← Chapters Ch. 16 / 40

Chapter Sixteen

Festival Lentera

Gungnir: The First Arms

POV: Mira

Jumlah kata: 2.573


Festival Lentera diadakan setiap tahun pada malam bulan purnama pertama musim panas, dan aku sudah menghadirinya dua puluh lima kali.

Dua puluh dua kali sebagai anak-anak. Tiga kali terakhir sebagai Knight-Captain, yang berarti aku menghabiskan seluruh malam berjalan berkeliling memeriksa lampu, menegur remaja yang mabuk, dan berdiri di pinggir lapangan dengan armor lengkap sambil menonton orang lain bersenang-senang.

Tahun ini Wali Kota Hobbes memanggilku ke kantornya tiga hari sebelumnya.

“Kau tidak bertugas malam festival,” katanya.

“Pak?”

“Aku sudah bicara dengan Dane. Dia yang memimpin pengamanan.” Hobbes membalik halaman di mejanya tanpa mengangkat kepala. “Kau libur.”

“Pak, dengan hormat, saya kapten dan—”

“Kau sudah tiga tahun tidak libur satu hari pun, Mira.” Dia mengangkat kepalanya. “Ayahmu juga begitu. Aku menyesal tidak pernah memaksanya.”

Aku berdiri di kantor itu dengan mulut terbuka setengah.

“Dan,” lanjut Hobbes, kembali ke kertasnya, “Bibi Marta bilang dia sudah menyiapkan sesuatu untukmu, dan aku sarankan kau tidak melawan perempuan itu. Aku sudah mencoba dua puluh tahun.”


“Sesuatu” itu adalah gaun.

Aku menatapnya selama satu menit penuh sebelum aku bisa bicara.

“Bibi.”

“Warnanya biru,” kata Bibi Marta, seolah itu penjelasan.

“Aku tidak punya gaun.”

“Itu sebabnya aku membuatkanmu satu.”

“Aku tidak akan muat. Bahuku—”

“Aku sudah menjahit untuk perempuan di kota ini selama empat puluh tahun,” kata Bibi Marta, “dan aku sudah mengukur bahumu dari seberang ruangan sejak kau umur enam belas. Ganti baju.”

Aku ganti baju.

Dan lalu aku berdiri di depan cermin di kamar penginapan Bibi Marta dan tidak mengenali orang di dalamnya.

Bukan karena aku jadi cantik. Aku tidak akan menulis kebohongan seperti itu. Bahuku tetap terlalu lebar, tanganku tetap berkapalan di tiga tempat, dan ada bekas luka putih tipis di bawah tulang selangka kiriku yang tidak bisa ditutupi apa pun.

Tapi aku tidak memakai armor.

Itu saja. Aku berdiri tanpa dua puluh kilo baja di tubuhku untuk pertama kalinya di depan orang, dan aku menyadari bahwa aku sudah lupa seperti apa bentuk badanku sendiri.

“Rambutnya digerai,” kata Bibi Marta.

“Bibi—”

“Digerai.”

Aku menggeraikannya.

Bibi Marta berdiri di belakangku, memandangi cermin, dan menepuk bahuku sekali.

“Ayahmu akan menangis,” katanya.

Dan lalu dia keluar dari kamar sebelum aku sempat mengatakan apa pun, yang mana adalah kebaikan, karena aku butuh waktu beberapa menit sendirian setelah itu.


Aku berdiri di ujung Jalan Lorne selama enam menit sebelum masuk ke lapangan festival.

Enam menit. Aku menghitungnya, karena aku selalu menghitung.

Bukan karena aku takut. Aku sudah berdiri di depan Noble Stray sepuluh hari lalu dan aku tidak takut selama enam menit itu.

Ini berbeda. Ini jenis takut yang membuat kakimu tidak mau bekerja.

Lapangan festival penuh cahaya. Lentera kertas digantung di tali yang direntangkan antara pohon-pohon, ratusan, warna oranye hangat. Ada meja panjang dengan makanan. Ada tiga pemusik dengan alat musik yang tidak selaras dan tidak ada yang peduli. Anak-anak berlarian dengan lentera kecil di tangan.

Aku menarik napas dan melangkah masuk.

Dan Dane menjatuhkan gelasnya.

Bukan kiasan. Gelas itu jatuh dan pecah dan dia bahkan tidak menunduk melihatnya.

“Kapten?”

“Jangan,” kataku.

“Kapten, itu—”

“Dane.”

“Kau memakai—”

Dane.

Ilva sudah ada di sebelahnya dalam waktu dua detik, dan wajahnya adalah wajah orang yang baru saja menemukan harta karun.

“Kapten,” katanya khidmat, “aku ingin mencatat untuk keperluan taruhan bahwa—”

“Ilva, aku akan menugaskanmu membersihkan kandang kuda selama enam bulan.”

“Sepadan,” kata Ilva.


Aku berkeliling selama satu jam dan tidak menemukannya.

Aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku tidak sedang mencari siapa-siapa. Aku bilang itu berkali-kali, dengan sangat meyakinkan, sambil memeriksa setiap sudut lapangan dua kali.

Orang-orang menyapaku. Bu Hensley memelukku dan menangis sedikit karena “kau mirip sekali ibumu” meski setahuku Bu Hensley tidak pernah bertemu ibuku. Tiga orang bertanya apakah aku sakit karena aku tidak memakai armor.

Lalu Pip menarik ujung gaunku.

“Kak Mira!”

“Hai, Pip.”

“Kak Mira cantik banget,” katanya, dengan ketulusan brutal seorang anak sepuluh tahun. “Kayak orang lain.”

“Terima kasih. Kurasa.”

“Kak Noel di sana.” Dia menunjuk ke arah utara lapangan, ke barisan pohon di dekat sungai kecil. “Dia nggak mau ikut ke tengah. Katanya terlalu ramai.”

Aku berdiri sangat diam.

“Kak Mira?”

“Aku—” Aku berdeham. “Terima kasih, Pip.”

“Aku boleh minta uang buat beli manisan?”

Aku memberinya tiga koin tembaga dan dia kabur sebelum aku sempat menyesalinya.


Dia berdiri di bawah pohon di tepi sungai kecil, memegang gelas yang jelas-jelas belum dia minum, memandangi lentera-lentera di kejauhan.

Payungnya bersandar di batang pohon di sebelahnya.

Aku berjalan mendekat, dan kerikil berbunyi di bawah sepatuku, dan dia menoleh.

Dan berhenti.

Aku ingin mencatat detik ini dengan sangat akurat karena aku akan memikirkannya untuk waktu yang lama.

Noel Ashford berdiri sepuluh hari lalu di tengah alun-alun dan menerima hantaman Noble Stray sepanjang dua puluh meter sebelas kali tanpa memindahkan kakinya satu sentimeter pun.

Malam itu, di bawah pohon di tepi sungai, dia menjatuhkan gelasnya.

Gelas itu tidak pecah—rumputnya tebal—tapi isinya tumpah seluruhnya ke sepatunya, dan dia tidak menyadarinya selama kira-kira empat detik.

“Kapten,” katanya.

“Ashford.”

“Kau—” Dia berhenti. Dia menunduk. Dia melihat gelasnya di rumput. Dia memungutnya. Dia berdiri lagi. “Maaf. Aku—selamat malam.”

“Selamat malam.”

“Kau tidak memakai armor.”

“Aku tahu.”

“Aku tidak pernah—” Dia berhenti lagi.

Dan ini yang membuat sesuatu di dadaku melakukan hal yang sangat tidak profesional: dia benar-benar tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Orang ini. Orang yang berbicara dengan Regalia bearer arogan tanpa berkedip, yang menjawab pertanyaanku selama tiga tahun dengan kalimat sopan yang tidak berisi apa pun, yang tidak pernah sekali pun kehilangan susunan kata-katanya.

“Kau tidak pernah apa?” tanyaku.

Dia menatapku.

“Aku tidak pernah melihatmu tanpa sesuatu di tanganmu,” katanya akhirnya. “Pedang, atau laporan, atau sarung tangan. Selalu ada sesuatu.”

Aku melihat ke tanganku.

Kosong.

“Aneh, ya,” kataku pelan.

“Tidak,” katanya. “Bagus.”

Dan lalu, seolah dia baru mendengar sendiri kata itu keluar dari mulutnya, dia berbalik cepat ke arah sungai dan meminum gelas yang sudah kosong.

Aku memutuskan untuk sangat berbaik hati dan tidak menunjukkan itu padanya.


Kami berdiri di sana selama hampir satu jam.

Kami tidak membicarakan apa pun yang penting. Kami membicarakan lentera—Noel ingin tahu siapa yang membuat kerangkanya, dan aku bilang Pak Weller, dan dia bilang itu masuk akal karena sambungannya sangat rapi.

Kami membicarakan bahwa Dane akhirnya menyerah pada kumisnya dan mencukurnya.

Kami membicarakan bahwa pemusik ketiga jelas-jelas memainkan lagu yang berbeda dari dua lainnya dan tidak ada yang punya hati untuk memberitahunya.

Aku tertawa empat kali.

Aku menghitungnya. Dan aku menyadari, sekitar tawa ketiga, bahwa aku tidak ingat kapan terakhir kali aku tertawa di depan orang tanpa harus memikirkan bahwa aku sedang tertawa di depan orang.

Lalu lonceng menara jam berbunyi sepuluh kali, dan lapangan mulai bergerak.

“Apa itu?” tanya Noel.

“Kau tidak pernah datang ke festival?”

“Tiga tahun aku tutup toko dan tidur.”

Aku menatapnya. “Kau tinggal di kota ini tiga tahun dan tidak pernah melihat pelepasan lenteranya?”

“Aku bukan orang festival.”

“Ashford.” Aku meraih pergelangan tangannya.

Aku ingin sangat jelas: aku tidak merencanakan itu. Tanganku bergerak sebelum aku memutuskan apa pun, dan begitu jari-jariku menutup di sekitar pergelangan tangannya aku menyadari persis apa yang baru saja kulakukan dan bahwa sudah terlambat untuk melepaskannya tanpa membuatnya lebih canggung.

Dia menatap tanganku.

“Ayo,” kataku, dengan suara yang menurutku terdengar sangat normal dan menurut telingaku sendiri terdengar seperti orang tercekik. “Kau harus melihatnya dari lapangan.”

Dan aku menariknya, dan dia ikut.


Ada dua ratus lentera di lapangan itu.

Setiap keluarga membawa satu. Kerangka bambu tipis, kertas minyak, sumbu kecil di dalamnya. Kau menyalakannya, kau memegangnya sampai udara di dalamnya panas, dan kau melepaskannya.

Aku menyalakan dua.

“Aku tidak punya—”

“Aku bawa dua,” kataku. “Aku selalu bawa dua.”

“Kenapa?”

Karena tiga tahun terakhir aku melepaskan satu untuk ayahku dan satu untuk diriku sendiri, dan aku tidak akan mengatakan itu di lapangan penuh orang.

“Cadangan,” kataku. “Kadang ada yang sobek.”

Dia menerima lentera itu.

Dan aku melihat sesuatu yang aneh: dia memegangnya dengan dua tangan, sangat hati-hati, dengan cara yang persis sama seperti dia memegang Artifact orang lain di konternya.

Kertas dan bambu seharga empat koin tembaga.

Sama hati-hatinya.

“Sekarang?” tanyanya.

“Tunggu aba-aba.”

Di tengah lapangan, Wali Kota Hobbes berdiri di atas kotak kayu dan mengangkat tangannya, dan dua ratus orang jadi hening.

“Untuk yang tidak lagi bersama kita,” katanya, “dan untuk yang masih.”

Dan dua ratus lentera naik sekaligus.


Aku sudah melihat ini dua puluh lima kali dan aku masih menahan napas.

Cahaya oranye naik dari tanah dalam gelombang, ratusan titik bergerak ke atas dengan kecepatan yang berbeda-beda, berputar pelan, menyebar. Lapangan yang tadinya gelap jadi terang dari bawah, lalu dari samping, lalu dari atas.

Dan lalu—ini bagian yang selalu membuatku sesak—cahaya di lapangan meredup karena semuanya sudah naik, dan kau mengangkat kepala dan langit penuh.

Aku menoleh.

Noel Ashford sedang menatap ke atas dengan wajah yang belum pernah kulihat.

Bukan takjub. Sesuatu yang lebih buruk dari takjub.

Dia terlihat seperti orang yang baru menyadari bahwa dia sudah bertahun-tahun tinggal di sebuah rumah tanpa pernah membuka satu ruangan di dalamnya.

“Ashford?”

“Tiga tahun,” katanya pelan.

“Hm?”

“Aku tinggal empat blok dari sini selama tiga tahun.” Dia tidak menurunkan pandangannya. “Dan tiap tahun malam ini terjadi tanpa aku.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Jadi aku melakukan hal yang membuatku tidak bisa tidur malam itu: aku menggeser tanganku.

Bukan menggenggam. Aku tidak seberani itu.

Aku cuma menurunkan tanganku dari lengan dan membiarkannya menggantung di sisi tubuhku, dan aku menggeser kakiku dua sentimeter ke kanan, dan tiba-tiba jarak antara punggung tanganku dan punggung tangannya jadi tiga sentimeter.

Tiga sentimeter.

Aku bisa merasakan panas kulitnya. Sungguh—tiga sentimeter itu cukup dekat untuk merasakan bahwa ada orang di sana.

Aku tidak menoleh. Aku menatap lurus ke langit dengan konsentrasi seorang jenderal membaca peta pertempuran.

Dan aku merasakan tangannya bergerak.

Satu sentimeter. Ke arahku.

Jantungku melakukan sesuatu yang seharusnya dilaporkan ke tabib.

Setengah sentimeter lagi—

KAK NOEL!

Kami berdua melompat.

Pip Harlan menabrak Noel di bagian pinggang dengan seluruh kecepatan seorang anak sepuluh tahun yang baru menghabiskan tiga koin tembaga untuk manisan.

“Kak Noel, lenteraku nyangkut di pohon! Ayo ambilin! Kak Noel tinggi!”

“Pip—”

“Ayo!”

Dan dia menyeret Noel Ashford, pemegang senjata yang menahan Noble Stray sebelas kali, menuju pohon di tepi lapangan dengan kekuatan yang tidak bisa dilawan siapa pun.

Aku berdiri sendirian di tengah lapangan dengan dua ratus lentera di atas kepalaku dan tangan kanan yang masih terasa panas.

“Ilva,” kataku, tanpa menoleh.

“Ya, Kapten.” Suaranya dari belakang, sekitar empat meter.

“Berapa lama kau berdiri di sana.”

“Sejak Kapten memegang pergelangan tangannya.”

Aku menutup mataku.

“Berapa banyak yang melihat?”

Hening sebentar.

“Kapten,” kata Ilva dengan hati-hati, “aku tidak ingin membuat Kapten cemas, tapi Bibi Marta membuka taruhan baru sekitar sepuluh menit lalu dan sudah ada empat belas peserta.”


Aku berjalan pulang tengah malam.

Sendirian, karena aku menolak dikawal, dan karena aku butuh dua puluh menit berjalan kaki untuk menjadi manusia normal lagi.

Bekas luka di bawah tulang selangkaku terasa gatal seperti biasanya kalau udara dingin.

Aku memikirkan tiga sentimeter.

Aku memikirkan gelas yang tumpah ke sepatunya.

Aku memikirkan bahwa dia memegang lentera kertas seharga empat koin tembaga dengan cara yang sama seperti dia memegang Artifact orang lain, dan aku memikirkan apa artinya kalau orang seperti itu memutuskan untuk memegang sesuatu.

Aku sampai di gerbang barak dan berhenti.

Dan lalu, karena tidak ada seorang pun di sana, aku mengangkat tangan kananku dan menatapnya di bawah lampu gerbang seperti orang tolol berusia dua puluh lima tahun.

“Satu sentimeter,” kataku pada tanganku.

Tanganku tidak menjawab.

Aku masuk ke barak, naik ke kamarku, dan menggantung gaun biru itu di paku di sebelah gantungan armorku, di mana ia akan tergantung selama berbulan-bulan setelahnya karena aku tidak sanggup melipat dan menyimpannya.

Lalu aku mengambil pensil dan berjalan ke kalender di dinding.

Kamis depan masih enam hari lagi.

Aku menggambar lingkaran kecil di kotaknya.

Lalu aku menggambar lingkaran lagi di atasnya, lebih tebal.

Lalu—dan aku menyalahkan tengah malam dan dua ratus lentera dan tiga sentimeter—aku menggambar lingkaran ketiga, dan meletakkan pensilnya, dan pergi tidur sebelum aku melakukan sesuatu yang lebih memalukan.