← Chapters Ch. 27 / 40

Chapter Twenty Seven

Pedang yang Disayangi

Gungnir: The First Arms

POV: Mira

Jumlah kata: 2.617


Aku tidak tidur malam itu.

Bukan karena [ Ashen Crown ]. Bukan karena rumah keluarga Ollan yang runtuh, atau karena laporan yang harus kutulis, atau karena tiga knight-ku yang harus dijahit Bibi Marta sampai pukul dua pagi.

Karena sebuah kalimat.

Jangan buat hujan berhenti untuk hal seperti ini.

Aku mengulanginya di kepalaku sekitar empat ratus kali antara pukul sebelas malam dan fajar, dan setiap kali aku mengulanginya, aku menemukan lapisan lain di bawahnya.

Karena kalimat itu bukan tentang aku yang ceroboh.

Kalimat itu berarti: aku membuka payung ini untukmu.

Dan kalau kau membalik kalimat itu—kalau kau memikirkannya cukup lama di ranjangmu pukul tiga pagi dengan jantung yang tidak mau tenang—artinya menjadi sesuatu yang jauh lebih besar:

Aku tidak membukanya untuk kota. Aku tidak membukanya untuk dunia.

Aku membukanya untuk satu orang.

Aku bangun pukul lima dengan keputusan yang sudah bulat sejak sekitar pukul empat.

Hari ini.

Aku akan mengatakannya hari ini.


Aku pergi ke bengkel Garrik pukul tujuh.

Bukan untuk sesuatu yang penting. Sandang Ferrum robek di jahitan bawah waktu aku memanjat puing kemarin, dan Garrik satu-satunya yang punya benang kulit yang cukup tebal.

Dia sedang menempa waktu aku masuk. Dia berhenti, mengelap tangannya, dan mengambil sandang itu tanpa bertanya.

“Setengah jam,” katanya.

Aku duduk di bangku di sudut bengkelnya.

Dan di sinilah, kalau kau ingin tahu, seluruh hidupku berubah karena seorang smith berusia empat puluh enam tahun yang tidak bisa menjaga mulutnya.


“Kau sudah lihat pedangmu?” tanya Garrik, sambil menusuk jarum kulit lewat sandang.

“Setiap hari.”

“Bukan itu maksudku.” Dia tidak mengangkat kepala. “Kau sudah lihat bilahnya? Sungguh lihat?”

“Noel memolesnya bulan lalu.”

“Aku tahu. Aku yang menjual minyaknya padanya.” Garrik menarik benang. “Kau tahu kenapa dia memolesnya?”

“Karena oksidasinya tebal.”

“Karena oksidasi setebal itu butuh dua puluh tahun terbentuk,” kata Garrik, “dan pedangmu umurnya sepuluh.”

Aku mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Garrik berhenti menjahit.

Dan aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat di wajah orang itu selama sepuluh tahun aku mengenalnya: dia menyadari bahwa dia baru saja mengatakan sesuatu yang salah.

“Bukan apa-apa.”

“Garrik.”

“Aku bicara terlalu banyak. Aku selalu—”

“Garrik.” Aku berdiri. “Apa maksudmu, oksidasi dua puluh tahun.”

Dia meletakkan jarumnya.

Dia menggosok wajahnya dengan tangan yang hitam oleh arang, dan menghela napas panjang sekali, dan berkata:

“Kapten. Aku smith. Aku sudah tiga puluh tahun jadi smith dan aku bisa membaca sepotong baja seperti kau membaca laporan.”

“Dan?”

“Dan pedangmu tidak masuk akal.”

Bengkel itu jadi sangat panas.

“Aku memeriksanya delapan tahun lalu,” katanya. “Waktu ayahmu meninggal dan kau mulai patroli sendirian. Kau membawanya kemari karena bilahnya sompel di dua tempat, ingat?”

“Aku ingat.”

“Common rank, baja pasaran, kualitas menengah.” Dia mengangkat bahu. “Aku perbaiki sompelnya dan aku bilang padamu untuk hati-hati karena benda itu akan patah dalam tiga tahun kalau kau terus memakainya begitu.”

“Kau memang bilang begitu.”

“Delapan tahun, Kapten.” Dia menatapku. “Delapan tahun dan aku belum pernah memperbaikinya lagi.”

Aku berdiri di tengah bengkel Garrik dan merasakan lantainya bergerak sedikit.

“Aku hati-hati—”

“Kau menghantamkannya ke pilar air mancur tiga kali dalam satu menit,” kata Garrik. “Aku ada di sana. Seluruh kota ada di sana. Batunya retak dan bilahmu tidak.”

“Itu—”

“Common rank, Kapten.” Suaranya naik. “Aku pernah melihat Noble rank sompel karena menghantam granit. Aku pernah melihat Rare rank patah karena menahan kapak. Dan pedangmu menghantam batu air mancur tiga kali dan aku memeriksanya minggu berikutnya karena aku tidak bisa tidur, dan tidak ada satu goresan pun.”

Aku tidak bisa bicara.

“Aku tanya Noel,” kata Garrik.

Sesuatu di dalam dadaku berhenti.

“Kapan?”

“Enam bulan lalu.”

“Apa katanya?”

Garrik mengalihkan pandangan.

“Garrik.”

“Dia bilang,” kata Garrik pelan, “‘Jangan tanya, dan tolong jangan bilang padanya.’


Aku berjalan ke tokonya dan aku tidak ingat satu pun langkahnya.

Aku ingat pintu. Aku ingat lonceng berbunyi—nada pertama, terlalu keras, karena aku mendorongnya terlalu kencang.

Dan aku ingat dia berdiri di belakang konter dengan sarung tangan katun putih di tangan, memegang sebuah gunting jahit milik entah siapa, dan mengangkat kepala.

Dan wajahnya berubah waktu melihat wajahku.

“Kapten—”

“Ferrum,” kataku.

Dia meletakkan guntingnya.

Sangat pelan. Dengan cara yang membuatku tahu—sebelum satu kata pun keluar dari mulutnya—bahwa Garrik benar.

“Duduk,” katanya.

“Aku tidak mau duduk.”

“Mira—”

Ferrum,” kataku lagi, dan suaraku pecah di tengahnya, dan aku benci itu. “Berapa lama.”

Dia melepas sarung tangannya.

Satu per satu. Melipatnya. Meletakkannya di konter.

“Tiga tahun,” katanya.

“Tiga—”

“Sejak sekitar dua bulan setelah aku pindah kemari.” Dia tidak menatapku. “Aku bertanya padanya suatu malam apakah dia mau menjaga sesuatu yang bukan milikku. Dia menjawab dengan menoleh ke arah barak. Aku menganggap itu persetujuan.”

“Dia siapa?”

Noel Ashford mengangkat kepalanya dan melihat ke sudut ruangan.

Ke arah payung hitam yang bersandar di dinding, yang kanopinya masih robek delapan tempat dari kemarin.

Aku menoleh ke sana.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku benar-benar melihat benda itu.

“Payungmu,” kataku.

“Iya.”

“Payungmu menjaga pedangku.”

“Iya.”

“Selama tiga tahun.”

“Iya.”

“Dari seberang kota.”

“Iya,” katanya.

Aku berdiri di tengah tokonya dengan tangan yang gemetar.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”

Dan dia berkata—dengan wajah orang yang tahu persis betapa buruknya jawabannya:

“Karena kalau aku memberitahumu, kau akan bertanya kenapa.”


Aku duduk di kursi rotan.

Bukan karena aku memutuskan duduk. Kakiku berhenti bekerja dan kursi itu kebetulan ada di belakangku.

“Aku tidak mengerti,” kataku.

“Mira—”

“Tidak, aku sungguh tidak mengerti.” Aku menatap tanganku di pangkuanku. “Tiga tahun lalu kau tidak mengenalku. Aku datang ke tokomu tiga kali untuk memeriksa berkas izin usaha, dan aku galak, dan aku curiga padamu, dan aku menulis di laporan bahwa Artifact-mu tidak terdaftar dan itu ‘perlu ditindaklanjuti’.”

“Aku tahu. Aku membaca laporannya.”

“Kau membaca—”

“Wali Kota Hobbes menunjukkannya padaku setelah kau pergi,” katanya. “Dia pikir itu lucu.”

“Dan setelah itu kau memutuskan untuk—” Aku melambaikan tangan ke udara. “Untuk menyuruh senjata terkuat di dunia menjaga pedang Common rank milik knight yang mencurigaimu?”

“Iya.”

Kenapa?

Noel Ashford berdiri di belakang konternya.

Dan lalu dia mengatakan sesuatu yang meruntuhkan seluruh sisa pertahananku dalam waktu kurang dari lima detik.

“Karena tiga minggu setelah aku pindah kemari,” katanya, “ada Common Swarm kecil di gerbang selatan. Kau menanganinya dengan enam knight. Aku menonton dari ujung jalan.”

“Aku ingat.”

“Kau berdiri di depan mereka,” katanya. “Bukan di belakang, bukan di samping. Di depan. Dan kau memegang greatsword yang bahkan tidak layak untuk pekerjaan itu, dan aku berdiri di ujung jalan dan aku menghitung—karena aku menghitung segalanya—dan aku sampai pada kesimpulan bahwa kau akan mati sebelum umur tiga puluh.”

Ruangan itu sangat sunyi.

“Dan aku baru saja pindah ke kota ini untuk berhenti,” katanya. “Aku sudah bersumpah tidak akan mengangkat benda itu lagi. Aku sudah menghitung bahwa itu adalah satu-satunya cara supaya tidak ada yang terluka karena aku.”

Dia menatap sudut ruangan.

“Jadi aku mencari cara untuk membantu tanpa melanggar sumpahku,” katanya. “Dan aku menemukan satu, dan itu curang, dan aku melakukannya selama tiga tahun tanpa memberitahumu.”

Aku menatapnya.

“Kau menjaga pedangku,” kataku, “selama tiga tahun.”

“Iya.”

“Sebelum kau mengenalku.”

“Aku mengenalmu,” katanya. “Kau cuma tidak mengenalku.”


Aku menangis.

Aku akan menuliskannya karena aku sudah berjanji jujur dan karena berpura-pura tidak akan lebih memalukan.

Aku menangis di kursi rotan di toko reparasi Artifact di ujung Jalan Lorne, dengan kedua tangan di wajah, seperti anak-anak.

Aku tidak menangis di pemakaman ayahku. Aku tidak menangis waktu bilah masuk di bawah tulang selangkaku. Aku tidak menangis waktu aku pikir aku akan mati di bawah Bellmaw.

Dan aku menangis di kursi rotan karena seseorang diam-diam merawat pedangku selama tiga tahun tanpa pernah menyebutnya sekali pun.

Aku merasakan dia berlutut di depan kursi itu.

Tidak menyentuhku. Cuma berlutut, dalam jarak yang cukup dekat sehingga aku bisa merasakannya di sana.

“Mira—”

“Diam.”

“Baik.”

Aku menurunkan tanganku.

Wajahku basah dan panas dan aku tahu persis seperti apa penampilanku dan aku memutuskan bahwa aku tidak peduli.

“Tiga tahun,” kataku. “Tiga tahun aku duduk di kursi ini setiap hari Kamis dan mengarang alasan tentang izin usaha dan rusa dan sanitasi saluran pembuangan, dan aku berdiri di depan cermin di kamarku setiap malam Rabu dan berlatih mengucapkan satu kalimat, dan aku gagal seratus dua puluh empat kali—”

“Seratus dua puluh empat?”

“Aku menghitung segalanya, Ashford, itu penyakitku—”

“Mira—”

“Dan selama seratus dua puluh empat hari Kamis itu,” kataku, “kau menghitung takaran gulaku, dan mengukur tanganku dari cara aku memegang cangkir, dan membuat pembungkus gagang yang kau simpan di laci selama dua bulan karena kau pengecut, dan diam-diam menyuruh senjata terkuat di dunia menjaga pedangku dari seberang kota—”

“Aku bisa menjelaskan bagian pengecutnya—”

Aku suka kamu.

Toko itu jadi sangat, sangat sunyi.

Aku duduk di kursi rotan dengan wajah yang basah dan tangan yang gemetar, dan aku menatap orang yang berlutut di depanku, dan aku sudah terlalu jauh untuk berhenti.

“Aku suka kamu,” kataku lagi. “Sudah lama sekali. Sudah tiga tahun, mungkin lebih, aku tidak tahu kapan mulainya karena aku tidak mencatatnya waktu itu.”

Dia tidak bergerak.

“Aku sudah lima kali mencoba mengatakan ini,” kataku. “Malam badai. Waktu latihan pedang. Sebelum kau berangkat ke Greymarch. Dua kali lagi yang bahkan tidak sampai ke kalimat pertama. Dan setiap kali ada sesuatu—lampu padam, atau Pip, atau kau bilang sesuatu yang membuatku lupa cara bernapas.”

Aku menyeka wajahku dengan lengan seragamku, yang mana adalah hal yang paling tidak anggun yang pernah dilakukan seseorang saat menyatakan perasaan.

“Aku sudah tiga tahun mengarang alasan inspeksi,” kataku, “cuma untuk bisa duduk di kursi ini satu jam seminggu.”

“Mira—”

“Dan kamu diam-diam merawat pedangku selama itu,” kataku, dan suaraku pecah lagi, “dasar tukang payung bodoh.”


Dia tidak mengatakan apa pun.

Selama tiga detik penuh dia tidak mengatakan apa pun, dan tiga detik itu adalah tiga detik terpanjang dalam dua puluh lima tahun hidupku.

Lalu dia berdiri.

Dan berjalan ke sudut ruangan.

Aku duduk di kursi rotan dengan wajah basah, menonton orang itu berjalan menjauh dariku, dan aku merasakan sesuatu di dadaku mulai hancur—

Dan dia mengambil payungnya.

Dia berbalik. Berjalan kembali. Berhenti di depan kursi rotan.

Dan mengulurkan tangan kirinya.

“Berdiri,” katanya.

“Apa?”

“Berdiri, Mira.”

Aku berdiri.

“Ikut aku.”

“Ke mana?”

Dia sudah berjalan ke pintu.

“Keluar,” katanya.

“Ashford, di luar hujan.”

Dan Noel Ashford berhenti di depan pintu tokonya dengan payung hitam di tangan, dan menoleh, dan tersenyum dengan cara yang belum pernah kulihat dalam tiga tahun.

“Aku tahu,” katanya.