← Chapters Ch. 31 / 40

Chapter Thirty One

Getaran yang Berbeda

Gungnir: The First Arms

POV: Noel

Jumlah kata: 2.596


Aku menepati janjiku keesokan paginya.

Kami bertiga duduk di kantor Wali Kota Hobbes pukul tujuh: aku, Mira, dan orang tua kecil berkacamata bulat yang sudah dua puluh tahun tidak mengatakan yang sebenarnya pada siapa pun.

Aku menceritakan semuanya.

Kalimat terakhir [ Ashen Crown ]. Kalimat Regalia Greymarch tentang “Yang Pertama”. Fakta bahwa Fenrir—aku belum tahu namanya waktu itu—mengikutiku sembilan ratus kilometer ke timur lalu pulang bersamaku.

Dan daftar di buku catatanku. Enam baris. Rare, Rare, Noble, Regalia, Regalia, Regalia.

“Ia sedang menguji,” kataku. “Setiap kali yang dikirim gagal, ia belajar.”

Mira duduk sangat diam.

Wali Kota Hobbes melepas kacamatanya dan membersihkannya selama waktu yang sangat lama.

Lalu dia berdiri, berjalan ke lemari arsip di sudut ruangan, dan membuka laci paling bawah dengan kunci yang dia ambil dari dalam sepatunya.

“Aku sudah dua puluh tahun berharap tidak perlu membuka ini,” katanya.


Yang dia keluarkan adalah sebuah kotak kayu.

Di dalamnya bukan dokumen kota. Kertasnya jauh lebih tua—vellum, sebagian sudah menghitam di tepinya, ditulis dalam aksara yang butuh waktu untuk kubaca.

“Ini diberikan pada wali kota pertama Hollowbrook,” katanya. “Tiga ratus dua tahun lalu. Bersama kunci pintu besi itu.”

Dia meletakkan lembar pertama di meja.

“Kota ini tidak dibangun di sini karena tambang,” katanya. “Tambangnya ditemukan belakangan dan itu kebetulan yang sangat berguna untuk menjelaskan kenapa ada tiga ribu orang tinggal di lereng gunung tanpa alasan.”

“Lalu kenapa?”

Hobbes menunjuk baris ketiga di vellum itu.

“Untuk memberi makan,” katanya.

Aku merasakan sesuatu dingin.

“Memberi makan apa?”

“Bukan makanan.” Dia menggeser kertasnya. “Baca.”

Aku membacanya.

Butuh tiga menit, karena aksaranya tua dan sebagian sudah hilang, dan karena aku harus membacanya dua kali untuk percaya.

Yang Kedua tidur di kedalaman. Ia tidak boleh dibangunkan dan ia tidak boleh dibiarkan sendirian, karena keduanya membunuhnya dengan cara yang berbeda.

Maka bawalah senjata yang mati ke bawah. Baringkan mereka di rak. Jangan tinggalkan mereka di permukaan untuk membusuk, dan jangan bakar mereka.

Ia tidak lapar akan besi. Ia lapar akan ditemani.

Selama ada yang dibaringkan di sebelahnya, ia akan tidur.

Aku meletakkan kertas itu.

“Tiga ratus tahun,” kataku. “Kota ini menguburkan Artifact di bawah sana selama tiga ratus tahun.”

“Tiga belas tingkat,” kata Hobbes. “Puluhan ribu. Dari seluruh jalur pegunungan—kota-kota lain mengirimkannya kemari. Mereka tidak tahu kenapa; mereka cuma tahu itu adatnya.”

“Dan itu berhasil?”

“Selama tiga ratus tahun, ya.”

Mira berbicara untuk pertama kalinya.

“Lalu apa yang berubah?”

Wali Kota Hobbes menatapku.

Dan aku menyadari, dengan dingin yang perlahan, bahwa aku sudah tahu jawabannya sejak sekitar lima menit lalu.

“Aku,” kataku.


“Tiga tahun lalu,” kata Hobbes, “sesuatu di bawah sana jadi lebih tenang. Aku sudah bilang padamu. Tidur lebih nyenyak.”

“Iya.”

“Aku selalu berpikir itu hal yang baik.”

Aku memandangi vellum di meja.

Ia tidak lapar akan besi. Ia lapar akan ditemani.

“Bukan lebih tenang,” kataku. “Lebih dekat.”

Mira menoleh. “Apa maksudmu?”

“Selama tiga ratus tahun kota ini memberinya senjata mati,” kataku. “Benda-benda yang tidak bergerak, tidak bicara, tidak melakukan apa pun kecuali berbaring di sebelahnya. Itu bukan teman. Itu selimut.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Lalu tiga tahun lalu, sesuatu yang hidup pindah ke atas kepalanya,” kataku. “Sesuatu yang seusia dengannya. Yang lahir dari tangan yang sama.”

Ruangan itu jadi sangat sunyi.

“Ia tidak tidur lebih nyenyak,” kataku. “Ia berhenti gelisah karena akhirnya ada seseorang di rumah.”

Aku menatap tanganku.

“Dan empat bulan lalu aku mulai memakai payungku lagi,” kataku, “dan ia menyadari bahwa kakaknya ada di sini, hidup, di permukaan—dan tidak turun.”


Hobbes memberi kami lembar terakhir.

Dua baris. Ditulis dengan tangan yang berbeda dari sisanya—lebih terburu-buru, lebih dalam menekan.

Kami memberinya nama karena ia meminta nama.

Ia menyebut dirinya Fenrir.

Aku memandangi dua baris itu untuk waktu yang lama.

“Ia meminta nama,” kataku.

“Iya.”

“Pada siapa?”

Wali Kota Hobbes memasang kacamatanya kembali.

“Pada wali kota pertama,” katanya. “Yang turun ke tingkat empat belas tiga ratus tahun lalu dan kembali dengan rambut putih dan menulis dua baris ini, dan lalu memerintahkan pintu besi itu dibangun.”


Mereka datang malam itu.

Aku ingin mencatat bahwa aku tidak menyalahkan mereka sepenuhnya, meski aku ingin sekali.

Sembilan orang. Bukan penduduk kota. Mereka masuk lewat lereng utara pukul sepuluh malam, dengan tali, linggis, dan tiga lentera yang ditutup kain hitam supaya cahayanya tidak terlihat dari kota.

Penjaga malam menemukan mereka pukul sebelas.

Bunyi loncengnya tiga kali.


Aku sampai ke pintu besi itu dua puluh menit kemudian, di belakang Mira dan dua belas knight.

Pintunya sudah terbuka.

Bukan dibongkar—dibuka. Dengan kunci.

“Bagaimana,” kata Mira.

“Salinan,” kataku, sambil memeriksa lubang kuncinya. “Dibuat dari cetakan lilin. Lihat goresan di sini—kunci baru, logamnya masih tajam.”

“Siapa yang punya akses ke kunci itu?”

Aku menoleh padanya.

Dan aku melihat wajahnya berubah.

“Hobbes,” katanya.

“Bukan Hobbes.” Aku berdiri. “Hobbes menyimpannya di sepatunya. Kau melihatnya sendiri pagi ini.”

“Lalu siapa?”

“Seseorang yang pernah cukup dekat dengannya untuk mengambil cetakan,” kataku. “Dan itu bukan urusan kita malam ini.”

Kami turun.


Dua ratus empat puluh anak tangga.

Aku menghitungnya lagi, seperti tiga bulan lalu, dan angkanya sama, dan udaranya masih kering dan masih tidak berbau apa pun.

Tapi ada yang berbeda.

Payung di tanganku terasa berat sejak anak tangga kedua puluh.

Pada anak tangga keseratus, aku harus memegangnya dengan dua tangan.

Pada anak tangga kedua ratus, Mira menoleh padaku dan berkata, “Kau pucat sekali.”

“Ia bangun.”

“Payungmu?”

“Bukan payungku,” kataku.


Kami menemukan mereka di tingkat tiga.

Sembilan orang, dengan tali dan linggis, di depan sebuah lubang di lantai batu yang bukan bagian dari struktur gua.

Mereka sedang menggali ke bawah.

“BERHENTI DI TEMPAT!” teriak Mira. “GARNISUN HOLLOWBROOK!”

Delapan dari sembilan orang itu berhenti dan mengangkat tangan dengan kecepatan orang yang tidak pernah berniat melawan siapa pun.

Yang kesembilan tidak.

Dia berdiri di tepi lubang—laki-laki, sekitar lima puluhan, mantel bagus, tangan yang jelas belum pernah bekerja—dan menoleh pada kami dengan wajah yang bukan wajah orang tertangkap.

Wajah orang yang terganggu.

“Kapten,” katanya. “Kalian terlalu cepat.”

“Berbalik. Tangan di kepala.”

“Aku hampir sampai.”

“Kau menggali di makam yang dilindungi hukum kota selama tiga ratus tahun—”

“Aku menggali menuju God Artifact,” katanya.

Ruangan gua itu jadi sangat sunyi.

Aku melangkah maju.

“Siapa yang memberitahumu itu,” kataku.

Dia menoleh padaku. Matanya turun ke payung di tanganku, dan wajahnya berubah, dan aku melihat pengenalan di sana.

“Ah,” katanya. “Rainmaker.”

“Siapa yang memberitahumu.”

“Semua orang di ibu kota tahu ada sembilan God Artifact,” katanya. “Tiga di antaranya hilang. Dan tiga ratus tahun catatan pengiriman Artifact ke satu kota tambang yang tidak punya tambang lagi—itu bukan rahasia, itu cuma tidak pernah dibaca siapa pun.”

Dia menunjuk lubang di kakinya.

“Aku sudah tiga tahun membaca,” katanya. “Dan aku menemukan dua baris di arsip perdagangan tahun tiga puluh dua yang menyebut nama.”

“Jangan,” kataku.

Dan dia mengucapkannya.

Fenrir.


Gua itu bergetar.

Bukan getaran yang biasa. Ini datang sebagai satu hentakan tunggal, seperti sesuatu yang sangat besar membuka matanya, dan lantai batu di bawah kakiku naik dan turun sekitar dua sentimeter.

Rak-rak batu di sepanjang dinding retak.

Enam ribu senjata di tingkat tiga berdenting sekaligus.

Dan dari lubang di lantai—dari kedalaman yang tidak berujung di bawahnya—naik sebuah suara.

Bukan geraman. Bukan raungan.

Sebuah helaan napas.

Panjang, dalam, dan sangat lelah, seperti seseorang yang baru saja mendengar namanya dipanggil setelah tiga ratus tahun dan tidak yakin apakah dia ingin menjawab.

Delapan orang di sekeliling lubang itu mulai berteriak.

Yang kesembilan tidak berteriak.

Dia jatuh berlutut di tepi lubang, dan wajahnya berubah jadi sesuatu yang bukan ketakutan, dan dia berkata dengan suara pecah:

“Ia menjawab. Ia benar-benar—”

Dan tepi lubang itu runtuh.


Aku melempar payungku untuk kedua kalinya dalam hidupku.

Dalam wujud terbuka. Melintasi enam meter gua. Dan ia berhenti di udara di atas lubang yang runtuh, dan lelaki berusia lima puluhan yang sudah tiga tahun membaca arsip itu jatuh setengah meter dan berhenti di atas sehelai kain hitam seperti orang yang jatuh ke jaring.

Aku menariknya keluar dengan Fangs.

Dia berbaring di lantai batu tingkat tiga, gemetar, dan menatapku.

“Kenapa,” katanya.

“Karena aku memperbaiki barang rusak,” kataku, “dan kau termasuk.”


Kami menyeret mereka semua ke atas.

Dua ratus empat puluh anak tangga, dengan sembilan tahanan dan dua belas knight dan seorang kapten yang tidak mengatakan satu kata pun sepanjang jalan.

Di luar, di lereng utara, di bawah bintang, Mira memerintahkan pintu besi itu ditutup dan dirantai.

Lalu dia berjalan ke tepi lereng dan berdiri di sana membelakangi kami semua selama sekitar dua menit.

Aku menghampirinya.

“Mira.”

“Segelnya retak,” katanya. “Aku merasakannya waktu kita naik. Lantai tingkat tiga sudah tidak rata.”

“Iya.”

“Berapa lama?”

Aku berdiri di sebelahnya di lereng utara Hollowbrook, dan aku memandangi kota di bawah—tiga ribu orang, lampu-lampu yang menyala di jendela, menara jam di alun-alun, dan di suatu tempat di ujung Jalan Lorne, sebuah toko dengan papan nama yang baru dicat ulang.

“Ia sudah bangun sejak empat bulan lalu,” kataku. “Malam ini ia cuma mendengar namanya.”

“Noel.”

“Ia sedang naik,” kataku. “Ia sudah naik sejak malam kita menghadapi Ashen Crown, mungkin lebih awal. Yang berubah malam ini bukan bahwa ia bangun.”

Aku menoleh padanya.

“Yang berubah adalah ia sekarang tahu bahwa orang di atas mengenal namanya,” kataku.


Aku pulang pukul tiga pagi.

Aku tidak menyalakan lampu.

Aku duduk di konterku dalam gelap dengan payung di pangkuanku, dan aku merasakan getaran di bawah lantai kayu—tidak berhenti sekarang, tidak berselang, cuma denyut rendah yang terus-menerus seperti sesuatu yang sedang memanjat.

“Aku mau bertanya,” kataku pada kegelapan.

Diam.

“Tiga ratus tahun lalu ia meminta nama,” kataku. “Pada manusia. Ia turun ke sana, ke tingkat empat belas, dan ia bertemu sesuatu yang sudah dikubur sejak sebelum ada kata untuk perang, dan yang diminta benda itu bukan darah, bukan kebebasan.”

Aku menutup mataku.

“Ia meminta nama,” kataku. “Itu yang diminta seseorang yang sudah sangat lama sendirian.”

Payung di pangkuanku diam.

“Kau tahu namanya,” kataku. “Kau sudah tahu sejak awal. Kau mengenalnya sebelum ada manusia yang memberinya nama.”

Dan yang naik ke tengkukku, akhirnya, adalah sesuatu yang belum pernah kurasakan dari benda ini dalam lima tahun.

Sebuah gambar.

Api. Sangat tua, sangat kecil—bukan tungku, bukan tempa. Api unggun.

Dan dua benda diletakkan di sebelahnya, berdampingan, di atas tanah.

Salah satunya adalah tongkat lurus dengan ujung yang runcing.

Yang lain lebih kecil, lebih baru, masih panas.

Dan perasaan yang menyertai gambar itu—yang menghantamku begitu keras sampai aku harus meletakkan payung itu di konter dan menopang kepalaku dengan kedua tangan—bukan permusuhan.

Bukan takut.

Adikku.

Aku duduk di tokoku yang gelap sampai fajar.