Chapter Twenty Five
Oleh-oleh
Gungnir: The First Arms
POV: Noel
Jumlah kata: 2.476
Aku tidur selama dua puluh enam jam.
Aku tahu angkanya karena Pip mencatatnya. Anak itu datang pukul tujuh pagi, menemukan pintu tidak terkunci, masuk, menemukanku tidur di ranjang lipat, dan memutuskan bahwa tugasnya sebagai asisten toko adalah duduk di kursi rotan dan menjaga.
Waktu aku bangun, dia sedang membuat daftar di balik salah satu suratku.
“Dua puluh enam jam,” katanya, tanpa basa-basi. “Aku pulang buat makan dua kali. Bibi Marta bilang aku boleh tetap di sini asal nggak berisik.”
“Pip.”
“Kak Noel ngorok.”
“Aku tidak—”
“Ngorok banget.”
Aku duduk di tepi ranjang dan menemukan bahwa seluruh tubuhku terasa seperti sesuatu yang dijemur lalu dilipat salah.
“Kak Noel,” katanya, dan nada suaranya berubah.
“Ya.”
Dia meletakkan daftarnya.
“Kak Noel pergi lagi nggak?”
Aku memandanginya.
Sepuluh tahun. Kaus kebesaran. Kaki yang tidak sampai lantai kalau duduk di kursi rotan itu.
“Aku tidak tahu,” kataku.
Karena aku tidak akan berbohong padanya, dan karena aku sudah memutuskan sesuatu di atas kuda pada hari kedua perjalanan pulang, dan keputusan itu bukan sesuatu yang bisa kujanjikan pada siapa pun.
Pip mengangguk pelan.
“Kalau Kak Noel pergi lagi,” katanya, “bilang dulu ya. Sama aku. Jangan cuma sama Kak Mira.”
Aku menatap lantai selama beberapa detik.
“Baik,” kataku. “Aku janji.”
Aku membuka toko keesokan harinya, dan kota masuk.
Bukan kiasan. Dalam waktu enam jam, empat puluh orang datang.
Bu Hensley membawa pisau dapurnya yang tidak rusak dan mengomel selama sebelas menit tentang harga garam. Pak Weller membawa papan nama tokoku, yang ternyata sudah dia perbaiki dan cat ulang selama seminggu terakhir, dan memasangnya kembali sambil menolak semua bayaran dengan kasar.
Garrik datang membawa tiga kantong arang dan tidak bertanya apa pun tentang Greymarch, yang mana adalah bentuk kebaikan paling tepat yang bisa dia berikan.
Dan sekitar pukul tiga, dua belas orang muncul sekaligus dengan Artifact yang jelas-jelas tidak rusak.
“Retak,” kata salah satunya, menunjuk sebuah cangkul yang mulus sempurna.
“Ini tidak retak.”
“Retak di dalam.”
“Pak Ollan—”
“Kau tukang reparasi atau bukan?”
Aku memeriksa cangkul itu selama sepuluh menit, mengelapnya dengan minyak, dan mengembalikannya.
“Sudah,” kataku.
“Berapa?”
“Gratis.”
“Aku tidak menerima gratis.” Dia meletakkan koin di konter dengan keras. “Selamat datang kembali, Tuan Ashford.”
Dan dia pergi.
Aku berdiri di belakang konterku dengan dua belas Artifact yang tidak rusak berbaris di rak tunggu, dan aku harus masuk ke ruang belakang selama beberapa menit.
Aku memberikan pitanya pada hari keempat.
Aku sudah membawanya selama seluruh perjalanan pulang. Di saku dalam mantelku, di sebelah kanan, terlipat dalam kertas minyak.
Aku membelinya di kota kecil bernama Tarrow, pada hari kedua, waktu aku berhenti mengganti kuda untuk ketiga kalinya.
Aku ingin mencatat betapa tidak masuk akalnya itu.
Aku belum tidur tiga puluh jam. Aku baru saja meninggalkan sebuah kota yang setengahnya hilang. Aku sedang menempuh delapan hari perjalanan dalam tiga setengah, dengan kuda yang aku tahu akan kubuat menderita, karena ada sesuatu di bawah kota tempat tinggalku yang sedang bangun.
Dan aku berhenti di depan sebuah lapak kain di jalan utama Tarrow selama empat menit.
Empat menit. Aku menghitungnya, karena aku menghitung segalanya, dan karena aku menghukum diriku sendiri dengan angka itu sepanjang sisa perjalanan.
Warnanya biru. Bukan biru terang—biru tua yang dalam, warna langit sekitar dua puluh menit setelah matahari turun.
Aku tidak tahu kenapa aku membelinya.
Aku memberikan itu sebagai jawaban waktu penjualnya bertanya untuk siapa, dan penjualnya menatapku dengan iba yang tidak bisa kupahami waktu itu.
Hari keempat, sore, pukul empat.
Dia datang untuk latihan—kami melanjutkannya, hari kedua setelah aku bangun, meski aku bilang aku belum pulih dan dia bilang itu justru bagus karena artinya dia punya peluang.
Kami berlatih selama empat puluh menit di halaman belakang. Pagar setinggi bahu. Tali jemuran. Dua pot tanaman mati yang masih belum kubereskan.
Ayunan turunnya sudah sempurna sekarang. Nol koma lima detik, konsisten, tanpa berpikir.
Dan lalu hujan datang pukul empat lewat empat puluh, dan kami masuk seperti biasa, dan aku menyeduh teh seperti biasa.
Dan aku berdiri di belakang konterku dengan tangan di saku mantel yang tergantung di paku dinding, dan aku menarik napas.
“Kapten.”
“Hm.”
“Aku membawa sesuatu.”
Dia mengangkat kepalanya dari cangkirnya.
Aku meletakkan bungkusan kertas minyak itu di konter.
“Dari Tarrow,” kataku. “Kota kecil di jalur timur. Aku berhenti di sana untuk mengganti kuda.”
Dia meletakkan cangkirnya dan membuka kertasnya.
Dan berhenti.
Pita itu terbentang di kertas minyak—sepanjang lengan bawah, satin biru tua, dengan tepi yang dijahit rapi.
Ruangan itu jadi sangat sunyi.
“Ashford.”
“Kau tidak harus memakainya,” kataku cepat. “Aku tahu kau mengikat rambutmu dengan tali kulit, dan itu lebih praktis untuk—untuk pekerjaan, dan ini mungkin—”
“Kenapa biru?”
Aku berhenti bicara.
Dia sedang menatap pita itu, bukan aku, dan aku bersyukur untuk itu.
“Aku tidak tahu,” kataku.
“Ashford.”
“Aku benar-benar tidak tahu,” kataku. “Aku berdiri di lapak itu selama empat menit. Ada dua belas warna. Aku sudah tiga puluh jam tidak tidur dan aku punya delapan hari perjalanan untuk ditempuh dalam tiga setengah hari, dan aku berdiri di sana selama empat menit menatap dua belas gulungan kain.”
Aku memandangi tanganku di konter.
“Aku memilih yang ini,” kataku, “karena warnanya mengingatkanku padamu, dan aku tidak bisa menjelaskan kenapa, dan aku sudah mencoba selama tiga hari di atas kuda.”
Hening.
Dan lalu, sangat pelan:
“Gaunnya biru.”
Aku mengangkat kepala.
“Apa?”
“Gaun festival,” katanya. Dia masih tidak menatapku. “Yang dibuat Bibi Marta. Warnanya biru.”
Aku membuka mulutku.
Dan menutupnya lagi.
Karena aku baru saja menyadari, dua bulan terlambat, bahwa aku menghabiskan empat menit di lapak kain di kota bernama Tarrow untuk memilih ulang warna yang sudah kulihat sekali di lapangan penuh lentera dan tidak pernah berhenti melihat sejak itu.
“Oh,” kataku.
Dan Kapten Mira Valen mengangkat wajahnya dan menatapku, dan wajahnya merah sampai ke telinga, dan dia tersenyum dengan cara yang membuatku harus berpegangan pada konter.
“Kau,” katanya, “adalah orang paling bodoh yang pernah kutemui.”
“Aku sudah dengar itu dari lima orang berbeda bulan ini.”
“Karena benar.”
“Karena benar,” kataku.
Dia mengambil pita itu dengan dua tangan.
Dan lalu, di tengah tokoku, dia melepas tali kulit dari rambutnya.
Aku memutuskan bahwa ketel di belakangku sangat menarik dan membutuhkan perhatian penuhku selama sekitar empat puluh detik.
“Ashford.”
“Ya.”
“Aku tidak bisa mengikatnya sendiri di belakang.”
Aku berbalik.
Dia berdiri di depan kursi rotan dengan pita biru di satu tangan dan rambut yang tergerai sampai ke tulang belikat, dan dia menatapku dengan ekspresi yang jelas-jelas menantang.
“Kau membuat pembungkus gagang dengan tiga cekungan,” katanya. “Kau bisa mengikat pita.”
Aku menyeberangi tokoku sendiri dengan kaki yang tidak sepenuhnya bekerja.
Dia berbalik membelakangiku dan mengangkat rambutnya, dan menyerahkan pita itu ke belakang tanpa menoleh.
Aku menerimanya.
Aku ingin mencatat, dengan jujur, bahwa aku tidak tahu apa yang kulakukan sama sekali.
Aku menyatukan rambut itu dengan satu tangan—dia sudah mengangkatnya, aku cuma perlu menahannya—dan melingkarkan pita biru itu dua kali, dan lalu berhenti karena aku tidak tahu simpul apa yang benar.
“Ashford, kau berhenti.”
“Aku sedang berpikir.”
“Kau sudah tiga puluh detik.”
“Aku tidak pernah mengikat pita rambut.”
“Kau mengikat jahitan kulit dengan simpul lilin ganda.”
“Itu berbeda.”
“Bagaimana bedanya?”
“Kulit tidak—” Aku berhenti.
Kulit tidak hangat.
Aku menyelesaikan simpulnya dengan simpul yang sama seperti yang kupakai untuk mengikat perban, karena itu satu-satunya yang bisa kupikirkan, dan aku menariknya cukup kencang untuk tahan dan tidak cukup kencang untuk sakit.
Dan lalu aku berdiri di sana dengan tangan yang tidak tahu harus ke mana.
Dia berbalik.
Kami berdiri sekitar tiga puluh sentimeter dari satu sama lain di tengah toko yang lampunya cuma satu.
“Bagaimana?” tanyanya.
Aku ingin menuliskan sesuatu yang cerdas. Aku ingin mencatat bahwa aku mengatakan sesuatu yang pantas.
Yang keluar dari mulutku adalah:
“Bagus.”
“Bagus.”
“Sangat bagus,” kataku, memperbaikinya, dan gagal.
Dia mulai tertawa.
Bukan tawa sopan. Tawa sungguhan, yang membuat dia harus menutup mulut dengan punggung tangan, dan aku berdiri di sana seperti orang tolol dan membiarkan seluruh hal itu terjadi padaku.
Dia memakainya keesokan harinya.
Dan hari berikutnya.
Dan hari berikutnya lagi.
Pada hari keempat, Ilva menghampiriku di pasar dengan wajah orang yang membawa berita perang.
“Tuan Ashford.”
“Ilva.”
“Aku ingin memberi tahu Anda sesuatu sebagai bentuk pelayanan publik,” katanya. “Kapten kami memakai pita biru selama empat hari berturut-turut.”
“Aku tahu.”
“Kapten kami tidak pernah memakai apa pun yang bukan tali kulit selama tujuh tahun.”
“Aku—”
“Dan pagi ini,” lanjut Ilva, “beliau memasangnya ulang tiga kali sebelum latihan karena simpulnya tidak sama seperti yang Anda buat.”
Aku berdiri di tengah pasar dengan sekantong gula di tangan.
“Ilva.”
“Ya, Tuan Ashford.”
“Kenapa kau memberitahuku ini?”
Ilva menatapku dengan ekspresi yang, aku sadari belakangan, adalah ekspresi seseorang yang sudah kehabisan kesabaran secara profesional.
“Karena taruhannya sudah tiga puluh satu koin perak,” katanya, “dan aku bertaruh musim dingin, dan musim dingin masih empat bulan lagi, dan sejujurnya Tuan, saya mulai khawatir tentang investasi saya.”
Dan dia pergi.
Malamnya, aku duduk di konterku dan tidak mengerjakan apa pun.
Payung di sudut ruangan bersandar di dinding.
Aku sudah tiga hari tidak berbicara padanya.
Bukan karena marah. Karena aku tahu apa yang akan kutanyakan, dan aku tahu jawabannya, dan selama aku belum bertanya, aku bisa berpura-pura belum tahu.
Aku menyerah pukul sebelas.
“Baik,” kataku. “Getarannya.”
Aku sudah melihat tabel di dinding pos jaga sore itu. Kolom terakhir masih bertuliskan timur dalam tulisan tangan yang rapi dan sedikit terlalu ditekan.
“Aku pergi ke Greymarch,” kataku. “Dan ia mengikuti. Bukan karena ia bisa merasakan sembilan ratus kilometer. Karena aku membukamu di sana, dan sesuatu tentang itu—”
Aku berhenti.
“Kapan ia berbalik lagi?” tanyaku. “Setelah aku pulang. Kapan arahnya kembali ke bawah?”
Dan yang naik ke tengkukku adalah sebuah angka, atau sesuatu yang berfungsi seperti angka.
Malam ketujuh. Malam aku membuka pintu dan menemukan seseorang berdiri di terasku dengan dua roti.
Aku menutup mataku.
“Ia mengikutiku ke Greymarch,” kataku pelan. “Dan waktu aku pulang, ia pulang juga.”
Diam.
“Ia tidak mencari kota ini,” kataku. “Ia mencari kau.”
Dan payung di sudut ruangan itu tidak menjawab, tapi juga tidak menyangkal, dan sesuatu di belakang tengkukku terasa seperti seseorang yang sudah lama tahu dan sedang menunggu orang lain menyusul.
Aku duduk di tokoku sampai lewat tengah malam.
Di jendela, aku bisa melihat pantulan lampu kerja, dan di sebelahnya, pantulan sudut ruangan tempat sesuatu yang lebih tua dari kata “perang” bersandar di dinding dengan sabar.
“Kalau aku mengubur kau lagi,” kataku, “apakah ia berhenti?”
Dan untuk pertama kalinya sejak aku memilikinya, aku merasakan sesuatu darinya yang tidak bisa kusebut apa pun selain takut.
Bukan takut padaku.
Takut untuk aku.