← Chapters Ch. 15 / 40

Chapter Fifteen

Surat-surat dari Ibu Kota

Gungnir: The First Arms

POV: Noel

Jumlah kata: 2.428


Surat pertama datang sebelas hari setelah malam Wyrmfang.

Kurir pos membawanya bersama tumpukan surat kota lainnya, dan Wali Kota Hobbes membawanya sendiri ke tokoku sore itu dengan wajah orang yang membawa serangga mati di sapu tangan.

“Ini datang ke kantorku,” katanya. “Alamatnya ‘Kepada yang bersangkutan di Hollowbrook’.”

Aku membaca amplopnya. Segel lilin merah dengan lambang tiga bilah bersilang.

“Duelist Court, cabang selatan,” kataku.

“Aku tidak membukanya.”

“Kau ingin membukanya.”

“Sangat,” kata Hobbes. “Aku bahkan sudah memanaskan pisau surat. Lalu aku memikirkan bahwa aku dua puluh tahun jadi wali kota dengan cara tidak mengetahui hal-hal, dan aku menaruhnya kembali.”

Aku membukanya.

Isinya empat paragraf, ditulis dengan tangan yang sangat rapi.

Paragraf pertama menyampaikan bahwa Court telah menerima laporan tidak resmi mengenai insiden di Hollowbrook. Paragraf kedua menyatakan bahwa Court tidak memiliki yurisdiksi atas urusan kota tambang di jalur pegunungan. Paragraf ketiga menyatakan bahwa Court tetap tertarik untuk membuka kembali komunikasi dengan pihak-pihak tertentu.

Paragraf keempat cuma satu kalimat.

Pintu di sini tidak pernah dikunci untukmu.

Tanpa tanda tangan.

Aku melipatnya kembali.

“Kabar buruk?” tanya Hobbes.

“Undangan.”

“Kau akan pergi?”

Aku melihat ke sekeliling tokoku—rak alat, konter kayu, kursi rotan yang berdecit, kaleng minyak yang disusun ulang oleh anak sepuluh tahun menurut sistem yang tidak bisa kupahami.

“Pot bungaku bocor,” kataku.

Hobbes mengerjap. “Apa?”

“Yang di jendela belakang. Airnya rembes ke kayu.” Aku menyelipkan surat itu ke bawah lengan. “Kertas tebal bagus untuk melapisi dasar pot.”

Wali Kota Hobbes menatapku selama tiga detik penuh.

Lalu dia tertawa—suara pendek, kering, dan sangat lega—dan menepuk konterku sekali sebelum pergi.


Surat kedua datang delapan hari kemudian.

Surat ketiga, enam hari setelahnya.

Yang keempat dan kelima datang di hari yang sama, dan yang kelima ini dari perusahaan swasta di ibu kota yang menawarkan “kemitraan strategis dalam pemulihan Artifact bernilai tinggi” dengan angka di paragraf terakhir yang cukup untuk membeli seluruh Jalan Lorne.

Aku punya empat pot bunga.

“Kak Noel.”

“Hm.”

Pip sedang berjongkok di depan jendela belakang, memeriksa pot-pot itu dengan wajah serius.

“Kenapa surat-surat ini dipakai buat alas pot?”

“Karena kertasnya tebal.”

“Tapi ini kertas bagus. Ada segelnya.” Dia mengangkat satu pot dan mengintip ke bawahnya. “Yang ini malah ada pita emasnya.”

“Itu dari perusahaan yang sangat kaya.”

“Terus kenapa dipakai buat alas pot?”

Aku meletakkan obengku.

“Pip,” kataku. “Kalau ada orang menawarkan sesuatu padamu, dan orang itu tidak pernah datang ke tokomu, tidak pernah tahu namamu, dan tidak pernah membawa apa pun yang rusak—apa yang sebenarnya dia inginkan?”

Pip berpikir. Dia selalu benar-benar berpikir; itu salah satu hal terbaik tentang dia.

“Barangnya,” katanya akhirnya.

“Iya.”

“Bukan Kak Noel-nya.”

“Iya.”

Pip meletakkan pot itu kembali dan mengangguk sekali, sangat puas, seperti orang yang baru menutup buku besar.

“Kalau gitu bagus dipakai alas pot,” katanya.


Pemburu tua itu datang di akhir bulan.

Namanya Ordway—Pak Tua Ordway, orang yang sama yang bersumpah melihat malaikat di alun-alun dan juga di festival panen tahun lalu. Umurnya tujuh puluh dua. Dia tinggal di pondok di tepi hutan pinus dan turun ke kota tiga kali setahun untuk menjual kulit.

Dia meletakkan sesuatu yang dibungkus kain minyak di konterku.

“Sudah tidak bisa ditarik,” katanya.

Aku membuka bungkusnya.

Busur.

Kayu yew tua, digosok sampai warnanya seperti madu gelap, dengan lekukan yang sudah mengikuti bentuk tangan yang memegangnya selama lima puluh tahun. Talinya kendur, tergantung di satu ujung.

[ Longview ]. Noble rank.

Aku hampir menjatuhkannya.

“Pak Ordway,” kataku. “Ini Noble rank.”

“Iya.”

“Kau punya Noble rank.”

“Sudah lama,” katanya, sambil menggaruk jenggot putihnya. “Kenapa? Ada yang salah?”

Aku memandangi orang tua yang sepatunya diikat dengan tali rami dan mantelnya sudah ditambal di enam tempat.

“Tidak,” kataku. “Tidak ada yang salah.”

Aku memakai sarung tanganku.

[ Longview ] terasa aneh di tanganku. Bukan rusak—sama sekali tidak rusak. Aku memeriksanya tiga kali karena aku tidak percaya pada pemeriksaan pertama dan kedua.

“Kayunya sehat,” kataku. “Talinya tinggal diganti. Tapi itu bukan masalahnya, ya?”

“Bukan.”

“Kau tidak bisa menariknya.”

Pak Ordway mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di konter.

Tangan tujuh puluh dua tahun. Buku jarinya bengkak, jari manis kanannya bengkok permanen ke dalam, dan waktu dia mencoba mengepal, dua jarinya tidak sampai.

“Tarikannya delapan puluh pon,” katanya. “Sudah delapan puluh pon sejak aku dua puluh tahun. Musim dingin lalu aku cuma sanggup enam puluh.”

“Dan sekarang?”

“Empat puluh. Di hari yang bagus.”

Aku meletakkan busur itu di beludru.

Ada beberapa cara untuk menangani ini. Salah satunya adalah mengurangi tarikan—melemahkan busurnya supaya cocok dengan tangan yang melemah. Itu bisa. Itu mudah, bahkan.

Dan itu akan membunuhnya lebih cepat daripada usia tuanya.

“Kau masih berburu?” tanyaku.

“Tidak banyak. Rusa kecil. Kelinci.” Dia mengangkat bahu. “Aku tidak butuh dagingnya. Aku cuma...”

Dia tidak menyelesaikannya.

“Kau cuma ingin bangun pagi dan punya alasan untuk masuk hutan,” kataku.

Pak Ordway menatapku dari balik alis putihnya yang lebat.

“Kau bukan orang muda yang biasa,” katanya.

“Aku dengar itu belakangan ini.”


Aku mengerjakan [ Longview ] selama enam hari, dan aku tidak melemahkan tarikannya sama sekali.

Yang kulakukan adalah ini: aku mengubah geometrinya.

Aku memasang kembali cam kecil di kedua ujung limb—benda sederhana, mekanis, jenis yang dipakai di busur berburu modern di ibu kota. Bukan sihir. Bukan Artifact. Cuma tuas dan roda.

Efeknya: tarikan puncaknya tetap delapan puluh pon di tengah, tapi di titik tarik penuh, beban yang ditahan tangan turun jadi tiga puluh dua.

Artinya orang tua dengan dua jari yang tidak bisa mengepal bisa menahan busur delapan puluh pon selama yang dia mau, sambil membidik, sambil menunggu.

Malam keempat, waktu aku sedang memasang cam kedua, sesuatu terjadi.

Payungku bersandar di dinding di belakangku seperti biasa.

Dan aku merasakannya bangun.

Bukan seperti biasanya—bukan sekadar menoleh. Ini lebih dalam. Semacam benda yang mengangkat kepalanya dari tidur karena mendengar nada yang dia kenal dari sangat, sangat lama.

Aku berhenti bekerja.

“Apa,” kataku.

Busur itu.

Bukan kata. Tidak pernah kata. Tapi ada gambar yang naik ke tengkukku dan bentuknya sangat jelas: sebuah busur, tapi bukan [ Longview ]. Busur lain. Lebih tua. Jauh lebih tua—sesuatu dari waktu ketika orang belum tahu cara membuat tali dari usus, ketika yang ada cuma kayu yang dilengkungkan dan urat yang dikeringkan.

Dan di belakang gambar itu, ada perasaan yang tidak bisa kuterjemahkan dengan baik.

Yang paling dekat mungkin: aku pernah jadi itu.

Aku menoleh ke payung di dinding.

“Berapa banyak,” kataku pelan.

Diam.

“Berapa banyak bentuk yang kau ingat?”

Dan yang datang bukan angka. Yang datang adalah semacam luasan—perasaan berdiri di tepi sesuatu yang terlalu besar untuk dilihat ujungnya, seperti berdiri di pantai dan bertanya berapa banyak air.

Aku duduk kembali di bangkuku dengan cam setengah terpasang di tangan.

Selama tiga tahun aku memakai empat bentuk. Payung. Tombak. Katana di gagang. Delapan Fangs.

Dan aku tidak pernah, tidak sekali pun, bertanya apakah ada yang lain.

Aku menyelesaikan [ Longview ] menjelang fajar, dan sepanjang sisa malam itu payung di sudut ruangan tidak tidur lagi.


Pak Ordway datang mengambilnya hari Minggu.

Aku membawanya ke halaman belakang—lima langkah kali delapan langkah, tali jemuran, dua pot mati, pagar setinggi dada yang masih belum kutinggikan—dan memasang sasaran jerami di ujung selatan.

“Coba,” kataku.

Dia mengangkat busur itu dengan tangan yang bengkok.

Menarik.

Aku melihat wajahnya berubah pada tarikan sepertiga—saat cam mulai berputar dan beban di jarinya mendadak jatuh ke separuhnya.

Dia menahan tarikan penuh selama enam detik.

Enam detik. Orang tua tujuh puluh dua tahun, memegang delapan puluh pon di titik penuh, tangannya diam seperti batu.

Anak panahnya masuk ke tengah sasaran.

Pak Ordway menurunkan busur itu sangat pelan.

Lalu dia berdiri di halaman belakangku dan tidak mengatakan apa pun selama waktu yang cukup lama, dan aku memutuskan untuk tiba-tiba sangat sibuk memeriksa tali jemuran.

“Berapa,” katanya akhirnya. Suaranya parau.

“Tiga kulit kelinci.”

“Ini pekerjaan enam hari.”

“Tiga kulit kelinci,” kataku, “dan kau ceritakan padaku bagaimana rasanya hutan di sisi utara waktu subuh. Aku belum pernah ke sana.”

Pak Ordway menatapku.

Lalu dia mulai bercerita, dan dia bercerita selama satu jam empat puluh menit, dan aku membuat teh dua kali, dan aku mendengarkan setiap kata.


Malamnya, setelah dia pulang, aku berdiri di halaman belakang sendirian.

Sasaran jerami itu masih di tempatnya.

Aku memegang payungku dengan dua tangan.

“Baik,” kataku. “Tunjukkan.”

Aku menekan ibu jariku ke pangkal kanopi—bukan ke titik Fangs, bukan ke titik Teapot. Titik lain, yang bahkan tidak kutahu ada sampai empat malam lalu, yang cuma bisa kutemukan karena sesuatu membimbing jariku ke sana.

Payung itu berubah.

Kanopinya terbalik ke dalam. Jari-jarinya menegang dan melengkung ke belakang, membentuk dua limb panjang yang melengkung dengan geometri yang salah untuk kayu mana pun. Gagangnya memendek dan menebal jadi genggaman.

Dan di antara kedua ujungnya terbentang sesuatu yang bukan tali—sesuatu yang lebih mirip garis lurus yang diputuskan untuk ada di sana.

[ Bow Mode ]

Aku mengangkatnya. Beratnya benar. Semuanya benar, dengan cara yang membuat kulitku merinding—seperti memegang alat yang sudah kupakai seribu kali di kehidupan yang tidak kuingat.

Tidak ada anak panah.

Aku menarik talinya, dan satu Fang lepas dari pangkal busur dan meluncur ke tempatnya sendiri di atas genggamanku.

Aku membidik sasaran jerami di ujung halaman.

Lalu aku menurunkan busurnya, memutar tubuhku sembilan puluh derajat menghadap pagar kayu, dan melepaskannya ke arah yang sepenuhnya salah.

Fang itu melesat ke arah pagar.

Berbelok.

Melengkung di udara dengan sudut yang membuat perutku dingin, memutar sembilan puluh derajat di tengah lintasan, dan menghantam pusat sasaran jerami dengan bunyi yang membelah malam.

Aku berdiri di halaman belakangku dengan busur di tangan.

Tidak pernah meleset.

Aku menutup mataku.

“Kau tidak perlu menunjukkan itu,” kataku pelan.

Bow Mode itu terlipat kembali jadi payung di tanganku, dan aku menyandarkannya di dinding, dan aku duduk di anak tangga belakang tokoku untuk waktu yang cukup lama.

Karena aku mengerti apa yang barusan dia katakan.

Selama lima tahun aku menganggap sifat itu—tidak pernah meleset—sebagai milik satu bentuk saja. Tombak. Benda yang kuangkat sekali di arena dan kuturunkan lagi, lalu kukubur selama lima tahun.

Bukan.

Itu bukan sifat tombaknya.

Itu sifat dia.

Setiap bentuk yang dia ingat, setiap wujud yang pernah dia ambil sejak sebelum ada kata untuk perang—semuanya membawa sifat yang sama, hanya dengan volume berbeda.

Yang kukubur selama lima tahun bukan sebuah senjata.

Yang kukubur adalah kebenaran bahwa aku memegang sesuatu yang, kalau ia memutuskan sesuatu harus terjadi, hal itu terjadi.

Di kejauhan, dari arah alun-alun, aku mendengar lonceng menara jam berbunyi sebelas kali.

Dan jauh di bawah kakiku, tanah bergetar—singkat, sembilan detik—dan aku merasakannya naik lewat anak tangga kayu ke tulang belakangku.

“Aku tahu,” kataku pada tanah. “Aku tahu, aku tahu.”

Aku masuk, mengunci pintu, dan tidak tidur sampai fajar.