Chapter Twenty Eight
Payung untuk Satu Orang
Gungnir: The First Arms
POV: Noel
Jumlah kata: 2.534
Aku harus menjelaskan sesuatu terlebih dahulu, karena tanpa ini, apa yang kulakukan sore itu tidak akan masuk akal.
Selama tiga tahun tinggal di Hollowbrook, aku membawa payung ini ke mana-mana.
Hujan, cerah, badai salju. Ke pasar. Ke bengkel Garrik. Ke lereng utara. Setiap hari, tanpa kecuali, sampai orang-orang di kota ini berhenti menganggapnya aneh dan mulai menganggapnya bagian dari diriku, seperti warna rambut.
Dan tidak sekali pun—tidak satu kali dalam tiga tahun—aku membukanya untuk hujan.
Aku membukanya untuk Bellmaw. Untuk Wyrmfang. Untuk Hollow Choir dan Ashen Crown dan tiga Rare Stray di lapangan barat.
Untuk hujan, tidak pernah.
Aku berjalan pulang basah kuyup ratusan kali. Aku berdiri di pasar dengan air mengalir dari rambutku sambil memegang payung terlipat di ketiakku dan Bu Hensley berteriak padaku tentang pneumonia.
Aku tidak pernah menjelaskannya pada siapa pun, karena penjelasannya bodoh.
Penjelasannya begini: benda ini bukan payung.
Benda ini adalah senjata pertama di dunia. Benda ini menghentikan Noble Stray sebelas kali tanpa bergerak satu sentimeter. Benda ini pernah membelah menara. Aku memegangnya di arena selama empat tahun dan enam puluh satu duel, dan setiap kali aku membukanya, sesuatu berhenti terjadi.
Kau tidak memakai benda seperti itu untuk berteduh.
Itu yang kukatakan pada diriku sendiri selama lima tahun.
Yang sebenarnya—yang baru kupahami sore itu, di ambang pintu tokoku, dengan seseorang yang wajahnya basah berdiri di belakangku—adalah sesuatu yang lain sama sekali.
Aku tidak pernah membukanya untuk hujan karena aku tidak pernah menganggap diriku pantas berteduh di bawahnya.
Hujan turun pukul empat lewat sepuluh.
Bukan badai. Hujan Hollowbrook yang biasa, yang datang setiap sore dan pergi setiap pukul lima, yang sudah tiga tahun mengatur ritme hidupku.
Aku membuka pintu tokoku dan melangkah keluar ke teras.
“Ashford, ini konyol—”
“Turun ke jalan,” kataku.
“Kenapa?”
“Karena terasnya ada atapnya.”
Dia berdiri di ambang pintu dengan wajah yang masih basah dan pita biru di rambutnya yang setengah lepas, dan menatapku seperti aku kehilangan akal.
Mungkin memang.
Aku turun ke Jalan Lorne dan berdiri di tengahnya dan hujan langsung membasahi bahuku.
Dan dia mengikutiku, karena tentu saja dia mengikutiku, karena perempuan itu sudah tiga tahun berjalan ke arah hal-hal yang seharusnya dia hindari.
Kami berdiri di tengah jalan yang basah.
Aku memegang payung terlipat di tangan kananku.
“Mira,” kataku.
“Ya.”
“Aku mau mengatakan sesuatu, dan aku sudah menyusunnya selama tiga jam kemarin malam dan gagal total, jadi aku akan mengatakannya dengan buruk.”
“Baik.”
“Payung ini,” kataku, “belum pernah kubuka untuk hujan.”
Dia mengerutkan kening.
“Tiga tahun,” kataku. “Kau melihatku berjalan pulang basah kuyup dari pasar. Kau pernah menegurku tentang itu.”
“Aku ingat. Kau bilang kau tidak keberatan basah.”
“Aku berbohong.”
Air mengalir turun di wajahnya dan aku tidak tahu lagi mana yang hujan dan mana yang bukan.
“Aku tidak membukanya,” kataku, “karena aku selalu berpikir aku tidak pantas. Benda ini menghentikan hal-hal yang bisa membunuh tiga ratus orang. Kau tidak memakai benda seperti itu supaya rambutmu tidak basah.”
“Ashford—”
“Itu yang kukatakan pada diriku sendiri,” kataku. “Dan itu bohong, dan aku baru menyadarinya sekitar sepuluh menit lalu waktu kau duduk di kursi rotanku dan menangis.”
Aku memegang gagang payung itu dengan dua tangan.
“Yang sebenarnya,” kataku, “adalah bahwa selama lima tahun aku tidak percaya bahwa ada orang yang boleh berdiri di bawahnya. Termasuk aku.”
Hujan turun di Jalan Lorne.
“Aku memakainya untuk kota,” kataku. “Untuk warga. Untuk siapa pun yang kebetulan ada di jalur sesuatu. Itu mudah. Itu tidak butuh keberanian sama sekali—kau membuka payung, hal buruk berhenti, kau pulang.”
Aku menatapnya.
“Membukanya untuk satu orang jauh lebih menakutkan,” kataku. “Karena kalau kau membukanya untuk satu orang, kau mengakui bahwa ada satu orang yang membuatmu tidak sanggup terlambat empat detik.”
Sesuatu bergerak di wajahnya.
“Noel,” katanya.
Dan aku membuka payungnya.
Aku ingin mencatat betapa sederhananya bunyinya.
Tidak ada apa pun yang dramatis. Tidak ada cahaya. Kanopi hitam itu—yang masih robek di delapan tempat dari kemarin, yang belum sembuh, yang menggantung dalam potongan-potongan di dua sisi—terbuka dengan bunyi kain yang sangat biasa.
Dan hujan berhenti di atas kepala kami.
Cuma dua orang. Radius satu setengah meter. Di sekeliling kami, Jalan Lorne masih basah dan air masih mengalir turun ke selokan dan dunia berjalan seperti biasa.
Dan di dalam lingkaran itu, kering.
Kapten Mira Valen berdiri di bawah payung yang belum pernah dipakai untuk berteduh selama lima tahun, dan mengangkat wajahnya, dan melihat delapan robekan di kanopinya, dan air yang tetap tidak masuk lewat lubang-lubang itu karena benda ini tidak peduli pada lubang.
“Kau merusaknya kemarin,” katanya pelan.
“Ia akan sembuh dalam tiga hari.”
“Untuk aku.”
“Untuk kau,” kataku.
Dan lalu aku mengatakan hal yang sudah kusiapkan, dan aku mengatakannya persis seperti yang kususun, dan itu satu-satunya kalimat yang keluar dengan benar sepanjang sore itu.
“Mira. Aku mencintaimu.”
Aku merasakan tangan kirinya menutup di lengan mantelku.
“Aku sudah mencintaimu sejak lama,” kataku, “dan aku terlalu bodoh untuk menyadarinya sampai hari ini. Aku pikir aku sedang berhati-hati. Aku pikir aku sedang melindungi seseorang dengan tidak mengatakannya.”
Aku menunduk menatapnya.
“Ternyata aku cuma takut,” kataku. “Aku sudah lima tahun takut pada benda yang kupegang, dan tiga tahun terakhir aku takut pada satu hal lagi, dan yang kedua ini jauh lebih menakutkan karena benda yang kupegang tidak bisa memutuskan untuk pergi.”
Air mengalir turun di luar lingkaran kering.
“Aku tidak akan pergi,” katanya.
“Aku tahu. Kau memerintahku pulang dan aku pulang.”
“Aku akan memerintahmu lagi.”
“Aku akan menurut lagi.”
Dan lalu tidak ada yang mengatakan apa pun selama beberapa detik.
Dia mengangkat tangannya—yang berkapalan di tiga tempat, yang bisa mengangkat dua puluh kilo baja, yang gemetar sedikit sekarang—dan meletakkannya di sisi wajahku.
“Noel.”
“Ya.”
“Aku sudah menunggu ini selama tiga tahun,” katanya, “dan kalau kau berbicara satu kalimat lagi aku bersumpah aku akan—”
Aku menunduk dan menciumnya.
Aku tidak akan mencoba menjelaskannya dengan baik.
Yang bisa kucatat cuma potongan-potongan, dan potongan-potongan itu tidak berurutan:
Tangan kirinya di lengan mantelku, mencengkeram cukup keras untuk melipat kainnya.
Tanganku yang bebas—yang kiri, karena yang kanan memegang gagang payung dan aku tidak akan melepaskannya, tidak untuk apa pun di dunia—melingkar di punggungnya dan menariknya lebih dekat.
Bahwa dia lebih tinggi dari yang selalu kubayangkan, atau mungkin aku yang selalu berdiri terlalu jauh selama tiga tahun untuk mengukurnya dengan benar.
Bahwa dia berbau seperti minyak pemeliharaan senjata dan hujan.
Bahwa dia menciumku balik dengan cara yang membuat jelas bahwa dia sudah memikirkan ini jauh lebih sering daripada yang pernah dia akui pada siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
Bahwa aku menjatuhkan sesuatu—entah apa, aku tidak membawa apa pun kecuali payung, jadi mungkin itu cuma perasaan bahwa aku menjatuhkan sesuatu.
Dan bahwa selama waktu itu, apa pun panjangnya, aku tidak menghitung satu detik pun.
Aku menghitung segalanya. Selama lima tahun aku menghitung setiap detik, setiap sudut, setiap jarak, setiap kemungkinan cara sesuatu bisa berjalan salah.
Dan selama sekitar—entahlah, aku tidak tahu, itu intinya—aku tidak menghitung apa pun sama sekali.
Yang menghancurkan momen itu adalah suara.
Bukan satu suara. Sekitar dua puluh.
Aku menarik wajahku sekitar lima sentimeter dan kami berdua menoleh ke arah yang sama secara bersamaan.
Jendela lantai dua rumah seberang: Pak Weller, dengan kedua tangan di kaca, dan istrinya di belakangnya.
Jendela penginapan Bibi Marta, empat rumah ke kiri: Bibi Marta, dan di belakangnya, sekitar enam tamu penginapan yang jelas-jelas tidak punya kepentingan apa pun dalam urusan ini.
Bengkel Garrik, di ujung jalan: Garrik, berdiri di ambang pintu dengan palu di tangan, tidak bergerak sama sekali.
Lapak Bu Hensley: Bu Hensley, dengan kedua tangan menutup mulutnya.
Dan di trotoar sekitar dua belas meter dari kami, berdiri dengan payung mereka sendiri dan wajah dua orang yang jelas-jelas sudah berdiri di sana selama beberapa waktu:
Dane dan Ilva.
Hening.
Total.
Seluruh Jalan Lorne diam selama mungkin satu setengah detik.
Lalu Ilva menjerit.
Bukan menjerit takut. Menjerit dengan cara yang membuat tiga anjing mulai menyalak dan seorang bayi menangis di suatu tempat, dan dia melempar payungnya sendiri ke udara, dan Dane menutup wajahnya dengan kedua tangan dan berteriak “TIGA PULUH SATU KOIN! TIGA PULUH SATU!”
Dan lalu seluruh jalan meledak.
Bu Hensley menangis. Pak Weller membuka jendelanya dan berteriak sesuatu yang tidak bisa kudengar karena istrinya menariknya kembali. Bibi Marta keluar dari penginapan tanpa mantel di tengah hujan dengan kedua tangan terangkat ke langit seperti orang yang doanya akhirnya dikabulkan setelah empat puluh tahun.
Dan Garrik—Garrik Vale, empat puluh enam tahun, smith Hollowbrook, yang membenciku selama dua tahun tujuh bulan—berdiri di ambang bengkelnya dan menghantamkan palunya ke pintu besi tiga kali sekeras yang dia bisa.
Kapten Mira Valen menyembunyikan wajahnya di dadaku.
“Mereka semua melihat,” katanya, teredam.
“Iya.”
“Seluruh kota melihat.”
“Sepertinya iya.”
“Aku knight-captain.”
“Iya.”
Dia mengangkat wajahnya. Merah sampai ke leher.
“Aku akan menugaskan Ilva membersihkan kandang kuda selama satu tahun.”
“Itu adil.”
“Dan Dane.”
“Dane tidak melakukan apa-apa.”
“Dane berteriak tentang koin.”
“Itu benar,” kataku. “Dane harus dihukum.”
Dan lalu dia mulai tertawa, dan dia tidak berhenti selama sekitar setengah menit, dan dia tertawa dengan wajah yang tertekan di mantelku yang basah sementara seluruh Jalan Lorne bersorak di sekitar kami seperti orang-orang yang memenangkan perang.
Pip Harlan menerobos kerumunan sekitar dua menit kemudian.
Dia berhenti tiga meter dari kami, di bawah hujan, tanpa payung, dan melihat ke atas—ke kanopi hitam yang robek delapan tempat, ke lingkaran kering, ke dua orang dewasa yang berdiri terlalu dekat.
Wajahnya menampilkan seluruh proses berpikirnya secara berurutan.
“Kak Noel,” katanya.
“Ya, Pip.”
“Kak Noel pakai payungnya.”
Aku menoleh pada Mira.
“Iya,” kataku. “Aku pakai payungnya.”
“Buat hujan?”
“Buat hujan.”
Pip Harlan berdiri di tengah Jalan Lorne yang basah dengan rambut yang menempel di dahinya, dan berpikir keras selama sekitar empat detik.
Lalu dia berkata, dengan nada seorang anak sepuluh tahun yang baru saja menyelesaikan teka-teki yang membingungkannya selama berbulan-bulan:
“Ohhhh.”
Dan berlari kembali ke kerumunan sambil berteriak “AKU UDAH TAU DARI DULU!”
Kami berdiri di bawah payung itu sampai hujan berhenti pukul lima.
Bukan karena kami perlu. Sekitar sepuluh menit setelahnya kerumunan mulai bubar, dengan Bibi Marta menggiring semua orang kembali ke dalam sambil berteriak tentang privasi dengan nada yang sama sekali tidak meyakinkan.
Kami berdiri di sana karena tidak ada satu pun dari kami yang mau bergerak.
“Noel.”
“Ya.”
“Payungnya robek.”
“Iya.”
“Kau membukanya untukku padahal robek.”
“Aku tidak berpikir sejauh itu,” kataku jujur. “Aku cuma memikirkan bahwa kau berdiri di kursi rotanku dan menangis dan aku tidak tahu harus melakukan apa selain ini.”
Dia menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Ini cukup,” katanya.
Dan hujan berhenti pukul lima, seperti biasanya, seperti sudah tiga tahun.
Aku menutup payung itu.
Klik.
Dan kami berjalan kembali ke toko, dan aku menyeduh teh, dan aku menuang dua cangkir.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku pindah ke kota ini, aku tidak berbohong tentang kenapa yang kedua ada di sana.
Malam itu, jauh di bawah kota, tanah bergetar.
Tiga puluh delapan detik.
Aku duduk di konterku dan merasakannya naik lewat kaki bangku dan aku tidak bergerak sama sekali.
Payung itu bersandar di sudut ruangan dengan kanopi yang robek delapan tempat.
Dan yang naik ke tengkukku bukan rindu, bukan waspada, bukan takut.
Yang naik ke tengkukku adalah sesuatu yang paling dekat dengan tekad yang pernah kurasakan dari benda itu—sesuatu yang lurus dan keras dan sangat, sangat tenang.
Seperti seseorang yang akhirnya tahu di mana harus berdiri.
“Iya,” kataku pelan.
Dan aku memadamkan lampu.