Chapter Twelve
Malam Sebelum Badai
Gungnir: The First Arms
POV: Noel
Jumlah kata: 2.433
Pip Harlan mulai muncul di tokoku setiap hari.
Aku tidak pernah mengundangnya. Dia cuma datang suatu sore, duduk di lantai dekat perapian, dan mulai menceritakan seluruh isi harinya di sekolah tanpa jeda selama dua puluh menit.
Besoknya dia datang lagi.
Minggu ketiga, dia sudah tahu di mana aku menyimpan kain lap, dan mulai mengelap konter tanpa diminta.
“Aku asistenmu,” katanya suatu hari, dengan nada seseorang yang mengumumkan pengangkatan resmi.
“Aku tidak menggaji asisten.”
“Kak Noel bayar aku pakai teh.”
“Kau minum tehku tiga cangkir kemarin.”
“Berarti aku sudah dibayar tiga kali,” kata Pip, dan kembali mengelap.
Aku tidak punya bantahan untuk logika itu.
Yang tidak kuceritakan padanya adalah alasan kenapa aku membiarkannya.
Selama tiga minggu terakhir aku mengerjakan sesuatu di malam hari, dan pekerjaan itu jenis yang butuh tangan sangat stabil dan pikiran sangat sepi. Dan aku menemukan bahwa mendengarkan seorang bocah sepuluh tahun menceritakan drama sosial kelas empat selama dua puluh menit setiap sore adalah cara paling efektif yang pernah kutemukan untuk membuat kepalaku diam.
Dia juga membawa berita.
“Kak Mira latihan lagi hari ini,” katanya sore itu, sambil menyusun kaleng minyak dengan urutan yang bukan urutanku. “Sama semua knight. Di halaman barak. Mereka latihan formasi baru.”
Aku tidak mengangkat kepala dari pekerjaanku.
“Formasi apa?”
“Yang buat benda besar,” kata Pip. “Kak Ilva bilang begitu. Katanya formasi lama cuma buat yang seukuran orang, terus Kak Mira bilang itu nggak cukup lagi.”
Tanganku berhenti sebentar.
“Dia bilang begitu?”
“Aku dengar sendiri! Aku nonton dari pagar.” Pip meletakkan kaleng terakhir dengan bunyi keras. “Kak Mira teriak-teriak terus. Tapi bagus teriaknya. Kayak—” dia mengerutkan wajah mencari kata, “—kayak orang yang lagi nggak marah tapi teriak.”
“Itu namanya memimpin.”
“Aku juga mau bisa gitu.”
“Kau sudah bisa,” kataku. “Kau baru saja menyusun ulang seluruh rak minyakku dan aku tidak diberi kesempatan menolak.”
Pip terlihat sangat puas.
Yang kukerjakan malam-malam itu adalah sebuah pekerjaan yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Aku akan menuliskannya di sini karena aku sudah memutuskan bahwa catatan ini jujur atau tidak sama sekali.
Setiap malam, setelah toko tutup, aku duduk di konterku dengan lampu kerja menyala dan sepotong kulit sapi tersamak di depanku. Kulit terbaik yang bisa kudapat dari pedagang jalur pegunungan—tebal, kenyal, tanpa cacat.
Aku memotongnya jadi lembaran panjang.
Aku membentuknya. Aku merendamnya. Aku mengeringkannya perlahan di dekat perapian selama tiga malam supaya seratnya mengeras dengan benar.
Dan setiap malam, aku mengukurnya lagi terhadap ingatanku sendiri: lebar telapak tangan kanan, jarak antara pangkal ibu jari dan lekukan jari kelingking, panjang genggaman seorang perempuan yang menggenggam terlalu dekat ke pelindung tangan waktu ayunan turun.
Aku tidak pernah memegang Ferrum. Tidak sekali pun.
Aku tidak perlu.
Aku sudah tiga tahun melihat tangan itu memegang cangkir di kursi rotanku setiap hari Kamis.
Malam ketujuh belas, pembungkus gagang itu selesai.
Aku memegangnya di bawah lampu—selembar kulit gelap, dijahit dengan benang lilin, dengan tiga cekungan halus yang ditempatkan persis di titik-titik yang akan membuat genggaman seseorang bergeser dua sentimeter lebih jauh dari pelindung tangan tanpa dia sadari.
Lalu aku duduk memandanginya selama sepuluh menit.
Dan aku menaruhnya di laci.
Karena untuk memasangnya, aku harus memintanya menyerahkan pedangnya. Dan kalau aku memintanya menyerahkan pedangnya, dia akan bertanya kenapa, dan aku harus menjawab, dan jawaban jujurnya adalah sesuatu yang belum bisa kuucapkan.
Jadi kulit itu tinggal di laci selama sepuluh hari.
Aku tahu itu pengecut. Aku menulisnya di sini supaya tidak ada yang mengira aku tidak tahu.
Getaran kesepuluh datang hari Jumat pukul tiga pagi.
Delapan detik.
Aku terbangun dan duduk di ranjang dan menghitungnya sampai selesai, dan aku tidak bisa tidur lagi setelahnya.
Getaran kesebelas datang hari Minggu. Sembilan detik.
Aku pergi ke pos jaga selatan hari Senin pagi dengan alasan mengantarkan pisau dapur yang sudah selesai kuperbaiki. Di dinding ruang jaga, tergantung selembar kertas besar yang ditempel dengan empat paku.
Sebuah tabel.
Tanggal. Waktu. Durasi. Dan di kolom terakhir, tulisan tangan yang rapi dan tegas dan sedikit terlalu ditekan: arah — bawah.
Kapten Valen sedang berdiri di depannya waktu aku masuk, dengan pena di tangan, menambahkan baris kedua belas.
“Kau mencatat semuanya,” kataku.
“Sejak sebulan lalu.” Dia tidak berbalik. “Sebelum itu, tidak. Itu kesalahanku.”
“Kau tidak bisa mencatat sesuatu yang belum kau tahu ada.”
“Aku merasakannya, Ashford. Bertahun-tahun.” Dia meletakkan pena. “Kami semua merasakannya. Kami bilang itu tambang lama yang runtuh, atau tanah yang bergerak, atau—” dia mengangkat bahu, “—apa pun yang membuat kami bisa berhenti memikirkannya. Kota ini sangat bagus dalam berhenti memikirkan sesuatu.”
Dia berbalik.
Dan aku melihat lingkaran hitam di bawah matanya, dan bahwa dia sudah tidak tidur cukup selama beberapa hari.
“Durasinya naik,” katanya. “Tiga detik. Lima. Enam. Delapan. Sembilan.”
“Aku tahu.”
“Dan intervalnya turun.” Dia menunjuk kolom tanggal. “Dulu sebulan sekali. Sekarang dua hari.”
Aku memandangi tabel itu.
Dua hari.
Setiap kali kau mengangkatnya, kata suara Wali Kota Hobbes di kepalaku.
“Ashford.”
“Ya.”
“Apa yang ada di bawah kota ini?”
Aku menoleh padanya.
Ini kesempatannya. Aku ingin mencatat itu—bahwa ada satu momen di ruang jaga pos selatan pada hari Senin pagi di mana aku bisa menceritakan segalanya, dan bahwa aku memilih tidak.
“Kau sudah tahu apa yang ada di bawah kota ini,” kataku. “Wali Kota Hobbes memberimu kunci setelah pengangkatan, kan?”
Matanya menyipit.
“Bagaimana kau tahu tentang kunci.”
“Karena kau tidak bertanya apakah ada sesuatu di bawah sana,” kataku. “Kau bertanya apa. Orang yang tidak tahu tidak bertanya seperti itu.”
Hening.
Lalu dia mengeluarkan napas panjang lewat hidung dan menggosok matanya dengan pangkal telapak tangan, dan untuk sesaat dia terlihat sangat muda.
“Aku benci kalau kau melakukan itu,” katanya.
“Melakukan apa?”
“Menjawab pertanyaanku dengan cara yang membuatku merasa kau baru saja menjawabnya, padahal tidak.”
“Aku minta maaf.”
“Tidak, kau tidak.” Dia meraih mantelnya dari sandaran kursi. “Kau minta maaf untuk banyak hal, Ashford, dan tidak satu pun dari hal-hal itu adalah hal yang seharusnya kau minta maafkan.”
Dan dia melewatiku menuju pintu, dan kalimat itu tinggal di dadaku selama tiga hari.
Malam Rabu, dia datang ke tokoku.
Bukan Kamis. Rabu, pukul sembilan malam, dan aku sudah menutup toko.
Aku mendengar ketukan dan membuka pintu dan dia berdiri di sana tanpa armor—cuma seragam dalam, mantel, dan Ferrum di punggungnya karena dia tidak pernah ke mana-mana tanpa itu.
“Aku tidak bisa tidur,” katanya. “Dan tokomu satu-satunya yang lampunya masih menyala.”
Aku membuka pintu lebih lebar.
Kami tidak bicara selama sepuluh menit pertama. Aku menyalakan ulang tungku dan menyeduh teh. Dia duduk di kursi rotan dan menyandarkan kepalanya ke belakang dan menutup mata, dan untuk sesaat aku pikir dia benar-benar tertidur.
“Aku menghitung,” katanya, tanpa membuka mata.
“Menghitung apa?”
“Kalau intervalnya terus turun dengan laju yang sama.” Dia membuka matanya dan menatap langit-langit. “Getaran berikutnya besok. Yang setelahnya, besok malam. Yang setelahnya lagi—”
Dia tidak menyelesaikannya.
Aku meletakkan cangkirnya di meja kecil di sampingnya. Dua sendok.
“Kau tahu apa yang paling membuatku takut?” katanya.
“Tidak.”
“Bukan yang di bawah.” Dia mengangkat cangkirnya. “Aku punya tiga puluh knight, Ashford. Delapan di antaranya umur di bawah dua puluh dua. Dane baru menikah tahun lalu. Ilva punya adik yang dia biayai sekolahnya.”
Dia meniup uapnya.
“Aku sudah membuat formasi baru,” katanya. “Formasi anti-target-besar. Kami latihan tiap hari. Dan aku sudah menghitung berapa lama formasi itu bisa bertahan menghadapi sesuatu seukuran rumah, dan jawabannya adalah cukup lama untuk mengevakuasi distrik barat.”
“Cukup lama untuk mengevakuasi,” kataku pelan. “Bukan cukup lama untuk menang.”
“Bukan cukup lama untuk menang.”
Api di tungku berderak.
“Ayahku juga begitu,” katanya. “Dia berdiri di lereng utara selama empat menit dan itu cukup untuk mengosongkan dusun di bawahnya. Aku selalu berpikir aku marah karena dia mati.” Dia menatap tehnya. “Aku baru sadar minggu ini bahwa aku marah karena dia menghitung. Dia berdiri di sana dan dia sudah tahu angkanya, dan dia tetap berdiri.”
Aku duduk di bangkuku di seberangnya.
“Dan sekarang kau menghitung,” kataku.
“Dan sekarang aku menghitung.”
Ruangan itu diam.
Ada sesuatu yang ingin kukatakan. Aku bisa merasakan bentuknya di dadaku, dan aku tahu persis apa itu, dan aku tahu bahwa mengucapkannya berarti mengakhiri tiga tahun.
Kau tidak perlu berhitung. Kalau sesuatu datang, aku akan berdiri di depannya, dan aku tidak akan mati, dan kota ini akan tetap ada besok paginya, dan kau boleh tidur.
Aku membuka mulutku.
Dan yang keluar adalah:
“Kapten. Boleh aku minta sesuatu?”
Dia menoleh.
“Kalau sesuatu terjadi,” kataku. “Kalau lonceng berbunyi tiga kali lagi, dan kau harus berdiri di depan sesuatu, dan kau mulai menghitung—”
Aku berhenti, karena aku menyadari aku tidak tahu cara mengucapkan bagian keduanya tanpa mengucapkan seluruhnya.
Dia menunggu.
“Cari tempat yang tidak basah,” kataku.
Alisnya bertaut. “Apa?”
“Kalau hujan,” kataku, “dan kau melihat satu tempat di mana hujannya berhenti—berlarilah ke sana. Jangan bertanya kenapa. Jangan menghitung. Cuma lari ke sana.”
Dia menatapku untuk waktu yang lama.
Api berderak. Di luar, tidak ada suara sama sekali, karena hujan sudah berhenti pukul lima seperti biasanya dan kota sudah tidur.
“Kau tahu,” katanya pelan, “kalau ada orang lain yang mengatakan itu padaku, aku akan mengira dia gila.”
“Dan aku?”
“Kau bukan orang lain,” katanya.
Dan lalu wajahnya berubah—aku bisa melihat detik ketika kalimat itu sampai ke telinganya sendiri—dan dia meletakkan cangkirnya terlalu cepat dan tehnya tumpah sedikit ke meja.
“Maksudku—dalam konteks profesional—”
“Tentu saja.”
“Karena kau punya rekam jejak yang—”
“Konteks profesional,” setujuku.
“Berhenti mengulangi kata-kataku.”
“Baik, Kapten.”
Dia menatapku dengan mata menyipit yang tidak berhasil menyembunyikan apa pun, dan aku menunduk ke arah cangkirku, dan kami berdua menghabiskan sekitar setengah menit berpura-pura sangat tertarik pada tungku.
Dia pulang menjelang tengah malam.
Di ambang pintu—tentu saja—dia berhenti.
“Ashford.”
“Ya.”
“Tempat yang tidak basah,” katanya. Bukan pertanyaan. Cuma mengulanginya, seperti orang yang menyimpan sesuatu di saku dan menepuknya sekali untuk memastikan masih di sana.
“Iya,” kataku.
Dia mengangguk sekali, dan pergi.
Aku mengunci pintu dan berdiri di sana dengan tangan masih di kunci.
Lalu aku berjalan ke laci konter, membukanya, dan mengeluarkan pembungkus gagang kulit yang sudah selesai sepuluh hari lalu.
Aku memegangnya di bawah lampu.
“Besok,” kataku pada ruangan kosong. “Besok Kamis. Aku akan memberikannya besok.”
Payung di sudut ruangan diam, seperti biasa.
Tapi ada sesuatu di dalam keheningan itu yang berbeda malam itu—semacam kesiagaan, semacam benda tua yang tidak lagi bersandar dengan santai di dinding melainkan berdiri di sana, menunggu, dengan seluruh perhatiannya mengarah ke satu titik jauh di bawah lantai kayu.
Aku tidak menyadarinya waktu itu.
Aku sedang memikirkan sepotong kulit sapi dan sebuah kalimat yang akan kuucapkan besok sore, dan aku tidur dengan perasaan yang hampir mirip tenang.
Getaran kedua belas datang pukul empat pagi.
Empat belas detik.
Dan pada pukul empat lewat sepuluh, di seluruh kota Hollowbrook, semua anjing mulai menyalak sekaligus dan tidak berhenti sampai matahari terbit.