Chapter Nine

Klasemen Bulan Ini

POV: Cynthia

Setiap malming terakhir di bulan itu, Diana membacakan klasemen.

Ini tradisi. Nggak ada yang ingat kapan dimulai. Diana bilang dia mulai bikin klasemen hoodie Salman karena “seseorang harus mendokumentasikan kejahatan ini untuk generasi mendatang”. Lalu klasemennya beranak. Sekarang ada klasemen hoodie, klasemen korban kegantengan Erga, klasemen porsi Dino, dan satu klasemen baru yang dia buat sejak malming bakso level sembilan, yang judulnya dia rahasiakan.

Malam itu Diana berdiri di samping meja pojok, memegang buku catatan batik seperti sedang membaca proklamasi, sementara Pak Hendro meredupkan lampu karena Pak Hendro pria yang mengerti pertunjukan.

“Klasemen Hoodie Salman Haikal, bulan ini,” Diana memulai. “Peringkat lima, turun dua tingkat: kucing samurai. Alasan: terlalu imut. Kami di sini menilai rasa malu, bukan rasa gemas.”

Salman mengangguk khidmat, seperti atlet yang menerima keputusan juri.

“Peringkat empat, pendatang baru: awan-awan berwajah. Warna biru langit. Juri mencatat awan-awannya kelihatan seperti sedang bergosip satu sama lain. Itu mengganggu.”

“Mereka nggak gosip,” kata Salman. “Mereka diskusi cuaca.”

“Diam. Juri sedang bicara.” Diana membalik halaman. “Peringkat tiga: kuning stabilo dengan karakter berambut biru berteriak tolong saya. Bertahan. Konsisten. Juri menghormati konsistensi dalam kejahatan.”

Dino bertepuk tangan dengan mulut penuh kentang goreng.

“Peringkat dua, naik drastis dari luar sepuluh besar: bocah berkacamata bulat dengan dasi kupu-kupu merah. Alasan: bukan karena memalukan. Karena dipakai untuk menyelamatkan nyawa orang, secara kiasan, di studio enam. Juri tersentuh. Juri juga malu karena tersentuh oleh hoodie.”

Yura tersenyum kecil ke arah Salman. Salman mengangkat jari telunjuk ke udara. Yura langsung menunduk menahan tawa.

Aku memperhatikan itu. Aku nggak tahu kenapa aku memperhatikan itu.

“Dan peringkat satu.” Diana menarik napas panjang. Pak Hendro mengetuk-ngetuk meja kasir seperti drum. “Tetap tak terkalahkan selama tiga bulan berturut-turut...”

Dia menunjuk dada Salman.

Hoodie malam ini warna ungu terong, bergambar seekor kucing gemuk berkumis tipis yang memakai sherwani emas dan berpose seperti bintang film Bollywood, satu tangan di dada, satu tangan terulur ke langit, dengan latar belakang air mancur dan bunga-bunga.

“...Kucing Bollywood,” kata Diana dengan suara bergetar karena menahan diri. “Juri nggak punya kata-kata. Juri cuma mau tahu satu hal. Siapa yang mendesain ini, dan apakah dia butuh bantuan.”

“Aku yang desain,” kata Salman. “Aku pesan di konveksi Pasar Senen. Abangnya nanya aku mau gambar apa, aku bilang kucing yang lagi jatuh cinta di film India. Dia bilang belum pernah dapat pesanan kayak gitu selama dua puluh tahun buka usaha.”

“Terus?”

“Terus dia kasih diskon. Katanya buat menghargai keberanian.”

Diana menutup buku catatannya. Menatap langit-langit. Lalu duduk tanpa bilang apa-apa lagi, yang menurut pengalaman adalah tanda dia benar-benar kalah.


Malam itu malming pertama sejak video Mampang.

Sejak ojek kantor.

Aku datang dengan perasaan seperti mau ujian skripsi. Aku sudah menyiapkan beberapa kalimat. Man, soal kemarin... Atau Man, aku minta maaf lagi ya... Atau, kalau keberanianku cukup, Man, aku nggak tahu kenapa aku ngomong gitu.

Tapi waktu aku masuk kedai, Salman sedang jongkok di depan si Oren, menjelaskan dengan sangat serius bahwa kucing tetangga yang menolaknya minggu lalu sebenarnya punya trauma masa lalu dan si Oren harus bersabar. Si Oren mendengarkan dengan ekspresi yang, sumpah, kelihatan seperti sedang mempertimbangkan saran itu.

Lalu Salman menoleh, melihatku, dan bilang, “Cyn. Kamu pakai sandal.”

Aku melirik kakiku. Sandal jepit biru. Lagi. Untuk ketiga kalinya di kafe ini.

“Iya.”

“Bagus. Sandalnya kelihatan bahagia.”

Dan itu saja. Dia kembali ke si Oren. Nggak ada pembahasan. Nggak ada kecanggungan. Seolah ojek kantor nggak pernah terjadi, atau terjadi tapi sudah dia simpan di suatu tempat dan dia nggak berniat mengeluarkannya lagi.

Aku nggak tahu apakah itu bikin aku lega atau malah tambah gelisah.


Pesanan datang.

Seperti biasa, Pak Hendro membawakan bakso dari freezer PUNYA SALMAN — JANGAN DIMAKAN (DINO). Seperti biasa, Salman membawa toples sambal. Kali ini bukan level sembilan. Level lima, katanya, karena “level sembilan butuh persiapan mental, dan malam ini kita mau santai”.

Dan seperti biasa, ada enam mangkuk bakso di meja kafe estetik dengan majalah arsitektur di raknya.

Aku makan pelan-pelan. Bakso urat Bu Nur memang beda. Teksturnya padat tapi lembut, ada potongan urat yang kenyal, dan kuahnya bening tapi rasanya dalam, kayak kaldu yang dimasak sambil didoakan.

Aku menghabiskan empat. Tersisa satu. Bakso telur, yang paling besar.

Aku menatapnya.

Lalu, tanpa benar-benar berpikir, tanpa menoleh, aku mendorong mangkukku pelan ke kanan. Ke arah Salman.

“Nggak habis,” kataku, menatap HP. “Mubazir.”

Salman menatap mangkuk itu. Lalu menatapku.

Lalu, tanpa bilang apa-apa, dia mengambil bakso telur itu dengan sendoknya sendiri, memotongnya jadi dua, dan memakannya.

Hening sebentar.

Diana, yang duduk di seberangku, meletakkan sendoknya pelan-pelan.

“Dia nggak pernah nggak habis,” katanya dengan suara datar ke seluruh meja.

“Apa?”

“Kamu. Cynthia Larasati Wirawan.” Diana menatapku seperti jaksa menatap terdakwa. “Dua tahun aku makan bareng kamu. Kamu selalu habis. Kamu habisin nasi padang porsi kuli. Kamu habisin martabak manis setengah loyang sendirian waktu ulang tahun Dino. Kamu pernah habisin sisa lontong sayurku waktu aku ke toilet—”

“Itu aku kira punyaku!”

“—dan malam ini, tiba-tiba, satu bakso telur, nggak habis?”

Aku menendang kakinya di bawah meja.

Diana meringis, tapi nggak berhenti. “Mubazir, katanya. Lalu dikasih ke Salman. Bukan ke Dino. Dino di sebelahmu. Dino itu tempat sampah organik meja ini. Kenapa bukan ke Dino?”

“Iya, kenapa bukan ke aku?” tanya Dino, benar-benar tersinggung.

Aku menendang kaki Diana lagi.

“Aduh. Kekerasan nggak menyelesaikan masalah, Cyn.”

“Kamu masalahnya.”

Salman masih mengunyah setengah bakso telur dengan wajah datar, seolah percakapan ini bukan tentang dia.

Erga menatap kami bergantian dengan senyum yang terlalu lebar. Yura menatap mangkukku yang kosong. Lalu menatap Salman. Lalu menatapku.

Dan untuk sedetik, ekspresinya berubah. Bukan senyum jahil seperti Erga, bukan tatapan jaksa seperti Diana. Ekspresi yang lebih pelan. Seperti orang yang baru menemukan potongan puzzle yang sudah lama dia cari, dan ternyata gambarnya bukan seperti yang dia bayangkan.

Lalu dia tersenyum, meraih gelas es tehnya, dan bilang, “Diana, berhenti. Kasihan Cynthia, kakimu sebentar lagi patah.”

“Kakiku kuat. Kakiku kaki penulis naskah. Udah biasa ditendang produser.”


Jam sembilan lewat sedikit, malming masuk fase obrolan serius.

Ini juga tradisi. Setiap malming, ada satu momen, biasanya sesudah makan dan sebelum Dino mulai lapar lagi, di mana obrolan kami pelan-pelan turun jadi lebih dalam. Nggak ada yang merencanakannya. Itu terjadi begitu saja, seperti air yang mencari tempat paling rendah.

Malam itu, aku yang memulai.

“Kalian pernah takut dilihat orang?”

Semua menoleh.

Aku mengaduk sisa es teh dengan sedotan. Aku nggak tahu kenapa aku bertanya. Mungkin karena video itu. Mungkin karena telepon Ibu. Mungkin karena ga level lah masih menempel di kepalaku seperti lagu iklan yang nggak mau pergi.

Diana yang menjawab pertama, seperti biasa. “Aku nggak pernah dilihat. Jadi aman.”

“Di—”

“Serius. Aku jalan di lobby, nggak ada yang noleh. Aku masuk lift, nggak ada yang berhenti ngomong. Aku pakai baju sama tiga hari berturut-turut, nggak ada yang sadar.” Dia mengangkat bahu. “Jadi pemeran figuran itu bebas. Kalian nggak tahu nikmatnya.”

“Aku lihat kamu,” kata Erga.

Diana berhenti.

“Kamu pakai kemeja kotak-kotak hijau hari Selasa, Rabu, Kamis,” lanjut Erga dengan santai. “Hari Kamis ada noda kopi kecil di lengan kiri. Hari Jumat kamu ganti, tapi kamu masih pakai jepit rambut yang sama.”

Hening.

Diana menatap Erga. Telinganya mulai merah dari ujung.

“Itu,” katanya pelan, “creepy, Mas.”

“Itu perhatian.”

“Itu creepy yang dibungkus perhatian.”

“Kamu sendiri yang bilang kalau ada yang ngeluangin waktu buat menilai, itu bentuk perhatian. Kamu bilang ke Salman.”

“Aku nggak pernah—” Diana berhenti. Menoleh ke Salman. “Itu kamu yang bilang, bukan aku.”

“Kamu nggak membantah,” kata Salman tenang.

Diana mengambil buku catatannya dan menulis sesuatu dengan sangat kuat sampai kertasnya hampir robek.

Erga tersenyum. Lalu senyumnya turun sedikit, dan dia menatap gelasnya.

“Aku capek dilihat,” katanya pelan. “Jujur. Bukan sombong. Tapi kalau tiap hari dilihat, tiap masuk lift orang diam, tiap makan di kantin dapat lauk tambahan yang nggak kamu minta, tiap pagi ada bekal di meja dari orang yang nggak kamu kenal...” Dia berhenti. “Kamu jadi nggak tahu orang suka kamu karena kamu, atau karena wajahmu. Rasanya kayak... jadi pajangan.”

Diana berhenti menulis.

“Aku dilihat cuma pas makan,” kata Dino. “Itu pun yang dilihat makanannya, bukan aku.”

Kami semua tertawa. Dino ikut tertawa, tapi ada sesuatu di matanya, sesuatu yang sebentar banget dan langsung hilang, yang membuat aku berpikir mungkin Dino juga punya laci.

Lalu Yura.

Yura memutar gelasnya pelan di atas meja. “Dilihat itu beda sama dikenal,” katanya. “Aku dilihat dua juta orang tiap malam. Tapi kalau aku pingsan di lobby besok, aku nggak yakin ada lebih dari lima orang di gedung itu yang tahu aku alergi udang.”

Hening.

Itu kalimat paling panjang yang Yura ucapkan soal dirinya sendiri selama dua tahun aku kenal dia. Aku menatapnya. Dia sedang menatap gelasnya, dengan wajah tenang dan elegan seperti biasa, tapi jarinya berhenti memutar gelas itu.

“Aku tahu kamu alergi udang,” kata Salman.

Yura mengangkat kepala.

“Kamu selalu nyingkirin kerupuk udang ke pinggir piring,” lanjutnya. “Dan waktu Dino ulang tahun, kamu nggak makan pasta, soalnya sausnya ada udang. Kamu bilang kamu kenyang. Tapi perutmu bunyi dua kali.”

Yura menatap Salman lama.

Lalu dia tersenyum. Senyum kecil, miring, sama seperti yang aku lihat di studio enam waktu Dino bercerita di grup. Senyum yang bukan senyum anchor.

“Oke,” katanya pelan. “Berarti enam orang.”

Aku menatap mereka berdua. Aku nggak tahu kenapa tenggorokanku terasa sedikit aneh. Kayak ada sesuatu yang nyangkut. Mungkin bakso.

“Man,” kata Erga, memecah keheningan. “Kamu sendiri? Pernah takut dilihat?”

Semua menoleh ke Salman.

Dia sedang memakan sisa kerupuk dari mangkuk Dino, dan dia berhenti, berpikir lama, seperti orang yang ditanya soal ujian dan ingin memberikan jawaban yang benar.

“Aku suka dilihat,” katanya akhirnya.

“Suka?”

“Iya. Kalau aku pakai hoodie ini...” Dia menunjuk kucing Bollywood di dadanya. “Terus orang-orang di lift lihat aku, ketawa, bisik-bisik, ya udah. Mereka lihat aku.” Dia menyuap kerupuk. “Berarti mereka nggak lagi lihat orang lain.”

“Orang lain siapa?”

Dia mengangkat bahu. “Siapa aja. Orang yang lagi capek. Orang yang lagi nahan nangis di lift. Orang yang bajunya kena noda kopi dan takut ketahuan.” Dia nggak menoleh ke Diana waktu mengatakan itu. “Kalau aku lebih aneh dari semua orang di lift, mereka bisa bernapas sebentar. Nggak ada yang lihat mereka.”

Meja kami hening.

Dan aku menatap Salman, cowok berhoodie kucing Bollywood ungu terong, yang barusan bilang dia sengaja jadi pusat perhatian supaya orang lain bisa bersembunyi.

Lalu aku teringat malming pertama.

Dua cowok di meja dekat pintu. HP yang diarahkan ke meja kami. Aku yang menelan tawaku. Dan Salman yang tiba-tiba menyanyi lebih keras, lebih fals, naik ke kursi, menunjuk ke arah mereka, sampai HP itu jatuh ke meja dan semua mata di kafe menatapnya.

Bukan aku.

Aku nggak tahu apakah dia sengaja, pikirku waktu itu.

Sekarang aku tahu.

Aku menatapnya, dan dadaku melakukan sesuatu yang aneh. Kayak ada yang menekan dari dalam. Kayak semua kata yang mau aku ucapkan berdesakan di tenggorokan, dan nggak ada satu pun yang berhasil keluar duluan.

“Man,” kataku pelan.

Dia menoleh.

“HALO GUYS! BALIK LAGI SAMA DINO DOYAN!”

Kami semua tersentak.

Dino sudah memasang HP di tripod mini, menyalakan ring light yang langsung menyorot wajah kami semua seperti lampu interogasi, dan berbicara ke kamera dengan suara pembawa acara yang lima kali lebih keras dari suara manusia normal.

“Malam ini gue lagi di Kedai Ruang Tunggu, hidden gem di Jakarta Selatan! Tempatnya cozy, lampunya aesthetic, ada kucingnya namanya Oren! Dan yang paling unik, guys, di sini lo bisa makan BAKSO! Di kafe! Gimana caranya? Rahasia! Pokoknya lo harus jadi temennya Salman!”

“Dino,” desis Diana.

“Live, Di! Lagi live! Ada empat puluh tiga penonton!”

“Kita lagi ngobrol serius!”

“Engagement-nya bagus kalau serius, Di! Orang suka konten deep talk!” Dino mengarahkan kamera ke Yura. “Guys, ini Mbak Yura dari TRAC Malam! Mbak Yura, sapa penonton, Mbak!”

Yura, dengan refleks anchor yang sudah tertanam sampai ke tulang, langsung tersenyum ke kamera dengan senyum sempurna. “Selamat malam, pemirsa.”

“Mbak Yura alergi udang, guys!”

“DINO.”

Kamera berputar ke Erga. “Ini Mas Erga! Yang ganteng! Cewek-cewek, tahan napas!”

Erga melambai dengan canggung. Di kolom komentar live, aku bisa melihat dari layar Dino, langsung muncul belasan emoji hati.

Kamera berputar ke Diana. “Ini Mbak Diana! Penulis naskah! Kalau ngomong pedes kayak sambal level sembilan!”

“Matiin, Din.”

“Mbak Diana bilang halo, guys!”

“Aku nggak bilang halo. Aku bilang matiin.”

Kamera berputar ke arahku.

Dan aku, refleks, tanpa berpikir, membuang muka. Menunduk. Menutupi wajah dengan rambut. Gerakan cepat, terlatih, seperti selebritas yang keluar dari mobil di depan paparazzi.

Lalu kamera berhenti. Bergeser. Bukan ke aku.

Ke Salman.

Dia sudah berdiri. Di atas kursi. Satu tangan di dada, satu tangan terulur ke lampu gantung, menirukan pose kucing Bollywood di hoodie-nya dengan presisi yang mengerikan.

“Dino Doyan,” katanya ke kamera, dengan suara rendah dan dramatis. “Malam ini, aku persembahkan... sebuah lagu.”

“JANGAN,” teriak Pak Hendro dari balik kasir.

Terlambat.

Kuch Kuch Hota Hai, versi Salman Haikal. Fals. Sangat fals. Lebih fals dari minggu lalu, kalau itu mungkin. Si Oren, yang tadinya sudah mau tidur, bangun dan keluar lewat pintu kucing tanpa menoleh.

Penonton live Dino naik dari empat puluh tiga ke dua ratus delapan belas dalam tiga menit.

Kolom komentar penuh dengan WKWKWKWK dan INI SIAPA dan SUARANYA KAYAK KAMBING KEJEPIT PINTU dan HOODIE NYA BELI DIMANA.

Dan nggak ada satu pun yang bertanya soal perempuan berambut panjang yang membuang muka dari kamera.

Aku mengangkat kepala pelan-pelan.

Salman masih menyanyi di atas kursi. Dino merekam sambil tertawa sampai kamera bergoyang. Erga dan Diana tertawa bersama, dan untuk pertama kalinya Diana nggak bergeser lima senti waktu bahu Erga menyentuh bahunya. Pak Hendro menutup telinga dengan kedua tangan, tapi senyumnya lebar.

Dan Yura menatapku.

Bukan menatap Salman. Menatapku.

Ada pertanyaan di matanya. Pertanyaan yang nggak dia ucapkan, tapi aku bisa membacanya dengan jelas, karena aku sudah kenal Yura dua tahun dan dia nggak pernah perlu banyak kata.

Kamu sadar dia ngelakuin itu buat kamu?

Aku menatapnya balik.

Aku sadar.

Yura menatapku sebentar lagi. Lalu dia menoleh ke Salman, yang sekarang sedang memanjangkan satu nada sampai suaranya pecah seperti piring jatuh. Dan di wajah Yura, ada ekspresi yang nggak bisa aku baca.

Sesuatu yang kayak kagum. Atau kayak sedih. Atau kayak dua-duanya.


Erga mengajak Diana jalan jam setengah sebelas, di parkiran, waktu semua orang sedang memakai helm atau menunggu ojek.

Aku sedang berdiri di samping mobil. Salman sedang memasang helm di samping Wati. Dino sedang memasukkan ring light ke tas. Yura sedang menelepon sopirnya.

Jadi kami semua dengar.

“Di,” kata Erga. “Sabtu depan, kamu kosong?”

Diana, yang sedang membuka aplikasi ojek online, nggak mengangkat kepala. “Sabtu depan kan bukan malming. Malming dua minggu sekali.”

“Bukan malming. Maksudnya... kita berdua. Nonton. Ada film baru di bioskop.”

Dino berhenti memasukkan ring light. Yura berhenti bicara di telepon. Salman berhenti memasang helm. Aku berhenti bernapas.

Diana mengangkat kepala pelan-pelan.

Dia menatap Erga. Erga Mahendra, cowok yang membuat anak magang menjatuhkan nampan, membuat Bu Tini menambah lima lauk, membuat seseorang membuatkan telur bentuk hati selama empat puluh tiga hari berturut-turut.

Lalu Diana mengangkat tangan kanan dan mulai menghitung pakai jari.

“Aku,” jari pertama, “alergi,” jari kedua, “orang,” jari ketiga, “ganteng.”

Dia menurunkan tangannya.

“Itu empat kata,” kata Erga.

“‘Orang ganteng’ itu satu konsep. Jadi tiga kata. Aku kasih diskon. Soalnya kamu tadi udah merhatiin jepit rambutku.” Ojek online-nya datang. Diana memakai helm. “Malam, Mas Erga.”

Motor ojek melaju. Diana menghilang di tikungan.

Erga berdiri di parkiran, menatap tikungan itu lama sekali.

“Ronde satu,” kata Dino pelan, menepuk bahunya dengan simpati. “Kalah.”

“Dia bilang diskon,” gumam Erga. Dan anehnya, dia tersenyum. “Dia kasih aku diskon.”

“Itu bukan pertanda bagus, Bro.”

“Itu pertanda. Bagus atau nggak, nanti kita lihat.”


Yura pulang bareng aku malam itu. Sopirnya terjebak macet di Gatot Subroto, dan aku menawarkan untuk mengantarnya ke apartemennya di Senopati.

Lima belas menit pertama, kami nggak bicara. Cuma radio. Lagu pop yang aku nggak hafal.

Lalu, di lampu merah Blok M, Yura bertanya tanpa menoleh.

“Kamu suka Salman?”

Tanganku di setir menegang.

“Dia teman,” jawabku. “Kita semua teman.”

“Aku nggak nanya kalian teman atau bukan. Aku nanya kamu suka dia atau nggak.”

“Dia...” Aku mencari kata. Lampu merah. Lampu-lampu Blok M berkilauan di kaca depan. “Dia Salman.”

Yura menoleh. Menatapku dengan mata tenangnya.

“Itu bukan jawaban, Cyn.”

“Itu satu-satunya jawaban yang aku punya.”

Dia menatapku lama. Lalu kembali menatap jalan.

Lampu hijau. Aku melaju.

“Tadi,” kata Yura pelan, “waktu Dino nyorot kamera ke kamu, kamu buang muka.”

“Refleks.”

“Aku tahu.” Jeda. “Dan Salman langsung naik ke kursi.”

Aku nggak menjawab.

“Dia selalu kayak gitu, ya?” Yura menatap jendela. Lampu-lampu jalan lewat di wajahnya, terang, gelap, terang, gelap. “Dia jadi yang paling aneh di ruangan, supaya orang yang dia sayang nggak perlu kelihatan.”

“Dia ngelakuin itu buat semua orang. Kamu dengar sendiri. Orang di lift. Orang yang kena noda kopi.”

“Iya.” Yura mengangguk. “Tapi tadi dia nggak naik kursi buat orang di lift.”

Aku diam.

Kami sampai di depan apartemen Yura. Dia membuka pintu, lalu berhenti, satu kaki sudah di trotoar.

“Cyn.”

“Hm?”

“Kalau kamu suka dia...” Dia menatapku. Ada sesuatu di suaranya yang aku nggak bisa tangkap. Sesuatu yang turun setengah langkah. “Jangan biarin dia naik kursi sendirian terus, ya. Kursi itu tinggi. Lama-lama dia bisa capek.”

Lalu dia tersenyum, menutup pintu, dan berjalan masuk ke lobby apartemennya tanpa menoleh lagi.

Aku duduk di mobil yang diam di depan apartemen Yura, mesin masih menyala, radio masih memutar lagu pop yang nggak aku hafal.

Lalu aku mematikan radionya, mengambil HP, dan memutar Tujhe Dekha To.

Di lampu merah berikutnya, aku menyadari sesuatu.

Malam ini, untuk pertama kalinya, aku memikirkan pertanyaan Yura dan jawabanku bukan dia teman.

Jawabanku cuma diam.

Dan diam itu, kalau Salman yang mendengarnya lewat channel tujuh, mungkin akan dia sebut sebagai suara paling jujur yang pernah aku buat.