Chapter Twenty Two
Yang Tidak Kusukai
Gungnir: The First Arms
POV: Mira
Jumlah kata: 2.531
Rombongan itu tiba dua hari kemudian.
Enam orang dari Greymarch, dikirim menyusul Aldous Krane setelah dia mengirim burung dari pos jalur pegunungan. Lima knight dan satu orang lagi.
Aku menyambut mereka di gerbang utara karena itu tugasku.
Aku ingin sangat jelas tentang itu. Menyambut rombongan bersenjata yang masuk ke wilayah kota adalah prosedur standar, tercantum di manual bagian empat, dan aku sudah melakukannya dua puluh tiga kali sepanjang karierku.
Lima knight turun dari kuda dengan cara knight turun dari kuda: berat, lelah, seragam berdebu.
Orang keenam turun dengan cara yang berbeda.
Perempuan. Sekitar tiga puluh. Rambut cokelat terang diikat longgar, mantel perjalanan yang mahal tapi sudah lama tidak dirawat, dan sebuah rapier tipis di pinggang kiri dengan gagang yang sudah dipoles halus oleh tangan selama bertahun-tahun.
Noble rank. Aku bisa merasakannya dari lima langkah.
“Knight-Captain,” katanya, dan membungkuk dengan gerakan yang jelas-jelas diajarkan oleh instruktur mahal. “Terima kasih atas sambutannya. Namaku Verel Adaine.”
“Selamat datang di Hollowbrook.”
“Kota kalian cantik.” Dia melihat berkeliling dengan senyum yang tampak tulus, dan itu bagian yang menyebalkan. “Aku dengar kalian menahan Noble Stray bulan lalu.”
“Kami beruntung.”
“Beruntung,” ulangnya, dan senyum itu berubah sedikit. “Iya. Aku dengar begitu.”
Aku mengantar mereka ke penginapan.
Di depan pintu, Verel Adaine berhenti dan bertanya, dengan nada yang sepenuhnya wajar:
“Apakah Noel masih tinggal di jalan yang sama? Aldous bilang tokonya di ujung Jalan Lorne.”
Dan aku, yang sudah tujuh tahun jadi knight dan tiga tahun jadi kapten, berdiri di depan penginapan Bibi Marta dan tidak bisa menjawab selama dua detik penuh.
Noel.
Bukan ‘Tuan Ashford’. Bukan ‘Ashford’.
“Ujung jalan,” kataku. “Papan namanya lepas kena badai.”
“Terima kasih, Kapten.”
Aku tidak akan menuliskan tujuh puluh dua jam berikutnya secara detail karena aku tidak keluar dengan terhormat dari satu pun bagiannya.
Tapi aku akan mencatat beberapa hal, karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa catatan ini jujur.
Hal pertama.
Aku lewat depan tokonya pukul sebelas pagi hari Selasa.
Itu bukan rute patroliku. Rute patroliku lewat Jalan Pasar dan gerbang selatan dan kembali lewat alun-alun, dan aku sudah menjalaninya tiga ribu kali, dan pada hari Selasa itu aku memutuskan—atas dasar pertimbangan keamanan yang sangat masuk akal yang tidak bisa kujelaskan pada siapa pun—untuk memutar lewat Jalan Lorne.
Pintu tokonya terbuka.
Dan dari dalam, aku mendengar tawa.
Bukan tawanya. Aku sudah menghitung tawanya—empat kali di festival, dua kali malam badai. Aku tahu bunyinya.
Yang kudengar adalah tawa perempuan, dan di bawahnya, suara datar dan sopan yang sedang menceritakan sesuatu.
Aku berjalan terus dan tidak menoleh dan menyelesaikan patroliku empat menit lebih cepat dari biasanya.
Hal kedua.
Hari Rabu, Bibi Marta datang ke pos jaga dengan sepanci sup.
“Rombongan Greymarch makan banyak sekali,” katanya, sambil menuang ke mangkuk tanpa bertanya apakah aku mau. “Yang besar itu, Krane, dia makan seperti tiga orang. Dan yang perempuan—”
“Aku tidak perlu tahu.”
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Bibi.”
“Aku cuma bilang,” kata Bibi Marta, dengan nada paling tidak bersalah yang bisa dicapai manusia, “bahwa perempuan itu makan malam di toko Noel dua hari berturut-turut.”
Sendokku berhenti di udara.
“Bibi Marta.”
“Ya, Sayang?”
“Kau melakukan ini dengan sengaja.”
“Aku enam puluh tiga tahun,” katanya. “Aku tidak punya waktu untuk melakukan apa pun tanpa sengaja.”
Hal ketiga.
Ini yang terburuk.
Hari Kamis pukul empat, aku datang ke tokonya.
Hari Kamis. Aku punya hak atas hari Kamis. Seratus dua puluh empat hari Kamis dalam tiga tahun, dan aku tidak melewatkan satu pun kecuali waktu tiga knight-ku cedera dan aku harus duduk enam jam di kantor Wali Kota.
Aku mendorong pintunya.
Dan Verel Adaine sedang duduk di kursi rotan.
Kursi rotan itu.
Dia sedang memegang cangkir dan tertawa pada sesuatu, dan Noel berdiri di belakang konter dengan ketel di tangan, dan di konter ada dua cangkir.
Dua.
“Ah, Kapten!” Verel berdiri. Sopan. Ramah. Menyebalkan. “Maaf, apa aku mengambil tempatmu? Aldous bilang kau biasa datang hari Kamis.”
“Tidak,” kataku. “Aku cuma lewat.”
“Kapten—” kata Noel.
“Ada laporan yang harus kuselesaikan,” kataku.
Dan aku menutup pintu, dan aku berjalan kembali ke pos jaga, dan aku menyelesaikan laporan yang sebenarnya sudah selesai tiga hari lalu.
“Kapten menatap dinding.”
“Dua koin, Ilva. Dua.”
“Enam menit dua puluh detik. Rekor baru mutlak.”
Aku meletakkan penaku.
“Ilva,” kataku. “Masuk.”
Pintu terbuka. Ilva masuk dengan wajah yang sudah kehilangan seluruh keceriaannya, yang mana lebih buruk, karena artinya dia sudah berhenti menganggap ini lucu.
“Kapten.”
“Duduk.”
Dia duduk.
Aku memandangi mejaku selama beberapa saat.
“Aku bertanya sesuatu dan aku ingin jawaban jujur,” kataku. “Bukan jawaban bawahan pada atasan. Jawaban orang pada orang.”
“Baik.”
“Apakah aku terlihat konyol?”
Ilva berkedip. “Maaf?”
“Perempuan dari Greymarch,” kataku. “Verel Adaine. Aku sudah tiga hari... berperilaku dengan cara yang tidak pantas untuk seorang kapten garnisun, dan aku tahu itu, dan aku tidak bisa berhenti, dan aku ingin tahu seberapa jelas terlihat.”
Ilva diam sangat lama.
“Kapten,” katanya akhirnya. “Boleh aku bicara bebas?”
“Aku baru saja memintanya.”
“Seluruh kota tahu.”
Aku menutup mataku.
“Bu Hensley bertanya padaku kemarin apakah ‘Kapten kita baik-baik saja’,” lanjut Ilva. “Pak Weller menawarkan untuk memperbaiki papan nama toko Tuan Ashford gratis supaya ‘ada alasan orang-orang berkunjung’. Pip Harlan—”
“Pip juga?”
“Pip bertanya pada Bibi Marta kenapa Kak Mira ‘kelihatan sedih’.”
Aku meletakkan wajahku di kedua tangan.
“Kapten,” kata Ilva, dan suaranya berubah jadi sesuatu yang lebih pelan. “Boleh aku bilang sesuatu yang mungkin membuatku dihukum bersihkan kandang kuda enam bulan?”
“Silakan.”
“Perempuan itu bukan siapa-siapa.”
Aku menurunkan tanganku.
“Kau tidak tahu—”
“Aku berjaga di gerbang selatan hari Selasa malam,” kata Ilva. “Dia lewat pukul sepuluh, pulang ke penginapan. Aku menyapanya. Kami bicara sepuluh menit.”
“Ilva—”
“Dia menanyakan tentang Kapten,” kata Ilva.
Aku diam.
“Dia bertanya apakah benar Kapten menahan Noble Stray di alun-alun selama sepuluh menit dengan Common rank,” lanjut Ilva. “Aku bilang iya. Dia bertanya berapa umur Kapten. Aku bilang dua puluh lima. Dan dia bilang—” Ilva berhenti sebentar, “—dia bilang, ‘Pantas saja dia tinggal.’”
Sesuatu di dadaku melakukan hal yang aneh.
“Siapa yang tinggal?”
“Kapten,” kata Ilva, dengan kesabaran orang yang menjelaskan sesuatu pada anak kecil. “Menurut Kapten siapa?”
Aku pergi ke tokonya malam itu.
Pukul sepuluh. Lampu di dalam masih menyala, seperti biasa, karena orang itu tidak pernah tidur seperti manusia normal.
Aku berdiri di depan pintu selama mungkin tiga menit.
Lalu pintu itu terbuka dari dalam.
“Aku melihatmu dari jendela sepuluh menit lalu,” kata Noel Ashford. “Aku memberimu waktu untuk memutuskan. Sepertinya kau belum selesai memutuskan.”
“Aku sedang berpatroli.”
“Kau berdiri di satu titik selama sepuluh menit.”
“Itu bagian dari patroli.”
“Masuk, Kapten.”
Aku masuk.
Tokonya kosong. Cuma satu cangkir di konter—satu, dan sudah dicuci—dan lampu kerja menyala di atas sesuatu yang setengah terbongkar.
Aku duduk di kursi rotan.
Dia menyeduh teh tanpa bertanya, dan meletakkannya di depanku, dan duduk di bangkunya.
Kami tidak bicara selama satu menit penuh.
“Verel Adaine,” kataku akhirnya, “memanggilmu Noel.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Iya,” katanya.
“Sejak kapan?”
“Sejak sekitar delapan tahun lalu.”
Aku memegang cangkirku lebih erat.
“Dia dulu duelist,” lanjutnya. “Peringkat empat belas, cabang timur. Kami berlatih di ruangan yang sama selama tiga tahun. Aldous, Verel, aku, dan dua orang lain.”
“Dan sekarang dia datang sembilan ratus kilometer.”
“Sekarang dia komandan kedua garnisun Greymarch,” katanya, “dan kotanya akan hancur dalam sepuluh hari.”
Aku menatap tehku.
“Kapten,” katanya.
“Jangan.”
“Apa?”
“Jangan bertanya kenapa aku bertanya,” kataku. “Aku sudah cukup malu tanpa harus mengucapkannya keras-keras.”
Hening.
Dan lalu—dan aku bersumpah aku tidak mengarang ini—aku mendengar dia mengeluarkan napas panjang seperti orang yang meletakkan sesuatu yang berat.
“Aku memindahkan kursinya,” katanya.
Aku mengangkat kepala. “Apa?”
“Hari Kamis,” katanya. “Setelah kau pergi. Aku memindahkan kursi rotan itu ke ruang belakang dan mengeluarkan bangku kayu, dan Verel duduk di bangku kayu selama dua hari terakhir, dan dia bertanya kenapa dan aku bilang kursinya rusak.”
Aku menatapnya.
“Kursinya tidak rusak,” kataku.
“Kursinya tidak rusak.”
“Kau berbohong pada temanmu tentang kursi.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Noel Ashford memandangi konternya sendiri.
“Karena itu kursimu,” katanya.
Ruangan itu jadi sangat sunyi dan sangat kecil.
Aku memegang cangkirku dengan dua tangan dan menatap permukaan tehnya dan sangat berterima kasih pada uapnya karena memberiku alasan untuk tidak mengangkat wajah.
“Ashford.”
“Ya.”
“Kau berangkat besok.”
“Iya.”
“Sembilan hari.”
“Mungkin dua belas.”
Aku menarik napas.
“Aku sudah empat kali mencoba mengatakan sesuatu padamu,” kataku. “Dan empat kali gagal. Aku sudah menghitungnya, karena aku menghitung segalanya, dan itu penyakitku.”
Dia tidak bergerak.
“Aku tidak akan mencoba yang kelima malam ini,” kataku.
“Kapten—”
“Karena kalau aku mengatakannya sekarang,” kataku, “kau akan pergi besok pagi ke tempat yang bisa membuatmu tidak kembali, dan aku akan menghabiskan dua belas hari duduk di pos jaga dengan sesuatu yang sudah kuucapkan dan tidak bisa kutarik.”
Aku meletakkan cangkirku.
“Jadi aku akan menunggu,” kataku. “Dan kau akan pulang. Dan lalu aku akan mengatakannya.”
Aku berdiri.
Dan dia berdiri juga, terlalu cepat, dan kursinya—bangkunya—berdecit di lantai kayu.
“Kapten.”
“Ya.”
“Itu terdengar seperti perintah,” katanya.
“Iya.”
“Kau memerintahku untuk pulang.”
“Iya.”
Noel Ashford berdiri di belakang konternya dengan lampu kerja menyala di sampingnya, dan untuk sesaat—satu sesaat, dan aku akan menyimpannya selama dua belas hari berikutnya—dia terlihat seperti orang yang baru saja diberi sesuatu.
“Baik, Kapten,” katanya.
Mereka berangkat subuh.
Aku ada di gerbang timur karena itu tugasku. Prosedur standar, manual bagian empat, mengantar rombongan bersenjata keluar wilayah kota.
Delapan kuda. Aldous Krane di depan dengan [ Bastion ] tersandang. Verel Adaine di sebelahnya.
Dan di belakang, di atas kuda cokelat yang jelas-jelas bukan kuda tunggangan yang baik, seorang tukang reparasi Artifact dengan mantel abu-abu dan payung hitam yang diikat di sisi pelana.
Dia berhenti di depanku.
“Kapten.”
“Ashford.”
Ada empat puluh orang di gerbang itu. Setengah garnisunku, seluruh rombongan Greymarch, Bibi Marta, Garrik, dan Pip Harlan yang berdiri di atas pagar batu dan melambaikan kedua tangannya seperti orang yang mengusir lalat raksasa.
Jadi yang kami ucapkan adalah:
“Selamat jalan.”
“Terima kasih, Kapten.”
Dan itu saja.
Tapi waktu dia menarik tali kekang dan kudanya mulai bergerak, dia berkata—pelan, cuma untukku, tanpa menoleh:
“Empat belas hari.”
“Dua belas,” kataku.
“Kapten, jarak ke Greymarch saja delapan hari—”
“Dua belas, Ashford.”
Aku bisa mendengar sesuatu di suaranya waktu dia menjawab, dan aku menyimpannya.
“Baik,” katanya. “Dua belas.”
Mereka pergi lewat gerbang timur menjelang matahari naik.
Aku berdiri di sana sampai debunya habis, dan lalu aku kembali ke pos jaga, dan aku mengeluarkan kalender kecil dari laci mejaku.
Dan aku menggambar dua belas kotak.
Malam itu tanah bergetar selama dua puluh dua detik.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mulai mencatat, ada sesuatu yang berubah di kolom terakhir tabelku.
Aku menulis: arah — bawah.
Lalu aku mencoretnya.
Dan aku menulis, dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil:
arah — timur.
Ia mengikuti.
- 1 Toko di Ujung Jalan Hujan
- 2 Inspeksi Rutin
- 3 Tikus Besi
- 4 Alasan Hari Kamis
- 5 Palu, Jarum, dan Payung
- 6 Lonceng yang Lapar
- 7 Duelist dari Kota Besar
- 8 Yang Kulihat Hari Itu
- 9 Hujan Pertama
- 10 Perban dan Gula
- 11 Getaran di Bawah Kota
- 12 Malam Sebelum Badai
- 13 Tempat yang Tidak Basah
- 14 Rainmaker
- 15 Surat-surat dari Ibu Kota
- 16 Festival Lentera
- 17 Penantang: Si Pemanah
- 18 Paduan Suara Berongga
- 19 Semalam di Toko
- 20 Cara Memegang Pedang
- 21 Tamu dari Masa Lalu
- 22 Yang Tidak Kusukai reading
- 23 Tiga Hari
- 24 Kamis Tanpa Inspeksi
- 25 Oleh-oleh
- 26 Mahkota Abu
- 27 Pedang yang Disayangi
- 28 Payung untuk Satu Orang
- 29 Akhirnya!!!
- 30 Kencan Pertama (Resmi)
- 31 Getaran yang Berbeda
- 32 Teh Buatan Mira
- 33 Serene Vald
- 34 Berdiri di Sebelahku
- 35 Malam Sebelum
- 36 Fenrir
- 37 Ragnarok Bloom
- 38 Fimbulvetr Canopy
- 39 Yang Tak Pernah Meleset
- 40 Tutup Setengah Hari