← Chapters Ch. 38 / 40

Chapter Thirty Eight

Fimbulvetr Canopy

Gungnir: The First Arms

POV: Mira

Jumlah kata: 2.594


Aku sudah menghitung banyak hal dalam hidupku.

Jarak. Waktu tempuh. Berapa detik yang bisa kubeli untuk sebelas orang. Berapa hari sampai seseorang pulang. Berapa sendok gula.

Aku tidak pernah menghitung ini.

Puluhan ribu senjata meledak keluar dari sesuatu setinggi dua belas meter dan menyebar ke seluruh kota Hollowbrook sekaligus, dan otakku—yang sudah tujuh tahun dilatih untuk menghitung segalanya—memberikan satu angka dalam waktu kurang dari setengah detik.

Nol.

Tidak ada satu pun yang bisa kulakukan. Tidak ada formasi. Tidak ada garis tahan. Tidak ada jumlah orang yang bisa kususun di jalan mana pun yang akan mengubah apa pun.

Delapan ratus tujuh puluh empat orang di tiga bangunan.

Dan langit di atas mereka penuh logam.

Aku berteriak sesuatu. Aku tidak ingat apa.

Dan di sebelahku, Noel Ashford berkata satu kata.

“Kembali.”


Puluhan ribu senjata melayang di langit—kelopak Ragnarok Bloom, yang tadi turun dan berhenti dan mengambang di sekelilingnya—berbalik.

Bukan menyerang.

Mereka naik.

Dan mereka mengejar.

Aku menonton dari Jalan Pasar sambil berdiri dengan Ferrum di tangan yang tidak berguna, dan aku melihat puluhan ribu benda melesat ke atas kota untuk mencegat puluhan ribu benda lain, dan langit di atas Hollowbrook menjadi sesuatu yang tidak seharusnya dilihat manusia.

Mereka mencegat sebagian.

Aku menekankan kata itu karena aku menghitungnya nanti, dan angkanya adalah sekitar tiga perempat.

Sisanya lewat.

Ribuan bilah menembus kubah dan turun ke arah gereja, balai kota, dan bengkel Garrik.

Dan Noel Ashford menjatuhkan gagang payungnya ke batu jalan.


Aku tidak mengerti apa yang dia lakukan selama sekitar dua detik.

Dia melepaskannya. Benda itu—yang tinggal gagang kayu dan kerangka telanjang, karena seluruh kanopinya sudah terurai jadi puluhan ribu kelopak di langit—jatuh dari tangannya dan menghantam batu jalan dan berdiri tegak di sana seolah ditancapkan.

Lalu dia mengangkat kedua tangannya.

Dan berkata sesuatu yang tidak kudengar.

Aku sudah menanyakan itu padanya berkali-kali sejak hari itu. Dia selalu bilang dia tidak ingat.

Aku tidak percaya padanya, tapi aku berhenti bertanya.


[ Fimbulvetr Canopy — The Sky That Shelters ]

Puluhan ribu kelopak di langit berhenti bertarung.

Semuanya. Sekaligus. Di tengah lintasan, di tengah tabrakan, di tengah segalanya—mereka berhenti, dan berbalik, dan naik lebih tinggi.

Dan mulai menjahit.

Aku tidak punya kata yang lebih baik. Mereka bergerak ke posisi masing-masing seperti sesuatu yang sudah tahu tempatnya sejak awal, bilah bertemu bilah, tepi bertemu tepi, dan mereka mengunci.

Dari titik tengah ke luar.

Melebar.

Melewati alun-alun. Melewati Jalan Pasar. Melewati atap gereja dan balai kota dan bengkel Garrik dan ujung Jalan Lorne dan pemakaman lama dan lereng utara.

Melewati seluruh kota.

Dan pada detik keempat, langit di atas Hollowbrook tertutup sepenuhnya oleh sebuah kanopi hitam yang terbuat dari setiap senjata yang pernah ada.

Ribuan bilah Fenrir yang sedang jatuh menghantamnya.

Dan berhenti.


Aku ingin menuliskan apa yang terjadi di bawahnya.

Aku ada di dalamnya, jadi aku tahu.

Suara pertama yang hilang adalah suara logam. Seluruh kota telah berdengung selama delapan menit dengan bunyi ribuan bilah bergerak, dan bunyi itu mati sekaligus.

Yang kedua adalah rasa sakit.

Aku punya luka sayat di lengan kiri dari menit keempat. Aku tidak menyadarinya sampai menit kedelapan karena aku sedang sibuk. Dan pada detik ketika kanopi itu menutup, luka itu berhenti terasa.

Bukan sembuh. Tetap ada—aku bisa melihat darahnya.

Ia cuma berhenti menjadi sesuatu yang bisa melukaiku.

Aku menoleh ke arah gereja.

Dinding utaranya sedang runtuh. Aku bisa melihatnya—batu-batunya sudah lepas, sudah miring, sudah jatuh.

Dan mereka jatuh melewati tiga ratus lima puluh orang di dalamnya, dan menyentuh lantai, dan tidak satu orang pun terluka.

Aku berdiri di Jalan Pasar dan melihat seluruh kotaku hancur di sekelilingku tanpa satu orang pun terluka, dan aku menyadari bahwa aku sedang melihat sesuatu yang tidak punya nama dalam bahasa apa pun yang kutahu.

Di dalam kanopi ini, konsep terluka tidak berlaku.

Dan lalu aku menoleh.


Hujan mulai turun sekitar dua menit kemudian.

Aku tidak tahu dari mana. Kanopi itu menutup seluruh langit; seharusnya tidak ada hujan yang bisa masuk.

Aku baru mengerti belakangan—air masuk lewat celah, karena air bukan sesuatu yang melukai, dan benda ini sangat tepat tentang apa yang ditolaknya.

Jadi hujan turun ke seluruh kota Hollowbrook di bawah kanopi yang terbuat dari setiap senjata yang pernah ada.

Dan di tengah Jalan Pasar, ada satu titik yang basah lebih dulu.

Aku menoleh ke sana karena mataku menangkap gerakan.

Dan aku melihatnya.


Noel berdiri sekitar dua belas meter dariku, di lubang sedalam tiga puluh sentimeter yang dibuat kakinya sendiri.

Kedua tangannya terangkat.

Dan tepat di atas kepalanya, kanopi itu berlubang.

Aku ingin sangat akurat tentang ini.

Bukan berlubang karena rusak. Aku melihat tepinya—rapi, melingkar, dengan diameter sekitar dua meter, dan bilah-bilah di sekelilingnya terkunci rapat seperti di seluruh bagian lain.

Ada lubang berbentuk lingkaran sempurna di kanopi itu.

Dan lingkaran itu berada tepat di atas orang yang membuatnya.

Hujan turun lewat lubang itu.

Ke satu titik.

Dan aku berdiri di Jalan Pasar yang kering—kering, di tengah hujan, seperti setiap orang lain di kota ini—dan aku melihat satu-satunya titik basah di seluruh Hollowbrook, dan di dalamnya ada seorang lelaki yang mengangkat kedua tangannya untuk menahan langit.

Dan lalu ribuan bilah Fenrir turun ke arah lubang itu.


Aku sudah berlari.

Aku tidak ingat memutuskan.

Aku ingat batu jalan, dan aku ingat seseorang berteriak namaku—Dane, mungkin, atau Ilva—dan aku ingat bahwa aku menjatuhkan sesuatu dan tidak berhenti untuk memungutnya dan lalu menyadari empat langkah kemudian bahwa itu adalah helmku.

Dua belas meter.

Aku sudah mengukur jarak sepanjang hidupku. Dua belas meter adalah dua detik.

Dan aku ingat berpikir, dengan sangat jernih, di tengah dua detik itu:

Ia menahan kanopi untuk delapan ratus tujuh puluh empat orang.

Ia membuat lubang di atas dirinya sendiri karena ia tidak bisa membuat kanopi yang menutupi seluruh kota tanpa berdiri di luar naungannya.

Ia tidak bisa memayungi dirinya sendiri.

Payung tidak bisa memayungi orang yang memegangnya.

Dan lalu:

Bodoh. Bodoh sekali, Noel.

Kau tidak sendirian.


Aku menabraknya pada detik kedua.

Bukan menabrak—aku memutar tubuhku pada langkah terakhir dan mendarat dengan bahu kiri di depan, dan aku berdiri di lubang sedalam tiga puluh sentimeter di Jalan Pasar dengan punggungku menempel di punggungnya.

Air langsung membasahi wajahku.

“Mira—”

“Diam.”

“Keluar dari sini—”

Diam, Noel.

Aku mengangkat Ferrum dengan kedua tangan.

Telapak tanganku berhenti di cekungan kedua, persis di titik yang dia hitung, dua sentimeter lebih rendah dari kebiasaan lamaku.

Dan pedang itu menyala.


Aku ingin menuliskan ini dengan hati-hati karena aku tidak percaya padanya sampai sekarang.

Ferrum adalah greatsword Common rank. Baja pasaran, kualitas menengah, ditempa entah oleh siapa di entah di mana, tanpa satu pun ornamen.

Selama sepuluh tahun ia adalah benda paling tidak berkilau yang pernah kupegang.

Dan berdiri di titik basah di tengah kota Hollowbrook, di bawah lubang berbentuk lingkaran sempurna, dengan punggungku menempel di punggung seseorang—bilah itu menyala putih.

Bukan cahaya sihir. Bukan berkat.

Aku sudah memikirkannya selama berbulan-bulan setelahnya dan aku sampai pada satu-satunya penjelasan yang masuk akal:

Selama tiga tahun, sesuatu yang lahir sebelum ada kata untuk perang mengirimkan sebagian dirinya ke pedangku setiap malam, dari seberang kota, tanpa pernah diminta dan tanpa pernah memberitahuku.

Dan hari itu, aku berdiri cukup dekat untuk pertama kalinya.

Aku tidak diberi kekuatan.

Aku cuma akhirnya berdiri di sebelah tempat asalnya.

Ribuan bilah Fenrir turun ke arah lubang di kanopi.

Dan aku mengayunkan pedangku.


Nol koma lima detik.

Itu waktu pemulihanku sekarang. Dia yang menghitungnya, dia yang membuat pembungkus gagang dengan tiga cekungan, dia yang berdiri di halaman belakang lima kali delapan langkah selama sebelas hari mengoreksi posturku.

Nol koma lima detik antara satu ayunan dan ayunan berikutnya.

Aku mengayunkan Ferrum empat puluh satu kali dalam dua puluh detik.

Aku menghitungnya, karena aku menghitung segalanya, dan karena setiap ayunan adalah satu gelombang bilah yang tidak sampai ke lubang di atas kepala kami.

Punggungku menempel di punggungnya sepanjang waktu itu.

Aku bisa merasakan dia bernapas. Aku bisa merasakan kedua lengannya masih terangkat, dan bahwa mereka bergetar, dan bahwa mereka tidak turun.

“Mira,” katanya, di antara napasnya.

“Aku di sini.”

“Aku tidak bisa menurunkan tanganku.”

“Aku tahu.”

“Kalau aku menurunkan tanganku, kanopinya—”

“Aku tahu, Noel.”

Ayunan ketiga puluh delapan. Tiga bilah pecah di udara.

“Aku tidak bisa melindungimu,” katanya.

Dan aku—Knight-Captain Hollowbrook, dua puluh lima tahun, berdiri basah kuyup di satu-satunya titik basah di seluruh kota dengan greatsword Common rank yang menyala putih di kedua tanganku—berkata hal yang sudah dia katakan padaku empat kali dalam empat bulan terakhir dan yang tidak pernah sekali pun bisa kubalas.

“Sisanya biar aku,” kataku.


Aku merasakan dia berhenti bernapas selama satu detik penuh.

“...Mira.”

“Tahan langitnya,” kataku. “Itu tugasmu. Ini tugasku.”

Ayunan keempat puluh.

“Aku sudah tujuh tahun berdiri di depan hal-hal,” kataku, dan suaraku keluar dalam potongan-potongan karena aku sedang mengayunkan dua puluh kilo baja setiap setengah detik. “Aku bagus dalam itu. Ini satu-satunya hal yang aku benar-benar bagus.”

Ayunan keempat puluh satu.

Dan lalu gelombangnya berhenti.


Kami berdiri di sana selama sekitar delapan detik dalam keheningan total.

Punggung menempel punggung. Hujan turun lewat lubang berbentuk lingkaran sempurna. Di sekeliling kami, dua ratus meter ke segala arah, kota Hollowbrook kering dan hancur dan penuh delapan ratus tujuh puluh empat orang yang hidup.

Dan di alun-alun, empat puluh meter dari kami, Fenrir berdiri.

Yang tersisa dari Fenrir.

Delapan meter sekarang, mungkin kurang. Kaki depan kirinya hilang. Setengah rahangnya terurai. Dan sisa tubuhnya bergetar dengan cara yang bukan kemarahan.

Ia sedang menatap ke atas.

Ke kanopi yang menutupi seluruh kota.

Dan ke lubang di dalamnya.

Kau membuat lubang,” katanya.

Noel tidak menjawab. Aku merasakan lengannya bergetar di punggungku.

Kenapa kau membuat lubang.

“Karena aku memegangnya,” kata Noel. Suaranya nyaris tidak ada. “Payung tidak bisa memayungi orang yang memegangnya. Kalau aku menutup lubang itu, aku harus melepaskan kanopinya, dan kalau aku melepaskan kanopinya, delapan ratus tujuh puluh empat orang mati.”

Fenrir berdiri diam.

Jadi kau berdiri di luar.

“Iya.”

Sendirian.

Dan aku, dengan punggung menempel di punggung orang itu dan pedang yang masih menyala di kedua tanganku, menjawab sebelum dia sempat.

“Tidak,” kataku.

Kepala setengah itu berputar ke arahku.

“Ia tidak sendirian,” kataku. “Aku di sini.”


Fenrir memandangi kami untuk waktu yang lama.

Delapan meter logam yang lahir sebelum ada kata untuk perang, berdiri di alun-alun kota tambang di jalur pegunungan, memandangi dua orang yang berdiri saling membelakangi di satu-satunya titik basah di dunia.

Oh,” katanya.

Dan aku mendengar sesuatu di dalam suara itu yang membuat dadaku hancur.

Bukan kemarahan. Bukan iri.

Pengenalan.

Seperti seseorang yang akhirnya melihat sebuah kata yang sudah dieja untuknya berkali-kali selama tiga ratus tahun dan baru sekarang bisa membacanya.

Itu,” kata Fenrir.

Sisa tubuhnya mulai bergerak—naik, mengumpul, memusat ke satu titik di dalam dadanya yang bersinar lebih terang dari sisanya.

Aku ingin itu,” katanya.

Dan ia menyerang untuk terakhir kalinya.

Bukan ke kota.

Bukan ke kanopi.

Delapan meter dan puluhan ribu senjata dan tiga ratus tahun berlari ke arah satu-satunya titik basah di seluruh Hollowbrook, ke arah dua orang yang berdiri saling membelakangi, dengan seluruh sisa dirinya—

—dan Ferrum masuk ke celah antara kaki depannya dan tanah, dan aku memutar bilahnya empat puluh derajat, dan aku menggunakan seluruh berat badanku di gagangnya.

Delapan meter logam tersandung.

Dan celah terbuka di dalam dadanya.

NOEL!” teriakku.

Dan aku mendengar sebuah bunyi di belakangku yang belum pernah kudengar dalam tiga tahun.

Gagang kayu yang diangkat dari batu jalan.

Dan lalu:

Klik.