Chapter Four
Alasan Hari Kamis
Gungnir: The First Arms
POV: Mira
Jumlah kata: 2.386
Ada kalender di dinding kamarku.
Kalender biasa. Kertas murah, cetakan kota, dua belas lembar dengan gambar pemandangan pegunungan yang digambar oleh seseorang yang jelas-jelas belum pernah melihat pegunungan. Aku menggantungnya di sebelah gantungan armor karena kupikir seorang kapten harus punya kalender.
Di lembar bulan ini, ada empat lingkaran kecil.
Digambar dengan pensil. Tipis sekali—kalau kau tidak berdiri cukup dekat, kau akan mengira itu noda. Aku menggambarnya sekali seminggu, selalu di malam Rabu, selalu setelah lampu dimatikan supaya kalau ada yang mengetuk pintu aku bisa berpura-pura sudah tidur.
Lingkaran-lingkaran itu ada di setiap hari Kamis.
Aku sudah melakukan ini selama—
Tidak. Aku tidak akan menghitungnya. Menghitungnya membuatnya jadi nyata, dan aku punya cukup banyak hal nyata yang harus kuurus sebagai kapten garnisun kota ini tanpa perlu menambahkan satu lagi.
Malam ini hari Rabu.
Aku duduk di tepi ranjang dengan pensil di tangan, dan aku belum menggambar apa pun selama sebelas menit.
Begini kejadiannya, kalau kau butuh laporan resmi.
Hari Sabtu kemarin, kota diserang belasan Common Stray dari saluran air sisi utara. Garnisun merespons dalam dua menit. Tidak ada korban jiwa. Tiga warga luka ringan, satu gerobak hancur, satu timbangan milik Bu Hensley rusak, dan kerugian material lain masih dihitung.
Itu laporan yang kutulis dan kuserahkan ke Wali Kota Hobbes.
Yang tidak kutulis adalah ini:
Ubin jalan di sisi barat alun-alun, koordinat dua belas langkah dari lapak kain, terangkat satu inci pada saat yang sangat tepat.
Aku sudah tujuh tahun jadi knight. Aku tahu bagaimana batu jalan berperilaku. Batu jalan tidak terangkat sendiri pada detik yang persis dibutuhkan untuk menjatuhkan sesuatu yang berlari dengan kecepatan penuh ke arah seorang anak sepuluh tahun.
Aku kembali ke sana malamnya, sendirian, dengan lentera.
Ubin itu di tempatnya. Tidak retak. Tidak longgar—aku menendangnya cukup keras untuk memastikan. Tapi di celah antara ubin itu dan ubin sebelahnya, ada goresan tipis di mortarnya. Segar. Selebar ibu jari.
Berbentuk lingkaran.
Seperti ujung sebuah tongkat.
Atau ujung sebuah payung.
Aku tidak bodoh.
Orang-orang kadang mengira begitu, karena aku lulus akademi di peringkat dua puluh tiga dari dua puluh enam, dan karena Artifact-ku Common rank, dan karena di dunia ini orang mengukur otak dari rank senjatamu seperti mengukur kecerdasan kuda dari tinggi badannya. Aku sudah berhenti tersinggung sekitar umur dua puluh.
Aku bukan orang pintar. Tapi aku pengamat yang baik. Itu satu-satunya alasan aku hidup sampai umur dua puluh lima di pekerjaan ini.
Dan aku sudah tiga tahun mengamati Noel Ashford.
Awalnya karena tugas. Orang asing membuka usaha di kota kecil, itu urusanku. Aku memeriksa berkasnya waktu itu: nama, umur, asal (kota pesisir yang bahkan tidak kukenal), tidak ada catatan kriminal, tidak ada afiliasi, Artifact tidak terdaftar.
Kolom terakhir itu yang mengganjal. Tidak terdaftar biasanya berarti Common rank yang tidak dianggap penting, atau orang yang tidak pernah mendaftarkannya.
Jadi aku datang untuk memeriksa. Sekali.
Lalu aku datang lagi minggu depannya, dan aku bilang pada diriku sendiri itu tindak lanjut prosedural.
Dan minggu depannya lagi.
Aku tidak akan menghitungnya.
Yang kutahu tentang dia, setelah tiga tahun:
Dia menyeduh teh untuk dua orang setiap Kamis dan mengklaim itu kebetulan. Sudah empat Kamis berturut-turut. Kebetulan yang sangat konsisten.
Dia bisa memperbaiki apa pun. Bukan “hampir apa pun”—apa pun. Garrik pernah membawa Rare rank yang bilahnya patah dua, benda yang bahkan smith ibu kota bilang harus dilebur, dan tiga hari kemudian benda itu utuh dan Garrik tidak mau membicarakannya selama seminggu.
Dia selalu membawa payung. Selalu. Hujan, cerah, badai salju bulan Januari. Kota ini sudah lama menganggapnya kebiasaan orang aneh.
Dia tidak pernah mengangkat suaranya. Tidak sekali pun, dalam tiga tahun.
Dan dia bisa melihat kulit gagang pedangku yang mengelupas dua milimeter, dari seberang jalan.
Aku memikirkan yang terakhir itu lebih sering dari yang seharusnya.
Bukan karena itu mencurigakan—meski memang mencurigakan. Tapi karena tidak ada seorang pun di kota ini, tidak ada seorang pun di garnisunku, tidak ada seorang pun sejak ayahku meninggal, yang pernah memperhatikan pedangku cukup lama untuk melihat sesuatu di sana.
Ferrum itu jelek. Aku tahu itu. Bilahnya lebar dan polos dan warnanya kelabu kusam seperti panci. Waktu Manifestation-ku datang di umur lima belas, ada anak di akademi yang bertanya apakah aku akan berperang atau mengaduk semen.
Dan lelaki itu melihatnya, dan yang dia komentari adalah cara aku menggenggamnya waktu ayunan turun.
Aku menekan pensil ke kertas.
Lalu aku mengangkatnya lagi tanpa menggambar apa pun.
“Kapten pasti mikirin si tukang payung lagi.”
“Dua koin. Dua koin, Ilva. Dia sudah menatap dinding selama empat menit.”
Aku menutup mata.
Ruang jaga garnisun punya banyak keunggulan strategis. Ia menghadap gerbang utara, punya sudut pandang penuh ke alun-alun, dan dindingnya cukup tebal untuk menahan panah.
Tapi dindingnya tidak cukup tebal untuk menahan Dane dan Ilva.
“Aku bisa mendengar kalian,” kataku.
“Kami tahu, Kapten,” sahut Ilva riang dari balik pintu.
“Kalian sedang bertaruh.”
“Kami sedang mengelola risiko keuangan pribadi.”
“Tentang atasan kalian.”
“Tentang kebahagiaan atasan kami,” koreksi Dane. “Yang mana adalah bentuk kesetiaan.”
Aku membuka mata dan menatap langit-langit ruang jaga.
“Berapa taruhannya sekarang,” kataku, karena aku lemah.
Hening sejenak. Lalu suara kertas dibuka.
“Total pot delapan belas koin perak,” kata Ilva, dengan nada juru lelang. “Dane bertaruh Kapten akan menyatakan perasaan sebelum panen musim gugur. Aku bertaruh musim dingin. Bibi Marta bertaruh dua tahun lagi dan bilang kita semua terlalu optimis.”
“Bibi Marta ikut?”
“Bibi Marta yang buka bukunya, Kapten.”
Aku meletakkan wajahku di kedua tanganku.
“Ada yang bertaruh dia yang akan bilang duluan?”
“Tidak ada yang mau ambil taruhan itu,” kata Dane, dan ada nada kasihan di suaranya yang membuatku ingin menugaskannya membersihkan kandang kuda selama sebulan. “Kami sayang Tuan Ashford, tapi orang itu... Kapten, minggu lalu dia bertanya pada Ilva apakah kata ‘inspeksi’ punya makna teknis yang tidak dia pahami.”
“Dia bertanya apa?”
“Dia bilang,” Ilva berdeham, menirukan suara datar dan sopan yang meniru dengan akurasi menyakitkan, “‘Apakah frekuensi inspeksi mingguan ini normal untuk usaha kecil? Aku tidak ingin merepotkan Kapten kalian.’”
Aku menatap dinding.
“Dan kau jawab apa?”
“Aku bilang itu sangat normal, dan bahwa dia harus merasa terhormat karena mendapat perhatian sebesar itu dari garnisun.”
“Ilva.”
“Kapten, aku sedang mempertahankan investasi delapan belas koin.”
Malamnya aku berdiri di depan cermin.
Ini bagian yang tidak akan pernah kuceritakan pada siapa pun, dan aku menceritakannya di sini cuma karena tidak ada siapa-siapa di sini kecuali aku.
Aku berdiri di depan cermin, tanpa armor, dengan rambut tergerai karena baru dicuci, dan aku berkata:
“Ashford. Aku ingin membicarakan sesuatu yang bukan izin usaha.”
Cermin itu memantulkan seorang kapten garnisun berusia dua puluh lima tahun dengan bahu yang terlalu lebar untuk gaun apa pun dan tangan yang punya kapalan di tiga tempat.
Aku mencoba lagi.
“Ashford. Kamis ini aku datang bukan untuk inspeksi.”
Terlalu formal. Terdengar seperti aku akan menangkapnya.
“Noel. Aku—”
Aku berhenti.
Karena aku tidak pernah memanggilnya Noel. Tiga tahun, tidak sekali pun. Selalu ‘Ashford’, selalu ‘Tuan Ashford’ kalau ada orang lain, karena kalau aku memanggilnya dengan nama depannya maka aku harus mengakui kenapa aku ingin memanggilnya dengan nama depannya.
Suaraku terdengar aneh di kamar yang kosong.
Aku menarik napas.
“Noel,” kataku lagi, pelan. “Aku suka—”
Dan aku tidak bisa menyelesaikannya, tentu saja, karena tenggorokanku menutup seperti gerbang kota saat senja, dan wajahku panas, dan aku duduk di tepi ranjang sambil menutup wajah dengan kedua tangan seperti orang tolol berusia dua puluh lima tahun yang bisa mengangkat greatsword dua puluh kilo tapi tidak bisa menyelesaikan satu kalimat pendek di depan cermin.
Ini konyol.
Aku memerintahkan tiga puluh orang. Aku pernah berdiri di gerbang selatan menghadapi Noble Stray sendirian selama empat menit sampai bala bantuan datang. Aku pernah memberi tahu seorang ibu bahwa putranya tidak akan pulang.
Dan aku tidak bisa mengucapkan tiga kata pada seorang tukang reparasi yang menyeduh tehku dengan dua sendok gula tanpa pernah kuberi tahu takarannya.
Aku tidak pernah memberitahunya takarannya.
Aku baru menyadari itu sekarang, duduk di tepi ranjang, jam sepuluh malam Rabu.
Aku tidak pernah bilang. Tidak sekali pun. Aku minum teh di tokonya empat Kamis berturut-turut dan dia selalu menaruhnya di depanku sudah manis, dan aku selalu menganggap dia menaruh gula standar untuk semua orang.
Tapi Bibi Marta minum tehnya pahit. Aku pernah melihat Noel menyeduhkan untuknya. Tanpa gula sama sekali.
Aku mengangkat kepala.
Dia memperhatikan.
Dia memperhatikan cara aku menggenggam pedangku dari seberang jalan, dan dia memperhatikan berapa sendok gula yang kuaduk ke dalam cangkirku, dan dia memperhatikan bahwa aku datang tiap hari Kamis dan tidak pernah sekali pun bertanya kenapa—
Dan dia tetap menyeduh cangkir kedua.
Setiap minggu. Sambil berbohong bahwa itu kebetulan.
Sesuatu di dadaku melakukan hal yang sangat tidak profesional.
Aku berdiri terlalu cepat, membuat ranjang berdecit, dan berjalan ke kalender di dinding dengan pensil masih di tangan.
Besok hari Kamis.
Aku menggambar lingkaran kecil di kotaknya. Tipis, seperti biasa. Lalu—dan aku tidak bisa menjelaskan ini, dan aku menyalahkan jam sepuluh malam—aku menggambarnya sekali lagi di atas lingkaran yang sama, sedikit lebih tebal.
Lalu aku meletakkan pensilnya sebelum aku melakukan sesuatu yang lebih memalukan.
“Besok,” kataku pada kalender. “Besok aku akan bicara seperti manusia normal. Bukan tentang izin. Bukan tentang rusa.”
Kalender itu tidak menjawab.
Aku mematikan lampu, berbaring, dan menatap langit-langit.
Di luar jendela, jauh di bawah kota, tanah bergetar sekali—pelan, singkat, hampir tidak terasa. Gelas di meja kecilku bergemerincing dan diam lagi.
Aku setengah tertidur waktu itu terjadi, dan besoknya aku hampir lupa.
Aku seharusnya tidak lupa.
Tapi aku sedang memikirkan hal lain, dan hal lain itu punya rambut abu-abu gelap dan sarung tangan katun putih dan kebiasaan menuang cangkir kedua.
Jadi aku tertidur, dan aku bermimpi tentang hujan yang berhenti di satu tempat saja.
Besok paginya aku memakai armor lengkap, memeriksa jadwal patroli, memberi arahan pagi pada garnisun, dan berjalan menyusuri Jalan Lorne dengan punggung tegak dan dagu terangkat seperti seorang Knight-Captain Hollowbrook.
Aku mendorong pintu toko itu.
Loncengnya berbunyi.
“Selamat pagi,” kata Noel Ashford dari balik konter, sambil menuang air panas ke dalam teko. “Inspeksi apa hari ini?”
Dan aku, yang semalam berdiri di depan cermin dan berlatih, membuka mulutku dan berkata:
“Sanitasi saluran pembuangan.”
Aku ingin mati.
“Ah,” katanya, dengan wajah lurus sempurna. “Kebetulan sekali. Aku baru saja membersihkannya.”
“...Bagus. Bagus sekali. Itu—akan kucatat.”
Dia meletakkan cangkir di depanku. Dua sendok gula. Sudah diaduk.
Aku duduk di kursi rotan yang berdecit, memegang cangkir itu dengan dua tangan, dan memutuskan bahwa aku akan bicara seperti manusia normal minggu depan.