Chapter Three
Tikus Besi
Gungnir: The First Arms
POV: Noel
Jumlah kata: 2.407
Stray Arms pertama yang kulihat di Hollowbrook datang pada hari Sabtu, pukul sepuluh pagi, di tengah pasar.
Aku sedang membeli gula.
Itu detail yang tidak penting, tapi aku mengingatnya dengan sangat jelas—stoples gula di tokoku tinggal seperempat, dan aku sedang berdiri di depan lapak Bu Hensley menimbang apakah aku perlu membeli setengah kilo atau satu kilo penuh. Setengah kilo cukup untuk sebulan kalau aku minum teh sendirian.
Aku membeli satu kilo.
Aku belum sempat memikirkan kenapa ketika teriakan pertama terdengar dari sisi utara alun-alun.
Yang kulihat pertama bukan makhluknya, tapi gerakan orang-orang: gelombang, seperti air yang didorong batu. Keranjang jatuh. Seseorang menyeret anaknya. Seekor kuda meringkik dan menghantam gerobak.
Lalu aku melihatnya.
Sesuatu keluar dari saluran air di bawah trotoar—sesuatu seukuran anjing kecil, berlari dengan gerakan yang salah. Bukan salah seperti binatang sakit. Salah seperti benda yang meniru cara binatang berjalan tanpa pernah benar-benar melihat binatang.
Tubuhnya terbuat dari logam. Bukan logam yang ditempa jadi bentuk tikus—logam yang masih ingat bentuk aslinya. Aku bisa melihat pecahan mata pisau di rusuknya, potongan gagang di kaki depannya, sisa mata kail dan paku dan entah apa lagi, semuanya melebur dan menyatu dengan cara yang membuat perutku dingin.
Lalu keluar yang kedua. Ketiga. Kelima.
Belasan.
“STRAY ARMS! FORMASI DUA!”
Suara itu memotong seluruh kepanikan di alun-alun seperti pisau memotong tali.
Kapten Valen sudah ada di tengah lapangan sebelum aku sempat melihat dari mana dia datang. Jubahnya berkibar. Greatsword-nya sudah turun dari punggungnya dan berada di kedua tangannya, ujungnya menyentuh batu jalan.
“Dane, sayap kiri! Ilva, bawa warga ke gereja! JANGAN lewat gang sempit—mereka keluar dari saluran air, gang sempit itu jalur mereka!”
“Siap, Kapten!”
Aku berdiri di depan lapak gula dengan sekantong satu kilo di tangan kiriku.
Dan aku tidak bergerak.
Ini bagian yang harus kujelaskan, meski aku tidak yakin bisa menjelaskannya dengan baik.
Aku bisa mengakhiri semuanya dalam waktu kurang dari dua detik.
Bukan sombong. Itu cuma fakta, sedatar fakta bahwa air itu basah. Belasan Common Stray di ruang terbuka, tanpa perlindungan, tanpa koordinasi—itu bahkan bukan hitungan. Itu cuma jumlah.
Tapi begitu aku melakukannya, akan ada tiga ratus orang di alun-alun ini yang melihatnya. Dan besok akan ada surat. Dan minggu depan akan ada orang dari ibu kota. Dan sebulan lagi, toko kecil di ujung Jalan Lorne akan jadi tempat yang tidak bisa lagi kutinggali dengan tenang.
Aku sudah melalui itu sekali. Aku tidak berminat mengulanginya.
Jadi aku berdiri diam, dan menonton Kapten Mira Valen bekerja.
Dia bagus.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena orang cenderung meremehkan hal-hal yang tidak berkilau, dan Ferrum adalah pedang paling tidak berkilau yang pernah kulihat.
Tiga Ironrat melompat bersamaan dari arah tiga penjuru berbeda. Kapten Valen tidak mundur. Dia melangkah masuk, ke titik di mana ketiga lintasan lompatan itu paling sempit, dan mengayunkan Ferrum satu kali—bukan tebasan lebar yang keren, tapi ayunan pendek dan brutal setinggi pinggang yang menghantam dua sekaligus dan melempar keduanya ke dinding air mancur.
Yang ketiga lolos dan menerjang lehernya.
Dia memutar pergelangan, membiarkan bilah lebar Ferrum menahannya, lalu menghentakkan bahu. Makhluk itu terpental, jatuh, bangkit lagi.
“Mereka tidak mati!” teriak seseorang.
“Aku tahu!” Kapten Valen sudah bergerak lagi. “Common Stray tidak punya inti tunggal! Pukul sampai bentuknya tidak bisa dipertahankan—Dane, ke kiri, ada yang naik ke atap lapak!”
Aku memperhatikan tangannya.
Genggamannya terlalu dekat ke pelindung tangan. Persis seperti yang kuduga hari Kamis. Setiap kali ayunan turun, kulit gagang itu bergeser di bawah telapaknya sekitar dua milimeter—cukup untuk membuat pegangannya kehilangan sepersekian detik ketika basah, cukup untuk membuat perbedaan pada hari yang salah.
Aku juga memperhatikan hal lain.
Ferrum menghantam batu air mancur untuk ketiga kalinya. Batu itu retak.
Bilahnya tidak.
Tidak ada gompal. Tidak ada bengkok. Common rank, baja pasaran, ditempa oleh entah siapa di entah mana, menghantam granit tiga kali dalam satu menit dan keluar tanpa satu goresan pun.
Aku memindahkan kantong gula ke tangan kanan.
Itu tidak wajar, pikirku.
Dan sesuatu di belakang tengkukku—sesuatu yang tidur di sudut tokoku, tiga blok dari sini—mengangkat kepalanya sedikit, seperti tersenyum.
Mereka menang, sebenarnya.
Sembilan Ironrat hancur dalam empat menit. Kapten Valen menghitung sisanya dengan lantang sambil bertarung, dan angkanya turun dari empat ke tiga ke dua.
Masalahnya, yang terakhir tidak menuju ke arahnya.
Aku melihatnya sebelum siapa pun.
Satu Ironrat memutar dari sisi kanan, melewati garis knight, dan berlari lurus ke arah lapak kain di sudut barat—tempat seorang anak laki-laki berdiri membeku dengan kain lap dapur di tangannya, terlalu takut untuk lari, terlalu kecil untuk ada di sana sama sekali.
Pip Harlan.
Bodoh sekali. Anak itu pasti sedang menemani Bibi Marta belanja, lalu terpisah, lalu melakukan hal yang dilakukan semua anak sepuluh tahun ketika panik: berhenti bergerak.
Kapten Valen menoleh. Aku melihat matanya menghitung jarak, dan aku melihat kesimpulannya sampai di wajahnya sepersekian detik sebelum kakinya bergerak: terlalu jauh.
Dia lari tetap.
Dan aku—
Aku sudah bergerak.
Aku tidak ingat memutuskannya. Kantong gula itu masih di tanganku, sebenarnya; aku menyadarinya belakangan waktu menemukan tumpahan putih di sepatuku.
Ada satu gerakan yang sangat sederhana. Payungku terlipat di tangan kiriku—aku selalu membawanya, tentu saja, orang di kota ini sudah lama berhenti menganggapnya aneh. Aku memutar tubuh, menggeser berat ke kaki depan, dan mendorong ujung payung itu lurus ke depan sepanjang permukaan jalan. Bukan tusukan. Lebih seperti orang yang menyapu dengan sapu.
Ujung payung itu menyentuh batu jalan tepat di bawah kaki depan Ironrat terakhir, di celah sempit antara dua ubin, pada sudut yang tidak akan disadari siapa pun.
Batu ubin itu terangkat satu inci.
Makhluk itu tersandung.
Cuma itu. Sungguh, cuma itu—satu ubin terangkat satu inci pada waktu yang tepat, dan Ironrat yang berlari dengan kecepatan penuh kehilangan kaki depannya, berguling tiga kali, dan meluncur berhenti tepat di samping sepatu Pip tanpa menyentuhnya.
Kapten Valen tiba setengah detik kemudian dan menghancurkannya dengan satu hentakan bilah ke bawah.
Alun-alun hening.
Lalu meledak—suara orang bersorak, orang menangis, orang memanggil nama anaknya.
Aku sudah berdiri kembali di depan lapak gula, memindahkan kantong ke tangan kiri, memperbaiki posisi payung di lekukan sikuku.
Tidak ada yang melihat.
Kecuali—
Kapten Valen menoleh.
Bukan ke Pip. Bukan ke bangkai Stray. Dia menoleh ke belakang, ke arah ubin jalan yang terangkat satu inci, dan alisnya bertaut.
Lalu pandangannya naik. Menyapu kerumunan. Melewati lapak buah, melewati air mancur, melewati Bu Hensley yang sedang menjerit histeris tentang timbangannya—
—dan berhenti di aku.
Aku tersenyum sopan dan mengangkat kantong gulaku sedikit, seperti orang yang baru selesai berbelanja dan tidak paham kenapa semua orang begitu ribut.
Dia menatapku selama tiga detik penuh.
Lalu Ilva memanggilnya dari arah gereja, dan dia berpaling, dan aku bisa bernapas lagi.
Pip datang ke tokoku sore itu, membawa Bibi Marta, sup kacang, dan mata sembab.
“Aku diam saja,” katanya. Suaranya parau. “Aku cuma... berdiri. Aku bahkan tidak mengeluarkan Artifact-ku.”
“Bagus,” kataku.
Dia mengangkat wajah, kaget. “Bagus?”
“Kalau kau mengeluarkan sendok itu dan mencoba melawan Ironrat,” kataku, “kau akan mati, dan aku harus menghadiri pemakaman, dan aku benci pemakaman karena harus memakai baju yang kaku.” Aku menyodorkan cangkir kecil padanya. “Berdiri diam bukan gagal, Pip. Berdiri diam adalah kau hidup cukup lama untuk seseorang bisa sampai tepat waktu.”
“Aku mau jadi orang yang sampai tepat waktu itu.”
“Tentu saja kau mau. Semua orang mau.” Aku duduk di seberangnya. “Tapi kau sepuluh tahun. Tugasmu tahun ini cuma satu: tumbuh besar.”
Bibi Marta menepuk kepala Pip dengan tangannya yang berbau daun bawang, lalu menatapku dengan tatapan yang lebih tajam dari yang pantas dimiliki pemilik penginapan berusia enam puluh tahun.
“Kau bicara seperti orang yang pernah sampai terlambat, Noel.”
Aku menuang teh.
“Aku bicara seperti orang yang jual jasa reparasi,” kataku. “Sup-nya masih hangat, Bibi?”
Dia mendengus, tapi membiarkannya.
Mereka pulang menjelang senja.
Aku mencuci cangkir, mengelap konter, dan mengambil ketel untuk menyeduh teh terakhir hari itu.
Tungkunya sudah mati.
Aku berdiri di sana beberapa saat, memandangi arang yang dingin, memikirkan bahwa aku harus menyalakannya lagi, dan bahwa itu butuh sepuluh menit, dan bahwa aku lelah.
Lalu aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sejak pindah ke kota ini.
Aku mengambil payungku.
Aku memegangnya mendatar di kedua tangan—satu di gagang, satu di ujung—dan aku menekan ibu jariku ke titik di pangkal kanopi, tempat delapan jari-jari bertemu.
“Cuma sebentar,” kataku. “Jangan berlebihan.”
Payung itu berubah.
Tidak ada cahaya. Tidak ada suara dramatis. Kainnya melipat ke dalam dengan gerakan yang mustahil untuk kain mana pun, jari-jarinya menarik diri, gagangnya memendek dan melengkung—dan dalam waktu kurang dari dua detik, yang kupegang bukan lagi payung.
Yang kupegang adalah teko.
Teko besi kecil, gagang melengkung, corong pendek, badan bulat, dengan delapan garis tipis membelah permukaannya seperti bekas jahitan.
[ Teapot Mode ]
Aku menuang air dingin ke dalamnya. Dalam empat detik, uap naik dari corongnya.
“Terima kasih,” kataku pada benda yang pernah membelah sebuah menara.
Aku menyeduh tehku. Rasanya bagus—sedikit lebih bagus dari biasanya, entah kenapa, dan aku memilih untuk tidak memikirkan implikasi teologis dari kenyataan bahwa senjata pertama di dunia ternyata jago memanaskan air.
Aku menuang cangkir pertama.
Lalu, tanpa berpikir, aku menuang cangkir kedua dan meletakkannya di sisi lain konter, menghadap kursi rotan yang kosong.
Aku menatapnya.
Hari ini bukan Kamis.
Aku duduk di kursiku, memegang cangkirku dengan dua tangan, dan memandangi cangkir satunya sampai uapnya habis.
Di luar, hujan turun tepat pukul empat, dan berhenti tepat pukul lima, dan aku masih duduk di sana ketika lampu-lampu jalan menyala.
Di sudut ruangan—kembali jadi payung, kembali bersandar di dinding, kembali diam—sesuatu yang sangat tua memperhatikanku dengan sabar sekali.