← Chapters Ch. 14 / 40

Chapter Fourteen

Rainmaker

Gungnir: The First Arms

POV: Noel

Jumlah kata: 2.518


Aku menunggu selama dua hari.

Itu perhitungan yang kubuat sambil berjalan pulang di bawah hujan dengan tangan yang belum berhenti gemetar: dua hari sampai seseorang mengetuk pintuku dengan surat resmi, atau tiga puluh knight, atau utusan dari ibu kota.

Hari pertama, tidak ada yang datang.

Hari kedua, Bu Hensley datang membawa dua pisau dapur dan mengomel tentang harga garam selama dua belas menit.

Hari ketiga, Garrik datang mengantar dua kantong arang dan tidak bertanya apa pun.

Hari keempat, aku mulai curiga.

Aku keluar sore itu untuk pertama kalinya sejak malam Wyrmfang. Berjalan ke pasar. Membeli gula dan roti dan sekaleng minyak yang tidak kubutuhkan.

Dan orang-orang menyapaku.

Bukan menghindar. Bukan menatap. Menyapa—dengan cara yang persis sama seperti empat hari sebelumnya, tidak lebih hangat dan tidak lebih dingin, dan itu jauh lebih membingungkan daripada ketakutan.

“Sore, Tuan Ashford.”

“Sore, Bu.”

“Gulanya naik dua tembaga. Perang harga di jalur pegunungan.”

“Perampokan namanya.”

“Itu yang kubilang!”

Aku berdiri di lapak itu dengan sekantong gula di tangan, dan di seberang jalan, empat orang sedang membersihkan alun-alun. Mereka mengangkut besi. Ribuan potong tombak dari sesuatu yang empat malam lalu setinggi rumah dan hampir membunuh sebelas knight.

Mereka mengangkutnya seperti orang mengangkut puing setelah badai.

Salah satu dari mereka mengangkat tangan padaku. Aku mengangkat tangan balik.

Aku pulang dengan perasaan seperti orang yang bersiap menerima pukulan dan pukulannya tidak pernah datang.


Pip yang menjelaskannya. Tentu saja Pip.

“Semua orang udah sepakat,” katanya sore itu, sambil mengelap konter dengan gerakan melingkar besar yang lebih banyak memindahkan debu daripada mengangkatnya.

Aku berhenti mengerjakan jepitan tukang kayu.

“Sepakat apa?”

“Buat nggak bilang.” Pip mengangkat bahu. “Kata Bibi Marta, kalau ada yang nulis surat ke ibu kota, dia bakal berhenti masak sup buat orang itu selamanya.”

Aku meletakkan obengku.

“Pip.”

“Hm?”

“Siapa ‘semua orang’?”

“Semuanya.” Dia menggosok satu titik di konter yang sudah bersih. “Ada rapat di penginapan. Malam Selasa. Aku nggak boleh masuk tapi aku nguping dari tangga.”

“Ada rapat kota tentang aku.”

“Bukan tentang Kak Noel,” koreksinya, dengan nada seorang anak yang mengoreksi orang dewasa dan sangat menikmatinya. “Tentang cerita apa yang dipakai.”

Aku menatapnya.

“Kata Pak Wali Kota, kalau ada yang tanya, bilang aja Stray-nya runtuh sendiri karena tanahnya labil,” lanjut Pip. “Terus Pak Garrik bilang itu bego, mana ada Stray dua puluh meter runtuh sendiri. Terus Bibi Marta bilang, ya makanya jangan bilang dua puluh meter, bilang aja sepuluh.”

“Bibi Marta menyarankan penipuan dokumen resmi.”

“Bibi Marta bilang itu namanya ‘akuntansi’.”

Aku duduk di bangkuku.

Jendela tokoku menghadap Jalan Lorne. Dari sini aku bisa melihat sebagian alun-alun, dan orang-orang yang masih mengangkut besi di bawah matahari sore, dan seorang perempuan yang menjemur kain di balkon lantai dua.

Tiga ratus orang melihat apa yang kulakukan malam itu.

Dan tiga ratus orang duduk di penginapan Bibi Marta pada malam Selasa dan memutuskan untuk berbohong.

“Kenapa,” kataku. Lebih pada diriku sendiri daripada pada Pip.

Pip berhenti mengelap.

Dia menoleh padaku dengan wajah bingung yang tulus—wajah orang yang baru saja ditanyai kenapa air itu basah.

“Karena Kak Noel benerin sendokku,” katanya.

Aku tidak berkata apa-apa.

“Dan payu Bu Hensley,” lanjutnya, mulai menghitung dengan jari. “Dan palu Pak Garrik, dan jarum Bibi Marta, dan gunting Bu Ollan, dan gergaji Pak Weller, dan—”

“Pip.”

“Aku belum selesai.”

“Aku tahu,” kataku. “Lanjutkan.”

Dia melanjutkan. Butuh empat menit.

Aku mendengarkan setiap nama, dan aku menemukan bahwa aku ingat semuanya—setiap benda, setiap retakan, setiap sore ketika seseorang datang membawa sesuatu yang rusak dan aku memakai sarung tangan putihku dan memperlakukannya seperti Regalia.

Tiga tahun. Aku pikir aku sedang bersembunyi.

Ternyata aku sedang menanam.


Kapten Valen datang hari Kamis.

Pukul empat, seperti biasa. Lonceng berbunyi dengan nada pertama, seperti biasa.

Yang tidak seperti biasa: dia tidak memakai armor. Cuma mantel kelabu dan seragam dalam, dan Ferrum tetap di punggungnya karena dia tidak pernah ke mana-mana tanpa itu.

Dan dia tidak duduk.

“Aku tidak akan mengatakan ‘inspeksi’,” katanya.

Aku meletakkan ketel.

“Baik.”

“Aku juga tidak akan memaksamu.” Dia berdiri di tengah tokoku dengan tangan di sisi tubuhnya. “Aku sudah memikirkannya empat hari. Aku bisa memerintahkanmu—secara hukum aku bisa, ada tiga pasal yang bisa kupakai, aku mengeceknya. Aku memutuskan untuk tidak.”

“Kenapa?”

“Karena kau bisa saja pergi malam itu,” katanya. “Kau berjalan pulang ke tokomu di depan tiga ratus orang, dan kau bisa mengemasi barangmu dan hilang sebelum fajar, dan tidak ada satu pun dari kami yang bisa mencegahmu.”

Dia menatapku.

“Kau masih di sini,” katanya. “Jadi aku pikir aku berutang padamu untuk bertanya, bukan memerintah.”

Aku berdiri di belakang konterku.

Ada tiga tahun kebiasaan di tenggorokanku. Tiga tahun kalimat sopan yang tidak berisi apa pun, tersusun rapi, siap pakai.

Aku menarik kursi rotan dan memutarnya menghadap ke arah bangkuku.

“Duduk,” kataku. “Ini akan lama.”


Aku menceritakan sebagian.

Aku ingin sangat jujur tentang itu, karena aku akan berbohong padanya lagi setelah ini dan aku ingin catatan ini merekam persis di mana garisnya.

“Namaku Noel Ashford,” kataku. “Itu benar. Umurku dua puluh tujuh. Itu juga benar. Aku lahir di kota pesisir yang tidak punya catatan sipil karena kotanya sudah tidak ada lagi—badai, dua puluh tahun lalu, sekitar delapan ratus orang.”

Dia tidak berkata apa-apa.

“Aku masuk Duelist Court di ibu kota waktu umur delapan belas,” kataku. “Aku bertarung selama empat tahun. Aku menang enam puluh satu duel resmi dan kalah nol.”

“Enam puluh satu.”

“Enam puluh satu.”

“Peringkat berapa?”

“Peringkat tidak ada,” kataku. “Aku tidak pernah masuk daftar peringkat. Untuk masuk daftar, Artifact-mu harus terdaftar, dan aku tidak pernah mendaftarkannya.”

“Mereka mengizinkan itu?”

“Mereka membuat pengecualian,” kataku, “karena aku menang enam puluh satu kali, dan Duelist Court adalah tempat yang menjual tiket.”

Dia mengangguk pelan.

“Mereka memberimu nama,” katanya.

“Mereka memberiku nama.”

“Rainmaker.”

Aku menatapnya.

“Duelist yang datang bulan lalu,” katanya. “Kuda mahal, mantel kulit hitam. Dia menginap semalam di penginapan Bibi Marta dan minum terlalu banyak dan bicara terlalu banyak, dan Bibi Marta punya telinga yang sangat bagus.”

“Tentu saja,” kataku.

“Dia menceritakan legenda tentang seseorang yang menghilang lima tahun lalu.” Dia mencondongkan tubuh. “Dan dia menceritakan bagaimana orang-orang yang melawannya menggambarkan kekalahan mereka. Bahwa senjata mereka dilepas. Baut demi baut.”

Aku memandangi tanganku di atas konter.

“Iya,” kataku.

Dan itu saja. Satu kata. Tiga tahun runtuh dalam satu kata.

Ruangan itu sangat sunyi.

“Kenapa Rainmaker?” tanyanya akhirnya.

“Karena penonton di barisan depan selalu basah,” kataku. “Dan orang di dalam arena tidak.”


Lalu dia bertanya hal yang kutakutkan.

“Kenapa kau berhenti?”

Dan di sinilah aku berbohong.

Bukan dengan mengarang. Aku tidak sanggup mengarang di depan wajah itu, dan lagipula dia akan menangkapnya. Aku berbohong dengan cara yang jauh lebih pengecut: aku mengatakan sesuatu yang seratus persen benar dan berhenti tepat sebelum bagian yang penting.

“Lima tahun lalu ada duel,” kataku. “Duel resmi, arena penuh, lawan yang kukenal baik. Sesuatu terjadi malam itu, dan setelah selesai, lisensiku dicabut dan namaku dihapus dari catatan Court.”

“Dicabut? Kau kalah?”

“Aku tidak menyelesaikan duelnya.”

“Apa yang terjadi?”

Api di tungku berderak.

“Aku hampir melempar,” kataku.

Alisnya bertaut. “Melempar apa?”

Aku mengangkat wajahku dan menatapnya, dan aku memilih setiap kata berikutnya dengan sangat hati-hati.

“Payungku punya beberapa bentuk,” kataku. “Kau sudah melihat dua. Ada yang ketiga. Ia berbentuk tombak, dan ia punya satu sifat: kalau dilempar, ia tidak pernah meleset.”

“Tidak pernah—”

“Tidak pernah,” kataku. “Bukan ‘jarang’. Bukan ‘hampir selalu’. Tidak ada perisai, tidak ada jarak, tidak ada kecepatan, tidak ada tempat sembunyi. Kalau aku melemparnya ke arah sesuatu, sesuatu itu selesai. Itu bukan serangan, Kapten. Itu keputusan.”

Dia sangat diam.

“Malam itu aku mengangkatnya,” kataku. “Aku sudah menariknya ke belakang bahuku. Dan aku menyadari bahwa aku sedang berdiri di arena penuh penonton, memegang benda yang bisa mengakhiri apa pun, dan bahwa aku sudah mengangkatnya tanpa berpikir.”

Aku menatap tanganku.

“Aku menurunkannya,” kataku. “Aku melakukan hal lain—sesuatu yang butuh waktu semalaman dan melanggar dua belas aturan Court. Setelah itu mereka mencabut lisensiku, dan aku berjalan keluar dari ibu kota dan tidak pernah kembali.”

“Sesuatu yang lain apa?”

“Itu bukan ceritaku,” kataku.

Dan itu bagian yang jujur. Itu memang bukan ceritaku.

Dia menatapku untuk waktu yang lama.

“Kau menghilang,” katanya pelan, “karena kau takut pada dirimu sendiri.”

“Iya.”

“Selama lima tahun.”

“Iya.”

“Dan tiga tahun terakhir kau menyeduh teh untuk orang-orang di kota tambang dan memperbaiki sendok sup anak-anak.”

“Iya.”

Dia mengeluarkan napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke kursi rotan yang berdecit.

“Ashford,” katanya. “Kau orang paling bodoh yang pernah kutemui.”

Aku berkedip.

“Maaf?”

“Empat malam lalu kau berdiri di alun-alun dan menahan Noble Stray sebelas kali tanpa memindahkan kakimu.” Dia menunjukku dengan dagunya. “Dan sekarang kau duduk di situ dan bilang padaku kau lari selama lima tahun karena kau hampir melakukan sesuatu.”

“Kapten—”

“Kau tidak melemparnya,” katanya. “Itu bagian ceritanya. Kau tidak melemparnya. Kau berdiri di arena penuh orang dengan benda yang bisa mengakhiri apa pun di tanganmu dan kau menurunkannya, dan lalu kau menghukum dirimu sendiri selama lima tahun untuk kejahatan yang tidak kau lakukan.”

Aku tidak punya jawaban untuk itu.

Aku sudah punya jawaban untuk semua pertanyaan yang kusiapkan selama tiga tahun. Aku tidak punya satu pun untuk yang ini.

“Kenapa Hollowbrook?” tanyanya.

“Karena kotanya kecil,” kataku. “Dan karena—”

Aku berhenti.

“Karena apa?”

Aku memikirkan gua di bawah kaki kami. Rak-rak batu. Sepuluh ribu senjata dibaringkan dengan hormat oleh entah siapa selama tiga ratus tahun.

“Karena ada tempat di bawah kota ini di mana senjata-senjata tua diletakkan untuk beristirahat,” kataku. “Dan waktu itu aku berpikir mungkin itu tempat yang tepat untuk seseorang seperti aku.”

Dia menatapku.

“Kau datang ke sini untuk mati?”

“Aku datang ke sini untuk berhenti,” kataku. “Aku tidak yakin waktu itu aku tahu bedanya.”


Dia duduk di kursi rotan itu selama hampir satu menit tanpa berkata apa pun.

Lalu dia berdiri.

Berjalan ke konter. Mengambil cangkirnya—yang sudah dingin, yang tidak kami sentuh selama seluruh percakapan—dan menghabiskannya dalam satu tegukan seperti orang yang minum obat.

“Baik,” katanya. “Ini yang akan terjadi.”

Aku mengangkat kepala.

“Laporan resmi tetap seperti yang sudah kutulis,” katanya. “Noble Stray runtuh akibat ketidakstabilan struktur Graveyard. Wali Kota sudah menandatangani. Kota sudah sepakat, dan sejujurnya mereka lebih pintar berbohong daripada garnisunku.”

“Kapten—”

“Aku belum selesai.” Dia meletakkan cangkirnya. “Kedua: aku tidak akan menceritakan ini pada siapa pun. Tidak pada Dane, tidak pada Ilva, tidak pada Wali Kota—meski aku curiga dia sudah tahu lebih banyak dariku, dan aku akan mengurus orang tua itu sendiri.”

“Kau berbohong dalam dokumen resmi. Lagi.”

“Iya.”

“Kalau ketahuan, kau kehilangan lisensimu.”

“Iya,” katanya. “Aku sudah menghitungnya. Aku menghitung semuanya, ingat? Itu penyakitku.”

Dia menatapku dari seberang konter, dan aku menyadari bahwa dia sedang gemetar sedikit—bukan takut. Sesuatu yang lain.

“Dan ketiga,” katanya, dan suaranya berubah. “Ini yang paling penting, jadi dengarkan baik-baik.”

“Aku mendengarkan.”

“Aku tidak peduli namamu Rainmaker,” katanya. “Aku tidak peduli kau menang enam puluh satu duel. Aku tidak peduli benda apa yang kau bawa ke mana-mana.”

Dia mencondongkan tubuh ke depan, dua tangan di konter.

“Kau tetap tukang reparasi Artifact yang tokonya kudatangi setiap Kamis,” katanya. “Kau tetap orang yang menaruh dua sendok gula di tehku. Itu tidak berubah karena aku tahu satu hal lagi tentangmu. Kau mengerti?”

Aku berdiri di belakang konterku dan tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik.

Ini yang harus kucatat, dan aku akan mencatatnya dengan jujur karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri:

Selama lima tahun aku membayangkan momen ini dengan seribu cara berbeda. Setiap versinya berakhir dengan orang mundur selangkah.

Tidak satu pun dari seribu versi itu ada yang begini.

“Aku mengerti,” kataku.

“Bagus.” Dia menegakkan badan dan menarik napas seperti orang yang baru selesai mengangkat sesuatu yang berat. “Sekarang seduhkan teh lagi. Yang ini sudah dingin dan aku meminumnya seperti orang tolol demi efek dramatis.”

Aku menyeduh teh lagi.


Dia pergi pukul tujuh.

Di ambang pintu—tentu saja di ambang pintu—dia berhenti.

“Ashford.”

“Ya.”

“Kalimat yang kau ucapkan malam Bellmaw,” katanya, tanpa menoleh. “Di bawah payung. Waktu tidak ada suara.”

Sesuatu di dadaku berhenti.

“Aku sudah menebaknya selama berminggu-minggu,” katanya. “Aku ingin tahu apakah tebakanku benar.”

Ruangan itu sangat sunyi.

Aku bisa berbohong. Aku sudah berbohong sekali malam ini, dan yang ini jauh lebih kecil.

“Kau aman,” kataku.

Bahunya turun—cuma sedikit, cuma sekali.

“...Iya,” katanya. “Itu tebakanku.”

Dan dia pergi sebelum aku bisa melihat wajahnya, dan lonceng di atas pintu berbunyi lama sekali setelahnya.

Aku berdiri di tokoku dengan dua cangkir kosong di konter.

Lalu aku membuka laci, mengeluarkan sepotong kulit sapi tersamak yang sudah selesai kujahit sebelas hari lalu, dan meletakkannya di atas kayu.

“Besok,” kataku pada ruangan kosong.

Aku bohong lagi. Tapi kali ini pada diriku sendiri, jadi kurasa tidak apa-apa.