← Chapters Ch. 13 / 40

Chapter Thirteen

Tempat yang Tidak Basah

Gungnir: The First Arms

POV: Mira

Jumlah kata: 2.596


Lonceng gereja berbunyi tiga kali pukul empat sore, dan hujan turun tepat waktu seperti biasa, dan itu satu-satunya hal yang normal sepanjang sisa hari itu.

Aku sedang di halaman barak.

Aku sudah memakai armor lengkap sejak pagi—aku belum melepasnya selama tiga hari, sebenarnya, tidur pun dengan pelat dada masih terpasang—dan aku sudah berdiri sebelum bunyi kedua selesai.

“FORMASI EMPAT! SEMUANYA! SEKARANG!”

Tiga puluh knight bergerak.

Kami sudah melatih ini dua minggu. Formasi Empat: bukan garis, bukan setengah lingkaran. Dua sayap panjang yang bisa membuka dan menutup, dirancang untuk satu tujuan—bukan menahan, tapi menggiring. Kalau sesuatu yang seukuran rumah datang, kau tidak menghentikannya. Kau membuatnya berjalan ke arah yang tidak ada orangnya.

“Dane! Bawa sayap kanan ke Jalan Pasar, kunci semua mulut gang!”

“Siap!”

“Ilva! Evakuasi distrik barat, gereja dan balai kota, JANGAN alun-alun—”

“Kapten, di mana Stray-nya?”

Aku berhenti.

Karena itu pertanyaan yang bagus, dan karena aku baru menyadari bahwa aku sudah memberi lima perintah tanpa tahu jawabannya.

Lonceng berbunyi lagi. Bukan tiga kali.

Terus-menerus.

Dan lalu tanah bergerak.


Yang keluar dari tanah di sisi utara alun-alun bukan sesuatu yang muncul dari lubang.

Yang keluar membuat lubangnya.

Batu jalan pecah dari bawah dalam garis sepanjang empat puluh meter, terangkat dan berhamburan seperti kulit yang sobek, dan dari dalamnya naik—

Aku tidak punya kata yang benar untuk ini. Aku sudah mencoba menulisnya di laporan tiga kali dan setiap kali kalimatnya salah.

Naga.

Bukan naga sungguhan. Naga tidak ada. Tapi otakku memberikan kata itu dalam sepersekian detik pertama karena bentuknya panjang dan bersegmen dan bergerak seperti ular yang punya bahu.

Lalu aku melihatnya dengan jelas dan itu lebih buruk.

Ia terbuat dari tombak.

Ratusan. Mungkin ribuan. Tombak, lembing, galah berujung besi—semuanya melebur jadi satu tubuh sepanjang dua puluh meter yang bergerak dengan cara benda-benda tajam bergerak: setiap bagian tubuhnya berputar sedikit, terus-menerus, sehingga permukaannya berkilau dan berdesing dan tidak pernah diam.

Kepalanya bukan kepala. Itu kumpulan ujung tombak yang menyatu jadi kerucut, dan di dalamnya, di celah antara batang-batang besi, ada cahaya kuning kusam yang bergerak-gerak.

Noble Stray.

Aku pernah membaca laporan kematian ayahku. Aku hafal setiap kalimatnya.

Yang membunuh ayahku tingginya tiga meter.

Yang ini dua puluh.

“...Kapten?”

Suara Dane, di sebelahku. Sangat kecil.

Aku menarik napas.

“FORMASI EMPAT!” Suaraku keluar—entah bagaimana, suaraku keluar penuh. “SAYAP KIRI KE JALAN PASAR! SAYAP KANAN KE JEMBATAN! ILVA, EVAKUASI SEKARANG, MULAI DARI SEKOLAH!”

“Kapten, dua puluh meter—”

“AKU BISA MENGHITUNG, DANE. BERGERAK.”

Mereka bergerak.

Tuhan tolong mereka, mereka bergerak.


Kami menahannya selama enam menit.

Aku ingin mencatat itu dengan bangga, karena tiga puluh orang dengan senjata Common dan Rare menggiring Noble Stray selama enam menit adalah sesuatu yang seharusnya ditulis di plakat.

Formasi Empat bekerja. Sungguh bekerja. Sayap kiri membuka, benda itu mengikuti gerakan, sayap kanan menutup di belakangnya dan mendorongnya dua puluh meter ke barat menjauh dari deretan rumah.

Kami menggiringnya seperti kami menggiring badai.

Pada menit keempat, kami sudah membawanya sampai ke tepi alun-alun tempat tidak ada bangunan tinggal.

Pada menit kelima, ia berhenti mengikuti.

Aku melihatnya sadar. Itu bagian yang tidak akan pernah kulupakan—cahaya kuning di dalam kepalanya berhenti bergerak, dan seluruh tubuh sepanjang dua puluh meter itu diam untuk pertama kalinya, dan aku merasakan sesuatu yang sangat tua memperhatikan kami.

Lalu ia berbalik ke arah sayap kiri.

Ke arah Dane dan sebelas orang.

Dan berdiri di antara mereka cuma jarak sepuluh meter dan tidak ada apa pun.


Aku sudah berlari sebelum aku memutuskan berlari.

Ini bukan keberanian. Aku ingin sangat jelas tentang itu, karena orang-orang akan menulis hal-hal setelahnya dan aku ingin setidaknya satu catatan yang jujur.

Ini aritmatika.

Sebelas orang di sayap kiri. Sepuluh meter. Kalau aku masuk ke jalur itu, aku bisa membeli mereka tiga detik. Tiga detik cukup untuk mundur ke mulut Jalan Pasar, dan mulut Jalan Pasar cukup sempit sehingga benda sepanjang dua puluh meter harus melambat untuk masuk.

Tiga detik. Sebelas orang.

Ayahku pasti menghitung hal yang sama di lereng utara delapan tahun lalu.

Aku berdiri di jalur itu dan mengangkat Ferrum dengan dua tangan dan menanam kakiku di batu jalan yang basah.

Dan aku berpikir, dengan sangat jernih:

Oh. Jadi begini rasanya.

Kepala kerucut itu turun.

Dua puluh meter tombak berputar menuju satu titik dan titik itu adalah aku, dan angin yang didorongnya sampai lebih dulu, dan aku menutup mataku—

—dan hujan berhenti.


Aku ingin menjelaskan urutan sensasinya dengan benar.

Yang pertama bukan penglihatan. Yang pertama adalah suara yang hilang: derasnya hujan yang sudah empat jam jadi latar dunia, mati seketika di atas kepalaku, seperti seseorang meletakkan tangan di atas telinga.

Yang kedua adalah kering. Air di wajahku berhenti bertambah. Rambutku yang basah tetap basah, tapi tidak ada lagi yang turun.

Yang ketiga adalah bau. Kayu tua dan minyak dan sedikit teh.

Aku membuka mata.

Hitam.

Kanopi hitam terbentang di atasku, dua meter, dengan delapan jari-jari memancar dari titik tengah. Dekat sekali—kalau aku mengangkat tangan aku bisa menyentuhnya.

Dan berdiri di sebelahku, satu langkah di depan, dengan tangan kanan memegang gagangnya dan tangan kiri di dalam saku mantelnya seperti orang yang sedang menunggu kereta—

“Maaf terlambat,” kata Noel Ashford. “Aku di seberang kota.”

Dan dua puluh meter tombak menghantam payung itu.


Aku pikir aku akan mati.

Aku pikir kami berdua akan mati, dan aku ingat merasa marah tentang itu—marah bahwa dia datang, marah bahwa dia berdiri di sini, marah bahwa aku akan melihatnya hancur bersamaku karena dia terlalu bodoh untuk lari seperti orang waras.

Suara benturannya seperti dunia berhenti.

Bukan ledakan. Bukan dentang.

Diam.

Sebuah keheningan yang menghantam telingaku lebih keras daripada suara apa pun. Seluruh alun-alun—hujan, teriakan, derak batu—semuanya ada di luar, dan di dalam dua meter ini tidak ada apa-apa sama sekali.

Tanah di sekelilingku pecah. Aku bisa melihatnya: batu jalan meledak keluar dalam lingkaran sempurna dengan radius dua meter dari tempat kami berdiri, tanah terkelupas, air terlempar ke segala arah dalam gelombang setinggi rumah.

Di dalam lingkaran itu, tidak ada satu batu pun yang bergeser.

Aku berdiri di atas tanah kering di tengah kota yang meledak.

Dan lelaki di sebelahku tidak bergerak sama sekali.

Tangannya. Aku menatap tangannya karena aku tidak bisa menatap yang lain—jari-jarinya di gagang kayu, longgar, tidak menggenggam erat. Pergelangannya lurus. Bahunya tidak turun satu milimeter.

Dua puluh meter Noble Stray dengan seluruh massanya menghantam sehelai kain, dan lelaki yang memegangnya berdiri seperti orang yang sedang memayungi dirinya dari gerimis.

Benda itu terpelanting mundur.

Bukan dipukul. Terpelanting—seolah ia sendiri yang membuat kesalahan hitung, seolah ia menabrak sesuatu yang tidak seharusnya ada dan hukum yang mengatur tabrakan mendadak berpihak pada yang lain.

Ia menghantam tanah dua puluh meter dari kami, dan seluruh alun-alun berguncang.

Dan aku, yang seharusnya kapten, yang seharusnya berteriak memberi perintah, cuma bisa berkata:

“...Apa.”


“Kapten Valen.”

Aku menoleh.

Dia sedang menatap Stray itu, bukan aku. Wajahnya tenang dengan cara yang membuat perutku dingin—bukan tenang karena tidak takut. Tenang seperti permukaan air yang dalamnya tidak bisa kau lihat.

“Berapa orang yang belum keluar dari distrik barat?” tanyanya.

Aku membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi.

“...Sekolah sudah kosong. Balai kota belum. Mungkin empat puluh orang.”

“Waktu yang dibutuhkan?”

“Empat menit. Lima.”

“Baik.” Dia mengangguk sekali. “Suruh mereka semua ke gereja. Semua orang, semua knight-mu, semuanya. Lalu kau ikut masuk dan tutup pintunya.”

“Aku tidak akan—”

“Kapten.” Dia menoleh padaku.

Dan aku berhenti bicara, karena mata itu bukan mata seorang tukang reparasi.

“Aku minta tolong,” katanya. Pelan. Sopan. Persis seperti setiap Kamis selama tiga tahun. “Tolong bawa mereka ke gereja. Aku tidak bisa melakukan yang perlu kulakukan kalau aku juga harus menghitung di mana semua orang berdiri.”

Menghitung.

Aku menatapnya.

“Kau akan menghadapinya sendirian.”

“Iya.”

“Itu Noble Stray.”

“Iya.”

“Kau tukang reparasi Artifact.”

Dan Noel Ashford—yang belum pernah meninggikan suaranya dalam tiga tahun kecuali sekali, di lapangan barat, saat bilah masuk di bawah tulang selangkaku—tersenyum sedikit.

“Iya,” katanya. “Aku memperbaiki barang rusak.”

Ia bangkit di belakangnya. Dua puluh meter besi berputar naik dari lubang di batu jalan.

“Pergi, Mira,” katanya.

Dan itu pertama kalinya dia memanggil namaku.

Aku pergi.


Aku membawa empat puluh tiga warga dan tiga puluh knight ke gereja dalam empat menit dua puluh detik, dan aku tidak ingat satu pun detiknya.

Yang kuingat adalah pintu gereja, dan tangan Dane menarikku masuk, dan Ilva berteriak agar seseorang menutup daun jendela.

Dan aku berkata: “Tidak.”

“Kapten—”

“Buka jendelanya,” kataku. “Yang menghadap alun-alun. Buka.”

“Kapten, kalau benda itu—”

Buka jendelanya, Ilva.

Dia membukanya.

Dan empat puluh tiga warga dan tiga puluh knight dan satu kapten garnisun berdiri berdesakan di jendela utara gereja Hollowbrook, dan menonton.


Hujan turun deras di alun-alun.

Di tengahnya berdiri seorang lelaki dengan payung terbuka, dan di sekelilingnya, dalam radius dua meter, tanahnya kering.

Noble Stray itu menyerangnya sebelas kali.

Aku menghitung. Aku selalu menghitung, itu penyakitku.

Sebelas kali, dua puluh meter besi menghantam satu titik di alun-alun, dan sebelas kali seluruh dunia meledak keluar dalam lingkaran sempurna, dan sebelas kali lelaki itu masih berdiri di sana ketika debunya turun.

Ia tidak pernah bergerak dari tempatnya.

Itu yang membuat orang-orang di sekitarku mulai berbisik. Bukan kekuatannya. Bahwa dia tidak bergerak—tidak menghindar, tidak mundur, tidak sekali pun memindahkan kakinya dari titik itu.

Pada serangan kedua belas, dia menutup payungnya.

Klik.

Aku mendengarnya. Dari dua ratus meter, lewat hujan, lewat teriakan—aku bersumpah aku mendengarnya, dan aku tahu itu tidak mungkin, dan aku tetap mendengarnya.

Dan delapan jari-jari payung itu lepas.

Delapan batang logam mengambang naik di sekelilingnya, menyebar dalam pola melingkar, ujungnya menajam.

Seseorang di sebelahku berkata, “Apa itu—

Lalu mereka melesat.

Aku pernah melihatnya membongkar tiga Rare Stray di lapangan barat. Aku pikir aku sudah tahu.

Aku tidak tahu apa-apa.

Delapan batang itu tidak menyerang tubuh benda itu. Mereka masuk ke dalamnya—ke celah-celah antara ribuan tombak yang membentuk tubuhnya—dan mereka bergerak seperti jari-jari tangan yang mencari sesuatu di dalam kotak gelap.

Dan benda itu mulai terurai.

Dari ekor. Satu tombak lepas, lalu tiga, lalu dua puluh. Mereka tidak hancur—mereka terlepas, jatuh ke batu jalan satu per satu dengan bunyi berdenting yang bertumpuk sampai jadi suara seperti hujan logam.

Dua puluh meter jadi lima belas. Lima belas jadi sepuluh.

Cahaya kuning di kepalanya berkedip-kedip panik.

Ia menyerang sekali lagi—terakhir kali, sekuat tenaga, seluruh sisa massanya.

Dan lelaki itu, tanpa berbalik, mengangkat payung terlipat di tangan kanannya dan mengarahkan ujungnya ke titik di dalam kerucut kepala itu.

Sesuatu tersentuh.

Cahaya kuning itu padam.

Sisa tubuhnya runtuh ke batu jalan dan berhamburan ke seluruh alun-alun, dan bunyinya berlangsung selama hampir sepuluh detik.

Lalu tidak ada apa-apa selain hujan.


Empat puluh tiga warga dan tiga puluh knight berdiri di jendela gereja tanpa mengeluarkan satu suara pun.

Di luar, di tengah alun-alun yang penuh besi, seorang lelaki berdiri sendirian.

Dia membuka payungnya lagi—pelan, seperti orang yang membuka payung karena memang hujan—dan mulai berjalan.

Bukan ke arah gereja.

Ke arah timur. Ke Jalan Lorne. Ke tokonya.

Dan sepanjang dua ratus meter itu, aku melihat hal yang akan kubawa sampai mati:

Hujan turun ke seluruh kota Hollowbrook malam itu. Ke atap gereja, ke batu alun-alun, ke besi yang berserakan.

Dan di sepanjang jalan yang dia lewati, di bawah dan di sekelilingnya, ada satu jalur kering yang bergerak bersamanya—melintasi alun-alun, membelok di sudut, menyusuri Jalan Lorne, mengecil, sampai berhenti di depan sebuah pintu toko.

Pintu itu terbuka. Menutup.

Dan jalur kering itu perlahan-lahan basah lagi, dari ujung yang paling jauh, sampai tidak ada lagi bukti bahwa ia pernah ada.

“Kapten,” bisik Ilva. “Apa yang barusan—”

Aku tidak menjawab.

Aku berdiri di jendela gereja dengan tangan mencengkeram kusen kayu dan seluruh tubuh gemetar, dan yang keluar dari mulutku bukan perintah, bukan penjelasan, bukan satu pun hal yang seharusnya dikatakan seorang Knight-Captain.

Yang keluar cuma satu kata, sangat pelan, dan aku bahkan tidak sadar mengucapkannya sampai Dane menoleh padaku dengan wajah bingung:

“...Indah.”


Jauh di bawah kota, tanah bergetar.

Bukan lima detik. Bukan sembilan. Bukan empat belas.

Empat puluh satu detik, dan setiap orang di gereja itu merasakannya sampai ke tulang, dan lampu-lampu gantung berayun, dan debu jatuh dari langit-langit.

Dan di dalam getaran itu—aku bersumpah, dan aku tidak akan pernah menuliskannya di laporan mana pun—

ada sesuatu yang terdengar seperti napas.