Chapter Thirteen
Yang Ia Tunggu
POV: Renata
Setelah pintu ruanganku tertutup, aku duduk lama sekali dengan sapu tangan kotak-kotak biru di pangkuan.
Bukan sapu tangan yang sama. Aku tahu itu. Sapu tangan yang tertinggal di mejaku empat tahun lalu sudah hilang, entah di laci ruanganku yang lama, entah di kardus pindahan, entah di tempat sampah gedung ini. Yang ini lebih baru. Kainnya masih kaku di bagian lipatan, warnanya belum pudar oleh cucian.
Tapi motifnya sama. Kotak-kotak biru, dengan garis putih tipis di setiap sisinya. Ukurannya sama. Lipatannya sama: dua kali, dengan sudut yang presisi seperti lipatan surat resmi.
Empat tahun, dan laki-laki itu masih membawa sapu tangan yang sama di saku celananya.
Aku memegangnya dengan dua tangan dan menatap jendela yang sudah gelap. Di sana, di kaca, aku melihat pantulanku sendiri: perempuan dengan maskara luntur, mata merah, dan rambut yang menempel di pipi. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku membiarkan seseorang melihatku seperti ini. Bahkan di pemakaman, aku memakai kacamata hitam.
Dan ia tidak pergi.
Ia tidak bertanya apakah aku baik-baik saja. Ia tidak menyentuh bahuku. Ia tidak mengatakan semua akan baik-baik saja, atau Pak Hendra pasti ingin Ibu bahagia, atau semua kalimat lain yang sudah diucapkan ratusan orang kepadaku selama tiga tahun, dengan suara dipelankan dan wajah prihatin. Ia hanya duduk. Ia duduk di kursi di depan mejaku dengan tangan di lutut selama setengah jam, sementara matahari tenggelam di belakangku, dan ia tidak pergi.
Lalu ia bilang deposit itu masih bisa dipakai.
Aku menatap halaman kuitansi yang tergeletak di mejaku. Deposit tidak dapat dikembalikan, namun dapat digunakan sewaktu-waktu sebagai kredit reservasi atas nama pemesan. Aku tidak pernah membacanya. Selama tiga tahun klaim itu ada di sistem, aku tidak pernah sanggup membukanya. Aku bahkan tidak tahu deposit itu untuk Lumière sampai hari Rabu tiga minggu lalu, di ruang kaca Pak Darto, saat seorang staf AP membacakannya dengan suara pelan seperti memegang gelas retak.
Meja nomor tujuh.
Hendra ingat nomornya. Malam ketika aku akhirnya bilang iya, setelah tiga belas kali menolak, kami duduk di meja nomor tujuh dekat jendela, dengan lilin kecil di dalam gelas kaca dan hujan di luar. Ia memesan dua makanan penutup dan memberikan satu kepadaku. Ia bilang, Saya tahu kamu belum mencintai saya. Saya tidak keberatan menunggu.
Dan aku tidak pernah bertanya bagaimana ia tahu.
Semoga tahun ini dia sudah berhenti menunggu.
Ia tahu aku menunggu seseorang. Ia tidak tahu siapa. Ia tidak pernah bertanya. Ia hanya menunggu di sampingku, dengan sabar, dan memesan meja yang sama enam bulan sebelumnya, dan menyembunyikannya dari tagihan kartu kreditnya karena ia tahu aku memeriksa semua angka.
Lalu ia pergi sebelum aku sempat bilang bahwa aku sudah berhenti.
Aku sudah berhenti, Hendra. Sudah lama. Mungkin sejak bulan keempat, atau kelima. Sejak pagi ketika kamu bernyanyi sumbang di kamar mandi dan aku tertawa sampai tersedak kopi. Aku sudah berhenti menunggu. Aku hanya tidak pernah mengatakannya, karena aku pikir kita punya waktu.
Aku mengusap mataku lagi dengan sapu tangan kotak-kotak biru.
Lalu aku berdiri.
Pukul enam lewat dua puluh lima, aku turun ke lantai tujuh.
Aku tidak merapikan riasanku. Aku hanya mencuci muka di kamar mandi lantai delapan belas, menghapus sisa maskara dengan tisu basah, dan mengikat rambutku dengan karet yang kutemukan di laci meja. Tanpa riasan, wajahku terlihat lebih pucat dan lebih tua. Aku tidak peduli. Aku tidak tahu kenapa aku tidak peduli.
Sarah menatapku saat aku lewat di depan mejanya menuju lift.
“Bu,” katanya. “Pintu koridor sudah saya buka.”
“Makasih, Sarah.”
“Bu.” Ia ragu sebentar, sesuatu yang sangat jarang terjadi. “Dia di pantry. Dengan Dodi.”
Aku menatapnya. Sarah menatapku balik dengan wajah yang tidak datar sama sekali.
“Saya tidak tahu kenapa saya tahu ini, Bu,” katanya pelan.
“Kamu tahu semuanya, Sarah.”
“Iya, Bu.” Ia menunduk kembali ke tabletnya. “Itu pekerjaan saya.”
Lantai tujuh pada pukul enam lewat setengah sudah separuh gelap. Separuh lampu di langit-langit sudah dimatikan otomatis. Kubikel-kubikel kosong. Layar-layar komputer hitam. Hanya ada satu cahaya terang di ujung lorong, dari pintu pantry yang terbuka.
Aku berjalan ke sana. Aku memakai flat shoes yang kusimpan di laci untuk keadaan darurat, jadi langkahku tidak berbunyi di karpet biru tua.
Dari ambang pintu pantry, aku melihat mereka.
Bima berdiri bersandar di meja pantry dengan gelas kopi sachet di tangan. Dodi, laki-laki berbadan agak gempal dengan rambut ikal dan kemeja yang tidak dimasukkan, berdiri di depan papan tulis putih di dinding dengan spidol di tangan, sedang menulis sesuatu.
“Gue tambahin satu kolom lagi,” kata Dodi. “Bu Renata nangis di kantor. Gue nggak bisa pasang taruhan buat itu soalnya udah kejadian, tapi buat sejarah—”
“Jangan, Dod.”
“Bim, lo nggak ngerti. Sarah ngunci koridor. Sarah. Ngunci. Koridor. Itu belum pernah terjadi sejak gedung ini dibangun. Seluruh lantai delapan belas ngira ada bom.”
“Dodi, hapus.”
“Oke, oke. Gue hapus.” Dodi mengangkat penghapus, lalu berhenti, karena ia melihatku di ambang pintu.
Penghapus itu jatuh dari tangannya.
Bima menoleh. Gelas kopi di tangannya miring, dan kopi sachet yang terlalu manis itu tumpah sedikit ke lantai pantry.
“Bu,” katanya.
“Selamat malam,” kataku.
Dodi menatapku. Lalu menatap Bima. Lalu menatap papan tulis di belakangnya, yang dengan sangat jelas bertuliskan KAPAN BIMA NEMBAK? dengan huruf kapital merah yang digarisbawahi dua kali.
Ia bergerak ke samping, perlahan, seolah-olah dengan bergerak cukup pelan ia bisa menutupi papan tulis itu dengan badannya. Badannya tidak cukup lebar.
“Selamat malam, Bu,” kata Dodi. Suaranya satu oktaf lebih tinggi dari biasanya. “Saya Dodi. AP. Meja sebelah Bima. Saya, eh, saya mau pulang. KRL. Terakhir. Jam setengah tujuh.”
“KRL terakhir jam dua belas malam,” kataku.
“KRL terakhir saya, Bu. Pribadi. Saya punya jadwal sendiri.” Ia mengambil tasnya dari kursi pantry, menyampirkannya di bahu, dan berjalan menyamping ke arah pintu seperti kepiting, dengan punggung menghadap papan tulis. Saat lewat di sebelahku, ia membungkuk dalam-dalam. “Bu. Selamat malam. Ibu cantik sekali walaupun habis nangis. Eh. Maaf. Saya tidak bilang habis nangis. Selamat malam.”
Ia pergi. Aku mendengar langkahnya setengah berlari di lorong, lalu bunyi tombol lift yang ditekan berkali-kali dengan panik.
Aku masuk ke pantry. Aku berdiri di depan papan tulis putih, dan aku membacanya.
KAPAN BIMA NEMBAK?
Aku membaca setiap baris. Mbak Wina. Tim Treasury. Jordi dan martabaknya. Bu Tini. Pak Komar: Bu Renata yang nembak duluan, Rp100.000. Pak Darto: Tidak akan pernah, Rp50.000. Seseorang dari Procurement: Udah jadian, cuma backstreet. Bu Yuyun: Tangga darurat. Dan di paling bawah, dengan tulisan tangan yang sangat kukenal karena aku membacanya di catatan tempel setiap hari:
Sarah (Lt. 18) — Abstain. Tapi untuk catatan: kalian semua akan kalah.
Di belakangku, Bima tidak bersuara sama sekali.
“Pak Darto pasang lima puluh ribu, katanya kamu enggak bakal pernah,” kataku tanpa berbalik.
“Iya, Bu.”
“Atasan kamu sendiri.”
“Beliau realistis, Bu.”
Aku menatap baris Pak Komar sedikit lebih lama. Bu Renata yang nembak duluan. Lalu aku mengambil spidol merah yang tergeletak di bawah papan, bekas dijatuhkan Dodi.
“Bu,” kata Bima di belakangku, panik. “Bu, jangan—”
Aku tidak menulis apa-apa. Aku hanya memutar spidol itu di antara jariku, sekali, dua kali, lalu meletakkannya kembali di tepi papan. Lalu aku berbalik.
Bima berdiri di dekat meja pantry dengan wajah yang sudah merah sampai ke kerah. Kacamatanya miring. Ada noda kopi kecil di ujung kemeja putihnya, dari gelas yang tumpah tadi.
“Kemeja kamu kena kopi,” kataku.
Ia menunduk dan melihatnya. “Nanti saya cuci, Bu.”
“Pakai air dingin dulu. Jangan air panas, nanti nodanya nempel.”
Ia menatapku dengan heran. “Ibu kok tahu soal noda kopi?”
“Saya tinggal sendiri tiga tahun, Bima. Saya tahu banyak hal yang enggak diajarin di fakultas ekonomi.”
Lalu kami diam. Diam yang tidak nyaman, tapi juga tidak sepenuhnya tidak nyaman. Diam seperti dua orang yang berdiri di pinggir kolam dan sama-sama tahu airnya dingin.
Aku menarik kursi plastik dari meja pantry dan duduk. Setelah ragu sebentar, ia ikut duduk di kursi di seberangku. Di antara kami ada meja pantry yang lengket dengan bekas gula, satu toples kerupuk yang tutupnya tidak rapat, dan dua gelas kopi sachet yang sudah dingin.
“Tadi,” kataku. “Di ruangan saya. Kamu tidak bertanya siapa yang saya tunggu.”
“Itu bukan urusan saya, Bu.”
“Saya mau kasih tahu kamu.”
Ia mengangkat wajah.
Aku menatap gelas kopi di depanku. Lebih mudah menatap gelas kopi daripada menatap wajahnya.
“Sebelum nikah sama Hendra,” kataku pelan, “saya nunggu seseorang. Bukan pacar. Bukan mantan. Seseorang yang saya temuin sebentar, beberapa minggu aja, dan saya... saya kasih dia kesempatan buat datang. Dengan cara yang jelas banget, menurut saya. Cara yang belum pernah saya pakai ke siapa pun.”
Aku memutar gelas kopi itu sedikit di atas meja.
“Dia enggak pernah datang. Saya nunggu tiga minggu. Lalu tiga bulan. Lalu saya berhenti ngaku kalau saya lagi nunggu. Lalu Hendra ngajak saya makan malam untuk ketiga belas kalinya, dan saya bilang iya.” Aku tersenyum sedikit, tanpa merasa ingin tersenyum. “Ternyata Hendra tahu. Selama ini dia tahu. Dia enggak pernah bertanya. Dia cuma nunggu saya selesai menunggu.”
Bima mendengarkan dengan seluruh badannya, seperti dulu di bangku paling depan. Tangannya diam di atas meja. Matanya tidak berkedip.
“Kenapa dia nggak datang, Bu?” tanyanya pelan.
“Saya enggak tahu.” Aku menatapnya. “Saya masih pengin tahu.”
Ia diam sebentar. Lalu ia mengatakan sesuatu dengan suara yang sangat tulus, sangat jujur, dengan telinga yang sama sekali tidak merah karena ia memang tidak sedang menyembunyikan apa pun.
“Semoga orang itu menyesal, Bu.”
Aku berhenti bernapas.
“Maaf, Bu,” lanjutnya, salah membaca diamku. “Saya nggak bermaksud kasar. Tapi kalau dia tahu Ibu nungguin dia, terus dia tetap nggak datang, dia orang yang bodoh banget. Dan kalau dia nggak tahu... ya dia orang yang sial banget.” Ia menatap gelas kopinya. “Saya cuma berharap, di mana pun dia sekarang, dia tahu apa yang dia lewatin. Dan dia menyesal setiap hari.”
Aku menatapnya.
Aku menatap laki-laki yang duduk di seberangku di pantry lantai tujuh, dengan noda kopi di ujung kemeja putihnya dan sapu tangan yang tidak ia minta kembali, dan yang baru saja mendoakan dirinya sendiri supaya menyesal setiap hari.
Ia tidak tahu.
Tuhan, ia benar-benar tidak tahu.
Ada sesuatu yang naik di tenggorokanku. Sesuatu yang separuh tawa, separuh tangis, separuh marah, dan aku tahu itu terlalu banyak separuh untuk satu tenggorokan. Aku membuka mulut. Kalimatnya sudah ada di sana, siap. Orang itu kamu, Bima. Kelas hari Kamis. Lembar tugas. Pulpen merah. Kalau mau diskusi.
“Bima,” kataku.
“Ya, Bu.”
“Orang itu—”
“KAKAAAAK!”
Suara itu datang dari lorong, keras, cempreng, dan bergema di lantai tujuh yang kosong seperti alarm kebakaran.
Aku menutup mata.
Pintu pantry terbuka lebar. Tasya berdiri di ambangnya dengan jaket denim, rok mini, sepatu kets putih, dan sebuah lampu cincin portabel yang menyala terang di satu tangan, seperti malaikat yang turun dari surga untuk merusak segalanya.
“Kak! Aku cari ke lantai delapan belas, Mbak Sarah bilang kamu di sini! Kita telat! Papa udah nunggu di restoran dari jam enam! Kamu lupa? Makan malam keluarga? Ulang tahun Papa?” Ia mengarahkan lampu cincin itu ke wajahku. “Ya ampun, Kak, kamu nggak pakai makeup? Kamu habis nangis? Kenapa matamu—”
Lalu ia melihat Bima.
Ia berhenti bicara.
Lampu cincin itu bergeser perlahan dari wajahku ke wajah Bima, seperti lampu sorot di panggung yang menemukan aktor utamanya.
Bima duduk membeku di kursi plastik, disinari lampu cincin dari jarak dua meter, dengan noda kopi di kemeja dan mata yang menyipit karena silau.
Tasya menarik napas sangat dalam.
“PANGERAN LEM SEPATU,” bisiknya.
“Tasya.”
“Kak. KAK. Ini dia. Ini dia beneran.” Ia melangkah masuk ke pantry dengan lampu cincin masih terarah ke wajah Bima. “Halo! Halo, Mas! Aku Tasya! Adiknya Kak Renata! Aku fans berat Mas! Aku udah liat stikernya! Yang lem sepatu! Yang kilau-kilau!”
Bima berdiri, otomatis, seperti orang yang diajari ibunya berdiri saat perempuan masuk ruangan. “Selamat malam, Mbak Tasya. Saya Bima.”
“Aku tahu Mas Bima! Satu Jakarta tahu Mas Bima!” Tasya menatapnya dari jarak satu meter, mendongak, karena Bima jauh lebih tinggi darinya. “Ya ampun. Mas tinggi banget. Mas olahraga apa? Bahunya. Kak, lihat bahunya.”
“Saya nggak olahraga, Mbak. Dulu cuma bantu ibu saya angkat karung tepung.”
“KARUNG TEPUNG.” Tasya menoleh ke arahku dengan mata berbinar seperti anak kecil yang menemukan anak kucing. “Kak. Dia angkat karung tepung. Buat ibunya. Kak, aku mau nangis.”
“Tasya, ayo pergi.”
“Tunggu, tunggu. Mas Bima, boleh aku rekam? Sebentar aja. Buat konten. ‘Aku Ketemu Pangeran Lem Sepatu di Pantry Kantor Kakakku’—”
“Tasya.”
“—atau nggak usah rekam deh, foto aja—”
“TASYA.”
Tasya mematikan lampu cincinnya. Pantry kembali diterangi lampu neon biasa, yang tiba-tiba terasa sangat redup.
Bima masih berdiri di sana, sedikit membungkuk, dengan wajah yang jelas tidak tahu harus berbuat apa. Ia menatapku. Ada pertanyaan di matanya. Orang itu apa, Bu?
Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Tidak dengan Tasya di sini, dengan lampu cincin dan kamera dan suara yang bisa terdengar sampai lantai sembilan. Tidak di pantry lantai tujuh dengan papan taruhan di dinding.
“Bukan apa-apa,” kataku. “Lain kali.”
Ia mengangguk perlahan. Ia tidak memaksa. Tentu saja ia tidak memaksa.
Aku berdiri. Aku menarik Tasya keluar dari pantry. Di ambang pintu, aku berhenti dan menoleh sekali lagi.
Bima masih berdiri di dekat meja, dengan gelas kopi dingin di tangan, menatapku.
“Air dingin,” kataku. “Buat nodanya.”
“Air dingin, Bu,” ulangnya.
Di mobil, Tasya tidak berhenti bicara sampai Jalan Thamrin.
“Kak, dia ganteng banget. Kak, dia sopan banget. Kak, dia berdiri waktu aku masuk. Siapa cowok umur dua puluh delapan yang masih berdiri waktu cewek masuk? Kak, kenapa kamu nggak bilang dia segede itu? Di stiker dia kelihatan kecil. Ternyata dia kayak lemari. Lemari yang sopan.”
Aku menatap jendela.
“Kak.” Tasya mencolek lenganku. “Kak, kamu tadi mau ngomong apa ke dia? Waktu aku masuk. Kamu bilang ‘orang itu’ terus aku teriak.”
Aku tidak menjawab.
“Kak?”
Pak Rahmat melirik kami dari kaca spion.
Aku menatap tanganku. Di pangkuanku, aku masih memegang sapu tangan kotak-kotak biru. Aku tidak sadar aku membawanya dari ruanganku, melewati lift, ke lantai tujuh, lalu kembali ke mobil. Sapu tangan itu masih sedikit lembap di satu sisi.
“Tasya,” kataku. “Kalau Kakak cerita sesuatu, kamu janji enggak bakal jadiin konten?”
Tasya langsung duduk tegak. Ia mengangkat tangan kanannya seperti orang bersumpah. “Demi tiga ratus ribu followers-ku.”
“Empat tahun lalu, Kakak ngajar di kampus di Depok. Empat minggu. Ada mahasiswa yang duduk di bangku paling depan.”
Tasya menatapku.
“Di hari terakhir, Kakak nulis nomor HP Kakak di lembar tugasnya. Kakak tulis, kalau mau diskusi.”
Mata Tasya membesar.
“Dia enggak pernah nelepon. Kakak nungguin. Terus Kakak nikah sama Hendra.”
Mulut Tasya terbuka perlahan.
“Malam itu, habis Kakak nulis nomor di tugasnya, dia nulis surat. Jam sebelas lewat empat puluh delapan. Dia kasih judul jangan dikirim.” Aku menatap sapu tangan di pangkuanku. “Dan hari ini, dia duduk di depan Kakak, dengerin Kakak cerita soal laki-laki yang enggak pernah datang, terus dia bilang, ‘Semoga orang itu menyesal, Bu.’”
Mobil hening.
Tasya menatapku dengan mulut terbuka dan mata yang membesar sampai hampir keluar dari kepalanya. Ia tidak bersuara selama tiga detik, empat detik, lima detik. Tasya tidak pernah diam selama lima detik dalam hidupnya.
Lalu ia menjerit.
Ia menjerit begitu keras sampai Pak Rahmat menginjak rem mendadak di tengah Jalan Thamrin dan mobil di belakang kami membunyikan klakson panjang.
“KAAAAAK!”
“Tasya, tenang.”
“DIA? DIA ORANGNYA? PANGERAN LEM SEPATU ITU ORANG YANG KAMU TUNGGU?”
“Tasya.”
“DAN DIA NGGAK TAHU?”
“Dia enggak tahu.”
“DIA NGEDOAIN DIRINYA SENDIRI BIAR MENYESAL?”
“Iya.”
Tasya menjatuhkan dirinya ke sandaran kursi, menutup wajah dengan dua tangan, dan menendang-nendangkan kakinya ke lantai mobil seperti anak kecil yang sedang tantrum. “Aku nggak kuat. Kak, aku nggak kuat. Ini lebih bagus dari drama Korea mana pun. Aku nggak kuat.”
Di depan, Pak Rahmat kembali menjalankan mobil dengan sangat pelan, dan aku melihat bahunya bergetar sedikit. Pak Rahmat sedang menahan tawa.
“Kak,” kata Tasya dari balik tangannya. “Kamu harus kasih tahu dia.”
“Kakak tahu.”
“Besok.”
“Kakak tahu, Tasya.”
“Kak.” Ia menurunkan tangannya dan menatapku dengan mata yang tiba-tiba basah. “Kamu nggak pakai ‘saya’ sejak tadi. Kamu sadar nggak?”
Aku tidak sadar.
Aku menatap jendela. Lampu-lampu Thamrin melintas seperti angka yang bergulir. Di pangkuanku, sapu tangan kotak-kotak biru itu sudah kering.
Besok aku akan bertanya kepadanya tentang kelas hari Kamis.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu reading
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong
- 36 Extra 1 — Pesawat Pertama
- 37 Extra 2 — Mas
- 38 Extra 3 — Kangen Tiga Jam
- 39 Extra 4 — Hujan di Uluwatu
- 40 Extra 5 — Sebelas Lantai