← Chapters Ch. 6 / 40

Chapter Six

Lonceng yang Lapar

Gungnir: The First Arms

POV: Noel

Jumlah kata: 2.462


Kota itu jadi bisu pukul sebelas malam.

Aku tidak menemukan cara yang lebih baik untuk mengatakannya. Bukan sunyi—sunyi adalah sesuatu yang terjadi pada malam biasa, dan sunyi punya isi: derit kayu, angin di celah jendela, anjing di dua jalan sebelah.

Ini bukan sunyi.

Aku sedang mengunci gembok toko ketika terjadi. Gembok itu punya bunyi klik yang sangat khas, bunyi yang sudah kudengar seribu kali.

Aku mendorong tuasnya.

Tidak ada bunyi.

Aku berhenti. Mendorongnya lagi. Aku bisa merasakan mekanismenya bergerak di bawah jariku, aku bisa merasakan getarannya naik ke telapak tangan—

Dan telingaku tidak menerima apa pun.

Aku menghentakkan sepatu ke lantai kayu. Nihil.

Aku bertepuk tangan sekali, keras. Nihil.

Aku membuka mulut dan berkata halo, dan aku bisa merasakan tenggorokanku bergetar, bisa merasakan bentuk kata itu di lidahku, dan yang keluar adalah tidak ada apa-apa sama sekali.

Di kejauhan—atau setidaknya di tempat yang seharusnya jauh—aku melihat lentera bergerak-gerak panik di jendela rumah seberang.

Aku berdiri di depan pintu tokoku, di dalam kebisuan yang total, dan sesuatu yang sudah lama sekali tidak kurasakan naik dari perutku ke tengkuk.

Bukan takut.

Pengenalan.

Aku pernah mendengar tentang ini.

Aku masuk kembali ke dalam toko, meraih payungku dari sudut dinding, dan keluar lewat pintu belakang.


Kalau kau ingin tahu bagaimana rasanya kota tiga ribu jiwa yang kehilangan suaranya sekaligus, ini jawabannya:

Seperti mimpi buruk yang terjadi pada orang lain dan kau kebetulan berdiri di dalamnya.

Aku berlari menyusuri Jalan Lorne. Pintu-pintu terbuka. Orang-orang berhamburan keluar—dan mereka semua berteriak. Aku bisa melihatnya. Mulut terbuka lebar, urat leher menonjol, wajah merah karena tenaga yang dikeluarkan.

Tidak ada satu suara pun.

Seorang ibu menggendong bayinya. Bayi itu menangis dengan seluruh tubuhnya, wajahnya berkerut merah, tangannya mengepal.

Diam.

Aku melihat perempuan itu menyadarinya. Aku melihat tangannya naik ke mulut bayinya lalu turun lagi lalu naik lagi, dan aku melihat detik ketika seorang ibu memahami bahwa dia tidak akan bisa mendengar anaknya menangis, dan aku memutuskan bahwa apa pun yang melakukan ini akan kubongkar sampai ke bautnya.

Aku menyentuh bahunya. Dia berputar, panik.

Aku menunjuk ke arah gereja.

Dia mengerti. Dia lari.

Dan di seberang alun-alun, di bawah menara jam, aku melihat sesuatu yang membuatku berhenti.

Garis. Sebuah garis knight.

Delapan orang, perisai terangkat, formasi setengah lingkaran menutup mulut Jalan Utara. Tanpa perintah yang bisa didengar. Tanpa aba-aba. Delapan orang bergerak sebagai satu benda karena mereka sudah cukup lama berlatih dengan seseorang yang memaksa mereka menghafal formasi sampai tidak butuh suara.

Dan di depan mereka, di titik paling depan, berdiri seorang perempuan dengan greatsword kelabu.

Kapten Valen mengangkat tangan kirinya. Dua jari ke atas. Lalu mengepal.

Garis itu maju dua langkah dan berhenti.

Aku berdiri di tengah alun-alun yang bisu, memegang payung terlipat di tangan kiri, dan untuk sesaat aku tidak memikirkan Stray Arms sama sekali.

Bagus sekali, pikirku. Kau bagus sekali.

Lalu benda itu keluar dari Jalan Utara.


Aku pernah membaca laporan tentangnya.

Bukan tentang benda ini secara khusus, tapi tentang jenisnya—dan laporan itu ada di arsip Duelist Court, di ruangan yang aksesnya butuh tiga tanda tangan, dan aku tidak akan menjelaskan bagaimana aku pernah punya ketiganya.

Rare Stray. Satu tubuh. Punya kebiasaan.

Bentuknya seperti lonceng gereja yang dipaksa berjalan.

Tingginya dua setengah meter. Badannya cor logam melengkung, permukaannya penuh guratan seperti lonceng tua yang sudah retak dan dilas ulang berkali-kali. Ia tidak punya kaki—ia bergerak dengan melompat pendek, menghantam batu jalan dengan bibir loncengnya, dan setiap hantaman mengirimkan gelombang yang bisa kurasakan di dada tapi tidak bisa kudengar.

Dan mulutnya terbuka ke bawah.

Di dalam mulut lonceng itu, di tempat yang seharusnya ada pemukul, ada barisan gigi.

Bukan gigi. Aku melihatnya lebih jelas waktu ia melompat lagi: itu potongan-potongan bilah. Ratusan. Pecahan pisau, pedang, sabit, semuanya tertanam melingkar di rongga dalamnya seperti gigi hiu.

[ Bellmaw ], kata sesuatu di belakang tengkukku, dan itu bukan nama yang kuberikan.

Ia melompat sekali lagi. Jarak lima meter dari garis knight.

Kapten Valen menjatuhkan tangannya.

Delapan perisai membentur tanah bersamaan. Aku bisa merasakan getarannya lewat sol sepatuku.

Tidak ada bunyi.


Mereka bertahan selama empat puluh detik, dan itu keajaiban tersendiri.

Bellmaw menghantam garis itu dengan bibir loncengnya. Perisai kedua dari kiri hancur—aku melihat pecahannya beterbangan seperti serpihan kayu di air. Orangnya terlempar dan menghantam dinding.

Kapten Valen sudah ada di celah itu sebelum celahnya terbentuk penuh.

Ferrum turun. Menghantam sisi lonceng. Benda itu terhuyung, bergeser setengah meter di batu jalan.

Aku melihat wajah Kapten Valen waktu itu terjadi.

Dia berteriak. Aku bisa melihat bentuk kata di mulutnya: MUNDUR. GARIS DUA. MUNDUR.

Tidak ada yang mendengar.

Dan itulah senjata benda ini yang sebenarnya—bukan giginya. Kau bisa melawan gigi. Yang tidak bisa kau lawan adalah delapan orang yang tidak bisa diberi tahu ke mana harus bergerak, dan seorang kapten yang mendadak jadi bisu, dan setiap detik yang terbuang untuk menerjemahkan panik jadi isyarat tangan.

Dane bergerak ke kiri padahal seharusnya kanan.

Bellmaw berbalik ke arahnya.

Kapten Valen melompat ke jalur itu.

Dia tidak sempat mengangkat Ferrum sepenuhnya. Aku melihat perhitungannya di bahunya—dia memilih menerima hantamannya di bilah pedang yang ditahan miring, membuang momentumnya ke samping, dan dia tahu itu akan membuatnya terlempar.

Dia terlempar.

Enam meter. Punggungnya menghantam pilar batu air mancur.

Dan bibir lonceng itu terangkat di atasnya, gigi-gigi bilahnya terbuka, dan seluruh alun-alun bisu, dan tidak ada satu orang pun yang bisa berteriak namanya.


Aku sudah bergerak sejak lima detik yang lalu.

Ini bagian yang harus kutulis dengan jujur, karena aku sempat berpikir. Aku ingin mencatat bahwa aku sempat berpikir, sekitar sepersekian detik, tentang tiga ratus mata dan surat dari ibu kota dan toko kecil yang tidak akan bisa lagi kutinggali dengan tenang.

Sepersekian detik. Itu saja.

Lalu aku membuka payungku.

[ Aegis Mode ]

Kanopi itu terbuka penuh dengan gerakan yang seharusnya mustahil untuk kain—tidak ada bunyi kepakan, tidak ada getar, cuma satu bentangan hitam sempurna yang tiba-tiba ada di sana seperti memang selalu ada.

Aku menancapkannya di batu jalan tepat di atas Kapten Valen, gagangnya kutahan dengan telapak kanan, dan aku merendahkan tubuhku di sisinya.

Bellmaw jatuh.

Dua setengah meter logam cor dengan ratusan bilah di rongganya, jatuh dengan seluruh beratnya, ke atas sehelai kain payung.

Dan berhenti.

Bukan terpental. Bukan tertahan. Berhenti—seperti seseorang yang berlari ke arah pintu dan menemukan bahwa pintu itu tidak pernah ada di sana, dan bahwa dinding di baliknya tidak pernah ada juga, dan bahwa gagasan tentang “melewati” secara umum tidak berlaku di ruangan ini.

Karena itulah yang dilakukan payung ini.

Ia tidak menahan serangan. Ia tidak menyerap benturan. Ia cuma memutuskan bahwa di bawah kanopinya, konsep tembus tidak berlaku, dan dunia—yang sudah terbiasa mengalah pada benda ini sejak sebelum ada kata untuk “perang”—setuju.

Getarannya naik ke pergelangan tanganku. Tidak lebih dari itu.

Bellmaw terpelanting mundur seolah dirinya sendiri yang salah hitung.

Dan di bawah kanopi, dalam lingkaran kering selebar dua meter di tengah kota yang basah dan bisu, seorang kapten garnisun mengangkat kepalanya dan menatapku.

Kami sangat dekat. Aku bisa melihat lumpur di pipinya dan pupilnya yang melebar dan helai rambut yang lepas dari ikatannya.

Aku bilang sesuatu.

Aku tidak tahu apa. Tidak ada suaranya. Aku ingat bentuknya di mulutku dan aku ingat bahwa aku bermaksud mengatakan jangan bergerak, tapi aku sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa yang keluar mungkin bukan itu.

Dia menatap payung di atas kepalanya.

Lalu menatapku.

Dan aku melihat—dengan jelas, tanpa ruang untuk salah tafsir—bahwa dia sedang menyimpan gambar ini, dan bahwa dia tidak akan melupakannya, dan bahwa tiga tahun kehati-hatianku baru saja retak selebar celah pintu.

Aku menutup payung itu.

Klik.

Dan bersama bunyi itu—bunyi pertama dalam empat puluh menit terakhir, satu-satunya bunyi di seluruh kota Hollowbrook malam itu—aku berdiri, memutar tubuhku, dan mendorong ujung payung terlipat itu lurus ke depan.

Tidak ke arah lonceng.

Ke arah rongganya.

Ke satu titik di dalam mulutnya, di antara gigi-gigi bilah, tempat sebuah pecahan kecil berbentuk lidah lonceng bergetar dengan frekuensi yang salah.

Ujung payung itu menyentuhnya.

Dan seluruh dunia kembali.


Suara datang seperti air bah.

Jeritan. Tangisan bayi tiga jalan dari sini. Derak batu. Napas delapan knight yang mendadak bisa mendengar napas mereka sendiri. Seseorang di jendela lantai dua berteriak “AKU BISA DENGAR!” dengan suara yang pecah.

Dan di tengah semua itu, Bellmaw menjerit.

Satu dentang. Panjang, retak, dan sangat, sangat tua—suara lonceng gereja yang sudah dua ratus tahun tidak pernah dibunyikan, dilepaskan sekaligus.

Lalu ia runtuh. Bukan meledak. Runtuh, seperti bangunan yang kehilangan alasan untuk berdiri, dan potongan-potongan bilah di rongganya berhamburan ke batu jalan dengan bunyi gemerincing yang berlangsung lama sekali.

Aku berdiri di tengahnya, memegang payung terlipat.

“...Ashford.”

Aku menoleh.

Kapten Valen sudah berdiri. Bertumpu pada Ferrum. Lumpur di pipinya, darah tipis di pelipisnya, napasnya berat.

Dan matanya tidak lepas dariku.

“Apa yang baru saja kau lakukan,” katanya.

Aku memiringkan kepala, dan aku mengerahkan seluruh tiga tahun latihan menjadi orang yang tidak menarik untuk mengucapkan kalimat berikutnya dengan nada seringan mungkin:

“Aku menemukan bagian yang rusak,” kataku, “dan menekannya.”

Dia menatapku.

Alun-alun di sekitar kami penuh orang yang berlari, berteriak, memeluk satu sama lain, memanggil nama anak-anak mereka. Delapan knight bangkit satu per satu. Dane tertawa dan menangis bersamaan. Seseorang membunyikan lonceng gereja berkali-kali cuma untuk membuktikan bahwa lonceng masih bisa berbunyi.

Tidak ada satu pun dari mereka yang melihat.

Cuma dia.

“Kau menemukan,” katanya perlahan, “bagian yang rusak. Di dalam mulut Rare Stray. Sambil melindungi kepalaku. Dengan payung.”

“Kedengarannya lebih mengesankan kalau kau yang mengucapkannya.”

“Ashford—”

“Kapten.” Aku menunjuk pelipisnya dengan dagu. “Kau berdarah, dan ada tiga orang yang lehernya perlu diperiksa Bibi Marta, dan garnisunmu sedang menunggu perintah.”

Rahangnya mengeras. Aku melihat pertempuran kecil terjadi di wajahnya—tugas melawan pertanyaan—dan aku melihat tugas menang, karena tugas selalu menang pada orang seperti dia, dan karena itulah dia jadi kapten di usia dua puluh lima.

“Ini belum selesai,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kamis,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Kamis,” kataku.

Dia berbalik dan mulai meneriakkan perintah dengan suara yang, malam ini, terdengar oleh semua orang.

Aku berjalan pulang menyusuri Jalan Lorne sambil membawa payungku, melewati orang-orang yang berpelukan di ambang pintu mereka, melewati anak-anak yang menjerit girang cuma karena mereka bisa menjerit.

Di belakangku, jauh di bawah batu jalan, tanah bergetar satu kali—singkat, pelan—dan aku tidak berhenti berjalan, tapi aku merasakannya sampai ke tulang.

Kau sudah bangun, pikirku. Dan kau baru saja mendengarku.

Aku mengunci tokoku. Kali ini gemboknya berbunyi klik.

Lalu aku duduk di kegelapan dengan payung di pangkuanku dan tidak menyeduh teh sama sekali, karena tanganku bergetar, dan aku sudah lama sekali tidak merasakan itu.