Chapter Seven
Duelist dari Kota Besar
Gungnir: The First Arms
POV: Noel
Jumlah kata: 2.451
Hari Kamis datang, dan Kapten Valen tidak.
Bukan karena dia berubah pikiran. Ada tiga knight yang lehernya cedera akibat gelombang tekanan Bellmaw, ada laporan yang harus dikirim ke ibu kota, dan ada seorang kapten yang harus duduk di kantor Wali Kota selama enam jam menjelaskan kenapa sebuah Rare Stray bisa naik ke permukaan tanpa peringatan.
Aku tahu semua itu karena Ilva mampir pukul sebelas untuk membeli minyak pelumas yang tidak dia butuhkan, dan menyampaikan seluruh jadwal kaptennya dengan detail yang jauh melebihi kebutuhan transaksi pembelian minyak.
“Beliau bilang,” kata Ilva, meletakkan koin di konter dengan senyum yang membuatku waspada, “sampaikan pada Ashford bahwa penundaan ini bersifat administratif dan bukan pembatalan.”
“Itu... kalimat yang sangat panjang.”
“Beliau mengulanginya tiga kali supaya aku hafal, Tuan Ashford.”
“Aku mengerti.”
“Aku ragu Anda mengerti,” kata Ilva riang, dan pergi.
Jadi hari Kamis itu berlalu tanpa kursi rotan yang berdecit, dan aku menemukan bahwa ruangan ini punya ukuran yang berbeda pada hari-hari seperti itu.
Aku menuang dua cangkir seperti biasa.
Yang kedua dingin tanpa disentuh, dan aku membuangnya ke wastafel dengan perasaan yang menurutku sangat berlebihan untuk teh seharga tiga koin tembaga.
Orang itu datang hari Senin.
Aku mendengar kudanya sebelum aku melihat orangnya—bukan kuda kereta, tapi kuda tunggangan yang mahal, dengan bunyi tapal yang terlalu bersih. Kuda-kuda di Hollowbrook bunyinya seperti kuda yang bekerja. Yang ini bunyinya seperti kuda yang dipamerkan.
Loncengku berbunyi dengan nada pertama. Sangat, sangat yakin.
“Jadi ini tokonya.”
Lelaki itu berdiri di ambang pintu dan mengisinya. Bukan karena besar—tingginya biasa saja—tapi karena dia berdiri dengan cara orang yang sudah lama tidak pernah diminta minggir. Umur dua puluhan akhir. Mantel kulit hitam dengan jahitan perak di kerah. Rambut pirang gelap yang disisir ke belakang dengan minyak. Dan di pinggangnya, sebuah rapier dengan pelindung tangan berukir sulur.
Noble rank. Aku bisa merasakannya dari pintu.
“Selamat siang,” kataku. “Ada yang bisa kubantu?”
“Kau Ashford?”
“Ya.”
“Tukang reparasi.”
“Ya.”
Dia melangkah masuk, dan matanya menyapu ruangan dengan cara yang sangat spesifik—bukan melihat, tapi menilai. Rak alat. Konter kayu. Ketel di tungku. Kursi rotan.
“Namaku Verrin Dalcourt,” katanya. “Peringkat sembilan Duelist Court cabang selatan.”
“Selamat.”
Sesuatu berkedut di pipinya.
“Kau tidak tahu apa artinya itu.”
“Aku tahu artinya kau naik kuda mahal,” kataku, “dan bahwa kau tidak datang untuk memperbaiki apa pun, karena rapier-mu dalam kondisi sempurna dan kau tidak membawa bungkusan.”
Dia berhenti di tengah ruangan.
Lalu dia tersenyum, dan senyum itu jauh lebih jujur daripada seluruh dua menit sebelumnya.
“Bagus,” katanya. “Kau memang bisa melihat.”
Dia menarik kursi rotan—kursi itu—dan duduk tanpa diundang, menyilangkan kaki.
“Aku dengar cerita di jalur pegunungan,” katanya. “Ada tukang reparasi di kota tambang kecil yang bisa memperbaiki Artifact yang tidak bisa diperbaiki. Aku pikir itu omong kosong pedagang. Lalu aku bertemu seorang smith di Bramwell yang menunjukkan padaku sebuah Rare rank yang pernah patah dua.” Dia mencondongkan tubuh. “Aku memeriksanya sendiri. Tidak ada bekas las. Tidak ada sambungan. Tidak ada jejak tempa ulang.”
“Aku beruntung.”
“Lalu minggu lalu,” lanjutnya, mengabaikanku, “kota ini kehilangan suaranya selama empat puluh menit, dan sebuah Rare Stray kelas Bellmaw runtuh di alun-alun.” Matanya tidak berkedip. “Aku membaca laporan garnisunnya. Kapten kalian menulis bahwa makhluk itu ‘runtuh akibat kegagalan struktural internal’.”
“Aku bukan orang yang menulis laporan.”
“Kegagalan struktural internal,” ulang Verrin. “Pada Stray. Yang tidak punya struktur internal.”
Ketel di belakangku mendesis pelan.
Aku mengangkatnya dari tungku dan mulai menuang.
“Kau minum teh?”
“Ashford—”
“Aku bertanya apakah kau minum teh, Tuan Dalcourt. Ini toko. Ada tata krama.”
Dia menatapku, dan aku bisa melihat dia sedang menyusun ulang penilaiannya untuk kedua kalinya dalam lima menit.
“...Tanpa gula,” katanya akhirnya.
Aku meletakkan cangkir di depannya.
“Sekarang,” kataku, duduk di seberangnya. “Apa yang sebenarnya kau inginkan?”
“Duel.”
“Tidak.”
“Aku belum menyebutkan syaratnya.”
“Tidak ada syarat yang mengubah jawabannya.”
Verrin meletakkan cangkirnya. Senyumnya menipis.
“Aku sudah menghabiskan empat hari di jalan,” katanya. “Aku peringkat sembilan. Aku sudah mengalahkan dua Regalia bearer di arena resmi. Dan aku datang ke lubang ini karena aku ingin tahu satu hal, dan aku akan tahu satu hal itu sebelum aku pergi.”
“Yaitu?”
“Apakah kau dia.”
Ruangan itu jadi sangat sunyi.
Aku memegang cangkirku dengan dua tangan dan tidak minum.
“Aku tidak tahu siapa yang kau maksud,” kataku.
“Rainmaker.”
Namanya jatuh di antara kami seperti batu di kolam.
“Lima tahun lalu dia menghilang dari Duelist Court,” kata Verrin. “Sebelum itu dia menang enam puluh satu duel resmi. Tidak ada yang tahu Artifact-nya. Tidak ada satu pun catatan resmi yang menyebut bentuknya—kau tahu betapa gilanya itu? Enam puluh satu duel di depan penonton dan tidak ada satu orang pun yang bisa sepakat apa yang dia pegang.”
“Kedengarannya seperti legenda yang dibesar-besarkan.”
“Semua orang yang pernah melawannya mengatakan hal yang sama,” kata Verrin. “Bukan tentang senjatanya. Tentang setelahnya.” Dia mencondongkan tubuh lebih dekat. “Mereka bilang mereka tidak kalah. Mereka bilang senjata mereka dilepas. Baut demi baut. Sambungan demi sambungan. Dan bahwa waktu semuanya selesai, tidak satu pun dari mereka terluka, dan Artifact mereka tergeletak di lantai arena dalam potongan-potongan yang tersusun rapi menurut ukuran.”
Aku minum tehku.
“Itu detail yang aneh untuk diingat,” kataku.
“Menurut ukuran, Ashford. Rapi. Seperti seseorang yang membongkar jam.”
Di sudut ruangan, di dinding belakang konter, sebuah payung hitam bersandar dengan sangat diam.
“Aku tetap menolak,” kataku.
Verrin berdiri.
“Kalau begitu aku akan tinggal,” katanya ringan. “Penginapan di jalan ini, ya? Aku akan tinggal seminggu. Dua minggu. Aku akan berkeliling kota kalian dan bertanya-tanya pada semua orang tentang tukang reparasi ajaib mereka, dan aku akan menulis surat pada beberapa kenalanku di ibu kota tentang betapa menariknya kota kecil ini—”
“Kau tahu,” kataku, “aku menghargai kejujuranmu.”
Dia berhenti.
“Sebagian besar orang yang mengancam mencoba membuatnya terdengar seperti bukan ancaman,” lanjutku. “Kau tidak repot-repot. Itu efisien.”
“Aku peringkat sembilan,” katanya. “Aku tidak punya waktu untuk bersopan santun dengan orang yang membuang bakatnya di gudang berdebu.”
Aku meletakkan cangkirku.
Ada beberapa cara menghadapi situasi ini. Sebagian besar dari cara itu berakhir dengan surat ke ibu kota. Satu di antaranya tidak.
“Di belakang toko ada halaman,” kataku. “Lima langkah kali delapan langkah. Pagarnya setinggi dadaku, meski aku sudah berjanji akan meninggikannya.”
Wajah Verrin berubah.
“Satu ronde,” kataku. “Tanpa penonton. Kalau kau menang, aku akan menjawab pertanyaanmu dengan jujur. Kalau aku menang, kau naik kudamu, kau pulang, dan kau tidak menulis surat pada siapa pun.”
“Dan kalau aku menulis surat itu tetap?”
“Kau tidak akan,” kataku, sambil berdiri dan meraih payungku dari dinding. “Aku sudah cukup lama bertemu duelist untuk tahu mana yang berbohong dan mana yang cuma kasar. Kau kasar. Kau bukan pembohong.”
Verrin Dalcourt menatapku selama tiga detik.
Lalu dia tertawa, sungguhan, dan itu membuatku hampir menyukainya.
“Payung,” katanya. “Kau serius.”
“Di luar sedang mendung.”
Halaman belakang tokoku lima langkah kali delapan langkah, seperti kataku. Tanahnya batu pipih. Ada tali jemuran di sudut, dua pot tanaman mati yang tidak pernah kubereskan, dan pagar kayu setinggi dada yang kata seseorang perlu ditinggikan karena rusa.
Verrin berdiri di ujung selatan. Rapier-nya sudah keluar.
Aku berdiri di ujung utara dengan payung terlipat di tangan kanan, ujungnya menyentuh batu.
“Aturan Court?” tanyanya.
“Aturan toko,” kataku. “Sampai salah satu tidak bisa lagi memegang senjatanya.”
“Kau akan menyesal.”
“Sering.”
Dia bergerak.
Dan aku harus mengakui: dia cepat.
Peringkat sembilan bukan angka main-main. Rapier itu Noble rank, ringan, dan Verrin menggunakannya seperti orang yang tumbuh besar dengan benda itu di tangannya sejak umur lima belas—tusukan lurus, tarikan, tusukan kedua ke sudut yang berbeda sebelum kakinya bahkan selesai mendarat.
Tiga tusukan dalam satu detik.
Aku memiringkan payung sebelas derajat dan ketiganya lewat.
Bukan tangkisan. Kalau kau menangkis rapier, kau memberinya sesuatu untuk didorong. Aku cuma menempatkan permukaan lengkung di jalur yang tepat dan membiarkan ujung bilahnya menemukan bahwa arahnya sudah bukan arah yang tadi dia tuju.
Verrin mundur setengah langkah. Aku melihat matanya berubah.
“Kau tidak menangkis,” katanya.
“Tidak.”
Dia menyerang lagi. Lebih baik kali ini—feint ke bahu, putar pergelangan, tusukan sebenarnya ke pinggang kiri.
Aku memutar tubuh dua puluh derajat. Bilahnya lewat di depan perutku dengan jarak dua sentimeter.
“Berhenti main-main!”
“Aku tidak main-main,” kataku. “Aku sedang menghitung.”
“Menghitung apa?”
Aku menekan ibu jariku ke pangkal kanopi.
“Bagian-bagianmu,” kataku.
Delapan jari-jari payung itu lepas.
Mereka tidak jatuh. Mereka mengambang—delapan batang logam ramping sepanjang lengan bawah, melayang keluar dari kanopi dan menyebar dalam pola setengah lingkaran di udara di sekitarku, ujung-ujungnya menajam sendiri dengan bunyi seperti pisau ditarik dari sarung.
[ Fangs ]
Verrin Dalcourt berhenti bergerak.
Wajahnya, untuk pertama kalinya sejak dia masuk ke tokoku, kehilangan seluruh susunannya.
“Itu—” Suaranya pecah. “Itu tidak mungkin. Satu jiwa satu senjata. Itu hukum. Itu hukum—”
“Iya,” kataku. “Maaf.”
Aku menggerakkan dua jari.
Fang pertama melesat.
Tidak ke tubuhnya. Ke pelindung tangan rapier-nya, ke satu titik di mana sulur ukiran bertemu dengan batang bilah—titik sambungan, satu-satunya tempat di seluruh senjata itu yang dirakit dan bukan ditempa utuh.
Tik.
Sulur ukiran itu terlepas dan jatuh ke batu.
Verrin menatap tangannya.
Fang kedua dan ketiga bergerak bersamaan. Satu memutar dari kiri, satu dari kanan, dan keduanya menyentuh titik berbeda di sepanjang pelindung tangan itu dengan interval seperempat detik.
Tik. Tik.
Dua potong lagi terlepas.
“Berhenti—”
Dia mengayunkan rapier ke arah Fang terdekat. Aku menariknya menjauh dua puluh sentimeter, dan Fang keempat masuk lewat celah yang baru saja dia buka dengan ayunan itu sendiri, dan menyentuh pangkal gagangnya.
Tik.
Pembungkus kulit gagang itu terbuka dan melorot.
Aku maju satu langkah. Verrin mundur dua.
Empat Fang tersisa bergerak dalam pola yang sudah kuhitung sejak tusukan ketiganya—bukan menyerang, cuma menutup. Kiri. Kanan. Atas. Belakang. Setiap kali dia menggeser berat badannya untuk lari ke satu arah, ada satu batang logam yang sudah lebih dulu ada di sana, tidak menyentuhnya, cuma ada.
Dia berhenti dengan punggung di pagar kayu setinggi dada.
Napasnya berat. Rapier di tangannya sekarang tinggal batang bilah telanjang dengan gagang kayu polos—semua ukiran, semua pelindung, semua bagian yang bisa dilepas, sudah tergeletak di batu jalan halaman belakangku.
Aku menurunkan tangan.
Delapan Fang kembali, satu per satu, menempel ke kanopi dengan bunyi klik pelan yang berurutan seperti orang menutup laci.
Payung itu utuh lagi.
Aku berjalan mendekat, berjongkok, dan mulai memungut potongan-potongan rapier-nya.
“Apa yang kau lakukan,” kata Verrin serak.
“Menyusun.”
“Kenapa?”
“Karena kalau berserakan, kau akan kehilangan yang kecil-kecil, dan yang kecil-kecil itu yang paling sulit dibuat ulang.” Aku meletakkan potongan-potongan itu di batu pipih di antara kami, berbaris, dari yang terpanjang ke yang terpendek. “Bawa ke smith mana pun. Semua sambungannya kubuka, tidak ada yang patah. Dia cuma perlu memasangnya kembali.”
Verrin merosot sampai jongkok, punggungnya di pagar.
“Enam puluh satu duel,” katanya. “Tersusun menurut ukuran.”
Aku tidak menjawab.
“Kenapa,” katanya. “Kenapa kau sembunyi di sini? Dengan itu? Kau bisa punya apa saja.”
Aku berdiri, dan aku memandang halaman belakangku—lima langkah kali delapan langkah, tali jemuran, dua pot mati, pagar yang belum kutinggikan.
“Aku punya apa saja,” kataku.
Dia menatapku seperti aku bicara bahasa lain.
Mungkin memang.
Dia pergi sore itu.
Sebelum naik kudanya, dia berhenti di depan tokoku dengan bungkusan kain berisi rapier-nya di bawah lengan.
“Aku tidak akan menulis surat,” katanya.
“Aku tahu.”
“Bukan karena janji.” Dia memasang sarung tangan berkuda dengan gerakan kasar. “Aku peringkat sembilan. Kalau aku menulis bahwa Rainmaker ada di kota tambang dan mengalahkanku dalam empat puluh detik dengan payung, aku tidak akan jadi peringkat sembilan lagi. Aku akan jadi lelucon.”
“Itu alasan yang jauh lebih bisa kupercaya.”
“Aku benci kota ini,” katanya, menaiki kudanya.
“Kami menerima banyak wisatawan.”
Dia menatapku dari atas pelana untuk waktu yang cukup lama.
“Ashford.”
“Ya?”
“Kaptenmu.” Dia mengangkat dagu ke arah alun-alun, ke arah barak. “Perempuan berpedang kelabu itu. Dia berdiri di depan Bellmaw sendirian dengan Common rank.”
“Aku tahu.”
“Dia akan mati suatu hari nanti,” kata Verrin datar. “Orang seperti itu selalu begitu. Mereka berdiri di depan hal-hal.”
Sesuatu di dadaku menjadi sangat dingin.
Verrin menarik tali kekang, dan berkata hal terakhirnya sambil berbalik:
“Kalau aku punya apa yang kau punya, aku tidak akan menyimpannya di gudang.”
Lalu dia pergi, tapal kudanya berdenting di batu Jalan Lorne sampai suaranya habis di ujung utara.
Aku berdiri di depan tokoku sampai matahari turun.
Lalu aku masuk, dan aku tidak menyeduh teh, dan aku duduk di kursiku dengan payung di pangkuan dan memandangi jendela ke arah alun-alun tempat lampu barak garnisun menyala satu per satu.
Dia akan mati suatu hari nanti. Orang seperti itu selalu begitu.
“Tidak,” kataku pada ruangan kosong.
Payung di pangkuanku diam.
Tapi ini yang harus kucatat, karena aku menyadarinya belakangan dan aku belum siap menghadapi artinya:
Selama tiga tahun, aku menyimpan benda ini supaya tidak ada yang terluka.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku memikirkan bahwa aku mungkin akan mengeluarkannya lagi—
dan alasannya bukan lagi supaya tidak ada yang terluka.
Alasannya punya nama.