Chapter Five
Palu, Jarum, dan Payung
Gungnir: The First Arms
POV: Noel
Jumlah kata: 2.418
Garrik Vale membenciku selama dua tahun tujuh bulan.
Aku tahu angkanya karena dia sendiri yang memberitahuku, sambil menghitung dengan jari yang hitam oleh arang, di hari dia berhenti membenciku.
“Dua tahun tujuh bulan,” katanya. “Itu lama sekali untuk membenci orang yang tidak pernah melakukan apa-apa padaku.”
“Aku menghargai ketekunanmu.”
“Diam, Ashford.”
Dia adalah smith Hollowbrook. Satu-satunya. Bengkelnya ada di ujung utara Jalan Lorne, dan kalau kau berjalan lewat sana pukul enam pagi kau bisa mendengar palunya sebelum kau melihat asapnya. Lengannya sebesar pahaku. Jenggotnya hitam dengan tiga garis putih yang menurut Bibi Marta adalah bekas tiga kali bengkelnya terbakar.
Alasan dia membenciku sederhana: aku membuka toko reparasi Artifact tiga blok dari bengkelnya, dan aku tidak pernah sekali pun gagal.
“Kau tahu apa yang paling menyebalkan?” katanya sore itu, sambil menghantamkan gelas ke konterku karena dia tidak pernah bisa meletakkan apa pun dengan pelan. “Aku belajar tiga puluh tahun. Tiga puluh, Ashford. Aku magang di ibu kota lima tahun, aku bakar tanganku sampai ke tulang dua kali, dan aku bisa bilang padamu persis berapa derajat suhu tempa untuk empat belas jenis baja.”
“Aku tahu.”
“Dan kau.” Dia menunjukku dengan gelas. “Kau duduk. Kau pakai sarung tangan konyol itu. Kau colek benda itu satu kali dengan jarum kecilmu, dan benda itu sembuh.”
“Aku juga menyeduh teh.”
“Aku akan memukulmu.”
“Bengkelmu penuh besi yang bisa jadi senjata dan kau memilih memukulku dengan tangan kosong. Aku tersanjung.”
Dia mendengus—suara yang, dari Garrik, berarti tawa.
Tapi kemudian dia diam agak lama, memutar gelas di antara jari-jarinya, dan aku tahu dia belum sampai ke bagian yang sebenarnya dia datangi.
Aku menunggu. Aku bagus dalam menunggu.
“[ Anvilheart ] melambat,” katanya akhirnya.
Ah.
“Sejak kapan?”
“Musim dingin lalu. Awalnya kupikir aku cuma tua.” Dia menggosok pangkal hidungnya dengan pergelangan tangan. “Dulu kalau aku pukul baja dengan dia, aku bisa merasakan bajanya. Di dalam. Aku tahu di mana letak yang keras dan di mana letak yang mau menyerah. Sekarang—” dia mengangkat bahu. “Sekarang aku cuma merasakan palu.”
Aku meletakkan cangkirku.
“Boleh kulihat?”
Dia meletakkan palu itu di konter. Palu smith biasa, kalau kau tidak tahu apa-apa: kepala baja, gagang kayu ash yang licin karena tiga puluh tahun keringat. Rare rank, terdaftar resmi, dengan nomor registrasi yang sudah nyaris terhapus dari sisi kepalanya.
Aku memakai sarung tanganku.
Garrik mendengus lagi, tapi kali ini tidak mengatakan apa-apa tentang sarung tangan konyol.
Aku mengangkat [ Anvilheart ]. Berat. Berat yang benar—massa jiwanya masih penuh, tidak ada kebocoran. Aku memutarnya, memeriksa sambungan kepala dan gagang, lalu menekan ibu jariku ke satu titik di bawah kepala palu dan menutup mata.
Dan sesuatu di belakang tengkukku menoleh, seperti biasa.
Oh, rasanya berkata. Yang ini.
Palu itu tidak rusak.
Tidak ada retak, tidak ada kelelahan struktural, tidak ada satu pun hal yang bisa kuperbaiki. Yang kurasakan di bawah ibu jariku adalah sesuatu yang lain sama sekali—semacam kepenuhan, semacam sesuatu yang sudah selesai naik dan sekarang berdiri diam di puncaknya sambil melihat ke bawah.
Aku membuka mata.
“Garrik,” kataku. “Berapa umurmu?”
“Empat puluh enam. Kenapa?”
“Dan kau mulai menempa umur berapa?”
“Enam belas.”
Aku meletakkan palu itu kembali, sangat pelan.
“Palumu tidak melambat,” kataku. “Palumu sudah sampai.”
Dia mengerutkan kening. “Apa maksudmu ‘sampai’?”
“Artifact tumbuh bersama pemiliknya. Kau tahu itu.” Aku melepas sarung tanganku. “Yang tidak diajarkan orang adalah: pertumbuhan itu punya bentuk. Dia naik cepat waktu kau muda dan lapar, melambat waktu kau menguasai, dan berhenti waktu kau dan dia sudah tahu persis siapa kalian berdua.”
“Jadi dia sudah mati.”
“Dia sudah selesai,” kataku. “Itu dua hal yang sangat berbeda.”
Garrik menatap palunya di atas konterku dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat di wajahnya selama dua tahun tujuh bulan.
“Dulu aku bisa merasakan bajanya,” katanya lagi, lebih pelan.
“Kau masih bisa,” kataku. “Kau cuma tidak merasakannya lewat dia lagi. Kau merasakannya lewat tanganmu, karena tiga puluh tahun terakhir dia sudah mengajarkanmu semua yang dia tahu, dan kau sudah menghafalnya sampai kau lupa bahwa itu pernah diajarkan.”
Hening di toko.
Di luar, kereta pengangkut lewat, roda kayunya berderak di batu jalan.
“Itu,” kata Garrik akhirnya, dengan suara yang lebih parau dari sebelumnya, “adalah hal paling menyebalkan yang pernah kudengar.”
“Maaf.”
“Karena itu benar.” Dia meraih palunya dan menyandangnya kembali di ikat pinggangnya dengan gerakan yang sudah dia lakukan puluhan ribu kali. “Berapa?”
“Aku tidak memperbaiki apa pun.”
“Berapa, Ashford.”
“Satu kantong arang untuk tungkuku.”
Dia berdiri, dan di ambang pintu dia berhenti.
“Kau bicara tentang senjata seperti orang bicara tentang orang,” katanya, tanpa menoleh.
“Senjata memang orang,” kataku. “Cuma dipadatkan.”
Dia mendengus untuk ketiga kalinya, dan pergi.
Dua hari kemudian dua kantong arang muncul di depan pintu tokoku, tanpa catatan.
Bibi Marta datang hari Selasa dengan mangkuk sup dan sebuah kotak jahit.
Dia meletakkan sup di konter—selalu sup, entah apa yang dia pikir aku makan kalau dia tidak datang—lalu duduk di kursi rotan tanpa diundang, karena dia sudah berusia enam puluh tiga tahun dan sudah lama berhenti meminta izin untuk apa pun.
“Ini,” katanya, membuka kotak jahit.
Di dalamnya, di atas beludru merah, ada sebatang jarum.
[ Stitch ]. Rare rank. Panjang sekitar sepuluh sentimeter, ramping, berwarna perak yang tidak pernah kusam. Aku sudah melihatnya dua kali—sekali waktu Dane terkena sayatan di lengan dan Marta menjahitnya di tengah jalan dalam waktu delapan detik, dan sekali waktu dia menjahit boneka Pip yang sobek dan memperlakukannya dengan keseriusan yang persis sama.
“Kenapa dia?” tanyaku.
“Kau lihat sendiri.”
Aku memakai sarung tanganku dan mengangkat jarum itu ke bawah lampu.
Warnanya masih perak. Tapi di sepertiga bagian bawah, dekat lubang benangnya, ada perubahan yang sangat halus—bukan karat, bukan noda. Warnanya jadi lebih... tipis. Seperti tinta yang mulai kehabisan.
Aku menekan ibu jari ke sana.
Sensasinya seperti memegang tangan orang yang sedang tertidur.
“Berapa lama?” tanyaku pelan.
“Tiga tahun terakhir makin cepat.” Bibi Marta melipat tangannya di pangkuan. “Dulu aku bisa jahit luka sepuluh kali dalam sehari dan malamnya masih bisa merajut. Sekarang tiga kali dan aku harus duduk.”
“Ini bukan kerusakan.”
“Aku tahu itu bukan kerusakan, Nak.” Dia mendengus. “Aku enam puluh tiga. Aku tahu bunyinya apa kalau sesuatu mulai bersiap-siap.”
Aku meletakkan jarum itu kembali ke beludru.
Ada percakapan yang harus dilakukan sekarang, dan ada beberapa cara membohongi orang di dalam percakapan itu, dan sebagian besar orang memilih salah satunya karena kebohongan-kebohongan itu terdengar baik hati.
Bibi Marta menatapku dengan mata yang sudah menguburkan suami dan dua saudara.
Aku memilih tidak membohonginya.
“Artifact tidak mati sebelum pemiliknya,” kataku. “Tapi kalau pemiliknya mulai menua, senjatanya menua duluan—sedikit. Seperti berjalan setengah langkah di depan supaya bisa membukakan pintu.”
Sesuatu bergerak di wajahnya. Cuma sekali, cepat.
“Jadi dia sedang menungguku.”
“Dia sedang berjalan di depanmu,” kataku. “Itu beda.”
Bibi Marta memandangi jarumnya cukup lama.
“Bisa kau perbaiki?”
“Tidak,” kataku. “Tapi aku bisa memperlambatnya. Kalau kau mengizinkanku menyimpannya tiga hari.”
“Perlambat berapa lama?”
“Kalau aku bekerja dengan baik? Sepuluh tahun.”
Kepalanya menoleh cepat sekali.
“Sepuluh—” Dia berhenti. Matanya menyipit. “Noel Ashford. Aku sudah membawa jarum ini ke tiga smith di jalur pegunungan dan dua di ibu kota. Semuanya bilang hal yang sama: Artifact yang menua tidak bisa disentuh siapa pun.”
“Mereka benar.”
“Lalu kenapa kau bisa?”
Ketel di belakangku mendesis.
Aku berdiri, mengangkatnya dari tungku, dan mulai menuang—dua cangkir, karena aku selalu menuang dua cangkir, dan yang satu ini untuk Bibi Marta yang minum tehnya pahit tanpa gula sama sekali.
“Karena aku bertanya baik-baik,” kataku.
Dia tidak menerima jawaban itu. Aku bisa melihatnya di rahangnya. Tapi dia menerima tehnya, dan menerima keheningan setelahnya, dan itu adalah bentuk kebaikan yang hanya dimiliki perempuan seusianya.
“Tiga hari,” katanya. “Kalau kau merusaknya, aku akan meracuni supmu.”
“Adil.”
Dia berdiri, merapikan roknya, lalu berhenti di dekat pintu—sama seperti semua orang di kota ini yang selalu mengingat pertanyaan pentingnya tepat saat sudah sampai di ambang.
“Nak.”
“Ya, Bibi.”
“Kau tahu Kapten kita datang tiap Kamis?”
Aku hampir menjatuhkan ketel.
“Aku... iya. Inspeksi.”
“Inspeksi,” ulangnya, dengan nada yang tidak bisa kudeskripsikan tapi jelas tidak baik untukku. “Berapa lama sudah?”
“Tiga tahun.”
“Tiga tahun inspeksi mingguan atas satu toko payung.”
“Toko reparasi Artifact.”
“Hm.” Bibi Marta membuka pintu. “Menarik sekali kota ini. Peraturannya sangat ketat.”
Dan dia pergi, meninggalkanku berdiri di belakang konter memegang ketel dengan perasaan yang sangat mirip seperti orang yang baru saja diserang tapi tidak bisa menemukan lukanya.
Aku mengerjakan [ Stitch ] selama tiga malam.
Bukan pekerjaan yang bisa dijelaskan. Yang bisa kukatakan adalah bahwa aku duduk di konterku dengan lampu kerja menyala, jarum itu terbaring di beludru, dan aku bicara padanya.
Bukan dengan suara. Dengan cara yang lain—cara yang cuma bisa dilakukan kalau kau memegang benda yang lebih tua dari semua benda lain di dunia ini, dan benda itu bersedia menyampaikan pesanmu.
Payungku bersandar di dinding di belakangku, seperti biasa.
Dan tiga malam itu, dia bangun. Tidak sepenuhnya. Cuma cukup untuk mengangkat kepalanya dan memperhatikan, seperti orang tua yang menonton anaknya belajar berjalan.
Kau minta terlalu sopan, rasanya. Bukan kata. Bukan suara. Aku bisa memerintahnya.
“Aku tahu kau bisa,” kataku pada ruangan kosong, di malam ketiga, pukul dua pagi. “Tapi dia bukan milikmu.”
Diam.
Lalu, sangat pelan, semacam persetujuan yang lelah.
Aku menyelesaikannya menjelang fajar.
Bibi Marta datang hari Jumat. Aku mengembalikan kotaknya.
Dia membukanya di sana, di konter, dan mengangkat [ Stitch ] ke arah cahaya jendela.
Warna perak itu penuh lagi. Dari ujung ke lubang benang.
Dia tidak berkata apa-apa selama waktu yang cukup lama sampai aku mulai khawatir.
“Bibi?”
“Diam sebentar, Nak.”
Aku diam.
Ketika dia menurunkan jarum itu, matanya basah, dan dia sama sekali tidak berpura-pura tidak.
“Suamiku,” katanya, “Artifact-nya kapak. Dia meninggal enam belas tahun lalu. Sebulan sebelum itu, kapaknya berhenti bersinar dan dia bilang padaku, ‘Marta, sepertinya aku akan duluan.’ Dan aku bilang dia bodoh.” Dia menutup kotak jahit itu. “Dia tidak bodoh.”
Aku tidak mengatakan apa pun. Ada saat-saat di mana mengatakan sesuatu adalah cara termalas untuk menghadapi orang.
“Berapa?” tanyanya.
“Sup.”
“Aku sudah memberimu sup.”
“Kalau begitu sup lagi.”
Bibi Marta tertawa—suara basah, pendek—dan menepuk pipiku dengan tangan yang berbau daun bawang seperti dia menepuk kepala Pip.
Lalu dia menyimpan kotaknya, dan berjalan ke pintu, dan berhenti.
Tentu saja dia berhenti.
“Nak.”
“Ya, Bibi.”
“Kapten kita.” Dia tidak menoleh. “Ayahnya knight juga. Meninggal waktu dia tujuh belas. Sejak itu tidak ada satu orang pun di kota ini yang pernah menanyakan keadaan pedangnya.”
Aku berdiri sangat diam di belakang konterku.
“Cuma itu,” kata Bibi Marta. “Selamat siang, Noel.”
Pintu menutup. Lonceng berdenting.
Dan aku berdiri di sana untuk waktu yang lama, memandangi kursi rotan yang kosong, memikirkan sebilah greatsword Common rank yang menghantam granit tiga kali dalam satu menit dan tidak sompel sama sekali.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku berjongkok di depan payungku dan bertanya sesuatu yang bukan perintah.
“Kalau aku memintamu menjaga sesuatu,” kataku pelan, “sesuatu yang bukan milikku—apakah kau mau?”
Sudut ruangan itu diam.
Lalu, sangat pelan, sesuatu di belakang tengkukku menoleh ke arah utara, ke arah barak garnisun di seberang alun-alun, dan menetap di sana.
Aku menganggap itu jawaban.