Chapter Thirty Two
Terkirim
POV: Bima
Senin pagi pukul enam lewat empat puluh, Mas Yanto berdiri di depan pintu putar lobi Wiraguna dengan seragam satpam yang baru disetrika dan topi yang dipasang sangat lurus.
Ia melihatku turun dari ojek. Ia tidak memberi hormat dengan dua jari di pelipis seperti biasanya. Ia berjalan keluar dari pos jaganya, melewati pintu putar, dan memelukku di trotoar Jalan Sudirman, di depan tukang bubur yang sedang membuka gerobaknya dan dua karyawan yang baru turun dari bus TransJakarta.
“Kowe bali,” katanya di bahuku.
(Artinya: “Kamu pulang,”)
“Iya, Mas.”
“Bulik Sumi nelpon jam papat esuk. Nangis. Jare kowe nggowo cincin e Paklik.”
(Artinya: “Bulik Sumi nelepon jam empat pagi. Nangis. Katanya kamu bawa cincinnya Paklik.”)
“Iya, Mas.”
Mas Yanto melepaskanku. Ia menatapku dari ujung kepala sampai ujung sepatu pantofel yang solnya sudah tiga kali lepas. Lalu ia menatap kemejaku.
“Putih,” katanya.
“Ibu yang pilih. Katanya biar kayak manten.”
(Artinya: “pengantin”)
Mas Yanto tertawa. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya dan menyodorkannya kepadaku. Kartu akses karyawan. Namaku. Fotoku yang diambil di studio foto murah dengan latar biru dan wajah terlalu serius.
“Pak Komar nitip,” katanya. “Hari Jumat Pak Komar simpen di laci pos, nggak dikasih ke HR. Katanya punya firasat.”
Aku menatap kartu itu.
“Dan Bim,” kata Mas Yanto pelan. “Bu Renata wis teko. Jam enam lewat seperempat. Turun di lobi. Nggak pakai kalung.” Ia tersenyum. “Pakai baju merah.”
(Artinya: “sudah datang”)
Aku tidak langsung naik ke lantai tujuh. Aku berdiri di samping pilar.
Pilar yang sama. Pilar marmer abu-abu di samping pintu putar, tempat aku berdiri setiap pagi selama dua tahun menunggu mobil putih masuk ke basement pukul 07.38. Tempat aku berdiri hari Kamis dua bulan lalu saat hak sepatunya patah. Tempat aku berdiri hari Jumat enam minggu lalu saat Satrio Hadikusumo bilang sisanya biar saya yang urus.
Aku tidak berdiri di sana untuk menunggu siapa pun. Aku berdiri di sana karena aku ingin tahu bagaimana rasanya berdiri di sana tanpa menunggu.
Rasanya biasa saja. Pilarnya dingin. Marmernya licin. Di sebelahnya, pot tanaman yang dulu miring karena ditabrak troli sudah diluruskan.
Aku naik ke lantai tujuh lewat lift biasa.
Lantai tujuh pada pukul enam lewat lima puluh pagi seharusnya kosong.
Lantai tujuh tidak kosong.
Pintu lift terbuka dan seluruh divisi Finance berdiri di lorong. Mbak Wina dengan dua kantong gorengan. Tim Treasury, termasuk Pak Ruslan dengan kemeja batik dan kumis yang disisir rapi. Jordi dari lantai dua belas, dengan laptop di pelukan dan rambut yang, untuk pertama kalinya, tidak berdiri di satu sisi. Bu Yuyun dengan troli pelnya. Pak Darto, di depan pintu ruang kacanya, dengan kupluk beruang dari Lembang yang entah kenapa ia pakai di dalam kantor ber-AC.
Dan di depan mereka semua, berdiri di atas kursi beroda yang pegasnya rusak, oleng ke kiri dan ke kanan seperti penumpang angkot jurusan Kampung Melayu, Dodi.
Dengan toa.
“SELAMAT DATANG KEMBALI,” teriaknya, “KE LANTAI TUJUH, BIMA WICAKSONO!”
Seluruh lorong bersorak.
Aku berdiri di dalam lift yang terbuka dan tidak bisa bergerak. Pintu lift mulai menutup. Jordi menahannya dengan tangan.
“Mas,” katanya. “Keluar, Mas. Mereka udah nunggu dari jam enam.”
Aku keluar.
Mbak Wina memelukku pertama, dengan gorengan masih di tangan, sehingga bakwan menempel di punggung kemeja putihku. Lalu Pak Ruslan, yang menyalamiku lama dan berkata, Saya tidur nyenyak dua malam berturut-turut, Bim. Pertama kalinya dalam dua tahun. Lalu Bu Yuyun, yang menepuk lenganku dan berkata, Mas, tangganya sudah saya pel. Kalau mau kabur lagi, licin.
Lalu Pak Darto.
Pak Darto berjalan dari pintu ruang kacanya dengan kupluk beruang di kepala. Ia berhenti di depanku. Ia menatapku dari balik kacamatanya. Matanya sudah merah.
“Saya kalah lima puluh ribu,” katanya.
“Saya tahu, Pak.”
“Di depan dinding lift lantai dua.”
“Saya tahu, Pak.”
Pak Darto mengeluarkan dompetnya. Ia mengambil selembar uang lima puluh ribu. Ia berjalan ke pantry, ke kaleng Khong Guan yang kembali diletakkan di meja Dodi, dan memasukkan uang itu ke dalamnya. Lalu ia kembali kepadaku dan memelukku, dengan kupluk beruang yang menggelitik daguku.
“Itu lima puluh ribu terbaik dalam hidup saya,” katanya di bahuku. “Jangan bikin saya kalah dua kali.”
Dodi turun dari kursinya. Ia berjalan menghampiriku dengan toa di tangan, berhenti satu meter di depanku, dan menatapku. Ia tidak memelukku. Ia tidak menepuk bahuku. Ia hanya menatapku dengan mata yang merah dan bibir yang gemetar.
“Lo kirim?” tanyanya pelan. “Email yang di draf?”
“Aku hapus, Dod.”
Dodi membeku.
“Aku hapus,” kataku. “Hari Sabtu. Di Purwokerto. Email itu yang nulis orang yang udah mutusin duluan. Aku nggak mau jadi orang itu lagi.”
Dodi menatapku lama. Lalu, perlahan, wajahnya berubah.
“Terus lo mau kirim apa?”
Aku tidak menjawab. Telingaku mulai panas.
Dodi menatap telingaku. Lalu menatap kemeja putihku. Lalu menatap tangan kiriku, yang entah kenapa sejak keluar dari lift terus berada di dekat saku celana, seperti menjaga sesuatu di dalamnya.
Dodi menjatuhkan toanya.
Toa itu jatuh ke karpet biru tua dengan bunyi gedebuk dan berguling ke dekat dispenser, ke noda kopi yang sudah tiga tahun tidak hilang.
“Bim,” bisiknya. “BIM. Lo—”
“Dod. Tolong. Jangan bilang siapa-siapa. Sampai jam sembilan lewat empat belas.”
Dodi menutup mulutnya dengan dua tangan. Ia mengangguk. Lalu ia membalikkan badan, berjalan ke pantry, dan aku mendengarnya menjerit tanpa suara ke dalam lemari piring.
Jordi duduk di kursi Dodi, di sebelah mejaku, pukul tujuh lewat lima, dengan laptop terbuka.
“Mas,” katanya. “Akses sistem Mas sudah saya aktifkan lagi. Jam lima pagi. Pak Fauzan yang kirim instruksi hari Minggu, setelah Bu Laksmi telpon beliau. Email kantor, sistem AP, semua.”
“Makasih, Mas Jordi.”
“Dan Mas.” Jordi memutar laptopnya ke arahku. Di layarnya ada tampilan konfigurasi sistem email, penuh dengan kotak centang dan menu yang tidak kumengerti. “Aturan distribusi lama sudah saya bersihkan semua. Hari Sabtu. Saya lembur sampai jam tiga pagi. Tidak ada lagi draf yang bisa terkirim sendiri ke mana pun.”
“Bagus, Mas.”
“Jadi, Mas.” Jordi menatapku dengan wajah sangat serius. “Kalau Mas mau kirim sesuatu ke all-staff, Mas harus mengetik alamatnya sendiri. Dengan sengaja. Tidak ada lagi kecelakaan.”
Aku menatapnya.
“Saya cuma mau Mas tahu,” kata Jordi pelan. “Kalau yang kali ini kekirim, itu bukan salah saya.”
Pukul delapan, aku duduk di mejaku.
Stiker itu masih di dinding kubikel. Aku berlutut di lantai marmer lobi memegang sepatu hak tinggi hitam, dengan efek kilau berbintang dan tulisan merah muda. Sudutnya robek sedikit, di tempat aku mencoba mencopotnya hari Jumat. Mbak Wina sudah menambal sudut yang robek itu dengan selotip baru.
Aku membuka laptop.
Aku membuka buku catatan cokelat di sebelahnya. Halaman paling belakang. Selembar kertas HVS yang kekuningan di bagian tepi, terlipat dua kali. Catatan kecil dari Ayu, JANGAN DIMAKAN MAS BIMA. Dan sebatang pulpen merah dengan tutup yang tergigit di ujung.
Aku mengambil pulpen itu dan meletakkannya di sebelah laptop.
Lalu aku merogoh saku celana kiriku dan mengeluarkan cincin emas kuning yang sedikit penyok, dengan ukiran yang hampir hilang di bagian dalamnya. S & W. Aku meletakkannya di sebelah pulpen merah.
Di sebelahku, Dodi, yang sudah kembali dari pantry dengan mata bengkak dan duduk di kursi rusaknya, melihat cincin itu dan langsung menutup mulutnya dengan dua tangan lagi.
Pukul delapan lewat sepuluh, aku membuka jendela email baru.
Aku menatap kolom-kolom kosong itu lama. Kepada. Cc. Subjek. Kolom isi yang putih dan luas.
Empat tahun lalu, di kamar kos tiga kali tiga di Depok, aku menatap jendela yang sama. Aku menulis selama dua jam dan menghapus enam kali.
Kali ini aku menulis selama satu jam empat puluh menit. Aku menghapus sebelas kali. Aku menulis poin-poin, lalu menghapusnya, karena kali ini aku tidak ingin melaporkan apa pun. Aku menulis paragraf panjang tentang empat tahun, lalu menghapusnya, karena ia sudah tahu semuanya. Aku menulis tentang Bapak, tentang cincin, tentang Ibu yang bilang ojo didrafke meneh, lalu menghapusnya, karena itu bukan untuk dua ribu orang. Itu untuknya, nanti, di ruangannya, berdua.
(Artinya: “jangan disimpan di draf lagi”)
Pada percobaan kedua belas, aku menulis sesuatu yang pendek. Sangat pendek.
Aku membacanya. Tiga kali.
Lalu aku mengisi kolom-kolomnya.
Kepada: renata.halim@wiraguna.co.id
Cc: compliance@wiraguna.co.id; all-staff@wiraguna.co.id
Aku mengetik alamat all-staff itu sendiri. Huruf demi huruf. Dengan sengaja.
Subjek: Untuk Bu Renata (dikirim)
Pukul sembilan lewat tiga belas.
Lantai tujuh sudah penuh. Semua orang di meja masing-masing. Semua orang pura-pura bekerja. Semua orang menatap ke arahku dari balik layar, dari balik sekat, dari balik gelas kopi. Dodi sudah memberi tahu mereka. Tentu saja Dodi sudah memberi tahu mereka. Dodi tidak bisa menyimpan rahasia. Tapi kali ini ia hanya memberi tahu satu kalimat, kata Mbak Wina nanti: Jam sembilan empat belas. Jangan bikin suara.
Lantai tujuh tidak bersuara. Bahkan printer di pojok, yang biasanya batuk-batuk, diam.
Aku menatap tombol kirim. Tombol biru di pojok kiri bawah.
Tanganku di atas mouse. Kursornya di atas tombol itu.
Aku tidak menekannya.
Aku menatapnya. Pukul sembilan lewat tiga belas lewat tiga puluh detik. Empat puluh detik. Empat puluh lima.
Aku tahu apa yang ada di belakang tombol itu. Bukan dua ribu orang. Bukan Compliance. Satu orang. Di lantai delapan belas, di ruangan yang wangi melati dan kayu manis, dengan blazer krem yang pernah disetrika dua puluh tiga menit tergantung di balik pintu. Satu orang yang menunggu teleponku tiga minggu, empat tahun lalu, dengan ponsel di samping bantal. Satu orang yang menulis aku menunggu, kali ini karena aku memilih.
Pukul sembilan lewat tiga belas lewat lima puluh detik.
Di sebelahku, Dodi tidak bersuara. Ia tidak naik ke atas kursi. Ia tidak berteriak. Ia hanya duduk di kursinya yang rusak pegasnya, oleng sedikit ke kiri, dengan kedua tangan di atas lutut, menatapku.
Lima puluh lima detik.
Aku menarik napas.
“Kirim, Bim,” bisikku.
Kepada diriku sendiri. Hanya kepada diriku sendiri.
Pukul 09.14.
Aku menekan tombol kirim.
Laptopku berbunyi pelan. Kotak kecil berwarna abu-abu muncul di pojok kanan bawah layar.
Pesan Anda telah terkirim.
Satu detik kemudian, seluruh lantai tujuh berbunyi.
Bukan satu laptop. Semua laptop. Bunyi notifikasi itu datang dari meja Dodi di sebelahku, dari meja Mbak Wina di depan, dari meja tim Treasury di seberang sekat, dari ruang kaca Pak Darto di ujung, dari ponsel-ponsel yang tergeletak di samping cangkir kopi. Bunyinya bersahut-sahutan seperti kentongan ronda di kampungku. Hanya saja, kali ini, tidak ada yang terkejut.
Tidak ada yang naik ke atas kursi untuk membacakannya.
Dua puluh orang di lantai tujuh membuka email itu di layar masing-masing, dan membacanya dalam diam.
Dari: Bima Wicaksono
Kepada: renata.halim@wiraguna.co.id
Cc: compliance@wiraguna.co.id; all-staff@wiraguna.co.id
Subjek: Untuk Bu Renata (dikirim)
Bu Renata yang terhormat,
Empat tahun lalu saya menulis surat untuk Ibu dan tidak mengirimnya. Delapan minggu lalu, surat itu terkirim sendiri ke dua ribu orang. Ibu membalasnya dengan empat kata.
Hari ini saya mengirimnya sendiri. Kepada Ibu, kepada Compliance karena itu aturannya, dan kepada dua ribu orang yang sudah membaca surat pertama, karena rasanya tidak adil kalau mereka tidak membaca yang terakhir.
Selama empat tahun saya memutuskan banyak hal untuk Ibu tanpa bertanya. Ibu sudah tahu semuanya. Saya tidak akan menuliskannya lagi.
Hari ini saya tidak memutuskan apa pun. Saya hanya bertanya.
Bu Renata, saya mau menikahi Ibu.
Kali ini saya bertanya.
Hormat saya,
Bima Wicaksono
(NIK 2024-0318, kalau Ibu masih perlu)
Lantai tujuh tidak bersuara.
Mbak Wina menutup mulutnya dengan dua tangan. Tim Treasury berdiri dari balik sekat seperti barisan meerkat. Pak Ruslan melepas kacamatanya dan mengusap matanya dengan ujung kemeja batik. Jordi, di kursi Dodi, menatap layarnya dengan mulut terbuka. Pak Darto keluar dari ruang kacanya dengan kupluk beruang masih di kepala dan berdiri di ambang pintu, memegang kusennya, seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak bisa dipercaya.
Dodi tidak menatap layarnya. Dodi menatapku.
Aku menatap layar laptopku. Email yang terkirim. Tanda centang kecil di sebelahnya. Tidak ada tombol Tarik kembali pesan ini. Aku tidak mencarinya.
Pukul 09.15. 09.16. 09.17.
Tidak ada balasan.
Pukul 09.20. Lantai tujuh masih sunyi. Seseorang di Treasury berbisik, lalu dibungkam oleh tiga orang sekaligus. Mbak Wina menggigit kuku. Pak Darto masih berdiri di ambang pintu ruang kacanya.
Pukul 09.25.
Aku tidak menatap ponselku. Aku tidak memeriksa kotak masuk. Aku duduk di kursiku dengan tangan di atas lutut, di sebelah pulpen merah dan cincin emas kuning yang sedikit penyok, dan aku menunggu.
Aku sudah bertanya. Aku akan menunggu jawabannya. Apa pun jawabannya.
Telingaku tidak merah.
Aku memperhatikannya. Aku menyentuh cuping telinga kiriku dengan ujung jari, dan rasanya biasa saja. Tidak panas. Tidak terbakar. Biasa. Seperti telinga orang yang tidak menyembunyikan apa pun.
Untuk pertama kalinya sejak Senin pagi delapan minggu lalu, sejak bunyi notifikasi itu, sejak Dodi naik ke atas kursi dan membacakan suratku ke seluruh lantai tujuh, telingaku tidak merah di depan semua orang.
Pukul 09.28. 09.29. 09.30.
Pukul 09.31.
Laptopku berbunyi.
Bunyi email masuk. Bunyi yang biasa.
Dan seluruh lantai tujuh berbunyi bersamaan. Dua puluh laptop. Dua puluh ponsel. Bunyi notifikasi yang bersahut-sahutan, lalu berhenti, lalu sunyi.
Aku menatap kotak masukku.
Dari: Renata Halim
Kepada: Bima Wicaksono
Cc: compliance@wiraguna.co.id; all-staff@wiraguna.co.id
Subjek: RE: Untuk Bu Renata (dikirim)
Ia membalas semua.
Tentu saja ia membalas semua. Renata Halim tidak pernah melakukan apa pun setengah-setengah.
Aku membukanya.
Diterima.
Ke ruangan saya. Sekarang.
Lima kata. Tidak ada salam. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada titik dua atau emoji.
Lantai tujuh meledak.
Mbak Wina menjerit dan melempar gorengannya ke udara. Tim Treasury bersorak. Pak Ruslan bertepuk tangan dengan kumis yang bergetar. Jordi berdiri dari kursi Dodi begitu cepat sampai kursi itu terguling ke belakang. Bu Yuyun, dari ujung lorong, memukul gagang pel ke lantai berulang-ulang seperti drum. Seseorang di pojok memutar lagu dari ponselnya, keras-keras, dan kali ini bukan Gugur Bunga. Kali ini lagu dangdut yang sangat bahagia.
Pak Darto berdiri di ambang pintu ruang kacanya dan menangis dengan kupluk beruang di kepala.
Dodi tidak bersorak. Dodi berdiri dari kursinya, memungut toanya dari dekat dispenser, dan tidak menyalakannya. Ia hanya memeluk toa itu di dadanya seperti memeluk sesuatu yang berharga, dan menatapku dengan wajah yang basah dan tersenyum sangat lebar.
“Pergi,” katanya serak. “Bim. Pergi. Lantai delapan belas. Dia nunggu.”
Aku berdiri.
Aku mengambil pulpen merah dan memasukkannya ke saku kemeja. Aku mengambil cincin emas kuning dan menggenggamnya di tangan kiri. Aku mengambil buku catatan cokelat, lalu meletakkannya kembali di meja. Aku tidak perlu mencatat apa pun.
Aku berjalan ke lift.
Seluruh lantai tujuh berdiri. Bukan seperti barisan kehormatan di pemakaman, seperti delapan minggu lalu. Seperti barisan di pernikahan. Mbak Wina mengacungkan dua jempol dengan wajah basah. Tim Treasury berdiri di atas kursi masing-masing. Pak Ruslan memberi hormat. Bu Yuyun menyandarkan gagang pel di dinding dan bertepuk tangan.
Pintu lift terbuka. Aku masuk. Aku menekan angka delapan belas. Tombolnya menyala oranye.
Pintu lift mulai menutup. Di celahnya yang makin sempit, aku melihat Dodi mengangkat ponselnya dan memotretku.
“Buat dokumentasi,” katanya. “Buat sejarah. Lagi.”
Pintunya tertutup.
Aku sendirian dengan bayanganku di dinding lift yang mengilap: laki-laki dua puluh delapan tahun dengan kemeja putih yang dipilih ibunya, kacamata bingkai tipis, pulpen merah di saku, dan cincin emas kuning di genggaman tangan kiri.
Dan dua telinga yang sama sekali tidak merah.
Lantai delapan. Sembilan. Sepuluh.
Aku tidak memikirkan apa yang akan ia katakan. Ia sudah mengatakannya. Diterima.
Aku tidak memikirkan apa yang akan kukatakan. Aku tidak perlu poin-poin.
Lantai tujuh belas.
Aku memikirkan satu hal saja. Empat tahun lalu, di tempat parkir kampus di Depok, aku berdiri dengan pulpen merah di tangan dan tidak mengejarnya.
Hari ini aku mengembalikannya.
Lantai delapan belas.
Bunyi denting halus. Pintu lift terbuka ke koridor berlantai kayu dengan karpet abu-abu dan lampu-lampu kuning yang hangat.
Mbak Sarah berdiri di depan mejanya. Ia tidak memegang tablet. Ia berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan perut, dan wajahnya sama sekali tidak datar. Matanya merah. Bibirnya gemetar. Ia menunjuk pintu kaca buram di ujung koridor dengan dagunya.
“Pintunya tidak dikunci,” katanya. “Tidak pernah dikunci sejak jam enam pagi.”
“Makasih, Mbak.”
“Jangan berterima kasih.” Suaranya pecah. “Saya hanya mengatur jadwal.”
Aku berjalan menyusuri koridor. Langkahku di karpet abu-abu tidak berbunyi. Jantungku berbunyi.
Udaranya wangi. Melati, dan sesuatu yang lebih hangat di bawahnya, seperti kayu manis.
Pintu kaca buram itu terbuka sedikit. Hanya sedikit, cukup lebar untuk satu orang.
Aku tidak mengetuk.
Aku membuka pintu.
Ia berdiri di tengah ruangan. Tidak di balik meja. Tidak di sofa. Tidak di dekat jendela. Di tengah ruangan, di atas karpet abu-abu, menghadap pintu, seperti orang yang sudah berdiri di sana sejak pukul sembilan lewat tiga puluh satu dan tidak bergerak sejak itu.
Ia memakai gaun merah. Merah tua, seperti yang ia pakai di lobi enam minggu lalu saat Satrio menjemputnya. Tapi gaun yang lain. Lengan panjang, potongan leher lurus, panjangnya di bawah lutut. Rambutnya digerai dalam gelombang yang lembut. Tidak ada kalung di lehernya. Bibirnya merah bata.
Dan ia tidak memakai sepatu.
Ia berdiri dengan kaki telanjang di atas karpet, seperti pukul satu pagi di lantai tujuh, di kursi rusak Dodi, dengan faktur di pangkuan. Tanpa heels sembilan sentimeter, ia harus sedikit mendongak untuk menatapku.
Ia mendongak.
Matanya basah. Maskaranya sudah luntur sedikit di sudut mata kanan, seperti orang yang menangis setelah merias wajah dan tidak punya waktu untuk memperbaikinya.
Ia tetap perempuan paling cantik yang pernah kulihat. Aku sudah memeriksanya selama empat tahun, dua bulan, dan dua puluh sembilan hari. Datanya tidak pernah berubah.
“Kamu bertanya,” katanya. Suaranya serak.
“Aku bertanya.”
“Di depan dua ribu orang.”
“Dua ribu satu. Ditambah Compliance.”
Ia tertawa. Pendek, basah, pecah di tengah. Lalu ia menutup mulutnya dengan tangan.
Aku berjalan ke arahnya. Tiga langkah. Aku berhenti satu langkah di depannya.
Lalu aku berlutut.
Di atas karpet abu-abu di ruangan CFO lantai delapan belas, di depan perempuan bergaun merah tanpa sepatu, aku berlutut dengan satu lutut seperti di lantai marmer lobi dua bulan lalu, saat hak sepatunya patah. Hanya saja kali ini aku tidak memegang sepatu.
Aku membuka genggaman tangan kiriku.
Cincin emas kuning. Tipis. Polos. Sedikit penyok di satu sisi.
“Ini bukan cincin mahal,” kataku. Suaraku bergetar. Aku membiarkannya. “Ini cincin Bapak. Tahun sembilan puluh tujuh. Tiga bulan gaji Bapak jadi kuli angkut di Pasar Wage. Bapak ngasih ke Ibu di depan gerobak mendoan, pakai kaus singlet sama sandal jepit. Bapak bilang, Sum, aku ora duwe opo-opo. Ning aku duwe iki.”
(Artinya: “Sum, aku nggak punya apa-apa. Tapi aku punya ini.”)
Renata menatap cincin itu. Tangannya di mulut gemetar.
“Aku nggak punya apa-apa, Renata,” kataku. “Aku nggak punya mobil. Aku tinggal di kos tiga kali empat, kipas anginnya rusak. Gajiku nggak sampai sepersepuluh gajimu. Aku nggak ngerti cara pesen anggur. Aku bakal bikin kamu malu di depan orang, mungkin berkali-kali.”
Aku menarik napas.
“Tapi aku punya ini. Sama semua yang aku punya. Nggak banyak.” Aku menatapnya. “Tapi itu semuanya.”
Ia menurunkan tangannya dari mulut.
“Dan aku janji,” kataku, “aku bakal nanya. Tiap hari. Sebelum aku mutusin apa pun. Kalau aku sakit, aku bilang. Kalau aku takut, aku bilang. Kalau aku mau pergi, aku tanya dulu. Terus aku tunggu jawabanmu. Apa pun jawabanmu.”
Renata menatapku dari atas. Air matanya jatuh. Satu, lalu dua, lalu banyak, tanpa suara, membasahi pipinya yang merah.
“Satu syarat,” katanya.
“Apa pun.”
“Kamu juga harus tanya aku capek atau enggak. Tiap hari.”
“Itu nggak usah jadi syarat,” kataku. “Udah aku lakuin empat tahun.”
Ia tertawa dan menangis bersamaan. Lalu ia mengulurkan tangan kirinya kepadaku. Bukan tangan kanan. Tangan kiri. Jari manis.
“Tanya dulu,” katanya.
Aku menatapnya. “Boleh aku pasangin?”
“Boleh.”
Aku memasangkan cincin itu di jari manisnya. Pelan. Sangat pelan. Cincin itu sedikit kebesaran; jari Ibu lebih besar dari jarinya. Cincin itu menggantung longgar di pangkal jarinya, emas kuning yang penyok di atas kulit kuning langsat yang bersih.
“Kebesaran,” kataku.
“Biar,” katanya. “Aku enggak bakal pakai di kalung. Aku pakai di sini. Di jari. Biar semua orang lihat.”
Lalu ia menarikku berdiri.
Ia menarik tanganku dengan dua tangan, sampai aku berdiri, sampai aku menjulang di atasnya karena ia tidak memakai sepatu. Ia mendongak. Ia mengangkat kedua tangannya dan memegang wajahku, seperti di lift yang macet di antara lantai empat belas dan tiga belas.
“Tanya dulu,” bisiknya.
“Boleh aku menciummu?”
“Boleh.”
Aku menciumnya.
Pelan. Di tengah ruangan CFO lantai delapan belas. Dengan pulpen merah di saku kemejaku dan cincin emas kuning di jarinya dan pintu kaca buram yang masih terbuka sedikit di belakangku. Ia menciumku balik, dengan bibir yang basah oleh air mata dan rasa melati dan kayu manis dan sesuatu yang lebih hangat dari keduanya.
Di luar pintu, di koridor, aku mendengar sesuatu.
Langkah-langkah kaki. Banyak. Berbisik-bisik. Seseorang menyuruh seseorang diam. Seseorang menjatuhkan sesuatu yang terdengar seperti toa.
Renata menarik bibirnya sedikit, dua sentimeter. Ia menatap ke arah pintu di belakangku. Lalu ia menatapku lagi, dan tersenyum. Senyum yang tidak dilatih. Senyum yang sampai ke matanya, sampai matanya menyipit di sudut-sudutnya dan tahi lalat kecil di bawah mata kirinya terangkat sedikit.
“Lantai tujuh,” katanya.
“Semua.”
“Dodi?”
“Pasti. Dia bawa toa.”
Ia tertawa di bibirku. Lalu ia melepaskan wajahku, mengambil tanganku, dan menarikku ke pintu. Ia membuka pintu kaca buram itu lebar-lebar.
Di koridor lantai delapan belas berdiri empat puluh orang.
Seluruh divisi Finance. Pak Darto dengan kupluk beruang. Mbak Wina dengan gorengan. Jordi dengan laptop. Pak Ruslan dengan kumis yang basah. Bu Yuyun dengan gagang pel. Mas Yanto dan Pak Komar, yang seharusnya sedang berjaga di lobi. Bu Tini dari kantin, dengan celemek masih terpasang. Pak Fauzan dari Compliance, dengan wajah orang yang menelan sesuatu yang manis untuk pertama kalinya. Mbak Sarah, berdiri paling depan, menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.
Dan Dodi. Berdiri di atas kursi resepsionis lantai delapan belas, oleng ke kiri dan ke kanan, memegang toa yang baru saja ia pungut dari lantai.
Renata mengangkat tangan kirinya. Cincin emas kuning yang sedikit kebesaran berkilau di bawah lampu kuning koridor.
Koridor lantai delapan belas meledak.
Dan di atas kursi resepsionis, Dodi mengangkat toanya, membuka mulutnya, dan tidak berhasil mengatakan apa pun, karena ia sedang menangis terlalu keras.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim reading
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong
- 36 Extra 1 — Pesawat Pertama
- 37 Extra 2 — Mas
- 38 Extra 3 — Kangen Tiga Jam
- 39 Extra 4 — Hujan di Uluwatu
- 40 Extra 5 — Sebelas Lantai