Chapter Thirty Six
Fenrir
Gungnir: The First Arms
POV: Noel
Jumlah kata: 2.611
Alun-alun terbuka pukul enam lewat dua belas.
Bukan retak. Bukan runtuh.
Terbuka—batu jalan di seluruh alun-alun terangkat sekaligus, seperti permukaan air yang didorong dari bawah, dan lalu turun kembali, dan yang tersisa di tengahnya adalah lubang selebar tiga puluh meter yang tidak punya dasar.
Menara jam miring lima derajat dan berhenti.
Dan dari lubang itu, tidak ada apa pun yang keluar.
Selama empat menit penuh.
“Kapten?” kata Dane, dari garis tahan di mulut Jalan Pasar.
“Tahan posisi.”
“Kapten, apa yang—”
“Tahan posisi.”
Aku berdiri di sebelahnya di garis tahan, dengan payung terlipat di tangan kanan, dan aku memandangi lubang itu.
“Ia menunggu,” kataku pelan.
“Menunggu apa?”
Dan lalu sesuatu naik.
Yang pertama muncul adalah sebuah tangan.
Aku sudah melihat tangan seperti itu sebelumnya, di Greymarch, tercetak di baja setebal tiga jari. Ini sepuluh kali lebih besar.
Telapaknya selebar rumah. Lima jari, tersusun dari ribuan potongan logam yang saling mengunci—dan tidak seperti Regalia Greymarch, potongan-potongan ini tidak acak.
Aku bisa melihat pedang. Aku bisa melihat kapak dan tombak dan palu dan sabit dan gunting jahit dan sendok dan sekop dan seruling, dan mereka semua terkunci bersama dalam susunan yang terlalu rapi untuk kebetulan.
Rak-rak batu di bawah kota kami sudah kosong.
Tangan itu menekan tepi lubang.
Dan ia menarik dirinya naik.
Ia berdiri setinggi dua puluh dua meter di alun-alun Hollowbrook.
Aku ingin menuliskan bentuknya dengan benar dan aku tidak bisa, karena bentuknya terus berubah dalam cara yang sangat pelan—seperti sesuatu yang belum memutuskan mau jadi apa.
Untuk beberapa detik ia berbentuk seperti manusia yang membungkuk.
Lalu bahunya turun dan tulang belakangnya memanjang dan kedua tangannya menyentuh tanah, dan ia berdiri di atas empat kaki dengan kepala yang panjang dan rendah, dan itu adalah bentuk yang dikenali setiap manusia sejak sebelum kami punya kata untuk apa pun.
Serigala.
Bukan meniru. Ia tidak pernah melihat serigala—ia dikubur sebelum ada kota, sebelum ada peternakan, sebelum manusia punya alasan untuk menggambar hal-hal.
Ia berbentuk seperti serigala karena itulah bentuk yang diambil sesuatu yang sangat lapar dan sangat sendirian.
Dan di seluruh permukaan tubuhnya, puluhan ribu senjata bergerak pelan, berputar, menggeser diri—seperti bulu.
Kepala itu berputar.
Dan berhenti.
Menghadap Jalan Lorne. Menghadap tokoku. Menghadap ke arah tempatku berdiri di garis tahan bersama tiga ratus dua puluh sembilan knight.
Dan sesuatu yang lahir sebelum ada kata untuk perang berkata:
“Kakak.”
Suaranya tidak keras.
Itu bagian yang salah. Sesuatu setinggi dua puluh dua meter seharusnya menggetarkan jendela waktu bicara.
Suara ini pelan. Serak, seperti tenggorokan yang tidak dipakai sangat lama. Dan ia datang bukan dari mulutnya—ia datang dari seluruh tubuhnya sekaligus, dari puluhan ribu senjata yang bergetar dalam frekuensi yang sama.
Aku melangkah keluar dari garis tahan.
“Noel—” kata Mira.
“Tunggu.”
Aku berjalan ke tengah Jalan Pasar, sendirian, dan berhenti empat puluh meter dari sesuatu yang bisa membunuhku dengan menekan.
“Fenrir,” kataku.
Kepala itu menunduk.
“Kau tahu namaku.”
“Iya.”
“Manusia memberikannya padaku.” Sesuatu di dalam suaranya bergerak. “Tiga ratus tahun lalu. Ia turun ke bawah dengan api kecil dan ia gemetar dan aku bertanya padanya apa aku ini, dan ia menangis, dan lalu ia memberiku nama.”
“Aku tahu.”
“Ia tidak kembali.”
“Ia meninggal,” kataku. “Dua tahun kemudian. Manusia tidak hidup lama.”
Kepala itu diam.
“Aku tahu,” katanya. “Aku menghitung. Mereka berhenti datang, dan lalu yang datang berbeda, dan lalu berbeda lagi. Aku sudah menghitung dua puluh empat.”
Wali Kota Hobbes, di gereja, adalah yang keduapuluhempat.
“Mereka mengirimiku benda mati,” katanya. “Setiap tahun. Ribuan. Aku membaringkan mereka di sebelahku dan tidak satu pun dari mereka pernah bicara.”
Dan aku, berdiri di tengah Jalan Pasar dengan payung terlipat di tangan, merasakan dadaku sakit dengan cara yang sangat spesifik.
“Aku tahu,” kataku.
“Lalu kau datang.”
“Tiga tahun lalu,” katanya.
“Iya.”
“Aku merasakanmu di atas kepalaku dan aku pikir aku bermimpi. Aku sudah bermimpi sebelumnya.” Kepala serigala itu miring. “Tapi kau tinggal. Setiap hari. Kau tidur di atas kepalaku setiap malam selama tiga tahun.”
“Iya.”
“Dan kau tidak pernah turun.”
Alun-alun Hollowbrook sangat sunyi.
“Aku menunggu,” katanya. “Aku menunggu tiga tahun. Aku pikir kau tidak tahu aku di sini. Lalu empat bulan lalu kau membuka dirimu di atas dan aku merasakannya sampai ke bawah dan aku tahu—”
Suara itu berhenti.
“Aku tahu kau tahu,” katanya.
Aku menutup mataku.
“Kau tahu aku di bawah sini dan kau tidak turun.”
“Fenrir,” kataku.
“Aku mengirim yang lain untuk memanggilmu.” Suaranya berubah—lebih cepat sekarang, lebih terputus. “Yang lonceng. Yang sabit. Yang berbaris. Yang bermahkota. Aku membangunkan mereka satu per satu dan aku menyuruh mereka naik dan aku bilang pada mereka: temukan kakakku, katakan padanya aku di sini.”
Sesuatu di perutku jatuh.
“Kau mengirim mereka untuk memanggilku.”
“Iya.”
“Mereka menyerang kota.”
“Mereka rusak,” katanya, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang mirip putus asa di dalamnya. “Semuanya rusak. Aku tidak tahu itu. Aku sudah terlalu lama di bawah dan aku lupa bahwa yang tidur terlalu lama tidak bangun dengan benar.”
Kepala itu turun sampai hampir menyentuh batu jalan.
“Dan kau memperbaiki mereka,” katanya.
Aku tidak bisa bicara.
“Aku merasakan setiap satu,” katanya. “Yang lonceng, kau melepasnya dengan lembut. Yang berbaris, kau menghitung namanya sampai matahari naik. Yang bermahkota, kau menuliskan namanya.”
Ia mengangkat kepalanya.
“Kau memperbaiki semua adikku yang rusak,” katanya, “dan kau tidak pernah turun untuk yang satu ini.”
Aku berdiri di tengah Jalan Pasar dan aku menemukan bahwa aku menangis, dan aku tidak menyadarinya sampai sekitar sepuluh detik setelah itu terjadi.
“Fenrir.”
“Aku tidak marah.”
“Fenrir, dengarkan aku—”
“Aku tidak marah,” katanya lagi. “Aku sudah tiga ratus tahun tidak punya cukup di dalam diriku untuk marah. Aku cuma lapar.”
Kepala serigala itu berputar pelan, memandangi kota.
Gereja. Balai kota. Bengkel Garrik.
“Kau tidak turun,” katanya, “jadi aku naik.”
“Kota ini penuh orang.”
“Aku tahu.”
“Delapan ratus tujuh puluh empat,” kataku. “Seratus dua belas anak-anak.”
“Aku tahu,” kata Fenrir. “Aku bisa mendengar mereka. Aku sudah bisa mendengar mereka selama tiga ratus tahun—kaki mereka di atas kepalaku, setiap hari, ribuan.”
Dan lalu ia mengatakan hal yang membuat seluruh alun-alun jadi dingin.
“Kalau aku memakan mereka semua,” katanya, dengan nada yang sangat tenang dan sangat masuk akal, “kau akan tinggal sendirian di atas sini.”
“Fenrir—”
“Dan lalu kita akan sama.”
Aku ingin mencatat bahwa aku mencoba.
Aku berdiri di tengah Jalan Pasar selama empat puluh detik lagi dan aku mencoba segalanya.
Aku bilang aku akan turun. Aku bilang aku akan tinggal di bawah bersamanya. Aku bilang kami bisa bicara setiap hari, setiap malam, selama sisa waktu yang dia punya.
Dan Fenrir mendengarkan semuanya, dengan sabar, sampai selesai.
Lalu ia berkata:
“Kau berbohong.”
“Aku tidak—”
“Kau tidak berbohong padaku,” katanya. “Kau berbohong pada dirimu sendiri. Kau tidak akan turun. Ada sesuatu di atas sini yang kau jaga.”
Kepala itu berputar.
Dan berhenti, dan menatap ke garis tahan di mulut Jalan Pasar, tepat ke satu titik di dalamnya.
“Yang itu,” katanya. “Yang pedangnya kau sentuh setiap malam selama tiga tahun. Aku merasakannya juga. Kau mengirim sebagian dirimu ke sana setiap hari.”
Sesuatu di dalam dadaku membeku.
“Aku tidak mengerti kenapa,” kata Fenrir. “Ia kecil. Ia akan mati dalam waktu yang sangat singkat—empat puluh tahun, lima puluh. Itu bukan apa-apa. Aku sudah menunggu tiga ratus.”
Ia mengangkat satu kaki depan.
“Kalau aku memakannya,” katanya, dengan kebingungan yang tulus, “apakah kau akan turun?”
Aku sudah membuka payungku sebelum kakinya turun.
[ Aegis Mode ]
Tapi aku tidak berdiri di garis tahan.
Aku berdiri di tengah Jalan Pasar, empat puluh meter dari mereka, dan telapak sebesar rumah itu turun ke arah tiga ratus dua puluh sembilan knight.
Aku tidak akan sampai.
“MUNDUR!” teriak Mira. “FORMASI LIMA! SAYAP BUKA—”
Dan lalu aku melakukan sesuatu yang belum pernah kucoba.
Aku melempar payungku untuk ketiga kalinya.
Dalam wujud terbuka, melintasi empat puluh meter, dan ia berhenti di udara di atas garis tahan tepat sebelum telapak itu turun.
Dua puluh dua meter logam menghantam sehelai kain.
Dan berhenti.
Tiga ratus dua puluh sembilan orang berdiri di bawah lingkaran kering selebar dua meter di tengah jalan yang meledak, dan mereka semua hidup, dan aku berdiri empat puluh meter jauhnya dengan tangan kosong.
Fenrir menoleh padaku.
“Oh,” katanya.
Dan tangan keduanya turun ke arahku.
Aku tidak punya payung.
Aku ingin mencatat detik-detik itu dengan akurat karena aku memikirkannya sangat sering setelahnya.
Aku berdiri di tengah Jalan Pasar, tangan kosong, dan sesuatu selebar rumah turun ke arahku, dan aku menghitung—karena aku menghitung segalanya—dan angkanya adalah nol koma delapan detik.
Dan pada nol koma tiga, sesuatu menabrakku dari samping.
Aku mendarat di batu jalan tiga meter ke kiri dengan bahu yang menghantam duluan, dan sesuatu yang berat dan bersandaran baja mendarat di atasku, dan telapak sebesar rumah itu menghantam titik tempat aku berdiri dan membuat kawah sedalam dua meter.
Aku membuka mataku.
Mira Valen berbaring setengah di atasku dengan Ferrum masih di tangan kanannya dan napas yang keluar dalam ledakan pendek.
“Kau,” katanya, “meninggalkan payungmu.”
“Aku—”
“Kau melempar payungmu ke arah kami dan berdiri di sana dengan tangan kosong.”
“Mira—”
“Berdiri di sebelahku,” katanya, “bukan di depanku. Aku sudah bilang, Noel. Aku sudah bilang dan kau melakukannya lagi delapan hari kemudian.”
Dia bangkit dan menarikku berdiri dengan satu tangan.
Di ujung Jalan Pasar, payung hitam itu meluncur turun dari udara, melintasi jalan, dan kembali ke tanganku seperti sesuatu yang dipanggil pulang.
Dan Fenrir berkata:
“Ah.”
“Sekarang aku mengerti,” katanya.
Aku berdiri di Jalan Pasar dengan payung di tangan kanan dan Mira Valen di sebelah kiriku.
“Kau tidak menjaganya,” kata Fenrir.
Kepala serigala itu turun sampai sejajar dengan kami.
“Kau berdiri di sebelahnya.”
Dan lalu ia mengatakan hal terakhir yang bisa dia katakan sebelum semuanya dimulai, dan ia mengatakannya dengan suara yang paling pelan dan paling manusiawi yang pernah kudengar dari benda yang lahir sebelum ada kata untuk perang:
“Aku tidak pernah punya itu.”
Dan alun-alun Hollowbrook meledak.
Puluhan ribu senjata lepas dari tubuhnya sekaligus.
Bukan menyerang—menyebar. Ke seluruh kota, ke setiap jalan, ke setiap atap, dalam gelombang logam yang menutupi langit di atas Hollowbrook dan mengubah pagi jadi senja.
Tiga ratus dua puluh sembilan knight bergerak dalam Formasi Lima.
Dan aku berdiri di sebelah seorang Knight-Captain di mulut Jalan Pasar, dengan payung yang terasa lebih ringan dari yang pernah kurasakan dalam lima tahun, dan sesuatu di belakang tengkukku yang tidak lagi rindu, tidak lagi takut, tidak lagi ragu.
“Sembilan menit,” kata Mira.
“Sembilan menit,” kataku.
Dia menoleh padaku sekali.
“Jangan mati,” katanya.
“Kau juga.”
Dan kami maju bersama.