← Masih di Folder Draf

Chapter Thirty Eight

Extra 3 — Kangen Tiga Jam

POV: Bima

Hari ketiga, kami pindah ke Uluwatu.

Villa yang kedua ada di atas tebing kapur putih, menghadap langsung ke Samudra Hindia. Tidak ada sawah. Tidak ada lembah. Hanya langit, laut, dan suara ombak yang memecah di bawah tebing setiap tujuh detik. Aku menghitungnya. Tujuh detik, kadang delapan.

Renata bilang aku harus berhenti menghitung ombak.

Aku bilang aku tidak bisa. Itu seperti menyuruh orang berhenti berkedip.

Ia bilang, kalau begitu, ia akan memberiku sesuatu yang lain untuk dihitung. Lalu ia berjalan ke kamar mandi dan meninggalkan pintunya terbuka, dan aku berhenti menghitung ombak selama dua jam.


Selasa pagi, ia ke spa.

Paket tiga jam. Pijat Bali, lulur rempah, mandi susu dengan kelopak bunga, perawatan wajah. Ia memesannya sejak di Jakarta, dan ia sangat menantikannya, karena katanya, terakhir kali ia dipijat adalah dua tahun lalu, dan itu pun di kursi pijat otomatis di bandara Changi sambil menunggu penerbangan transit.

“Kamu mau ikut?” tanyanya pagi itu, sambil memakai anting mutiara di depan cermin.

“Ke spa?”

“Ada paket pasangan.”

Aku membayangkan diriku berbaring telungkup di samping istriku, berdua, sementara dua orang asing melumuri kami dengan minyak.

“Nggak usah,” kataku. “Kamu aja. Biar santai.”

“Terus kamu ngapain tiga jam?”

“Aku mau ikut kelas selancar.”

Ia berhenti memasang anting. Ia menoleh dari cermin.

“Selancar.”

“Di Padang Padang. Pantai di bawah tebing. Bli Wayan bilang ada kelas buat pemula. Dua jam. Instrukturnya orang lokal.” Aku membetulkan kacamata. “Aku belum pernah berselancar. Aku belum pernah berdiri di atas papan di atas ombak. Aku pengin tahu rasanya.”

“Kamu enggak bisa renang jauh.”

“Bisa. Aku belajar di Kali Pelus. Waktu SD.”

“Itu kali, Bim. Ini Samudra Hindia.”

“Instrukturnya bilang pemula cuma di pinggir. Air setinggi dada. Pakai papan yang besar.” Aku menatapnya. “Kamu khawatir?”

Ia menatapku lama. Lalu ia berjalan ke arahku, berhenti sangat dekat, dan memasang anting mutiara yang kedua dengan mata masih menatap mataku.

“Iya,” katanya. “Aku khawatir.”

Aku tidak menyangka ia akan menjawab sejujur itu.

“Aku nggak bakal kenapa-kenapa, Ren.”

“Aku tahu.” Ia menarik kerah kausku, sedikit, supaya wajahku turun ke arahnya. “Tapi kalau ada apa-apa, kamu telepon aku. Bukan nanti. Langsung.”

“Iya.”

“Janji?”

“Janji.”

“Jangan diem-diem kayak Bapak.”

Kalimat itu keluar begitu saja, pelan, tanpa beban, tapi aku merasakannya sampai ke tulang. Ia tahu. Ia tahu tentang Bapak, tentang sakit dada enam bulan yang disembunyikan, tentang Bapak sing ngurus. Aku menceritakannya di tangga darurat lantai delapan belas, di kamar hotel Purwokerto, di bawah selimut di Ubud. Ia menyimpannya. Ia menyimpan semuanya.

“Nggak bakal,” kataku. “Aku nggak bakal diem-diem.”

Ia menciumku. Lama. Lalu melepaskan kerah kausku dan menepuk dadaku dua kali.

“Hati-hati,” katanya. “Kalau kamu pulang ada lecet, aku marah.”


Instruktur selancarku bernama Kadek.

Kadek perempuan. Aku tidak tahu kenapa aku mengira instrukturnya laki-laki. Mungkin karena Bli Wayan yang merekomendasikannya, dan Bli Wayan bilang anak saudara saya, jago. Kadek berumur dua puluh lima tahun, berkulit sawo matang gelap yang terbakar matahari, dengan rambut panjang dikepang dan tawa yang sangat keras, dan ia sudah berselancar sejak umur enam tahun.

“Bapak dari Jakarta?” tanyanya, sambil mengoleskan lilin ke papan selancar biru yang panjangnya hampir tiga meter.

“Purwokerto. Tapi kerja di Jakarta.”

“Bulan madu?”

“Iya.”

“Istrinya mana?”

“Spa. Tiga jam.”

Kadek tertawa. “Ya ampun, Pak. Bulan madu malah selancar sendirian. Nanti istrinya ngambek.”

“Dia yang suruh aku berangkat.”

“Itu jebakan, Pak.” Kadek menyodorkan papan itu. “Cewek bilang ‘berangkat aja’ itu artinya ‘kamu harus kangen aku tiap lima menit’.”

Aku menatapnya. Lalu aku menatap ponselku di dalam kantong kedap air yang tergantung di leherku.

Belum ada pesan.

“Pemanasan dulu, Pak,” kata Kadek. “Lepas kausnya. Nanti basah berat.”

Aku melepas kausku. Aku melipatnya. Aku meletakkannya di atas tas di pasir, rapi, empat lipatan.

Kadek menatapku. Lama. Dari bahu ke perut ke bahu lagi.

“Wah,” katanya. “Pak. Bahunya bagus. Bapak atlet?”

“Bukan. Akuntan.”

“Akuntan?” Kadek mengerutkan dahi. “Akuntan di Jakarta bahunya kayak gini semua?”

“Dulu bantu ibu saya angkat karung tepung.”

“Pantesan.” Kadek mengangguk-angguk dengan wajah ahli. “Bahu kayak gini bagus buat dayung, Pak. Bapak bakal cepet bisa. Lengannya juga. Ayo, telungkup di papan. Saya ajarin posisi.”


Pesan pertama datang empat puluh menit kemudian.

Aku baru saja jatuh dari papan untuk kesebelas kalinya. Air asin masuk ke hidungku, ke telingaku, ke celah kacamata renang yang dipinjamkan Kadek. Aku berdiri di air setinggi dada, terengah-engah, dan merasakan ponsel bergetar di dadaku.

Aku membukanya dari dalam kantong plastik, dengan jari basah dan pasir.

Renata: Lagi dilulur. Baunya kayak kamu. Ada jahenya.

Aku menatap pesan itu. Lalu mengetik dengan jari gemetar dan basah:

Bima: Aku bau jahe?

Renata: Kamu bau kayak dapur Bu Sumi. Aku suka.

Renata: Kamu udah bisa berdiri?

Bima: Belum. Jatuh 11 kali.

Renata: Lecet?

Bima: Nggak.

Renata: Bohong?

Bima: Lutut kiri dikit. Kena papan. Udah nggak berdarah.

Ada jeda. Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi.

Renata: Makasih udah jujur.

Renata: Kangen.

Aku menatap kata itu. Enam huruf. Di layar ponsel yang basah, di dalam kantong plastik, di tengah Samudra Hindia, di bawah tebing kapur Uluwatu.

Baru empat puluh menit.

Bima: Baru 40 menit, Ren.

Renata: Terus kenapa?

Bima: Nggak apa-apa. Aku juga kangen.

Renata: Berapa persen?

Aku memikirkannya. Ombak datang dan menghantam punggungku dan hampir menjatuhkanku lagi. Kadek berteriak dari papannya, Pak! Jangan main HP di laut!

Bima: 100%. Dari menit kelima.

Aku memasukkan ponsel kembali ke dalam kantong. Kadek mendayung ke arahku dengan wajah orang yang sudah tahu.

“Istrinya ya, Pak?”

“Iya.”

“Bilang kangen?”

“Iya.”

“Tuh kan.” Kadek tertawa sangat keras sampai beberapa peselancar lain menoleh. “Saya bilang apa. Jebakan.”


Pada percobaan kedua puluh tiga, aku berdiri.

Dua detik. Mungkin tiga. Di atas papan biru sepanjang tiga meter, di atas ombak kecil yang menggulung ke pantai, dengan lutut ditekuk dan tangan terentang ke samping seperti orang yang mau memeluk sesuatu yang besar. Angin di wajahku. Air memercik di betisku. Untuk tiga detik, aku tidak berpijak di apa pun yang kukenal, dan aku tidak jatuh.

Lalu aku jatuh.

Tapi aku tertawa waktu jatuh. Aku tertawa di bawah air, dan menelan air asin, dan muncul ke permukaan terbatuk-batuk sambil masih tertawa, dan Kadek bersorak dari papannya, YESSS PAK AKUNTAN!, dan dua peselancar bule yang lewat bertepuk tangan.

Aku mengambil ponsel dari kantong.

Bima: Aku berdiri. 3 detik.

Balasan datang dalam sebelas detik.

Renata: VIDEO MANA

Bima: Nggak ada yang rekam.

Renata: Ya udah. Aku percaya. Kamu kan enggak bohong.

Renata: Aku bangga sama kamu.

Renata: Aku masih kangen.

Bima: Aku juga. Udah 1 jam 50 menit.

Renata: Kamu ngitung?

Bima: Kamu tahu aku ngitung.

Renata: Spa-nya tinggal 1 jam. Tapi aku enggak tahan.

Bima: Maksudnya?

Tidak ada balasan.


Dua puluh menit kemudian, aku tahu maksudnya.

Aku sedang duduk di atas papan di air dangkal, mendengarkan Kadek menjelaskan cara membaca arah ombak, ketika Kadek tiba-tiba berhenti bicara dan menatap ke arah pantai dengan mulut setengah terbuka.

Aku menoleh.

Renata berjalan menuruni tangga batu dari tebing ke pantai.

Ia memakai baju renang hitam. Bukan bikini. Baju renang satu potong, hitam polos, dengan potongan kaki yang tinggi di pinggul dan punggung yang terbuka sampai ke lekuk pinggang. Di atasnya, kain sarung Bali bermotif bunga kamboja putih diikat rendah di pinggul, berkibar di setiap langkah, memperlihatkan kaki jenjangnya yang panjang dari paha sampai mata kaki. Rambutnya digelung tinggi seadanya, dengan beberapa helai yang jatuh di leher. Kulitnya berkilau. Minyak lulur rempah, kurasa. Kacamata hitam di wajahnya. Sandal kulit di tangan, karena pasirnya panas.

Seluruh pantai Padang Padang berhenti.

Aku tidak melebih-lebihkan. Peselancar yang sedang mendayung berhenti mendayung. Penjual kelapa muda di bawah payung berhenti membelah kelapa. Dua laki-laki bule di atas handuk yang sedang mengoleskan tabir surya berhenti di tengah olesan, satu dengan tangan masih di lengan temannya. Seekor anjing pantai yang sedang menggali pasir berhenti menggali.

Renata tidak menoleh ke siapa pun. Ia berjalan lurus melintasi pasir, dengan langkah yang sangat santai dan sangat tahu, langsung ke arahku.

“Ya Tuhan,” bisik Kadek. “Pak. Itu istri Bapak?”

“Iya.”

“Bapak akuntan?”

“Iya.”

Kadek menatapku. Lalu menatap Renata. Lalu menatapku lagi, dengan wajah orang yang sedang mencoba menghitung sesuatu dan hasilnya tidak masuk akal.

Renata berhenti di bibir air, di mana ombak kecil membasahi kakinya. Ia melepas kacamata hitamnya.

“Hai,” katanya. Kepadaku. Hanya kepadaku.

“Kamu bilang spanya tiga jam.”

“Aku bilang aku enggak tahan.” Ia tersenyum. “Perawatan wajahnya aku tinggal. Mbak terapisnya kaget.”

Lalu matanya bergeser. Pelan. Ke Kadek, yang sedang duduk di atas papannya sendiri setengah meter di sebelahku, dengan kepang yang basah dan senyum yang masih terkejut.

“Halo,” kata Renata. Ramah. Sangat ramah. Dengan suara CFO yang biasanya ia pakai untuk menyapa vendor sebelum menolak penawaran mereka. “Mbak instrukturnya?”

“I-iya, Bu. Kadek.”

“Kadek. Makasih udah ngajarin suami saya.” Renata tersenyum lebih lebar. “Dia bilang tadi Mbak muji bahunya.”

Aku menatap Renata. Aku tidak pernah bilang itu. Aku tidak pernah mengetik apa pun soal itu.

Kadek juga menatap Renata dengan wajah yang sama.

“Bu, saya cuma bilang—”

“Enggak apa-apa.” Renata melangkah masuk ke air. Satu langkah. Dua langkah. Sarung batiknya basah di ujung dan menempel di pahanya. Ia berjalan ke arahku sampai air setinggi pinggangnya, lalu berhenti di sebelah papanku, di antara aku dan Kadek. Tepat di antara. “Bahunya emang bagus. Saya juga suka.”

Lalu ia meletakkan tangannya di bahuku. Di bahu kanan. Telapak tangannya yang hangat dan masih licin minyak lulur, di atas kulitku yang basah dan asin. Dan ia meremasnya pelan, dengan cara yang sangat jelas, sangat terbuka, dan sangat, sangat tidak perlu.

“Punya saya,” katanya kepada Kadek, dengan senyum yang paling manis yang pernah kulihat.

Kadek mengangguk cepat. “Iya, Bu. Siap, Bu. Punya Ibu.”


Kadek mengakhiri kelasnya dua puluh menit lebih cepat, dengan alasan ombaknya mulai terlalu besar untuk pemula. Ombaknya sama sekali tidak terlalu besar.

Aku membantu Kadek membawa papan ke gubuk sewaan. Aku membayar ekstra karena merasa tidak enak. Kadek menerima uang itu, lalu menarikku ke samping dan berbisik dengan wajah serius:

“Pak. Saya kasih saran. Gratis.”

“Apa?”

“Istri Bapak cemburu.”

“Masa?”

“Pak.” Kadek menatapku seperti menatap anak kecil. “Dia jalan dari ujung pantai ke tengah laut cuma buat pegang bahu Bapak di depan saya.”

Aku menoleh ke arah Renata, yang sekarang duduk di atas handuk di bawah payung, dengan kaki jenjang yang diluruskan di pasir dan kacamata hitam yang kembali terpasang, pura-pura tidak memperhatikan kami. Ia jelas memperhatikan kami.

“Terus aku harus ngapain?” tanyaku.

Kadek menepuk bahuku. Bahu kiri, bukan yang kanan.

“Bapak akuntan, kan?” katanya. “Hitung aja berapa kali dia butuh dicium hari ini. Terus kali dua.”


Renata tidak berbicara kepadaku sepanjang jalan naik tangga batu ke villa.

Ia tidak marah. Aku tahu bagaimana Renata ketika marah: diam, dingin, dengan suara CFO yang setajam pisau kertas. Ini bukan itu. Ini sesuatu yang lain. Ia berjalan setengah langkah di depanku, dengan sarung batik basah yang menempel di pinggulnya dan sandal di tangan, dan setiap kali aku mencoba menyamai langkahnya, ia mempercepat langkahnya setengah langkah lagi.

Di tangga ke-seratus dua puluh tujuh, aku menangkap pergelangan tangannya.

“Ren.”

“Apa?”

“Kamu ngambek.”

“Enggak.”

“Kamu ngambek. Kamu jalannya cepet. Kamu nggak ngomong. Bibir kamu gini.” Aku memonyongkan bibir sedikit.

Ia menatapku dengan wajah tersinggung. Bibirnya memang seperti itu.

“Aku enggak ngambek,” katanya. “Aku cuma lagi mikir.”

“Mikir apa?”

“Mikir kenapa kamu buka kaus di depan instruktur perempuan dua puluh lima tahun yang rambutnya dikepang.”

“Dia yang suruh. Biar nggak basah berat.”

“Kamu lipat kausnya?”

“Empat lipatan.”

“Tuh kan.” Ia menarik pergelangan tangannya, tapi tidak terlalu keras, dan aku tidak melepaskannya. “Kamu lipat kaus kamu empat lipatan di depan dia. Kamu enggak pernah lipat kaus kamu empat lipatan di depan aku.”

“Aku selalu lipat empat lipatan.”

“Di depan aku kamu langsung lempar ke lantai.”

Aku membuka mulut. Lalu menutupnya. Ia benar. Sejak malam di Ubud, setiap kali aku melepas baju di depannya, aku tidak pernah sempat melipatnya. Karena tangannya selalu sudah di tempat lain.

“Itu bukan salah aku,” kataku pelan.

“Terus salah siapa?”

“Salah kamu.”

Ia menatapku. Pipinya merah. Bukan karena matahari.

“Kok salah aku?”

“Karena kalau di depan kamu,” kataku, dan suaraku turun dengan sendirinya, “aku nggak inget cara ngelipat apa pun.”

Ia diam.

Ombak memecah di bawah tebing. Tujuh detik. Delapan.

Lalu ia membuang muka ke arah laut, dengan dagu terangkat dan bibir yang masih sedikit dimonyongkan.

“Cium dulu,” katanya. “Baru aku maafin.”

Aku mendekat. Aku menciumnya di pipi. Pelan.

“Bukan di pipi,” katanya, masih menatap laut. “Kamu tahu di mana.”


Aku menciumnya di tangga ke-seratus dua puluh tujuh.

Lalu di tangga ke-seratus dua puluh delapan, karena ia bilang yang tadi kurang lama. Lalu di tangga ke-seratus tiga puluh, karena ia bilang yang tadi kurang dalam. Lalu di gerbang villa, karena ia bilang yang tadi masih ada bau garam.

Lalu, di dalam villa, di depan pintu kaca yang menghadap ke Samudra Hindia, ia mendorongku ke dinding, dan kali ini ia yang menciumku.

“Bim,” katanya di bibirku, dengan napas yang sudah tidak teratur.

“Hm?”

“Aku kangen.”

“Kita baru ketemu sejam lalu.”

“Tiga jam aku enggak lihat kamu.” Bibirnya turun ke rahangku. Ke leherku. Ke bahuku. Bahu kanan. Bahu yang tadi ia remas di depan Kadek. “Tiga jam aku dilulur sambil mikirin kamu. Tiga jam aku dipijat sambil bayangin tangan kamu. Terus aku dateng, dan ada cewek yang ngelihatin bahu kamu.”

Ia menggigit bahuku. Pelan. Tidak sampai sakit. Tapi cukup untuk meninggalkan sesuatu.

“Ren—”

“Biar dia tahu,” bisiknya di kulitku, “kalau ini udah ada yang punya.”

Aku memeluk pinggangnya. Kain sarung batik itu masih basah dan menempel di kulitnya. Baju renang hitam di bawahnya masih dingin karena air laut. Tapi kulitnya, di punggungnya yang terbuka, sangat hangat. Hangat dan licin dan wangi rempah lulur bercampur melati dan kayu manis.

Aku menarik ikatan sarung itu. Simpulnya terlepas. Kain bermotif bunga kamboja itu jatuh ke lantai batu.

Renata berhenti. Ia mengangkat wajahnya dari bahuku dan menatapku.

“Kamu,” katanya, sedikit terkejut. “Kamu enggak tanya dulu.”

Aku menatapnya. Aku memikirkannya. Pertanyaan yang adil layak dijawab dengan jujur.

“Tanya dulu,” kataku. “Boleh aku—”

Lalu aku berhenti.

Karena tangannya sudah di tali baju renang hitam di bahunya sendiri, menurunkannya pelan-pelan, sambil menatapku dengan mata yang gelap dan sangat tenang dan sama sekali tidak menunggu jawabanku.

“Ah,” kataku. “Udahlah.”

Ia tertawa. Tawa yang rendah dan serak dan membuat bulu di tengkukku berdiri.

“Kamu udah jawab dari tadi,” katanya. “Dari waktu kamu bilang kamu enggak inget cara ngelipat apa pun.”

Aku menariknya. Aku menggendongnya. Ia melingkarkan kakinya yang panjang di pinggangku dan lengannya di leherku, dan aku membawanya menjauh dari pintu kaca, menjauh dari Samudra Hindia dan ombak yang memecah setiap tujuh detik, ke dalam, ke tempat yang tidak ada yang bisa melihat.

Aku tidak menghitung ombak sore itu.

Aku tidak menghitung apa pun.


Malamnya, kami makan di teras dengan kaki di dalam kolam.

Renata memakai kaus abu-abuku yang pudar, yang kubawa dari Jakarta dan yang tidak pernah kembali ke koperku sejak malam pertama di Ubud. Kaus itu terlalu besar untuknya. Kerahnya melorot di satu bahu. Panjangnya sampai ke paha. Ia bilang itu kaus terbaik yang pernah ia pakai, lebih baik dari semua blus sutra di lemarinya di Kebayoran Baru.

“Hoodie kamu juga,” katanya, sambil mengunyah sate lilit. “Yang abu-abu tua. Itu punya aku sekarang.”

“Itu satu-satunya hoodie aku.”

“Enggak ada banding.”

“Ren—”

“Aku CFO. Keputusan aku final.” Ia menyuapkan sate lilit ke mulutku. “Kamu boleh beli yang baru. Nanti aku pakai juga.”

Aku mengunyah sate itu. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Bahu kanan, yang sekarang punya bekas merah kecil yang tidak akan bisa kujelaskan kepada Dodi.

Di bawah tebing, ombak memecah. Tujuh detik. Delapan.

“Bim,” katanya pelan.

“Hm?”

“Tadi aku cemburu.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Kadek yang bilang.”

Ia mengangkat kepalanya dari bahuku dengan wajah ngeri. “Dia bilang?”

“Dia bilang kamu jalan dari ujung pantai ke tengah laut cuma buat pegang bahu aku.”

Renata menutup wajahnya dengan dua tangan.

“Ya Tuhan,” katanya dari balik tangan. “Aku tiga puluh dua tahun. Aku CFO. Aku pernah bikin direktur keuangan BUMN nangis di rapat. Dan aku cemburu sama instruktur selancar.”

“Kamu juga bilang ke dia aku punya kamu.”

“Aku enggak bilang gitu.”

“Kamu bilang ‘punya saya’.”

Ia mengintip dari celah jari-jarinya. Matanya basah karena tertawa malu.

“Kamu marah?” tanyanya.

Aku menatapnya. Istriku, dengan kaus abu-abuku yang pudar, dengan kerah melorot di satu bahu dan wajah merah di balik jari-jari, dengan kaki di dalam kolam di sebelah kakiku.

“Nggak,” kataku. “Aku seneng.”

“Seneng?”

“Empat tahun aku lihatin kamu dari jauh. Empat tahun aku nggak punya hak apa-apa. Aku cuma staf AP di lantai tujuh yang nyimpen surat di folder draf.” Aku mengambil tangannya dari wajahnya, pelan, satu per satu, dan menggenggamnya. “Sekarang kamu jalan ke tengah laut, di depan seluruh pantai, buat bilang aku punya kamu.”

Aku mencium punggung tangannya. Di atas cincin emas kuning yang sedikit penyok.

“Kamu boleh cemburu tiap hari, Ren,” kataku. “Aku nggak keberatan.”

Ia menatapku. Ombak memecah di bawah tebing. Tujuh detik.

Lalu ia menarik tangannya, menangkup wajahku dengan dua tangan, dan berbisik dari jarak dua senti:

“Aku cinta kamu. Bukan karena kamu baik.” Bibirnya menyentuh bibirku. “Karena kamu punyaku.”