← Gungnir: The First Arms

Chapter Thirty Nine

Yang Tak Pernah Meleset

Gungnir: The First Arms

POV: Noel

Jumlah kata: 2.586


Aku menurunkan tanganku.

Aku ingin mencatat dengan tepat apa artinya itu, karena aku sudah menghabiskan seluruh hidupku menghitung dan aku tahu persis harga dari setiap detik berikutnya.

Menurunkan tanganku berarti melepaskan Fimbulvetr Canopy.

Kanopi itu tidak runtuh seketika. Aku sudah mengujinya di dalam kepalaku selama tiga menit terakhir dan aku tahu angkanya: sekitar empat detik sebelum jahitan pertama lepas, mungkin lima.

Empat detik.

Setelah itu, delapan ratus tujuh puluh empat orang berada di bawah langit terbuka di kota yang penuh logam melayang.

Aku menurunkan tanganku.

Dan gagang kayu telanjang yang tertancap di batu jalan di sebelahku terangkat ke tangan kananku seperti sesuatu yang sudah menunggu.

Klik.


Ia bukan tombak.

Aku ingin sangat jelas tentang ini karena semua orang salah menceritakannya setelahnya.

Yang kupegang di tangan kananku waktu itu adalah gagang kayu dengan kerangka telanjang—delapan jari-jari, tanpa kanopi, karena seluruh kanopinya sedang menjadi langit di atas kota.

Dan ia tidak berubah jadi tombak.

Ia cuma menjadi lurus.

Delapan jari-jari itu melipat rapat sepanjang batangnya dan mengunci, dan ujung atasnya menajam, dan benda di tanganku menjadi sebatang tongkat lurus dengan ujung runcing—persis seperti gambar yang dia tunjukkan padaku di malam kultus itu turun, di sebelah api unggun purba, sebelum ada palu dan sebelum ada api tempa.

Bentuk pertama.

Sebelum ia jadi payung. Sebelum ia jadi apa pun.

[ Gungnir ]

Dan sesuatu di belakang tengkukku berkata—bukan gambar, bukan perasaan, tapi sesuatu yang paling dekat dengan kata yang pernah kudengar darinya dalam lima tahun:

Sekarang.


Aku menariknya ke belakang bahuku.

Dan seluruh dunia melambat dengan cara yang selalu terjadi, dan aku menghitung.

Ini yang kuhitung dalam sepersekian detik itu:

Jarak: dua puluh dua meter.

Sudut: empat belas derajat ke atas, dua ke kanan, mengoreksi tersandungnya Fenrir akibat Ferrum di kaki depannya.

Waktu sampai jahitan pertama Fimbulvetr lepas: tiga koma satu detik.

Dan titik bidik.

Aku sudah tahu titik bidiknya. Aku sudah melihatnya sejak Fenrir memusatkan seluruh sisa dirinya ke satu tempat di dalam dadanya—titik yang bersinar lebih terang, yang berdenyut, yang menjadi pusat dari puluhan ribu senjata yang mengelilinginya.

Intinya.

Bagian yang lapar.

Dan aku mengangkat sesuatu yang tidak pernah meleset, dan aku sudah menghitung sudutnya, dan aku berdiri di titik basah di tengah kota Hollowbrook dengan seorang perempuan yang menahan delapan meter logam dengan pedang Common rank di sebelahku.

Lima tahun lalu aku berdiri di arena dengan benda yang sama, sudah membidik, dan menurunkan tanganku.

Dan aku menghabiskan lima tahun berikutnya percaya bahwa yang salah adalah membidiknya.

Aku salah tentang itu.

Yang salah bukan bahwa aku menghitung sudutnya. Yang salah adalah apa yang kuminta darinya.


Apa yang kau minta darinya.

Kesh, di tokoku, dengan busur yang tidak bisa mengenai sasaran karena tujuh tahun dia meminta hal yang salah.

Artifact tidak cuma mencerminkan siapa dirimu. Ia mencerminkan apa yang kau minta.

Aku mengatakan itu padanya. Aku mengatakannya dengan sangat yakin, di tokoku, sambil memakai sarung tangan putih.

Dan aku tidak pernah sekali pun menerapkannya pada diriku sendiri.

Lima tahun lalu aku mengangkat benda ini di arena dan aku memintanya: hentikan [ Morgenstern ].

Dan ia akan melakukannya. Ia tidak pernah meleset.

Yang tidak pernah kutanyakan—selama lima tahun, di tokoku, setiap malam—adalah apakah aku bisa meminta sesuatu yang lain.

Aku menarik lenganku ke belakang.

Fenrir bangkit dari tersandungnya.

Tiga koma satu detik.

Dan aku berpikir, dengan sangat jernih, di tengah semuanya:

Aku memperbaiki barang rusak.

Itu bukan pekerjaanku. Itu yang kuminta darinya, setiap hari, selama tiga tahun, di konter kayu di ujung Jalan Lorne.

Sendok sup yang retak. Palu yang sudah selesai. Jarum yang menua. Busur yang tidak bisa ditarik. Regalia yang memakan pemiliknya.

Aku tidak pernah sekali pun memintanya menghancurkan sesuatu di tokoku.

Dan aku mengangkat sesuatu yang lahir sebelum ada kata untuk perang, dan aku tidak meminta agar Fenrir berhenti ada.

Aku meminta hal yang sama seperti yang kuminta setiap hari selama tiga tahun.

Perbaiki dia.

Dan aku melempar.


Tidak ada suara.

Itu bagian yang diceritakan semua orang dan itu benar. Delapan ratus tujuh puluh empat orang berada di kota itu dan tidak satu pun dari mereka mendengar apa pun.

Sebatang tongkat lurus dengan ujung runcing melintasi dua puluh dua meter Jalan Pasar dalam garis yang tidak melengkung sama sekali, dan masuk ke celah di dada Fenrir, dan menyentuh titik yang berdenyut di dalamnya.

Dan berhenti.

Tidak menembus. Tidak menghancurkan.

Berhenti—menempel di sana, dengan ujungnya masuk sekitar sepuluh sentimeter, seperti jarum yang menemukan tempatnya.

Fenrir membeku.

Dan lalu, dari titik itu, sesuatu mulai terurai.


Aku sudah membongkar ribuan Artifact.

Aku tahu bunyinya. Aku tahu rasanya. Aku bisa menceritakan padamu urutan sambungan pada Noble rank dengan mata tertutup.

Yang terjadi pada Fenrir bukan pembongkaran.

Puluhan ribu senjata yang membentuk tubuhnya mulai melepaskan diri satu per satu—bukan jatuh, bukan berhamburan. Mereka lepas dan mengambang, dan mereka mengambang ke atas, dan mereka mengambil tempat di dalam kanopi yang masih menutupi langit di atas kota.

Sebuah pedang lepas dari bahunya dan naik dan mengunci diri di antara dua bilah lain di atas gereja.

Sebuah kapak lepas dari punggungnya dan naik.

Sebuah gunting jahit. Sebuah sekop. Sebuah seruling.

Tiga ratus tahun senjata yang dibaringkan di sebelahnya dengan hormat oleh dua puluh empat generasi wali kota, lepas satu per satu dari tubuh sesuatu yang telah memakannya karena kesepian, dan naik untuk menjadi bagian dari sesuatu yang sedang melindungi delapan ratus tujuh puluh empat orang.

Dan Fenrir mengecil.

Delapan meter jadi lima. Lima jadi tiga.

Ia tidak berteriak. Ia tidak melawan.

Ia berdiri di alun-alun Hollowbrook dan menonton dirinya sendiri diambil kembali, satu potong pada satu waktu, dan ia mengangkat wajahnya ke arah kanopi dan melihat setiap satu dari mereka mengambil tempatnya.

Mereka pergi,” katanya.

“Tidak,” kataku.

Tiga meter jadi dua.

“Lihat ke atas,” kataku.

Dan ia melihat ke atas.


Kanopi di langit Hollowbrook tersusun dari setiap senjata yang pernah dibaringkan di bawah kota ini selama tiga ratus tahun.

Dan mereka semua bergetar dalam frekuensi yang sama.

Aku merasakannya di kaki—naik lewat batu jalan, lewat tulang keringku, sampai ke dada. Dengungan yang sangat rendah, sangat panjang.

Tidak selaras. Ribuan nada yang sedikit meleset satu sama lain.

Seperti orang-orang yang menyanyikan lagu yang sama dari ruangan yang berbeda-beda.

Mereka bicara,” kata Fenrir.

Dua meter jadi satu.

Padaku?

“Padamu,” kataku.

Dan sesuatu yang lahir sebelum ada kata untuk perang, yang sudah tiga ratus tahun membaringkan puluhan ribu benda mati di sebelahnya dan tidak satu pun yang pernah menjawab, berdiri di alun-alun kota tambang di jalur pegunungan dan mendengarkan sampai selesai.


Yang tersisa di alun-alun waktu semuanya berhenti adalah sesuatu seukuran anjing.

Aku berjalan ke sana. Kakiku tidak sepenuhnya bekerja dan Mira memegang lenganku sepanjang empat puluh meter dan aku tidak menolak.

Bentuknya masih serigala.

Anak serigala—kalau kau harus menyebutnya sesuatu. Terbuat dari logam, dengan permukaan yang bergerak pelan seperti sesuatu yang bernapas, dan mata yang tidak ada tapi tetap terasa seperti menatap.

Dan tertancap di dadanya, sebatang tongkat lurus dengan ujung runcing.

Aku berlutut dan mencabutnya.

Ia keluar dengan mudah, seperti sesuatu yang selesai bekerja.

Dan begitu ujungnya lepas, kanopi di langit Hollowbrook mulai turun.


Semuanya sekaligus.

Puluhan ribu senjata melepaskan kunciannya dan jatuh—tapi tidak jatuh menghantam. Mereka turun pelan, berputar, menyebar, dan mendarat di seluruh kota dengan bunyi yang tidak berhenti selama hampir satu menit penuh.

Di atap. Di jalan. Di halaman. Di alun-alun.

Delapan ratus tujuh puluh empat Artifact kembali ke tangan pemiliknya masing-masing.

Dan sisanya—puluhan ribu—berbaring di seluruh kota, di mana pun mereka mendarat, dan tidak bergerak lagi.

Dan langit terbuka.

Dan hujan turun ke seluruh kota Hollowbrook untuk pertama kalinya dalam sembilan menit.


Aku basah dalam waktu tiga detik.

Aku berlutut di alun-alun dengan tongkat di tangan kanan dan sesuatu seukuran anjing di depanku, dan hujan membasahi seluruh punggungku, dan aku tidak melakukan apa pun tentang itu.

Aku memegang benda yang bisa menghentikan hujan di seluruh kota.

Aku tidak membukanya.

Aku sudah lima tahun berjalan pulang basah kuyup ratusan kali karena aku tidak percaya aku pantas berteduh, dan hari itu—untuk pertama kalinya—aku duduk di tengah hujan karena aku tidak keberatan.

Anak serigala logam itu bergerak.

Ia mengangkat kepalanya, dan ia memandangi hujan, dan ia mengulurkan satu kaki depan ke dalamnya.

Apa ini,” katanya.

Suaranya kecil sekarang. Bukan pelan—kecil.

“Hujan,” kataku.

Aku tidak pernah—

Ia berhenti.

Dan lalu ia berbaring di batu alun-alun yang basah, dengan kepala di kedua kaki depannya, dan hujan turun ke atas punggung logamnya.

Kakak,” katanya.

“Aku di sini.”

Aku lelah.

“Aku tahu.”

Boleh aku tidur?

Aku meletakkan tanganku di kepalanya.

Aku tidak memakai sarung tangan. Aku ingin mencatat itu, karena selama tiga tahun aku tidak pernah menyentuh Artifact orang lain dengan tangan telanjang, dan karena benda ini bukan Artifact orang lain.

“Iya,” kataku. “Tidur.”

Dan ia tidur.


Aku tetap di sana selama beberapa menit.

Hujan turun. Kota di sekelilingku setengah hancur—dinding utara gereja runtuh, balai kota retak, menara jam miring lima derajat dan akan tetap miring selama sisa hidupnya karena tidak ada seorang pun yang mau memperbaikinya nanti.

Dan orang-orang mulai keluar.

Aku mendengar pintu gereja terbuka. Aku mendengar suara—ratusan suara, sekaligus—dan aku tidak menoleh.

Aku berlutut di alun-alun dengan satu tangan di kepala sesuatu yang tidur, dan aku tidak bisa berdiri, dan aku baru menyadari itu sekitar tiga puluh detik kemudian.

Kakiku tidak bekerja. Lenganku tidak bekerja. Aku sudah menahan langit selama sembilan menit dan tubuhku memutuskan untuk mengambil pembayarannya sekarang.

Dan lalu ada sesuatu di atas kepalaku.

Bukan payung.

Aku mengangkat wajahku.

Mira Valen berdiri di sebelahku dengan jubah knight-nya direntangkan di kedua tangan, dipegang tinggi-tinggi di atas kepalaku, dengan kain kelabu basah yang meneteskan air di kedua sisinya.

Dan dia sendiri berdiri di luar naungannya. Basah kuyup.

Aku menatapnya.

“Kau—”

“Jangan bicara,” katanya.

“Mira, kau basah—”

“Aku tahu,” katanya. “Diam.”

Dan aku berlutut di alun-alun kota Hollowbrook di bawah jubah knight yang dipegang oleh seseorang yang berdiri di dalam hujan supaya aku tidak, dan aku menyadari—dengan sangat lambat, karena otakku hampir tidak bekerja—bahwa dia sedang melakukan hal yang persis sama dengan yang kulakukan sepanjang lima tahun terakhir.

“Kau berdiri di luar,” kataku.

“Iya.”

“Itu bodoh.”

“Aku belajar dari orang yang bodoh,” katanya.

Dan aku mulai tertawa, dan tawa itu berubah jadi sesuatu yang lain di tengah jalan, dan aku menarik ujung jubahnya dan menariknya turun ke sebelahku.

Dia jatuh berlutut di batu jalan yang basah.

Dan aku menciumnya di tengah hujan, di tengah alun-alun, dengan seluruh kota keluar dari tiga bangunan di sekeliling kami dan tidak satu pun dari kami yang peduli.

Jubah itu jatuh ke batu jalan.

Kami berdua basah kuyup dan aku tidak membuka payungku sekali pun.


Aku menemukan belakangan bahwa empat ratus orang menonton.

Aku menemukan itu karena Ilva memberitahuku, dengan sangat rinci, selama enam bulan berikutnya.

Yang kuingat sendiri cuma potongan-potongan:

Bahwa air hujan terasa dingin di punggungku dan aku tidak keberatan.

Bahwa dia mencengkeram kerah mantelku dengan kedua tangan seperti orang yang menahan diri supaya tidak jatuh.

Bahwa seseorang di suatu tempat mulai bersorak dan lalu semua orang bersorak dan lalu lonceng gereja mulai berbunyi meski setengah gerejanya runtuh, dan lonceng itu terus berbunyi selama sepuluh menit penuh.

Dan bahwa di antara kami, di batu alun-alun yang basah, sesuatu seukuran anjing yang terbuat dari logam tidur dengan sangat nyenyak dan tidak terbangun sama sekali.