Chapter Twenty Six
Foto
POV: Renata
Senin pagi pukul enam lewat lima belas, Tasya meneleponku sebelum alarmku berbunyi.
“Kak. Jangan buka grup WhatsApp apa pun. Jangan buka Instagram. Jangan buka apa pun.”
Aku duduk di tempat tidur. Kamar masih gelap. Di luar jendela, langit Kebayoran Baru baru berwarna abu-abu kebiruan.
“Kenapa?”
“Kak, janji dulu.”
“Tasya.”
Hening di seberang. Lalu suara Tasya, yang tidak pernah takut kepada apa pun, terdengar kecil dan bergetar.
“Ada foto, Kak.”
Ada tiga foto.
Aku membukanya di tempat tidur, dengan selimut masih di pangkuan, di layar ponsel yang terlalu terang untuk pukul enam pagi. Tasya mengirimkannya setelah aku memaksanya. Ia mendapatkannya dari temannya di lantai sebelas, yang mendapatkannya dari grup WhatsApp karyawan Procurement, yang mendapatkannya dari sebuah akun anonim di forum internal perusahaan yang dibuat pukul dua pagi tadi.
Nama akunnya TransparansiWiraguna.
Foto pertama diambil dari jauh, dari balik pepohonan, dengan kualitas yang buruk karena gelap. Tapi tidak cukup buruk. Bungalo nomor enam di vila Lembang, dengan lampu teras yang menyala kuning. Seorang perempuan berjalan keluar dari pintunya, dengan selimut kotak-kotak merah di bahu dan rambut tergerai. Wajahnya setengah tertutup bayangan. Setengahnya tidak.
Foto kedua diambil beberapa detik kemudian. Perempuan yang sama di jalan setapak di antara pohon pinus. Di latar belakang, di balkon lantai dua bungalo nomor enam, seorang laki-laki berdiri dengan kaus oranye, menatap ke arah perempuan itu.
Foto ketiga bukan dari Lembang. Foto ketiga diambil dari kamera keamanan. Aku mengenali sudutnya: kamera di atas pintu lift eksekutif lobi gedung Wiraguna. Cap waktu di pojok kiri bawah: 02/12/2026 20:31. Pintu lift terbuka. Seorang perempuan dengan blazer abu-abu dan rambut setengah lepas dari pita hitam melangkah keluar. Di belakangnya, di dalam lift, seorang laki-laki tinggi berkacamata dengan rambut berantakan, menatap ke arah kamera dengan wajah orang yang tidak tahu ia sedang difoto.
Di bawah ketiga foto itu, akun anonim itu menulis:
Ini CFO kita. Janda Pak Hendra almarhum, yang baru tiga tahun meninggal. Dan ini staf AP bawahannya, yang umurnya empat tahun lebih muda, yang gajinya tidak sampai sepersepuluh gaji beliau. Offsite yang dibayar perusahaan. Lift yang dibayar perusahaan. Lembur yang dibayar perusahaan.
Kode Etik Pasal 7 berlaku untuk semua orang, atau hanya untuk karyawan yang tidak cantik?
Kita semua tahu apa yang dicari laki-laki muda dari janda kaya. Dan kita semua tahu kenapa CFO kita tiba-tiba sering lembur sampai malam.
Aku membaca tulisan itu sekali.
Lalu aku meletakkan ponsel di selimut, layar menghadap ke bawah, dan duduk di tempat tidur dalam kamar yang masih gelap, dan menatap dinding.
Aku tidak menangis. Aku sudah tiga belas tahun bekerja di dunia ini. Aku sudah mendengar semua yang bisa dikatakan orang tentang perempuan yang terlalu cepat naik. Tentang perempuan yang terlalu cantik untuk jabatannya. Tentang janda yang terlalu cepat tersenyum lagi. Aku sudah mendengar bawa sial di pengajian ulang tahun suamiku. Aku sudah mendengar pasti tidur dengan direktur di toilet perempuan lantai sebelas, enam tahun lalu, saat aku baru diangkat menjadi VP.
Semua itu tidak membuatku menangis.
Yang membuatku duduk diam di tempat tidur selama sepuluh menit adalah kalimat itu. Apa yang dicari laki-laki muda dari janda kaya.
Mereka tidak tahu apa yang dicari Bima. Mereka tidak tahu bahwa ia mencari takaran madu di tehku. Bahwa ia mencari lampu yang harus dimatikan supaya migrainku tidak kambuh. Bahwa ia mencari cara untuk memastikan hadiah terakhir almarhum suamiku sampai kepadaku.
Mereka tidak tahu, dan mereka tidak akan pernah tahu, dan sekarang dua ribu orang membaca bahwa ia mencari uangku.
Aku mengambil ponsel lagi dan membuka percakapan dengan Bima.
Pesan terakhirnya pukul sepuluh malam kemarin: Sudah sampai rumah? Tanya dulu: boleh aku bilang selamat tidur? Dan balasanku: Boleh. Dan balasannya: Selamat tidur, Renata. Lembang dingin. Rumahmu hangat. Tidur yang nyenyak.
Tidak ada pesan baru sejak itu.
Ia belum tahu. Atau ia sudah tahu dan sedang memutuskan sesuatu sendirian di kamar kosnya.
Aku mengetik: Kamu sudah lihat?
Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku menghapusnya.
Kalau ia belum lihat, aku tidak ingin menjadi orang yang memberitahunya. Kalau ia sudah lihat, ia akan memberitahuku sendiri. Kami punya kesepakatan. Mulai sekarang, tanya. Ia akan bertanya.
Aku memutuskan untuk menunggu.
Aku tidak menyadari, saat itu, bahwa aku baru saja melakukan hal yang sama persis dengan yang kubenci darinya: memutuskan sendiri apa yang terbaik untuknya, tanpa bertanya.
Pukul delapan, lantai delapan belas sunyi seperti pemakaman.
Sarah berdiri di depan lift saat aku keluar. Wajahnya datar, seperti biasa. Tapi ia memegang tablet dengan dua tangan, terlalu erat, dan di bawah matanya ada lingkaran gelap yang tidak ada hari Jumat.
“Selamat pagi, Bu.”
“Selamat pagi, Sarah.”
“Teh sudah di meja. Madu satu sendok.” Ia berjalan di sebelahku menyusuri koridor. Suaranya rendah. “Bu, forum internal sudah saya laporkan ke IT. Postingan itu sudah dihapus pukul tujuh lewat dua belas. Jordi yang menghapusnya. Dia juga sedang melacak siapa pembuat akunnya.”
“Terlambat.”
“Ya, Bu. Sudah tersebar ke semua grup.” Sarah berhenti di depan pintu ruanganku. “Dan Bu. Pukul tujuh lewat tiga puluh, sekretaris Pak Gunawan menelepon. Ibu diminta ke lantai dua puluh. Pukul sembilan. Bersama Bu Mega dari HR dan Pak Fauzan dari Compliance.”
Aku berhenti.
“Hanya itu?”
“Hanya itu, Bu. Tidak ada agenda.” Sarah menatapku. “Bu. Bima belum datang. Mas Yanto bilang dia biasanya datang jam tujuh kurang sepuluh. Hari ini belum.”
Aku membuka pintu ruanganku. Teh melati di meja, masih mengepul. Aku tidak meminumnya.
“Sarah,” kataku. “Kamu udah lihat fotonya?”
“Sudah, Bu.”
“Menurutmu?”
Sarah diam sebentar. Lalu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia mengatakan sesuatu yang bukan tentang jadwal, dengan suara yang tidak datar sama sekali.
“Menurut saya, Bu, orang yang mengambil foto itu tidak tahu apa yang ia lihat. Ia hanya melihat perempuan cantik keluar dari kamar laki-laki. Ia tidak melihat bahwa perempuan itu tertawa sampai menangis di balik tirai karena kaus kakinya ketahuan staf AP.” Jeda. “Dodi yang cerita, Bu. Dodi menceritakannya kepada saya Sabtu malam, di vila. Dia bilang itu hal paling lucu dan paling sedih yang pernah ia lihat.”
“Kenapa sedih?”
“Karena katanya, Bu, laki-laki itu tidak tahu harus berbuat apa dengan kebahagiaannya. Seperti orang yang tidak pernah diberi apa-apa, lalu tiba-tiba diberi sesuatu yang terlalu besar untuk dipegang.”
Ia keluar sebelum aku bisa menjawab.
Ruang rapat lantai dua puluh pada pukul sembilan pagi terasa lebih dingin dari biasanya.
Lukisan pendiri Wiraguna menatap ke bawah dari dinding. Lampu gantung kristal menyala. Meja mahoni oval yang biasanya diisi dua puluh direksi hanya diisi empat orang.
Om Gunawan di ujung meja, di bawah lukisan ayahnya, dengan kemeja putih tanpa dasi dan tasbih kayu cendana di pergelangan tangan.
Bu Mega dari HR di sisi kirinya, dengan map biru tebal dan kacamata yang terus ia betulkan.
Pak Fauzan dari Compliance di sisi kanannya, laki-laki empat puluhan yang selalu terlihat seperti baru saja menelan sesuatu yang asam.
Dan di sebelah Pak Fauzan, duduk agak menjauh dari meja dengan laptop di pangkuan, seorang laki-laki muda kurus berkacamata tebal yang tidak kukenal.
“Duduk, Renata,” kata Om Gunawan.
Aku duduk di kursi di seberang mereka. Bukan di kursi CFO, di sisi kanan Om Gunawan. Kursi itu sudah diduduki Pak Fauzan. Aku duduk di seberang meja, sendirian, menghadap empat orang, seperti terdakwa.
Om Gunawan tersenyum. Senyum kebapakan yang sama dengan yang ia pakai di depan direksi.
“Kamu terlihat cantik pagi ini, Renata,” katanya. “Seperti biasa. Tapi saya rasa kamu tahu bahwa kecantikanmu tidak akan menyelamatkanmu di ruangan ini.”
Bu Mega menunduk ke mapnya. Pak Fauzan menatap meja. Laki-laki muda berkacamata tebal menatap layar laptopnya.
“Langsung saja, Om,” kataku.
“Baik.” Om Gunawan mengangguk ke arah Pak Fauzan.
Pak Fauzan berdeham. Ia membuka map dan membaca dengan suara monoton, seperti membacakan pasal di persidangan.
“Kode Etik Wiraguna Group, Bab Dua, Pasal Tujuh, tentang Benturan Kepentingan. Ayat satu: Setiap insan Wiraguna wajib menghindari hubungan pribadi yang dapat menimbulkan benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugas. Ayat dua: Hubungan romantis atau hubungan pribadi yang setara antara atasan dan bawahan dalam satu garis pelaporan langsung maupun tidak langsung wajib dilaporkan kepada fungsi Compliance dalam waktu tujuh hari kerja. Ayat tiga: Pelanggaran atas ayat dua dapat dikenai sanksi sampai dengan pemutusan hubungan kerja.”
Ia menutup map.
“Bu Renata,” lanjutnya, tanpa menatapku. “Staf atas nama Bima Wicaksono berada dalam garis pelaporan tidak langsung Ibu, melalui Kepala Accounts Payable, Pak Darto Sugiharto. Berdasarkan bukti yang kami terima, terdapat indikasi kuat hubungan pribadi antara Ibu dan saudara Bima. Hubungan tersebut tidak dilaporkan kepada Compliance.”
“Bukti apa?”
Pak Fauzan melirik laki-laki muda berkacamata tebal. Laki-laki itu memutar laptopnya ke arahku.
Tiga foto yang sama. Dalam resolusi yang lebih tinggi. Ditambah sebelas foto lain yang tidak ada di forum internal. Foto aku dan Bima di meja AP lantai tujuh, makan dari satu kotak bekal dengan satu sendok. Foto aku keluar dari ruang kaca Pak Darto, dengan Bima di belakangku. Foto aku turun dari mobil di depan lobi pukul enam lewat lima belas pagi, hari Senin dua minggu lalu, tanpa kalung. Foto Bima masuk ke lift eksekutif pukul enam lewat empat puluh lima, hari yang sama. Foto Bima berdiri di depan pagar rumahku di Kebayoran Baru, dengan kantong belanjaan di dua tangan.
Rumahku.
Seseorang mengikutinya ke rumahku.
“Ini Riko,” kata Om Gunawan, menunjuk laki-laki muda berkacamata tebal. “Audit Internal. Dia yang menyusun dokumentasinya.”
Riko tidak menatapku.
“Kamu menguntit staf perusahaan ke rumah pribadi saya,” kataku kepadanya. Suaraku sangat tenang.
“Saya menjalankan tugas, Bu,” jawab Riko, masih tanpa menatapku. “Penugasan khusus dari Pak Gunawan. Investigasi dugaan pelanggaran kode etik.”
“Sejak kapan?”
Riko melirik Om Gunawan. Om Gunawan tersenyum.
“Sejak saya menerima laporan dari satpam malam,” kata Om Gunawan, “bahwa ada staf AP yang membuka lemari arsip lantai tujuh pukul sepuluh malam, menggunakan kunci cadangan yang disimpan di kaleng biskuit kepala divisinya. Pada malam yang sama ketika kamu, Renata, turun ke lantai tujuh dan tidak kembali ke ruanganmu sampai pukul satu pagi.”
Aku tidak bergerak.
“Saya bertanya-tanya,” lanjut Om Gunawan, memutar tasbih cendananya, satu butir demi satu butir, “apa yang dicari staf AP di lemari arsip pukul sepuluh malam. Dan apa yang dicari CFO di lantai tujuh pukul satu pagi.”
Ia tahu.
Ia tidak tahu semuanya. Tapi ia tahu cukup banyak. Ia tahu ada yang membuka arsip PT Sinar Karya Mandiri. Ia tahu aku terlibat. Dan ia tahu bahwa satu-satunya cara menghentikan seseorang yang sedang menggali adalah dengan menimbun lubangnya sebelum ia sampai ke dasar.
“Om,” kataku. “Apa yang Om mau?”
Om Gunawan meletakkan tasbihnya di atas meja mahoni. Ia mencondongkan badan sedikit. Senyumnya hilang.
“Saya ingin perusahaan ini tetap bersih, Renata,” katanya. “Dan saya ingin keponakan saya yang sudah meninggal tidak dipermalukan. Janda Hendra. Tiga tahun setelah pemakamannya. Dengan staf AP berumur dua puluh delapan tahun. Di offsite yang dibayar perusahaan. Kamu tahu apa yang akan dikatakan keluarga besar Wiraguna? Kamu tahu apa yang akan dikatakan Mama Lies?”
“Mama Lies suka Bima,” kataku.
Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang retak di wajah Om Gunawan. Lalu tertutup lagi.
“Mama Lies sedang berduka,” katanya. “Orang yang berduka tidak bisa menilai dengan jernih.”
Ia bersandar kembali ke kursinya.
“Ini pilihannya, Renata. Dan saya akan memberikannya kepadamu dengan sangat jelas, karena saya menghormatimu sebagai profesional.” Ia mengangkat satu jari. “Pertama. Kamu mengundurkan diri sebagai CFO. Alasan pribadi. Ingin fokus pada kehidupan keluarga, atau apa pun yang kamu suka. Kami akan memberikan pesangon yang layak, surat rekomendasi yang baik, dan foto-foto ini tidak akan pernah sampai ke dewan komisaris. Anak itu tetap bekerja. Tidak ada yang dipecat.”
Ia mengangkat jari kedua.
“Kedua. Kamu tetap di kursimu. Dan anak itu diberhentikan dengan tidak hormat. Bukan karena Pasal Tujuh. Karena pelanggaran akses arsip di luar jam kerja tanpa otorisasi, menggunakan kunci yang diambil tanpa izin dari meja atasannya. Itu pelanggaran berat. Riko sudah menyusun dokumentasinya.” Om Gunawan tersenyum lagi. “Dan dengan catatan pemecatan seperti itu, Renata, dia tidak akan pernah bekerja di bidang keuangan lagi. Di Jakarta, atau di mana pun. Saya akan memastikannya.”
Ruang rapat sangat sunyi. Lampu gantung kristal berdenting sedikit karena aliran udara dari AC. Lukisan pendiri Wiraguna menatap ke bawah dengan wajah yang tidak setuju dengan apa pun.
“Dan apa pun temuan yang mungkin dibuat anak itu di lemari arsip,” tambah Om Gunawan pelan, hampir lembut, “akan menjadi temuan dari karyawan yang dipecat karena pelanggaran berat, dan yang punya hubungan pribadi dengan CFO yang membawa temuan itu. Tidak ada yang akan percaya. Dewan komisaris akan menganggapnya balas dendam. Ibu Laksmi juga.”
Ia menyebut nama Ibu Laksmi.
Ia tahu aku sudah bertemu Ibu Laksmi.
“Kamu punya waktu sampai hari Jumat,” kata Om Gunawan. Ia mengambil tasbihnya lagi. “Pilih salah satu. Kalau hari Jumat kamu belum memilih, saya yang akan memilih. Dan saya akan memilih yang kedua.”
Ia berdiri. Bu Mega dan Pak Fauzan ikut berdiri. Riko menutup laptopnya.
Aku tetap duduk.
“Satu hal lagi, Renata,” kata Om Gunawan di ambang pintu. Ia tidak menoleh. “Jangan beri tahu anak itu. Kalau dia tahu, dia akan melakukan sesuatu yang bodoh. Laki-laki muda selalu begitu. Dan kalau dia melakukan sesuatu yang bodoh sebelum hari Jumat, saya tidak bisa menjamin pilihan pertama masih tersedia.”
Pintu tertutup.
Aku duduk sendirian di ruang rapat lantai dua puluh, di bawah lukisan kakek Hendra, di meja yang bisa menampung dua puluh orang, dan aku tidak bergerak untuk waktu yang lama.
Pukul sepuluh, aku kembali ke lantai delapan belas.
Sarah berdiri saat aku lewat. Ia membuka mulut. Aku menggeleng. Ia menutup mulutnya.
Aku masuk ke ruanganku dan menutup pintu. Aku duduk. Aku menatap teh melati yang sudah dingin.
Ponselku bergetar. Tasya. Aku mengabaikannya. Bergetar lagi. Tasya. Bergetar untuk ketiga kalinya.
Aku mengangkatnya.
“Kak! Kak, kamu di mana? Aku udah di lobi. Mas Yanto nggak ngebolehin aku naik. Katanya ada perintah dari lantai dua puluh, nggak ada tamu ke lantai delapan belas hari ini. Kak, aku mau bikin video. Aku mau bikin video yang nunjukin semua yang sebenernya terjadi. Tiga ratus ribu followers, Kak. Aku bisa bikin seluruh Indonesia tahu kalau Mas Bima itu—”
“Tasya. Jangan.”
“Kak—”
“Jangan bikin video. Jangan posting apa pun. Jangan sebut nama Bima di mana pun.” Suaraku keras. Lebih keras dari yang kumaksudkan. “Kamu cuma bikin semuanya makin buruk.”
Hening di seberang.
“Kak,” kata Tasya pelan. “Kamu nangis?”
“Kakak enggak nangis.”
“Kamu pakai ‘Kakak’ lagi. Kamu nggak pakai ‘saya’. Kamu nggak lagi marah. Kamu lagi takut.”
Aku menutup mata.
“Kak. Mas Bima udah tahu?”
“Belum.”
“Kamu mau kasih tahu dia?”
Aku menatap ponselku. Percakapan dengan Bima masih terbuka di layar. Selamat tidur, Renata. Lembang dingin. Rumahmu hangat. Tidak ada pesan baru sejak semalam. Dan Om Gunawan berdiri di ambang pintu ruang rapat lantai dua puluh dan berkata, jangan beri tahu anak itu.
Kalau aku memberitahunya, ia akan melakukan sesuatu. Om Gunawan benar tentang itu. Bima akan melakukan sesuatu. Ia akan memutuskan sendiri apa yang terbaik untukku, seperti empat tahun lalu, seperti dua minggu lalu, dan ia akan melakukannya dengan sangat rapi, dengan poin-poin, dan ia akan pergi sebelum aku sempat menghentikannya.
Kalau aku tidak memberitahunya, aku punya waktu sampai Jumat. Lima hari. Lima hari untuk mencari jalan ketiga. Lima hari untuk menemukan sesuatu dengan Ibu Laksmi, dengan Pak Haji Rasyid dari Legal, dengan siapa pun yang bisa membantu.
Lima hari untuk menyelesaikannya sendiri, supaya ia tidak perlu tahu.
“Kak?”
“Kakak belum mutusin,” kataku.
“Kak, kalian punya kesepakatan. Aku tahu. Mas Bima cerita ke aku lewat DM minggu lalu. ‘Mulai sekarang, tanya.’ Kak, kamu juga harus tanya. Kamu harus kasih tahu dia.”
“Tasya, Kakak tutup dulu, ya.”
“Kak—”
Aku menutup telepon.
Aku duduk di ruanganku, di lantai delapan belas, dengan pintu tertutup dan teh dingin di meja, dan aku menatap layar ponselku dengan nama Bima di bagian atasnya.
Aku bisa mengetik sekarang. Bima. Ada yang harus aku ceritakan. Tentang lantai dua puluh. Aku bisa mengetiknya dan mengirimnya, dan kami bisa duduk bersama dan memutuskan bersama, seperti yang sudah kami sepakati.
Aku mengetiknya.
Aku menatapnya.
Lalu aku memikirkan wajahnya. Wajahnya saat Om Gunawan menepuk bahunya di pengajian dan bilang lemari arsip banyak debunya. Wajahnya saat ia bilang saya bisa memberikan semua yang saya punya, itu tidak banyak, tapi itu semuanya. Wajahnya di balkon Lembang, di bawah bulan setengah, saat ia bilang kalau Dodi tidak datang, aku tidak tahu apakah aku akan bisa.
Dan aku memikirkan apa yang akan ia lakukan kalau ia tahu bahwa satu-satunya cara menyelamatkan kariernya adalah dengan aku kehilangan kursiku. Dan bahwa satu-satunya cara aku menyimpan kursiku adalah dengan ia kehilangan segalanya.
Ia akan memilih untukku. Ia selalu memilih untukku.
Aku tidak akan memberinya kesempatan untuk memilih.
Aku menatap pesan yang sudah kuketik. Lalu, dengan ibu jari yang terasa sangat berat, aku menekan tombol yang tidak pernah kusangka akan kutekan.
Simpan sebagai draf.
Di bagian atas layar, sebuah tulisan kecil berwarna abu-abu muncul.
Draf.
Aku meletakkan ponsel di meja, layar menghadap ke bawah, dan menatap jendela, ke arah gedung-gedung Sudirman yang berwarna abu-abu di bawah langit Desember yang mendung.
Lima hari.
Aku akan menyelesaikannya dalam lima hari. Aku akan menemukan jalan ketiga. Aku akan melindunginya, kali ini, dengan cara yang benar.
Aku tidak menyadari, saat itu, bahwa aku sedang melakukan hal yang sama persis dengan yang dilakukan Bima empat tahun lalu, di kamar kos di Depok, dengan pulpen merahku di tangannya.
Memutuskan sendirian apa yang terbaik untuk orang yang kucintai. Lalu menyimpannya di draf.
- 1 Terkirim ke Semua
- 2 Lantai 18
- 3 Kirim, Bim
- 4 Klaim Yatim
- 5 Kelas Hari Kamis
- 6 Telinga Merah
- 7 Satrio
- 8 Lembur
- 9 Cincin di Kalung
- 10 Taruhan Pantry
- 11 Bu Renata Kecewa
- 12 Satu Klaim Lagi
- 13 Yang Ia Tunggu
- 14 Nomor untuk Konsultasi
- 15 Pengajian 17 November
- 16 Restoran yang Dipesan
- 17 Jangan Lari
- 18 Ke Ruangan Saya
- 19 Pelajaran Pertama
- 20 Satrio Lagi
- 21 Lift Lantai 18
- 22 Dua Kali
- 23 Sop Ayam
- 24 Pesan Pertama
- 25 Offsite Lembang
- 26 Foto reading
- 27 Aturan Nomor 7
- 28 Surat Pengunduran Diri
- 29 Folder Draf
- 30 Purwokerto
- 31 Restu
- 32 Terkirim
- 33 Lamaran
- 34 Dua Detik
- 35 Epilog — Folder Draf, Kosong