Chapter Nine
Hujan Pertama
Gungnir: The First Arms
POV: Noel
Jumlah kata: 2.478
Kamis itu, dia bertanya.
Aku sudah menyiapkan jawabannya selama enam hari.
Itu terdengar berlebihan, dan memang berlebihan, tapi aku sudah menghabiskan tiga tahun membangun sebuah kehidupan yang bergantung pada satu keterampilan: mengucapkan kalimat sopan yang tidak berisi apa pun. Dan enam hari terakhir aku menghabiskan waktu memoles satu paragraf khusus—sesuatu tentang mekanisme resonansi pada Stray Arms, cukup teknis untuk terdengar masuk akal, cukup membosankan untuk menutup topik.
Aku bahkan melatihnya. Sekali. Di depan ketel.
Kapten Valen duduk di kursi rotan. Aku meletakkan cangkirnya. Dua sendok.
Dan dia berkata:
“Aku tidak akan bertanya.”
Aku berhenti dengan ketel setengah terangkat.
“...Maaf?”
“Aku sudah menyiapkan pertanyaannya,” katanya. Dia menatap cangkirnya, bukan aku. “Aku menyiapkannya selama enam hari. Aku bahkan menulisnya di kertas, yang mana memalukan, dan aku membakar kertasnya, yang mana lebih memalukan lagi.”
Aku meletakkan ketel.
“Kapten—”
“Kau akan berbohong.” Dia mengangkat wajahnya. “Bukan tuduhan. Kau akan berbohong dengan sopan, dan aku akan tahu kau berbohong, dan lalu ada sesuatu di antara kita yang tidak bisa dikembalikan ke tempatnya. Aku sudah memikirkan itu sampai jam dua pagi.”
Aku tidak mengatakan apa pun.
Ini bukan strategi. Aku benar-benar tidak punya apa pun untuk dikatakan.
“Jadi aku tidak akan bertanya,” lanjutnya. “Hari ini. Bukan selamanya—jangan salah paham, Ashford, aku akan bertanya suatu hari nanti dan kau akan menjawab dengan jujur atau aku akan sangat marah. Tapi tidak hari ini.”
Dia mengangkat cangkirnya dengan dua tangan.
“Hari ini aku cuma mau minum teh,” katanya. “Aku lelah sekali.”
Dan itu—entah bagaimana—jauh lebih sulit daripada seluruh interogasi yang sudah kusiapkan.
Aku duduk di seberangnya.
Kami minum teh selama empat puluh menit tanpa membicarakan Stray Arms, payung, atau kegagalan struktural internal. Kami membicarakan harga cengkeh, lagi. Kami membicarakan pagar belakangku yang belum kutinggikan. Dia bercerita tentang Dane yang mencoba menumbuhkan kumis dan gagal secara spektakuler.
Aku tertawa dua kali.
Aku menghitungnya, karena aku menyadari betapa jarangnya itu terjadi, dan karena aku menyadari bahwa kedua-duanya terjadi di ruangan yang sama dengan orang yang sama.
Waktu dia pergi, dia berhenti di ambang pintu, seperti biasa.
“Ashford.”
“Ya, Kapten.”
“Terima kasih,” katanya, “untuk hari itu.”
Dan dia pergi sebelum aku sempat memutuskan bohong yang mana yang harus kupakai.
Hujan itu datang hari Minggu, dan datang salah.
Hujan di Hollowbrook selalu pukul empat sampai pukul lima. Aku sudah tiga tahun mengatur hidupku berdasarkan itu.
Hari Minggu itu, hujan mulai pukul satu siang dan tidak berhenti.
Pukul tiga, selokan Jalan Lorne meluap. Pukul empat, aku menutup toko lebih awal karena air sudah masuk lewat bawah pintu. Pukul lima, langit di atas kota warnanya seperti memar.
Pukul setengah enam, lonceng gereja berbunyi tiga kali cepat.
Tanda bahaya.
Aku meraih payungku sebelum bunyi ketiga selesai.
Yang keluar kali ini bukan dari saluran air.
Yang keluar kali ini dari tanah itu sendiri—dari lapangan basah di sisi barat kota, tempat pemakaman lama berbatasan dengan hutan pinus. Tanah di sana sudah jenuh air selama empat jam, dan sesuatu di bawahnya memanfaatkan itu untuk naik.
Aku sampai ke sana dalam empat menit, dan yang kulihat pertama adalah anak-anak.
Sekolah kota ada di sisi barat. Hari Minggu ada kelas tambahan. Ada dua belas anak, satu guru, dan tiga puluh meter tanah terbuka antara mereka dan pintu gereja.
Dan di antara keduanya, tiga Rare Stray.
Berbeda dari Bellmaw. Yang ini lebih kecil—setinggi manusia—dan berbentuk seperti sesuatu yang dulunya sabit. Tubuhnya melengkung, berjalan dengan dua tungkai tipis, dan setiap gerakannya menghasilkan bunyi desis logam yang membuat gigiku ngilu.
Mereka bergerak cepat di tanah basah. Lebih cepat dari manusia.
Dan Kapten Mira Valen berdiri sendirian di tengah tiga puluh meter itu.
Cuma dia. Garnisunnya masih di gerbang utara—tiga menit jauhnya, mungkin empat di lumpur ini. Dia pasti yang terdekat waktu lonceng berbunyi. Dia pasti langsung lari.
Aku berhenti di tepi lapangan.
Perhitungannya kulakukan dalam waktu kurang dari sedetik, dan aku ingin mencatat setiap bagiannya dengan jujur.
Dua belas anak. Tiga puluh meter. Satu guru yang panik. Tiga Rare Stray. Satu kapten dengan Common rank di tanah yang membuat pijakan tidak bisa dipercaya.
Dan tiga puluh pasang mata yang akan melihat apa pun yang kulakukan.
Aku mulai berjalan.
Bukan berlari. Berjalan—karena berlari akan menarik perhatian, dan karena aku masih, bahkan saat itu, mencoba menghitung berapa banyak dari diriku yang boleh kutunjukkan.
Aku benci bagian ini setiap kali aku mengingatnya.
Dia menahan mereka selama seratus detik.
Aku menghitungnya, karena aku menghitung segalanya, dan karena angka itu tidak masuk akal.
Ferrum bergerak dalam pola yang jelas sekali begitu kau melihatnya cukup lama: dia tidak mencoba menang. Dia tidak sekali pun mencoba membunuh salah satu dari tiga makhluk itu. Setiap ayunannya punya satu tujuan—mengubah arah. Dorong yang kiri ke kiri lagi. Pukul kaki yang kanan supaya tergelincir. Berdiri di jalur ketiga sampai makhluk itu memutuskan mencari jalan yang lebih mudah.
Dia sedang menggembala.
Menggiring tiga Rare Stray menjauh dari garis lurus ke arah dua belas anak, satu langkah demi satu langkah, dengan sebilah pedang kelabu dan tubuh yang berat lima puluh kilo lebih ringan dari benda-benda yang dia dorong.
Guru sekolah itu berhasil membawa anak-anaknya ke pintu gereja pada detik kesembilan puluh.
Pada detik kesembilan puluh dua, Kapten Valen berhenti menggembala dan mulai bertahan.
Pada detik kesembilan puluh delapan, kakinya tergelincir di lumpur.
Cuma sedikit. Setengah telapak.
Sabit pertama masuk lewat celah itu.
Aku sudah dua puluh meter lebih dekat waktu itu terjadi, dan aku masih berjalan, dan itu adalah dua puluh meter paling lambat dalam hidupku.
Aku melihat bilah itu masuk.
Bukan ke dada—dia memutar tubuh, dia bagus, dia memutar tubuh bahkan sambil tergelincir. Bilah itu masuk di bawah tulang selangka kiri, menembus sela pelat armor, dan keluar lagi waktu makhluk itu menarik tangannya.
Darah keluar bersama air hujan dan aku bisa melihat warnanya dari dua puluh meter.
Dia tidak jatuh.
Dia melangkah maju, menghantamkan pommel Ferrum ke wajah makhluk itu, dan mengambil posisi lagi dengan lengan kiri yang sudah tidak bisa mengangkat perisai.
Sesuatu terjadi di dalam kepalaku.
Aku sudah tiga tahun menjaganya. Semacam pintu—bukan kiasan, aku benar-benar membayangkannya sebagai pintu, karena itu cara termudah untuk menyimpan sesuatu yang tidak boleh keluar.
Pintu itu tidak terbuka. Pintu itu tidak ada lagi.
Aku tidak ingat memutuskan berlari.
[ Fangs ]
Delapan batang lepas dari payungku sebelum aku sempat mengangkatnya, dan mereka tidak menunggu perintah karena tidak ada perintah yang perlu diberikan—benda itu sudah tahu, benda itu selalu tahu, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun aku tidak menahannya sama sekali.
Fang pertama dan kedua melewati kepalaku dengan bunyi yang membelah hujan.
Sabit yang menikamnya terbelah di titik sendi lengan dan sendi leher secara bersamaan, dan runtuh sebelum sempat berbalik.
Yang kedua berbalik ke arahku.
Fang ketiga, keempat, kelima. Titik. Titik. Titik. Tiga sendi, tiga per sepuluh detik, dan makhluk itu berhamburan ke lumpur seperti mainan yang bautnya dilepas.
Yang ketiga mencoba lari.
Ini yang harus kucatat, karena aku memikirkannya berhari-hari setelahnya:
Dia mencoba lari, dan aku tidak membiarkannya.
Aku tidak butuh membunuhnya. Aku bisa membiarkannya masuk kembali ke tanah. Itu yang benar—Stray yang mundur adalah Stray yang tidak lagi berbahaya, dan aku tahu itu, dan aku tetap mengirim tiga Fang ke belakangnya dan membongkarnya sampai ke potongan terakhir di tengah lapangan yang basah.
Lalu delapan batang itu kembali ke kanopiku, klik-klik-klik, dan aku sudah berlutut di lumpur di samping seorang kapten garnisun yang berlutut memegangi bahunya.
“Ashford—”
“Diam.”
Suaraku keluar salah.
Aku bisa mendengarnya sendiri, dan aku ingin menariknya kembali, dan aku tidak bisa.
“Angkat tanganmu. Bukan yang kiri. Kanan.” Aku sudah membuka gesper armornya. Jariku tidak bekerja dengan benar. Aku sudah tiga puluh tahun punya tangan yang bisa melepas sambungan Noble rank di bawah tekanan dan hari itu aku butuh tiga percobaan untuk membuka satu gesper kulit. “Berapa dalam. Kau merasakan tulang?”
“Aku baik-baik—”
“Berapa dalam.”
Dia berhenti bicara.
Aku mengangkat wajahku dan menyadari bahwa aku baru saja meninggikan suara untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, di depan dua puluh orang yang sudah berdatangan dari arah gerbang, di tengah lapangan terbuka, sambil berlutut di lumpur.
Wajahnya basah oleh hujan. Matanya sangat lebar.
“...Tidak sampai tulang,” katanya pelan. “Aku bisa menggerakkan jariku. Lihat.”
Dia menggerakkan jari-jari tangan kirinya.
Sesuatu di dadaku melepaskan cengkeramannya, sedikit.
“Baik,” kataku. “Baik. Jangan berdiri.”
“Aku bisa berdiri.”
“Aku tahu kau bisa berdiri. Jangan.”
Aku melepas mantelku dan menekannya ke bahunya, dan dia meringis, dan aku merasakan itu di tempat yang seharusnya tidak terasa apa-apa.
Di belakang kami, Dane dan Ilva dan enam knight lain berdatangan, sepatu mereka mengecipak. Aku mendengar seseorang bertanya apa yang terjadi pada Stray-nya. Aku mendengar Ilva berkata, dengan suara yang sangat pelan dan sangat aneh, “...tersusun. Kenapa mereka tersusun.”
Aku tidak menoleh.
“Kapten,” kataku.
“Ya.”
“Kau berdiri sendirian di depan tiga Rare Stray.”
“Anak-anaknya di belakangku.”
“Aku tahu.” Aku menekan mantel itu lebih kuat. “Aku tahu, dan aku tidak bisa membantahnya, dan itu membuatku sangat marah.”
Dia menatapku.
Hujan turun di antara kami. Rambutnya lepas dari ikatan dan menempel di pipinya, dan ada lumpur di dagunya, dan wajahnya pucat karena darah yang keluar.
“Kau marah?” tanyanya.
Dan yang lucu adalah aku bahkan tidak yakin. Aku sudah lima tahun tidak merasakan apa pun dengan cukup tajam untuk diberi nama.
“Aku tidak tahu apa ini,” kataku jujur. “Tapi aku tidak menyukainya.”
Sesuatu bergerak di wajahnya. Aku terlalu sibuk untuk membacanya.
Aku menyelipkan lenganku di bawah lututnya dan di belakang punggungnya.
“Ashford—!”
“Kau kehilangan darah, hujannya belum berhenti, dan barak ada di seberang kota.” Aku berdiri. Dia lebih ringan dari yang seharusnya untuk seseorang yang bisa mengayunkan greatsword dua puluh kilo. “Tokoku empat menit dari sini. Bibi Marta lima menit dari tokoku.”
“Aku bisa jalan.”
“Kapten.” Aku sudah mulai berjalan. “Tolong.”
Dan entah karena kata terakhir itu, atau karena dia benar-benar kehabisan tenaga, dia berhenti membantah.
Aku merasakan kepalanya menyerah dan bersandar di bahuku, dan aku terus berjalan, dan aku sangat berterima kasih pada hujan karena tidak ada satu orang pun di lapangan itu yang bisa melihat wajahku.
Delapan knight berdiri di lapangan yang basah itu.
Aku tahu apa yang mereka lihat.
Tiga Rare Stray, terbongkar. Bukan hancur—terbongkar. Setiap sendi terpisah dari sendinya, setiap bagian tergeletak di lumpur, dan pada tiga tempat berbeda, potongan-potongan itu jatuh dalam susunan yang terlalu rapi untuk kebetulan.
Dan seorang tukang reparasi berjalan menjauh membawa kapten mereka.
Aku sudah melewati garis. Aku tahu persis kapan itu terjadi—detik kesembilan puluh delapan, waktu bilah itu masuk di bawah tulang selangkanya.
Dan berjalan pulang di bawah hujan yang seharusnya sudah berhenti dua jam lalu, dengan seseorang yang bernapas pelan di bahuku, aku menemukan sesuatu yang membuatku takut jauh lebih daripada surat dari ibu kota:
Aku tidak menyesalinya.
Sama sekali.
Payungku terlipat di bawah ketiakku, tidak terbuka, karena kedua tanganku sedang dipakai.
Kami berdua basah kuyup sepanjang jalan pulang.