← Chapters Ch. 20 / 40

Chapter Twenty

Cara Memegang Pedang

Gungnir: The First Arms

POV: Noel

Jumlah kata: 2.496


Aku memberikan pembungkus gagang itu pada hari Kamis, empat puluh satu hari setelah selesai kujahit.

Aku ingin mencatat angkanya karena angkanya memalukan.

Dia sedang duduk di kursi rotan, mengerjakan laporan kerusakan badai, dengan cangkir kedua yang sudah setengah dingin. Aku berdiri di belakang konter selama sekitar sepuluh menit sambil berpura-pura membersihkan alat.

Lalu aku membuka laci, mengeluarkan bungkusan kain itu, dan meletakkannya di konter.

“Kapten.”

“Hm.”

“Ini untukmu.”

Dia mengangkat kepalanya.

Melihat bungkusan itu. Melihatku. Meletakkan penanya.

“Apa itu?”

“Buka.”

Dia membuka kainnya.

Dan lalu dia diam untuk waktu yang sangat lama.

Pembungkus gagang itu terbentang di konter kayuku: kulit sapi tersamak berwarna cokelat gelap, dijahit dengan benang lilin dalam pola spiral rapat, dengan tiga cekungan halus di sepanjang panjangnya.

“Ini untuk Ferrum,” katanya.

“Iya.”

“Kau membuat ini.”

“Iya.”

“Kapan?”

Aku memindahkan berat badanku.

“Beberapa waktu lalu.”

“Ashford.”

“Sekitar dua bulan lalu.”

Kepalanya terangkat dengan cepat. “Dua bulan?”

“Aku selesai dua bulan lalu,” kataku. “Aku menyimpannya di laci karena aku tidak tahu bagaimana memberikannya tanpa harus menjelaskan kenapa aku membuatnya.”

“Dan sekarang kau tahu?”

“Tidak,” kataku. “Aku cuma sudah lelah menatap laci itu setiap pagi.”

Dia mengangkat pembungkus itu dengan dua tangan.

Aku memperhatikan jarinya bergerak di sepanjang jahitan spiralnya, menemukan cekungan pertama, berhenti.

“Ada tiga,” katanya.

“Iya.”

“Kenapa tiga?”

“Karena kau menggenggam terlalu dekat ke pelindung tangan waktu ayunan turun,” kataku. “Aku sudah bilang itu tiga tahun lalu dan kau mengabaikanku.”

“Aku tidak mengabaikanmu, aku bilang Ferrum tidak pernah rusak.”

“Ferrum memang tidak pernah rusak. Tanganmu yang bergeser.” Aku menunjuk cekungan kedua. “Kalau kau memasang ini, telapakmu akan berhenti di sini secara otomatis. Dua sentimeter lebih rendah dari kebiasaanmu. Kau tidak akan menyadarinya setelah minggu pertama.”

Dia menatap benda itu.

“Dua sentimeter,” katanya.

“Dua sentimeter di titik yang benar mengubah sudut ayunan turunmu sebelas derajat,” kataku. “Sebelas derajat mengubah waktu pemulihan setelah tebasan dari nol koma tujuh detik jadi nol koma lima.”

“Kau menghitungnya.”

“Aku menghitung segalanya.”

“Dari mana?” Dia mengangkat kepalanya. “Kau tidak pernah memegang pedangku. Tidak sekali pun.”

Aku mengalihkan pandangan ke ketel.

“Ashford.”

“Kau memegang cangkir setiap Kamis,” kataku. “Selama tiga tahun.”

Hening.

Aku mendengar sesuatu—dia meletakkan pembungkus itu ke konter, atau mungkin dia menarik napas, aku tidak menoleh untuk memastikan.

“Kau mengukur tanganku,” katanya. Suaranya tipis. “Dari cara aku memegang cangkir.”

“Ada seratus dua puluh empat hari Kamis dalam tiga tahun,” kataku. “Aku tidak sengaja. Aku cuma... memperhatikan.”

“Kau memperhatikan.”

“Aku tukang reparasi, Kapten. Itu pekerjaanku.”

Itu bohong terbesar yang pernah kuucapkan di dalam tokoku sendiri, dan aku sangat berterima kasih bahwa dia memilih untuk membiarkannya.


Dia menyerahkan Ferrum sore itu.

Aku ingin mencatat betapa besar hal itu, karena orang yang tidak hidup di dunia ini mungkin tidak paham.

Artifact adalah jiwa yang dipadatkan. Menyerahkannya ke tangan orang lain adalah membuka dada.

Aku sudah menerima ratusan Artifact di konter ini. Sendok sup, palu, jarum, busur. Setiap kali, ada jeda—setengah detik, satu detik—waktu pemiliknya melepaskan genggamannya.

Kapten Valen tidak berjeda sama sekali.

Dia menarik Ferrum dari punggungnya, meletakkannya di konter, dan mendorongnya ke arahku dengan satu gerakan.

“Jangan dirusak,” katanya.

“Aku akan mencoba.”

“Aku serius, Ashford, kalau kau merusaknya aku akan—”

“Kapten.”

“Apa.”

“Terima kasih,” kataku.

Dia menatapku, lalu berdeham dan berpaling dan menghabiskan sisa sore itu berpura-pura sangat tertarik pada laporan kerusakan badai.


Aku memegang Ferrum untuk pertama kalinya pada malam itu, pukul sembilan, setelah toko tutup.

Dan aku hampir menjatuhkannya.

Bukan karena beratnya. Aku sudah tahu beratnya—dua puluh kilo lebih sedikit, bilah lebar, keseimbangan di tiga jari dari pelindung tangan.

Karena begitu jariku menyentuh logamnya, sesuatu di dalam benda itu melompat.

Seperti anjing yang mengenali pemiliknya.

Aku berdiri di tengah tokoku dengan greatsword Common rank di kedua tangan dan tidak bisa bergerak selama beberapa detik.

Lalu aku menoleh ke sudut ruangan.

“Kau,” kataku.

Payung itu bersandar di dinding.

“Tiga tahun,” kataku. “Aku memintamu menjaga sesuatu yang bukan milikku, dan kau menjawab dengan menoleh ke arah barak, dan aku menganggap itu persetujuan.”

Diam.

“Aku tidak pernah bertanya bagaimana,” kataku.

Dan sesuatu naik ke tengkukku—bukan gambar kali ini. Sesuatu yang lebih sederhana, lebih mirip perasaan seorang tua yang ditanya kenapa dia memberi makan kucing liar di belakang rumah dan tidak paham kenapa pertanyaan itu perlu ditanyakan.

Dia kecil.

“Dia Common rank,” kataku.

Dia kecil, katanya lagi. Dan dia berdiri di depan hal-hal.

Aku duduk di bangkuku dengan Ferrum di pangkuanku.

Aku memeriksanya dengan sarung tangan, di bawah lampu kerja, selama satu jam penuh.

Dan yang kutemukan membuat tanganku dingin.

Baja itu Common rank. Tidak ada yang berubah tentang itu—tidak ada berkat, tidak ada peningkatan rank, tidak ada satu pun perubahan yang bisa dicatat oleh pemeriksa Duelist Court mana pun di benua ini.

Tapi struktur internalnya salah.

Bukan salah seperti rusak. Salah seperti sesuatu yang sudah dijahit ulang dari dalam, berkali-kali, selama bertahun-tahun. Setiap retakan mikroskopis yang seharusnya terbentuk dari benturan—dan aku menemukan bekas dari ratusan—sudah menutup kembali sebelum sempat menyebar.

Ferrum tidak lebih kuat dari greatsword Common mana pun.

Ferrum cuma tidak pernah diizinkan patah.

Aku meletakkannya di beludru dan menutup mataku.

“Kau melakukan ini setiap hari,” kataku. “Selama tiga tahun. Dari seberang kota.”

Diam.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”

Dan yang datang, akhirnya, adalah sesuatu yang membuatku tertawa pelan di tokoku yang kosong pukul sepuluh malam.

Kau tidak bertanya.


Aku memasang pembungkus itu keesokan harinya. Butuh empat jam.

Dan lalu aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan.

Aku memoles bilahnya.

Bukan mengubah. Aku tidak akan mengubah apa pun tentang senjata orang lain tanpa diminta. Tapi ada lapisan oksidasi selama bertahun-tahun di permukaannya—warna kelabu kusam yang membuat orang di akademi bertanya apakah dia akan berperang atau mengaduk semen.

Aku menghabiskan tiga jam mengangkatnya dengan kain dan minyak.

Di bawahnya, bajanya berwarna putih perak.

Aku duduk memandanginya cukup lama.


Dia datang mengambilnya hari Sabtu.

Aku menyerahkannya dan dia menerimanya dan lalu dia berhenti bergerak sepenuhnya di tengah tokoku.

“Ini Ferrum,” katanya.

“Iya.”

“Ini bukan Ferrum.”

“Itu Ferrum,” kataku. “Aku cuma mengangkat oksidasinya.”

Dia memutar bilah itu di bawah cahaya jendela dan aku melihat wajahnya, dan lalu aku harus berbalik dan sangat sibuk dengan ketel selama sekitar setengah menit.

“Coba genggamannya,” kataku.

Dia menggenggamnya.

Dan telapaknya berhenti di cekungan kedua, persis di titik yang kuhitung, dan aku melihat matanya melebar sedikit.

“Oh,” katanya.

“Ayunkan.”

“Di dalam toko?”

“Halaman belakang.”


Halaman belakangku lima langkah kali delapan langkah. Aku sudah menuliskan itu berkali-kali.

Yang belum kutuliskan adalah bahwa lima kali delapan langkah adalah ruang yang sangat kecil untuk greatsword.

Dia mengayunkannya sekali. Ayunan turun, dari bahu kanan ke pinggang kiri.

Dan berhenti di titik yang salah.

“...Terlalu cepat,” katanya, bingung.

“Iya.”

“Aku berhenti terlalu jauh ke depan.”

“Karena pemulihannya lebih cepat dari kebiasaanmu,” kataku. “Tubuhmu masih menghitung nol koma tujuh detik. Sekarang nol koma lima.”

Dia mengayunkannya lagi. Terlalu jauh lagi.

Ketiga kalinya, dia hampir kehilangan keseimbangan.

“Sialan.”

“Ini normal,” kataku. “Kau perlu menyusun ulang seluruh urutan gerakmu. Butuh dua minggu.”

“Aku tidak punya dua minggu, Ashford. Kalau sesuatu naik dari Graveyard minggu depan aku akan berdiri di sana dengan pedang yang tidak kukenali—”

“Kalau begitu mari kita mulai sekarang.”

Dia menoleh.

“Kau?”

“Aku.”

“Kau tukang reparasi.”

“Aku menang enam puluh satu duel resmi,” kataku.

Hening.

“...Baik,” katanya. “Itu argumen yang bagus.”


Aku mengoreksi posturnya selama empat puluh menit dan sembilan puluh persennya berjalan sangat profesional.

Aku ingin menekankan itu.

Sembilan puluh persen.

“Kaki kanan lebih ke belakang. Tidak, terlalu jauh—” Aku menunjuk dengan payung terlipat. “Segaris dengan bahu.”

“Begini?”

“Iya. Sekarang ayunkan tanpa memindahkan pinggulmu.”

“Itu tidak mungkin.”

“Coba.”

Dia mencoba. Pinggulnya berputar.

“Kau memindahkan pinggulmu.”

“Aku tidak—”

“Kapten.” Aku menghela napas. “Aku akan menunjukkannya. Boleh?”

“Boleh apa?”

“Aku perlu memegang bahumu untuk menahan rotasinya.”

Ada jeda sekitar satu setengah detik.

“...Baik,” katanya.

Dan itulah kesalahannya.

Aku melangkah ke belakangnya dan meletakkan tangan kiriku di bahu kirinya dan tangan kananku di sisi kanan pinggulnya—posisi standar, aku sudah melakukannya puluhan kali di ruang latihan Duelist Court, aku bahkan tidak memikirkannya.

“Sekarang ayunkan,” kataku. “Aku akan menahan rotasinya supaya kau bisa merasakan bedanya.”

Dia mengayunkan Ferrum.

Aku menahan pinggulnya.

Ayunan itu berhenti di titik yang benar untuk pertama kalinya sore itu.

“Oh,” katanya.

“Kau rasakan?”

“Iya.”

“Sekali lagi.”

Dia mengayunkannya lagi. Aku menahan lagi.

Dan pada ayunan ketiga, momentum greatsword dua puluh kilo mendorong punggungnya ke belakang sekitar sepuluh sentimeter, dan aku—yang secara refleks menahan bebannya karena itu yang dilakukan seseorang di posisi ini—menarik kedua lenganku ke depan untuk menstabilkannya.

Dan menemukan bahwa kedua lenganku sekarang melingkari seseorang.

Kami berdua membeku.

Sepenuhnya. Total. Dua patung di halaman belakang lima kali delapan langkah.

Aku bisa merasakan punggungnya di dadaku. Aku bisa merasakan napasnya berhenti. Rambutnya—dia mengikatnya hari ini, tapi ada helai yang lepas—menyentuh rahangku.

Ferrum masih terangkat di kedua tangannya, membeku di tengah ayunan.

“Ashford,” katanya. Suaranya sangat, sangat kecil.

“Ya.”

“Tanganmu.”

“Iya.”

“Kau—” Dia menelan ludah. Aku merasakannya. “Ini bagian dari koreksi postur?”

Dan aku, yang sudah lima tahun tidak pernah kehilangan susunan kalimat, membuka mulutku dan berkata:

“Tidak.”

Hening total.

“Oh,” katanya.

Aku menarik tanganku.

Dia berbalik.

Kami berdiri di halaman belakangku dengan jarak sekitar dua puluh sentimeter, di sore hari yang mendung, dengan tali jemuran dan dua pot tanaman mati dan pagar setinggi dada yang masih belum kutinggikan.

Wajahnya merah sampai ke telinga. Aku curiga wajahku juga.

“Kapten—”

“Aku—”

Kami berdua berhenti.

“Kau duluan,” katanya.

“Tidak, kau.”

“Ashford, kalau aku duluan aku akan mengatakan sesuatu yang sudah dua kali gagal kuucapkan dan aku tidak yakin yang ketiga akan berhasil.”

Jantungku melakukan sesuatu yang seharusnya dilaporkan ke tabib.

“Kalau begitu,” kataku, “mungkin aku—”

KLANG.

Kami berdua melompat.

Ferrum—yang sudah dilepaskan dari genggamannya entah sejak kapan—jatuh ke batu pipih halaman dengan bunyi yang bisa didengar dari Jalan Lorne.

“Aku menjatuhkan pedangku,” katanya, dengan nada orang yang menerima hukuman dari Tuhan.

“Iya.”

“Aku menjatuhkan Artifact-ku.”

“Iya.”

“Ashford, aku knight-captain. Aku tidak pernah menjatuhkan—”

“Aku tahu.”

Dia berjongkok dan memungutnya dengan gerakan yang sangat cepat dan sangat malu, dan berdiri, dan menyandangnya, dan berdeham tiga kali.

“Aku harus kembali ke pos.”

“Tentu saja.”

“Latihannya bagus. Sangat bagus. Terima kasih atas—” dia melambaikan tangan ke arah umum halaman belakangku, “—instruksinya.”

“Sama-sama.”

“Besok?”

Aku berhenti.

Dia sudah setengah jalan ke pintu samping, dan dia berhenti juga, dan tidak menoleh.

“Latihan,” katanya cepat. “Kau bilang butuh dua minggu. Besok jam berapa?”

Ada sesuatu di dadaku yang tidak bisa kuberi nama.

“Empat sore,” kataku.

“Empat sore,” katanya.

Dan dia pergi.


Malam itu aku duduk di konterku dan tidak mengerjakan apa pun.

Payung di sudut ruangan bersandar di dinding.

“Jangan bilang apa-apa,” kataku.

Diam.

“Aku serius.”

Diam.

Lalu, sangat pelan, sesuatu di belakang tengkukku bergerak—bukan menoleh ke Graveyard, bukan ke barak.

Ke halaman belakang.

Ke titik batu pipih tempat dua orang berdiri membeku selama empat detik penuh.

Dan perasaan yang menyertainya, kalau aku harus menerjemahkannya, adalah sesuatu yang sangat mirip dengan seorang tua yang melipat tangannya dan berkata: sudah kubilang.

“Kau,” kataku, “adalah senjata terkuat di dunia dan kau menyebalkan.”

Aku memadamkan lampu.

Di luar, hujan turun tepat pukul empat dan berhenti tepat pukul lima, dan aku menyadari sekitar tengah malam bahwa aku sudah lupa memikirkan Graveyard sama sekali sepanjang hari itu.