← Chapters Ch. 8 / 40

Chapter Eight

Yang Kulihat Hari Itu

Gungnir: The First Arms

POV: Mira

Jumlah kata: 2.394


Aku menulis laporan itu tiga kali.

Yang pertama jujur. Aku menulis bahwa Rare Stray kelas Bellmaw runtuh setelah seorang warga sipil menyentuh rongga dalamnya dengan sebuah tongkat, dan bahwa warga sipil yang sama sebelumnya menahan hantaman penuh makhluk itu dengan sebuah payung.

Aku membacanya sekali. Lalu aku membakarnya di tungku ruang jaga.

Bukan karena bohong. Karena itu terlalu benar, dan aku tahu persis apa yang terjadi pada laporan seperti itu setelah sampai di ibu kota: pertanyaan, lalu utusan, lalu orang-orang berjubah bagus yang datang ke kota kecil dan tidak pernah pergi dengan tangan kosong.

Yang kedua terlalu kosong. Aku menulis “runtuh akibat sebab tidak diketahui” dan itu justru mengundang orang datang mencari tahu.

Yang ketiga yang kukirim.

Makhluk runtuh akibat kegagalan struktural internal. Tidak ada korban jiwa. Tiga knight cedera ringan.

Aku menandatanganinya sebagai Knight-Captain Hollowbrook, menyegelnya dengan lilin, dan menyerahkannya ke kurir hari Jumat pagi.

Itu pertama kalinya dalam tujuh tahun aku berbohong dalam dokumen resmi.

Aku memikirkannya sepanjang hari, dan yang membuatku tidak bisa tidur bukan kebohongannya.

Yang membuatku tidak bisa tidur adalah betapa mudahnya keputusan itu kuambil.


Wali Kota Hobbes membaca salinannya di kantornya hari Sabtu.

Dia orang tua kecil dengan kacamata bulat dan kebiasaan mengetuk-ngetuk meja dengan buku jarinya waktu berpikir. Sudah dua puluh tahun jadi wali kota. Dia yang menandatangani surat pengangkatanku waktu aku dua puluh dua, dan dia yang berdiri di sebelahku di pemakaman ayahku waktu aku tujuh belas.

Dia membaca laporan itu sekali. Dua kali.

Lalu dia meletakkannya, melepas kacamatanya, dan membersihkannya dengan sapu tangan.

“Kegagalan struktural internal,” katanya.

“Ya, Pak.”

“Pada Stray Arms.”

“Ya, Pak.”

Ketukan buku jarinya di meja. Tiga kali. Berhenti.

Aku sudah menyiapkan tiga argumen. Aku bahkan sudah menghafal urutannya.

“Baik,” katanya, dan memasukkan laporan itu ke map.

Aku berkedip. “...Baik?”

“Kau kaptennya, Mira. Kau yang di sana.” Dia memasang kacamatanya kembali. “Kalau kau bilang begitu bunyinya, ya begitu bunyinya.”

“Pak, dengan hormat, Anda bahkan tidak bertanya—”

“Aku dua puluh tahun jadi wali kota kota ini,” katanya, “dan ada beberapa hal yang tidak kutanyakan karena aku tidak ingin tahu jawabannya secara resmi. Itu bukan kemalasan. Itu strategi.”

Dia menatapku dari balik kacamatanya, dan untuk sesaat, orang tua kecil itu terlihat sangat jauh dari kecil.

“Kau tahu kenapa Hollowbrook ada di sini?” tanyanya.

“Karena tambang timah.”

“Tambangnya kering enam puluh tahun lalu.” Dia bersandar. “Kota ini masih di sini karena ada sesuatu di bawahnya yang lebih baik dijaga daripada ditinggalkan. Dan menjaga sesuatu, Kapten, kadang berarti tidak memberi tahu orang-orang di ibu kota apa persisnya yang sedang kau jaga.”

Bulu tengkukku berdiri.

“Pak—”

“Bagaimana kabar Tuan Ashford?” tanyanya, dan senyumnya jadi ramah lagi, seolah lima detik terakhir tidak pernah terjadi. “Aku dengar tokonya sepi hari Kamis kemarin.”

Aku berdiri. Terlalu cepat. Kursinya berdecit.

“Saya harus memeriksa jadwal patroli, Pak.”

“Tentu saja,” kata Wali Kota Hobbes.


Aku kembali ke alun-alun malam itu dengan lentera.

Ini kebiasaan buruk yang kupelajari dari ayahku: kalau sesuatu tidak masuk akal, kembali ke tempatnya, sendirian, waktu tidak ada orang. Tempat kejadian bicara lebih jujur waktu tidak ada yang menonton.

Bangkai Bellmaw sudah diangkut ke Graveyard tiga hari lalu—prosedur standar, Stray dikembalikan ke bawah. Yang tersisa di alun-alun cuma bekas.

Aku mulai dari pilar air mancur tempat punggungku menghantam.

Retak. Tiga garis, sedalam ibu jari. Aku menempelkan punggungku di sana untuk memastikan tingginya cocok. Cocok.

Lalu aku berjalan ke titik di depannya.

Batu jalan di sana bersih.

Itu masalahnya. Bersih.

Dua setengah meter logam cor jatuh dengan seluruh beratnya ke titik ini. Aku melihatnya. Aku di bawahnya. Batu jalan di seluruh alun-alun ini retak di enam tempat karena lompatan-lompatan makhluk itu—aku sudah memetakannya semua sore tadi.

Kecuali di sini.

Aku berjongkok dan menurunkan lentera.

Ada lingkaran.

Bukan garis yang digambar. Perbedaan warna. Sebuah lingkaran dengan diameter kira-kira dua meter, di mana batu jalannya lebih... bersih. Lebih kering. Debu tiga hari sudah menutupi seluruh alun-alun, dan di dalam lingkaran ini debunya jatuh dengan pola yang berbeda, seolah selama beberapa detik pada malam itu ada permukaan lain yang menutupi tanah dan debu belum sempat menyamakan diri lagi.

Di tengah lingkaran, ada satu titik kecil di mortar antara dua ubin.

Bekas ujung tongkat.

Sama persis dengan yang kutemukan setelah serangan Ironrat.

Aku duduk di batu jalan, di tengah alun-alun kosong pukul sebelas malam, dengan lentera di sampingku, dan aku menekan telapak tanganku ke lingkaran itu.

Dan aku mengingatnya lagi.


Ini yang tidak masuk ke laporan mana pun.

Aku ingat menghantam pilar. Aku ingat dunia berputar dan rasa panas di punggung dan kesadaran yang sangat tenang, sangat jernih, bahwa aku tidak akan sempat bangun.

Aku bukan orang yang panik menjelang mati. Aku sudah memikirkannya berkali-kali sejak umur tujuh belas. Ayahku mati sambil berdiri di depan sesuatu, dan aku selalu menganggap itu cara yang benar untuk mati, dan malam itu aku ingat berpikir: oh. Sekarang. Baiklah.

Lalu tidak ada apa-apa lagi di atasku.

Bukan cahaya. Bukan ledakan. Bukan salah satu dari hal-hal besar yang kau bayangkan.

Yang ada cuma hitam—kain hitam, terbentang, sangat dekat, dengan delapan garis jari-jari memancar dari titik tengah seperti roda kereta.

Dan hujan berhenti.

Bukan berhenti di seluruh kota. Aku bisa melihatnya di luar, dua meter dari wajahku: air masih turun, membentur batu, memantul. Sebuah dinding air melingkari kami dan tidak satu tetes pun masuk.

Kering. Di tengah semuanya, sepotong dunia yang kering.

Dan di sebelahku, berjongkok dengan satu lutut di batu, memegang gagang payung dengan telapak kanan seolah sedang menahan pintu supaya tidak ditutup angin, ada seorang lelaki yang menjual reparasi Artifact dan menyeduh tehku dengan dua sendok gula.

Dua setengah meter logam cor jatuh menimpa kain itu.

Tangannya tidak bergerak.

Bukan tidak goyah. Tidak bergerak. Aku memperhatikan pergelangannya—aku knight, aku hafal seperti apa lengan yang menahan beban—dan tidak ada apa pun di sana. Tidak ada ketegangan, tidak ada urat, tidak ada perpindahan berat.

Seolah bebannya tidak pernah sampai ke tangannya.

Seolah dunia diberi tahu bahwa hal semacam itu tidak terjadi di bawah payung ini, dan dunia setuju.

Lalu dia menoleh padaku.

Kami sedekat itu. Aku bisa melihat warna matanya—kelabu, lebih terang dari yang kukira—dan lumpur di rahangnya dan bahwa dia sama sekali tidak terengah.

Dan dia mengatakan sesuatu.

Tidak ada suaranya. Bibirnya bergerak dan tidak ada yang keluar dan aku, yang berbaring di batu basah dengan punggung yang mungkin patah, memutuskan bahwa aku harus tahu apa yang dia katakan.

Aku sudah memikirkannya tiga hari.

Jangan bergerak. Itu tebakan yang paling masuk akal.

Tapi bibirnya membentuk dua kata pendek, dan yang kedua diakhiri dengan mulut yang menutup rapat, dan bergerak tidak berakhir seperti itu.

Aku mencoba beberapa kemungkinan di depan cermin. Aku menghabiskan waktu yang memalukan untuk itu.

Ada satu yang cocok.

Aku belum berani mempercayainya.


“Kapten sedang menatap dinding lagi.”

“Ilva, aku bersumpah—”

“Empat menit tiga puluh detik,” kata Ilva dari balik pintu ruang jaga. “Rekor baru. Dane, catat.”

“Kalian sedang bertugas.”

“Kami sedang mengamati situasi keamanan internal.”

Aku memijat pangkal hidungku.

Sudah lima hari sejak malam itu. Lima hari sejak seluruh kota kehilangan suaranya, dan seharusnya itu yang dibicarakan orang-orang.

Ternyata bukan.

Yang dibicarakan orang-orang adalah bahwa Bu Hensley melihat “sesuatu” di alun-alun malam itu. Dan bahwa keponakan pandai besi melihat “semacam kilat hitam”. Dan bahwa Pak Tua Ordway bersumpah dia melihat malaikat, meski Pak Tua Ordway juga bersumpah melihat malaikat waktu dia mabuk di festival panen tahun lalu.

Tidak ada satu pun yang menyebut payung.

Tidak ada satu pun yang menyebut Noel Ashford.

Tiga ratus orang di alun-alun itu, dan yang berdiri di posisi yang benar untuk melihat cuma aku.

“Ilva,” kataku.

“Ya, Kapten.”

“Masuk sini.”

Pintu terbuka. Ilva masuk dengan wajah kelewat cerah orang yang mengira dia akan dimarahi dengan cara yang menyenangkan.

“Tuan Ashford,” kataku. “Kau membeli minyak di tokonya minggu lalu.”

Senyumnya melebar. “Ya, Kapten.”

“Selama tiga tahun kau berpatroli di Jalan Lorne.” Aku menatapnya. “Pernahkah kau melihatnya tanpa payung itu?”

Senyum Ilva berhenti melebar.

Dia berpikir. Sungguhan berpikir—aku bisa melihat matanya bergerak menyusuri ingatan, dan aku melihat detik ketika dia menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dia anggap penting.

“...Tidak,” katanya pelan. “Tidak pernah.”

“Bahkan di dalam tokonya?”

“Dia menyandarkannya di dinding di belakang konter. Selalu di tempat yang sama.” Ilva mengerutkan kening. “Kapten, apa aku dalam masalah?”

“Tidak.” Aku berdiri dan mengambil sarung tanganku. “Kau bertugas malam ini?”

“Sampai fajar.”

“Bagus. Aku keluar.”

“Ke mana?”

Aku sudah di pintu.

“Inspeksi,” kataku.

Aku bisa mendengar Dane dan Ilva menahan suara sampai aku tiga langkah menuruni tangga, dan setelah itu mereka tidak menahannya sama sekali.


Aku tidak ke tokonya.

Aku ingin—aku sudah setengah jalan menyusuri Jalan Lorne sebelum aku berhenti di bawah lampu jalan dan berdiri di sana seperti orang tolol.

Karena kalau aku masuk, aku harus bertanya. Dan kalau aku bertanya, dia akan menjawab, dan aku sudah cukup lama melihatnya untuk tahu bahwa dia akan menjawab dengan sesuatu yang sopan dan ringan dan sama sekali tidak menjawab apa pun.

Dan lalu aku akan tahu bahwa dia berbohong padaku. Bukan curiga—tahu.

Aku belum siap untuk itu.

Ini yang membuatku marah pada diriku sendiri: aku Knight-Captain. Ada orang di kotaku yang menyembunyikan sesuatu yang cukup besar untuk menghentikan Rare Stray dengan satu sentuhan. Prosedurnya sudah jelas. Aku hafal prosedurnya. Aku yang menulis ulang manualnya tahun lalu.

Dan aku berdiri di bawah lampu jalan pukul setengah dua belas malam, memilih untuk tidak menjalankannya, karena—

Karena orang itu memperhatikan cara aku menggenggam pedangku.

Karena orang itu menghitung gulaku.

Karena malam itu dia bisa lari. Dia berdiri di tengah alun-alun dengan payung terlipat dan dia bisa lari seperti tiga ratus orang lainnya, dan dia justru berlari ke arah benda setinggi dua setengah meter, dan yang dia lakukan pertama kali bukan menyerang.

Yang dia lakukan pertama kali adalah menutupi kepalaku.

Aku memikirkan kalimat itu terlalu lama di bawah lampu jalan, dan wajahku panas, dan aku bersyukur jalanan itu kosong.

Toko di ujung jalan lampunya masih menyala. Kuning redup di balik kaca.

Aku bisa melihat bayangannya bergerak di dalam—membungkuk di atas konter, mengerjakan sesuatu, seperti biasa, jam setengah dua belas malam seperti orang yang tidak punya alasan untuk tidur.

Aku berdiri di sana selama mungkin dua menit.

Lalu aku menarik napas, memutar tumit, dan berjalan kembali ke barak.

Besok Kamis.

Besok aku akan duduk di kursi rotan yang berdecit dan dia akan meletakkan cangkir dengan dua sendok gula di depanku, dan aku akan bertanya.

Aku akan bertanya dengan benar kali ini. Bukan tentang izin. Bukan tentang rusa.

Dan mungkin dia akan berbohong lagi.

Tapi aku sudah memutuskan sesuatu di bawah lampu jalan itu, dan aku ingin mencatatnya di sini supaya besok aku tidak lupa:

Kalau dia berbohong, aku akan membiarkannya.

Sekali lagi. Cuma sekali lagi.

Karena ada dua kata yang bibirnya bentuk malam itu di bawah payung, di tengah kota yang bisu, dan setiap kali aku mengulanginya di kepalaku, bentuknya selalu sama.

Kau aman.


Aku hampir sampai ke barak waktu tanah bergetar.

Enam detik. Cukup lama sampai lentera di tangan seorang penjaga gerbang berayun dan dia menoleh padaku dengan wajah bertanya.

“Kapten?”

Aku berdiri diam sampai berhenti.

“Catat waktunya,” kataku. “Dan catat semua getaran sebelumnya kalau kalian ingat. Aku mau daftarnya di mejaku besok pagi.”

“Baik, Kapten. Ada apa?”

Aku menatap ke arah alun-alun, ke arah menara jam, ke arah tanah di bawahnya.

“Aku tidak tahu,” kataku jujur. “Tapi aku baru sadar aku sudah tiga bulan merasakan ini dan tidak sekali pun mencatatnya.”