Chapter Twenty Six
Mahkota Abu
Gungnir: The First Arms
POV: Noel
Jumlah kata: 2.643
Ia tidak keluar dari Graveyard.
Itu bagian yang membuatku salah menghitung, dan aku akan menanggung kesalahan itu selama sisa hidupku.
Aku sudah memetakan semuanya. Pintu besi di lereng utara. Saluran air. Lapangan barat. Tiga titik lemah tempat sesuatu bisa naik, dan aku menghabiskan sepuluh hari terakhir memeriksa ketiganya setiap pagi.
Ia naik lewat pemakaman lama.
Pemakaman kota. Dua ratus meter dari alun-alun. Di tengah kota, dikelilingi rumah di tiga sisi, dengan pagar batu setinggi pinggang dan pohon ek yang sudah berdiri di sana lebih lama dari kotanya.
Pukul dua siang. Hari Selasa. Cerah.
Dan tanah di antara batu-batu nisan itu terbuka seperti mulut.
Aku sedang di konterku waktu jeritan pertama terdengar.
Aku sampai ke pemakaman dalam dua menit dan yang kulihat membuatku berhenti di pagar batu.
Bukan monster.
Seorang raja.
Aku tidak punya kata lain. Tingginya empat meter, dan ia berdiri tegak—bukan merangkak, bukan bergerak seperti benda yang meniru manusia. Ia berdiri seperti seseorang yang tahu bagaimana caranya berdiri di depan orang banyak.
Tubuhnya dibentuk dari ribuan potongan logam yang saling mengunci, tapi tidak sembarangan: ada bahu, ada dada, ada jubah yang jatuh dari punggungnya dalam lipatan logam yang bergerak seperti kain.
Dan di atas kepalanya yang bukan kepala, ada lingkaran.
Delapan cabang. Tersusun dari bilah-bilah pendek yang melengkung ke atas.
Sebuah mahkota.
Warnanya kelabu. Seluruh benda itu kelabu—bukan berkarat, bukan kotor. Abu.
[ Ashen Crown ]
Ia mengangkat wajahnya yang tidak punya wajah, dan melihat ke sekeliling pemakaman, dan berkata:
“Ini bukan istanaku.”
Kapten Valen sampai lima belas detik setelahku.
Aku mendengar Ferrum ditarik dari sandangannya di belakangku—bunyi baru, lebih bersih dari sebelumnya, karena pembungkus gagangnya sudah tidak lagi bergeser.
“Ashford.”
“Regalia,” kataku. “Yang kedua.”
“Ia bicara?”
“Ia bicara.”
Dan sesuatu yang setinggi empat meter memutar kepalanya ke arah kami.
“Kalian,” katanya.
Suaranya bukan suara batu digeser. Bukan gema berlapis. Suaranya adalah suara satu orang—laki-laki, sekitar lima puluhan, dengan aksen ibu kota yang sudah tidak dipakai orang sejak dua ratus tahun lalu.
Sopan. Jernih. Sedikit lelah.
“Kalian pelayan istana?”
Kapten Valen melangkah maju.
Aku menahan lengannya.
“Jangan,” kataku pelan. “Jangan jawab pertanyaannya.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kau menjawab ‘bukan’, ia akan bertanya siapa kau,” kataku. “Dan kalau kau menjawab ‘iya’—”
“Aku bertanya,” kata benda itu.
Dan pagar batu di sisi selatan pemakaman hancur.
Tidak disentuh. Ia cuma... berhenti ada. Batu-batunya runtuh ke dalam dirinya sendiri seperti sesuatu yang lupa cara bertahan.
“Evakuasi,” kataku.
“Ashford—”
“EVAKUASI SEKARANG.”
Ia memerintah pasukan.
Itu yang membuat pertarungan ini berbeda dari semua yang pernah kuhadapi, dan itu yang hampir membunuh kami.
“Sayap kiri, maju,” katanya.
Dan sepertiga tubuhnya lepas.
Enam ratus potongan logam terpisah dari lengan kirinya dan melayang ke depan dalam formasi, dan mereka bergerak dengan disiplin—bukan menyerbu. Mereka berbaris. Mereka menutup mulut jalan sebelah barat dan berhenti di sana, menahan garis, seperti infanteri yang menunggu perintah kedua.
“Sayap kanan, kepung.”
Sepertiga lagi lepas dan bergerak ke timur.
“Aku maju di tengah.”
Dan sesuatu setinggi empat meter yang sekarang cuma tinggal sepertiga massanya melangkah ke arah kami dengan langkah yang tenang dan terukur.
Aku membuka Aegis.
Ia tidak menyerang.
Ia berhenti tiga meter dari kanopiku, memiringkan kepalanya, dan berkata:
“Ah. Kau membawa perisai istana.”
“Ini payung.”
“Ini bukan payung.”
Ia mengangkat tangan kanannya—yang sekarang cuma tersusun dari dua ratus potongan, ramping, hampir manusia—dan menunjuk.
“Aku mengenal itu. Ayahku menceritakannya. Sebelum ada raja, sebelum ada kerajaan, ada Yang Pertama, dan yang memegangnya tidak pernah menjadi raja.”
“Kenapa tidak?”
“Karena raja perlu tentara,” katanya, “dan yang memegang Yang Pertama tidak pernah perlu siapa-siapa.”
Dan lalu ia menyerang.
Aku bertarung selama tujuh belas menit dan aku harus berganti bentuk sebelas kali.
Aku ingin menuliskan ini dengan benar karena ini pertarungan tersulit yang kualami sejak lima tahun lalu, dan alasannya bukan kekuatan.
Alasannya adalah ia belajar.
Serangan pertama: ia mengirim empat puluh bilah ke arahku dari tiga sudut.
Aku membuka Aegis. Semuanya berhenti.
Serangan kedua: ia mengirim empat puluh bilah ke arah tanah di bawah kakiku.
Aegis menolak konsep tembus. Aegis tidak menolak konsep tanah longsor. Aku jatuh setengah meter dan harus melompat keluar.
Serangan ketiga: ia menunggu sampai aku mendarat, dan mengirim delapan puluh bilah ke titik pendaratanku sebelum aku sempat membuka payung lagi.
[ Fangs ]
Delapan batang melesat keluar dan menyapu jalur itu—tiga bilah dibongkar di udara, lima dipukul jatuh, dan sisanya lewat cukup dekat untuk merobek lengan mantelku.
“Bagus,” katanya.
Dan ia berhenti mengirim bilah.
Dan mulai mengirim formasi.
Ini yang tidak bisa kulawan dengan cepat.
Empat puluh bilah datang dalam pola baji—ujung tajam di depan, sayap melebar. Aku membongkar ujungnya dengan tiga Fang.
Sayapnya menutup di belakangku.
Aku berputar dan membuka Aegis ke belakang. Sayapnya berhenti.
Dan baji kedua masuk dari depan, ke titik yang sekarang tidak tertutup.
Aku menutup payung dan menarik gagangnya.
[ Hidden Katana ]
Bilah tipis keluar dari dalam gagang kayu itu dengan bunyi yang belum pernah didengar siapa pun di kota ini, dan aku memotong sebelas bilah dari udara dalam satu putaran.
Aku mendarat, membalik pegangan, dan menyarungkannya kembali.
Dan payung itu utuh lagi di tanganku sebelum potongan-potongan itu menyentuh tanah.
“Oh,” kata [ Ashen Crown ].
Dan aku merasakan sesuatu yang sangat dingin, karena nada itu bukan nada terkejut.
Itu nada seseorang yang baru saja mendapatkan informasi.
Ia mengubah taktiknya pada menit kesembilan.
Ia berhenti menyerangku.
“Sayap kiri,” katanya. “Maju ke pemukiman barat.”
Enam ratus bilah yang menahan garis di jalan barat mulai bergerak—bukan ke arahku. Ke arah rumah-rumah.
“Sayap kanan. Balai kota.”
Aku berlari.
Itu yang dia inginkan, tentu saja. Aku tahu itu waktu kakiku bergerak dan aku tetap berlari, karena alternatifnya adalah tidak berlari.
[ Bow Mode ]
Aku menembak empat kali sambil berlari. Empat Fang melesat ke arah yang berbeda-beda dan melengkung dan masuk ke pusat empat formasi berbeda, dan empat formasi itu berhamburan.
Tapi ada enam formasi.
Dan aku cuma punya delapan Fang, dan dua sudah kupakai untuk menahan sayap timur, dan aku berdiri di tengah pemakaman sambil menghitung sesuatu yang tidak bisa kuselesaikan.
Dan lalu aku mendengar suara yang membuat perutku jatuh.
“FORMASI EMPAT! SAYAP KANAN KE BALAI KOTA! DANE, TAHAN MULUT JALAN!”
Aku ingin mencatat apa yang terjadi selanjutnya dengan sangat hati-hati, karena aku sudah memikirkannya setiap malam sejak itu.
Kapten Mira Valen membawa dua puluh sembilan knight ke jalan barat dan menahan enam ratus bilah selama empat menit.
Dan mereka menang di sana.
Bukan menang—mereka bertahan, yang jauh lebih sulit. Formasi Empat bekerja persis seperti yang dia rancang: dua sayap yang membuka dan menutup, menggiring, membelokkan. Enam ratus bilah yang bergerak dalam disiplin infanteri berusia dua ratus tahun bertemu dengan tiga puluh orang yang berlatih setiap hari selama tiga bulan terakhir.
Dan tiga puluh orang itu menahan mereka.
Aku melihatnya dari pemakaman sambil membongkar formasi kelima, dan sesuatu di dadaku melakukan hal yang tidak pantas dilakukan di tengah pertempuran.
Kau bagus, pikirku. Tuhan, kau bagus sekali.
Lalu [ Ashen Crown ] berkata:
“Siapa yang memberi perintah itu.”
Dan berbalik ke arah jalan barat.
Aku sampai empat detik terlambat.
Empat detik. Aku menghitungnya, karena aku menghitung segalanya, dan angka itu akan tinggal di dadaku sampai aku mati.
Ia tidak menyerang formasi.
Ia berjalan ke arah rumah dua lantai di ujung jalan barat—rumah keluarga Ollan, kosong karena sudah dievakuasi—dan meletakkan telapak tangannya di dinding samping.
Dan menekan.
Rumah itu runtuh ke arah dalam. Ke arah jalan.
Ke arah tempat dua puluh sembilan knight sedang berdiri dalam formasi.
Aku melihat Kapten Valen menoleh. Aku melihat matanya menghitung, dan aku melihat kesimpulannya sampai ke wajahnya—dan yang dia lakukan bukan mundur.
Dia berteriak “MUNDUR SEMUA!” dan maju, ke titik tempat dinding itu akan jatuh paling dulu, untuk membeli dua detik bagi tiga orang di ujung barisan.
Balok atap sepanjang enam meter turun ke arahnya.
Aku sudah membuka payungku sejak dua detik sebelumnya, dan aku tidak akan sampai, dan aku tahu itu.
Jadi aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan.
Aku melempar payung itu.
Bukan sebagai tombak. Aku tidak mengubah bentuknya—aku tidak berani, tidak akan pernah berani. Aku melemparnya dalam wujud terbuka, seperti orang melempar perisai, dan aku melempar sesuatu yang seharusnya jatuh seperti kain.
Ia tidak jatuh.
Payung itu melintasi delapan meter jalan barat dalam garis lurus yang mustahil dan berhenti di udara di atas kepala Kapten Mira Valen, dan balok atap sepanjang enam meter menghantamnya dan berhenti.
Dan seluruh dinding rumah itu jatuh ke sekeliling lingkaran kering selebar dua meter.
Aku sampai sepuluh detik kemudian, memanjat reruntuhan, dan menariknya keluar.
“Aku tidak apa-apa—”
“Diam.”
“Ashford—”
“Diam.”
Aku mengangkatnya keluar dari puing dan berdiri di jalan yang penuh debu, dan aku memeriksanya dengan tangan yang tidak berfungsi dengan benar—lengan, bahu, tulang rusuk, kepala.
Tidak ada darah.
Tidak ada satu pun goresan.
Dan lalu—aku tidak merencanakan ini, aku ingin sangat jelas bahwa aku tidak merencanakan apa pun tentang ini—aku menariknya ke dadaku dan memeluknya dengan kedua lengan sekuat yang bisa kulakukan tanpa mematahkan sesuatu.
Dia membeku.
Seluruh jalan barat penuh debu dan puing dan dua puluh sembilan knight yang sedang bangkit dari tanah, dan aku berdiri di tengahnya sambil memeluk kapten garnisun mereka.
“Ashford,” katanya, sangat pelan, ke bahuku.
“Empat detik,” kataku. Suaraku keluar salah. “Aku terlambat empat detik.”
“Kau tidak terlambat—”
“Aku terlambat empat detik dan yang menyelamatkanmu adalah lemparan yang bahkan tidak kurencanakan,” kataku. “Kalau aku melempar dua meter ke kiri—”
“Ashford.”
“Jangan lakukan itu lagi.”
“Aku knight-captain, itu tugasku—”
Aku menariknya menjauh dan memegang kedua bahunya.
“Jangan buat hujan berhenti untuk hal seperti ini,” kataku.
Dan seluruh jalan barat jadi sangat sunyi.
Aku melihat matanya melebar.
Aku melihat detik ketika dia memahami persis apa yang baru saja kukatakan—bukan kalimatnya, tapi apa yang ada di bawahnya, seluruh isi kalimat itu yang tidak kuucapkan dan tidak perlu kuucapkan.
Aku tidak akan membuka payung ini untuk kota. Aku tidak akan membukanya untuk dunia.
Aku membukanya untuk kau, dan aku sudah tahu itu sejak malam Wyrmfang, dan aku terlambat empat detik hari ini dan aku tidak akan sanggup terlambat lagi.
“Noel,” katanya.
Pertama kalinya.
Tiga tahun, dan itu pertama kalinya.
Dan di belakang kami, sesuatu setinggi empat meter berkata:
“Ah.”
Aku berbalik.
[ Ashen Crown ] berdiri di ujung jalan barat dengan sepertiga massanya, dan mahkota kelabu di atas kepalanya, dan ia sedang menatap kami dengan wajah yang tidak ada.
“Sekarang aku mengerti,” katanya.
Dan aku tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa aku baru saja memberikannya sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada seluruh tujuh belas menit sebelumnya.
“Yang memegang Yang Pertama tidak pernah perlu siapa-siapa,” katanya. “Ayahku salah. Ada satu.”
Enam ratus bilah berbalik dari seluruh penjuru kota dan mengarah pada satu titik.
Bukan padaku.
Aku menutup payungku.
Klik.
Dan aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sejak lima tahun lalu: aku berhenti menghitung.
Delapan Fang lepas.
Lalu—dan aku tidak tahu ini mungkin sampai detik itu—kanopinya robek.
Sengaja. Dari dalam. Delapan panel kain hitam terpisah dari kerangkanya dan mengeras di udara dan menajam, dan sekarang ada enam belas benda melayang di sekelilingku, bukan delapan.
Enam belas melawan enam ratus.
Aku menyelesaikannya dalam empat menit.
Aku tidak akan menuliskan detailnya. Yang kutuliskan cuma ini: pada menit keempat, tidak ada lagi bilah yang melayang di kota Hollowbrook, dan aku berdiri di tengah jalan barat dengan payung yang kanopinya robek delapan tempat, dan [ Ashen Crown ] berlutut di depanku dengan tubuh yang tinggal kerangka.
“Aku memerintah selama empat puluh satu tahun,” katanya.
Aku berdiri di depannya.
“Aku dikubur dengan mahkotaku karena itu adatnya. Aku tidak minta.” Suara laki-laki lima puluhan itu sekarang sangat pelan. “Aku bangun di dalam gelap dan aku memanggil pengawalku dan tidak ada yang menjawab, jadi aku membuat pengawal baru dari apa pun yang ada di sekitarku.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Aku memerintah abu selama dua ratus tahun,” katanya. “Karena itu satu-satunya yang kutahu cara melakukannya.”
“Namamu,” kataku.
Ia mengangkat wajahnya yang tidak ada.
“Kau akan menuliskannya?”
“Iya.”
“Di sebelah dua ratus enam belas nama di alun-alun?”
Aku berhenti.
“Kau tahu tentang itu.”
“Kami semua tahu,” katanya. “Di bawah sana. Kabar bergerak pelan di antara yang tidur, tapi ia bergerak.”
Sesuatu yang sangat dingin naik di tulang belakangku.
“Dan ada yang mendengarnya,” lanjutnya, “yang tidurnya paling dalam. Yang paling tua. Ia sudah mendengar namamu selama berbulan-bulan, Pemegang Yang Pertama, dan ia mendengar sesuatu yang lain juga.”
“Apa.”
Mahkota kelabu itu miring sedikit.
“Bahwa kakaknya sudah menemukan sesuatu untuk dijaga,” katanya.
Dan lalu ia memberiku namanya, dan aku menuliskannya di buku catatanku malam itu.
Aku pulang dengan payung yang robek.
Delapan panel. Kanopinya menggantung dalam potongan-potongan, dan aku tidak bisa memperbaikinya, dan aku tahu itu akan sembuh sendiri dalam tiga hari karena benda ini selalu sembuh sendiri.
Kapten Valen berjalan di sebelahku sepanjang Jalan Lorne.
Kami tidak bicara.
Di depan pintu tokoku, dia berhenti.
“Noel.”
“Ya.”
“Besok,” katanya. “Aku akan datang besok.”
“Besok bukan Kamis.”
“Aku tahu.”
Dan dia pergi.
Dan aku berdiri di depan tokoku sendiri sampai lampu-lampu jalan menyala, memegang senjata pertama di dunia yang kanopinya robek delapan tempat, dan menyadari bahwa aku baru saja memberi tahu sesuatu yang tidur di kedalaman paling bawah persis apa yang harus diambil dariku.