← Chapters Ch. 18 / 40

Chapter Eighteen

Paduan Suara Berongga

Gungnir: The First Arms

POV: Noel

Jumlah kata: 2.612


Yang pertama menyadarinya adalah anjing.

Pukul tiga pagi, seluruh anjing di Hollowbrook berhenti menyalak sekaligus.

Bukan mulai. Berhenti.

Aku terbangun karena keheningan itu—selama sebelas hari terakhir mereka menyalak setiap malam, dan aku sudah terbiasa tidur di dalamnya seperti orang tidur di dalam suara ombak.

Aku duduk di ranjang.

Dan mendengar nyanyian.


Aku sampai di alun-alun dalam empat menit dan Kapten Valen sudah di sana dengan dua puluh knight.

“Kau dengar juga,” katanya.

“Semua orang dengar.”

“Bukan semua.” Wajahnya keras. “Aku sudah mengirim orang ke tiga distrik. Anak-anak tidak mendengarnya. Orang di atas empat puluh mendengarnya paling keras.”

Aku menoleh padanya.

“Apa yang kau dengar?” tanyaku.

“Suara laki-laki. Banyak. Menyanyikan sesuatu yang tidak kukenal.” Rahangnya bergerak. “Dane bilang dia mendengar perempuan. Ilva bilang dia mendengar anak-anak.”

Sesuatu yang sangat dingin turun di tulang belakangku.

“Dan kau?” tanyanya.

Aku mendengarkan.

Nyanyian itu datang dari arah utara—dari lereng, dari arah pintu besi berkarat, dari bawah. Tidak keras. Tidak pernah keras. Ia datang seperti sesuatu yang sudah ada di dalam telingamu sejak lama dan baru sekarang kau perhatikan.

Ratusan suara. Bernyanyi tidak selaras, dengan nada yang sedikit meleset satu sama lain, seperti orang-orang yang menyanyikan lagu yang sama dari ruangan yang berbeda-beda.

Dan di bawah semuanya, satu suara yang menghitung.

Satu. Dua. Tiga. Empat.

“Nama,” kataku.

“Apa?”

“Aku mendengar nama-nama,” kataku. “Dibacakan. Satu per satu.”

Kapten Valen menatapku.

“Itu absen,” katanya pelan.


Ia keluar dari lereng utara pukul empat, di tempat pemakaman lama berbatasan dengan hutan pinus, dan seluruh hutan pinus di sekitarnya mati dalam radius tiga puluh meter.

Bukan terbakar. Mati—jarum pinusnya menghitam dan gugur sekaligus, semua pohon, dalam waktu kurang dari dua detik.

Yang berdiri di tengahnya bukan makhluk.

Itu barisan.

Aku tidak bisa menuliskannya lebih baik dari itu. Ratusan bilah kecil—pedang pendek, belati, pisau—mengambang di udara dalam formasi. Baris demi baris, kolom demi kolom, dengan jarak yang persis sama antara satu dan lainnya, membentuk sebuah kotak melayang setinggi dua rumah.

Dan di depannya, terbentuk dari sekitar empat puluh bilah yang saling mengunci, ada bentuk yang menyerupai manusia.

Tinggi. Bahu lebar. Sesuatu yang mungkin dulu jubah.

Regalia Stray.

Ia mengangkat apa yang menyerupai kepala.

Dan nyanyian itu berhenti.

Formasi,” katanya.

Suaranya keluar dari ratusan bilah sekaligus, dan setiap bilah mengucapkannya sedikit berbeda, sehingga kata itu datang berlapis-lapis seperti gema yang mendahului dirinya sendiri.

Dua puluh knight di belakangku tidak bergerak sama sekali.

Formasi,” katanya lagi. “Kalian terlambat. Barisan sudah kupanggil tiga kali.


“Ia bicara,” kata Dane. Suaranya pecah. “Kapten, benda itu bicara—”

“Aku tahu.”

“Stray tidak bisa—”

AKU TAHU, DANE.

Kapten Valen melangkah maju.

Aku melihat sesuatu yang luar biasa terjadi di detik itu: dia meluruskan punggungnya, mengangkat dagunya, dan berjalan ke depan barisannya seperti orang yang menghadiri upacara.

“Aku Knight-Captain Hollowbrook,” katanya. “Kau berdiri di tanah kota ini. Sebutkan namamu.”

Bentuk itu diam.

Lalu, sangat pelan, ia memiringkan kepalanya.

Kapten,” katanya.

Dan ratusan bilah di belakangnya bergerak sekaligus—bukan menyerang. Mereka berputar. Semua ujungnya, serentak, mengarah ke bawah.

Hormat.

Akhirnya,” katanya. “Aku menunggu perintah selama seratus enam puluh tahun.


Aku sudah membaca laporan tentang Regalia Stray.

Ada tiga di arsip Duelist Court. Semuanya ditulis oleh orang yang jelas tidak tidur nyenyak setelahnya, seperti kata Hobbes.

Yang tidak ada di laporan mana pun adalah ini: mereka sopan.

Namaku sudah lama tidak dipakai,” katanya. “Aku Regalia milik Komandan Batalion Kesembilan. Dua ratus enam belas orang. Kami dikirim untuk menahan celah utara sampai bala bantuan datang.

“Bala bantuan tidak datang,” kata Kapten Valen.

Bala bantuan tidak datang,” setujunya.

Ratusan bilah di belakangnya bergetar sekali.

Dua ratus enam belas senjata dikubur di bawah kota ini,” katanya. “Aku memanggil mereka satu per satu selama seratus enam puluh tahun. Sebagian menjawab. Sebagian sudah pergi.

Aku memandangi kotak melayang itu.

Aku menghitung barisnya. Menghitung kolomnya.

Seratus delapan puluh empat.

“Kau tidak menyerang,” kataku.

Kepala itu berputar ke arahku.

Dan aku merasakan sesuatu memindai—bukan mata. Sesuatu yang lebih tua dari mata.

Payung di tanganku bergetar sekali.

Kau membawa sesuatu,” katanya.

“Aku tahu.”

Sesuatu yang lebih tua dariku.

“Aku tahu.”

Ia diam untuk waktu yang lama.

Maka kau mengerti,” katanya akhirnya. “Kami tidak diberi perintah mundur. Perintah terakhir adalah bertahan. Tidak pernah ada yang datang untuk membatalkannya.

Dan aku mengerti.

Tuhan tolong aku, aku mengerti sepenuhnya.

“Ia tidak mengamuk,” kataku pada Kapten Valen, pelan. “Ia masih bertugas.”


Ia mulai bergerak pukul empat lewat dua puluh.

Bukan ke arah kami. Ke arah barat—menuruni lereng, menuju kota, dalam formasi rapi dengan seratus delapan puluh empat bilah bergerak serentak seperti pasukan yang berbaris.

“Ke mana ia pergi?” tanya Ilva.

Kapten Valen sudah membuka peta di tanah.

“Celah utara,” katanya. “Seratus enam puluh tahun lalu, sebelum kota ini dibangun, jalur pegunungan lewat sini.” Jarinya bergerak di kertas. “Garis pertahanan mereka melintang di sini. Dari lereng ke sungai.”

Dia mengangkat kepalanya.

“Garis itu melewati Jalan Pasar, alun-alun, dan seluruh distrik selatan,” katanya.

“Ia akan memasang barisannya,” kataku. “Di garis yang sama.”

“Di tengah kota.”

“Di tengah kota.”

Kapten Valen berdiri.

“ILVA! Evakuasi distrik selatan dan Jalan Pasar, SEKARANG! Dane, sayap kanan, kunci semua gang—”

Kapten.

Semua orang membeku.

Bentuk itu telah berhenti. Kepalanya berputar seratus delapan puluh derajat tanpa tubuhnya ikut bergerak, dan itu adalah hal paling salah yang kulihat sepanjang malam.

Kau kapten,” katanya. “Aku belum menerima perintah.

Kapten Valen berdiri diam.

Seratus enam puluh tahun aku menunggu perintah,” katanya. “Bertahan sampai diperintahkan sebaliknya. Itu perintah terakhir yang kuterima. Kau kapten. Beri aku perintah.

Dan aku menyaksikan sesuatu yang tidak akan pernah kulupakan.

Kapten Mira Valen berdiri di lereng utara pukul empat pagi, dengan dua puluh knight di belakangnya dan seratus delapan puluh empat bilah melayang di depannya, dan aku melihat wajahnya berubah waktu dia menyadari apa yang sedang diminta darinya.

“Ashford,” katanya pelan. “Kalau aku memerintahkannya mundur—”

“Ia akan patuh,” kataku. “Selama sekitar sepuluh menit.”

“Kenapa sepuluh menit?”

“Karena kau bukan komandannya,” kataku. “Kau kapten, dan itu cukup untuk membuatnya berhenti sebentar. Tapi perintah yang menahannya selama seratus enam puluh tahun datang dari orang lain, dan tidak ada satu pun kata dari mulutmu yang bisa membatalkan itu.”

Kapten Valen menutup matanya sebentar.

“Berapa lama untuk mengosongkan distrik selatan?”

“Dua puluh menit,” kata Ilva.

“Aku punya sepuluh,” katanya. “Ashford, apa yang terjadi setelah sepuluh menit?”

Aku menatap kotak melayang itu.

“Setelah sepuluh menit,” kataku, “ia akan sadar kau bukan orang yang dia tunggu, dan ia akan kembali ke perintah terakhirnya, dan ia akan memasang garis pertahanan di sepanjang Jalan Pasar dengan seratus delapan puluh empat bilah.”

“Dan siapa pun yang melewati garis itu?”

“Adalah musuh yang mencoba menembus celah utara,” kataku.


Dia memberi perintah itu.

Aku ingin mencatat setiap detiknya karena aku pikir itu adalah hal paling berani yang pernah kulihat manusia lakukan, dan itu tidak melibatkan pertarungan sama sekali.

Kapten Mira Valen berjalan ke depan barisannya, berdiri sepuluh langkah dari sesuatu yang bisa memotongnya jadi delapan bagian, dan berkata:

“Batalion Kesembilan.”

Seratus delapan puluh empat bilah berputar dan menghadapnya.

“Laporan situasi diterima,” katanya. Suaranya jernih dan keras dan sama sekali tidak goyah. “Celah utara telah ditutup. Jalur pegunungan telah dialihkan. Musuh yang kalian tahan tidak lagi ada di medan ini.”

Bentuk itu diam.

“Perintah bertahan telah dipenuhi,” kata Kapten Valen. “Batalion Kesembilan telah menyelesaikan tugasnya.”

Hening di lereng.

Dan lalu, sangat pelan, bentuk itu berkata:

Siapa yang memberi perintah ini.

“Knight-Captain Hollowbrook.”

Hollowbrook.” Kata itu diucapkan seperti orang mencicipi sesuatu asing. “Aku tidak mengenal satuan itu.

“Satuan itu belum ada waktu kalian dikirim,” kata Kapten Valen. “Kota ini dibangun di atas garis pertahanan kalian. Kami tinggal di sini karena kalian menahan celah itu.”

Dan lalu dia melakukan sesuatu yang tidak ada di manual mana pun.

Dia berlutut.

Satu lutut, di lumpur, di hadapan sesuatu yang tidak punya wajah, dan dia menundukkan kepalanya.

“Dua ratus enam belas orang,” katanya. “Terima kasih.”


Sepuluh menit itu berlalu.

Aku menghitungnya, karena aku menghitung segalanya.

Pada menit keempat, ratusan bilah itu mulai bergetar—tidak serentak lagi, masing-masing dengan frekuensinya sendiri, seperti barisan yang mulai kehilangan formasi.

Pada menit ketujuh, empat puluh bilah jatuh dari formasi dan menancap di tanah.

Pada menit kesembilan, bentuk berjubah itu berkata:

Kapten.

“Ya.”

Aku tidak bisa berhenti.

Suara itu berubah. Untuk pertama kalinya, lapisan-lapisan gema di dalamnya tidak selaras—sebagian mengucapkan kalimat itu, sebagian mengucapkan sesuatu yang lain, sebagian cuma menghitung.

Aku mendengarmu. Aku menerima perintahmu. Aku tidak bisa berhenti.

Seratus empat puluh bilah yang tersisa berputar dan mengarahkan ujungnya ke kota.

Ada yang salah denganku,” katanya. “Tolong.

Dan lalu ia menyerang.


Aku bertarung selama enam menit, dan itu adalah enam menit terburuk sejak aku pindah ke kota ini.

Bukan karena sulit.

Karena ia terus bicara.

Seratus empat puluh bilah datang dalam gelombang berlapis—bukan menyerbu sembarangan. Formasi. Baris depan menahan, baris kedua melewati celah, baris ketiga menutup sayap. Taktik infanteri berusia seratus enam puluh tahun, dijalankan oleh benda-benda tajam yang melayang.

Aku membuka Aegis dan menahan gelombang pertama.

[ Gauntlet Mode ]

Kanopi itu melipat dan membungkus lengan kiriku—lapisan logam gelap dari siku ke buku jari, dengan delapan garis tipis di punggung tangan.

Aku menangkap bilah pertama yang lewat.

Dan membongkarnya.

Bukan mematahkan. Aku menggenggamnya dan merasakan sambungannya dan melepasnya—pegangan dari batang, batang dari bilah—dan tiga potong logam jatuh ke lumpur di kakiku.

Prajurit Halden,” kata suara itu. “Umur dua puluh satu. Dari desa Wynne.

Aku menangkap yang kedua.

Prajurit Corliss. Umur tiga puluh empat. Punya tiga anak.

Yang ketiga. Keempat.

Sersan Vay. Prajurit Odom. Prajurit Kell.

Aku berhenti.

Selama mungkin setengah detik, aku berhenti bergerak di tengah pertempuran, dan sebuah bilah menyayat bahu kananku karena itu.

“Berhenti,” kataku.

Prajurit Nathe. Umur sembilan belas—

“BERHENTI.”

Delapan Fangs lepas dari lengan gauntlet-ku sekaligus.

Aku menyelesaikannya dalam sembilan puluh detik setelah itu, dan aku tidak bicara lagi sepanjang sisa pertempuran, dan aku tidak akan menuliskan detailnya karena aku tidak ingin mengingatnya.


Yang tersisa di akhir adalah bentuk berjubah itu, berdiri sendirian di lereng, dengan tubuh yang tinggal dua belas bilah.

Aku berjalan mendekat.

Kapten,” katanya. Suaranya sekarang cuma satu lapis. Nyaris manusia.

“Aku di sini,” kata Kapten Valen. Dia berjalan melewatiku dan berdiri di depannya.

Aku menyerang kotamu.

“Kau tidak sampai ke kotaku.”

Aku berniat.

“Kau tidak bisa berhenti,” katanya. “Itu bukan niat. Itu kerusakan.”

Bentuk itu diam.

Lalu:

Dua ratus enam belas,” katanya. “Aku ingat semua namanya. Seratus enam puluh tahun. Aku takut kalau aku berhenti menghitung, tidak akan ada lagi yang ingat.

Sesuatu di dadaku hancur pelan.

Aku melangkah maju, dan aku melepas sarung tanganku—lalu memakainya lagi, yang katun putih, yang selalu kusimpan di laci kedua.

“Beri aku namanya,” kataku.

Kepala itu berputar padaku.

Kau akan mengingatnya?

“Aku akan menuliskannya,” kataku. “Di buku catatan di tokoku. Dan Bibi Marta akan menyalinnya. Dan Pak Weller akan mengukirnya di plakat, dan plakat itu akan berdiri di alun-alun, dan anak-anak akan lewat di depannya setiap hari selama seratus tahun.”

Hening.

Aku tidak mengerti kenapa kau melakukan itu.

“Karena aku memperbaiki barang rusak,” kataku, “dan kau bukan barang rusak. Kau cuma sangat lelah.”

Bentuk itu berdiri di lereng utara selama beberapa detik.

Lalu ia mulai berbicara.

Dan aku berdiri di lumpur dengan Kapten Valen di sebelahku, dan kami mendengarkan dua ratus enam belas nama, satu per satu, sampai matahari naik.

Waktu nama terakhir selesai, dua belas bilah itu jatuh ke tanah dan tidak bergerak lagi.


Kami menguburnya di pemakaman lama, bukan di Graveyard.

Wali Kota Hobbes tidak membantah. Dia cuma melepas kacamatanya, membersihkannya lama sekali, dan menandatangani izinnya.

Plakat itu selesai tiga minggu kemudian. Pak Weller mengerjakannya gratis dan menolak semua bayaran dengan kasar.

Dua ratus enam belas nama.

Dan malam itu, waktu aku menyalin nama terakhir ke buku catatanku di bawah lampu kerja, dengan bahu kanan yang dijahit Bibi Marta dan tangan yang masih gemetar, Kapten Valen duduk di kursi rotan di seberangku dan berkata:

“Ashford.”

“Ya.”

“Ada yang lebih tua dari itu di bawah sana, kan.”

Aku berhenti menulis.

“Iya,” kataku.

“Seberapa tua?”

Aku memandangi payung yang bersandar di dinding.

“Aku tidak tahu,” kataku. “Tapi ia punya nama, dan yang kupegang ini mengenalnya.”