Chapter One
Toko di Ujung Jalan Hujan
Gungnir: The First Arms
POV: Noel
Jumlah kata: 2.284
Hujan di Hollowbrook selalu datang pukul empat sore, dan selalu pergi pukul lima. Aku tidak tahu apakah itu kebiasaan langit atau kebiasaan kota ini. Setelah tiga tahun tinggal di sini, aku sudah berhenti membedakan keduanya.
Aku sedang menyeka minyak dari sebilah pisau dapur milik Bu Hensley ketika lonceng di atas pintu berbunyi. Bukan bunyi yang biasa. Lonceng itu punya dua nada: satu untuk orang dewasa yang mendorong pintu dengan yakin, dan satu lagi—yang lebih ragu, lebih pelan, seperti pintu yang dibuka sedikit demi sedikit oleh seseorang yang belum memutuskan apakah dia benar-benar ingin masuk.
Yang barusan itu nada kedua.
Aku tidak langsung mengangkat kepala. Dari pengalaman, orang yang membuka pintu seperti itu butuh waktu beberapa detik untuk mengumpulkan keberanian, dan tatapan langsung biasanya menghancurkan sisa keberanian yang mereka bawa.
Jadi aku terus menyeka pisau.
“Selamat sore,” kataku ke arah bilah di tanganku. “Tokonya buka. Silakan masuk, di luar sebentar lagi hujan.”
Terdengar langkah kecil. Sangat kecil. Lantai kayu toko ini berdecit di tiga tempat berbeda—dekat pintu, di depan rak, dan tepat sebelum konter—dan aku mendengar ketiganya berbunyi berurutan dengan jeda yang panjang di antaranya.
Barulah aku mengangkat wajah.
Seorang anak laki-laki berdiri di depan konterku. Mungkin sepuluh tahun. Rambutnya cokelat berantakan, jaketnya kebesaran, dan lututnya kotor dengan cara yang hanya bisa dicapai anak-anak yang menghabiskan sore di lapangan belakang gereja. Dia memeluk sesuatu di dadanya, dibungkus kain lap dapur, seperti orang yang membawa burung terluka.
“Selamat sore,” kataku lagi, kali ini padanya.
“Se-selamat sore.” Dia menelan ludah. “Ini... toko yang bisa memperbaiki Artifact, ya?”
“Ini toko yang mencoba memperbaiki Artifact,” kataku. “Kadang berhasil.”
Dia tidak tersenyum. Anak-anak biasanya tersenyum untuk lelucon seburuk itu. Berarti dia sedang gugup betul.
“Namaku Noel.” Aku meletakkan pisau Bu Hensley di rak tunggu. “Namamu?”
“Pip. Pip Harlan.”
“Baiklah, Pip Harlan.” Aku menepuk konter kayu di depanku pelan. “Letakkan di sini.”
Dia tidak bergerak.
Aku menunggu. Ada satu hal yang kupelajari dari pekerjaan ini: senjata seseorang adalah jiwanya yang dipadatkan, dan menyerahkannya ke tangan orang asing itu sama dengan membuka dada. Orang dewasa menutupinya dengan basa-basi. Anak-anak tidak bisa. Mereka cuma berdiri diam sambil memeluk kain lap dapur.
“Aku tidak akan tertawa,” kataku.
Kepalanya menunduk lebih dalam. “Semua orang tertawa.”
“Aku bukan semua orang. Aku cuma satu orang, dan aku sedang tidak ingin tertawa hari ini.”
Hening beberapa detik. Lalu, dengan gerakan yang terlalu hati-hati untuk anak seusianya, Pip meletakkan bungkusan itu di atas konter dan membuka kainnya lapis demi lapis.
Di dalamnya ada sendok sup.
Sendok sup logam, gagang panjang, cekungan lebar—jenis yang tergantung di dapur mana pun di kota ini. Warnanya kelabu redup. Dan di pangkal gagangnya, ada retakan tipis memanjang sekitar empat sentimeter, seperti garis rambut yang digambar dengan pisau.
Aku tidak berkata apa-apa selama beberapa saat.
“Manifestasi-ku minggu lalu,” kata Pip cepat, seolah kalau dia mengucapkannya cukup cepat, kalimat itu akan lewat begitu saja. “Umurku baru sepuluh, tapi kata Bibi Marta kadang Manifestation datang lebih awal kalau darahnya kuat, dan aku pikir—aku pikir mungkin punyaku bakal pedang, atau setidaknya pisau, tapi ternyata—”
Dia berhenti.
“Ternyata sendok,” kataku.
“Ternyata sendok.” Suaranya nyaris tidak terdengar.
Aku menarik laci kedua di bawah konter dan mengeluarkan sepasang sarung tangan katun putih. Aku memakainya, satu per satu, mengencangkan pergelangan dengan telaten. Sarung tangan itu bersih. Aku menyimpannya khusus.
Pip mengangkat wajah, bingung.
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku akan memeriksa Artifact-mu,” kataku. “Aku tidak menyentuh Artifact orang lain dengan tangan telanjang. Itu tidak sopan.”
“Tapi itu cuma—”
“Pip.” Aku menatapnya. “Di ruangan ini, tidak ada kata ‘cuma’.”
Dia menutup mulut.
Aku mengangkat sendok itu. Ringan. Terlalu ringan untuk logamnya—tanda bahwa massa sebenarnya tersimpan di tempat lain, di sisi jiwa. Aku memutarnya perlahan di bawah lampu gantung, membiarkan cahaya jatuh menyusuri lengkung cekungannya.
Dan sesuatu yang lama, sesuatu yang tidur di belakang tengkukku, mengangkat kepalanya sedikit.
Kau lihat? — bukan suara, bukan kata. Cuma perhatian. Semacam sensasi ketika seseorang di ruangan yang sama denganmu menoleh ke arah yang sama.
Aku mengabaikannya.
“Retakan struktural,” kataku pada Pip. “Bukan di logam. Di dalam. Kau menjatuhkannya?”
“Tidak!” Lalu, lebih pelan: “Aku... memukulkannya ke batu. Di lapangan. Aku pikir kalau kupukul-pukulkan cukup keras, mungkin bentuknya bisa berubah jadi sesuatu yang lain.”
Aku berhenti memutar sendok itu.
Ada beberapa jenis kalimat yang kudengar di toko ini, dan hampir semuanya terdengar seperti kalimat tentang senjata padahal bukan. Yang barusan itu salah satunya.
“Berapa lama kau memukulkannya?” tanyaku.
“Dua hari.”
“Dan retakannya muncul di hari kedua?”
Dia mengangguk. Matanya mulai berkaca-kaca, dan dia menggosoknya cepat dengan lengan jaket, marah pada dirinya sendiri karena itu.
Aku meletakkan sendok itu kembali ke atas kain, lalu menariknya lebih dekat ke arahku dengan dua jari.
“Kalau begitu, kabar baik,” kataku. “Retakannya masih baru dan bersih. Aku bisa memperbaikinya.”
Pip mengerjap. “Sungguh?”
“Sungguh.” Aku bangkit dari kursi dan berjalan ke rak alat di dinding belakang. “Tapi ada syaratnya.”
“Aku... aku tidak punya banyak uang—”
“Bukan uang.” Aku mengambil kotak kayu tipis dan botol kecil berisi minyak bening. “Syaratnya, kau duduk di kursi itu dan mendengarkan satu cerita membosankan dari orang tua sampai selesai. Tanpa menguap.”
Dia melirik kursi rotan di samping perapian, lalu ke arahku, lalu ke kursi lagi.
“Kau tidak tua.”
“Aku dua puluh tujuh.”
“Itu memang tua.”
“Duduk, Pip.”
Dia duduk.
Aku menyalakan lampu kerja kedua, menariknya sampai menyorot konter, dan menjepit sendok itu pada penyangga beludru. Lalu aku membuka kotak kayu dan mengeluarkan sebatang alat setipis jarum jahit.
“Cerita membosankannya begini,” kataku sambil memiringkan sendok mencari sudut retak. “Dulu, jauh sebelum kota ini ada, aku pernah melihat sebuah duel di ibu kota. Duelist Court, arena besar, penonton sepuluh ribu orang. Salah satu petarungnya membawa Artifact berbentuk pedang besar—Noble rank, sepanjang badanku, berhias emas di gagangnya. Cantik sekali. Semua orang bertaruh untuknya.”
“Dia menang?”
“Dia kalah,” kataku. “Dalam empat puluh detik.”
Alatku menemukan sudutnya. Aku menekan sangat pelan. Tidak ada bunyi apa pun, tapi getarannya naik lewat sarung tangan sampai ke tulang jariku, dan aku menahannya di sana.
“Lawannya membawa Artifact berbentuk paku payung,” lanjutku. “Sebesar ibu jari. Common rank. Orang-orang menertawakannya waktu dia masuk arena.”
Pip mencondongkan badan ke depan. “Bagaimana bisa dia menang?”
“Karena dia sudah dua puluh tahun bertanya pada dirinya sendiri: apa yang bisa dilakukan sebuah paku, dan apa yang tidak?” Aku memutar alatku seperempat lingkaran. “Sementara lawannya sudah dua puluh tahun bertanya: apa yang bisa dilakukan sebuah pedang besar? Dan pertanyaan itu terlalu mudah. Jawabannya sudah jelas dari awal. Dia tidak pernah benar-benar berpikir lagi setelahnya.”
Retakan itu menyerah.
Aku tidak bisa menjelaskannya dengan cara lain. Aku tidak menempanya, tidak mengelasnya, tidak menambal apa pun. Aku cuma menyentuh titik yang tepat dan menunggu sampai benda itu memutuskan untuk kembali utuh—seperti anak kecil yang berhenti merajuk karena akhirnya ada orang dewasa yang duduk cukup lama di sebelahnya.
Garis rambut di gagang sendok itu menutup dari ujung ke ujung. Cahaya lampu berlari sekali di sepanjang logamnya.
Di belakang tengkukku, sesuatu meletakkan kepalanya kembali dan tidur lagi.
“Selesai,” kataku.
Pip melompat dari kursi. “Secepat itu?!”
“Retakannya kecil. Kalau kau menunggu sebulan lagi, ceritanya lain.”
Dia meraih sendoknya dengan dua tangan, memutarnya, mengangkatnya ke lampu, meraba pangkal gagangnya dengan ibu jari berkali-kali seperti tidak percaya.
Lalu wajahnya berubah. Sesuatu yang tadi tertahan akhirnya keluar.
“Tapi tetap saja sendok,” katanya lirih.
“Iya,” kataku. “Tetap sendok.”
“Anak-anak lain di lapangan punya belati. Ada yang punya busur. Adam bahkan dapat Rare rank—kapak kecil, tapi Rare.” Dia menunduk. “Mereka bilang aku bakal jadi koki. Bukan Bearer.”
Aku melepas sarung tanganku, satu per satu, dan meletakkannya terlipat rapi di samping kotak kayu.
“Pip,” kataku. “Boleh aku bertanya sesuatu?”
Dia mengangguk.
“Kapan kau bisa membuat sendok itu muncul? Maksudku, yang pertama kali. Kau sedang apa waktu Manifestation-mu datang?”
Dia diam agak lama.
“Aku sedang membawa panci,” katanya akhirnya. “Bibi Marta masak sup untuk penginapan, dan panci besarnya mau tumpah kena sikuku, dan aku... aku cuma mau menahannya. Terus tanganku ada sendoknya.”
Aku mengangguk pelan.
“Artifact adalah jiwa yang dipadatkan,” kataku. “Bentuknya bukan hadiah undian. Bentuknya adalah jawaban atas satu pertanyaan yang jiwamu tanyakan pada dirinya sendiri sebelum kau sempat berpikir.” Aku menopang dagu dengan satu tangan. “Pertanyaan Adam mungkin: bagaimana caraku menang? Pertanyaanmu waktu itu, kalau aku menebak, bunyinya: bagaimana caranya supaya tidak ada yang tumpah?”
Pip menatapku.
“Itu bukan pertanyaan yang lebih rendah,” kataku. “Itu cuma pertanyaan yang lebih sulit.”
Dia tidak berkata apa-apa. Tapi jarinya berhenti meraba retakan yang sudah tidak ada.
“Dan satu hal lagi,” tambahku, bangkit untuk mengambil ketel dari tungku kecil di belakangku. “Senjata terkuat yang pernah kulihat seumur hidupku bentuknya juga bukan pedang.”
“Bentuknya apa?”
Aku menuang air panas ke dalam teko.
“Sesuatu yang orang bawa waktu hujan,” kataku.
Pip mengernyit, mencoba mengurai itu, gagal, lalu memutuskan bahwa orang dewasa memang suka bicara aneh dan itu bukan masalahnya.
Dia membungkus sendoknya kembali dengan kain lap dapur—kali ini lebih longgar, tidak seperti membawa burung terluka lagi. Lebih seperti membawa roti hangat.
“Terima kasih, Paman Noel.”
“Kak.”
“Terima kasih, Kak Noel.”
Lonceng di atas pintu berbunyi dengan nada pertama waktu dia keluar. Nada yang yakin.
Aku berdiri di sana beberapa saat, memandangi pintu yang menutup pelan-pelan dengan sendirinya.
Di luar, tepat pukul empat, hujan mulai turun.
Aku menuang teh ke dalam cangkir.
Lalu—entah kenapa, kebiasaan bodoh yang belakangan ini makin sering kulakukan—aku menuang cangkir kedua dan meletakkannya di sisi lain konter. Menghadap kursi kosong.
Air hujan mengalir turun di kaca jendela. Lampu-lampu jalan Hollowbrook menyala satu per satu, kabur di balik air, seperti lilin yang ditenggelamkan.
Besok hari Kamis.
Aku tidak tahu kenapa pikiran itu muncul, atau kenapa aku langsung mengecek stok gula di laci sambil memikirkannya. Ada seseorang yang datang tiap Kamis untuk urusan izin dan pemeriksaan resmi, dan orang itu tidak suka tehnya pahit, dan aku kebetulan tahu takarannya dua sendok penuh, bukan satu setengah.
Aku menutup laci dan memutuskan untuk tidak menyelidiki alasannya lebih jauh.
Aku membereskan konter. Melipat kain. Meniup debu dari penyangga beludru. Mengembalikan kotak kayu ke rak.
Lalu aku berjalan ke sudut ruangan, ke balik konter, tempat aku selalu meletakkannya.
Sebuah payung hitam bersandar di dinding.
Payung tua. Kainnya kusam, jahitannya sudah dijahit ulang di dua tempat, dan warnanya sudah lama bukan hitam pekat lagi melainkan abu-abu gelap yang lelah. Pelanggan yang melihatnya biasanya mengira itu payung toko—benda yang tergeletak di sana karena tidak ada tempat lain, seperti sapu atau gantungan mantel.
Tidak ada yang pernah bertanya tentangnya. Tiga tahun, tidak sekali pun.
Aku berjongkok dan meluruskannya sedikit agar tidak miring.
Getaran itu datang lagi. Sangat pelan. Dari bawah lantai, dari bawah kota, dari kedalaman tempat orang-orang tua di sini bilang senjata-senjata lama dikubur setelah pemiliknya mati. Cangkir di konter bergetar sekali, permukaan tehnya beriak, lalu tenang lagi.
Aku menunggu. Getaran itu tidak kembali.
“Tidur,” kataku pelan. Aku tidak yakin pada siapa.
Lampu di atasku berayun sedikit, dan cahayanya bergeser menyusuri gagang payung itu—kayu gelap yang licin karena tangan, dengan ukiran yang sudah nyaris habis termakan waktu. Sebagian besar orang tidak akan melihatnya. Sebagian besar orang tidak pernah cukup dekat.
Tapi cahayanya jatuh dengan sudut yang pas, dan untuk satu detik, huruf-huruf tua itu muncul dari kayu seperti tulisan di dasar kolam:
GUNGNIR
Aku menegakkan badan, mematikan lampu kerja, dan pergi menghabiskan tehku sebelum dingin.
Di luar, hujan berhenti tepat pukul lima.