← Chapters Ch. 40 / 40

Chapter Forty

Tutup Setengah Hari

Gungnir: The First Arms

POV: Noel

Jumlah kata: 2.612


Kota itu butuh lima bulan untuk berdiri lagi.

Aku tidak akan menuliskan seluruh lima bulan itu, karena sebagian besarnya adalah orang-orang mengangkat batu, dan karena hal-hal yang paling penting selama periode itu terjadi di tempat-tempat yang membosankan.

Tapi aku akan mencatat beberapa.

Dinding utara gereja dibangun ulang oleh empat puluh orang dalam tiga minggu, dan Pak Weller menolak menyamakan warna batunya dengan yang lama. “Biarkan kelihatan,” katanya. “Anak-anak harus tahu di mana batasnya.”

Menara jam tetap miring lima derajat. Garrik menawarkan untuk meluruskannya. Wali Kota Hobbes menolak. Sekarang orang-orang menyebutnya “jam condong” dan pedagang di jalur pegunungan memakainya sebagai penanda arah.

Balai kota tidak dibangun ulang. Retakannya terlalu dalam. Yang berdiri di tempatnya sekarang adalah bangunan baru dengan ruang bawah tanah yang jauh lebih besar, karena Hobbes bilang kota ini akan butuh tempat berlindung lagi suatu hari nanti dan dia tidak berniat berpura-pura sebaliknya.

Alun-alun dibersihkan dari puluhan ribu senjata dalam waktu tujuh minggu.

Mereka tidak dikembalikan ke bawah.

Itu keputusan yang diambil di rapat kota, dengan pemungutan suara, dan hasilnya delapan ratus tujuh puluh satu berbanding tiga.

Mereka dikuburkan di pemakaman lama. Di atas tanah, di rak batu yang dibangun Garrik dan dua puluh orang selama enam minggu, dengan atap dan dinding terbuka di keempat sisinya.

Bukan makam.

Lebih mirip serambi.

Orang-orang lewat di sana setiap hari.


Plakat kedua dipasang di alun-alun pada bulan ketiga.

Yang pertama sudah ada—dua ratus enam belas nama Batalion Kesembilan, diukir Pak Weller, berdiri sejak lima bulan sebelumnya.

Yang kedua lebih kecil.

Aku yang memintanya, dan Hobbes menyetujuinya tanpa bertanya apa pun, dan Pak Weller mengukirnya dalam dua hari dan menolak semua bayaran dengan kasar seperti biasanya.

Isinya satu baris:

FENRIR

Di bawahnya tidak ada tanggal. Tidak ada keterangan. Tidak ada penjelasan.

Orang-orang dari luar kota bertanya artinya sesekali, dan warga Hollowbrook selalu memberikan jawaban yang berbeda-beda, dan tidak satu pun dari jawaban itu benar, dan mereka melakukannya dengan sengaja.


Fenrir tidur selama empat bulan.

Ia tidur di keranjang di dekat perapian tokoku—keranjang cucian tua yang dilapisi kain oleh Bibi Marta, yang ditolak dengan keras oleh Bibi Marta sendiri waktu aku menyebutnya “keranjang anjing”.

“Itu keranjang tamu,” katanya.

“Bibi, itu keranjang cucian.”

“Sekarang keranjang tamu.”

Ia bangun pada bulan kelima.

Bukan bangun penuh—ia mengangkat kepalanya, memandangi ruangan, dan tidur lagi selama tiga hari. Lalu bangun lagi selama satu jam. Lalu setengah hari.

Pada minggu kedua ia berjalan.

Dan pada hari ketiga ia berjalan, Pip Harlan masuk ke tokoku, melihat sesuatu seukuran anjing yang terbuat dari logam sedang berdiri di tengah lantai, dan berkata:

“Boleh aku pegang?”

“Pip—”

Dan Fenrir berjalan menyeberangi ruangan dan meletakkan kepalanya di tangan anak berusia sepuluh tahun itu.

Aku harus keluar ke halaman belakang selama beberapa menit setelah itu.


Ia tidak bicara lagi.

Aku sudah menunggu berbulan-bulan dan ia tidak pernah mengucapkan satu kata pun sejak malam itu.

Aku bertanya pada payungku tentang itu suatu malam, sekitar bulan keenam, waktu Fenrir sedang tidur di keranjangnya dan aku sedang mengerjakan sebuah gunting jahit di bawah lampu kerja.

Dan yang naik ke tengkukku adalah sesuatu yang sangat sederhana.

Ia belajar bicara karena ia butuh memanggil seseorang.

Aku meletakkan obengku dan memandangi keranjang di dekat perapian selama waktu yang cukup lama setelah itu.


Serene Vald pulang ke garnisun utara pada bulan kedua.

Aldous Krane tinggal sampai bulan keempat, karena tembok selatan Hollowbrook butuh diperbaiki dan [ Bastion ] ternyata adalah alat konstruksi yang luar biasa efisien kalau kau memakainya untuk menahan balok penopang.

Sebelum berangkat, dia berdiri di depan tokoku dengan perisai penyok di punggungnya.

“Tulis surat,” katanya.

“Aldous—”

“Lima tahun, Noel.”

“Aku akan menulis surat.”

“Kau berbohong.”

“Aku akan menulis surat,” kataku lagi, “karena kalau aku tidak, ada seseorang di kota ini yang akan menulis atas namaku dan isinya akan jauh lebih memalukan.”

Aldous Krane menoleh ke arah barak garnisun di seberang alun-alun.

Lalu dia tertawa sampai batuk dan menepuk bahuku cukup keras untuk menggeserku setengah langkah, dan pergi.

Aku menulis surat pertamaku enam minggu kemudian.

Aku sudah menulis empat puluh satu sejak itu.


Kesh datang pada bulan kesembilan.

Tanpa pemberitahuan, seperti pertama kali, duduk di pagar halaman belakang—yang sekarang setinggi bahu—sambil memakan apel.

“Pagarmu masih jelek.”

“Pagarku sudah kutinggikan.”

“Sekarang tinggi dan jelek.”

Dia melompat turun.

“Sepuluh dari sepuluh,” katanya.

Aku berhenti bergerak.

“Sejak kapan?”

“Empat bulan.” Dia mengangkat bahu. “Tidak setiap hari. Sebagian besar hari sembilan. Tapi ada hari-hari sepuluh sekarang, dan dulu tidak ada.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Aku berhenti memintanya memperbaiki yang itu,” katanya. “Butuh tiga tahun untuk berhenti sepenuhnya. Aku masih memikirkannya. Aku cuma tidak membawanya ke tali busur lagi.”

Dia melihat ke sekeliling halaman.

“Kau menikah?”

“Belum.”

“Belum,” ulangnya, dengan nada yang menyakitkan.

“Kesh.”

“Aku tinggal seminggu,” katanya. “Aku tidur di rumput. Jangan tawarkan ranjang.”


Dan sekarang aku akan menuliskan hari Kamis.


Papan itu tergantung di pintu tokoku sejak pukul sebelas pagi.

TUTUP SETENGAH HARI

Itu saja. Tidak ada penjelasan. Pak Weller yang membuatnya—dia menawarkan untuk mengukirkan sesuatu yang lebih indah dan aku menolak, karena kalau kau menuliskan alasan di papan, orang akan membacanya, dan lalu mereka akan tahu, dan lalu seluruh kota akan tahu.

Seluruh kota sudah tahu, tentu saja.

Papan itu tergantung setiap hari Kamis selama sebelas bulan terakhir dan tidak ada satu orang pun di Hollowbrook yang tidak tahu artinya.

Bu Hensley pernah datang pada hari Kamis pukul dua siang dengan pisau dapur yang jelas-jelas tidak rusak, melihat papan itu, dan pulang tanpa mengetuk.

Itu adalah bentuk kasih sayang paling tulus yang pernah kuterima dari perempuan itu.


Dia datang pukul empat.

Bukan seragam. Sudah delapan bulan dia tidak datang dengan seragam pada hari Kamis—dia mengganti bajunya di barak dan berjalan menyeberangi alun-alun dengan pakaian biasa, dan hal itu sendiri sempat jadi pembicaraan kota selama tiga minggu penuh.

Pita biru di rambutnya.

Ia sudah pudar sekarang. Setelah sebelas bulan dipakai setiap hari, biru tua yang dalam itu sudah berubah jadi sesuatu yang lebih pucat, dan tepinya mulai berjumbai di satu sisi.

Aku menawarkan untuk membelikan yang baru empat kali.

Dia menolak empat kali.

“Sore,” katanya, menutup pintu.

“Sore.”

Fenrir mengangkat kepalanya dari keranjang, melihat siapa yang datang, dan meletakkan kepalanya kembali—yang mana adalah caranya menyambut orang, dan yang mana cuma dia lakukan pada empat orang di dunia ini.

Mira menggantung mantelnya di paku.

Dan lalu dia duduk di kursi rotan, dan aku menuang teh, dan itu adalah hal yang sudah kami lakukan seratus enam puluh delapan kali dan aku masih menghitungnya.


“Ollan membawa cangkulnya lagi,” kataku.

“Rusak lagi?”

“Tidak pernah rusak sekali pun.” Aku meletakkan cangkirnya. Dua sendok. “Sudah tujuh kali sejak musim semi. Aku memeriksanya, mengelapnya dengan minyak, dan mengembalikannya, dan dia meletakkan koin di konter dengan keras dan bilang ‘terima kasih, Tuan Ashford’.”

“Dan kau menerima koinnya.”

“Aku menerima koinnya.”

“Kau tidak pernah menerima uang dari siapa pun untuk pekerjaan yang tidak kau lakukan.”

“Aku tahu.”

Mira meniup tehnya.

“Jadi kenapa?”

Aku duduk di bangkuku.

“Karena rumahnya runtuh,” kataku. “Dan karena dia berdiri di balai kota pada hari itu dengan empat puluh satu orang lain waktu dindingnya retak, dan karena dia tidak pernah sekali pun membicarakannya sejak itu.”

Aku memutar cangkirku.

“Cangkulnya bukan alasan untuk datang,” kataku. “Itu alasan untuk pergi. Dia butuh sesuatu yang membuatnya bisa masuk, duduk sepuluh menit, dan lalu keluar tanpa harus mengatakan apa pun.”

Mira memandangiku dari kursi rotan.

“Kau tahu,” katanya, “kau sangat pintar tentang orang lain.”

“Terima kasih.”

“Itu bukan pujian sepenuhnya.”

“Aku tahu,” kataku.


Kami berjalan keluar pukul lima.

Hujan turun pukul empat lewat lima puluh—kota ini sudah tidak sepenuhnya kembali ke jadwalnya sejak hari itu, dan hujan sekarang datang antara pukul tiga dan pukul lima dan tidak ada yang tahu kenapa, dan Pak Tua Ordway punya teori yang melibatkan malaikat.

Aku mengambil payungku dari sudut ruangan.

“Fenrir,” kataku. “Jaga toko.”

Sesuatu seukuran anjing di keranjang dekat perapian mengangkat kepalanya sekitar dua sentimeter dan meletakkannya kembali.

Kami keluar ke Jalan Lorne.

Aku membuka payungnya.

Dan itu, kalau kau bertanya, adalah bagian yang masih terasa aneh setelah sebelas bulan.

Bukan Aegis. Bukan bentuk apa pun.

Cuma payung, terbuka di atas dua kepala, dengan hujan yang jatuh di sekelilingnya dan tidak jatuh di antaranya, seperti yang dilakukan payung mana pun di dunia ini sejak manusia menemukan cara membuat payung.

Kami berjalan menyusuri Jalan Lorne.

Melewati bengkel Garrik, yang sudah tutup. Melewati penginapan Bibi Marta, yang lampunya menyala dan yang jendelanya—aku bersumpah—selalu ada seseorang di baliknya setiap hari Kamis pukul lima sore.

Melewati alun-alun, dengan menara jam yang miring lima derajat dan dua plakat yang berdiri berdampingan.

Melewati pemakaman lama, dengan serambi batu terbuka di keempat sisinya tempat puluhan ribu senjata dibaringkan di bawah atap.

Dan naik, ke lereng barat, ke jalur pendakian yang sudah diperbaiki Garrik sebelas bulan lalu dan yang tidak pernah kami daki sampai empat bulan setelahnya.

Dua puluh menit ke punggung bukit.

Pak Ordway benar. Ini tempat terbaik di seluruh wilayah.


Hujan berhenti pukul lima lewat dua puluh.

Aku menutup payungku.

Klik.

Dan kami berdiri di punggung bukit lereng barat dan memandangi kota Hollowbrook di bawah kami—tiga ribu jiwa, atap-atap basah, asap dari cerobong, menara jam yang condong ke kanan, dan gereja dengan dinding utara yang warnanya tidak sama dengan sisanya.

“Aku sudah bicara pada Hobbes,” kata Mira.

“Tentang?”

“Tentang mengurangi jam patroliku.”

Aku menoleh.

“Dua hari seminggu,” katanya, sambil memandangi kota. “Dane sudah siap jadi wakil. Dia sudah siap sejak enam bulan lalu, sebenarnya, aku cuma tidak mau mengakuinya.”

“Mira—”

“Aku tidak berhenti jadi kapten,” katanya cepat. “Jangan salah paham. Aku akan jadi kapten sampai mereka menyeretku keluar.”

“Aku tahu.”

“Tapi dua hari,” katanya. “Dua hari seminggu aku akan ada di tokomu. Dan kau akan mengajariku.”

Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.

“Kau serius,” kataku.

“Aku bilang aku serius sebelas bulan lalu di atap.” Dia menoleh padaku. “Aku menunggu sebelas bulan karena kota ini harus dibangun ulang dulu dan karena aku tidak akan minta cuti waktu setengah kotaku tidak punya atap.”

Dia mengangkat dagunya.

“Sekarang mereka punya atap,” katanya.

Aku memandanginya di punggung bukit dengan pita biru yang pudar dan tepi yang berjumbai.

“Butuh bertahun-tahun,” kataku.

“Aku punya waktu.”

“Aku sudah bilang itu sebelumnya.”

“Dan aku sudah menjawabnya sebelumnya,” katanya.


Aku memasukkan tangan ke saku mantelku.

Benda itu sudah ada di sana selama sembilan minggu.

Aku ingin mencatat angkanya karena angkanya memalukan, dan karena aku sudah menyimpan pembungkus gagang di laci selama empat puluh satu hari, dan karena sepertinya ini akan jadi pola seumur hidup.

Aku membuatnya dari logam Fang yang patah.

Ada tiga yang patah pada hari itu—tiga dari delapan, retak di pangkalnya waktu Ragnarok Bloom terurai, dan mereka tidak pernah sembuh seperti kanopinya. Aku menyimpannya di laci kedua selama enam bulan tanpa tahu kenapa.

Lalu aku tahu kenapa.

Butuh sembilan malam untuk mengerjakannya. Logam itu tidak mau ditempa dengan cara biasa dan aku harus memintanya baik-baik, berkali-kali, dan pada malam kesembilan ia menyerah.

Bentuknya sederhana. Tidak ada ukiran. Tidak ada batu.

Cuma sebuah lingkaran dari logam yang pernah menjadi bagian dari senjata pertama di dunia dan yang patah karena memegang langit di atas delapan ratus tujuh puluh empat orang.

Aku mengeluarkannya dari saku.

“Mira.”

Dia menoleh.

Dan dia melihat tanganku, dan wajahnya berubah, dan aku menyadari bahwa aku belum menyiapkan satu kalimat pun.

Sembilan minggu.

Sembilan minggu dan aku tidak menyiapkan apa pun, karena setiap kali aku mencoba menyusunnya, aku sampai pada kesimpulan yang sama: bahwa aku sudah mengatakan semua yang perlu kukatakan di Jalan Lorne sebelas bulan lalu, dan bahwa sisanya cuma administrasi.

“Kamis depan,” kataku.

“...Apa?”

“Jangan bawa alasan inspeksi,” kataku.

Aku mengulurkan tangan.

“Bawa jawabanmu.”


Dia tidak menunggu sampai Kamis depan.

Aku ingin mencatat itu, karena aku sudah menyiapkan diri untuk menunggu tujuh hari dan aku bahkan sudah menghitung bagaimana caranya bertahan selama itu.

Dia menjawabnya di punggung bukit lereng barat pada sore hari Kamis, sekitar empat detik setelah aku selesai bicara, dengan suara yang pecah di tengah kata dan tangan yang gemetar dan seluruh martabat seorang Knight-Captain Hollowbrook yang runtuh sepenuhnya dalam waktu kurang dari satu detik.

Aku tidak akan menuliskan kata-katanya.

Sebagian karena aku ingin menyimpan yang itu untuk diriku sendiri.

Dan sebagian karena, sejujurnya, sebagian besar dari kalimat itu tidak bisa dipahami sama sekali.


Kami turun dari bukit menjelang gelap.

Cincin itu tidak muat di jari manisnya—aku salah menghitung, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, karena aku mengukurnya dari cara dia memegang cangkir dan ternyata itu tidak berlaku untuk jari.

Dia memakainya di rantai di lehernya sampai aku memperbaikinya.

Butuh dua hari. Dia memakainya di lehernya selama dua hari dan menunjukkannya pada empat puluh orang.

Kota itu meledak untuk kedua kalinya dalam sebelas bulan.

Dane menangis lagi. Ilva membuka taruhan baru dalam waktu empat jam—tentang tanggal pernikahan, yang mana adalah hal paling tidak sopan yang pernah kudengar dan yang aku sendiri diam-diam ikut bertaruh di dalamnya.

Bibi Marta mulai menjahit sesuatu keesokan paginya dan menolak menunjukkannya pada siapa pun selama empat bulan.

Pip Harlan berlari ke seluruh kota sambil berteriak bahwa dia sudah tahu dari dulu.

Dan hujan turun sore itu, seperti biasanya, di suatu waktu antara pukul tiga dan pukul lima.

Dan dua orang berjalan pulang menyusuri Jalan Lorne di bawah satu payung, melewati bengkel dan penginapan dan alun-alun dengan menara jam yang miring, menuju sebuah toko dengan papan nama yang dicat ulang dan lampu yang menyala di jendela dan sesuatu seukuran anjing yang tidur di keranjang dekat perapian.

Di konter, dua cangkir menunggu.

Bukan kebetulan.


— TAMAT —