← Chapters Ch. 24 / 40

Chapter Twenty Four

Kamis Tanpa Inspeksi

Gungnir: The First Arms

POV: Mira

Jumlah kata: 2.514


Hari pertama.

Aku bangun pukul lima seperti biasa, memimpin latihan pagi seperti biasa, memeriksa jadwal patroli seperti biasa, dan pukul empat sore aku menyadari bahwa aku sudah berdiri di persimpangan Jalan Lorne selama entah berapa lama.

Aku berbalik dan kembali ke pos jaga.

Aku menyilang kotak pertama di kalender kecil di laci mejaku.

Hari kedua.

Getaran pukul sebelas siang. Delapan belas detik.

Aku mencatatnya. Kolom terakhir: timur.

Dane bertanya kenapa aku mengubah kolom itu tiga hari lalu. Aku bilang aku sedang menguji hipotesis. Dia menerimanya karena dia sopan.

Yang tidak kukatakan padanya: aku sudah menghitung sudutnya.

Aku berdiri di alun-alun waktu getaran itu datang, dan aku meletakkan telapak tangan di batu jalan, dan aku menutup mata dan mencoba merasakan arahnya. Aku melakukan ini empat kali sekarang.

Setiap kali, arahnya sama.

Timur. Ke arah jalur pegunungan. Ke arah Greymarch.

Hari ketiga.

Pip Harlan datang ke pos jaga membawa sendok supnya.

“Kak Mira, ini retak lagi.”

Aku memeriksanya. Tidak retak sama sekali.

“Ini tidak retak, Pip.”

“Retak.”

“Di mana?”

Dia menunjuk satu titik di gagangnya yang jelas-jelas cuma bekas air.

Aku menatap anak sepuluh tahun itu, dan dia menatapku balik dengan wajah paling meyakinkan yang bisa dia kerahkan, dan aku menyadari apa yang sedang terjadi.

“Pip.”

“Iya?”

“Kak Noel akan pulang.”

Bahunya turun. Wajahnya berubah dengan cara yang membuat sesuatu di dadaku sakit.

“Tokonya tutup,” katanya. “Sudah tiga hari. Aku nggak bisa masuk buat ngelap konter.”

Aku meletakkan sendok itu di mejaku.

“Kau mau kerja di sini?” tanyaku.

Dia mengerjap. “Di pos jaga?”

“Aku butuh seseorang yang menyusun ulang rak persediaan,” kataku. “Rak itu berantakan sekali.”

“Rak itu rapi banget, Kak Mira.”

“Susun ulang.”

Pip menyusun ulang rak persediaan pos jaga selatan selama dua jam dengan sistem yang, setelah kupelajari selama dua puluh menit, sama sekali tidak bisa kupahami.

Aku membiarkannya seperti itu selama sisa cerita ini.

Hari keempat.

Getaran dua kali. Dua puluh empat detik dan dua puluh sembilan detik.

Aku mengirim burung ke Greymarch. Pesan standar: permintaan konfirmasi status rombongan.

Burung itu tidak kembali.

Itu bisa berarti banyak hal. Burung hilang. Cuaca. Jarak sembilan ratus kilometer terlalu jauh untuk burung pos kota kecil.

Aku menuliskan ketiga kemungkinan itu di kertas supaya aku bisa membacanya kembali pukul dua pagi ketika aku tidak bisa tidur.

Hari kelima.

Aku hampir memukul Dane.

Kami sedang latihan formasi. Dia salah posisi—sayap kanan seharusnya menutup pada hitungan ketiga, dia menutup pada hitungan keempat—dan aku berteriak padanya di depan dua puluh sembilan knight dengan cara yang tidak pernah kulakukan selama tiga tahun jadi kapten.

Dia berdiri diam dan menerimanya.

Itu yang paling buruk. Dia berdiri diam dan menerimanya dan berkata “Siap, Kapten” dan mengulangi formasinya dengan benar.

Aku membubarkan latihan lebih awal dan pergi ke ruang jaga dan duduk di sana selama satu jam.

Ilva masuk tanpa mengetuk.

“Kapten.”

“Aku akan minta maaf pada Dane.”

“Dane sudah lupa. Dane punya ingatan seekor anjing dan itulah kenapa kita menyayanginya.” Dia meletakkan mangkuk di mejaku. “Bibi Marta kirim sup.”

“Aku tidak lapar.”

“Kapten sudah tidak lapar selama lima hari.”

Aku menatap mangkuk itu.

“Ilva,” kataku. “Kau pernah menunggu seseorang?”

Dia diam sebentar.

“Adikku,” katanya. “Waktu dia sakit tiga tahun lalu, aku menunggu tabib dari kota tetangga selama dua hari.”

“Bagaimana kau melewatinya?”

“Aku bersih-bersih,” katanya. “Seluruh barak. Dua kali. Aku menggosok lantai gudang sampai kayunya berubah warna.”

Aku memandangi mejaku.

“Ilva.”

“Ya, Kapten.”

“Ada gudang di pos jaga utara yang belum dibersihkan sejak musim dingin.”

“Aku akan ambil sikat,” kata Ilva.

Hari keenam.

Aku membersihkan gudang pos jaga utara selama sembilan jam.

Hari ketujuh.

Hari Kamis.


Aku bangun pukul lima dan aku tahu sejak detik pertama bahwa hari ini akan buruk.

Aku memimpin latihan pagi. Aku memeriksa jadwal. Aku menandatangani tiga laporan. Aku menginspeksi gerbang selatan yang tidak butuh diinspeksi.

Pukul tiga sore aku menyerah dan berjalan ke Jalan Lorne.

Tokonya tutup.

Aku sudah tahu itu. Aku sudah lewat depannya tujuh kali dalam enam hari. Tapi ada perbedaan antara lewat dan berhenti, dan hari itu aku berhenti.

Papan namanya masih lepas—dia melepasnya waktu badai dan tidak pernah memasangnya kembali. Kaca jendelanya berdebu di bagian bawah. Ada dua surat terselip di bawah pintu, dari ibu kota, dengan segel lilin merah yang tidak akan pernah dibuka dan pada akhirnya akan berakhir sebagai alas pot bunga.

Aku duduk di anak tangga terasnya.

Aku ingin mencatat betapa konyolnya itu. Knight-Captain Hollowbrook, seragam lengkap, greatsword di punggung, duduk di teras toko yang tutup pada pukul empat sore hari Kamis seperti anak yang ditinggal pergi orang tuanya.

Aku membawa dua roti.

Aku bahkan tidak tahu kenapa aku membelinya. Aku lewat lapak Bu Hensley dan tanganku bergerak dan tiba-tiba ada dua roti dalam kantong kertas.

Aku memakan yang pertama.

Yang kedua kuletakkan di anak tangga di sebelahku.

Hujan turun pukul empat, seperti biasa. Terasnya cukup dalam sehingga aku tidak basah.

Aku duduk di sana dan menonton hujan jatuh di Jalan Lorne.


Ini yang kupikirkan selama satu jam itu, dan aku menuliskannya karena aku ingin mengingat bahwa aku pernah sejujur ini pada diriku sendiri:

Aku sudah tiga tahun mengatur hidupku di sekitar satu jam pada hari Kamis.

Bukan kiasan. Secara harfiah. Jadwal patroli kususun supaya pukul empat aku bebas. Latihan formasi tidak pernah kujadwalkan hari Kamis sore. Waktu Wali Kota Hobbes menawariku rapat mingguan tiga tahun lalu, aku meminta hari Selasa, dan aku bilang itu karena alasan operasional.

Satu jam. Lima puluh dua kali setahun. Selama tiga tahun.

Dan sepanjang seratus lima puluh enam jam itu, aku membicarakan izin usaha, tinggi pagar, harga cengkeh, sanitasi saluran pembuangan, dan satu kali—satu kali yang akan kubawa sampai mati—rusa yang tidak membaca kalender.

Seratus lima puluh enam jam.

Dan yang benar-benar ingin kukatakan, aku tidak pernah mengatakannya sekali pun.

Aku menyandarkan punggungku ke pintu tokonya.

“Kau bodoh,” kataku pada Jalan Lorne yang basah. “Kau bodoh sekali, Mira Valen.”

Jalan Lorne tidak menjawab.

Hujan berhenti pukul lima.

Aku duduk di sana sampai pukul enam.


Lampu jalan menyala satu per satu di sepanjang Jalan Lorne.

Aku berdiri, meregangkan punggung, dan memungut roti kedua yang sudah dingin.

Dan lalu aku melihatnya.

Di dalam toko—lewat kaca jendela yang berdebu di bagian bawah—ada cahaya.

Kecil. Kuning. Bergerak.

Aku membeku.

Otakku menyusun sepuluh penjelasan dalam waktu dua detik. Pencuri. Pip yang punya cara masuk. Cahaya dari rumah seberang yang memantul. Aku terlalu lelah dan aku berhalusinasi.

Dan lalu pintu itu terbuka.

Dan Noel Ashford berdiri di sana dengan lampu minyak di tangan.


Aku menjatuhkan rotinya.

Aku ingin mencatat itu karena aku akan memikirkannya dengan malu selama bertahun-tahun. Roti itu jatuh dari tanganku, memantul sekali di anak tangga, dan menggelinding ke genangan air di batu jalan.

Kami berdua menatapnya.

“...Itu rotimu?” tanyanya.

“Bukan.”

“Kau memegangnya.”

“Aku memegang banyak hal.”

Dia menatapku.

Dan aku menatapnya, dan aku melihat semuanya sekaligus: dia lebih kurus. Ada lingkaran hitam di bawah matanya yang lebih gelap dari yang pernah kulihat. Ada luka yang belum sembuh benar di sisi rahangnya. Mantelnya robek di lengan kanan dan dijahit ulang dengan benang yang salah warna.

Dan dia berdiri di sana, di ambang pintu tokonya, dengan lampu minyak yang bergetar sedikit karena tangannya bergetar.

“Berapa hari,” kataku. Suaraku keluar salah.

“Kau bilang dua belas.”

“Ini hari ketujuh.”

“Iya,” katanya.

“Ashford, perjalanan ke Greymarch delapan hari.”

“Iya.”

“Kau berangkat hari ke berapa?”

Dia mengalihkan pandangan.

“Ashford.”

“Hari kesembilan pagi. Dari Greymarch.”

Aku menghitung.

Aku menghitung dua kali, karena hasil hitungan pertama tidak masuk akal.

“Kau menempuh delapan hari perjalanan dalam empat hari,” kataku.

“Tiga setengah.”

“Bagaimana?”

“Aku mengganti kuda enam kali,” katanya. “Dan aku tidak turun kecuali untuk mengganti kuda.”

“Kau tidak tidur selama tiga setengah hari.”

“Aku tidur di pelana. Sebentar-sebentar.”

“Ashford—”

“Aku sampai dua jam lalu,” katanya. “Aku tidak menyalakan lampu depan karena aku tidak ingin ada yang datang. Aku duduk di dalam dan aku—”

Dia berhenti.

“Kau apa?”

Noel Ashford berdiri di ambang pintunya dengan lampu minyak yang bergetar.

“Aku melihatmu duduk di terasku dari jendela,” katanya, “sekitar tiga jam lalu. Dan aku tidak membuka pintu.”

Sesuatu di dadaku berhenti.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak tahu bagaimana caranya membuka pintu dan mengatakan hal yang benar,” katanya. “Jadi aku duduk di dalam dan menyusun kalimat selama tiga jam, dan aku tidak menemukan satu pun yang cukup, dan lalu aku melihatmu berdiri untuk pulang.”

Dia mengangkat lampu itu sedikit.

“Dan ternyata itu cukup untuk membuatku membuka pintu tanpa kalimat apa pun,” katanya.

Jalan Lorne sangat sunyi.

Lampu-lampu jalan menyala. Air menetes dari talang. Di suatu tempat di kota, anjing menyalak dua kali dan berhenti.

“Mira,” katanya.

Kedua kalinya. Seumur hidup, kedua kalinya.

“Ya,” kataku.

“Aku pulang.”

Dan aku—Knight-Captain Hollowbrook, dua puluh lima tahun, yang berdiri di depan Noble Stray dan berlutut di hadapan Regalia Stray dan tidak menangis di pemakaman ayahnya sendiri—

—menabraknya.

Aku tidak punya kata yang lebih baik. Aku menaiki dua anak tangga dan menabrak dadanya dan melingkarkan kedua lenganku di punggungnya dan menekan wajahku ke bahunya, dan lampu minyak itu hampir jatuh dan aku tidak peduli.

Dia berdiri kaku selama sekitar dua detik.

Lalu aku merasakan lampu itu diletakkan di suatu tempat.

Dan lalu ada dua lengan di punggungku, dan salah satunya naik ke belakang kepalaku, dan dia menarikku lebih dekat dengan cara yang membuatku menyadari bahwa dia sudah menahan diri untuk melakukan itu selama waktu yang jauh lebih lama dari yang pernah kuduga.

Kami berdiri di ambang pintu toko reparasi Artifact di ujung Jalan Lorne selama entah berapa lama.

“Kau berbau kuda,” kataku ke bahunya.

“Aku tahu.”

“Kau kurus.”

“Aku tahu.”

“Kau bodoh.”

“Aku tahu,” katanya, dan aku merasakan dadanya bergetar waktu dia tertawa. “Aku sudah dengar itu dari empat orang berbeda bulan ini.”

“Karena benar.”

“Karena benar,” setujunya.

Aku tidak melepaskannya.

Dia juga tidak.


Aku pulang menjelang tengah malam.

Bukan karena aku mau. Karena Bibi Marta mengetuk pintu toko pukul sebelas dengan sepanci sup dan wajah yang jelas-jelas sudah tahu segalanya dari seluruh kota dalam waktu empat puluh menit, dan karena orang itu belum tidur selama tiga setengah hari dan mulai kehilangan kemampuan menyelesaikan kalimat.

Aku memaksanya makan. Aku memaksanya berbaring di ranjang lipat di ruang belakang.

“Aku baik-baik saja.”

“Kau memanggil Bibi Marta ‘Kapten’ dua menit lalu.”

“...Aku baik-baik saja.”

“Tidur, Ashford.”

Dia tidur sebelum aku selesai menutup pintu.

Aku berjalan pulang menyusuri Jalan Lorne dengan tangan di saku dan seluruh kota yang sepertinya sudah tahu, karena Pak Weller melambai dari jendela lantai dua dan aku bahkan tidak punya energi untuk malu.

Di kamarku, aku mengeluarkan kalender kecil dari laci.

Dua belas kotak. Tujuh tersilang.

Aku menatapnya sebentar.

Lalu aku merobeknya, dan aku membakarnya di lampu minyak, dan aku menonton sampai habis.

Aku tidur nyenyak untuk pertama kalinya dalam tujuh hari.

Dan aku bangun pukul lima dengan satu pikiran yang sangat jernih dan sangat menakutkan:

Aku akan mengatakannya minggu ini.