← Chapters Ch. 19 / 40

Chapter Nineteen

Semalam di Toko

Gungnir: The First Arms

POV: Noel

Jumlah kata: 2.554


Badai datang sembilan hari setelah lereng utara.

Bukan hujan pukul empat sampai pukul lima. Ini badai sungguhan—yang naik dari selatan sepanjang sore, menghitamkan langit sejak pukul tiga, dan pecah pukul tujuh malam dengan angin yang membuat papan nama tokoku terbanting-banting sampai aku harus melepasnya.

Kapten Valen datang pukul setengah delapan.

Basah kuyup. Rambutnya lepas seluruhnya dari ikatan. Mantelnya menempel di badan dan meneteskan air ke lantai kayuku dalam genangan yang langsung menyebar.

“Jembatan selatan,” katanya, sambil menutup pintu dengan bahu karena angin melawannya. “Airnya naik dua meter. Aku baru dari sana.”

“Semua orang aman?”

“Semua orang aman. Dua kandang kambing hilang.” Dia menyeka wajahnya dengan lengan yang sama basahnya. “Aku mau pulang lewat Jalan Lorne dan pohon di depan pos jaga tumbang. Menutup seluruh jalan.”

“Jalan Pasar?”

“Kebanjiran.”

“Lewat gereja?”

“Aku sudah mencoba. Airnya setinggi lutut dan arusnya kuat.” Dia mengangkat bahu. “Aku bisa menerobos. Tapi Bibi Marta akan membunuhku kalau aku sakit, dan sejujurnya aku lebih takut Bibi Marta daripada arus.”

Aku sudah bergerak ke belakang untuk mengambil handuk.

“Menginap di sini,” kataku.

Aku ingin mencatat betapa cepatnya kalimat itu keluar dari mulutku, dan betapa aku tidak memikirkannya sama sekali sebelum mengucapkannya, dan betapa kami berdua langsung menyadari itu.

Hening.

“Maksudku—” Aku berbalik dengan handuk di tangan. “Ada ruang belakang. Ada ranjang lipat. Aku pakai kalau musim dingin karena tokonya lebih hangat dari kamar atas.”

“Ashford—”

“Kau bisa tidur di ranjang lipat. Aku di kursi. Aku sering tidur di kursi, punggungku sudah rusak dari dulu.”

“Aku bisa—”

“Kapten,” kataku. “Di luar ada angin yang menumbangkan pohon berdiameter setengah meter.”

Dia berdiri di ambang tokoku, meneteskan air, dan aku bisa melihat seluruh argumen berjalan di wajahnya dan kalah.

“...Baik,” katanya.

Aku menyerahkan handuk.

“Ada kemeja kering di laci ketiga,” kataku. “Yang kau pinjam waktu itu tidak pernah kembali, jadi aku sudah menganggapnya milikmu, tapi ada yang lain.”

Sesuatu yang aneh terjadi di wajahnya.

“Kau menyimpan kemeja untukku.”

“Aku menyimpan kemeja,” kataku. “Untuk siapa saja.”

“Siapa saja siapa?”

“Ruang belakang ada di sana, Kapten.”

Dia pergi ke ruang belakang. Aku berdiri di tengah tokoku dengan handuk basah di tangan dan berbicara sangat serius pada diriku sendiri selama sekitar empat puluh detik.


Badai itu memakan lampu jalan pukul delapan.

Seluruh Jalan Lorne gelap. Yang tersisa cuma perapian tokoku dan satu lampu minyak di konter, dan cahayanya berhenti sekitar dua meter dari dinding sehingga seluruh ruangan terasa jauh lebih kecil dari biasanya.

Kami duduk di lantai.

Bukan keputusan sadar. Aku menyeret dua bantal ke depan perapian karena kursi rotan terlalu jauh dari api, dan dia duduk di salah satunya, dan itu saja.

Dia memakai kemejaku yang kebesaran di bahu dengan cara yang membuatku harus berkonsentrasi sangat keras pada api.

Rambutnya tergerai dan masih setengah basah.

Kami menghabiskan dua pot teh.

Yang pertama sambil membicarakan hal-hal biasa: kambing yang hilang, pohon yang tumbang, apakah Pak Weller akan menaikkan harga karena permintaan perbaikan atap akan meledak besok.

Yang kedua tidak.


“Aku belum tidur nyenyak sejak lereng utara,” katanya.

Aku menoleh.

Dia sedang menatap api, dengan lutut ditarik ke dada dan cangkir di kedua tangannya.

“Namanya,” katanya. “Dua ratus enam belas. Aku menghafalnya.”

“Semuanya?”

“Aku menyalin dari catatanmu ke buku catatanku sendiri. Tiga kali.” Dia meniup uapnya. “Aku bilang pada diriku sendiri itu untuk arsip garnisun. Itu bohong. Aku menyalinnya karena aku takut kalau aku berhenti menghitung, tidak akan ada lagi yang ingat.”

Angin menghantam jendela.

“Itu kalimatnya,” kataku.

“Iya,” katanya. “Itu kalimatnya.”

Api berderak.

“Ashford, aku mau menanyakan sesuatu dan aku mau kau menjawabnya dengan jujur.”

“Baik.”

“Apakah aku akan jadi seperti itu?”

Aku meletakkan cangkirku.

“Apa maksudmu?”

“Ia menunggu perintah selama seratus enam puluh tahun,” katanya. “Ia tidak bisa berhenti karena tidak ada yang datang membatalkan perintahnya. Dan aku duduk di sana malam itu, mendengarnya bicara, dan yang kupikirkan bukan ‘kasihan sekali’.” Dia menatap api. “Yang kupikirkan adalah: aku mengerti.

“Kapten—”

“Aku dua puluh lima tahun,” katanya. “Aku jadi knight umur delapan belas karena ayahku knight. Aku jadi kapten umur dua puluh dua karena kaptennya mati dan aku yang paling senior yang tersisa, bukan karena aku yang terbaik—aku peringkat dua puluh tiga dari dua puluh enam, Ashford, semua orang di kota ini tahu itu.”

Dia mengencangkan genggamannya di cangkir.

“Dan aku tidak pernah memutuskan apa pun,” katanya. “Aku cuma... melanjutkan. Perintah terakhir yang kuterima diberikan oleh orang yang sudah delapan tahun mati, dan tidak ada satu pun orang yang berhak membatalkannya.”

Hujan menghantam atap.

“Kau tahu apa yang kupikirkan waktu Bellmaw menjatuhkanku ke pilar?” katanya.

“Tidak.”

“Aku berpikir: oh. Sekarang. Baiklah.” Dia mengangkat bahu. “Tidak ada penyesalan. Tidak ada daftar hal yang belum kulakukan. Cuma... baiklah. Seperti seseorang yang akhirnya sampai di akhir daftar tugasnya.”

Aku duduk di lantai tokoku sendiri dan merasakan sesuatu yang sangat dingin.

“Itu yang paling membuatku takut,” katanya. “Bukan mati. Bahwa aku tidak keberatan.”


Aku tidak menjawab selama waktu yang lama.

Bukan karena aku tidak punya jawaban. Karena aku punya, dan karena jawabannya mengharuskan aku memberikan sesuatu terlebih dahulu.

“Aku akan menceritakan sesuatu,” kataku akhirnya. “Bukan yang lima tahun lalu—itu masih belum bisa. Sesuatu yang lain.”

Dia menoleh.

“Kau tahu kota asalku sudah tidak ada.”

“Badai. Delapan ratus orang.”

“Aku tujuh tahun,” kataku. “Aku selamat karena ayahku memasukkanku ke lemari kayu di ruang bawah tanah dan menahan pintunya.”

Api berderak.

“Air masuk sampai setinggi dadaku di dalam lemari itu,” kataku. “Dan berhenti. Dan aku duduk di dalam air itu selama—aku tidak tahu. Mungkin enam jam. Aku ingat menghitung sampai seribu berkali-kali karena tidak ada hal lain untuk dilakukan.”

“Ashford—”

“Waktu mereka membukanya,” kataku, “ayahku masih memegang gagang pintunya.”

Kapten Valen tidak mengatakan apa pun.

“Aku menghabiskan dua puluh tahun berikutnya mencoba mencari tahu apa artinya,” kataku. “Dan selama lima belas tahun aku salah. Aku pikir artinya: aku harus jadi orang yang menahan pintu.”

Aku menatap api.

“Lalu aku mendapatkan sesuatu yang membuatku bisa menahan pintu apa pun di dunia,” kataku. “Dan aku menemukan bahwa itu bukan hadiah. Itu jebakan. Karena begitu kau bisa menahan semua pintu, kau tidak pernah punya alasan untuk berdiri di sisi yang mana pun.”

“Aku tidak mengerti.”

Aku menoleh padanya.

“Ayahku tidak menahan pintu itu untuk menyelamatkan delapan ratus orang,” kataku. “Dia tidak bisa. Dia menahannya untuk satu orang, dan dia tahu persis siapa, dan itu sebabnya dia sanggup memegangnya selama enam jam.”

Aku mengangkat cangkirku dan menemukan bahwa isinya sudah habis.

“Aku menghabiskan lima tahun terakhir menahan pintu untuk tidak ada siapa-siapa,” kataku. “Dan kau menghabiskan delapan tahun terakhir menjalankan perintah dari orang yang sudah mati. Kita berdua sedang melakukan hal yang sama, Kapten. Kita cuma memakai kata yang berbeda untuknya.”

Ruangan itu sangat sunyi kecuali badai.

“Jadi apa jawabannya,” katanya pelan.

“Aku tidak tahu jawabannya,” kataku. “Aku baru sampai di bagian di mana aku tahu pertanyaannya.”

“Apa pertanyaannya?”

Aku menatap api.

“Untuk siapa,” kataku.


Dia tidak berbicara selama beberapa menit.

Lalu, tanpa menoleh:

“Ashford.”

“Ya.”

“Waktu kau berdiri di alun-alun malam Wyrmfang,” katanya. “Kau berdiri di titik itu dan tidak pindah sebelas kali.”

“Iya.”

“Kenapa titik itu?”

Aku tidak menjawab.

“Aku sudah memetakannya,” katanya. “Aku menggambar ulang alun-alunnya. Ada tempat yang lebih baik—dekat air mancur, ada pilar batu yang bisa memecah momentum. Kau lebih pintar dari itu. Kau menghitung segalanya, aku sudah melihatnya. Kenapa titik itu?”

Api berderak.

“Karena kau ada di titik itu,” kataku.

Aku merasakan dia berbalik.

“Sepuluh menit sebelumnya,” kataku, tanpa menoleh. “Kau berdiri di jalur benda itu untuk membeli tiga detik bagi sebelas orang. Aku sampai tepat waktu untuk berdiri di sebelahmu, dan setelah itu aku tidak pindah lagi dari sana, dan aku tidak bisa memberimu alasan taktis apa pun.”

Aku mengangkat cangkir kosongku dan meletakkannya lagi karena tanganku butuh melakukan sesuatu.

“Untuk siapa,” kataku. “Itu pertanyaannya. Aku sudah tahu jawabanku sejak malam itu.”

Hening.

Aku tidak menoleh. Aku tidak sanggup.

“Ashford,” katanya, dan suaranya sangat aneh.

“Kapten.”

“Kalau kau tidak menoleh sekarang,” katanya, “aku akan mengatakan sesuatu yang sudah kulatih di depan cermin selama tiga tahun dan berhasil kuucapkan nol kali.”

Aku menoleh.

Dan itu kesalahan, karena dia sedang menatapku, dan jaraknya jauh lebih dekat dari yang kuperkirakan—kapan itu terjadi? kapan bantal-bantal ini bergeser?—dan api dari perapian membuat separuh wajahnya oranye dan separuhnya gelap, dan rambutnya masih setengah basah, dan dia memakai kemejaku.

“Aku—” katanya.

Dan lalu badai memadamkan lampu minyak di konter dengan hembusan yang masuk lewat celah jendela.

Ruangan itu jadi gelap kecuali perapian.

Dan momen itu—apa pun itu, apa pun yang akan terjadi—pecah seperti gelas.

“...Sialan,” katanya, sangat pelan.

Dan aku tertawa. Aku tidak bermaksud. Itu keluar begitu saja, dan lalu dia tertawa juga, dan kami berdua duduk di lantai toko yang gelap tertawa seperti dua orang tolol sementara badai merobek atap kota.


Dia tertidur sekitar pukul dua.

Kami masih di lantai. Kami sudah berhenti bicara sekitar setengah jam sebelumnya, dan aku pikir kami berdua cuma menatap api, dan lalu bebannya bergeser di bahu kananku.

Aku membeku.

Kepalanya bersandar di bahuku. Bukan berat—dia menoleh dalam tidurnya dan berhenti di sana, dengan dahi di sisi lenganku dan rambut yang sudah kering menyapu tulang selangkaku.

Aku menghitung sampai seratus tanpa bergerak.

Lalu aku menghitung sampai seratus lagi.

Aku bisa memindahkannya. Ranjang lipat ada tiga meter dari sini. Aku bisa mengangkatnya—aku sudah melakukannya sekali—dan dia akan tidur jauh lebih nyaman, dan lehernya tidak akan sakit besok pagi.

Aku memikirkan itu selama sekitar empat puluh menit.

Dan aku tidak bergerak.

Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena ini bukan momen mulia dan aku tidak akan berpura-pura sebaliknya. Aku duduk di lantai tokoku sendiri sampai fajar dengan bahu yang mati rasa dan punggung yang berteriak dan lengan kanan yang tidak bisa kurasakan sejak pukul empat, dan aku tidak memindahkannya karena aku egois.

Api mengecil jadi bara.

Badai mereda sekitar pukul lima.

Dan sekitar pukul setengah enam, waktu langit mulai kelabu di balik jendela, aku menyadari sesuatu yang membuatku menahan napas.

Payung di sudut ruangan.

Aku bisa merasakannya—seperti biasa, seperti selalu. Tapi malam itu perhatiannya tidak mengarah ke bawah, ke Graveyard, ke sesuatu yang sangat tua yang berbalik dalam tidurnya.

Perhatiannya ada di sini. Di ruangan ini.

Diam. Sabar. Menunggu.

Seperti orang tua yang duduk di sudut kamar menonton anaknya tidur, dan tidak berniat pergi ke mana-mana.

“Jangan bilang siapa-siapa,” bisikku.

Dan aku bersumpah—aku tidak bisa membuktikan ini dan aku tidak akan pernah menceritakannya pada siapa pun—bahwa sesuatu di sudut ruangan itu terasa persis seperti seseorang yang menahan tawa.


Dia bangun pukul enam lewat sepuluh.

Aku tahu persis kapan, karena aku sudah bangun selama empat jam.

Dia terbangun pelan-pelan, bergerak sedikit, dan lalu membeku—dan aku merasakan seluruh tubuhnya menjadi sangat, sangat kaku waktu dia menyadari di mana kepalanya berada.

Lalu, sangat perlahan, dia mengangkatnya.

“...Berapa lama,” katanya. Suaranya serak.

“Aku tidak menghitung,” aku berbohong.

“Ashford.”

“Sekitar empat jam.”

“Kenapa kau tidak membangunkanku.”

“Kau tidak tidur nyenyak sejak lereng utara,” kataku. “Kau bilang begitu sendiri.”

Dia menatapku.

Rambutnya berantakan di satu sisi. Ada bekas lipatan kemeja di pipinya. Matanya masih setengah tidur.

“Lenganmu,” katanya.

“Kenapa lenganku?”

“Kau tidak bisa menggerakkannya.”

“Aku bisa menggerakkannya.”

“Gerakkan.”

Aku mencoba menggerakkan lengan kananku.

Ia bergerak sekitar dua sentimeter dan berhenti, dan aku mengeluarkan bunyi yang sangat tidak bermartabat.

Dan Kapten Mira Valen—Knight-Captain Hollowbrook, yang berdiri di depan Noble Stray dan berlutut di hadapan Regalia Stray—menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mengeluarkan suara yang tidak pernah kudengar sebelumnya.

“Kau bodoh,” katanya dari balik telapak tangannya. “Kau benar-benar bodoh.”

“Aku sudah dengar itu tiga kali bulan ini.”

“Karena benar!”

Dia menarik tangannya dari wajahnya, dan wajahnya merah sampai ke telinga, dan dia sedang tersenyum dengan cara yang belum pernah kulihat sekali pun dalam tiga tahun.

“Duduk diam,” katanya, berpindah ke belakangku. “Aku akan memijat bahumu, dan kau tidak akan mengatakan apa pun tentang itu, dan kita berdua tidak akan pernah membicarakan malam ini lagi.”

“Kapten—”

“Diam, Ashford.”

Aku diam.

Dan di luar jendela, langit di atas Hollowbrook berubah dari kelabu jadi merah muda, dan badainya sudah lewat sepenuhnya, dan untuk pertama kalinya sejak lima tahun aku tidak memikirkan apa pun yang ada di bawah kota ini sama sekali.