Chapter Eleven
Getaran di Bawah Kota
Gungnir: The First Arms
POV: Noel
Jumlah kata: 2.462
Wali Kota Hobbes datang ke tokoku pada hari Selasa, pukul enam pagi.
Aku tahu itu penting karena dua alasan. Pertama, tokoku buka pukul delapan. Kedua, dalam tiga tahun, Wali Kota Hobbes tidak pernah sekali pun datang ke tokoku.
Aku membuka pintu dengan rambut belum disisir dan menemukan orang tua kecil berkacamata bulat berdiri di teras dengan mantel tebal dan lentera yang masih menyala meski matahari sudah naik.
“Selamat pagi, Tuan Ashford,” katanya. “Kau punya sepatu bot?”
“...Ada.”
“Bagus. Pakai. Dan bawa payungmu.”
Dia sudah berbalik dan berjalan menuruni teras sebelum aku sempat bertanya apa pun.
Kami berjalan ke utara, melewati bengkel Garrik yang sudah beraparan, melewati pemakaman lama, dan terus sampai ke lereng tempat kota berhenti dan hutan pinus mulai.
Di sana ada bangunan yang selalu kuanggap gudang tambang tua.
Bangunan batu rendah, tanpa jendela, dengan pintu besi yang sudah berkarat merah di engselnya. Tumbuhan merambat menutupi setengah dindingnya. Aku pernah lewat sini puluhan kali.
Wali Kota Hobbes mengeluarkan kunci dari dalam mantelnya. Kunci besi sepanjang telapak tangan, jenis yang tidak dibuat orang lagi sejak seratus tahun lalu.
“Kau tahu apa ini?” tanyanya.
“Gudang tambang.”
“Itu yang tertulis di peta kota.” Dia memasukkan kunci. “Peta kota juga menulis bahwa Hollowbrook punya populasi dua ribu delapan ratus, dan aku sudah dua puluh tahun tidak repot-repot memperbaruinya.”
Pintu itu terbuka dengan bunyi yang sangat panjang.
Di baliknya ada tangga.
Turun.
Kami turun selama enam menit.
Aku menghitung anak tangganya sampai dua ratus empat puluh, lalu berhenti menghitung karena udaranya berubah dan aku butuh perhatianku untuk hal lain.
Udara di bawah sana tidak lembap. Itu yang pertama kali salah. Kau turun dua ratus lebih anak tangga ke dalam tanah di kota pegunungan yang hujan tiap hari, dan udaranya seharusnya seperti gua—basah, berbau lumut.
Udara di sini kering. Dan tidak berbau apa pun sama sekali.
Yang kedua: hening.
Bukan hening seperti malam Bellmaw. Ini hening yang berbeda—hening yang penuh. Semacam keheningan yang kau rasakan di ruangan tempat banyak orang sedang tidur.
Payung di tanganku menjadi berat.
Bukan kiasan. Aku merasakannya bertambah berat, seperti benda yang tiba-tiba ingat berapa massanya seharusnya, dan aku harus memindahkan pegangan ke dua tangan.
Jangan, pikirku. Kita cuma lewat.
Tangga itu berakhir di sebuah ruangan.
Wali Kota Hobbes mengangkat lenteranya.
Dan aku berdiri di ambang sebuah gua yang begitu besar sampai cahaya lentera itu tidak menemukan dindingnya.
Senjata.
Kalau kau membayangkan tumpukan, kau salah. Ini bukan tumpukan. Ini... pemakaman, dan orang yang mengaturnya melakukannya dengan rasa hormat yang membuat dadaku sakit.
Baris demi baris. Rak batu, terpahat langsung dari dinding gua, memanjang ke dalam kegelapan sejauh cahaya bisa pergi. Di setiap rak, senjata dibaringkan—bukan disandarkan, bukan ditumpuk. Dibaringkan, satu per satu, dengan ruang di antaranya.
Pedang. Kapak. Busur dengan tali yang sudah lama putus. Palu. Tombak. Ada yang berkarat sampai jadi bentuk yang tidak bisa dikenali lagi. Ada yang masih mengilap seolah baru diletakkan kemarin.
Dan di beberapa tempat, benda-benda yang bukan senjata sama sekali: sebuah sekop. Sebuah timbangan. Sebatang seruling. Sebuah gunting jahit.
Ribuan.
Puluhan ribu.
“Artifact Graveyard,” kata Wali Kota Hobbes.
Suaranya kecil di ruangan itu.
“Setiap Bearer yang mati,” lanjutnya, “meninggalkan sesuatu. Kebanyakan Artifact ikut memudar bersama pemiliknya dalam beberapa hari—itu yang orang lihat, itu yang ditulis di buku. Tapi tidak semua.” Dia mengangkat lenteranya lebih tinggi. “Sebagian tidak mau pergi. Mereka bertahan. Dan Artifact yang bertahan tanpa pemilik akan melakukan satu dari dua hal: tidur, atau bangun lapar.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Bukan karena kaget. Aku sudah tahu tempat seperti ini ada—ada tiga di benua ini, dan aku pernah membaca laporan salah satunya di ruangan yang butuh tiga tanda tangan.
Aku tidak bisa berkata apa-apa karena payung di tanganku sedang melakukan sesuatu.
Bukan bergetar. Bukan menarik.
Menoleh.
Ke bawah. Ke kedalaman. Ke arah yang bahkan tidak bisa kulihat, dan dia menoleh ke sana dengan intensitas yang membuat tulang belakangku dingin.
“Berapa dalam?” tanyaku.
“Maaf?”
“Berapa dalam gua ini.”
Hobbes menatapku dari balik kacamatanya.
“Kau bertanya seperti orang yang sudah tahu jawabannya tidak akan menyenangkan,” katanya.
“Berapa dalam, Pak Wali Kota.”
“Kami tidak tahu.” Dia berjalan ke rak terdekat dan menyentuh tepi batunya dengan jari. “Ada tiga belas tingkat yang dipetakan. Tingkat satu—yang ini—diisi selama dua ratus tahun terakhir. Tingkat dua, empat ratus tahun. Semakin dalam, semakin tua. Tingkat tiga belas dipetakan enam puluh tahun lalu oleh tim survei tambang.”
“Dan tingkat empat belas?”
“Tim survei itu tidak kembali.”
Lentera itu mendesis pelan.
“Kota ini bukan kota tambang, Tuan Ashford,” kata Hobbes. “Kota ini adalah penjaga makam yang menyamar jadi kota tambang, dan sudah begitu selama tiga ratus tahun. Wali kota diberi kunci ini di hari pengangkatannya bersama satu instruksi: jangan biarkan orang menggali, jangan biarkan ibu kota tahu seberapa dalam ini, dan hitung getarannya.”
“Getarannya.”
“Duduk, Tuan Ashford. Kau akan butuh itu.”
Dia menjelaskan selama dua puluh menit, di atas rak batu kosong, dengan lentera di antara kami.
Aku sudah tahu sebagian besarnya. Tapi aku membiarkannya bicara, karena ada dua hal yang kupelajari dari cara dia menjelaskannya.
Yang pertama: dia membaginya menurut rank.
“Common Stray,” katanya, mengangkat satu jari. “Senjata biasa yang bangun bersama-sama. Mereka tidak punya kehendak, cuma gerakan. Mereka naik lewat saluran air, mereka menyerang apa saja yang bergerak, dan mereka mati kalau bentuknya dirusak. Kita menangani tiga sampai empat kawanan setahun. Itu biasa.”
Dua jari.
“Rare Stray. Satu tubuh. Cukup jiwa tersisa untuk punya... kebiasaan. Bellmaw memakan suara, karena semasa hidupnya dia lonceng gereja yang dilebur jadi senjata, dan hal terakhir yang dia tahu tentang dirinya adalah bahwa dia membuat suara. Sabit yang menyerang di lapangan barat itu memburu benda yang berdiri tegak, karena dulu mereka alat panen.” Dia menurunkan tangannya. “Satu, mungkin dua per lima tahun. Tahun ini sudah dua dalam dua bulan.”
Aku tidak menyela.
“Noble Stray,” katanya, dan suaranya berubah. “Besar. Teritorial. Cukup cerdas untuk memilih waktu. Yang terakhir muncul dua puluh tiga tahun lalu—kami kehilangan sembilan knight dan setengah distrik timur.” Dia melepas kacamatanya. “Ayah Kapten Valen mati melawan Noble Stray di lereng utara delapan tahun lalu. Itu yang kedua dalam masa jabatanku.”
Aku menatap lentera.
“Dan setelah itu?”
Hobbes membersihkan kacamatanya dengan sapu tangan. Sangat lama.
“Regalia Stray,” katanya. “Ada di catatan. Tiga kali dalam tiga ratus tahun, semuanya di makam lain, tidak satu pun di sini.” Dia memasang kacamatanya. “Perbedaannya bukan kekuatan, Tuan Ashford. Perbedaannya adalah bahwa Regalia menyimpan sisa kehendak pemiliknya. Mereka ingat siapa diri mereka.”
“Artinya?”
“Artinya mereka bisa bicara,” kata Hobbes. “Dan setiap catatan yang kubaca tentang mereka ditulis oleh orang yang jelas-jelas tidak tidur nyenyak setelahnya.”
Aku memikirkan sesuatu yang tidak ingin kupikirkan.
“Dan yang lebih dari itu?”
“Tidak ada yang lebih dari itu,” kata Wali Kota Hobbes.
Dan itu adalah kebohongan yang pertama sepanjang pagi itu, dan aku tahu dia tahu aku tahu, karena dia langsung berdiri dan mengangkat lenteranya.
“Kau bilang kau menghitung getarannya,” kataku. “Berapa hitunganmu?”
Dia berhenti.
“Tiga tahun lalu,” katanya, “nol. Tidak ada getaran sama sekali sejak aku diangkat.”
“Dan sekarang?”
“Sembilan,” kata Wali Kota Hobbes. “Sembilan getaran dalam empat bulan terakhir. Semuanya berdurasi lima sampai tujuh detik. Semuanya dari arah yang sama.”
Dia menoleh padaku.
“Bawah,” katanya. “Bukan tingkat tiga. Bukan tingkat tiga belas.”
“Lebih dalam.”
“Lebih dalam.”
Payung di tanganku terasa seperti batu.
Kami berjalan pulang menyusuri lereng dalam diam untuk waktu yang lama.
Lalu, sekitar setengah jalan, Wali Kota Hobbes berkata:
“Tiga tahun lalu, seorang lelaki muda datang ke Hollowbrook dan mengajukan izin usaha untuk toko reparasi Artifact.”
Aku tidak berhenti berjalan.
“Berkasnya bersih,” lanjutnya. “Terlalu bersih. Kota asal yang tidak punya catatan sipil yang bisa dikonfirmasi. Artifact tidak terdaftar. Tidak ada referensi kerja. Kapten Valen memeriksanya dan menyerahkan rekomendasi persetujuan dalam tiga hari.”
“Aku tahu.”
“Yang tidak kau tahu,” kata Hobbes, “adalah bahwa aku sudah menandatanganinya sebelum rekomendasinya sampai ke mejaku.”
Aku berhenti berjalan.
Orang tua itu terus melangkah tiga langkah, lalu berhenti juga, dan menoleh dengan senyum yang sangat lelah.
“Aku dua puluh tahun jadi wali kota kota penjaga makam,” katanya. “Getarannya mulai empat bulan lalu, tapi ada sesuatu yang lain yang mulai tiga tahun lalu. Sesuatu di bawah sana jadi... tenang. Tidur lebih nyenyak. Aku tidak punya alat ukur untuk itu, aku cuma tahu karena aku turun ke sana tiap bulan selama dua puluh tahun dan aku tahu bunyinya.”
Dia mengangkat dagunya ke arah payung di tanganku.
“Lalu seorang lelaki muda pindah ke kota ini dengan sesuatu yang dia bawa ke mana-mana dan tidak pernah dia tinggalkan,” katanya. “Dan aku memutuskan bahwa aku tidak butuh tahu apa itu. Aku cuma butuh dia tinggal.”
Aku berdiri di lereng berlumpur di bawah pinus.
“Pak Wali Kota—”
“Aku tidak bertanya, Tuan Ashford.” Dia mulai berjalan lagi. “Aku sudah tua dan aku menjaga sesuatu yang lebih besar dari kesopanan. Tapi aku akan mengatakan satu hal dan setelah itu kita tidak perlu membicarakannya lagi.”
Aku menyusul.
“Empat bulan lalu getarannya mulai,” katanya. “Dan setiap kali sesuatu di kota ini terjadi—setiap kali sebuah Stray naik dan kau kebetulan ada di sana, Tuan Ashford—getaran berikutnya datang lebih cepat.”
Aku merasakan darahku turun ke kaki.
“Aku sudah memetakan tanggalnya,” lanjut Hobbes. “Ironrat di pasar. Getaran dua hari kemudian. Bellmaw di alun-alun. Getaran malam itu juga. Tiga Rare di lapangan barat.” Dia menoleh. “Getaran dua jam setelahnya. Enam detik. Yang terpanjang sejauh ini.”
Kami sampai ke pintu besi di puncak lereng.
“Aku tidak tahu apa yang kau bawa,” kata Wali Kota Hobbes, mengunci pintu itu di belakang kami. “Aku tidak ingin tahu. Tapi apa pun itu, sesuatu di bawah sana mengenalnya.”
Dia menyimpan kunci ke dalam mantelnya.
“Dan sesuatu itu sedang bangun untuk menyapa.”
Aku berjalan pulang sendirian.
Aku melewati alun-alun. Aku melewati barak, tempat Kapten Valen sedang memimpin latihan pagi di halaman—aku bisa mendengar suaranya memberi aba-aba dari dua ratus meter, dan aku tidak menoleh, karena kalau aku menoleh aku akan berhenti berjalan.
Aku masuk ke tokoku, mengunci pintu meski baru pukul delapan lewat, dan berdiri di tengah ruangan.
Lalu aku meletakkan payung itu di konter.
Membentangkannya. Bukan membuka—membaringkannya, seperti Bibi Marta membaringkan [ Stitch ] di beludru merah, seperti rak-rak batu di bawah kota membaringkan sepuluh ribu senjata.
Aku menariknya bangku dan duduk di depannya.
“Aku mau bertanya,” kataku.
Diam.
“Empat bulan lalu getarannya mulai. Tiga tahun lalu aku pindah kemari, dan menurut Hobbes, tiga tahun lalu sesuatu di bawah sana jadi lebih tenang.” Aku menekuk jariku di atas kayu konter. “Berarti selama dua tahun delapan bulan, keberadaanmu menenangkannya. Lalu empat bulan lalu, berubah.”
Diam.
“Apa yang berubah?”
Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, sesuatu menjawabku.
Bukan kata. Tidak pernah kata. Tapi ada sesuatu yang naik ke tengkukku dan menetap di sana, dan bentuknya—kalau aku harus menerjemahkannya—adalah semacam gambar.
Sebuah alun-alun. Hujan. Sebuah lingkaran kering.
Dan seorang perempuan yang berbaring di batu, menatap ke atas.
Aku menutup mataku.
“Karena aku mulai memakaimu lagi,” kataku pelan.
Tidak ada jawaban, tapi tidak butuh.
Empat bulan lalu adalah bulan ketika seorang kapten garnisun mulai datang tiap Kamis dengan alasan yang tidak masuk akal. Empat bulan lalu aku mulai menuang cangkir kedua. Empat bulan lalu, tanpa kusadari, aku mulai berhenti menjadi orang yang menyimpan payung di sudut ruangan dan mulai jadi orang yang mempertimbangkan—sekali, dua kali, lalu sepuluh kali—untuk mengangkatnya.
Setiap kali aku mengangkatnya, sesuatu yang sangat tua di bawah kota ini mencium baunya.
Dan bangun sedikit lagi.
Aku duduk di tokoku yang terkunci pukul delapan pagi, memandangi sehelai payung hitam di atas konter kayu.
“Kalau aku berhenti,” kataku, “apakah dia tidur lagi?”
Payung itu diam.
Tapi jauh di dalam tengkukku, sesuatu bergerak—dan yang kurasakan bukan jawaban.
Yang kurasakan adalah maaf.
Dan aku duduk di sana untuk waktu yang sangat lama, memikirkan sebuah lapangan basah dan sebuah bilah yang masuk di bawah tulang selangka, dan mencoba jujur pada diriku sendiri tentang apakah aku sanggup berhenti.
Aku tidak sampai pada kesimpulan apa pun.
Aku membuka toko pukul sembilan, terlambat satu jam, dan Bu Hensley mengomel tentang pisau dapurnya selama sepuluh menit penuh, dan aku mendengarkan setiap katanya dengan rasa syukur yang tidak masuk akal.