Chapter Twenty Three
Tiga Hari
Gungnir: The First Arms
POV: Noel
Jumlah kata: 2.588
Greymarch lebih buruk dari yang diceritakan Aldous.
Kami tiba pada hari kedelapan, menjelang senja, dan hal pertama yang kulihat dari punggung bukit adalah bahwa sisi kiri kota itu tidak hancur.
Sisi kiri kota itu hilang.
Bukan puing. Bukan rumah yang runtuh. Ada garis di tanah—melengkung, sepanjang dua ratus meter—dan di sebelah kiri garis itu tidak ada apa-apa. Tanah gundul. Fondasi yang terpotong rapi seperti roti. Setengah gereja yang sisi utaranya masih berdiri dengan lukisan dinding utuh dan sisi selatannya berhenti begitu saja.
“Ia menekan,” kata Aldous di sebelahku. “Aku sudah bilang.”
“Kau tidak bilang seperti ini.”
“Aku tidak punya kata untuk seperti ini.”
Kami turun ke kota.
Empat ratus warga sudah jadi dua ratus enam puluh. Sisanya mengungsi ke selatan dua minggu lalu—yang punya keluarga di tempat lain, yang punya kereta, yang punya pilihan.
Yang tinggal adalah yang tidak punya ketiganya.
Aku berjalan menyusuri jalan utama Greymarch pada senja hari kedelapan, dan orang-orang menatapku dari jendela, dan tidak ada satu pun dari mereka yang menyapa.
Bukan bermusuhan.
Mereka cuma sudah berhenti berharap pada orang yang datang dari luar.
“Berapa lama?” tanyaku pada malam pertama.
Aldous membentangkan peta di meja balai kota. Verel menyalakan lampu ketiga.
“Getaran terakhir tadi pagi,” kata Verel. “Tiga puluh satu detik.”
Aku merasakan sesuatu dingin.
“Tiga puluh satu?”
“Naik dari sembilan belas empat hari lalu.” Dia menunjuk kolom di kertasnya. “Kami mencatat semuanya sejak bulan kedua.”
“Dan pola waktunya?”
“Tidak ada pola.” Aldous menggosok wajahnya. “Itu masalahnya. Bulan lalu masih ada—setiap tiga hari, seperti jam. Dua minggu terakhir acak. Kadang dua kali sehari. Kadang empat hari kosong.”
Aku memandangi tabel itu.
Dan aku menemukan polanya dalam waktu kurang dari satu menit, dan aku berharap aku tidak.
“Aldous,” kataku. “Tanggal-tanggal kosong ini.”
“Kenapa?”
“Empat hari kosong di sini.” Aku menunjuk. “Lalu tiga hari kosong di sini. Lalu enam.”
“Aku tahu. Acak.”
“Ini bukan acak,” kataku. “Ini istirahat.”
Verel mengangkat kepalanya. “Apa?”
“Sesuatu yang bergerak akan berhenti untuk mengumpulkan tenaga,” kataku. “Kalau ia bangun terus-menerus, getarannya akan konstan. Kalau ia sedang melakukan sesuatu—menggali, memanjat, mendorong—ia akan bekerja, lalu berhenti, lalu bekerja lagi.”
Ruangan itu jadi sunyi.
“Ia sedang naik,” kata Aldous.
“Ia sedang naik,” kataku.
Ia datang pada malam ketiga.
Aku sudah menghabiskan dua hari sebelumnya melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan: berjalan dari rumah ke rumah dan memperbaiki senjata.
Dua ratus enam puluh orang. Seratus sembilan puluh empat Artifact—sisanya anak-anak yang belum Manifestation, dan sembilan orang tua yang senjatanya sudah memudar.
Aku memperbaiki seratus sembilan puluh empat Artifact dalam empat puluh jam.
Verel mengikutiku ke rumah kedua belas dan berhenti bertanya setelah rumah kedua puluh.
“Kau tidak tidur,” katanya, di rumah keenam puluh, pukul tiga pagi.
“Nanti.”
“Noel.”
“Kalau ia datang malam ini,” kataku, sambil menutup retakan di gagang sekop milik petani berusia lima puluh tahun, “setiap orang di kota ini akan memegang sesuatu. Itu bukan strategi. Itu cuma satu-satunya yang bisa kulakukan yang tidak melibatkan mengangkat payungku.”
Verel duduk di tangga rumah itu.
“Kau menghindari mengangkatnya.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku menyerahkan sekop itu kembali pada pemiliknya, yang mengucapkan terima kasih delapan kali dan menawariku roti yang jelas-jelas adalah jatah makan pagi keluarganya.
Aku menerima rotinya, karena menolak akan lebih menyakitkan baginya.
“Karena ada sesuatu di bawah kota tempatku tinggal,” kataku, setelah kami keluar. “Dan setiap kali aku memakai benda ini, ia bergerak sedikit lagi.”
Verel berhenti berjalan.
“Kau serius.”
“Sembilan ratus kilometer,” kataku. “Aku tidak tahu apakah jarak berarti apa-apa untuknya. Aku berharap iya.”
Verel Adaine berdiri di jalan Greymarch pukul tiga pagi dan menatapku dengan ekspresi yang membuatku tidak nyaman.
“Delapan tahun lalu,” katanya, “kau adalah orang paling menyebalkan di ruang latihan cabang timur karena kau tidak pernah, tidak sekali pun, menahan diri.”
“Aku tahu.”
“Aldous bilang kau berubah. Kupikir dia berlebihan.” Dia melipat tangannya. “Kapten kalian. Yang di Hollowbrook.”
Aku tidak menjawab.
“Aku bertanya pada bawahannya,” katanya. “Perempuan itu berdiri sepuluh menit di depan Noble Stray dengan Common rank untuk membeli waktu bagi sebelas orang.”
“Iya.”
“Dan kau tinggal di kota itu selama tiga tahun tanpa satu orang pun tahu siapa kau.”
“Iya.”
Verel mengangguk pelan.
“Noel,” katanya. “Kalau kita hidup setelah ini, tolong lakukan sesuatu untukku.”
“Apa?”
“Berhenti menahan diri di depan orang yang salah,” katanya. “Kau menahan diri dari mengangkat payungmu untuk melindungi kota itu. Kau juga menahan diri dari bicara pada perempuan itu, dan aku tidak tahu itu untuk melindungi siapa.”
Aku tidak punya jawaban.
Dia menepuk bahuku dan berjalan ke rumah keenam puluh satu.
Ia keluar dari bukit timur pukul sebelas malam.
Yang pertama kudengar bukan getaran. Yang pertama adalah suara tanah yang menghisap—seperti kaki ditarik keluar dari lumpur, tapi sepanjang dua ratus meter.
Lalu bukit itu terbuka.
Dan sebuah tangan keluar.
Aku ingin menuliskannya dengan lebih baik dan aku tidak bisa. Sebuah tangan. Lima jari. Telapak selebar rumah, tersusun dari ribuan potongan logam yang saling mengunci—bilah, pelat, batang, gagang—dan ia keluar dari tanah dan menekan permukaan bukit dan mendorong dirinya sendiri naik.
Lalu tangan kedua.
Lalu sesuatu yang bukan kepala naik di antara keduanya.
Regalia Stray.
Aku tahu itu sebelum ia bicara, karena aku merasakan payung di punggungku berubah beratnya.
Ia berdiri setinggi delapan meter, dan ia tidak punya wajah, dan ia mengangkat kedua telapak tangannya dan melihatnya—benar-benar melihatnya, memutar pergelangannya, memeriksa jari-jarinya satu per satu seperti orang yang baru bangun tidur.
“Ah,” katanya.
Suaranya seperti batu digeser.
“Masih ada.”
Aldous menahannya selama dua menit.
Aku ingin mencatat itu, karena dua menit adalah waktu yang mustahil.
[ Bastion ] menghantam tanah di mulut jalan utama dan Aldous Krane berdiri di belakangnya dengan dua puluh delapan knight yang tersisa, dan telapak tangan sebesar rumah turun ke atas mereka.
Perisai itu menahan.
Tanah di bawah kaki Aldous turun tiga puluh sentimeter, tapi perisai itu menahan.
“Menarik,” kata benda itu.
Dan menekan lebih keras.
Aku sudah berlari sejak sepuluh detik yang lalu.
Aku ingin sangat jujur tentang urutan pikiranku, karena ini penting untuk apa yang terjadi setelahnya.
Yang pertama kupikirkan bukan Aldous.
Yang pertama kupikirkan adalah: kalau aku membukanya di sini, ia akan tahu.
Sembilan ratus kilometer ke barat, di bawah kota kecil di jalur pegunungan, sesuatu yang sudah bangun selama empat bulan akan mencium bau kakaknya dan bergerak lagi. Dan kalau ia bergerak lagi, akan ada malam di mana lonceng gereja Hollowbrook berbunyi tiga kali dan seorang perempuan dengan greatsword Common rank akan berdiri di alun-alun sendirian karena aku ada di tempat lain.
Aku memikirkan itu selama mungkin sepersepuluh detik.
Lalu aku membuka payungku.
[ Aegis Mode ]
Aku menancapkannya di batu jalan di sebelah [ Bastion ], dan telapak tangan sebesar rumah itu berhenti di udara.
Bukan tertahan.
Berhenti.
Aldous tersungkur ke depan waktu beban di perisainya menghilang seluruhnya dalam satu detik, dan aku menangkap kerah punggungnya dengan tangan kiri.
“Mundur,” kataku.
“Noel—”
“Bawa mereka ke selatan. Aku menahan garisnya.”
Benda itu menarik tangannya.
Dan lalu ia melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Wyrmfang, tidak dilakukan Hollow Choir, tidak dilakukan satu pun Stray yang pernah kuhadapi.
Ia mundur satu langkah.
“Kau,” katanya.
Aku berdiri di mulut jalan utama Greymarch dengan payung terbuka.
“Aku mengenal itu,” katanya. Suara batu digeser itu berubah—lebih pelan, lebih hati-hati. “Bukan kau. Yang kau pegang.”
“Kau tidak mengenalnya,” kataku.
“Aku ingat tangan yang membuatku,” katanya. “Aku ingat api. Aku ingat palu. Dan aku ingat bahwa sebelum ada palu, ada sesuatu yang sudah ada.”
Ia mengangkat kedua telapak tangannya.
“Kau membawa Yang Pertama.”
Aku bertarung selama dua puluh enam menit dan aku tidak menang.
Aku ingin mencatat itu dengan jelas, karena aku tidak menulis catatan ini untuk membuat diriku terlihat baik.
Fangs tidak berguna.
Delapan batang melesat ke dalam tubuhnya dan menemukan apa yang selalu mereka temukan—sambungan, sendi, titik rakitan—dan mereka membongkarnya, dan tiga ratus potongan logam jatuh ke tanah.
Dan ia menariknya kembali.
Aku melihatnya terjadi. Potongan-potongan itu terangkat dari tanah dan kembali ke tubuhnya dan mengunci diri di tempat yang berbeda, dan dalam waktu empat detik lukanya tertutup.
Aku membongkarnya lagi. Dan lagi.
Pada bongkaran keenam, aku menyadari bahwa ia tidak melawanku sama sekali—ia cuma berjalan ke arah barat, menuju jalan selatan, menuju dua ratus enam puluh orang yang sedang bergerak dalam kolom panjang di bawah cahaya obor.
Aku tidak punya waktu untuk membongkarnya sampai habis.
Aku melompat ke jalurnya dan membuka Aegis dan menahan telapak tangan itu untuk kedua kalinya, dan untuk ketiga kalinya, dan untuk keempat.
Dan pada tahanan keempat, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan.
Payung itu bergetar.
Bukan bergerak. Getaran di dalam gagangnya, naik ke pergelangan tanganku, seperti benda yang menahan sesuatu terlalu lama.
Aegis tidak punya batas. Aku sudah percaya itu selama lima tahun. Aegis menolak konsep tembus, dan konsep tidak lelah.
Tapi tangan yang memegangnya lelah.
Dan aku sudah tidak tidur selama empat puluh jam.
Yang menyelamatkan kami adalah Verel Adaine.
Dia berdiri di atap balai kota—satu-satunya bangunan tinggi yang tersisa—dengan rapier Noble rank-nya dan tiga puluh cermin.
Cermin. Dia mengumpulkan setiap cermin di Greymarch selama dua hari terakhir, dan aku tidak bertanya kenapa karena aku sedang memperbaiki seratus sembilan puluh empat Artifact.
“NOEL!” teriaknya. “IA MENCARI CAHAYA!”
“APA?”
“IA BERGERAK KE ARAH OBOR! LIHAT JALURNYA!”
Aku melihat jalurnya.
Dan dia benar.
Benda itu tidak mengejar orang. Ia berjalan ke arah kolom obor di jalan selatan—dua ratus titik api bergerak dalam garis panjang—dan ia berjalan ke sana dengan ketekunan sesuatu yang sudah seratus tahun berada di dalam gelap.
“MATIKAN OBORNYA!” teriakku pada Aldous.
“Mereka tidak akan bisa melihat jalan—”
“MATIKAN.”
Obor-obor itu padam dalam gelombang, dari belakang ke depan.
Dan benda itu berhenti.
Berputar.
Dan mulai berjalan ke arah tiga puluh cermin di atap balai kota, tempat Verel Adaine berdiri sendirian memantulkan cahaya bulan.
“Verel—”
“AKU TAHU!” teriaknya. “CEPAT KERJAKAN SESUATU, ASHFORD!”
Aku menutup payungku.
Klik.
Dan aku mencari sesuatu yang belum pernah kucari sebelumnya.
Bukan Fangs. Bukan Bow. Bukan Gauntlet.
Aku memegang payung itu dengan dua tangan dan aku berkata—keras, di tengah jalan utama Greymarch, seperti orang gila:
“Ia mencari cahaya. Beri aku sesuatu yang bisa menampung cahaya.”
Dan payung itu terbuka.
Bukan seperti Aegis. Kanopinya terbentang lalu melengkung ke dalam, tepinya menekuk naik, membentuk cekungan setengah bola. Delapan jari-jarinya menegang di sepanjang permukaannya seperti tulang rusuk. Gagangnya memanjang dan melengkung di ujung.
Sebuah lentera.
Sebesar perisai. Berongga, terbuka menghadap ke atas, dengan permukaan dalam yang hitam pekat—hitam yang lebih hitam dari malam di belakangnya.
[ Shield-Lantern Mode ]
Aku mengangkatnya ke arah atap balai kota.
Dan tiga puluh cermin Verel Adaine memantulkan cahaya bulan ke dalam cekungan itu, dan cekungan itu menelannya.
Seluruhnya.
Cahaya di jalan utama Greymarch padam.
Bukan bayangan. Padam. Bulan masih di langit dan aku tidak bisa melihat tanganku sendiri.
Benda setinggi delapan meter itu berhenti.
“Oh,” katanya, sangat pelan, di dalam gelap total.
Aku mengangkat lentera itu lebih tinggi.
“Kau mau cahaya?” kataku.
Dan aku membaliknya.
Yang keluar dari cekungan itu bukan cahaya bulan.
Cahaya bulan yang masuk ke sana adalah cahaya bulan yang dipantulkan dari tiga puluh cermin selama sekitar empat detik, dan yang keluar adalah keempat detik itu sekaligus, dalam satu ledakan yang membuat seluruh jalan utama Greymarch putih.
Delapan Fangs lepas dari rusuk lentera dan melesat ke dalam ledakan itu.
Bukan ke tubuhnya.
Ke matanya—ke titik di dalam rongga dadanya, tempat sesuatu berkilau lebih terang dari sisanya, tempat cahaya yang ia cari selama seratus tahun tersimpan dalam bentuk yang bahkan tidak ia sadari sudah dimilikinya.
Delapan Fangs masuk.
Dan aku membongkar itu.
Benda setinggi delapan meter itu berdiri diam selama tiga detik.
Lalu berlutut.
Bukan runtuh. Berlutut—perlahan, kedua tangan raksasa itu menyentuh tanah, kepala yang bukan kepala itu menunduk.
“Ah,” katanya.
Dan lalu, dengan suara yang tidak lagi seperti batu digeser:
“Aku tidak mencari cahaya.”
Aku berdiri di jalan yang putih.
“Aku mencari pagi,” katanya. “Aku dikubur pada malam hari. Aku pikir kalau aku naik cukup tinggi—”
Ia tidak menyelesaikannya.
Tiga ribu potongan logam terlepas sekaligus dan jatuh ke tanah Greymarch dengan bunyi yang berlangsung selama dua puluh detik penuh.
Dan lalu tidak ada apa-apa selain gelap, dan napasku sendiri, dan seseorang menangis di suatu tempat di jalan selatan.
Fajar datang tiga jam kemudian.
Aku duduk di reruntuhan sisi kiri kota—di fondasi yang terpotong rapi seperti roti—dan menonton matahari naik di atas bukit timur.
Aldous duduk di sebelahku dengan [ Bastion ] di pangkuannya.
Verel duduk di sisi lain, dengan pergelangan tangan yang terkilir dan rambut yang setengah hangus di ujungnya.
Tidak ada satu pun dari kami yang bicara selama sekitar dua puluh menit.
Lalu Aldous berkata:
“Terima kasih.”
“Kau tidak perlu—”
“Diam sebentar, Noel.” Dia menggosok wajahnya. “Dua ratus enam puluh orang. Aku tidak kehilangan satu pun malam ini. Aku sudah menghitung selama lima bulan berapa yang akan kuhilangkan dan angkanya tidak pernah nol.”
Aku memandangi matahari.
“Ia mencari pagi,” kataku.
“Aku dengar.”
“Aku ada di sini,” kataku, “dan aku membongkarnya, dan sekarang matahari naik dan ia tidak melihatnya.”
Verel Adaine menoleh padaku.
“Noel,” katanya. “Berapa banyak dari mereka yang bicara?”
“Dua,” kataku. “Sekarang tiga.”
“Dan berapa yang akan bicara di bawah kotamu?”
Aku tidak menjawab.
Karena aku sudah tahu jawabannya sejak Wali Kota Hobbes membuka pintu besi berkarat itu dan menunjukkan tiga belas tingkat yang dipetakan, dan aku sudah tahu sejak malam Wyrmfang, dan aku sudah tahu sejak sesuatu di bawah kota berbalik dalam tidurnya empat bulan lalu dan senjata pertama di dunia meresponsnya dengan rindu.
Aku berdiri.
“Aku pulang,” kataku.
“Kau butuh istirahat—”
“Aldous.” Aku menyandang payungku. “Sembilan ratus kilometer ke barat, aku baru saja memberi tahu sesuatu di mana aku berada.”
Aku berangkat satu jam kemudian, sendirian, dengan kuda tercepat yang mereka punya.
Sembilan hari sudah lewat.
Aku punya tiga hari untuk menempuh delapan hari perjalanan, dan aku tahu itu tidak mungkin, dan aku tetap mencoba.