Chapter Two
Inspeksi Rutin
Gungnir: The First Arms
POV: Noel
Jumlah kata: 2.341
Ada tiga hal yang selalu terjadi setiap hari Kamis di Hollowbrook.
Pertama, pasar pagi di alun-alun tutup lebih cepat, karena hari Kamis adalah hari pengiriman ke kota tetangga dan semua pedagang ingin gerobaknya berangkat sebelum tengah hari.
Kedua, Bibi Marta memasak sup kacang di penginapannya, dan seluruh jalan ini berbau daun bawang sampai sore.
Ketiga—dan ini yang paling tidak bisa kujelaskan—aku selalu bangun lebih pagi.
Bukan karena ada yang perlu dikerjakan. Toko ini tidak pernah ramai. Aku cuma... bangun. Lalu menyapu lantai yang sudah bersih, meluruskan buku-buku catatan yang sudah lurus, dan mengelap konter yang tidak berdebu karena aku mengelapnya kemarin. Setelah itu aku duduk dan merasa aneh pada diriku sendiri selama kira-kira sepuluh menit sebelum menyerah dan menyeduh teh.
Pagi ini pun begitu.
Aku sedang berjongkok di depan rak paling bawah, menyusun ulang kaleng-kaleng minyak menurut ukuran—kegiatan yang sama sekali tidak diperlukan siapa pun di dunia ini—ketika lonceng pintu berbunyi.
Nada pertama. Yakin. Bahkan agak terlalu yakin, seperti pintu yang didorong oleh orang yang sudah memutuskan sesuatu dua puluh langkah sebelum sampai.
“Selamat pagi. Inspeksi rutin.”
Aku berdiri sambil membawa dua kaleng minyak.
Kapten Mira Valen berdiri di ambang pintu dengan sinar matahari pagi di belakangnya, yang sejujurnya agak tidak adil karena membuat siapa pun tampak seperti ilustrasi di buku sejarah. Armor tempur ringan, jubah kelabu knight Hollowbrook di bahu kirinya, rambut cokelat gelap diikat rapi ke belakang. Greatsword-nya tersampir di punggung—bilah lebar tanpa ornamen apa pun, gagang dibungkus kulit yang sudah menghitam karena keringat bertahun-tahun.
Punggungnya tegak. Dagunya sedikit terangkat. Ekspresinya adalah ekspresi orang yang sedang menjalankan tugas negara.
“Selamat pagi, Kapten,” kataku. “Inspeksi apa hari ini?”
“Izin usaha.”
“Kau memeriksa izin usahaku minggu lalu.”
Hening satu detik.
“Ada... pembaruan regulasi,” katanya.
“Dalam tujuh hari?”
“Kantor Wali Kota bekerja sangat cepat akhir-akhir ini.”
Aku mengangguk pelan dan meletakkan kaleng minyak di rak. “Kalau begitu aku minta maaf atas kelambatan administrasi. Silakan duduk. Berkasnya ada di laci.”
Dia melangkah masuk.
Dan di sinilah bagian yang selalu membingungkanku.
Di luar sana, aku pernah melihat Kapten Valen berdiri di depan gerbang selatan saat badai, memberi perintah pada dua puluh knight dengan suara yang memotong angin. Aku pernah melihatnya menyeret seorang pemabuk sebesar lemari keluar dari kedai dengan satu tangan, sambil tetap sopan pada pemilik kedainya. Orang-orang di kota ini memanggilnya “Kapten” dengan nada yang sama seperti mereka menyebut cuaca: sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan karena selalu ada.
Tapi begitu dia melewati ambang pintu tokoku, entah kenapa dia jadi berjalan seperti orang yang mencurigai lantainya.
Dia menarik kursi rotan di depan konter. Terlalu keras. Kursinya berdecit.
“Maaf,” katanya cepat.
“Kursinya memang tua.”
“Iya. Tua.” Dia duduk. Lalu memperbaiki posisi duduknya. Lalu memperbaikinya lagi. “Tokonya... bersih.”
“Terima kasih.”
“Lebih bersih dari minggu lalu.”
“Aku menyapu.”
“Bagus. Itu bagus. Kebersihan adalah bagian dari—” dia berhenti, jelas sedang mencari lanjutan kalimat yang tidak ada, “—keselamatan publik.”
Aku membuka laci dan mengeluarkan map berkas izin. “Keselamatan publik,” ulangku.
“Sanitasi. Bengkel yang berdebu bisa menyebabkan... kebakaran.”
“Debu menyebabkan kebakaran.”
“Dalam kondisi tertentu.” Punggungnya makin tegak. “Sangat tertentu.”
Aku meletakkan map itu di konter dan memutuskan untuk tidak menyelidiki lebih jauh, karena setiap kali aku bertanya balik, Kapten Valen tampak seperti orang yang sedang dipaksa berjalan menyeberangi kolam beku dan mendengar retakan.
Aku berbalik ke tungku dan menyalakan api kecil di bawah ketel.
“Kau tidak perlu repot,” katanya di belakangku.
“Aku sedang menyeduh untuk diriku sendiri,” kataku. “Kebetulan tehnya cukup untuk dua.”
Itu bohong. Tapi aku sudah mengucapkannya empat Kamis berturut-turut sekarang, dan sepertinya kami berdua sudah sepakat untuk tidak membahasnya.
Aku menuang air panas. Aroma teh naik bersama uap—Earl Grey murah dari pedagang jalur pegunungan, tapi kalau diseduh benar, rasanya tidak murah sama sekali.
Lalu, tanpa berpikir, tanganku bergerak ke stoples gula, menyendok dua sendok penuh ke dalam cangkir kedua, dan mengaduknya tiga kali.
Aku berhenti.
Aku menatap cangkir itu.
Sejak kapan aku tahu takarannya?
“Ada apa?” tanyanya.
“Tidak ada.” Aku meletakkan cangkir di depannya. “Dua sendok. Kalau kurang, gulanya di sebelah kananmu.”
Kapten Valen menatap cangkir itu.
Sesuatu terjadi di wajahnya. Sangat cepat, dan aku tidak sempat membacanya—semacam kedipan, atau tarikan napas yang tertahan setengah jalan. Telinganya memerah sedikit di bagian atas.
“...Tepat,” katanya pelan.
“Bagus.”
Dia meraih cangkirnya dengan dua tangan dan minum. Lama sekali. Terlalu lama untuk teguk pertama teh panas.
Aku membuka map izin dan mulai membalik halaman, meski aku tahu isinya, dan meski aku tahu dia tidak akan benar-benar membacanya.
Inspeksi itu berlangsung lima puluh menit.
Untuk sebuah dokumen dua halaman.
Kami membahas—dan aku mencatat ini dengan takjub yang tulus—jadwal pengangkutan sampah bengkel, tinggi maksimum tumpukan barang di depan toko, aturan lampu penerangan malam, dan pada satu titik, entah bagaimana, harga cengkeh di pasar musim ini.
Aku tidak keberatan.
Itu yang membuatku bingung. Aku tidak keberatan sama sekali.
Selama tiga tahun aku menata hidupku supaya seringan mungkin. Toko kecil. Pelanggan yang datang lalu pergi. Nama yang tidak menarik perhatian siapa-siapa. Sistem yang bagus—kalau kau tidak menancapkan apa pun ke tanah, tidak ada yang bisa dicabut.
Tapi entah sejak kapan, ada satu hari dalam seminggu yang mulai punya bentuk.
“—dan itulah kenapa aku pikir pagar belakangmu harus ditinggikan,” kata Kapten Valen.
“Pagar belakangku setinggi dadaku.”
“Setinggi dadamu belum tentu cukup.”
“Untuk apa?”
“Untuk—” dia berhenti. Matanya bergerak ke samping, mencari sesuatu di rak dinding. “Rusa.”
“Rusa.”
“Musim ini rusa turun dari gunung.”
“Kapten, ini bulan Juni.”
“Rusa tidak membaca kalender, Tuan Ashford.”
Aku menunduk ke arah cangkirku supaya dia tidak melihat wajahku, dan gagal, karena suara yang keluar dari tenggorokanku jelas-jelas bukan suara batuk.
Ketika aku mengangkat kepala lagi, telinganya sudah merah seluruhnya, tapi dagunya masih terangkat dan punggungnya masih tegak, seperti seorang kapten yang sudah memutuskan untuk mati di atas bukit yang dipilihnya sendiri.
Aku memutuskan untuk menyelamatkannya.
“Akan kutinggikan,” kataku.
“...Sungguh?”
“Sungguh. Aku akan minta Garrik memotongkan kayunya.”
“Bagus.” Dia mengangguk cepat beberapa kali. “Bagus. Itu—laporanku akan mencantumkan kerja samamu.”
“Aku tersanjung.”
Dia meletakkan cangkir kosongnya, berdiri, dan merapikan jubahnya dengan gerakan yang jauh lebih rapi daripada seluruh percakapan lima puluh menit terakhir.
Lalu dia berhenti di dekat pintu.
“Ashford.”
“Ya?”
“Kau...” Dia menatap ke arah rak alat, bukan ke arahku. “Kau tidak pernah bertanya kenapa aku datang tiap Kamis.”
Ketel di belakangku mendesis pelan.
Aku menimbang beberapa jawaban. Sebagian besar jawaban itu bodoh. Satu di antaranya jujur, tapi jujur adalah kebiasaan yang sudah kutinggalkan bersama banyak kebiasaan lain lima tahun lalu.
“Kupikir itu tugasmu,” kataku akhirnya.
Sesuatu di bahunya turun sedikit.
“Iya,” katanya. “Tentu saja.”
Dia mendorong pintu. Lonceng berbunyi.
“Kapten.”
Dia menoleh.
“Pedangmu,” kataku. “Gagangnya. Kulitnya mulai mengelupas di bagian bawah—kau menggenggam terlalu dekat ke pelindung tangan waktu ayunan turun. Kalau dibiarkan, kulitnya akan licin waktu basah.”
Dia melirik ke bahunya, ke gagang Ferrum yang menyembul di balik jubah.
“Kau bisa melihat itu dari sini?”
“Aku bisa melihat itu dari seberang jalan,” kataku. “Tinggalkan saja kalau kau mau. Kupasangkan kulit baru. Gratis, karena kau pelanggan tetap urusan administrasi.”
Untuk sesaat, aku pikir dia akan menurunkan pedang itu dari punggungnya.
Tangannya bahkan sudah bergerak setengah jalan ke tali sandangnya.
Lalu dia berhenti.
“Tidak usah,” katanya. “Ferrum tidak pernah rusak.”
Dan itu, kalau dipikir-pikir, adalah kalimat paling aneh yang kudengar sepanjang pagi itu—lebih aneh daripada rusa di bulan Juni.
Karena dia benar.
Aku sudah melihat pedang itu setiap Kamis selama tiga tahun. Aku sudah melihatnya sepulang dari perburuan Stray, dari patroli lereng, dari malam-malam badai. Aku pernah melihat bilahnya menghantam batu.
Common rank. Baja biasa. Tanpa hiasan, tanpa berkat, tanpa apa pun.
Dan tidak pernah, tidak sekali pun, sompel.
Pintu menutup di belakangnya. Lonceng berdenting satu kali lagi, lalu diam.
Aku berdiri sendirian di tokoku yang tiba-tiba terasa lebih besar dari lima menit yang lalu.
Sore harinya, saat aku membereskan meja kerja, lantai bergetar.
Kali ini lebih lama.
Kaleng-kaleng minyak yang tadi pagi kususun rapi bergemerincing di raknya. Debu halus jatuh dari balok langit-langit, melayang lambat melewati sinar matahari yang miring. Cangkir kosong di konter—cangkir kedua, yang belum sempat kucuci—bergeser satu sentimeter ke kiri dan berhenti.
Aku tidak bergerak.
Getaran itu naik lewat telapak kakiku, lewat tulang keringku, sampai ke dada. Bukan gempa. Gempa punya arah. Ini datang dari bawah, tepat dari bawah, seperti sesuatu yang sangat besar sedang berbalik dalam tidurnya di bawah fondasi kota ini.
Enam detik. Aku menghitungnya.
Lalu berhenti.
Aku menoleh ke sudut ruangan.
Payung hitam itu bersandar di dinding, tepat di tempatnya. Kainnya tidak bergerak. Tidak ada apa pun yang berubah padanya—tidak ada cahaya, tidak ada suara, tidak ada satu pun hal yang bisa kutunjukkan pada orang lain dan kubilang lihat, itu.
Tapi aku tahu.
Aku selalu tahu, sama seperti kau tahu ada orang berdiri di belakangmu di ruangan gelap.
Payung itu bangun.
Bukan bergerak. Bukan bicara. Cuma... memperhatikan. Menoleh ke arah bawah, ke arah getaran itu datang, dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh benda mati mana pun.
Dan di dalam rasa perhatian itu, ada sesuatu yang belum pernah kurasakan darinya selama tiga tahun terakhir.
Bukan waspada. Bukan lapar.
Lebih mirip—dan aku tidak suka kata ini, tapi tidak ada kata lain yang cocok—
Lebih mirip rindu.
Aku berjalan mendekat dan berjongkok di depannya. Lantai kayu berdecit di titik ketiga.
“Kau dengar juga, ya,” kataku pelan.
Tidak ada jawaban. Tidak pernah ada.
Aku mengulurkan tangan dan meluruskan payung itu, meski dia sudah lurus.
“Tidur,” kataku. “Itu bukan urusan kita lagi.”
Malamnya, aku memasang gembok toko seperti biasa, mematikan lampu depan seperti biasa, dan berdiri agak lama di jendela memandangi jalan yang kosong.
Di seberang, di menara jam alun-alun, jarumnya bergerak melewati angka sembilan.
Aku memikirkan tiga hal sebelum tidur, dan aku menyadari betapa bodohnya urutannya cuma setelah semuanya selesai kupikirkan.
Yang pertama: sebuah pedang Common rank yang tidak pernah rusak selama tiga tahun.
Yang kedua: sesuatu yang sangat tua berbalik dalam tidurnya di bawah kota ini.
Dan yang ketiga—yang paling lama kupikirkan, sampai aku hampir marah pada diriku sendiri—
adalah bahwa Kamis depan masih enam hari lagi.