Chapter Thirty Two
Teh Buatan Mira
Gungnir: The First Arms
POV: Noel
Jumlah kata: 2.463
Aku menutup toko selama enam hari.
Bukan karena aku tidak mau bekerja. Karena aku sedang membangun sesuatu, dan sesuatu itu memakan seluruh ruang lantai tokoku.
“Apa ini,” kata Mira pada hari ketiga, berdiri di ambang pintu dengan wajah orang yang masuk ke rumah yang salah.
“Peta.”
“Ini peta?”
Lantai tokoku tertutup kertas. Sembilan lembar besar, direkatkan di tepinya, menutupi ruang antara konter dan pintu. Di atasnya, dengan arang dan tinta dan benang yang dipaku ke lantai: seluruh Hollowbrook.
Bukan peta kota biasa. Aku sudah punya itu.
Ini peta yang salah satu sumbunya adalah kedalaman.
“Tingkat satu sampai tiga belas,” kataku, berjongkok di tepi kertas. “Ukurannya kuperkirakan dari waktu tempuh tangga dan gema. Tidak akurat, tapi cukup.”
Mira melangkah masuk dengan hati-hati, seperti orang yang berjalan di es.
“Dan yang merah ini?”
“Titik naik. Enam Stray, enam lokasi.” Aku menunjuk. “Bellmaw, saluran air. Sabit, lapangan barat. Wyrmfang, alun-alun utara. Hollow Choir, lereng. Ashen Crown, pemakaman lama.”
“Itu lima.”
“Yang keenam Greymarch. Aku menandainya di luar peta.”
Dia berjongkok di sebelahku.
Dan lalu dia melihat sesuatu, dan aku melihat dia melihatnya, karena bahunya menegang.
“Noel.”
“Iya.”
“Titik-titiknya membentuk lingkaran.”
“Iya.”
“Mengelilingi—” Jarinya bergerak di atas kertas dan berhenti di satu titik di ujung Jalan Lorne. “Mengelilingi tokomu.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Radiusnya berapa?”
“Yang pertama sembilan ratus meter,” kataku. “Yang terakhir dua ratus.”
Dia berdiri sangat pelan.
“Ia sedang mengecil,” katanya.
“Ia sedang mendekat.”
Kami menghabiskan enam hari di lantai itu.
Bukan cuma kami. Wali Kota Hobbes datang hari keempat dengan vellum tiga ratus tahun dan duduk di lantai tokoku selama lima jam dengan lutut yang jelas-jelas tidak dirancang untuk itu. Garrik datang membawa arang dan tinggal untuk menandai titik-titik struktur batu yang dia tahu dari tiga puluh tahun menggali fondasi.
Pak Weller membuat kerangka kayu untuk menegakkan peta itu di dinding waktu kami kehabisan ruang lantai.
Pip Harlan menandai lokasi setiap rumah dengan lingkaran kecil dan menuliskan nama keluarganya di sebelahnya, karena dia hafal semuanya, dan tidak ada satu pun dari kami yang menyadari betapa berguna itu sampai dia selesai.
Dan pada hari keenam, kami punya sesuatu.
Rencana evakuasi. Tiga jalur, bukan satu. Titik kumpul di gereja dan balai kota dan bengkel Garrik—tiga bangunan dengan fondasi batu terdalam di kota.
Formasi Empat direvisi jadi Formasi Lima: dua sayap, satu garis tahan, dan dua kelompok pembawa yang tugasnya cuma satu—mengangkut orang yang tidak bisa berjalan.
“Ini bukan formasi tempur,” kata Mira, memandangi kertasnya.
“Bukan.”
“Ini formasi mundur.”
“Iya.”
Dia menatapku.
“Kau tidak berencana kami menang.”
“Aku berencana kalian hidup,” kataku.
Dan itu, kalau aku jujur, adalah kalimat pertama dari sesuatu yang akan meledak tiga hari kemudian.
Tapi sebelum itu, ada hari Kamis.
Aku ingin mencatat hari Kamis ini karena itu satu-satunya hari yang benar-benar tenang di antara semuanya, dan karena aku memikirkannya lebih sering daripada hampir semua hal lain dalam hidupku.
Dia datang pukul empat.
Dan dia membawa sesuatu.
Sebuah bungkusan kain, dipegang dengan dua tangan, dengan cara yang membuatku langsung waspada karena aku sudah melihat orang membawa Artifact rusak dengan cara yang sama persis selama tiga tahun.
“Apa itu?”
“Duduk,” katanya.
“Mira—”
“Duduk di kursi rotan, Noel.”
Aku duduk di kursi rotan.
Aku belum pernah duduk di kursi rotan. Tiga tahun. Kursi itu punya posisi yang salah dari konter dan aku selalu berdiri atau duduk di bangku, dan duduk di sana rasanya seperti memakai sepatu orang lain.
Dia meletakkan bungkusan itu di konter dan membukanya.
Sebuah teko.
Bukan Teapot Mode. Teko sungguhan—tanah liat, kecil, dengan glasir cokelat yang tidak rata dan pegangan yang jelas-jelas dibuat oleh seseorang yang belum pernah membuat pegangan teko.
“Aku membuatnya,” katanya.
“Kau membuat teko.”
“Ollan mengajariku. Dia punya tempat pembakaran di belakang rumahnya—rumah barunya, yang dibangun ulang.” Dia mengangkat dagunya, defensif. “Butuh tiga percobaan. Dua pecah waktu dibakar.”
Aku memegang teko itu.
Beratnya tidak seimbang. Dasarnya sedikit miring, jadi ia berdiri dengan kemiringan sekitar tiga derajat. Glasirnya menumpuk di satu sisi.
Ini benda paling jelek yang pernah kupegang di tokoku sendiri.
“Ini bagus,” kataku.
“Jangan bohong.”
“Aku tidak—”
“Noel.” Dia melipat tangannya. “Aku menghabiskan sembilan hari membuat teko yang berdiri miring. Aku tahu itu berdiri miring. Ollan bilang itu berdiri miring sebelum dia membakarnya dan aku bilang bakar saja.”
Aku memutar teko itu di tanganku.
“Kenapa kau membuatnya?” tanyaku.
Dan wajahnya berubah.
“Karena kau selalu menyeduh,” katanya.
Aku mengangkat kepalaku.
“Seratus dua puluh empat hari Kamis,” katanya. “Ditambah semua hari lain sejak itu. Kau selalu menyeduh, kau selalu menaruh cangkir di depanku, kau selalu tahu takarannya.”
Dia mengalihkan pandangan ke rak alat.
“Dan aku tidak pernah sekali pun membuatkanmu apa pun,” katanya.
Dia menyeduh tehnya.
Aku duduk di kursi rotan—kursiku sendiri, di tokoku sendiri, di posisi yang salah dari konter—dan menonton Knight-Captain Hollowbrook menyeduh teh dengan ketelitian seseorang yang sedang menjinakkan bahan peledak.
Air dituang. Terlalu panas; aku bisa melihat uapnya.
Daun teh dimasukkan. Terlalu banyak—sekitar tiga kali takaran, karena dia jelas-jelas berpikir lebih banyak berarti lebih baik.
Diaduk.
Kau tidak mengaduk teh yang sedang diseduh. Itu memecah daunnya.
Didiamkan.
Terlalu lama. Jauh, jauh terlalu lama—aku menghitung empat menit dua puluh detik, dan Earl Grey mulai pahit setelah tiga.
Aku tidak mengatakan satu kata pun.
Dia menuang ke cangkir dan meletakkannya di meja kecil di sampingku dengan gerakan yang sangat hati-hati.
Warnanya seperti kayu basah.
“Minum,” katanya.
Aku mengangkatnya.
Dia berdiri di sana dengan kedua tangan di sisi tubuhnya, punggung tegak, seperti orang yang menghadapi hukuman.
Aku minum.
Aku ingin sangat, sangat jujur tentang rasa teh itu.
Rasanya seperti seseorang merebus kulit pohon.
Pahitnya bukan pahit teh—itu pahit tanin yang keluar dari daun yang disiksa terlalu lama di air terlalu panas, dan ia menempel di belakang lidah dengan cara yang membuat rahangku berkontraksi.
Ada juga rasa logam, entah dari mana.
Dan gulanya—dia memberiku gula, karena dia berpikir semua orang minum seperti dia—dua sendok penuh, yang bertemu dengan pahit itu dan menghasilkan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada kalau keduanya berdiri sendiri.
Aku menelannya.
“Enak,” kataku.
Wajahnya menampilkan seluruh proses berpikirnya secara berurutan: lega, curiga, dan lalu kemarahan yang perlahan.
“Bohong.”
“Tidak.”
“Noel.”
“Enak,” kataku lagi, dan minum lagi.
“Kau berhenti bernapas waktu menelan.”
“Aku tidak—”
“Aku melihatnya!” Dia melangkah maju. “Berikan padaku. Aku akan mencobanya sendiri—”
Aku menarik cangkir itu menjauh.
Kami berdua membeku.
“Noel.”
“Tidak.”
“Berikan cangkirnya.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Dan aku, yang sudah lima tahun tidak pernah kehilangan susunan kalimat kecuali di depan orang ini, berkata:
“Karena kalau kau mencobanya kau akan membuangnya.”
Ruangan itu jadi sunyi.
Aku memegang cangkir teh terburuk yang pernah dibuat manusia dan aku tidak menurunkannya.
“Mira,” kataku. “Kau menghabiskan sembilan hari membuat teko. Kau memecahkan dua. Kau pergi ke rumah Ollan—yang rumahnya baru dibangun ulang tiga minggu lalu karena runtuh, dan yang jelas punya seribu urusan lebih penting—dan kau minta diajari membuat teko.”
Aku minum lagi. Aku tidak berhenti bernapas kali ini, karena aku sudah siap.
“Dan kau melakukan semua itu,” kataku, “karena selama tiga tahun aku menuang cangkir kedua dan berbohong bahwa itu kebetulan.”
Aku menghabiskannya.
Sampai tetes terakhir. Butuh empat tegukan dan aku akan mengingat setiap tegukan sampai aku mati.
Aku meletakkan cangkir kosong itu di meja kecil.
“Sekarang,” kataku, “tanya aku lagi apakah itu enak.”
Dan Mira Valen berdiri di tengah tokoku dengan wajah yang perlahan runtuh dari kemarahan jadi sesuatu yang lain sama sekali, dan lalu dia berjalan ke kursi rotan dan berlutut di depannya dan menekan dahinya ke lututku.
Aku meletakkan tanganku di kepalanya.
Kami tinggal seperti itu untuk waktu yang cukup lama.
“Tehnya buruk sekali,” katanya, teredam.
“Iya.”
“Sangat buruk.”
“Sangat,” kataku.
“Aku akan belajar lagi.”
“Aku akan meminumnya lagi.”
Dia mengangkat wajahnya. Matanya basah dan dia jelas-jelas marah pada dirinya sendiri karena itu.
“Setiap kali?”
“Setiap kali,” kataku.
Aku menyimpan teko itu.
Aku ingin mencatat di mana, karena ini penting untuk apa yang terjadi nanti.
Aku menaruhnya di rak paling atas di belakang konter—rak tempat aku menyimpan alat-alat yang paling jarang dipakai dan paling tidak boleh rusak. Rak yang paling jauh dari pintu, paling jauh dari jendela, di dinding batu yang berbagi fondasi dengan rumah sebelah.
Bukan karena aku akan memakainya.
Karena kalau sesuatu terjadi pada tokoku, itu adalah tempat terakhir yang akan runtuh.
Mira melihatku melakukannya.
Dia tidak mengatakan apa pun.
Tapi malam itu, waktu dia pulang ke barak, dia berhenti di ambang pintu—tentu saja di ambang pintu—dan berkata tanpa menoleh:
“Rak paling atas.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Kau tahu kenapa,” kataku.
Dan dia berdiri di sana selama sekitar tiga detik, dan lalu dia pergi tanpa mengatakan apa pun lagi, dan aku memadamkan lampu dan duduk di kursi rotan yang sekarang ternyata punya posisi yang sangat bagus dari konter kalau kau duduk di dalamnya cukup lama.
Getaran malam itu berlangsung lima puluh dua detik.
Aku duduk di kursi rotan dan merasakannya, dan aku tidak berdiri.
Cangkir di konter bergerak. Kaleng minyak di rak bawah bergemerincing dan salah satunya jatuh. Debu turun dari balok langit-langit dalam garis-garis tipis yang bisa kulihat di cahaya lampu jalan lewat jendela.
Rak paling atas tidak bergerak sama sekali.
Aku memandanginya sampai getarannya berhenti.
“Ia sudah di tingkat berapa,” kataku pada ruangan gelap.
Dan yang datang bukan angka.
Yang datang adalah sebuah rasa jarak yang sangat pendek—seperti seseorang yang berbicara padamu dari balik satu dinding, bukan dari seberang kota.
Aku menutup mataku.
“Satu tingkat,” kataku.
Diam.
“Berapa hari?”
Dan payung di sudut ruangan, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya.
Ia bergerak.
Cuma sedikit—ia meluncur turun sekitar dua sentimeter di dinding, seperti benda yang menggeser posisi berdiri, dan berhenti dengan gagangnya sedikit lebih condong ke arah pintu.
Ke arah utara.
Ke arah barak garnisun di seberang alun-alun.
Aku berdiri dari kursi rotan.
“Baik,” kataku pelan. “Aku mengerti.”