiri. “Kita lanjutkan anggaran perjalanan besok. Saya akan siapkan tiga skenario. Om pilih satu, dan saya akan menjelaskan kenapa dua lainnya lebih baik.”

Aku keluar sebelum beliau sempat menjawab. Heels-ku mengetuk lantai kayu koridor. Tujuh langkah ke ruanganku. Aku menghitungnya. Aku selalu menghitung langkah saat sedang menahan sesuatu.


“Berapa orang yang nerima?” tanyaku begitu pintu ruanganku tertutup.

“Seribu sembilan ratus delapan puluh tujuh, Bu,” jawab Sarah. “Ditambah Ibu. Jadi seribu sembilan ratus delapan puluh delapan.”

“IT?”

“Sudah kirim email permohonan untuk mengabaikan. Pukul 09.23.”

“Dan?”

“Dan sekarang yang tadinya belum membaca jadi membaca, Bu.”

Aku menutup mata sebentar. “Siapa yang pegang migrasinya?”

“Namanya Jordi, Bu. IT infrastruktur. Dua puluh enam tahun. Sekarang sedang duduk di lobi lantai delapan belas memegang kotak martabak.”

Aku membuka mata. “Martabak?”

“Martabak manis, Bu. Keju cokelat. Katanya untuk minta maaf.”

“Ini jam sembilan pagi.”

“Saya sampaikan hal yang sama, Bu. Katanya martabak buka dua puluh empat jam di daerah rumahnya.”

Aku duduk di kursiku. Ruanganku menghadap ke barat, ke arah deretan gedung tinggi Sudirman yang pada jam segini masih berwarna abu-abu kebiruan. Mejaku kosong kecuali laptop, satu pulpen merah, satu bingkai foto yang sudah tiga tahun kuhadapkan ke dinding, dan secangkir teh melati yang sudah dingin.

Aku membuka laptop dan membaca email itu sekali lagi. Pelan-pelan. Seluruhnya.

Lalu aku menekan Balas Semua.

Sarah, yang berdiri di depan mejaku, melihat apa yang kulakukan. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, alis kirinya naik setengah milimeter.

“Bu,” katanya. “Itu ke all-staff.”

“Saya tahu.”

“Semua orang akan membacanya, Bu.”

“Semua orang udah baca suratnya, Sarah. Kalau saya balas diam-diam, mereka bakal ngarang sendiri apa yang terjadi di ruangan ini. Kalau saya balas di depan semua orang, mereka cuma tahu apa yang saya izinkan mereka tahu.”

Aku mengetik empat kata. Aku tidak menambahkan salam. Aku menekan kirim. Pukul 09.31.

“Panggil dia kalau udah sampai,” kataku. “Dan bilang ke Jordi, martabaknya taruh di pantry aja. Buat tim.”

“Jordi-nya, Bu?”

“Jordi-nya ke ruang rapat kecil. Saya ngomong sama dia nanti.”

“Baik, Bu.” Sarah berbalik ke pintu, lalu berhenti. “Bu.”

“Hm.”

“Ibu baik-baik saja?”

Aku menatapnya. Sarah tidak pernah bertanya hal semacam itu. Ia bertanya tentang jadwal, tentang dokumen, tentang apakah aku mau teh atau kopi. Tidak pernah tentang aku.

“Kenapa kamu tanya?”

“Ibu menyelipkan rambut ke belakang telinga kiri, Bu,” jawab Sarah. “Tiga kali. Sejak tadi.”

Lalu ia keluar sebelum aku bisa menjawab, dan aku duduk sendirian dengan tangan kiri yang masih menyentuh telinga.


Sembilan menit kemudian, Sarah mengetuk dan membuka pintu.

“Bu. Saudara Bima Wicaksono dari Accounts Payable.”

Laki-laki yang masuk ke ruanganku lebih tinggi dari yang kubayangkan.

Aku tidak tahu kenapa aku membayangkan sesuatu. Mungkin karena suratnya, yang penuh dengan kata saya tahu ini tidak sopan dan Ibu mungkin tidak ingat, terdengar seperti ditulis oleh seseorang yang biasa membungkuk. Tapi laki-laki ini tidak membungkuk. Ia berdiri tegak di ambang pintu, satu tangan memegang buku catatan bersampul cokelat, tangan lainnya lurus di samping badan. Tingginya mungkin seratus delapan puluh lebih. Bahunya lebar dengan cara yang tidak didapat dari gym. Itu bahu orang yang pernah mengangkat sesuatu yang berat, berkali-kali, untuk waktu yang lama.

Kemejanya biru muda dan disetrika dengan kerapian yang hampir menyakitkan. Kacamatanya berbingkai tipis. Wajahnya bersih, rahangnya tegas, dan ia jelas tidak tahu bahwa dirinya tampan. Itu kelihatan dari cara ia berdiri: seperti orang yang tidak pernah sekalipun memikirkan bagaimana ia dilihat orang lain.

Dan kedua telinganya merah. Merah sekali. Merah seperti baru dijewer oleh dua orang sekaligus.

“Selamat pagi, Bu,” katanya. “Saya Bima Wicaksono. Staf Accounts Payable. Lantai tujuh. NIK karyawan 2024-0318.”

“Saya enggak minta NIK.”

“Maaf, Bu. Kebiasaan.”

“Duduk.”

Ia duduk di kursi di depan mejaku. Punggungnya tidak menyentuh sandaran. Buku catatannya ia letakkan di pangkuan, tertutup, dan kedua tangannya ia letakkan di atasnya seperti murid sekolah dasar yang menunggu ujian dibagikan.

Aku tidak langsung bicara. Aku membiarkan diam turun di antara kami. Ini teknik lama. Kebanyakan orang tidak tahan diam lebih dari lima detik di depanku; mereka mulai bicara, menjelaskan, membela diri, dan dalam prosesnya mereka memberiku semua yang perlu kuketahui.

Bima Wicaksono tidak bicara. Ia hanya duduk dan menatapku.

Enam detik. Sepuluh. Lima belas.

Ia tidak menatap sepatuku, atau blazerku, atau bibirku. Ia menatap mataku. Bukan dengan berani, bukan dengan menantang. Lebih seperti seseorang yang sedang membaca sesuatu yang ditulis dengan huruf sangat kecil dan tidak ingin melewatkan satu kata pun.

Aku yang akhirnya bicara lebih dulu. Itu jarang terjadi.

“Udah berapa lama kamu kerja di sini?”

“Dua tahun, tiga bulan, sebelas hari, Bu.”

“Kamu ngitung?”

“Saya ngitung banyak hal, Bu. Namanya juga staf AP.”

“Kenapa AP?”

“Karena saya teliti, Bu. Terus… gajinya cukup buat adik saya kuliah.”

Jawaban itu tidak kuduga. Orang biasanya menjawab karena saya suka angka atau karena saya ingin berkembang. Tidak ada yang pernah menyebut adiknya di wawancara mana pun di ruangan ini.

“Email itu,” kataku. “Jelaskan.”

“Itu draf, Bu. Saya nulis di akun email pribadi saya empat tahun lalu, terus nggak pernah saya kirim. Waktu masuk ke sini, akun pribadi itu saya sambungin ke Outlook di laptop kantor, biar nggak usah buka dua aplikasi. Itu salah saya. Tadi pagi, waktu migrasi, kayaknya semua draf dari akun yang tersambung ikut kekirim. Ke penerimanya, dan… ke all-staff.”

“Kamu tahu kenapa ke all-staff?”

“Nggak tahu, Bu. Tapi kayaknya itu bukan salah Jordi sepenuhnya, Bu. Akunnya kan saya yang nyambungin.”

Aku memperhatikannya. Ia sedang membela orang yang baru saja menghancurkan hidupnya di depan dua ribu orang. Ia bahkan tahu nama orang itu.

“Terus kenapa enggak pernah kamu kirim?”

“Karena di subjeknya saya tulis ‘jangan dikirim’, Bu.”

“Kenapa kamu tulis ‘jangan dikirim’ di subjeknya?”

“Biar saya nggak lupa buat nggak ngirim, Bu.”

Aku hampir tertawa. Aku menahannya dengan menekan ujung pulpen merah ke bibir bawahku.

Matanya mengikuti gerakan itu. Lalu, sangat cepat, ia menurunkan pandangan ke buku catatannya, dan merah di telinganya merambat turun ke leher.

Menarik.

“Kalau gitu,” kataku, meletakkan pulpen, “kenapa kamu tulis sama sekali?”

Ia diam sebentar. Bukan diam karena gugup. Diam karena berpikir, seperti orang yang sedang memastikan angka di kolom terakhir sebelum menyerahkan laporan.

“Karena semua yang saya tulis di situ benar, Bu,” katanya. “Dan saya takut nggak ada orang lain yang bakal bilang itu ke Ibu.”

Ruanganku sangat sunyi. AC berdengung pelan. Di luar dinding kaca buram, aku bisa melihat bayangan Sarah yang pura-pura sibuk di mejanya, dan bayangan Jordi yang duduk di sofa tunggu sambil memeluk kotak martabak.

“Hari ini,” kataku pelan, “kamu bakal jadi bahan obrolan dua ribu orang. Di pantry, di lift, di grup WhatsApp yang enggak ada saya di dalamnya. Mereka bakal ngulang kalimat-kalimat kamu sambil ketawa. Kamu siap?”

“Nggak, Bu.”

“Enggak?”

“Nggak siap, Bu. Tapi isi surat itu tetap benar. Jadi kalau ada yang nanya, saya nggak bakal bilang itu bohong.”

Aku bersandar di kursiku. Aku melipat tangan. Ini posisi yang biasanya kupakai saat negosiasi berjalan terlalu lancar dan aku curiga ada yang disembunyikan.

“Satu pertanyaan terakhir,” kataku. “Lihat saya.”

Ia mengangkat wajah.

“Apa yang kamu lihat sekarang?”

Itu pertanyaan jebakan. Aku sudah menanyakannya kepada banyak laki-laki dalam banyak versi, di banyak meja makan dan banyak lobi hotel, dan jawabannya selalu masuk ke salah satu dari tiga kategori. Pujian berlebihan yang terdengar seperti sudah dilatih di depan cermin. Pujian yang disamarkan sebagai lelucon, supaya bisa ditarik kembali kalau aku tidak tertawa. Atau, dari laki-laki yang lebih pintar, pengamatan yang dirancang untuk membuatku merasa dilihat lebih dalam daripada siapa pun pernah melihatku.

Bima Wicaksono menatapku selama tiga detik penuh, seolah-olah sedang mencocokkan dua angka.

“Ibu cantik,” katanya.

Kategori satu. Aku hampir kecewa.

“Itu bukan pendapat, Bu,” lanjutnya. “Itu data. Saya udah bandingin sama semua orang yang pernah saya lihat, dan selisihnya kegedean buat dianggap kesalahan pembulatan.”

Aku tidak bergerak.

“Dan Ibu masih kelihatan capek,” tambahnya pelan. “Lebih capek dari empat tahun lalu.”

Di luar, bayangan Sarah berhenti bergerak.

Aku berdiri. Aku memutari meja, perlahan, dengan kecepatan yang sudah kulatih bertahun-tahun: tidak terlalu cepat sehingga tampak terburu-buru, tidak terlalu lambat sehingga tampak dibuat-buat. Ia ikut berdiri, otomatis, seperti orang yang diajari ibunya untuk berdiri saat perempuan berdiri. Sekarang aku harus sedikit mendongak untuk melihat wajahnya, bahkan dengan heels sembilan sentimeter. Itu juga jarang terjadi.

Aku meletakkan dua jariku di lengan kemejanya, tepat di atas siku.

Satu detik.

Kain kemejanya hangat dan kaku karena kanji. Di bawahnya, otot lengannya mengeras seperti orang yang baru saja tersengat listrik.

Dua detik.

Aku menarik tanganku.

“Balik ke lantai tujuh,” kataku. “Kerjain kerjaan kamu. Jangan cerita ke siapa pun soal apa yang terjadi di ruangan ini.”

“Baik, Bu.”

“Dan Bima.”

“Ya, Bu.”

“Telingamu.”

Ia menyentuh telinga kirinya dengan ujung jari, seperti baru menyadari keberadaannya. “Merah ya, Bu?”

“Banget.”

“Suka begitu kalau saya nggak bisa nyembunyiin sesuatu, Bu.”

“Terus sekarang kamu lagi nyembunyiin apa?”

Ia membuka mulut. Lalu menutupnya. Lalu, karena ia jelas tidak bisa berbohong dan cukup pintar untuk tidak mencobanya, ia membungkuk sedikit, berbalik, dan berjalan ke pintu.

Ia berhenti di ambang pintu dan menoleh.

“Bu.”

“Apa lagi?”

“Teh Ibu udah dingin. Tadi saya lihat waktu masuk. Kalau Ibu mau, saya bisa bilang ke Mbak Sarah buat gantiin.”

Lalu ia pergi, sebelum aku sempat memutuskan apakah aku akan marah atau tertawa.


Sarah masuk tiga puluh detik kemudian dengan secangkir teh melati baru. Asapnya mengepul. Ia meletakkannya di mejaku tanpa berkata apa-apa.

“Dia yang minta?” tanyaku.

“Dia bilang, ‘Mbak, maaf, tehnya Bu Renata udah dingin dari tadi. Beliau suka melati, kan?’ Lalu dia tanya di mana pantry supaya bisa bikin sendiri. Saya bilang itu tugas saya.”

“Dari mana dia tahu saya suka melati?”

“Saya tidak tahu, Bu.” Sarah berhenti sebentar. “Bu, Jordi masih menunggu. Dan Pak Darto dari AP sudah menelepon dua kali, bertanya apakah divisinya akan dibubarkan.”

“Bilang ke Pak Darto enggak ada yang dibubarin. Bilang ke Jordi saya temuin habis makan siang. Dan Sarah.”

“Ya, Bu.”

“Kamu dengar semuanya?”

“Dinding kacanya tipis, Bu.”

“Terus menurut kamu?”

Sarah menatapku dengan wajah datarnya yang sempurna. Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuatku sadar bahwa tiga tahun bekerja bersamaku sudah mengajarinya cara memilih kata dengan sangat berbahaya.

“Menurut saya, Bu, Ibu tidak pernah menyentuh lengan siapa pun selama dua detik kalau Ibu tidak sedang menghitung sesuatu.”

Ia keluar. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang sopan.

Aku duduk sendirian di ruanganku dan membuka email itu lagi.

Kali ini aku tidak membacanya seperti membaca laporan arus kas. Aku membacanya pelan, kata demi kata, seperti membaca sesuatu yang ditulis untukku. Karena memang begitu. Karena, demi Tuhan, memang ditulis untukku, oleh seseorang yang duduk di bangku paling depan dan mencatat bahwa aku tidak pernah memakai pulpen hitam.

Aku sampai di kalimat terakhir, dan berhenti di sana.

Ibu kelihatan capek. Saya hanya berharap ada orang yang menanyakan itu kepada Ibu.

Tiga tahun. Tiga tahun sejak pemakaman itu. Selama tiga tahun orang bertanya kepadaku apakah aku kuat, apakah aku sanggup, apakah laporan kuartal bisa selesai tepat waktu, apakah aku sudah memikirkan untuk menikah lagi, apakah aku sadar bahwa umurku terus bertambah. Mereka bertanya dengan wajah prihatin dan suara yang dipelankan, seperti bertanya kepada seseorang yang sedang membawa vas mahal di tangga yang licin.

Tidak ada yang bertanya apakah aku capek.

Aku menatap tanggal di bagian atas email itu. Kamis, 13 Oktober 2022, pukul 23.48.

Aku tidak akan memikirkan Kamis itu. Belum.

Aku menutup laptop, mengambil teh melati yang masih panas, dan meminumnya pelan-pelan sambil menatap gedung-gedung Sudirman yang mulai berubah warna menjadi keemasan.

Tehnya terlalu manis. Seseorang sudah memberi tahu Sarah untuk menambahkan satu sendok madu.

Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun di gedung ini bahwa aku minum teh dengan madu. Satu-satunya tempat aku pernah melakukannya di depan orang lain adalah di sebuah ruang kelas, empat tahun lalu, setiap hari Kamis, dari termos kecil yang kubawa sendiri.

Aku meletakkan cangkir itu di meja dan menatapnya lama sekali.